
Suatu pagi, saat mentari mulai memancarkan sinar panasnya,
dan mulai terik, seorang gadis nampak baru saja terjaga dari tidurnya. Mungkin semalam dia begadang mengerjakan PR, agar bisa menikmati minggunya dengan leluasa. Sebab, jika ia izin keluar malam juga mamanya tidak bakalan
mengizinkan.
“Bilqis! Ini sudah pukul berapa? Kau bahkan masih saja
molor! Gadis macam apa kau ini?”
Lagi, terdengar suara teriakan seorang wanita yang mungkin
tiada lelah membangunkan gadis itu dengan teriakan-teriakannya.
“Uuuuh…. Mama. Ini masih pagi, kecilkan suaramu,” protes
gadis itu sambil mengeliatkan badannya dan mengucek matanya.
“Kalau malam begadang saja ya, begitu. Kalau kau sudah
dewasa, bagaimana, kalau tetap seperti ini? Sekarang masih ada mama yang membangunkanmu tiap pagi. Kalau mama sudah tidak ada, bagaimana?”
Gadis itu langsung melompat dari ranjangnya dan mengejar
mamanya. Seperti biasa, ia selalu memeluk wanita itu dari belakang jika dia sudah mulai marah padanya seperti itu.
“Ma, jangan ngomong gitu, lah. Aku kan tetap jadi anak mama
dan kuliah di dekat sini saja nanti kalau dah lulus SMA. Aku gak akan ke luar negeri, kok.”
“Ya, mana mama tahu, Bilqis. Kau saja saat ini masih kelas
satu SMP,” timpal Nayla sambil berjalan ke dapur.
“Kak Axel yang pinter dan bule saja gak niat ke luar negeri
tuh, kenapa aku yang tampang indo harus sok-sokan ke negara bule?”
Jawaban putri semata wayangnya itu selalu saja sukses
membuat Nayla tertawa dan lupa, kalau ia tengah marah.
“Katanya kau pagi ini mau ke rumah kak Axel dan membawakan
read velvet? Segeralah mandi, lalu sarapan. Mama sudah membuatkannya untukmu,"
ucap Nayla, lalu menuju ke tempat cucian piring. Ia mencuci beberapa alat dapur yang baru saja ia gunakan untuk menyiapkan makanan untuk Bilqis.
“Wah, serius, Ma? Mama sudah buat? Kapan? Kenapa aku tidak
mencium aroma wanginya saat dioven?” tanya gadis berambut panjang itu dengan sangat antusias.
Nayla tertawa sambil mengejek putrinya, “Kau, kalau sudah
tidur, jangankan aroma cake, ada suara bom saja kau juga tidak akan mendengar.”
“Ah, boleh aku melihat seperti apa kue itu?” tanya Biqis
sambil menunjukkan senyuman jailnya.
“Mandi dulu, kamu sarapan dan lihatlah. Mama sudah
menyimpannya di mika,” jawab Novita.
“Baiklah! Terimakasih, Mama. Kau memang yang terbaik,” ucap
gadis itu sambil mencium pipi mamanya dan berlari menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Nayla hanya tersenyum saja mendapati kelakuan
konyol putrinya.
Kali ini dia memang sudah tidak begitu sibuk dengan urusan
toko. Karena ia sudah memiliki cukup karyawan. Bahkan toko kue dan rotinya kini
juga sudah memiliki tiga cabang. Ia hanya perlu mengecek setiap beberapa hari
sekali. Jadi, ia lebih memiliki banyak waktu di rumah menemani Bilqis jika ia tidak sedang sekolah atau ada kegiatan di luar rumah.
Usai mandi dan menghabiskan sarapannya, Bilqis mencuci
piring bekas makannya sendiri agar mamanya tidak uring-uringan. Lagian
sebenarnya ia bukanlah anak yang pemalas, apalagi kalau hanya mencuci satu piring saja, tentu ia tidak akan keberatan. Tapi, rumah terasa sepi jika ia tidak mendengar omelan mamanya.
