
Helena nampak mondar mandir sibuk dengan pikirannya nya sendiri. "Uuuh, kemana sih si brengs** itu pergi?" gerutunya seorang diri.
Dia beusaha tenang duduk di kursi yang disediakan untuk keluarga pasien untuk menunggu sambil menggigit ujung jarinya sendiri.
Selang beberapa saat seorang pria dengan jas putih khas seorang dokter datang menghampirinya. Wanita itu pun segera bangkit dan memukuli Aditya.
"Dit, kau ini sudah gila, apa? Kalau sampai terjadi apa-apa sama Alex gimana coba? Kau bisa mempertanggung jawabkan perbuatanmu?" Wanita itu terisak sambil terus memukuli dada bidang Adit.
"Stop Helen, kendalikan dirimu. Ini tempat umum. Banyak orang di sini. Lagian, kenapa kau bawa dia kemari? Queen menjadi koas di sini. Dan dia bisa dengan mudah meminta pada pemilik rumah sakit untuk merawat Alex secara kusus," ucap Aditya dengan lirih sambil memegangi kedua pergelangan Helena.
Helena nampak terkejut dengan apa yang baru saja Aditya katakan.
"Apa, Dit? Seorang koas bisa dengan mudah meminta menangani pasien kecelakaan pada pemilik rumah sakit? Siapa dia sebenarnya?"
"Ck... Kau tau dia Quen, bukan? Dr.Lusi dia adalah putri tunggal pemilik rumah sakit ini. Dan sekarang semua ada dalam kendali dia dan hubungan antara dr.Lusi dengan keluarga Quen sepertinya juga masih kerabat. Bahkan aku dengar, sebentar lagi Quen akan dilantik sebagai dokter karena memang anaknya cerdas dan mudah memahami apapun yg dia pelajari. Jadi, jaga sikapmu agar aku tidak kena masalah."
Helena terbengong. Dia merasa tidak akan sanggup melawan Queen jika rencana ini gagal. Banyak orang kuat di sekelilingnya. Meski papa mamanya tidak dapat berperan sebagai apapun karena masih koma, tapi dia masih punya seorang kakak, yaitu Al.
"Aku tidak peduli Dit, siapa dia. Aku cuma mau Alex. Aku tidak benci ataupun dendam pada Queen. Aku juga tidak bermaksud merampas suaminya. Tapi, masalahnya yg menikahinya adalah Alex. Jika memang Queen tidak mau bercerai, aku gakpapa jadi simpanan atau istri keduanya. Karna aku benar-benar cinta sama Alex, Dit."
Aditya mendesah kesal. Mau mengatai Helen terbudak oleh cinta urung. Sebab antara dia dan Helena tidak ada bedanya. Hehehe.
"Ok, aku peringatkan kamu, pergilah dari sini sekarang. Sebab, sebentar lagi istriku dan Quen akan datang kemari. Segera pergi atau kau akan dicurigai dan rencana kita gagal."
Dengan kesal Helena pergi meninggalkan tempat itu.
Dan benar saja tidak la kemudian Novi dan kedua mertuanya yang belum kembali ke New York datang dengan wajah panik dan sedih.
"Dit, bagaimana kondisi adikku? Kau tahu kronologinya bagaimana?" tanya Novita dengan beruraian air mata.
Aditya berusaha menenangkan istrinya dengan memberinya sebuah pelukan. "Tenang, ya? Tidak apa-apa. Kata dokter yang menanganinya tadi, dia cuma mengalami sedikit benturan di kepala dan tidak sampai gegar otak."
Sementara mama Rita menangis sambil bergumam. "It's a pity Quen. It was just a disaster that befell both her parents and grandmother's grandmother. Now instead her husband. S hope he is strong." (Kasian sekali Queen, baru saja musibah menimpa kedua orang tua dan kakek neneknya, kini malah suaminya. Semoga saja dia kuat."
Sementara papa Nicolas mengelus mama Rita dan berkata, _You believe that our daughter-in-law Quen is a strong girl? He can definitely go through all this." (Kau percaya kan kalau Queen menantu kita itu gadis yang kuat? Dia pasti bisa melalui semua ini."
