
“Sherly, pasti belum makan siang, kan? Kita makan bareng, yuk!” ajak Queen pada tamunya.
“Tidak usah repot-repot, Tante. Saya…. “ Bersamaan dengan kalimatnya yang terputus, senyuman gadis itu pun mengambang.
“Dia Cuma ingin tahu, tinggal di mana Adriel, Te. Setelah
itu juga langsung balik ke Jogja, kan Sher? Ya sudah, kamu hati-hati, ya?”
ucap Axel, memutus percakapan.
Sherly bengong. Tapi, tetap berusaha tertawa dan menunjukkan
sikap kalau dia baik-baik saja. Ia tidak mau lah terlihat **** di depan
tantenya Axel. Walau sebenarnya, ia pun tidak menyangka kalau Axel akan
melakukan itu padanya.
“Axel, kau lupa, ya?” tanya Sherly sambil tertawa, memandang
Axel, dan sekilas melihat ke arah Queen yang nampak bingung dengan tingakh dua anak muda di depannya.
“Iya, aku belum mandi. Kau segeralah pulang. Mamamu pasti
akan menunggumu.” Tanpa mau banyak bicara lagi, Axel langsung naik ke atas. Selama menginap di sini, ia tidur di lantai atas menempati kamar yang awalnya
adalah kamar papa Vano dulu, yang akhirnya di tempati Al ketika remaja, sampai menikah dengan Nayla, dan kini kosong. Dipersiapkan untuk tamu muda yang kuan naik turun tangga. Lagi pula dua kamar
itu juga memiliki toilet di dalamnya. Tapi, kamar Clara dan Queen tetap kosong. Karena, jika Bilqis menginap, ia memilih untuk tidur bersama Berlyn, membacakan beberapa cerita dulu pada gadis yang ia anggap adik kandungnya.
“Kamu tiba di Jakarta sejak kapan, Sher?” tanya Queen. Mencoba mencairkan suasana yang membeku.
“Baru saja, sih Tante. Tapi, Axel sudah meminta saya agar segera kembali. Padahal, saya dan dia belum menyelesaikan masakah kami. Hanya saja, entah. Mungkin saya menyerah saja,” jawab Sherly dengan muka melas.
“Kalian ada masalah?” tanya Queen penasaran.
“Iya, Tante. Kami memang sedang ada masalah besar. Tapi, sepertinya Axel enggan membicarakan ini. Tolong Tante, tolong bantu saya,” ucap Sherly penuh permohonan.
“Kamu tunggu saja dia sampai selsai mandi, tante akan
siapkan makan siang dan nanti kita makan siang bersama, oke? Sambil makan, mungkin bisa lah nanti berdiskusi bersama, ” ucap Queen. ia ke dapur meminta bo Yul untuk menata hidangan ke meja makan. Sementara dia menyusul Axel di kamarnya. Barang kali dia sudah selesai mandi dan tak mau
keluar kamar karena tahu kalau Sherly masih belum pergi. Sebab, sudah lima
belas menit lewat dia tak juga kunjung turun.
“Tok… tok… tok!” Queen mengetuk pintu kamar Axel yang
tertutup rapat sebanyak tiga kali.
“Siapa?” sahut suara remaja pria dari dalam.
“Ini tante, Xel apakah kau sudah selesai mandi?” jawab Queen
dari balik pintu luar kamar.
“Sudah Tante.”
“Sedang apa kau?”
“Sisiran.”
“Boleh tente masuk, Xel” tanya Queen. ia tidak mau asal buka
pintu dan masuk. Karena, bagai mana pun, Axel adalah pria dewsa. Ia harus bisa menjaga diri, dan tidak boleh ceroboh. Dia sudah dipanggil mama dan telah memiliki dua putri kembar sendiri dari pernikahannya. Intinya dia sudah bukan
anak muda lagi yang bisa pecicilan dan bertingkah sembarangan.
“Masuk saja, Tante,” sahut Axel dari dalam.
Perlahan-lahan Queen membuka pintu kamar keponakannya.
Setelah melihat keadaan di dalam benar-benar aman. Artinya Axel sudah berpakaian bagaimana semestinya. Ia melihat remaja itu mengenakan kaus oblong warna putih pres bodi dan celana pendek berwarna biru muda. tanpa ragu-ragu wanita itu
masuk ke dalam dan membuka pintu kamar itu setengah.