Karena pagi tadi sudah kena omelan, ia juga harus menjaga
keseimbangan tensi mamanya agar tidak sampai naik, meskipun mamanya tidak memiliki riwayat hypertensi. Atau, anggap saja ini untuk ucapan terimakasihnya,
karena ia sudah dibuatkan read velved untuk dibawa ke rumah Axel, diberikan
pada tante Novi, agar kedatangannya selalu di terima walapun putra sulungnya nampak cuek-cuek bebek dan cenderung risih kepadanya.
Setelah selesai mencuci piring, ia menemui mamanya di ruang
tamu, yang hendak memasukan mika kue ke dalam tas karton.
“Mama! Tunggu dulu. Aku masih ingin lihat kek apa kuenya?”
ucap Bilqis mencegah,
Nayla pun mengurungkan niatnya, lagian, tutup mikanya juga
transparan.
“Wah, bagus, ya Ma? Makasih ya Ma, kau sudah mau membantuku
berjuang untuk mendapatkan calon mantumu,” ucap Bilqis sambil memeluk mamanya.
“Bocah gemblung!” ucap Nayla, sambil mematok kepalnya dengan
punggung telunjuknua. Ia gemas dengan tingkah anaknya. Kenapa dia bisa memiliki anak yang seperti ini? Padahal selama remajanya dulu, ia tidak begitu, siapa yang diturun? Pikirnya. Tertawa seorang diri.
“ya sudah, Ma. Karena sudah mulai panas, Bilqis berangkat
dulu, ya?”
Nayla hanya mengangguk pelan dan meminta putrinya untuk
berhati-hati. Setelahnya, ia hanya mengantar putrinya dari gerbang, dan
membalas lambaian tangan gadis belia itu ketika hendak masuk ke dalam taxi online yang sudah menunggunya.
Dengan langkah yang sedikit malu-malu, Bilqis melangkah
memasuki halaman rumah Axel. Karena kebetulan, pagar tidak terkunci. Keringat
dingin karena gerogi. Sebab, lima menit yang lalu saat ia di perjalanan, Axel mengabirnya lewat pesan chat. Kalau ia masih keluar dulu disuruh mamanya.
‘Astaga! Langsung ketemu calon mama mertua… keluar semua deh
peluhku,’ batin Bilqis. Dengan ragu-ragu pula gadis itu mengetuk pintu rumah tersebut.
Tak lama kemudian, seorang wanita seumuran mamanya keluar
membukakan pintu. Denga senyuman yang ramah, ia mempersilhakan masuk.
“Oh, Bilqis? Kemarilah. Kamu mencari Axel, ya? Kak Axel
masih keluar, sebentar,” ucap Novita.
“Iya, Tante. Tadi, kak Axel juga sudah bilang. Oh, iya. Ini tadi, Bilqis belajar pada mama,” ucap gadis kecil itu sambil memberikan tas
karton berisi red velvet buatan mamanya yang dia claim usahanya, dan menyerahkan kepada Novita.
“Apa, ini? Wah, ini kamu yang bikin, Bilqis? Pasti rasanya
enak sekali. Terimakasih, ya?” jawab Novi, senang.
‘Maafkan anakmu sekali lagi, mama. Telah memakan keringatmu,’ batin Bilqis, sambil tertawa canggung karena telah berbohong.
Tapi, Novita sepertinya ia tidak menyadari, dan menganggap
kalau gadis yang baru beranjak dewasa itu malu saja bertemu dengannya. Karena,
ia juga tahu kalau Bilqis suka pada putra sulungnya.
“Sama-sama tante. Cuma yang punya ide toing itu, Mama. Dan
soal racikan juga tetap mama. Saya hanya melakukan semua sesuai intruksi dari beliau saja.’’
Tidak apa-apa. Namanya juga masih belajar. Kelak jika kau
dewasa siapa tahu mengikuti jejak mamau menjadi pembuat cake dan kue yang hebat. Atau, bahkan mungkin malah melebihi. Yang pertama, kamu giat saja, dulu dan cintai bidang ini.”
“Iya, Tante.”
Tak lama kemudian, terdengar suara sepeda motor masuk ke
garasi. Sepertinya itu Axel. Siapa, lagi?