"Yes, iam now, but....(ya, aku tahu, tapi.... " Kata-kata mama Rita dipotong suamunya.
"Don't hesitate. She needs our support." (Jangan ragu, dia butuh dukungan dari kita.")
Tak berselang lama, suara panggilan berdering dari ponsel Novita. Ternyata Queen yang menelfonnya.
"Halo, Quen. Kau di mana?" jawab Novita.
"Kak, bagaimana kondisi Adit? Aku dari perjalanan, tadi aku ada di Garut survey proyek sama kakak"
"Tidak apa-apa, Queen. Pasti sebentar lagi dia juga akan siluman," hibur Novita. Padahal seperti apa sebentar kondisi Alex dia pun juga tidak tahu.
Wanita itu kembali menangis begitu sambungan dari adik iparnya sudah terputus.
***
Begitu mobil yang dikemudikan kakaknya masuk ke halaman area parkir. Quen langsung melepaskan ikatan sabuk pengaman. Ia membuka pintu mobil yang kebetulan tidak Al kunci dan langsung keluar dan berlari begitu saja ketika Al masih mengurus karcis parkir.
Al sempat bengong melihat Queen yang saking paniknya langsung berlari seperti itu. Bahkan mobil di belakangnya sampai mengclaksonnya baru ia tersadar dan melajukan kendaraannya.
"Mama, Papa. Kak Novi, bagaimana kondisi Alex?" tanya Quen begitu melihat mereka.
"Queen, kau sudah sampai?" tanya Novita agak bengong. Sebab, dia bilang tadi kira-kira setengah jam lagi tapi, cuma sepuluh menit tiba.
Tak lama kemudian muncul Al yang nampak sedikit berlari memegangi pundak Queen dan berusaha menangkan adiknya. Barulah Novita sadar. Kalau Al yang mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Di UGD dari tadi ngapain saja? Kenapa satupun dari kita tidak ada yang boleh masuk?" ucap Queen dengan geram.
"Queen, sabar Quen. Kau sendiri calon dokter pasti tahukah kira-kira apa yang mereka lakukan? Mereka jelas berusaha menyelamatkan Alex," bisik Al.
"Iya, kak. Tapi ini sudah lama banget!"
Seorang dokter dan dua perawat keluar dari ruang UGD mengabarkan kalau Alex masih pingsan.
"Keluarga pasien Alex? Pasien masih mengalami benturan di kepala. Walau tidak parah, membuat hal itu pingsan dalam waktu lumayan lama. Perkiraan tidak sampai 24jam pasien sudah akan siuman," tukas dokter itu.
Aditya diam-diam tersenyum jahat penuh kemenangan atas rencananya. Ia menyeringai ketika melihat Quen. Seolah menertawakan akan kejutan yang akan di dapatnya.
Tanpa menunggu lama, Queen langsung begitu saja masuk ke dalam UGD. Dia menyibaki selambu putih sebagai pembatas antara pasien satu dan yang lainnya. Ia roboh saat mendapati Alex yang tidak sadar dengan kepala yang diperbaban. Bahkan, warna perban itu sebagian berwarna merah karena darah yang mungkin masih merembes.
"Kenapa sampai begini, Lex?" Keluh Queen seorang diri. Kakinya terasa lemas seolah ia tak mampu untuk bangkit menggapai suaminya yang telah diinfus dan melakikan transfusi darah.
Merasa khawatir dengan kondisi Quen yang juga tengah kelelahan, Al meminta izin pada kedua mertua Queen agar melihatnya ke dalam.
Di ruang UGD yang kebetulan hanya ada tiga pasien saja, Al melihat Queen duduk bersimpuh sambil menunduk menyembunyikan air matanya. Tanpa banyak bicara, Al menarik kepala Queen ke sampingnya mendekapnya dalam pelukannya.
Al membantu Quen berdiri dan mengajaknya keluar saat dua orang suster datang hendak memindahkan Alex ke ruang rawat.
Quen merasa kepalanya sangat berat bahkan pandangannya kian buram sehingga ia berjalan sambil menyandarkan.