“Ada apa, Tante? Apakah ada masalah?” tanya Axel sedikit
merasa aneh dengan kedatangan Queen ke kamarnya secara pribadi. Kalau boleh menebak, ini pasti ada kaitannya dengan wanita rubah betina Sherly itu. siapa lagi?
Bukankah biasanya jika ada yang perlu dibicarakan selalu di meja makan? Atau jika tidak saat keduanya sedang berada di teras atau halaman sambil mengawasi Adriel dan Berlyn bermain.
“Tidak ada. Maaf kalau tante lancang dan terkesan ikut
campur dengan masalah pribadimu. Kamu kan di sini sudah tante anggap anak tante sendiri, sama halnya dengan Adriel dan juga Bilqis. Kalian kami samakan.
Tidak pernah kami bedakan antara kalian bertiga dan juga Berlyn, bukan?”
“Iya, Tante. Axel tahu itu,” jawab pria itu sambil sedikit tertunduk.
“Kamu ada masalah apa sama Sherly? Katanya masih belum
selesai, dan katanya, kamu tidak mau bahas? Kenapa?”
Axel diam. Ia sebenarnya terlalu malu untuk mengakui masalah
ini pada Queen. tapi, ia juga serba repot. Ia takut kalau Sherly mengatakan dirinya hamil bersamanya seperti yang dilakukannnya di depan café anak Sultan tadi.
__ADS_1
“Kamu cerita sama tante, Xel. Agar tante juga bisa bantu
kamu temukan jalan keluarnya,” ucap Queen lagi. Meyakinkan.
Axel masih diam. Ia melihat ke arah Queen sebentar yang
berada di dekat pintu kamar, kemudian ia mengalihkan padangannya ke arah
jendela kamar.
Merasa kalau Axel masih berat untuk bicara, Queen sedikit
melebarkan pintunya dan mendekati remaja tersebut. Tepat di belakangnya, ia memegang bahunya dan menepuk-nepuk dengan lembut.
“Kau anggap apa aku, ha? Jika kau anggap tante, silahkan.
Tapi, tante anggap kamu itu adalah putra tante. Jangan sungkan. Sherly masih bersikeras menunggumu mengatakan ingin selesaikan masalah. jika kau diam tidak
mau bercerita sama mama, bagaimana mama bisa bantu, Xel?” ucap Queen membahasakan dirinya sebagai mama. Tidak lagi tante.
Seketika Axel memandang trenyuh ke arah wanita di depannya.
Wajahnya tetap datar. Tapi, tidak dengan matanya. Banyak hal yang terucap oleh
dua pasang mata dengan manik biru keabu-abuan itu. tapi, bibirnya hanya
bungkam. Hanya orang yang memiliki jiwa suci dan tulus dan kepekaan saja yang bisa amengartikan semua itu.
“Jika kau tidak percaya pada tantemu, kau pasti percaya pada
mama mu, kan?” ucap Queen lagi sambil tersenyum.
“Terimakasih,” ucap Axel masih dengan nada dingin dan muka
datar. Terlihat sekali, hatinya sudah mulai luluh dan hendak bercerita. Tapi,
sepertinya ia bingung harus memulainya dari mana. Sangat ketara sekali kalau ia tengah bingung.
Kembali Queen tersenyum dan menunggu Axel mau berbicara.
“Tadi pagi dia maksa Axel agar ke Jogja menempati posisi
meneger di perusahaan keluarga mendiang papa Chandra. Aku menolak karena merasa tidak
layak. Sebab, aku bukan siapa-siapa bagi mereka. Jika pun pantas, Sherlylah yang tepat. Ternyata, di balik semua itu Sherly berniat manfaatin aku,” ucapnya. Sanggat nanggung karena tidak jelas. Dan mungkin butuh beberapa kata
lagi bisa jelas, apa maksut dari meanfaatkannya itu.
Queen masih tetap memperhatikan dan nampak serius menyimak
“Tiba-tiba saja tadi dia menelfon dan sudah berada di
Jakarta. Kita ketemu di café. Dia bilang, kalau mamanya akan menjodohkan dia
dengan pria. Dia menolak tapi, mamanya tidak menerima penolakan. Sebab, di usianya yang keduapuluh enam dia masih saja melajang tak memiliki pasangan. Jadi,
dia minta aku ikut ke Jogja untuk mengaku kalau selama ini kita pacarana, Axel tidak mau.”
