Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 46


__ADS_3

Tak ingin Queen


mengalami luka lebih banyak, dan khawatir hal buruk terjadi padanya, dengan sekuat tenaga Zahara memukul pergelangan Zara dengan keras, sehingga pisau itu


terpelanting jatuh.


“Zahara, kau berani melawanku?” tantang Zara dengan geram. Tanpa


ampun dia menendang kepala Zahara hingga wanita itu tak sadarkan diri.


“Kau gila, Zara. Pada saudarimu saja kau tega?” teriak Queen


kala mendapati tubuh Zahara ambruk dan tak lagi bergerak. Tapi, karena tangan


dan kakinya terikat, ia pun juga tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kenapa? Masalah buatmu? Aku tidak suka melihat wanita mana


pun yang memiliki nasib lebih beruntung dariku. Termasuk juga kau. Kau ini sudah


anak orang kaya, memiliki gelar, dan juga suami tampan. Sempurna sekali


hidupmu, Queen? Aku benci dirimu. Kurasa, sebaiknya kau mati saja sekarang!”


Dengan cepat Zara meraih sebilah pisau yang terpelanting


tidak jauh dari tempat ia berdiri dan kembali mengayunkan tepat di depan wajah


Queen. Wanita itu hanya pasrah menundukkan kepalnya sambil meringkuh lemah tak


bisa memberi perlawanan.


“Dor!”


Sebuah tembakan tepat mengenai pergelangan tangan


kanan Zara. Lagi-lagi wanita itu gagal melukai Queen untuk yang kedua kalinya.


Tapi, meskipun demikian, Queen sudah kehilangan banyak darah dari luka besar


dari pahanya yang ditusuk oleh Zara tadi.


Zara menyeringai sambil menoleh ke belakang. Sedangkan,


tangannya yang terkena tembakkan itu lumpuh tak dapat digerakan. Mungkin itu


hanya sementara saja. Karena merasakan sakit yang luar biasa. Jika sudah mendapatkan


penanganan dan peluru berhasil di keluarkan, mungkin juga dia sudah bisa


beraktifitas nomal seperti sedia kala.


“Hembh… tak kusangka. Pergerakan kalian cepat sekali,” ucap


Zara lalu melepas hijabnya dengan tangan kirinya dan menghadap ke arah Al.


“Lancang sekali tanganmu, siapa kau berani menyentuh istriku?


Bahkan melukainya?” ucap Al dengan nada penuh penekanan dan emosi yang luar biasa.


“Siapa? Aku Zara. Aku benci pada siapapun yang memilkki


kehiduan jauh lebih baik dariku. Termasuk dua wanita yang kini jadi sandraku.


Apa yang kau bawa ke mari untuk membebaskan salah satu dari mereka?”


“Jika kau mau bermain-main denganku, aku


tidak akan sungkan-sungkan membunuhmu saat ini juga.” Al memainkan pistol dalam genggamannya yang tadi baru saja ia gunakan untuk menembak pergelangan tangan Zara.


“Kau bisa, melakukan itu? coba saja lakukan!” ancam Zara sambil menyeringai.


Merasa wanita yang ada di depannya sangat kelewatan, tanpa


banyak bicara Al langsung menendang kepala wanita itu hingga dia terpelanting


dan roboh. Dia tidak mau membunuhnya karena bukan tidak tega. Karena dia tahu,


kalau dia adalah saudai Zahara, putri dari umik Fatiya yang merawatnya dari


bayi hingga berusia lima tahun.


Bersamaan dengan robohnya Zara, Alex bersama mertua, Novita


dan Candra pun berhasil masuk ke dalam tempat itu.


“Zara, apa yang kau lakukan ada saudarimu, Nak? Sadarlah,


ini tidak benar,” ucap umik Fatiya sambil menangis histeris mendapati Zahara


yang tak sadarkan diri. awalnya wanita itu mengira kalau darah yang mengotori


tubuh dan pakaian putrinya adalah darahnya sendiri. Tapi, sebenarnya itu adalah darah Queen.


