Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 PART 5


__ADS_3

{BACA BAB SEBELUMNYA, YA SEBELUM BACA YANG INI. KARENA SAYA


TELAH MEREVISINYA. MAKASIH ^_^* }


Clara melangkah perlahan sambil menumpukan kedua tanganya


pada dinding rumah seperti anak kecil yang baru bisa berjalan sendirian.


Bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah semnyuman saat ia mendapati


putrinya berada di teras halaman belakang.


Semalam ini, dia kenapa di sini? Apa karena bosan di kamar


terus? Sedangkan Al, ia mendampingi papanya ke luar kota usai makan malam tadi,


setelah Vico dan Shinta pergi.


“Queen, kamu ngapain di situ, Nak?” sapanya.


Queen menoleh ke belakang. Kemudian wanita muda itu terkejut


saat mamanya datang tanpa menggunakan kursi roda.


“Mama?” Queen langsung beranjak dari duduknya dan menuntun


mamanya, membawanya duduk di kursi sebelahnya.


Clara masih tersenyum sambil melihati putrinya. “Apa yang


kau pikirkan di sini sendirian? Ini sudah larut. Tidakkah kau sebaiknya


istirahat untuk pemulihanmu?”


“Aku belum ngantuk, Ma. Mama sendiri, kenapa belum tidur?”


“Mama tadi mau ke dapur. Tapi, melihatmu di sini. Ada yang


kau pikirkan?”


“Tidak ada, kok Ma.” Queen menjawab dengan senyuman. Tapi,


tak berani memandang wajah mamanya.


“Kau tidak suka jika Bilqis kemari? Boleh saja kau


membencinya. Tapi, jangan sampai kebencian dalam dirimu itu membuat akalmu


rusak. Yang kau benci adalah ibunya. Kau cemburu jika Nayla dekat dengan Al.


Tapi, Bilqis dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa, Queen. Bisa saja


kadang kamu merasa ibu dan anak sama saja, karena dipengaruhi. Tapi, nantinya


ia juga akan kembali perpedoman dengan apa yang ia lihat sendiri. Tak hanya


berdasarkan dari katanya, kok.”


Queen tidak menjawab. Tapi, juga tidak mengabaikan apa yang


mamanya ucapkan.


“Bersikaplah baik pada siapapun, sekalipun dia jahat sama


kamu. Karena kebaikan akan dapat meluluhkan hati seseorang.”


“Terus aku harus berbaik sama Nayla dan anaknya? Terus kalau


dia lama-lama minta rujuk sama Al? Aku tidak mau, Ma anakku memiliki dua ibu.


Dan aku hanya ibu dari anak yang kulahirkan saja. Bukan ibu siapapun. Tapi,


kenapa ada anak lain yang juga memanggilku mama?”


“Kau tahu, Al dulu sangat membenci mama. Jika kau tidak


percaya, kau bisa tanyakan padanya.”


Queen langsung memandang Clara dengan tatapan yang seolah


bertanya Serius? Dia tidak yakin itu. Sebab dari dulu Al terlihat sangat sayang


pada mamanya. Ketimbang dengan yang lain, hanya kata-kata mamanya lah yang


selalu ia dengarkan. Jadi, terasa tak masuk akan saja jika dulu seperti itu.


“Kamuy akin, Ma?”


“Tentu saja. Ini sudah larut. Ayo kita segera beristirahat.


Kau bisa tanyakan hal itu kepada suamimu besok, jika ada waktu.”


Queen menuntun mamanya mengantarkan ke kamarnya. Lalu, ia


pun masuk ke dalam kamarnya sambil berusaha memejamkan mata. Karena Al akan


pulang malam, kalau tidak dini hari.


***


Dengan perasaan yang luar biasa senang Al meninggalkan panti


asuhan sekaligus rumah kediaman calon istrinya. Ia tidak menyangka akan semulus


itu. Mengingat jika ia melihat kisah cinta religit, tidak pada film atau novel,


setiap wanita yang terlahir dari lingkungan religius selalu ada saja saratnya.


Minimal bisa tartil dan hafal beberapa surat pendek. Jika tidak bisa menghafal


surat Panjang. Surah Arrahman missal.


Alex tersenyum seorang diri sambil mengemudikan mobilnya


menembus kegelapan malam. Menikmati angan-angan indah yang ia ciptakan sendiri.


Tiba-tiba khayalannya buyar saat tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Melihat yang menelfonnya  adalah Novita, kakaknya sendiri ia segera mengangkat panggilannya.


“Halo, ada apa, Kak?”


“Kau ada di mana? Apakh kau sibuk?”


“Tidak kak. Apa ada masalah?” tanya Alex, panik saat


mendengar suara kakanya seperti seorang yang tengah menahan rasa sakit.