“Itu kak Axel sudah datang, kalian ngobrol dulu, gih. Sampai
lupa tante tidak buatin minum,” ucap Novita hendak berlalu setelah mendapati putranya sudah sampai di ambang pintu.
“Ini, Ma. Tadi tidak ada yang rasa melon. Axel ganti, beli
dengan rasa leci,” ucap pria remaja itu sambil memberikan tas kresek pada
mamanya.
“Tidak apa-apa. Terimakasih, ya Sayang. Ya sudah, kamu
temani Bilqis dulu, mama ke dapur buatin kalian minum, sekalian eksekusi bikin pudding.” Wanita paruh baya itu pun berlalu menuju ke dapur.
Sementara Axel, memandang Bilqis sekejap. Tanpa mengucapkan
kata-kata, ia langsung duduk, dan menghempaskan tubuhnya di sofa tanpa sepatah kata pun.
Bilqis juga diam, tidak menyapa. Tapi, lima menit berlalu Axel juga masih saja diam. Lima menit mungkin adalah waktu yang singkat. Tapi,
jika situasinya seperti ini, ya… gimana, ya?
“Gak nanya, gitu? Aku sudh lama nungguin kak Axel, apa gimana
kek atau apalah? Sudah lama lo kak Axel di sini. Tapi, kok gak nyapa aku?” ucap Bilqis, pada akhirnya.
Axel memandang datar pada gadis yang duduk di sebelahnya.
Tapi, ia masih diam.
“Tuh, kan, aku dicuekin. Ya sudah, aku pulang saja,” gumamnya.
“Mamaku sudah membuatkan minum. Tunggu dulu, baru pulang lah jika kau mau pulang,” jawabnya, datar.
Sedangkan Bilqis hanya manyun saja.
“ya, setelahnya, aku mapulang. Tapi… “
“Apa?”
“Heheh, anterin aku.” Gadis itu cengegesan sambil memaintkan
__ADS_1
kedua telunjuknya di depan dadanya.
Axel hanya diam dan menghela napas panjang.
“Kamu ke sini niatnya apa, sih?” ucapnya dengan nada sedikit
tinggi karena kesal.
Tapi, sepertinya kali ini keberuntungan lebih memihak ke arah Bilqis. Sebab, saat Axel mengatakan kalimat yang meluapkan kekesalnnya,
Novita telah muncul membawa nampan berisi es kelapa muda, dan dua potong red
velvet yang dibawa Bilqis tadi.
“Axel! Kamu bicaranya kok gitu, sih? Kamu tidak suka, ya
kedatangan Bilqis? Dia kemari tidak ada lasan tertentu itu, menunjukkan kalau dia datang bukan hanya di saat dia perlu,” ucap Novita.
Sedangkan Axel langsung diam. Tapi, dalam hati ia mengumpat,
‘Sialan. Kenapa pas ada mama gua? Mana mama keliatannya suka banget sama ni bocah ingusan.’
“Maaf, Ma.”
“Ngapain kamu minta maaf sama mama? Kamu salah apa? Yang
kamu bentak barusan mama, apa Bilqis?” ucap Novita, tak kalah sewot.
‘Dih, mama lebai banget. Cuma gitu doang, aku dah dikata ngebentak dia?’
“Bilqis. Maaf, ya?” Bahkan saat bicara pun nadanya juga sangat tidak tulus.
“Dimaafin, kok Kak. Bilqis mana bisa marah sama kak Axel,” jawab gadis itu. Membuat Axel berasa mau mutah saja.
“Bilqis, ini tante tadi beli kelapa muda, enak banget ini. Dan ini red velvet yang kamu bawa tadi, temani kak Axel makan, ya? Dan tunggu saja sampai nanti siang, kita makan siang bareng, sambil nunggu pudding buatan
tante jadi, oke?’’
“Baik, Tante,’ jawab Bilqis, ia tersenyum penuh dengan
kemenangan.
Sementara Axel masih saja memasang muka masam. Selama ini ia memang tidak pernah mempermasalahkan bila dekat dengan wanita. Tapi, Bilqis?
Anak kecil, sama saja dengan momong adek sendiri.
“Dimakan, kak kuenya. Jangan Cuma dipelototin,” ucap Bilqis lagi.