“Diam kau! Gara-gara kau aku mengalami nasib buruk, dasar


wanita tua! Kau hancurkan hidupku, Zahara saja lah yang kau sayang selama ini,” teriak Zara masih lemah. Ia bahkan belum mampu mengangkat kepalanya sendiri.


“Jaga mulut kamu, Zara! Kau ini bicara pada siapa? Kau ini seperti


binatang tak punya adab dan etika!” bentak Al tak kalah geram.


Novita yang berada di paling depan, dan sempat menyaksikan


bagaimana Al menendang keras kepala wanita yang persis saudari iparnya tadi


berbisik pada Candra agar meminta Al untuk membawa Queen ke rumah sakit saja.


Sebab, jika dibiarkan tetap di sini, ia bisa saja kalap. Walau ia tidak


melihatnya sendiri, ia juga tahu, bagaimana kalau Al sudah marah. Apalagi, ada


yang berani melukai orang yang berarti dalam hidupnya.


“Ndra, minta Al untuk membawa Queen ke rumah sakit saja,


biar aku yang membujuk Alex,” bisiknya lirih.


Tanpa menjawab dengan sepatah kata pun, pria itu melangkah


menghampiri Al agar menyimpan pistolnya dan membawa Queen ke rumah sakit. Tapi,


jawaban Al sungguh di luar dugaan. Rupanya dia sudah mempersiapakan segalanya.


Apakah dia tahu kalau istrinya dan juga Zahara akan terluka?


“Tidak perlu, itu hanya akan buang-buang waktu saja, tim


medis sudah akan datang ke mari.”


Candra hanya menghela napas saja. Ia tidak bisa berbuat


apa-apa, bahkan harus menghubungi siapa agar amarahnya meredam dia juga tidak tahu.

__ADS_1


Belum sampai tim medis datang, Queen tiba-tiba saja pingsan


karena hehabisan banyak darah, dan mungkin juga ia merasakan sakit yang luar biasa pada ulu hatinya yang ditendang Zara dengan keras tadi.


“Queen!” seru Al, dan Novita secara bersamaan. Seketika dua


orang itu berlari menghampiri Queen dan memangkunya. Wajahnya dingin dan pucat.


Dengan cepat Al menelfon dokter dan tim medis yang tadi ia hubungi dan ia minta


untuk datang. Ia marah-marah karena menganggap mereka sangat lelet sekali.


Seketika, pandangannya beralih pada Zara, diinjakknya kepala


wanita itu tanpa belas kasihan. “Apa yang kau lakukan pada istriku, hah? Kalau


sampai terjadi apa-apa, maka aku tidak akan segan-segan membunuhmu!”


“Nak, Al. umik mohon jangan lakukan ini padanya, sudah


cukup, Nak. Bagaimana pun dia adalah anak umik juga,” ucap umik Fatiya sambil


bersimpuh di kaki Al. ia sendiri juga tidak menyadari kapan wanita itu berada


di sana. Sebab, teraklhir Al melihat, ia berusaha membangunkan  Zahara yang sekarang sudah mulai sadar.


“Tapi, saya akan tetap membawa ini ke jalur hukum!” ucap Al


tegas sambil mengangkat kakinya dari kepala Zara.


“Zara, apakah kau baik-baik saja, Nak?” ucap wanita itu, sambil


membantunya untuk duduk, sebab, bersama Zahara sudah ada Alex.


“Kau wanita pembawa sial, jangan menyentuhku!” seru Zara


sambil mendorong tubuh wanita yang dulu telah melahirkannya. Tapi, wanita yang


memiliki hati sabar, dan lembut seperti sutra itu tetap saja membuka tangannya


hendak memeluk Zara. Sejahat apapun dia, tetap saja dia putrinya, putri kedua


yang dia kahirkan. Tapi, memiliki nasib malang akibat salah cara ayah dan kakek


neneknya mendidik. Sehingga menjadikan dirinya begitu arogan.


“Zara, jangan lukai umik. Tidak cukupkan kau menyekapku


hingga delapan bulan lamanya memperlakukanku seperti hewan jalaanan yang tak ada nilainya?” teriak Zahara. Ia merasa sangat sakit melihat tubuh ringkih


umiknya yang memeluk adiknya justru malah di dorong sekeras itu. bahkan, hal


lebih mengerikan terjadi, saat tanpa orang-orang sadari dia menusuk keras perut


umiknya sendiri dari sebilah pisau yang berhasil ia raih.