“Kakak sudah mulai kontraksi. Di rumah Cuma sama mama,


semalam ini juga tidak ada taxi. Pesan taxi online pun juga tidak direspon.”

__ADS_1


“Baik kak. Tunggu aku, aku akan segera ke sana dan


mengantarkanmu ke rumah sakit.”


Panggilan dimatikan, seketika Alex  langsung melajukan kendaraannya dengan cepat


kilat menuju ke kediaman kakaknya.


Begitu tiba di sana, Novita sudah merasakan sakit yang luar


biasa, bahkan untuk berdiri saja sepertinya tak sanggup. Alex segera


menggendong kakaknya dan membawanya ke mobil. Mendengar suara ribut, Axel pun


terbangun dan melihat ke luar.


“Nenek, apakah mama akan melahirkan adik bayi?”


“Iya sayang. Kamu di rumah saja sama nenek, ya?”


“Tapi, Axel sudah besar, usia Axel sudah duabelas tahun.


Harusnya tidak masalah kan imkut mama? Bia raku melihat adikku saat ia pertama


kali lahir nanti.


Tak mau berdebat dengan keponakannya. Karena melihat kondisi


sang kakak yang sudah seperti itu, Alex pun langsung mengiyakan saja. Jadi,


Axel maupun mertua kakanya pun juga ikut ke rumah sakit.


Saat menuju ke ruang bersalin Novita terus memegangi tangan


adidknya sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Tatpi, saat memasuki pintu seorang


perawat bertanya pada pria itu, “Maaf, pak. Apakah anda suaminya?”


“Bukan, dia adalah kakakku.”


“Anda jangan ikut masuk, ya? Di sini saja tunggu di luar.”


Alex mendur dan ikut duduk di ruang tunggu bersama


keponakannya dan juga Livia. Tapi, beberapa detik dia berdiri, mondar manir ke


sana ke mari tiada henti, sampai satu jam begitu. Barulah ia bisa diam dan


terlihat lega saat mendengar suara tangisan bayi.


Dengan sigap pria itu lari di depan pintu. Seorang perawat


keluar dan mengabarkan kalau bayinya laki-laki, anak dan ibu semua selamat dan


sehat.


“Apakah aku sudah punya adik, Nek?” tanya Axel dengan mata


berbinar.


“Iya, Nak. Adikmu laki-laki,” jawab Livia sambil meneteskan


air mata harunya. Akhirnya setelah sekian lama tak menggendong bayi, ia


memiliki cucu bayi lagi dari mendiang Aditya.


“Boleh saya masuk, dok?’’ tanya Alex.


dibersihkan.”


Tanpa sadar, Alex bahkan sampai salah sebut. Seorang suster


pun dipanggil dokter.


Tiba di dalam, ia melihat bayi mungkil berjenis kelamin


laki-laki. Ia terpaku. Tiba-tiba saja ia teringat anaknya yang tengah gugur


beberapa tahun silam dengan mantan istrinya. Harusnya ini bukanlah yang pertama


kali aku melihat bayi yang baru lahir. Tapi, ya sudahlah! Pikirnya.


Dengan tangan bergetar pria itu menerima bayi yang sudah


harum dan dibedong dengan kain berwarna biru laut bertema baby bear.


“Selamat datang di dunia sayang. Jadilah anak yang kuat


sekuat mamamu, sekalipun kau lahir tanpa seorang ayah. Dan kelak, semoga kau


jadi anak yang cerdas seperti kakakmu. Om janji, akan selalu meluangkan waktu


untuk kalian berdua. Papamu pasti senang di alam sana melihat kau sangat tampan


dan mirip dengannya,’’ gumam Alex seorang diri.


“Ibu dari bayi sudah bisa dijenguk, Pak.”


“Iya, Sus. Terimakasih, aku akan membawa bayi ini


kepadanya,” jawab Alex.


Tiba di ruang nifas, Novita nampak bersandar dan langsung


melihat ke arah pintu. Jadi, mata mereka saling bertemu. Alex yang sebelumnya


senang melihat bayi tampan dan cuby itu jadi ragu. Ia takut kalau saja dalam


hati sang kakak membenci Aditya, jadi ia depresi dan terserang baby blus.


“Kau mendapatkan keponakan laki-laki lagi, kan Lex? Bawa


kemari, biar kakak lihat,” ucap Novita. Terlihat senang dan lega.


“Ya, keponakanku lahir laki-laki lagi. Tidak masalah, aku


akan sayang padanya,” jawab Alex tanpa melangkahkan lakinya.


“Bawa kemari, ayo!” ucapnya sekali lagi.”


Karena Novita terus saja mendesak, akhirnya Alex pun membawa


dan memberikan bayi itu pada sang kakak. Begitu Novita melihat naknya keduanya


ia nampak surprise dan tersenyum lebar.