Axel memandang sekilas ke arah Bilqis, kemudian meraih
piring kecil berisi sepotong red velvet miliknya dan mulai menggigitnya.
Sepertinya kue tersebut cocok di lidahnya. Terlihat sekali, bagaimana
ekspresinya saat menikmati tiap gigitannya.
“Gimana? Enak, tidak? Aku aku membuatnya dengan cinta, loh
Kak.”
Seketika Axel tersedak sampai terbatuk-batuk. Dia tidak
terkejut dengan ucapan Bilqis. Tapi, saat ia hendak menimpali kata-kata gadis yang baru mulai beranjak dewasa itu dengan pertanyaan dari cinta apa tepung dan telur, ia malah tersedak.
“Loh, kok sampe tersedak gitu, sih kak? Hati-hati dong! Ini,
minum!” ucap Bilqis. Tapi, pria remaja itu yang usianya enam tahun lebih tua
masih saja terbatuk-batuk, dan bertambah parah.
Saking paniknya, Bilqis malah memukul keras bagian
punggungya. Axel sekitika diam, bukan karena merasa lebih baik, ia terkejut dan merasa sakit di bagian sana.
“Kau, mau bunuh aku?” Prai itu memandang Bilqis dengan
tatapan tajam seperti belati saja.
“Ada apa ini kok ribut-ribut?” tanya Novita, ia langsung
berlari menghampiri Axel dan Bilqis.
Axel diam selain menunjukkan raut wajah kesalnya. Ia tahu,
kalau sudah begini menjelaskannya pun juga akan sia-sia. Mamanya akan tetap memihak pada yang bayi.
“Huh!” hanya itu yang keluar dari mulut remaja delapan belas
tahun itu. Kemudian ia pergi meninggalan mamanya dan juga Bilqis.
Novita hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan
putra sulungnya. Kulkas saja, tidak sedingin itu. Kenapa ini malah seperti
gungung evers?
“Bilqis, kamu gak papa?” tanya Novita pada gadis yang hanya
diam menunduk karena merasa bersalah.
Sedangkan Axel yang tengah bermain game di ruang keluarga
yang hanya di skat oleh lemari hias saja. Jadi, ia bisa dengar dan lihat apa
yang dikatakan mamanya pada gadis kecil itu.
‘Jelas-jelas yang korban aku. Kenapa malah menyankan kau
“Aku tidak apa-apa, Tante. Tapi, kak Axel… “
“Sudah, kau tak perlu pikirkan dia. Dia memang seperti itu.
Bukankah kau sudah dari dulu kenal dengan dia? Kenapa masih kaget?” ucap Novita dengan lembut dan membesarkan hati gadis kecil itu.
“Iya, Tante benar. Aku tidak perlu kaget dengan dia yang
seperti itu. Mari, Tante kubantu kau masak.”
“Apakah kau bisa memasak?” tanya Novita sambil menatap gadis
itu.
“Kalaupun aku tidak bisa memasak, aku bisa bantu Tante
ngupas bawang, motong sayur dan mencucinya,” jawab gadis itu dengan riang.
Mereka berdua pun pergi ke dapur melewati Axel yang tengah sibuk dengan
gadgetnya. Mungkin pria itu juga tengah bermain game.
‘dasar, rubah kecil,’ umpat Axel dalam hati.
*****
Tiba di bandara Soekarno Hatta. Clara dan Vano sudah bersiap
menjemput anak dan juga cucunya yang baru saja kembali dari singapura.
Dengan riang, Berlyn langsung memeluk neneknya dan
menciuminya beberapa kali.
“Halo, Sayang. Bagaimana harimu selama seminggu di
Singapura? Apakah sangat menyenangkan bisa bertemu dengan Clarissa?” tanya
Clara begitu ia menggendong cucu kecilnya.
Gadis kecil berusia lima tahun itu tersenyum kegirangan
sambil beberapa kali mengangguk.
“Besok kan hari Senin, Berlyn mulai sekolah. Seragam masih
ada di rumah nenek. Kita ke sana saja, bagaimana? Kalau Berlyn mau balik besok saja sepulang sekolah. Kakek dan nenek akan antar Berlyn ke rumah papa dan mama. Setuju?”
