Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 38


__ADS_3

Sore itu Clara sengaja ke kampus Quen untuk menjemputnya, karena tidak mau dia diantar lagi oleh dosennya. Quen tidak bercerita banyak tentang Aditya, bahkan nama lelaki itu pun juga dia ketahui melalui Lusi.


Dia takut, jika tidak tahu kalau Aditya duda dan terlanjur cinta, ternyata putra lelaki itu tidak mampu menerima Quen. Lagi pula, ibu mana yang akan membiarkan anaknya dalam bahaya?


"Cepat keluar kalau sudah usai kelas, mama menunggumu di depan gerbang."


Begitu membaca isi pesan itu, Quen panik dengan rasa sungkan ia berkata pada Aditya kalau mamanya sudah menjemputmya di depan.


Dengan berat hati pula, Aditya meng iyakan, meski sebenarnya ia kecewa dan ingin mengajal Quen ke suatu tempat.


Quen langsung membuka pintu mobil dan duduk di sebelah kemudi, "Tumben Mama jemput Quen?" tanya Gadis itu ceria.


"Ya sekali-kali gak papa, kan? Kita pulang ke rumah saja, ya?" Rawar Clara.


"Iya deh, Ma."


Quen merasa kalau ada hal penting yang akan mamanya sampaikan, dan benar saja. Sampai di rumah Clara mengajak Quen ngobrol di taman belakang membahas mengenai soal Aditya, mendengar semua penjelasan mamanya, Quen tidak bisa membantah, tidak ada alasan bertahan pula, kalau memang di larang, buag apa tidak? Sekalipun Aditya mencintainya dan dua tahu kalau Axel menerimanya sekalipun.


Ia kembali teringat akan kalimat Aditya di dalam mobil saat pertama kali ia di ajak menemui Axel dan kedua orang tuanya.


"Jika kelak sendainya Novita meminta kembali denganku aku akan tetap menerimanya dalam keadaan apapun. Entah karena dia sadar Axel membutuhkannya, atau dicampakan suaminya yang sekarang sekalipun."


Quen tidak mau, saat ia mulai benar-benar berubah kagumnya menjadi cinta Novita benar-benar kembali, dan jelas Axel pun akan tetap memilih ibu kandungnya dari pada dirinya.


"Begini lebih baik, semoga dengan aku mebgulur waktu Pak Aditya dapat menemukan orang yang benar-benar mencintai dia. Aku takut jika kelak sudah menikah dengannya tapi di hatiku masih ada Alex," gumam Quen dalam hati.

__ADS_1


🌸 🌸 🌸


Sepulang kuliah Quen mendapati pintu apartemennya sedikit terbuka. Ia melangkah dengan hati-hati, melihat siapa kira-kira yang ada di dalam.


Quen bernapas lega saat melihat seorang lelaki mengenakan kemeja biru muda dengan lengan dilipat sampai siku. Dasi yang dilonggarkan serta tiga kancing teratasnya di buka. Ia tengah duduk di sofa sambil menikmati sebatang rokok.


"Papa, sejak kapan di sini? Tumben kemari," Sapa gadis itu melepas spatunya lalu berhambur duduk di sebelah Vano.


"Sudah sepuluh menit yang lalu, kau baru pulang, Sayang?" tanya Vano penuh perhatian.


Quen menunduk, dan hanya menjawab dengan anggukan saja.


"Hay, ada apa dengan anak papa? Kenapa murung begini?" Vano meletakan batang rokoknya yang tersisa setengah, memegan pundak putrinya dan mengamati wajahnya.


"Aku gak baik-baik saja, Pa." Masih menunduk.


Quen tidak menjawab dia malah menangis dalam pelukan papanya, ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Apa benar dia mencintao dua pria sekaligus? Rasanya tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka.


"Aku gak tahu, Pa," ucapnya sambil terisak dalam pelukan Vano.


"Tenangkan dulu hatimu, dan berceritalah pelan-pelan," ucap Vano sambil mengusap belakang kepala putrinya.


Vano merasa putrinya itu persis seperti Clara, tapi, di sisi lain dia jauh lebih rapuh dan sangat tempramen. Belum bisa menhikapi masalah dengan tenang dan dewasa. Hal itu terbukti bagaimana saat dua perempuannya itu tengah cemburu, Clara menghadapi Yuna dengan perang dingin, halus, tapi berakibat fatal, jika Quen, saat mendapati kabar Lyli adik kandung Al dia tidak segan-segan langsung main tangan.


Diam-diam Vano merasa sangat bersalah, benar kata Clara kalau ia terlalu memanjakan putrinya.

__ADS_1


"Kemarin aku dilamar sama dosenku, Pa. Lalu aku cerita ke Mama. Saat itu juga mama menyelidiki informasi tentang orang itu, mama bilang dia tidak melarang, tapi kalau bisa jangan denga dia, tapi, setelah aku mengembalikan cincin itu padanya tadi kok akh sedih banget, Pa?"


"Kau suka padanya?" tanya Vano


"Tidak tahu, tapi, aku menyukai pria yang beberapa hari lalu sarapan bersama kita."


"Alex? Apa alasan mama melarangmu dengan dosenmu itu? Pasti demi kebaikanmu juga, kan?"


Lagi-lagi Quen hanya diam dan menjawab dengan anggukan.


"Saat aku mengatakan dosenku juga dokter di rumah sakit Medika, saat itu juga mama menemui tante Lusi. Ternyata, dia adalah adik kelas tante Lusi dulu. Mereka cukup dekat jadi, tante Lusi sedikit banyak tahu tentang Pak Aditya, Pa. Dia hanya akan menikahi wanita yang diterima anaknya, sekalipun dia tidak cinta. Dan jika dia menyukai wanita yapi anaknya tidak, terpaksa dia akan meninggalkannya," ucap Quen panjang lebar.


Vano sebagai laki-laki jelas mengerti posisi Aditya, dia begitu karna sayang dengan anaknya, bahkan, jika andai dia duda pasti akan melakukan hal yang sama. Tapi, di sisi lain, orang tua mana yang rela anaknya hanya dijadikan ibu pengganti saja?


"Kau sudah kenal berapa lama? Dan pernah ketemu anaknya?"


"Sudah, Pa. Dua minggu dekat tiba-tiba dia mengajakku ke rumahnya, bertemu dengan orang tua dan putranya, putranya sangat menyukaiku."


"Kurasa sebelumnya dia memang sudah menyukaimu, Sayang. Lalu jika kau tidak mau kehilangan dia, kenapa menolaknya? Jika dia serius pasti mau menunggumu hingga lulus."


"Dia dalam hatinya masih menunggu mantan istrinya kembali, Pa. Dia akan menerima dalam keadaan apapun, kembali atas kesadarannya, atau dicampakan suami barunya. Karena dia yakin sebahagianya anak dengan orang tua sambung akan tetap bahagia dengan orang tua kandung."


"Kau hanya terbiasa bersama saja, keputusanmu sudah tepat, Nak. Kau sudah makan siang?"


Quen mengelengkan kepalanya, "Belum, Pa."

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita makan di luar saja!" Ajak Vano.


__ADS_2