
Usai makan malam, Andrean mengajak Al ngobrol di ruang baca tempat di mana keluarganya menyimpan dokumen-dokumen penting perusahaan.
Al masih nampak cemberut dan memainkan jari-jarinya mengetuk permukaan meja. Wajahnya nampak lelah dan kucel.
"Ada masalah?" tanya Andrean, memulai percakapan.
"Perusahaan semuanya stabil dan baik-baik saja, Kek." Al menghela napas dalam-dalam dan menghembuskan ya dengan kasar. Kedua telapak tangannya di gunakan untuk mengusap wajah lelahnya.
"Kamu ada masalah sama Nayla? Bukankah rumah tangga kalian dalam keadaan baik?" Andrean terus memperhatikan setiap ekspresi dan gestur tubuh cucu laki-laki nya itu.
"Iya, Kek. baik kok. kan tadi sudah Al ajak keluar bareng sama Bilqis juga." Pria itu berusaha memalingkan wajahnya dari pandangan kakek. Entah risih, atau takut ketahuan jika tengah berbohong.
Andreas menghela napas panjang, tidak ingin mencecar pertanyaan pada cucunya. dia tahu, Al akan kesulitan jika ditanya kenapa Nayla dan Bilqis bisa tertinggal. Jadi, ia mengalihkan pembicaraan mengenai dia dan istrinya m dia malah membahas tentang Quen, lalu nanti, pasti Diaz juga ikut di bahas.
"Kamu sudah baikan sama Quen belum? jika memang kamu salah, kenapa tidak mau minta maaf?"
"Iya, nanti saja, Kek. Kalau Diaz sudah pergi."
"Selesaikan masalahmu dengan baik, kau tahu watak adikmu, dia bukanlah orang pemarah tapi, jika sekali dibuat emosi... kakek rasa kau juga pasti tahu jawabannya."
"Iya, Kek. nanti Al bakal minta maaf sekalian ngasih ponselnya."
"Ok, mengenai hubungan Quen dan Diaz gimana menurut mu? Mungkin baiknya mereka biar segera tunangan saja."
Al nampak tersentak. Beruntung dia segera dapat menguasai diri dan emosinya. Jika tidak, pasti dia sudah akan menunjukan ketidak terimaannya.
"Apa tidak terlalu cepat, Kek?"
"Mereka cuma tunangan, biarkan dulu mereka jalani, jika sudah terikat gitu, kan enak pihak luar akan takut mendekati wanita atau pria yang sudah bertunangan."
__ADS_1
"Jaman sekarang, Kek. Jangankan yang masih tunangan, yang sudah menikah saja juga direbut. Masih ingat, bagaimana Alex, dulu?"
"Lalu, apa yang kau lakukan jika melihat ada wanita lain berusaha merayu Diaz?"
"Aku kasih dia pelajaran, Quen sudah pernah merasakan sakitnya kehilangan, dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi, Kek. Aku sudah janji pada papa dan mama untuk menjaga Quen dan tidak membiarkan dia sedih lagi."
Andrean tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. "Kau memang pantas jadi kakaknya Queen, kau sangat baik dan bisa melindungi adikmu."
"Al, tolong ambilkan ponsel kakek di halaman belakang, tadi kakek lupa, meninggalkan di sana. takut nanti kehujanan, lagi."
"Oh, iya, kek. Sebentar kakek tunggu di sini. biar Al ambilkan." Dengan segera
Andrean mengamati Al yang tengah keluar meninggalkan ruangan sambil tersenyum penuh arti.
"Aku sudah capek, diam dan pura-pura bahagia, Diaz. Aku capek berpura-pura tersenyum seolah tak terjadi apa-apa padahal hatiku hancur dan remuk setiap kali mekihat kemesraan kau dan Queen!"
Baru saja Al mau mengambil ponsel kakeknya, dia dikejutkan dengan suara teriakan wanita yang diiringi dengan isakan. Ia berusaha mencari sumber suara itu. Ternyata Hanifah dan Diaz keduanya tengah berdiri di dekat kolam renang.
