
Al pun menghela napas panjang sebelum mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, "Baik, aku bisa membantumu. Tapi, dengan satu syarat. jika kau setuju, kita deal. kapan kau butuh pesawat itu, katakan saja, aku akan hubungi anak buahku, dan membuat informasi kalaunyang dindalam sana adalah orang lain, bukan kakak dan keponakanmu tapi, jika kau tidak bersedia.... kurasa kau tahu jawabanku."
"Apapun itu, aku akan lakukan, katakan saja, Kak," jawab Alex dengan penuh keyakinan.
"Kau tahu, Quen sekarang sudah akan menjalani kehidupan barunya, dan kau juga tahu, dengan siapa dia akan menentukan hidupnya. Aku mau kau harus jauhi dia, jangan usik hubungannya dengan Diaz," ucap Al sambil menatap tajam ke arah Alex.
Alex tertawa kecil, memalingkan sedikit pandangannya ke samping, menunduk, kemudian menatap Al.
"Itu saratnya, Kak? tanya Alex, meyakinkan lagi.
"Ya, apakah kau tidak bersedia?"
"Jujur, Kak. Aku kecewa dengan syarat yang kau minta. Awalnya aku optimis, mengira kau akan memintaku untuk kembali dengan adikmu itu. Ah, ternyata aku salah." Alex tertawa, menertawai dirinya sendiri.
"Apakah kau tidak melihat kalau Diaz sangat mencintainya?" jawab Al, Singkat.
"Ya, aku tahu itu, tidak hanya aku dan diaz, dokter psikopat itu bahkan juga mencintainya. Kau sangat menyukai Diaz, ya kak?" tanya Alex, penasaran.
"Adikku sudah menentukan pilihannya, aku sebagai kakak akan selalu mendukung pilihannya, selama itu baik."
"Ok, kurasa kau pun tahu jika Quen sudah menolakku berkali-kali. Tapi, dasarnya aku aja yang tidak tahu malu, dan rela melakukan apapun demi bisa kembali bersamanya."
"Kapan kau perlu pesawatnya?" tanya Al kembali ke topik awal.
"besok lusa, apakah ini terlalu mendadak?" tanya Alex, meyakinkan.
"Tidak juga. Memang kenapa harus membawa kakakmu pergi ke Australia? bukankah, negara asal papa kalian New y?" Al masih belum mengerti tentang rencana Alex. jadi ia pun bertanya.
"Beberapa pekan lalu cz aku sempat konsultasi sama ahli psikologi. Aku menceritakan tentang bagaimana Aditya termasuk ambisi dia untuk mendapatkan Quen. Dan menurut psekeater itu dia memiliki potensi jiwa psikopat. Ya jadi aku khawatir itu akan membahayakan Kakak dan juga keponakanku, makanya aku merencanakan sesuatu agar dia tidak curiga biarlah seolah-olah mereka tidak jadi bercerai dan hidup bersama bukankah tempat yang paling aman adalah tempat yang berbahaya itu sendiri untuk bersembunyi?" ucap Alex.
Al diam sesaat mencerna kata-kata Alex yang persis seperti mendiang kakek Andreas katakan dulu.
Oa pun mengangguk perlahan dan berkata, "Ya benar, lalu ke Australia agar keberadaan nya tidak terpikirkan olehnya?"
"Tepat sekali, akhir-akhir ini Aku mengawasi Aditya, aku khawatir dia melakukan hal buruk terhadap Queen." Suasana mendadak menjadi hening. "maaf mungkin aku tidak pantas berkata seperti ini. Sesayang-sayangnya aku sama dia, itu tak akan melebihi rasa sayangmu terhadapnya, bagaimana pun kau adalah kakakanya, sama halnya aku menyayangi kak Novi dan Axel. karena darah tetap lebih kental dari air," imbuh Alex.
Al memalingkan wajahnya, dan menyeringai. ia berfikir Alex lebih pengertian terhadapnya dari pada sahabatnya yang brengsek itu, termasuk juga Juna, selalu mengatai kalau dia mencintai Quen.
"Ya, seperti itulah, kau juga memiliki saudara perempuan jadi kau mengerti, sekalipun dia lebih tua darimu, tetap saja, wanita perlu dilindungi oleh laki-laki, kan?"
Al menepuk pundak Alex beberapa kali, lalu Alex pun bangkit dari kursinya dan memeluk erat Al. Ia sangat berterima kasih pada pria di depannya seklaipun pernah menyakiti adiknya, dia masih bisa berlaku adil. dia bisa mengerti hal itu bukanlah kemauannya, bahkan dengan mudahnya, memberikan bantuan terhadap dirinya.
