
Tak ingin Queen
mengalami luka lebih banyak, dan khawatir hal buruk terjadi padanya, dengan sekuat tenaga Zahara memukul pergelangan Zara dengan keras, sehingga pisau itu
terpelanting jatuh.
“Zahara, kau berani melawanku?” tantang Zara dengan geram. Tanpa
ampun dia menendang kepala Zahara hingga wanita itu tak sadarkan diri.
“Kau gila, Zara. Pada saudarimu saja kau tega?” teriak Queen
kala mendapati tubuh Zahara ambruk dan tak lagi bergerak. Tapi, karena tangan
dan kakinya terikat, ia pun juga tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kenapa? Masalah buatmu? Aku tidak suka melihat wanita mana
pun yang memiliki nasib lebih beruntung dariku. Termasuk juga kau. Kau ini sudah
anak orang kaya, memiliki gelar, dan juga suami tampan. Sempurna sekali
hidupmu, Queen? Aku benci dirimu. Kurasa, sebaiknya kau mati saja sekarang!”
Dengan cepat Zara meraih sebilah pisau yang terpelanting
tidak jauh dari tempat ia berdiri dan kembali mengayunkan tepat di depan wajah
Queen. Wanita itu hanya pasrah menundukkan kepalnya sambil meringkuh lemah tak
bisa memberi perlawanan.
“Dor!”
Sebuah tembakan tepat mengenai pergelangan tangan
kanan Zara. Lagi-lagi wanita itu gagal melukai Queen untuk yang kedua kalinya.
Tapi, meskipun demikian, Queen sudah kehilangan banyak darah dari luka besar
dari pahanya yang ditusuk oleh Zara tadi.
Zara menyeringai sambil menoleh ke belakang. Sedangkan,
tangannya yang terkena tembakkan itu lumpuh tak dapat digerakan. Mungkin itu
hanya sementara saja. Karena merasakan sakit yang luar biasa. Jika sudah mendapatkan
penanganan dan peluru berhasil di keluarkan, mungkin juga dia sudah bisa
beraktifitas nomal seperti sedia kala.
“Hembh… tak kusangka. Pergerakan kalian cepat sekali,” ucap
Zara lalu melepas hijabnya dengan tangan kirinya dan menghadap ke arah Al.
“Lancang sekali tanganmu, siapa kau berani menyentuh istriku?
Bahkan melukainya?” ucap Al dengan nada penuh penekanan dan emosi yang luar biasa.
“Siapa? Aku Zara. Aku benci pada siapapun yang memilkki
kehiduan jauh lebih baik dariku. Termasuk dua wanita yang kini jadi sandraku.
Apa yang kau bawa ke mari untuk membebaskan salah satu dari mereka?”
“Jika kau mau bermain-main denganku, aku
tidak akan sungkan-sungkan membunuhmu saat ini juga.” Al memainkan pistol dalam genggamannya yang tadi baru saja ia gunakan untuk menembak pergelangan tangan Zara.
“Kau bisa, melakukan itu? coba saja lakukan!” ancam Zara sambil menyeringai.
Merasa wanita yang ada di depannya sangat kelewatan, tanpa
banyak bicara Al langsung menendang kepala wanita itu hingga dia terpelanting
dan roboh. Dia tidak mau membunuhnya karena bukan tidak tega. Karena dia tahu,
kalau dia adalah saudai Zahara, putri dari umik Fatiya yang merawatnya dari
bayi hingga berusia lima tahun.
Bersamaan dengan robohnya Zara, Alex bersama mertua, Novita
dan Candra pun berhasil masuk ke dalam tempat itu.
“Zara, apa yang kau lakukan ada saudarimu, Nak? Sadarlah,
ini tidak benar,” ucap umik Fatiya sambil menangis histeris mendapati Zahara
yang tak sadarkan diri. awalnya wanita itu mengira kalau darah yang mengotori
tubuh dan pakaian putrinya adalah darahnya sendiri. Tapi, sebenarnya itu adalah darah Queen.