“Umik!”


Al hanya diam karena shock. Melihat pembunuhan di depan mata


sudah biasa baginya. Tapi, jika melihat seorang wanita tega membunuh ibunya


sendiri, ini adalah kali pertama. Sehingga ia hanya diam dan lemas di tempatya,


pikirannya pun juga seolah terhenti.


Bersamaan dengan itu, tim medis pun datang. Tapi, Al sudah mampu


berbicara dan menghardik mereka yang datangnya terlambat. Queen memang bisa di


sehingga mengenai hatinya. Membuat ia tidak terselamatkan. Sementara Zahara


hanya bisa menangisi umiknya saja. Dan Zara, sudah dibawa pada pihak yang berwajib untuk melanjutkan proses hukum.


Queen tersadar dari pingsannya. Ia sudah berada di sebuah ruangan di mana ia memansang yang nampak hanyalah


putih. Ke mana pun matanya beredar semuanya nampak putih. Dari sudut ruangan


itu saja, ia melihat seorang remaja duduk di sofa sambil membaca buku.


Ia yakin, ini sudah berada di rumah sakit. Lalu, kemudian


ingatannya langsung tertuju pada Zahara yang kritis dan sempat pingsan saat ditendang


kepalanya keras oleh wanita biadab itu.


“Axel, tante Zahara di mana, Sayang?” tanya Queen lemah sambil memegang kepalanya. Ia juga melihat kantung darah di bersebelahan dengan kantung inpus.


Mendengar kalau orang yang ia tunggu sudah sadar, pria


remaja itu langsung meletakkan buku di tangannya dan bergegas menghampirinya ke


ranjang tantenya.


“Tante, kau sudah sadar? Tante Zahara dia baik-baik saja.


Dia sudah melahirkan, anaknya laki-laki,” ucap Axel.


“Apa? Dia melahirkan?” tamya Queen. Sebenarnya sendiri juga


masih sedikit linglung efek obat bius, dan melupakan kalau Zahara tengah hamil.


“Melahirkan? Lalu, yang lain di mana?”


“Om Al dan yang lain mengurus pemakaman umik Fatiya, dan


mama menemani tante Zahara.”


“Umik meninggal? Kenapa, Xel,” tanya Queen langsung saja


bangkit, lalu tertahan karena nyeri akibat luka di pahanya. “aduh, sakit


banget,” keluhnya sambil menyentuh paha kanannya yang terluka.


“Hati-hati, Tante. Kau tenanglah dulu. Tidak apa-apa, istirahatlah


di sini dulu,” ucap remaja itu. berusaha menenangkan.


“Bagaimana umik Fatiya bisa meninggal, Xel?” tanya Queen


lagi. Bagaimana pun ia tadi sempat melihat beliau juga seperti dalam keadaan sehat.


“Dia terbunuh. Zara menusuk perutnya hingga mengenai hati,


dan akhirnya tak tertolong lagi. Tapi, sekarang dia sudah di bawa ke kantor


polisi, tenang saja, Tante.”


“Innalillahi… sungguh keterlaluan dia. Bagaimana dia bisa


melakukan itu pada wanita yang telah melahirkannya sendiri?” ucap Queen sambil


menangis. Hatinya terasa sakit dan terisis saja mendapati seorang anak terlebih

__ADS_1


dia wanita, dengan tega dan mudahnya membunuh ibu kandungnya sendiri. Dia tidak


tahu karena ia pingsan tadi. Tapi, itu lebih baik, daripada melihatnya. Malah dia bisa trauma nanti.


“Sudah, Tante. Mungkin ini sudah takdir, jangan sedih, ya?”


ucap Axel sambil mengusap lengan atas Queen.


“Kreeeek!”


Axel dan Queen serempak menoleh ke pintu melihat siapa yang


datang. Mulanya mereka menyangka kalau yang datang adalah dokter. Tapi,


ternyata bukan, melainkan Zahara yang dududk di atas kursi roda, di dorong oleh


Alex dan Novita di depan mereka.