“Ya ampun… Ini Aditya junior. Lihat, Lex. Apakah kau tidak


merasa dia sangat mirirp papanya? Jika saja dia masih hidup pasti akan senang


melihatnya.”

__ADS_1


Mendengar kalimat itu, Alex langsung bernapas lega. Artinya


apa yang ia takutkan tidak akan terjadi.


“iya.”


Kemudian Axel dan neneknya masuk ke dalam, dan melihat cucu


kecilnya. Begitu menggendong sang cucu dan melihat wajahnya, ia pun juga tak


kalah heran  jika adiknya Axel sangat


mirip dengan mendiang papanya.


“Nov, Novita,” ucap wanita tua itu.


“Apakah mama berpikir dia mirip dengan Adit?” jawab Novita


sambil tersenyum di hospitalbednya.


Mereka pun tersenum bahagagia atas kelahiran anak kedua dari


Novita. Termasuk Axel, ia sangat senang dengan kehadiran adiknya. Artinya, dia


tidak akan kesepian lagi di rumah.


  Saking tegangnya


Alex sedari tadi, ia bahkan sampai lupa kalau tidak melihat hp nya sama sekali.


Dia juga baru ingat kalau ponselnya berada di dalam mobil. Sebenarnya enggan.


Tapi, jika dia tidak datang mengambilnya, pasti Zahara akan khawatir dengannya


nanti.


“Kak, aku ambil hp di mobil dulu, ya?” pamit Alex pada


Novita kemudian pria itu pun keluar meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan


menuju ke tempat parkir.


Sesampainya disana ternyata benar. Ada banyaak pesan yang


masuk dari Zahara. Mulai menanyakan apakah dia sudah sampai, lagi apa dan


kenapa, apakah sudah tidur? Bahkan ada beberapa panggilan tidak terjawab dari


kekasihnya itu.


“Ouch… Zahara!” seru Alex sambil memukul ringan wajahnya


sendiri. Ia jadi merasa bersalah dan tidak enak sendiri membuat gadis itu


mengkhawatirkannya.


Buru-buru lelaki itu membalas chat gadis itu dan mengatakan


kalau tadi di pertengahan jalan tiba-tiba saja kakaknya menelfon dan memberi


tahu kalau ia tengah kontraksi. Karena panik dan buru-buru menuju rumah sakit,


ia melupakan kalau hpnya berada di dalam mobil.


“PINK!”


Alex melihat ke layar ponselnya. Balasan dari Zahara secepat


itu. Ia kian merasa bersalah saja. Padahal ini sudah jam satu lewat. Tapi, dia


masih belum juga tidur, apakah menunggu balasan darinya? Karena merasa tidak


enak, pria itu pun langsung saja menelfon kekasihnya itu. Tidak lama panggilan


tersambung juga langsung dijawab oleh Zahara.


“Halo, Za. Kok kamu belum tidur?” tanya Alex dengan lembut


dan penuh rasa bersalah.


“Emmm… Iya, nih,” jawab gadis itu singkat. Ia sepertinya


sengaja tidak mengatakan kalau sebenarnya dirinya telah menunggu Alex. karena


dia takut pacar, yang baru beberapa jam lalu melamarnya jadi merasa bersalah.


Seperti itu yang ada malah rasa canggung saja nanti jika mereka bertemu.


“Kenapa? Mikirin aku?” goda Alex, sambil bersandari di


sebelah mobilnya.


“Ih, GR. Aku tuh sudah sempat tidur tadi, dan kebetulan pas


bangun tiba-tiba hp ku bunyi. Ternyata chat dari kamu.”


Alex hanya tertawa. Tapi, ia tahu kalau itu Cuma alasan


saja.


“Oh, iya, bagaimana keadaan kak Novi? Keponakan kita


laki-laki apa perempuan?” tanya Zahara, megalihkan topik.


“Apa? Keponakan kita?” Alex kembali tersnyum, dan sedikit


tertawa lirih.


“Ya, kan kalau kita sudah menikah nanti, keponakan kamu juga


keponakan aku, Lex. Dan kakakmu juga kakakmu.”


“Iya, kau benar, Za. Keduanya baik dan sehat. Anaknya


laki-laki lagi, hehehe.


“kamu sudah memfotonya? Boleh aku minta?”


“Belum. Kan tadi, hp ku ketinggalan di dalam mobil, Za.”


“Baiklah, kau tidak perlu memfotonya. Besok pagi, aku tudak


ada kegiatan. Aku akan ke sana. Di mana kakakkmu di rawat sekarang?”


“Di rumah sakit medica. Ya sudah ini sudah sangat larut,


bahkan juga dini hari. Kau cepatlah beristirahat, oke?”


Setelah mendengar jawaban dan ucapan salah dari gadis yang


ditelfonnya, Alex pun mematikan panggilannya dan segera kembali ke ruangan

__ADS_1


Novita.


__ADS_2