“Diam kau! Gara-gara kau aku mengalami nasib buruk, dasar
wanita tua! Kau hancurkan hidupku, Zahara saja lah yang kau sayang selama ini,” teriak Zara masih lemah. Ia bahkan belum mampu mengangkat kepalanya sendiri.
“Jaga mulut kamu, Zara! Kau ini bicara pada siapa? Kau ini seperti
binatang tak punya adab dan etika!” bentak Al tak kalah geram.
Novita yang berada di paling depan, dan sempat menyaksikan
bagaimana Al menendang keras kepala wanita yang persis saudari iparnya tadi
berbisik pada Candra agar meminta Al untuk membawa Queen ke rumah sakit saja.
Sebab, jika dibiarkan tetap di sini, ia bisa saja kalap. Walau ia tidak
melihatnya sendiri, ia juga tahu, bagaimana kalau Al sudah marah. Apalagi, ada
yang berani melukai orang yang berarti dalam hidupnya.
“Ndra, minta Al untuk membawa Queen ke rumah sakit saja,
biar aku yang membujuk Alex,” bisiknya lirih.
Tanpa menjawab dengan sepatah kata pun, pria itu melangkah
menghampiri Al agar menyimpan pistolnya dan membawa Queen ke rumah sakit. Tapi,
jawaban Al sungguh di luar dugaan. Rupanya dia sudah mempersiapakan segalanya.
Apakah dia tahu kalau istrinya dan juga Zahara akan terluka?
“Tidak perlu, itu hanya akan buang-buang waktu saja, tim
medis sudah akan datang ke mari.”
Candra hanya menghela napas saja. Ia tidak bisa berbuat
apa-apa, bahkan harus menghubungi siapa agar amarahnya meredam dia juga tidak tahu.
__ADS_1
Belum sampai tim medis datang, Queen tiba-tiba saja pingsan
karena hehabisan banyak darah, dan mungkin juga ia merasakan sakit yang luar biasa pada ulu hatinya yang ditendang Zara dengan keras tadi.
“Queen!” seru Al, dan Novita secara bersamaan. Seketika dua
orang itu berlari menghampiri Queen dan memangkunya. Wajahnya dingin dan pucat.
Dengan cepat Al menelfon dokter dan tim medis yang tadi ia hubungi dan ia minta
untuk datang. Ia marah-marah karena menganggap mereka sangat lelet sekali.
Seketika, pandangannya beralih pada Zara, diinjakknya kepala
wanita itu tanpa belas kasihan. “Apa yang kau lakukan pada istriku, hah? Kalau
sampai terjadi apa-apa, maka aku tidak akan segan-segan membunuhmu!”
“Nak, Al. umik mohon jangan lakukan ini padanya, sudah
cukup, Nak. Bagaimana pun dia adalah anak umik juga,” ucap umik Fatiya sambil
bersimpuh di kaki Al. ia sendiri juga tidak menyadari kapan wanita itu berada
di sana. Sebab, teraklhir Al melihat, ia berusaha membangunkan Zahara yang sekarang sudah mulai sadar.
“Tapi, saya akan tetap membawa ini ke jalur hukum!” ucap Al
tegas sambil mengangkat kakinya dari kepala Zara.
“Zara, apakah kau baik-baik saja, Nak?” ucap wanita itu, sambil
membantunya untuk duduk, sebab, bersama Zahara sudah ada Alex.
“Kau wanita pembawa sial, jangan menyentuhku!” seru Zara
sambil mendorong tubuh wanita yang dulu telah melahirkannya. Tapi, wanita yang
memiliki hati sabar, dan lembut seperti sutra itu tetap saja membuka tangannya
hendak memeluk Zara. Sejahat apapun dia, tetap saja dia putrinya, putri kedua
yang dia kahirkan. Tapi, memiliki nasib malang akibat salah cara ayah dan kakek
neneknya mendidik. Sehingga menjadikan dirinya begitu arogan.
“Zara, jangan lukai umik. Tidak cukupkan kau menyekapku
hingga delapan bulan lamanya memperlakukanku seperti hewan jalaanan yang tak ada nilainya?” teriak Zahara. Ia merasa sangat sakit melihat tubuh ringkih
umiknya yang memeluk adiknya justru malah di dorong sekeras itu. bahkan, hal
lebih mengerikan terjadi, saat tanpa orang-orang sadari dia menusuk keras perut
umiknya sendiri dari sebilah pisau yang berhasil ia raih.