"Aku pergi dulu, Ya kak. Terimakasih atas semuanya."
"Ya, kau hati-hati. ini kau hubungi saja nomor ini setelah semua siap, biar kakakmu dia yang menjemput, sementara kau, buatlah pengalihan terus menguntit Aditya,kurasa dia juga tahu kalau di awasi. jadi, bikin seolah-olah kau tak tahu apa-apa mengenai kakakmu," ucap Al.
"Iya, Kak, terimakasih."
Alex, pun pergi meninggalkan kantor. Karena sudah berjanji untuk tidak mengusik kehidupan Quen ia berniat ke Bandung menemui Diaz, meminta agar pria itu bisa menjaga Quen dengan baik.
tiba di mobil, ia menelfon orang suruhannya, dan mengatakan agar terus menguntit Adit.
"Halo, bagiamana kondisi di sana? Apakah dr.Aditya sudah keluar rumah sakit?" tanya Alex sambil mengemudikan mobil.
__ADS_1
" belum sepertinya dia masih ada di dalam apakah aku akan terus mengawasi? tanya orang suruhan Alex.
"Ya, terus awasi dia, aku akan pergi ke Bandung dulu. Awasi doa secara diam-diam dan berhati-hati. Tapi, buat dia mengerti kalau kau sedang mengawasi nya. Jangan lupa gunakan masker dan topi agar kau dikira aku. oke?" ucap Alex, kembali mengingatkan.
"Ya, siap aku mengerti," jawab pria itu lalu mematikan panggilan dari Alex.
Alex pun mematikan ponselnya, agar tetap fokus dengan jalanan. sebab, ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di Bandung. dengan bantuan GPS, ia dapat dengan mudah melacak keberadaan Diaz. kebetulan pria itu hari ini libur dan tidak pergi ke Jakarta karena Queen juga sibuk, dan kemarin pun mereka juga sudah bertemu.
Alex memarkirkan mobilnya di sebuah halaman yang luas, di mana di sebelah kanan rumah itu terdapat gazebo seperti pondok, di dalamnya banyak anak gadis belia di sana, tengah belajar.
Alex tidak langsung turun. dia sempat tercengang melihat pemandangan serta suasana rumah Diaz. meski ini pertama kali bagi Alex, dia sudah merasa nyaman di tempat ini, entah apa dia juga tidak tahu.
sementara dari dalam pondok, santriwati uminya Diaz pada heboh dan mengintip dari balik gazebo yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu.
"Siapa dia?"
"Tidak tahu," sahut santri yang lainnya.
"Apa jangan-jangan calon istrinya kak Diaz, ya?"
"Mobil kak Quen bukan seperti itu," sahut Fatimah, adiknya Diaz.
sementara Umi juga nampak mengamati mobil itu dari tempatnya.
Tak lama kemudian Alex pun keluar, ia bingung, harus masuk ke dalam rumah, atau menuju gazebo yang jelas ada banyak orang di sana.
bersamaan dengan Alex turun dari mobilnya, bersamaan dengan itu pula, para santri heboh.
"Waaah, gantengnya."
"Apakah dia juga seorang dokter? ganteng banget, kaya artis."
"Sudah anak-anak, tenang. jangan berisik. ingat kalian ini perempuan, tidak baik heboh seperti itu jika ada laki-laki!" seru Umi, dengan tegas namun lemah lembut.
"Baik, Umi. maafkan kami." Anak-anak pun semuanya kembali tenang di bangku masing-masing dan menunduk. tapi, tidak sedikit pula, yang diam-diam masih mengintip dan menoleh ke arah Alex.
Umi pun keluar dari gazebo dan menghampiri Alex. Menyadari kedatangan ibunya Diaz Alex pun menunduk dan langsung menyalaminya, mencium punggung tangan wanita paruh baya.
"Mencari sapa, kau Nak?"
"Saya temannya Diaz, Umi. apakah dia ada di rumah?" tanya Alex, santun.
"Ada, dia di dalam, ayo, Nak masuk!" Ajak wanita itu lagi.
Bersamaan dengan itu, Diaz pun keluar dengan mengenakan sarung dan baju Koko bereatnra merah maroon.
"Alex, kenapa kau kemari," tanya Diaz, heran sambil mengerutkan keningnya.
"Itu Diaz, Nak. kalian ngobrollah, biar Umi buatkan minum dulu." Ibunya Diaz pun masuk ke dalam rumah.
"Sudah, Umi. jangan repot-repot. saya cuma sebentar saja," ucap Alex.
"Kau pasti dari ajakarta, kan? duduklah dulu. jangan buru-buru," jawab uminya Diaz.
