
{BACA BAB SEBELUMNYA, YA SEBELUM BACA YANG INI. KARENA SAYA
TELAH MEREVISINYA. MAKASIH ^_^* }
Clara melangkah perlahan sambil menumpukan kedua tanganya
pada dinding rumah seperti anak kecil yang baru bisa berjalan sendirian.
Bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah semnyuman saat ia mendapati
putrinya berada di teras halaman belakang.
Semalam ini, dia kenapa di sini? Apa karena bosan di kamar
terus? Sedangkan Al, ia mendampingi papanya ke luar kota usai makan malam tadi,
setelah Vico dan Shinta pergi.
“Queen, kamu ngapain di situ, Nak?” sapanya.
Queen menoleh ke belakang. Kemudian wanita muda itu terkejut
saat mamanya datang tanpa menggunakan kursi roda.
“Mama?” Queen langsung beranjak dari duduknya dan menuntun
mamanya, membawanya duduk di kursi sebelahnya.
Clara masih tersenyum sambil melihati putrinya. “Apa yang
kau pikirkan di sini sendirian? Ini sudah larut. Tidakkah kau sebaiknya
istirahat untuk pemulihanmu?”
“Aku belum ngantuk, Ma. Mama sendiri, kenapa belum tidur?”
“Mama tadi mau ke dapur. Tapi, melihatmu di sini. Ada yang
kau pikirkan?”
“Tidak ada, kok Ma.” Queen menjawab dengan senyuman. Tapi,
tak berani memandang wajah mamanya.
“Kau tidak suka jika Bilqis kemari? Boleh saja kau
membencinya. Tapi, jangan sampai kebencian dalam dirimu itu membuat akalmu
rusak. Yang kau benci adalah ibunya. Kau cemburu jika Nayla dekat dengan Al.
Tapi, Bilqis dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa, Queen. Bisa saja
kadang kamu merasa ibu dan anak sama saja, karena dipengaruhi. Tapi, nantinya
ia juga akan kembali perpedoman dengan apa yang ia lihat sendiri. Tak hanya
berdasarkan dari katanya, kok.”
Queen tidak menjawab. Tapi, juga tidak mengabaikan apa yang
mamanya ucapkan.
“Bersikaplah baik pada siapapun, sekalipun dia jahat sama
kamu. Karena kebaikan akan dapat meluluhkan hati seseorang.”
“Terus aku harus berbaik sama Nayla dan anaknya? Terus kalau
dia lama-lama minta rujuk sama Al? Aku tidak mau, Ma anakku memiliki dua ibu.
Dan aku hanya ibu dari anak yang kulahirkan saja. Bukan ibu siapapun. Tapi,
kenapa ada anak lain yang juga memanggilku mama?”
“Kau tahu, Al dulu sangat membenci mama. Jika kau tidak
percaya, kau bisa tanyakan padanya.”
Queen langsung memandang Clara dengan tatapan yang seolah
bertanya Serius? Dia tidak yakin itu. Sebab dari dulu Al terlihat sangat sayang
pada mamanya. Ketimbang dengan yang lain, hanya kata-kata mamanya lah yang
selalu ia dengarkan. Jadi, terasa tak masuk akan saja jika dulu seperti itu.
“Kamuy akin, Ma?”
“Tentu saja. Ini sudah larut. Ayo kita segera beristirahat.
Kau bisa tanyakan hal itu kepada suamimu besok, jika ada waktu.”
Queen menuntun mamanya mengantarkan ke kamarnya. Lalu, ia
pun masuk ke dalam kamarnya sambil berusaha memejamkan mata. Karena Al akan
pulang malam, kalau tidak dini hari.
***
Dengan perasaan yang luar biasa senang Al meninggalkan panti
asuhan sekaligus rumah kediaman calon istrinya. Ia tidak menyangka akan semulus
itu. Mengingat jika ia melihat kisah cinta religit, tidak pada film atau novel,
setiap wanita yang terlahir dari lingkungan religius selalu ada saja saratnya.
Minimal bisa tartil dan hafal beberapa surat pendek. Jika tidak bisa menghafal
surat Panjang. Surah Arrahman missal.
Alex tersenyum seorang diri sambil mengemudikan mobilnya
menembus kegelapan malam. Menikmati angan-angan indah yang ia ciptakan sendiri.
Tiba-tiba khayalannya buyar saat tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Melihat yang menelfonnya adalah Novita, kakaknya sendiri ia segera mengangkat panggilannya.
“Halo, ada apa, Kak?”
“Kau ada di mana? Apakh kau sibuk?”
“Tidak kak. Apa ada masalah?” tanya Alex, panik saat
mendengar suara kakanya seperti seorang yang tengah menahan rasa sakit.