Queen tersenyum sebentar. Lalu, ia berkata, “Jadi, dia maksa
kamu agar mau jadi direktur di sana itu agar saat menunjuk kamu jadi pacar, ia tidak malu. Karena pacar brondongnya adalah seorang direktur di perusahaan
makanan beku terbesar di pulau jawa?”
“Kurasa juga gitu,” ucap Axel. Sebenarnya ingin sekali ia
memanggil Queen mama. Tapi, ia sudah terlanjur malu dan kaku. Jika mau panggil tante seperti biasanya, ia takut menyinggung perasaannya. Sebab, ia tadi sudah berkata demikian untuk meyakinkan. Dan ia sendiri sudah mau bercerita panjang
lebar. Lagi pula ini kali pertama Axel mau curhat dan minta solusi akan
masalahnya pada orang lain. Sebelumnya tidak pernah dan memilih untuk diam, meskipun pada sesama lelaki.
Dia tidak sadar saja. Dengan tidak menunjukkan panggilan yang tak jelas juga lama-lama membuat hati Queen jadi rada gimana gitu. Pasti ya tidak nyaman.
“Mama rasa, dia memang suka sama Axel,” goda Queen sambil tertawa tertahan.
“Axel sama sekali tidak,” ucapnya dengan cepat.
“Hahaha. Ya sudah. Masalah sudah kelar. Ayo kita turun dan
makan siang, Xel!” ajak Queen.
“Axel males jika ada Sherly.”
“kenapa? Tidak masalah. akan kubantu kau bicara padanya, agar
semua jelas.”
“Dia itu sedikit tidak waras. Tadi di depan café dia
gulung-gulung menangis dan berteriak kalau dia hamil anakku dan minta
pertanggung jawaban. Mana banyak orang lagi.”
Kali ini Queen tidak tahu. Ia mau tertawa atau tidak. Kedengarannya
lucu. Tapi, ini fitnah yang tak bisa dibiarkan. Bisa jadi urusan berat jika
__ADS_1
dilanjut ke jalur hukum.
“Kamu percaya sama mama tidak? Seorang ibu akan selalu
melindungi putranya. Apalagi dia tidak bersalah.”
Tanpa sengaja, kedua mata Axel dan Queen saling bertemu.
Sehingga Axel pun mau diajak turun menemui Sherly. Dalam hati ia bersukur ditakdirkan mengenal wanita di depannya ini. Lebih bersykur lagi, sekalipun ia tak jadi ibu tirinya dan tante sebenarnya. Tuhan masih mempersatukan dia dan
Queen. bahkan Al sendiri juga berlaku layaknhya seorang ayah padanya dan juga pada Adriel adiknya. Benar, jika siapapun yang sudah Tuhan pertemukan itu, pasti akan kita butuhkan. Tapi, kita tak tahu itu kapan.
***
Di dalam taxi online Bilqis menumpahkan kembali air mata
untuk yang kedua kali karena Axel. Ia sebenarnya sudah berusaha keras agar tidak sampai menangis, karena malu sama pak sopir. Tapi, apa daya, air matanya tak bisa diajak kompromi. Malah mengalir deras sehigga membuatnya sesenggukan
sendiri di belakang.
“Mbak, kenapa kok nangis?” tanya sang sopir saat menyadari
kalau penumpangnya benar-benar memang sedang nangis. Walau pun ia sendiri juga sebenarnya sudah curiga dari awal. tapi, ia masih saja diam. Jika kali ini sudah sejelas ini tetap diam, kelewatan Namanya.
“Tidak ada apa-apa, Pak,” jawab Bilqis sambil mengusap air matanya.
“Jangan sedih gitu, Mbak, cantiknya nanti ilang, loh,” hibur
sang supir, sambil melihat wajah Bilqis dari kaca spion tengah.
Bilqis tidak menjawab selain hanya tersenyum getir. Ia hanya
membatin, “Secantik apa sih aku? dasar gombal. Kalau pun benar, percuma saja. Ini tidak bisa membuat kak Axel jatuh hati padaku. Aku masih kalah cantik dengan anak berusia sepuluh tahun yang mempu mejerat hati kak Axel sampai di susianya yang keduapuluh tiga bahkan ia masih betah menjomblo demi menunggu gadis kecil itu dewasa.