“Zahara, kau juga melahirkan di sini ternyata?” ucap Queen


antusias.


“Iya, tadi, saat kau pingsan, tiba-tiba ketubanku pecah,


terimakasih. Akhirnya kita berdua sama-sama masuk ambulance. Suamimu dan kak


Candra membawa pulang jenazah umikku. Terimakasih, ya Quen. Berkat kamu, kalau


bukan karena kamu, mungkin aku dan bayiku juga sudah mati di sana. Karena, dari


kemarin aku juga sudah merasakan kontraksi,” ucap Zahara sambil memegang erat


tangan kanan Queen.


“Percayalah, ini sudah takdir dari Tuhan, Zahara. Aku hanyalah


peranannya saja,” ucap Queen. Hatinya sudah sedikit tenang kala


mendapati Zahara sendiri juga terlihat sudah bisa ikhlas melepaskan kepergian


umiknya. Tapi, ia yakin, ia bukan tidak bersedih. Jelas sedih. Cuma,


kesedihannya ia simpan sendiri.


“Tapi, kau terluka karena aku, kan?”


“Sudahlah, itu tidak penting yang penting kau dan bayimu


selamat. Laki-laki apa perempuan anakmu, Za?” tanya Queen mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya ia sendiri juga tahu, kalau anak Zahara dan Alex laki-laki.


“Anakku cowok, dia sehat, Queen. Terimakasih, ya.” Bahkan,


tak henti-hentinya Zahara terus mengucapkan terimakasih padanya. Sampai, Al pun


sudah kembali bersama papa Vano, mama Clara dan juga Berlyn yang ada dalam gendongannya.


“Kau sudah sadar, Sayang? Bagaimana keadaanmu sekarang?


Apakah masih ada yang sakit?” tanyanya, setelah menurunkan Berlyn dari gendongannya.


“Seperti yang kau lihat, Sayang. Aku tidak apa-apa,” ucap


Queen pelan. Matanya nampak berbinar saat melihat Al sudah datang. Setelah melihat suaminya tiba, ia seperti mendapat energi baru.


“Ulu hati kamu cidera. Apakah terhantam benda tumpul?” tanya


Al dengan penuh intimidasi.


Queen hanya tersenyum dan berkata, “Aku tidak apa-apa, Al.


kau tenang saja. Stop panik berlebihan, oke?”


“Tadi Zara menendang ulu hatinya keras, Al,” jawab Zahara.


Mendengar jawaban itu seketika Al naik pitam, kedua tangannya


mengepal keras. Urat-urat di pelipisnya semua keluar nampak membiru, wajahnya juga berubah merah padam. Tapi, Queen segera meraih lengannya dan berkata, “Sudahlah, dia


sudah mendapatkan balasannya. Jangan terbawa emosi, aku masih muda, dan anakmu


juga masih kecil,” canda Queen.


“Ulu hati tertendang bahkan kau masih bisa tenang, Queen?” gumam


Al lirih dengan menahan emosinya.


“Terus mau apa? Dia kan juga sudah di bawa polisi.” Queen


bersikeras meredam emosi Al.


“Om, jangan suka marah, darah tinggi nanti. Kemarahan berlebih juga berpotensi terkena serangan jantung mendadak,” tukas Axel yang


paham dengan maksut Queen tadi, seketika suasana pun menjadi hening.


“Aku sebenarnya kasihan sama Zara. Tapi, mau bagaimana lagi?


Dia tidak memiliki control diri, dan itu justru menimbulkan masalah untuknya. Aku


dan almarhum umik sudah beberapa kali mengingatkan dirinya untuk selalu


menerima takdir dan jangan benci dengan pencapaian orang lain. Tapi, dia selalu


mengabaikannya, akhirnya… “ Zahara diam tidak meneruskan lagi kalimatnya.


“Sebenarnya apa masalah dia, Zahara?” tanya Clara lirih. Sebab,


sedikit banyak dia juga dengar bagaimana anehnya saat dia menyamar menjadi Zahara.