Lagi-lagi gadis itu setuju. Kalau boleh jujur, sebenarnya gadis itu lebih suka tinggal di tempat kakek dan neneknya. Terlebih, di sana ia
memiliki hewan piaraan. Dua ekor kelinci dan seekor kucing yang ia beli saat jalan-jalan bersama kakek nenek serta buyutnya di hari ketiga ia menginap di sana.
Clara saling bertatapan dengan Vano. Ia merasa ada yang aneh
dengan Queen, dan juga Al. hal itu wajar saja. Lagipula, orang tua mana yang tidak sedih berpisah dengan salah satu putrinya. Apalagi dari sejak bayi. Ia hanya sempat satu kali menyusui saja, selebihnya… terlebih sekarang, anak itulah
yang terlahir sangat sempurna.
“Queen, Al. mungkin kalian lelah dan butuh istirahat. Tidak
apa-apa, biarkan Berlyn sama kita saja. Jika kalian ingin Berlyn pulang. Besoknpulang sekolah mama dan papa anter, gimana?”
“Iya, Ma,” jawab wanita itu singkat.
Mereka pun akhirnya berpisah. Al dan Queen memilih memesan
taxi saja untuk langsung pulang. Karena, papa mama dan putrinya mau pergi ke sebuah acara pernikahan anak teman papanya.
Selama di dalam mobil, Queen juga diam saja. Tidak mengajak
ngobrol Al sedikitpun. Barulah, setelah tiba di rumah, diam au berbicara. Itu
pun juga karena kepepet.
“Sayang, tolong angkatin itu semua, ya? Kepalaku pusing
banget,” ucap Queen saat tiba di depan rumah lalu ngeloyong begitu saja menuju ke kamarnya setelah melepas sepatu yang ia kenakan.
Al mendengar kata sayang dari istrinya hanya tertawa saja.
Ia memasukkan semua koper dibantu oleh bibi dan juga Dedi, setelahnya, ia
menyusul istrinya ke kamar.
Sesampai di sana, Queen sedang duduk di meja riasnya untuk
menghapus mekap. Bahkan, ia juga sudat tidak mengenakan pakaian, melainkan hanya melilit tubuh telanjangnya dengan handuk.
“Mau langsung mandi?” tanya Al sambil melepas jaket, lalu
kaus pendeknya.
“Iya, nih. Rasanya kek capek banget, siapa tahu setelah
mandi bisa lebih baik.” Queen pun beranjak me inggalkan kamarnya dan masuk ke kamar mandi dalam.
Sementara Al yang hanya mengenakan celana jeans dan
telanjang dada malah berbaring di ranjangnya sambil memainkan ponselnya.
Ternyata dia menelfon mamanya, memberi kabar kalau ia sudah
tiba di rumah. Ia juga melihat seperti apa putrinya, ia tidak terlihat lelah.
wajar saja, anak-anak mana bisa merasa lelah. paling kalau sudah kelelahan, ya sakit, demam.
__ADS_1
Setelah mematikan panggilan Videonya, ia berganti menelfon
mami dan Clarissa. Mengabarkan kalau ia dan Queen sudah tiba di rumah. Al pikir
Queen tidak sempat mengabari mereka karena ia tidak terlihat memegang gawainya
sama sekali. Tapi, ternyata saat ia menelfon maminya malah mengatakan kalau Queen tadi sudah chat.
“Kami baru saja sampai rumah, Ma. Ini Queen masih mandi,”
ucap Al setelah maminya mengangkat panggilannya.
“Oh, iya, Al. istrimu juga tadi sudah chat mami. Dia katanya
sedikit pusing mau mandi dulu dan tidur katanya.”
“Loh, sudah ngomong, ya?” tanya Al terkejut.
“Iya, dia mungkin masuk angin, Al. coba buatkan wedang jahe
panas. Atau air gula saja, kawatir dia banyak pikiran dan asam lambungnya naik. Air gula bisa menetralisir kadar asam lambung yang berlebih.”
“Oh, iya, Mi. ya sudah, kalian jaga diri baik-baiak. Aku ke
dapur dulu. Ini Clarissa lagi ngapain?”