“Umik!”
Al hanya diam karena shock. Melihat pembunuhan di depan mata
sudah biasa baginya. Tapi, jika melihat seorang wanita tega membunuh ibunya
sendiri, ini adalah kali pertama. Sehingga ia hanya diam dan lemas di tempatya,
pikirannya pun juga seolah terhenti.
Bersamaan dengan itu, tim medis pun datang. Tapi, Al sudah mampu
berbicara dan menghardik mereka yang datangnya terlambat. Queen memang bisa di
sehingga mengenai hatinya. Membuat ia tidak terselamatkan. Sementara Zahara
hanya bisa menangisi umiknya saja. Dan Zara, sudah dibawa pada pihak yang berwajib untuk melanjutkan proses hukum.
Queen tersadar dari pingsannya. Ia sudah berada di sebuah ruangan di mana ia memansang yang nampak hanyalah
putih. Ke mana pun matanya beredar semuanya nampak putih. Dari sudut ruangan
itu saja, ia melihat seorang remaja duduk di sofa sambil membaca buku.
Ia yakin, ini sudah berada di rumah sakit. Lalu, kemudian
ingatannya langsung tertuju pada Zahara yang kritis dan sempat pingsan saat ditendang
kepalanya keras oleh wanita biadab itu.
“Axel, tante Zahara di mana, Sayang?” tanya Queen lemah sambil memegang kepalanya. Ia juga melihat kantung darah di bersebelahan dengan kantung inpus.
Mendengar kalau orang yang ia tunggu sudah sadar, pria
remaja itu langsung meletakkan buku di tangannya dan bergegas menghampirinya ke
ranjang tantenya.
“Tante, kau sudah sadar? Tante Zahara dia baik-baik saja.
Dia sudah melahirkan, anaknya laki-laki,” ucap Axel.
“Apa? Dia melahirkan?” tamya Queen. Sebenarnya sendiri juga
masih sedikit linglung efek obat bius, dan melupakan kalau Zahara tengah hamil.
“Melahirkan? Lalu, yang lain di mana?”
“Om Al dan yang lain mengurus pemakaman umik Fatiya, dan
mama menemani tante Zahara.”
“Umik meninggal? Kenapa, Xel,” tanya Queen langsung saja
bangkit, lalu tertahan karena nyeri akibat luka di pahanya. “aduh, sakit
banget,” keluhnya sambil menyentuh paha kanannya yang terluka.
“Hati-hati, Tante. Kau tenanglah dulu. Tidak apa-apa, istirahatlah
di sini dulu,” ucap remaja itu. berusaha menenangkan.
“Bagaimana umik Fatiya bisa meninggal, Xel?” tanya Queen
lagi. Bagaimana pun ia tadi sempat melihat beliau juga seperti dalam keadaan sehat.
“Dia terbunuh. Zara menusuk perutnya hingga mengenai hati,
dan akhirnya tak tertolong lagi. Tapi, sekarang dia sudah di bawa ke kantor
polisi, tenang saja, Tante.”
“Innalillahi… sungguh keterlaluan dia. Bagaimana dia bisa
melakukan itu pada wanita yang telah melahirkannya sendiri?” ucap Queen sambil
menangis. Hatinya terasa sakit dan terisis saja mendapati seorang anak terlebih
__ADS_1
dia wanita, dengan tega dan mudahnya membunuh ibu kandungnya sendiri. Dia tidak
tahu karena ia pingsan tadi. Tapi, itu lebih baik, daripada melihatnya. Malah dia bisa trauma nanti.
“Sudah, Tante. Mungkin ini sudah takdir, jangan sedih, ya?”
ucap Axel sambil mengusap lengan atas Queen.
“Kreeeek!”
Axel dan Queen serempak menoleh ke pintu melihat siapa yang
datang. Mulanya mereka menyangka kalau yang datang adalah dokter. Tapi,
ternyata bukan, melainkan Zahara yang dududk di atas kursi roda, di dorong oleh
Alex dan Novita di depan mereka.