“Kakak sudah mulai kontraksi. Di rumah Cuma sama mama,
semalam ini juga tidak ada taxi. Pesan taxi online pun juga tidak direspon.”
__ADS_1
“Baik kak. Tunggu aku, aku akan segera ke sana dan
mengantarkanmu ke rumah sakit.”
Panggilan dimatikan, seketika Alex langsung melajukan kendaraannya dengan cepat
kilat menuju ke kediaman kakaknya.
Begitu tiba di sana, Novita sudah merasakan sakit yang luar
biasa, bahkan untuk berdiri saja sepertinya tak sanggup. Alex segera
menggendong kakaknya dan membawanya ke mobil. Mendengar suara ribut, Axel pun
terbangun dan melihat ke luar.
“Nenek, apakah mama akan melahirkan adik bayi?”
“Iya sayang. Kamu di rumah saja sama nenek, ya?”
“Tapi, Axel sudah besar, usia Axel sudah duabelas tahun.
Harusnya tidak masalah kan imkut mama? Bia raku melihat adikku saat ia pertama
kali lahir nanti.
Tak mau berdebat dengan keponakannya. Karena melihat kondisi
sang kakak yang sudah seperti itu, Alex pun langsung mengiyakan saja. Jadi,
Axel maupun mertua kakanya pun juga ikut ke rumah sakit.
Saat menuju ke ruang bersalin Novita terus memegangi tangan
adidknya sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Tatpi, saat memasuki pintu seorang
perawat bertanya pada pria itu, “Maaf, pak. Apakah anda suaminya?”
“Bukan, dia adalah kakakku.”
“Anda jangan ikut masuk, ya? Di sini saja tunggu di luar.”
Alex mendur dan ikut duduk di ruang tunggu bersama
keponakannya dan juga Livia. Tapi, beberapa detik dia berdiri, mondar manir ke
sana ke mari tiada henti, sampai satu jam begitu. Barulah ia bisa diam dan
terlihat lega saat mendengar suara tangisan bayi.
Dengan sigap pria itu lari di depan pintu. Seorang perawat
keluar dan mengabarkan kalau bayinya laki-laki, anak dan ibu semua selamat dan
sehat.
“Apakah aku sudah punya adik, Nek?” tanya Axel dengan mata
berbinar.
“Iya, Nak. Adikmu laki-laki,” jawab Livia sambil meneteskan
air mata harunya. Akhirnya setelah sekian lama tak menggendong bayi, ia
memiliki cucu bayi lagi dari mendiang Aditya.
“Boleh saya masuk, dok?’’ tanya Alex.
dibersihkan.”
Tanpa sadar, Alex bahkan sampai salah sebut. Seorang suster
pun dipanggil dokter.
Tiba di dalam, ia melihat bayi mungkil berjenis kelamin
laki-laki. Ia terpaku. Tiba-tiba saja ia teringat anaknya yang tengah gugur
beberapa tahun silam dengan mantan istrinya. Harusnya ini bukanlah yang pertama
kali aku melihat bayi yang baru lahir. Tapi, ya sudahlah! Pikirnya.
Dengan tangan bergetar pria itu menerima bayi yang sudah
harum dan dibedong dengan kain berwarna biru laut bertema baby bear.
“Selamat datang di dunia sayang. Jadilah anak yang kuat
sekuat mamamu, sekalipun kau lahir tanpa seorang ayah. Dan kelak, semoga kau
jadi anak yang cerdas seperti kakakmu. Om janji, akan selalu meluangkan waktu
untuk kalian berdua. Papamu pasti senang di alam sana melihat kau sangat tampan
dan mirip dengannya,’’ gumam Alex seorang diri.
“Ibu dari bayi sudah bisa dijenguk, Pak.”
“Iya, Sus. Terimakasih, aku akan membawa bayi ini
kepadanya,” jawab Alex.
Tiba di ruang nifas, Novita nampak bersandar dan langsung
melihat ke arah pintu. Jadi, mata mereka saling bertemu. Alex yang sebelumnya
senang melihat bayi tampan dan cuby itu jadi ragu. Ia takut kalau saja dalam
hati sang kakak membenci Aditya, jadi ia depresi dan terserang baby blus.
“Kau mendapatkan keponakan laki-laki lagi, kan Lex? Bawa
kemari, biar kakak lihat,” ucap Novita. Terlihat senang dan lega.
“Ya, keponakanku lahir laki-laki lagi. Tidak masalah, aku
akan sayang padanya,” jawab Alex tanpa melangkahkan lakinya.
“Bawa kemari, ayo!” ucapnya sekali lagi.”
Karena Novita terus saja mendesak, akhirnya Alex pun membawa
dan memberikan bayi itu pada sang kakak. Begitu Novita melihat naknya keduanya
ia nampak surprise dan tersenyum lebar.