"Hanifah, maafkan aku," cuma itu yang keluar dari bibir Diaz.
"Al, lama sekali, ada tidak hp kakek?"
Al yang semula tertegun melihat Diaz dan Hanifah terperanjat kaget saat tiba-tiba sang kakek muncul di belakangnya.
"Eh, iya Kek. ada ini, maaf jika lama," ucap Al buru-buru mengambil dan memberikan kepada kakeknya.
"Ada pa Al lama sekali? apakah tadi tidak di meja? mungkin kakek lupa naruh dan salah ingat," ucap Andran sambil tersenyum saat menerima ponselnya.
"Gak, kok Kek ada tadi di meja."
__ADS_1
"Kak Al, Kakek, aku pulang dulu!" seru Hanifah tiba-tiba sambil setengah berlari dari belakang, gadis itu menunduk menyembunyikan wajahnya sambil sesekali menyeka air matanya.
Tak lama kemudian Quen keluar dari dapur dengan satu mangkok tanggung berisi salad buah.,
"Loh, Hanifah kok tiba-tiba pulang? katanya minta dibuatkan salad buah," ucap wanita itu dengan raut wajah sedikit kecewa.
Begitu terdengar suara mobil Hanifah meninggalkan pagar, dari arah belakang Diaz berjalan dengan langkah gontai, menghampiri Quen.
Andrean berlagak bingung dengan apa yang barusaja terjadi ia betanya pada Diaz dan Quen, mengenai cucu keponakannya itu.
"Ada apa dengan Hanifah? Kenapa tiba-tiba pergi dan sepertinya menangis, tadi?" tanya kakek Andrean sambil memandang ke arah Diaz dan Queen.
Queen memasang ekspresi bingung dan menjawab pertanyaan kakek Andrean. "Aku tidak tahu, kek. kan aku baru saja di dapur tadi kami bertiga bermain game,dan yang kalah menerima hukuman. aku yang kalah, Hanifah jadi pemenang pertama, dia minta aku buatin salad buah, dan tahu-tahu.... " Queen melihat ke arah luar, tidak melanjutkan kalimatnya.
Setelah mendengar penjelasan dari adiknya, barulah tahu dan dapat mengerti alurnya. Jadi, diam-diam Hanifah sengaja melakukan itu untuk demi mengungkapkan perasaanya terhadap Diaz. Dia ingin merebutnya dari Quen.
"Ya sudah, mungkin dia lagi sensitif dan sedang ada pada mood yang kurang baik. Al, besok kalau ada waktu, coba temui dia,ajak dia bicara. Sebab, sejak tadi dia juga banyak diam. Tante Eren dan om Hans sudah menitipkan dia pada kita, jadi kita harus menjaganya."
Al tidak menjawab selain menganggukkan kepalanya. tak lama kemudian Diaz pun berpamitan.
Queen meletakan salad buah yang dibawanya di atas meja ruang tamu, dia mengantarkan Diaz sampai depan pintu.
"Kamu hati-hati, ya?" ucap Quen sambil menatap ke dalam mata pria yang lebih tinggi beberapa cm darinya itu.
"Iya, aku akan hati-hati, kok." Diaz tersenyum lembut sambil mengelus kepala Quen.
Setelah mobil Diaz keluar pagar dan tak nampak lagi dari pandangannya, Ia pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Bi, tolong bantu saya nyimpan salad huah di kulkas, ya. saya malas makannya. Tapi, kalau bibi mau, buat ambil aja gak apa-apa," ucapnya pada Bik Yul yang berada di belakangnya setelah menutupan pagar untuk Diaz.
__ADS_1
Queen merasa jengah ketika melihat Al di depannya. sejak kejadian itu, ia merasa jijik melihat wajahnya. Dengan segera ia menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Tapi sayang, keteledorannya dari dulu masih tidak berubah. ia terkejut saat keluar dari kamar mandi, untuk mencuci muka melihat Al sudah duduk di tepi ranjangnya.