“Zahara, kau juga melahirkan di sini ternyata?” ucap Queen
antusias.
“Iya, tadi, saat kau pingsan, tiba-tiba ketubanku pecah,
terimakasih. Akhirnya kita berdua sama-sama masuk ambulance. Suamimu dan kak
Candra membawa pulang jenazah umikku. Terimakasih, ya Quen. Berkat kamu, kalau
bukan karena kamu, mungkin aku dan bayiku juga sudah mati di sana. Karena, dari
kemarin aku juga sudah merasakan kontraksi,” ucap Zahara sambil memegang erat
tangan kanan Queen.
“Percayalah, ini sudah takdir dari Tuhan, Zahara. Aku hanyalah
peranannya saja,” ucap Queen. Hatinya sudah sedikit tenang kala
mendapati Zahara sendiri juga terlihat sudah bisa ikhlas melepaskan kepergian
umiknya. Tapi, ia yakin, ia bukan tidak bersedih. Jelas sedih. Cuma,
kesedihannya ia simpan sendiri.
“Tapi, kau terluka karena aku, kan?”
“Sudahlah, itu tidak penting yang penting kau dan bayimu
selamat. Laki-laki apa perempuan anakmu, Za?” tanya Queen mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya ia sendiri juga tahu, kalau anak Zahara dan Alex laki-laki.
“Anakku cowok, dia sehat, Queen. Terimakasih, ya.” Bahkan,
tak henti-hentinya Zahara terus mengucapkan terimakasih padanya. Sampai, Al pun
sudah kembali bersama papa Vano, mama Clara dan juga Berlyn yang ada dalam gendongannya.
“Kau sudah sadar, Sayang? Bagaimana keadaanmu sekarang?
Apakah masih ada yang sakit?” tanyanya, setelah menurunkan Berlyn dari gendongannya.
“Seperti yang kau lihat, Sayang. Aku tidak apa-apa,” ucap
Queen pelan. Matanya nampak berbinar saat melihat Al sudah datang. Setelah melihat suaminya tiba, ia seperti mendapat energi baru.
“Ulu hati kamu cidera. Apakah terhantam benda tumpul?” tanya
Al dengan penuh intimidasi.
Queen hanya tersenyum dan berkata, “Aku tidak apa-apa, Al.
kau tenang saja. Stop panik berlebihan, oke?”
“Tadi Zara menendang ulu hatinya keras, Al,” jawab Zahara.
Mendengar jawaban itu seketika Al naik pitam, kedua tangannya
mengepal keras. Urat-urat di pelipisnya semua keluar nampak membiru, wajahnya juga berubah merah padam. Tapi, Queen segera meraih lengannya dan berkata, “Sudahlah, dia
sudah mendapatkan balasannya. Jangan terbawa emosi, aku masih muda, dan anakmu
juga masih kecil,” canda Queen.
“Ulu hati tertendang bahkan kau masih bisa tenang, Queen?” gumam
Al lirih dengan menahan emosinya.
“Terus mau apa? Dia kan juga sudah di bawa polisi.” Queen
bersikeras meredam emosi Al.
“Om, jangan suka marah, darah tinggi nanti. Kemarahan berlebih juga berpotensi terkena serangan jantung mendadak,” tukas Axel yang
paham dengan maksut Queen tadi, seketika suasana pun menjadi hening.
“Aku sebenarnya kasihan sama Zara. Tapi, mau bagaimana lagi?
Dia tidak memiliki control diri, dan itu justru menimbulkan masalah untuknya. Aku
dan almarhum umik sudah beberapa kali mengingatkan dirinya untuk selalu
menerima takdir dan jangan benci dengan pencapaian orang lain. Tapi, dia selalu
mengabaikannya, akhirnya… “ Zahara diam tidak meneruskan lagi kalimatnya.
“Sebenarnya apa masalah dia, Zahara?” tanya Clara lirih. Sebab,
sedikit banyak dia juga dengar bagaimana anehnya saat dia menyamar menjadi Zahara.
