Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will Die 38


__ADS_3

Berlyn diam di dalam mobilnya. Ia bingung harus berbuat apa. Sesekali diremasnya ujung roknya untuk menetralisir rasa paniknya. Diliriknya benda pipih yang berada di sebelahnya. Baru saja ia berdikir akan menghubungi Clarissa, rupanya bocah itu sudah menelfon duluan.


"Halo, Sa. pakah sudah se;esai? Di mana kau kok bisa telfon?" tanya Berlyn.


"jangan tanya aku berada di mana dan selesai atau belum karena itu tidak penting. Aku melihat pacarmu bersenang-senang dengan banyak gadis. Aku apakan ini?"


"Biarkan saja! Dia memang Arjunanya sekolahan. Selama dia tidak benar-benar menghianatiku, aku tidak masalah. Lagipula penghianatan apa? Kita jadian saja belum. Kalau sudah pacaran dia berani macam-macam aku akan bertindak."


"Oke, baiklah. Kau di mana sekarang? Apakah sudah tiba di kediaman ama?"


"Fiuhhh!" Berlyn menghela napas panjang. Lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kusri mobil. "Belum. Tanpa sengaja mobil yang kami naiki menabrak seorang wanita. Kau tahu, siapa dia?" tanya Berlyn, mencoba menghilangkan rasa kesalnya.


"Siapa?" Rupanya Clarissa pun juga ikut penasaran. Tapi, satupun oran tidak ada di dalam nalarnya. Ia tidak bisa menebaknya. Memang siapa orang yang begitu dihindari Berlyn dan dia kenal? Atau sekedar tahu? Sepertinya, kembarannya sangat kalem dan tak punya musuh.


"Tiara! Dia sudah benar-benar gila. Pakaian compang-camping tak keruan.Dia stres karena sekarang sudah tak punya apa-apa sepertinya."


"Oh, hahaha. Itu sebagaian kecil untuk memberi pelajaran pada orang yang mengusik keluargaku. Harusnya dia bersukur karena yang ia usik adalah kak Bilqis, bukan kamu."


"Sudah, cukup! Kau mau sampai kapan begini?"


"Eh, tunggu, Lyn. Apa kau benar tidak salah yang kau tabrak itu Tiara? Harusnya dia itu sudah mati overdosis, kan?"


"Benar, Tiara. Tapi, soal saat itu bagaimana aku tidak tahu."


"Ya sudah, kau di mana sekarang?" tanya Clarissa.


"Tidak penting aku berada di mana," jawab Berlyn. Karena dia yakin. Clarissa pasti akan melakukan sesuatu terhadap Tiara. Ia tidak mau saudarinya terus menerus melakukan sesuatu yang salah dalam hidupnya. Hidup hanya satu kali dan tak akan memiliki kesempatan kedua kali, berbuat baik dan memaafkan saja. Toh yang bersangkutan juga sudah tidak mempermasalahkan ini.


"Ya sudah jika kau tak mau beri tahu. Lebih baik tinggalkan dia saja," jawab Clarissa. Ia dan kembarannya memang memiliki sifat yang bertolak belakang. Tapi, hal itu bukanlah alasan untuk saling menjauh. Keduanya tetap akrab dan baik-baik saja. saling menyayangi lah.


Dia tidak tahu saja, kalau mobil yang dipakai kembarannya sudah dipasang alat pelacak gps. Jadi, ke mana pun dia pergi selama menggunakan mobil tersebut, dengan mudah Clarissa bisa melacaknya.


Setelah mematikan panggilan dari Berlyn, Clarissa menelfon anak buahnya. Ia ingin mereka menangkap Tiara dan menyelidikinya, bagaimana bisa ia selamat saat menggunakan banyak berbagai jenis Narkoba. Setelah itu, barulah dia kembali ke pesta yang masih banyak pengunjung.


"Berlyn! Aku lama mencarimu. Kau ke mana saja?" tanya Adriel. Mengira dirinya adalah Berlyn.


Gadis itu hanya tersenyum dan menunduk. Ia sejak kecil sudah sering menya,bar menjadi Berlyn. Jadi, ini tidak akan sulit bagi Calrissa. Apalagi dia sudah memberi saran agar tetap pura-pura menjadi bisu untuk mengetahui seberapa seriusnya Adriel padanya.


"Ayo! Kita ke sana. Maafkan aku yang mengabaikanmu karena tiga cewek nakal itu. Mungkin ini saatnya untuk katakan pada mereka kalau kita udah jadian. Kamu mau, kan jadi pacarku?" ucap pria itu benar-benar tulus dan penuh kesungguhan.


Clarissa memperhatikan dua bola mata pria itu yang nampak sangat coklat. Di dalamnya, ia merasakan tulus ikhlas menerima Berlyn yang bisu. Tapi, tunggu dulu. Cinta pria ini untuk saudarinya. Bukan dirinya. Kenapa ia malah merasa nervous gitu, ya? Kakinya bahkan terasa lemas. Ini mungkin wajar bagi gadis yang belum pernah sekalipun ditembak oleh lelaki. Kalau pun dia menyukai seseorang, ya hanya sebatas angan saja. Karena, sejak awal dia juga sadar dan tahu, dia sekolah di sekolah anak-anak super dari berbagai belahan bumi. Jadi, wajar jika tiap individunya lebih mengutamakan pendidikan dan masa depan dari pada pacaran.