Al tidak menyadari hal itu, tau-tau Quen langsung terjatuh dan tak sadarkan diri. Semuanya terkejut bahkan mama Rita sempat berteriak histeris.
🍁 🍁 🍁 🍁
Setelah menunggu sampai tiga jam, Helena pun ke rumah sakit di mana tempat Alex di rawat. Gadis itu tidak perlu berekting cemas, karena dia memang sudah cemas sejak awal dan tak sabar menunggu kode dari Aditya. Sebab, dia tidak boleh asal datang agar tak menimbulkan curiga pada yang lain terutama Al yang selalu menemani sang adik.
Helena berlari menyapa Novita dan langsung saja menayakan kabar Alex.
"Kak, Nov. Aku baru saja tahu dari postingan ig dokter Aditya. Bagaimana kondisi Alex sekarang?"
Hmmmm suami Quen, ya? Sebentar lagi dia suami kita berdua, Quen. Gumam wanita itu dalam hati.
"Kasian Quen, Kak. Mungkin dia sangat terpukul. Belum ada sebulan keluarganya, dan sekarang suaminya," ucap Helena berwajah melas.
"Ehem... " Aditya berdehem sambil melirik tajam kepada Helena seolah dia mengatakan. Tidak perlu over akting. Kau yang menginginkan ini. Aku menunggu unguk beberapa bulan tapi kau mempercepat hanya beberapa jam.
Merasakan tatapan yang tidak enak dari Aditya, Helena bertanya pada Novita di mana keberadaan Queen saat ini.
"kak, Quen ada di mana Sekarang? Biar aku menjenguknya.
"Ayo, aku antarkan dia di ruangannya!" ajak Novita.
Mereka berdua berjalan melewati lorong yang agak jauh dari tempat Alex di rawat. Helen juga sempat heran di mana sebenarnya Quen berada. Masa iya masuk UGD?
"Quen masuk di ruangan Kusus para dokter. Dia koas di rumah sakit ini. Dan kata dokter pembimbingnya enam bulan lagi dia sudah akan jadi dokter dan melakukan pelantikan.
"Wow, keren dia ya? Pasti karna nilai akademiknya sangat bagus." Puji Helena.
"Ya, suamiku juga bilang begitu. Duku, dia adalah dosen Quen di fakultas."
Tiba di sebuah ruangan. Novita mengetuk pintu ruangan itu dan tak lama kemudian seorang pria berbadan tegap dan tinggi berwajah asli Indonesia membuka pintu dan mempersilahkan dua wanita itu masuk, sebab dia tahu kalau Novita adalah kerabat Queen.
Helena melihat Quen yang sudah sadar namun masih berbaring. Di sebelahnya berdiri seorang wanita yang tidak dia kenal dan juga Al
Helen menghampiri Quen dan memeluk teman SMA nya itu.
"Kamu yang sabar ya Queen?"
__ADS_1
" Iya, Helena. Makasih kau sudah mau datang kemari, kau tahu dari siapa kalau Alex kecelakaan?" Tanya Quen.
"Aku tahu dari postingan dr Aditya dan istriny di IG," jawab Helena berlagak polos.
'Quen maafkan aku harus melakukan ini. Aku terpaksa, Queen. Aku tidak bisa melupakan Alex. Aku tidak memintamu untuk meninggalkan dia. Tapi, hanya sedikit berbagi saja. Tapi, karna aku tahu itu akan gagal dan tak akan membuahkan hasil selain perselisihan antara kita.
Aku tidak mau seperti itu Quen. Kau ini orang baik. Aku tidak mau menyakitimu. Semoga kau rela ya mengizinkan aku menikah dengan Alex,' ucap Helena dalam hati.
"Kak, tidak kau ingin kembali ke kantor? Aku tidak apa-apa di sini. Kan ada Helena dan Diaz juga." Queen memandang ke arah Al memberi isyarat kalau dirinya tidak apa-apa.
"Benar kau tidak apa-apa?" tanya Al sedikit khawatir.
"Iya." Queen tersenyum lembut sambil mengangguk.
Ia pun meminta bangun dan di antar ke ruang rawat suaminya begiu Al sudah pergi sekitar lima menit lalu.