“Dulu, saat almarhum umik dan abah berpisah, umik tidak diberi harta Gono gini sepeser pun. kami hidup miskin di panti asuhan. Umik membesarkan saya seorang diri. Dia menjadi ayah sekaligus ibu untuk saya. Menjadi tukang masak dan cuci di panti tersebut. Hingga suatu hari, dari atasan mempercayakan umik untuk menjadi pengerus panti itu. Lalu perlahan kebidanan kami berubah menjadi lebih baik. Tapi, Zara membenci itu. Dia selalu marah-marah pada abah kakek dan nenek agar bisa memiliki barang yang jauh lebih bagus dariku.
Tidak hanya pada benda saja. Sering kali dia menginginkan pria manapun yang berusaha mendekatiku. Hanya Alex saja yang tak bisa ia rayu. Sehingga dia mengoperasi wajahnya agar lebih mirip denganku, dan menyamar menjadi aku. Tapi, yang tidak aku sangka, bagaimana mungkin dia juga membenci Queen? Maafkan saya, Tante, Om, Al Queen," ucap Zahara sambil terisak. Ia malu dengan perbuatan saudarinya sendiri.
"Zahara, maaf. Apakah saat kedua orangtuamu berpisah dia hanya inginkan kamu?" tanya Queen dengan hati-hati.
"Sebenarnya umik ingin semua putrinya bersamanya. Tapi, karena dia tak mau hidup miskin, dia pilih ikut bersama Abah. Kami tidak langsung tinggal di rumah panti itu, Queen. Kami sempat beberapa hari jadi gelandangan kala itu," ucap Zahara kian banjir saja air matanya.
Queen hanya diam dan menggenggam erat tangan wanita itu. Diam-diam dia menyesal karena telah bertanya seperti itu.
"Dari keserakahannya juga, dia kehilangan segalanya. Usaha Abah tak bisa berkembang karena kehabisan modal. Seluruh uangnya Zara habiskan demi memenuhi keinginannya. Dia itu tidak mau ada gadis yang lebih cantik, oke dan modish. Dia selalu ingin jadi yang nomor satu serta pusat perhatian. Makanya dia begitu. Tidak aneh pula jika dia Inging mencelakai aku dan Queen. Karena rasa iri dan dengkinya sudah akut."
Seketika suasana pun menjadi hening. Hanya suara isakan Zahara saja ya g sesekali terdengar. Sementara Queen hanya diam karena merasa bersalah.
“Oh, iya. Dadi katanya Zahara sempat pingsan. Lalu,
lahirannya normal apa cesar?” tanya Clara.
“Alhamdulillah, normal Tante. Aku terjaga saat merasakan
kontraksi yang luar biasa, lalu ketuban pecah, dan kepala si bayi sudah mulai
terlihat. Ternyata baby boy yang lahir.”
Semua pun terdiam dan kembali normal. Kali ini Alex yang giliran meminta maaf pada Queen dan Al karena percaya dengan apa ya g Zara katakan.
__ADS_1
Seketika hubungan di antara mereka kembali normal. tak ada lagi kesalah pahaman antara Alex, Queen dan Zahara. karena pada dasarnya, Zahara Asli tidak pernah benci dengan Queen. Apalagi cemburu dan posesif. Sebab, dia percaya jika Alex sudah mengejarnya, artinya dia sudah move on dari cinta lamanya. Buktinya, dia juga tidak langsung mengajaknya menikah. baru menikah setelah Queen melahirkan putri pertamanya selang beberapa bulan.
Jika Zara merasa panik dan takut, itu karena dia tidak tahu, bagaimana proses Alex mendekati Zahara yang asli. Atau, dia saja ya g terlalu peka. Entahlah. Lagipula, wanita mana yang tidak peka dengan keadaan apalagi tentang perasaan suaminya. mungkin, Zahara sendiri juga menyadari itu. hanya saja ia bisa memaklumi, ia sadar semua butuh proses dan waktu. Atau, ia memang tidak membiarkan sedikit pun prasangka buruk menghinggapi hatinya saja. Wallahu alam.