“Ya ampun… Ini Aditya junior. Lihat, Lex. Apakah kau tidak
merasa dia sangat mirirp papanya? Jika saja dia masih hidup pasti akan senang
melihatnya.”
__ADS_1
Mendengar kalimat itu, Alex langsung bernapas lega. Artinya
apa yang ia takutkan tidak akan terjadi.
“iya.”
Kemudian Axel dan neneknya masuk ke dalam, dan melihat cucu
kecilnya. Begitu menggendong sang cucu dan melihat wajahnya, ia pun juga tak
kalah heran jika adiknya Axel sangat
mirip dengan mendiang papanya.
“Nov, Novita,” ucap wanita tua itu.
“Apakah mama berpikir dia mirip dengan Adit?” jawab Novita
sambil tersenyum di hospitalbednya.
Mereka pun tersenum bahagagia atas kelahiran anak kedua dari
Novita. Termasuk Axel, ia sangat senang dengan kehadiran adiknya. Artinya, dia
tidak akan kesepian lagi di rumah.
Saking tegangnya
Alex sedari tadi, ia bahkan sampai lupa kalau tidak melihat hp nya sama sekali.
Dia juga baru ingat kalau ponselnya berada di dalam mobil. Sebenarnya enggan.
Tapi, jika dia tidak datang mengambilnya, pasti Zahara akan khawatir dengannya
nanti.
“Kak, aku ambil hp di mobil dulu, ya?” pamit Alex pada
Novita kemudian pria itu pun keluar meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan
menuju ke tempat parkir.
Sesampainya disana ternyata benar. Ada banyaak pesan yang
masuk dari Zahara. Mulai menanyakan apakah dia sudah sampai, lagi apa dan
kenapa, apakah sudah tidur? Bahkan ada beberapa panggilan tidak terjawab dari
kekasihnya itu.
“Ouch… Zahara!” seru Alex sambil memukul ringan wajahnya
sendiri. Ia jadi merasa bersalah dan tidak enak sendiri membuat gadis itu
mengkhawatirkannya.
Buru-buru lelaki itu membalas chat gadis itu dan mengatakan
kalau tadi di pertengahan jalan tiba-tiba saja kakaknya menelfon dan memberi
tahu kalau ia tengah kontraksi. Karena panik dan buru-buru menuju rumah sakit,
ia melupakan kalau hpnya berada di dalam mobil.
“PINK!”
Alex melihat ke layar ponselnya. Balasan dari Zahara secepat
itu. Ia kian merasa bersalah saja. Padahal ini sudah jam satu lewat. Tapi, dia
masih belum juga tidur, apakah menunggu balasan darinya? Karena merasa tidak
enak, pria itu pun langsung saja menelfon kekasihnya itu. Tidak lama panggilan
tersambung juga langsung dijawab oleh Zahara.
“Halo, Za. Kok kamu belum tidur?” tanya Alex dengan lembut
dan penuh rasa bersalah.
“Emmm… Iya, nih,” jawab gadis itu singkat. Ia sepertinya
sengaja tidak mengatakan kalau sebenarnya dirinya telah menunggu Alex. karena
dia takut pacar, yang baru beberapa jam lalu melamarnya jadi merasa bersalah.
Seperti itu yang ada malah rasa canggung saja nanti jika mereka bertemu.
“Kenapa? Mikirin aku?” goda Alex, sambil bersandari di
sebelah mobilnya.
“Ih, GR. Aku tuh sudah sempat tidur tadi, dan kebetulan pas
bangun tiba-tiba hp ku bunyi. Ternyata chat dari kamu.”
Alex hanya tertawa. Tapi, ia tahu kalau itu Cuma alasan
saja.
“Oh, iya, bagaimana keadaan kak Novi? Keponakan kita
laki-laki apa perempuan?” tanya Zahara, megalihkan topik.
“Apa? Keponakan kita?” Alex kembali tersnyum, dan sedikit
tertawa lirih.
“Ya, kan kalau kita sudah menikah nanti, keponakan kamu juga
keponakan aku, Lex. Dan kakakmu juga kakakmu.”
“Iya, kau benar, Za. Keduanya baik dan sehat. Anaknya
laki-laki lagi, hehehe.
“kamu sudah memfotonya? Boleh aku minta?”
“Belum. Kan tadi, hp ku ketinggalan di dalam mobil, Za.”
“Baiklah, kau tidak perlu memfotonya. Besok pagi, aku tudak
ada kegiatan. Aku akan ke sana. Di mana kakakkmu di rawat sekarang?”
“Di rumah sakit medica. Ya sudah ini sudah sangat larut,
bahkan juga dini hari. Kau cepatlah beristirahat, oke?”
Setelah mendengar jawaban dan ucapan salah dari gadis yang
ditelfonnya, Alex pun mematikan panggilannya dan segera kembali ke ruangan
__ADS_1
Novita.