“Dia sedang membaca puisi dari kembarannya dan bikin
coret-coret itu di kertas. Mungkin mau gambar sesuatu dan akan mengirimkan lwat
wa setelah ia foto gambar tersebut.”
Al hanya tertawa saja. Satu minggu berkumpul dengan kedua
putrinya memang terasa sangat singkat sekali baginya. Wajar saja kalau istrinya terlihat murung dan seperti kehilangan. Malah, Berlyn sekarang justru ikut nenek dan kakeknya.
“Ya suah, Mi. nanti, kita sambung lagi,” ucap pria itu, dan
panggilan pun berakhir.
Setelahnya Al langsung membuatkan minuman hangat untuk Queen. Tapi, ia menambahkan satu sendok makan sari kurma pada minumannya. Saat ia kembali, Queen sudah selesai mandi.
“Kau sudah selesai, Sayang? Minumlah, semoga kau segera
baikan.” Al menyodorkan segelas kecil pada Queen berisi air hangat gula, dan
sari kurma.
“Makasih, ya?” Queen menrima gelas itu, tersenyum pada
suaminya lalu langsung meminumnya habis.
Setelahnya, Queen
mengambil pakaian santai dan mengenakannya. Sementara Al hanya mengamatinya
saja dri belakang.
“Liatin apa, sih?”
“Ya kamu, lah Sayang. Masa bibi?”
“Mandi sana!” ucap Queen malu-malu sambil melemparkan handuk
untuk Al.
Al yang tau kalau Queen lagi malas tak mau menggodanya
lebih. Ia segera ke kamar mandi. Lima menit juga ia sudah leluar hanya
berlilitan handuk se atas lutut sampai bawah pusarnya.
Queen yang tengah bersantai sambil membaca buku, langsung
menoleh dan melihat ke arah suaminya yang masih basah.
Al hanya tersenyum tipis. ia membalikkan tubuhnya
membelakangi Queen, dan melepaskan handuk yang ia kenakan lalu mulai mengeringkan rambut dan juga badannya dari air.
“Kenapa harus di sini, sih tidak di dalam saja?” tegur Queen.
Ia merasa malu sendiri saja melihat tingkah suaminya yang begitu.
“Kenapa? Kan di depan istri sendiri gak masalah. Kamu, kek
belum pernah liat saja,” timpal Al dengan santainya.
Queen diam, ia sudah di skak mat oleh suaminya sendiri. Iya,
memang apa yang dikatakan benar. Mungkin karena sudah dua minggu mereka tidak lagi berhubungan suami istri sehingga Ia jadi malu-malu kembali.
Masih tanpa menggenakan handuknya, Al berjalan dengan
pedenya mengambil celana kolor di dalam lemari, dan mengenakannya. Setelahnya,
ia menyusul Queen yang bersandar di tempat tidurnya. Ia sudah tidak bisa
menunggu lagi. Selama dua minggu ia tersiksa menahan seorang diri.
Diraihnya buku dari tangan Queen dan meletakkan di atas
nakas. Tanpa berkata apa-apa, Al langsung menyerbu leher dada bibir dan meraba
semua area sensitive Queen.
Queen sendiri yang sudah dua minggu tidak disentuh, ia jadi
lebih sensitive dan cepat terangsang saja.
“Al… hmmm.” Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Selebihnya,
ia sampai menjerit dan berteriak karena
Al melakukannya dengan keras dan kasar. Mungkin pria itu juga sudah gila, dan
baru menemukan pelampiasan setelah lebih dari dua minggu lamanya.
Ia tak peduli, kalau di rumah ada bibi. Jelas, ia pasti akan
dengar suara teriakan istrinya. Karena cukup kencang.
Setelahnya, Al tertawa puas begitu melihat istrinya sudah
kuwalahan dan dia juga belum apa-apa.
“Masih mau lanjut? Aku belum selesai, nih,” ucapnya.
Queen melirik jam dinding di ambang pintu. Sudah hampir jam
duabelas saja ternyata. Artinya sudah hampir dua jam mereka melakukan. Pantas saja pertunya sampai terasa kram.