“Dulu, saat almarhum umik dan abah berpisah, umik tidak diberi harta Gono gini sepeser pun. kami hidup miskin di panti asuhan. Umik membesarkan saya seorang diri. Dia menjadi ayah sekaligus ibu untuk saya. Menjadi tukang masak dan cuci di panti tersebut. Hingga suatu hari, dari atasan mempercayakan umik untuk menjadi pengerus panti itu. Lalu perlahan kebidanan kami berubah menjadi lebih baik. Tapi, Zara membenci itu. Dia selalu marah-marah pada abah kakek dan nenek agar bisa memiliki barang yang jauh lebih bagus dariku.


Tidak hanya pada benda saja. Sering kali dia menginginkan pria manapun yang berusaha mendekatiku. Hanya Alex saja yang tak bisa ia rayu. Sehingga dia mengoperasi wajahnya agar lebih mirip denganku, dan menyamar menjadi aku. Tapi, yang tidak aku sangka, bagaimana mungkin dia juga membenci Queen? Maafkan saya, Tante, Om, Al Queen," ucap Zahara sambil terisak. Ia malu dengan perbuatan saudarinya sendiri.


"Zahara, maaf. Apakah saat kedua orangtuamu berpisah dia hanya inginkan kamu?" tanya Queen dengan hati-hati.


"Sebenarnya umik ingin semua putrinya bersamanya. Tapi, karena dia tak mau hidup miskin, dia pilih ikut bersama Abah. Kami tidak langsung tinggal di rumah panti itu, Queen. Kami sempat beberapa hari jadi gelandangan kala itu," ucap Zahara kian banjir saja air matanya.


Queen hanya diam dan menggenggam erat tangan wanita itu. Diam-diam dia menyesal karena telah bertanya seperti itu.


"Dari keserakahannya juga, dia kehilangan segalanya. Usaha Abah tak bisa berkembang karena kehabisan modal. Seluruh uangnya Zara habiskan demi memenuhi keinginannya. Dia itu tidak mau ada gadis yang lebih cantik, oke dan modish. Dia selalu ingin jadi yang nomor satu serta pusat perhatian. Makanya dia begitu. Tidak aneh pula jika dia Inging mencelakai aku dan Queen. Karena rasa iri dan dengkinya sudah akut."


Seketika suasana pun menjadi hening. Hanya suara isakan Zahara saja ya g sesekali terdengar. Sementara Queen hanya diam karena merasa bersalah.


“Oh, iya. Dadi katanya Zahara sempat pingsan. Lalu,


lahirannya normal apa cesar?” tanya Clara.


“Alhamdulillah, normal Tante. Aku terjaga saat merasakan


kontraksi yang luar biasa, lalu ketuban pecah, dan kepala si bayi sudah mulai


terlihat. Ternyata baby boy yang lahir.”


Semua pun terdiam dan kembali normal. Kali ini Alex yang giliran meminta maaf pada Queen dan Al karena percaya dengan apa ya g Zara katakan.

__ADS_1


Seketika hubungan di antara mereka kembali normal. tak ada lagi kesalah pahaman antara Alex, Queen dan Zahara. karena pada dasarnya, Zahara Asli tidak pernah benci dengan Queen. Apalagi cemburu dan posesif. Sebab, dia percaya jika Alex sudah mengejarnya, artinya dia sudah move on dari cinta lamanya. Buktinya, dia juga tidak langsung mengajaknya menikah. baru menikah setelah Queen melahirkan putri pertamanya selang beberapa bulan.


Jika Zara merasa panik dan takut, itu karena dia tidak tahu, bagaimana proses Alex mendekati Zahara yang asli. Atau, dia saja ya g terlalu peka. Entahlah. Lagipula, wanita mana yang tidak peka dengan keadaan apalagi tentang perasaan suaminya. mungkin, Zahara sendiri juga menyadari itu. hanya saja ia bisa memaklumi, ia sadar semua butuh proses dan waktu. Atau, ia memang tidak membiarkan sedikit pun prasangka buruk menghinggapi hatinya saja. Wallahu alam.


__ADS_2