“Cerita pada saya tidak apa-apa, Mbak. Tenang rahasia aman.
Katanya, jika ada masalah kalau diceritakan itu bisa mengurangi beban di hati, loh,” ucapnya lagi.
“Terimakasih, Pak. Saya masih belum ingin berbicara dulu
dengan siapa-siapa,” jawab Bilqis smabil berusaha tersenyum tapi, air matanya masih deras meneteskan buliran-buliran bening.
“Tidak masalah. saya ini tidak bermaksut kepo dan ikut
campur. Cuma, melihat neng kok kasian banget. Kali aja saya bisa kasih solusi. Jika tida, ya semoga apapun masalahnya segera terselesaikan, ya Neng,” ucap sopir itu dengan santai dan tersenyum ramah.
Bilqis hanya diam meratapi dirinya sendiri. Betapa kasihannya dia. Dia menangis karena apa? Pria yang tak peduli dengan ya sama sekali sejak lama sekali. Lima tahun dan tetap betrahan dalam satu cinta. ****, gak
sih? Bukannya cinta itu buta? Membuat yang waras jadi edan dan yang cerdas jadi ****?
Sopir itu barusan bilang masalah? Apa masalahku sebenarnya? Aku tidak ada
masalah dengan siapa-siapa termasuk dengan kak Axel. Hubunganku baik-baik saja.
Baik sebagai kakak beradik, asal tak menuntut lebih dari itu. lalu, kenapa
aku harus menangis? Apakah masalah? Ya, tapi dengan hatiku sendiri. Harusnya hatiku bisa
merelakan dia bersama siapapun yang ia mau. Tak perlu memaksakan. Bukankah cinta tak harus memiliki? Tapi, bukannya cinta itu perlu diperjuangkan dan dipertahankan jika dapat? Aku boleh dong berjuang dapatin dia. Kan belum ada
janur kunging melengkung sah-sah saja ditikung.
‘Ah… lama-lama aku jadi benar-benr gila gara-gara kak Axel,’
batin Bilqis sambil tersenyum seorang diri sambil menunduk dan menyembungikan
wajahnya di balik kedua telapak tangannya sendiri. Dia menertawai dirinya yang bodoh dan dungu hanya demi pria yang tak peduli dan tak bisa hargai perasaannya. Dengan tega dan tegas menolaknya mentah-mentah berkali-kali. Sadis bukan? Tapi, sudah terlanjur sayang. Apakah ini cinta?
“Sudah tiba, Neng,” ucap driver taxi online. Cukup membuatnya
yang tengah banyak berfikir itu kaget.
“OH, iya, pak. Terimakasih,” ucap gadis belia itu sambil menyodorkan selembar uang duapuluh ribuan pada pria yang usianya kurang lebih
seusia papa Al itu.
“Loh, kan udah bayar lewat paypal, Neg.”
“Ini tips buat anda,’ ucap Bilqis. Dan mengambil lagi
selembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya dan menyodorkan pada pria paruh baya tersebut.
“Uang apa ini, Neng? Tip biasanya mentok ya cuma sepuluh ribu.”
“Terimakasih saya. Tolong diterima ya, Pak. Anggap ini sedekah agar kesulitan yang saya hadapi jadi mudah.” Bilqis terus bersikukuh
memberikan uang sebesar tujuh puluh ribu tersebut pada supir taxi onlinya.
Dengan rasa sungkaan, pia paruh baya itu pun menerima uang pemberian dari Bilqis dan mengucap berkali-kali kata terimakasih. “Semoga
hidupnya selalu dalam kemudahan ya, Neng? Terimakasih, saya terima pemberian dari neng, ini bukan tips lagi namnya,” ucapnya lagi.
Bilqis hanya tersenyum. Kemudian keluar mobil dan segera
masuk ke dalam rumah. Sesampainya, ia tak lagi ingat dengan pertunya yang belum terisi oleh makanan. Ia langsung menuju dalam kamarnya dan kembali menangis. Dia
benar-benar tidak sanggup melihat Axel bersama wanita lain.
__ADS_1