"Berlyn, kamu jawab jujur sama aku. Kita sudah habiskan banyak waktu bersama. Aku yakin kau cinta, kan sama aku?" tanya Adriel sekali lagi.


Clarissa hanya diam panik dan gusar menjadi satu. Sekalipun ia kini menggantikan perannya Berlyn, dia tidak bisa ambil keputsan untuk saudarinya, Biarkan dia sendiri yang menjawab.


Dengan tangan bergetar Clarissa meletakkan telunjuknya di depan bibi Adriel. Dengan keras ia berusaha agar tetap tenang seperti Berlyn yang sebenarnya. Ia paksakan tersenyum dan mengelengkan kepala. Lalu, berbicara dengan bahasa isyarat,"Jangan buru-buru, oke?"


"Baik jika itu maumu. Tapi, aku akan selalu menunggu jawaban darimu. Ya sudah, ini sudah penutupan. Ayo kita ke sana!" ajak Adriel sambil menggandeng tangan Berlyn.


Tampak di wajah tiga gadis yang tadi menggoda Adriel nampak sangat kesal dan kecewa. Mulanya, mereka ingin mengajak Adriel lagi. Tapi, kali ini Adriel menolak dengan tegas, "Aku di sini untuk Berlyn bukan untuk kalian. Kalian hargai dia, oke? Sekalipun kami belum resmi pacaran, kalian juga tahu, kami saling mencintai satu sama lain."

__ADS_1


"Anggap saja ini antara Fans dan pemain basket teridola. Ayo, Driel!" ajak salah satu dari mereka dengan berani.


Tapi, Clarissa tidak tinggal diam. Ia tahu kalau Berlyn mencintai Adriel. Kemungkinan tadi saat ia menangis juga karena tidak tahan melihat kelakuan tiga gadis nakal ini. Dengan cepat ditangkisnya tangan gadis itu dan memberi tatapan tajam membuat gadis itu menjadi gentar dan akhirnya mundur.


"Maafkan aku, Berlyn jika aku dan dua temanku tadi mengusikmu," ucapnya sambil tertawa canggung.


"Kenapa kau mundur?"


"Sepertinya benar kalau Berlyn juga menyukai Adriel. Dia sangat menakutkan."


"Menakutkan bagaimana? Bicara saja tidak bisa.


"Dia sepertinya selama ini hanya diam karena tak ingin menunjukkan siapa dirinya. Aku punya firasat kalau dia bukan orang yang bisa dengan mudah kita ganggu."


Sementara di tempat lain, Queen berusaha keras mengekang suaminya agar tidak menuang minuman keras lagi dengan cara halus. Tanpa harus mengatakan jangan di depan rekan bisnis dan juga bawahannya. Jadi, ia hanya menggunakan bahasa isyarat dan mata saja. Tapi, Al tidak menggubrisnya. Mungkin ini dia jadikan kesempatan. Soal nanti diomeli pikir nanti saja.


Setelah lama menunggu, akhirnya para tamu penting dari suaminya pun pergi. Mulanya Al hendak menuang wine lagi, satu gelas. Tapi, Queen tidak tinggal diam.


"Sudah, Al. Jangan teruskan lagi!" seru Queen. Menahan tangan Al yang hendak mengambil botol wine tersebut.


Al menatap istrinya, lalu tersenyum dan menunjuk ke arah yang jauh. "Coba kau lihat itu," ucapnya.


Tapi, karena wanita itu sudah hafal karakter sang suami, ia tidak mau melihat. Tapi, menarik suaminya agar masuk ke dalam rumah.


Tiba di dalam, mereka melihat Berlyn yang ternyata adalah Clarissa duduk di sofa ruang tengah dengan gaun ukang tahunnya tadi.


"Sayang, kenapa kau tidak tidur?" tanya Queen pada putrinya.


Gadis itu memberi isyarat kalau seseorang sepertinya mabuk menggunakan kamarku.


"Apakah ini ada hubungannya dengan mu?"


"Tadi, dia bawa softdrink. Aku ajak bersulang dengan yang lain. Tapi, rupanya aku salah ambil. Aku minum miliknya dan gelas ku yang berisi wine akhirnya dia ambil."


Queen mendesah kesal. Lalu, meminta agar Berlyn tidur di kamar lain. Kebetulan Bilqis tidak menginap di sana. Dia bisa gunakan kamar tamu yang Biqlis pakai sebelumnya.


"Kamu selalu saja bikin ulah. Dari awal aku uda bilang, kan kalau aku ga mau siapin wine di acara pesta anak kita," ucap Queen.


Al yang sudah mabuk berat, ia tak malu-malu lagi pada putrinya. Ia mengira itu Berlyn. Padahal Clarissa. "Kau jangan marah-marah terus, Sayang. Kau begini, aku jadi bernafsu," ucapnya lalu mengangkat tubuh Queen dan membawanya ke kamar.