"Diaz. Kau tahu dari siapa kalau Alex mengalami kecelakaan dan tahu-tahu kau ada di sini saja," tanya Quen penasaran.
"Tadi aku tengah bersama kakek. Awalnya mau menemaninya ke kolam pemancingan. Tapi, beliau mendapat pesan dari kak Al dan memintaku kemari melihat kondisi Alex seperti apa."
Quen pun paham ia hanya tersenyum kepada pria itu. Ya sekedar senyumam basa basi. Sementara hatinya jelas saja hancur.
Sekitar satu jam lebih Quen duduk di sebelah Alex tanpa melepaskan genggaman tangannya tapi Alex masih saja tak kunjung sadar.
Sementara Helena dan Diaz duduk di sofa dekat jendela kamar inap itu tanpa mengobrol. Keduanya sibuk dengan gadgetnya sendiri-sendiri.
Tiba-tiba saja Quen merasa ada panggilan alam mau tak mau ia pun melepaskan genggaman tangannya dan pergi ke toilet yang ada di pojok kamar itu.
Setelah keluar dari toilet Queen mendapatkan kejutan yang membuatnya bahagia, sebab, ia tengah melihat Alex sadar dan mulai berbicara dengan Helena.
"Alex!" Seru Quen berhambur dan meluk Alex.
Tak ada respon apapun dari Alex. Bahkan sudah cukup lama ia memeluknya tapi masih saja dia tidak membalas pelukannya. Atau, minimal dia mencium ujung kepalanya seperti biasanya.
"Bu dokter. Apakah kau selebai itu dalam menangani pasien mu? Jika ada pasien siuman kau memeluknya begitu?" ucap Alex dengan nada seolah Quen bukan apa-apa dia.
Quen melepaskan pelukannya dan masih tersenyum menganggap apanyang suaminya katakan adalah gurauan.
"Lex, maksutmu apa, sayang?" tanya Quen heran.
Bahkan Diaz yang semula biasa saja juga ikut terbelalak mendengar perkataan Alex kepada Quen. Seolah Quen adalah orang lain.
"Lex, ayolah yang serius. Kau jangan bercanda atau berusaha ngeprank aku. Ini bukan bulan April, Lex. Jadi ga ada April mob."
Alex berdecak kesal, raut mukanya menunjukkan kalau dia jengah dengan Quen.
"Helen. Katakan pada dokter Quen. Kalau aku mau istirahat. Kepalaku masih sakit," ucap Alex, dengan nada lembut.
"Tapi, Lex..."
"Sayang, katakan saja. Apa susahnya. Kau ini pacarku. Kenapa masih lebih mementingkan teman yang dulu satu sekolahan sama kita, Helen?" Bentak Alex sambil memegangi kepalanya.
Queen terngaga seolah tidak percaya ya. Hanya dengan Alex siuman tidak mengejutkan. Tapi, inilah kejutan yang sesungguhnya.
"Alex... " Dengan perlahan Queenmelangkah mundur sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini tidak mungkin." Gadis itu pun berlari keluar sementara Diaz segera mengejar Queen.
Dengan cepat Quen berlari mencari tempat yang sepi. di sebuah taman ia berjongkok dan memeluk lututnya menangis sepuasnya dan meratapi apa yang terjadi oadanya.
"Aaaaaaaaaaaa..... Tuhan, kenapa semua ini terjadi padaku? kau mengambil kakek nenekku bersamaan dengan cara yang tak pernah kami duga. bersamaan itu kedua orangtuaku Bahakan kini masih belum sadar dinantara hidup dan mati, dan sekarang? kau mengambil ingatan suamiku?" teriak Quen sambil menangis sejadi-jadinya karena sudah tak mampu lagi menanggung beban yang ada di dalam hatinya.
mendengar suarateriakan itu, Diaz bisa mengetahui di mana keberadaan sahabatnya. ia segera bergegas menemui Quen dan akhirnya ketemu. gadis itu meringkuh dan terisak.
__ADS_1
"Queen. kau di sini?" ucap Diaz dengan raut wajah yang juga nampak bersedih atas apa yang menimpa sahabatnya itu.