“Sudah hampir dua jam, Al. kau gila!”
“Hehehe, anggap saja jatah dua mingguku kemarin kuminta
semua. Lanjut, yuk! Bentar saja,” bujuk Al.
Awalnya Queen menolak. Tapi, karena Al pandai merayu, akhirnya Queen pun tergoda juga. dan setelahnya, mereka sama-sama tertidur
karena kelelahan. Dan bangun sudah pukul 15.00WIB.
“Kau sudah bangun sayang? Nyenyak, ya tidurnya? Kita sampai
tidak makan siang,” ucap Al.
Queen masih diam engan beranjak. Bukan hanya perutnya saja
yang terasa kram. Seluruh persendirannya rasanya juga seperti patah semua. Kali
ini Al benar-benar gila dan brutal. Lebih parah dari saat ia menculiknya dari acara tunangannya dengan Diaz dulu.
“Aku lemes banget, Nih. Kamu dong, tolong ambilin aku makan.
Suapi aku di sini,” ucap Queen memohon dengan manja.
“Baik, tapi cium lah aku dulu.”
“gak, ah. Dicium kamu nanti malah bangun lagi.” Queen
membuang muka dari Al sambil memanyunkan bibirnya.
Al melihat istrinya yang seperti itu malah mmbuatnya kian
gemas saja. Dicumnya pipi Queen lalu beranjak mengenakan clananya dan mengambil kaus oblong tanpa lengan dari dalam lemari lalu keluar.
Mungkin Al telah melupakan kejadian siang tadi. Tentang
kegaduhan dengan Queen di dalam kamar yang ia buat. Buktinya ia juga masih santai sa ja saat melihat bibi. Tapi, bibi yang malah merasa malu-malu sendiri, dan seperti orang yang tengah menahan tawa saja.
“Masak apa tadi, Bi?”
“Itu, Den. Bibi masak sup ayam kampung. Kalau mau makan biar
bibi panasi dulu.”
Al pun mengekor di belakang wanita itu dan ikut ke dapur.
“Tidak usah disiapin di meja, Bi. Saya mau bawa makanan ke
kamar saja,” ucap pria itu. Lalu membawa nampan berisi segelas air putih dan nasi yang sudah ada sop ayamnya ke kamar.
Sedangkan bibi melihat Al dari belakang menutup mulutnya
dengan telapak tangan dan tertawa tertahan. Dalam hati ia bergumam, ‘Dasar anak muda. Baru saja dari perjalanan jauh langsung hajar saja sampai ceweknya gak
kuat bangun.’
Sesampainya di kamar, Al sudah mendapati istrinya mengenakan pakaiannya dengan baik. dia tak lagi memakai pakaian sexi. mungkin takut kalau sampai di hajar lagi.
dengan telaten Al menyuapi istrinya, sambil sesekali menggodanya. dengan sendok yang diarahkan pada Queen, dan Queen sudah terlanjur membuka mulutnya malah dia sendiri yang melahapnya.
"Iih, dasar jahil kamu," ucap Queen sambil tertawa.
sementara Al hanya terkekeh saja. Kemudian, ia mengalihkan pembicaraan.
"Besok kamu kerja, tidak? Bukannya jadwakmu praktik pagi, ya?"
"Ya kerja, donk! Kan aku cuti cuma seminggu dan ini sudah habis."
"Kirain, mau tinggal di rumah dulu, karena capek."
"Gak, lah. Memang kenapa?"
"Ya kalau kamu masih mau libur dulu, besok. Nanti malam kita lanjut lagi," jawab Al sambil tertawa terkekeh.
"Dasar kamu, mesum, Ih," Queen mencubit perut Al lumayan keras.
"Aduh! Kamu ya... mentang-mentang perutku buncit, dicubitin terus. Oke, aku akan mulai rajin fitness. satu atau dua Minggu kau akan tergoda sama aku nanti jika perutku sudah kembali sixpack."
"Kamu ngomong apa, sih? dari dulu aku juga tetap sayang dan cinta kamu, kok," timpal Queen, ngegombal.
Dulu kapan? Dia mulai cinta juga saat ia hamil kedua putri kembarnya.
__ADS_1