__ADS_1
"Ada apa, Lex?" tanya Diaz dengan dingin begitu uminya sudah tidak bersama mereka lagi.
"Tentu saja ada yang ingin disampaikan, aku akan beritahu ke kamu, kalau aku akan mundur, tapi, ingat. kau harus jaga Quen dengan baik. jangan sampai hal buruk terjadi padanya, jika tidak maka kau akan berurusan dengan ku. berjanjilah, Diaz."
"Tanpa kau minta aku juga akan melakukan hal itu, apakah kau kesini hanya untuk mengatakan ini saja?"
"Awalnya begitu, tapi, umi mu memintaku untuk duduk dan minum kopi dulu. kenapa kau tidak mempersilahkan aku untuk masuk saja dulu?" ucap Alex, sambil tersenyum dan memasang muka tak tahu malu.
"Ok, masuklah ke dalam!" seru Diaz dengan amarah tertahan.
Sejak pertemuannya saat itu di salah satu cafe yang ada di Bandung, Diaz merasa jengah dan enggan berurusan dengan Alex. tapi, bagus juga jika dia datang dan mengatakan dengan sangat berterus terang kalau akan mundur dan tak lagi memaksa Queen rujuk lagi. artinya dia hanya akan menghadapi Al saja.
"Diaz, ubah ekspresi wajahmu itu. Sekarang kita ini kawan bukan lawan. kenapa kau masih seolah membenciku?" tanya Alex sambil duduk di kursi teras depan rumah Diaz.
"Aku merasa heran dan aneh saja, apa yang membuatmu tiba-tiba berhenti dari mengejar Quen?"
"Kak Al yang memintaku, Karen Queen sudah memutuskan untuk memilih diriku sebagi pendamping hidupnya."
Diaz terkejut mendengar jawaban dari Alex. ia mengamati ekspresi pria di depannyaya juga Sepertinya serius. tak ada sedikitpun kebohongan yang tersimpan di wajahnya. lalu, kenapa kemarin seolah-olah Al tidak menyukainya? apa benar karena ada masalah? bagaimanapun Quen adalah adiknya, dia yang pasti akan sangat tahu dan mengerti bagaimana sifat kalanya.
"Kenapa diam? Tidak percaya sama aku?" tanya Alex saat mendapati wajah Diaz yang nampak di dan bengong.
"Ya, aku merasa aneh saja," jawab Diaz seadanya.
"Jangan heran, Al itu sangat sayang sama adiknya, smenjak mama dan papa mertuaku... hehe. maaf dalam hidup ini hanya ada mantan suami dan mantan istri tidak ada istilah mantan ayah ibu sekalipun itu mertua, kelak juga akan jadi mertuamu," ucap Al sambil terkekeh.
Jelas, hal itu membuat Diaz merasa tidak enak, walaupun begitu kenyataannya.
"Kamu mau bicara apa tadi? teruskan!"
"Semenjak papa Vano dan mama Clara terbaring di rumah sakit, kak Al jadi over terhadap Quen. karena dia sudah berjanji akan selalu menjaga adiknya dan membuat adiknya terus bahagia. jadi, kau mengertilah. kau juga punya adik perempuan. begitupun aku, aku memiliki kakak perempuan juga," ucap Alex sambil tertunduk.
Tak lama kemudian, Umi keluar dengan nampan berisi dua cangkir kopi dan satu piring makanan ringan utnuk Alex dan juga Diaz. setelah memberikan itu, umi pun kembali ke depan meneruskan mengajar para santrinya.
Cukup lama keduanya terdiam, suasana Bandung yang dingin membuat kopi yang baru beberapa menit di sajikan tidak terasa begti panas saat Alex mencicipinya.
jadi, ia pun memutuskan untuk menghabiskan saja dan berpamitan pulang pada Diaz dan uminya.
Diaz diam melihat mobil itu sampai lenyap dari pandangannya. dan masih bergeming di tempat dia berdiri.
"Siapa dia, Nak? Apakah dia juga seorang dokter?" tanya Uminya Diaz.
"Bukan, Mi. Dia adalah Alex, mantan suami Quen. kemari mengatakan kalau ia tak akan lagi memaksa dan meminta Quen rujuk dengannya. dan berpesan padaku agar aku bisa menjaganya dengan baik."
"Bagus, dong Diaz. rupanya dia memang masih belum rela berpisah dengan Quen. memang dia gadis baik, wajar saja banyak yang suka," ucap Umi.
Diaz pun hanya tersenyum menanggapi perkataan Uminya. tapi, di dalam hatinya, bergemuruh banyak pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.
*Author kasih lagi, ya foto dokter Diaz.
dan di bawah ini adalah cast dokter Aditya.
__ADS_1
**