Clarissa melihat tingkah papanya hanya tersenyum canggung. Wajah bersemu merah karena malu. Entah malu lada siapa. Yang jelas malu pada dirinya sendiri. "Ah, dasar orang dewasa, begitu ya? Kalau istri marah, bikin kaum suami bernafsu, ya?" Gumamnya seorang diri lalu ia beranjak ke kamar.


"Al, kau ini gila apa, di depan anak kita," ucap Queen sambil melotot.


"Aku hanya menggendong mu saja. Tidak menelanjangi dan menerkam mu di depannya," jawab Al. Dia sudah buta dan benar-benar tak ingat apa-apa. Antara nafsu dan sudah tak lagi terkendali karena miras


"Aaaal! Pelan dikit, kah menyobek gaunku," teriak Queen.


"Akan kuganti besok, belilah lagi seperti ini sepuluh."


"Kau bau! pergi sana ke kamar mandi dulu."

__ADS_1


"Nanggung, Sayang. Sekalian kita kotor bersama dan mandi bareng nanti," jawab Al tidak peduli.


"Aku tidak mau melayani mu!"


"Istri tidak boleh menolah permintaan suaminya. Kecuali, jika kau tidak takut dosa ya silahkan."


"Dasar, curang!"


Usia mereka memang sudah tidak lagi muda. Mungkin karena selalu mesra, mereka terlihat muda. Banyak hal-hal konyol yang sering mereka berdua lakukan.


****


Al bangun lebih awal. Melebihi istrinya. Ia tidak langsung ke kamar mandi. Melainkan melihat wajah Queen yang tengah tertidur pulas sambil sesekali mencium pipinya.


"Terimakasih, Sayang sudah menemaniku selama ini. Maaf, jika aku belum bisa sepenuhnya meninggal keburukanku," bisik Al di telinga Queen.


Merasa geli di sekitar telinga, Queen menggerakkan kepalanya dan perlahan membuka mata.


"Sudah puas menatap wajahku?" ucap Queen kemudian menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya termasuk juga wajahnya. Sepertinya ia kelelahan dan masih mengantuk karena semalam.


"Ayo kita mandi dan bersiap, Sayang," ucap Al sambil berusaha menarik selimut yang istrinya pakai.


"Kau mandilah dulu. Setelah itu baru aku," jawab Queen.


"Tidak. aku maunya barengan saja."


"Al. Jangan mengulur waktu. Kepalaku sakit," ucap Queen dari balik selimut.


"Sakit? Apakah semalam kurang?" ucap Al terus menggoda istrinya. Ia berhenti menggoda saat merasa ada sesuatu yang mengalir dari dalam hidungnya.


Al mencoba melihat dengan cara mengusap dengan ujung jarinya. Ternyata darah. Dirinya mimisan. Ia diam sesaat. Lalu berkata pada Queen, "Baiklah. Aku mandi dulu, Sayang." Buru-buru Al pergi. Ia takut darahnya keluar kian banyak dan menetes ke atas kasur dan lantai.


Cukup lama Al berdiam diri. Tiba-tiba saja ia merasa takut akan hal buruk yang terjadi padanya.


"Queen, maafkan aku jika aku harus pergi. Aku percaya, kau bisa menjaga anak-anak dengan baik. Maafkan aku jika selama ini aku menjadi suami tidak baik dan banyak kekurangan," ucap Al seorang diri


Setelah memastikan kalau suaminya sudah berada di dalam kamar mandi, Queen beranjak dari ranjang dan menggambil pakaian santai. Sambil menunggu Al keluar, wanita itu bermain gadget. Mengecek pesan-pesan masuk yang belum siap ia buka.


Tanpa terasa, hampir satu jam Al berada di dalam. Ia mulai curiga. Dia beranjak ke kamar mandi dan mengetuk pintunya beberapa kali.


"Al, kau ngapain? Lama sekali?" tanya-nya.


"Sebentar, Sayang. Perutku mules," ucap Al. lalu menyiram tisu toilet pada closed yang ia gunakan untuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Setelah di rasa aman. Barulah, Al keluar dan menghadiahi ciuman pada kening istrinya.


"Kamu sakit? Aku priksa dulu, ya?" tanya Queen panik.


"Tidak apa-apa, Sayang. Jangan panik gitu, oke?"


Queen diam mematung. Ia tak hiraukan perintah Al yang menyuruhnya segera mandi. Dilihatnya punggung suaminya lalu ia berlari dan memeluk dari belakang.


"Al, aku sayang banget sama kamu. Aku akan banyak habiskan waktu bersamamu. Setiap jam istirahat, aku akan datang bawakan makan siang untukmu, bagaimana?"

__ADS_1


Al menyentuh tangan Queen yang kini berada di depan perutnya. Ia berfikir kalau sepertinya Queen memiliki feeling padanya.


Al berbalik dan memeluk istrinya lalu berbisik. "Aku juga sayang banget sama kamu. Terimakasih, ya?"


__ADS_2