
Quen memandangi wajah Alex dari dekat, ia memainkan jari telunjuknya di area wajah Alex.
"Hoby baru, ya?" tanya Alex sambil memejamkan matanya. Lalu membuka sebelah matanya. "Kenapa? Aku ganteng?"
"Dasar narsis!" Seru Quen sambil tertawa, "Eh, tapi kamu sangat manis loh dengan kumis tipis seperti itu, jangan dicukur, ya?" Quen mengecup pipi Alex berulang kali.
"Kamu suka? sebenarnya aku tadi ga percaya diri, mau kucukur, tapi kau lupa tidak membawakannya untukku jadi ya gini."
"Beneran, aku suka kamu yang begitu, Lex,"
"Kaya bapak-bapak, donk!"
"Gak mau jadi bapak ya jangan punya anak." Cetus Quen tapi masih saja memandangi wajah tampan pria di hadapannya itu.
"Kenapa suka yang berkumis?" tanya Alex penasaran.
"Suka aja, asal ya jangan kaya Pak Raden aja, begini cukup," jawan Quen sambil memegangi kedua pipu Alex.
"Emang gak geli pas dicium begini?" ucap Alex sambil menempelkan kumisnya ke pipi Quen berulangkali sambil sedikit menggelitik pipi wanitanya.
Mau lihat kumis tipisnya Alex? nih, aku kasih satu aja, ya, ga usah banyak-banyak. ntr ga bisa tidur😂
"Geli, sih. Tapi enak, aku suka," ucap Quen sambil tertawa. Keduanya saling bercanda dan bercerita tentang pengalaman masa lalu, mulai dari Alex yang di gym, sampai saat berlari-lari hingga naik gunung. Dan tentu saja tak lepas dari seorang wanita. Maklum mantan play boy.
Ketika keduanya asik bercanda, terdengar suara getaran ponsel dari atas nakas, Alex berusaha meraih denga tangan kanannya sementara Quen tidur di pundak kirinya, ternyata sebuah panggilan video dari Helena. Alex tersenyum sambil menatap ke arah Quen.
"Kamu telfon dia pakai panggilan suara saja, Lex. Masa iya video call di sini, mana bajuku?"
__ADS_1
"Kau tutupi saja tbuhmu dengan selimut, sayang!"
"Hay, tidakkah kau malu mengangkat panggilan dalam keadaan seperti ini?" Quen manatap Alex tajam sambil tangannya menarik slimut menutupinya sampai dada.
Alex tertawa sambil berkata, "Kenapa harus malu? Dia juga pasti tahu apa yang baru saja kita lakukan, lagi pula kita kan suami istri, bukannya itu wajar, ya?"
Quen diam, memang yang Alex katakan benar. Tapi, hal seperti ini tidak harus Helena lihat, kan? Kenapa dia tiba-tiba merasa kasian dengan Helena padahal sebelumnya dia jengkel karna tahu mengirim beberapa chat pada Alex.
"Hallo, ada apa Helena?" ucap Alex.
Sementara Quen dia memejamkan matanya agar dikira tidur.
"Apakah kau terlalu sibuk hingga mengabaikanku, Alex?" ucap gadis di dalam layar itu.
Quen mendengarnya benar tidak enak hati. Tapi, juga tidak akan tega jika memperlihatkan sisa-sisa bercintanya barusan kepada Helena.
"Haha, harusnya kau tahu lah, pasangan yang baru menikah dan tak ambil cuti, jika tidak kerja, pasti akan menghabiskan waktu bersama," jawab Alex sambil bersandar.
"Oh, ya? Alex. Aku terkejut, loh tau kamu nikah, waktu itu aku chat kamu tanya akan berangkat jam berapa, tapi cuma centang. Aku telfon hingga malam pun juga tak di angkat. Kalau memang menikah dengannya, kenapa harus bilang di undang kepadaku?"
Nada suara gadis itu terdengar sakit dan memilukan.
"Mulanya aku juga tamu undangan, Helen. Tapi, mungkin memang Allah sudah takdirkan kalau kita bersama."
"Oh, begitu? Di mana istrimu? Apakah kalian bersama?"
Alex tidak menjawab, ia menyorotkan kamera ke arah Quen yang miring membelakangi memperlihatkan punggung indahnya.
Helena sempat sedikit tercengang melihat pemandangan itu, jelas sudah bisa ditebak kalau Quen tidak memakai apa-apa meski setenganya ditutupi selimut. Terlebih Alex yang telanjang dada dan ada pelih di dahi keher juga dada bidagnya, jelas ada alasan tertentu kenapa panggilannya dari tadi tidak diangkat olehnya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalian lanjut saja, maaf jika aku mengganggu istirahat kalian." Tanpa menungu jawaban dari Alex Helena langsung mematikan video callnya. Ia meletakan benda pipih itu dan menangis seorang diri di dalam kamarnya. Entah mengapa, hatinya masih saja sakit padahal sudah lama ia putus. Ya mungkin begitu.
Helena menoleh melirik ke arah layar ponsel saat mendengar bunyi denting chat masuk.
Ternyata dari Alex. Ia mengambil dengan seutas harapan Alex menjelaskan apa alasan di balik semua itu. Mungkin dia juga masih berharap pada laki-laki itu dan akan tetap menerima meski menjadi kedua atau simpanannya sekalipun. Tapi, mendadak senyumannya surut memudar, chat itu hanya bertuliskan "Aku berada di New York di rumah orang tuaku."
Kemabali gadis itu melempar ponselnya dan menangis lagi, bahkan ia tidak tahu kalau orang tuan Alex berada di New York walau sudah satu tahun bersama. Yang dia tahu hanya di luar negeri. Negara apa dia tidak tahu.
'Sudah, sudahlah Helena. Dia sudah bahagia. Kau jangan ingat-ingat lagi, move on. Ayo move on,' batin Helena sambil terus tangannya menyeka air mata yang terus mengalir kian deras tiada henti.
          ****
Back to Alex.
"Sayang, sudah tidur, ya?" tanya Alex sambil memeluk Quen dari belakang.
"Belum, kenapa?"
"Tidak apa-apa, berarti kau mendengar percakapanku dengam Helena barusan."
"Tentu saja, aku mendengarnya." Wanita itu membalikan badan menghadap ke arah suaminya.
"Kan, aku benar-benar tak ada hubungan lagi dengan dia, aku setia sama kamu."
"Sampai kau selingkuhin aku, akan kubunuh kau," ucap Quen sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya, bunuh saja aku, Sayang kalau itu terjadi. Yadah, kita tidur yuk! Nanti rumah ini sudah akan sibuk dan ramai, kau tak akan bisa beristirahat lagi."
Quen menepelkan pipinya pada dada bidang Alex menyentuhnya dengan telapak tangannya dan mulai memejamkan mata. Lalu keduanya sama-sama terlelap.
__ADS_1