Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 8


__ADS_3

Saat jam istirahat sekolah, Quen duduk di meja kantin sendirian, sementara kedua temannya hilang entah ke mana.


Tidak jauh dari tempat ia duduk berdiri seorang siswa membawa nampan berisi dua mangkok baso dan dua gelas es jeruk sambil memperhatikan kursi kantin.


"Kak, Juna!" Seru Quen, melambaikan tangan.


Dengan cool Juna berjalan menuju kursi Quen.


"Sendirian saja, Nih? Mana Sinta dan Bella?"


"Gak tau, kemana tadi mereka. Kakak, mana temannya?"


"Ini, ada di sini." Juna meletakan segelas es juruk dan satu mangkok baso di depan Quen.


"Ini, untuk aku? Waah enak nih ditraktir makasih, ya kak." Gadis itu pun tersenyum sambil mengeratkan duduknya pada pria di sampingnya.


Baginya hal biasa seperti itu ia lakukan pada Kakaknya Al, tp dia tidak sadar kalau Juna hanyalah seniornya, bisa saja karna ada rasa dia begitu.


"Sekali-kali tidak apa-apa," jawab Juna berlagak cool.


Keduanya pun asik menikmati basonya sambil duduk berdampingan.


"Kak, ini tadi sambalnya lima sendok,ya?" tanya Quen saat pertama kali mencicipi kuah.


"Kenapa? Terlalu pedas, ya? Soalnya aku sering tahu kalau kamu makan baso dengan lima sampai tuju sendok sambal," jawab Juna gugup.


"Waah, Kak Juna perhatian, deh. Gak kaya abangku Al." Lagi-lagi Quen tersenyum centil namun manja sambil menempelkan pipinya di lengan atas Juna.


"Memang kakakmu tidak tahu selera makanan kamu?"


"Ya tahu, lah. Tapi dia crewet." Quen pun tertawa.


Sementara Juna memandang sambil tersenyum simpul melihat keceriaan gadis di sebelahnya itu.


Saat keduanya asik makan sambil ngobrol tiba-tiba Quen dikagetkan dengan segelas es jeruk di depannya mengguyur wajahnya.


Ia benar-benar kaget, begitupun Juna.


"Helena, aku ada salah apa sama kamu?" tanya Quen yang wajah dan baju bagian depannya basah.


"Aku sudah bilang, kan. Jangan ganggu aku dan Alex lagi, kau..."


Tanpa menunggu kalimat Helen seleasai Quen membalas dengan menyiramkan semangkuk basonya ke wajah Helen.


"Kau ini sudah gila, ap tidak lihat aku duduk dengan siapa? Semua kontak dan medsos Alex juga udah aku hapus."


"Beraninya kau, ya!" Seru Helen marah saat merasakan panas dan pedas di matanya.

__ADS_1


Kantin pun mendadak heboh, dua gadis itu kini jadi pusat perhatian.


"Helen, sudah! Kau yang memulai duluan!" Seru Juna tidak sabar.


Menyadari yang bersama Quen adalah Juna ketua osis, Helen pun tidak berani berulah lagi.


"Kak, kau membela gadis ganjen ini? Bahkan dari tadi dia berusaha merayumu kau diam, saja?" ucap Helen tidak terima.


"Tidak ada yang merayu, Quen sudah seperti adikku sendiri, kau pergilah."


"Kau pasti sudah mencuci otak semua teman-teman agar berpihak padamu, kan?" ucap Helen tidak terima sambil menunjuk ke arah Quen.


"Buat apa aku capek-capek mencuci otak siswa SMA kita? Kurang kerjaan, apa? Yang perlu dicuci otaknya tuh, kamu! Itupun jika kau punya otak!" Seru Quen sambil pergi meninggalkan kantin.


"Quen, bagaimana pakaianmu basah."


"Tidak apa-apa, kak. Aku akak pakai kaus olahragaku tadi, aja," jawab Quen sambil terus melangkah.


"Tapi..."


"Udah aman-aman aja selagi dalemanku gak basah," jawab Quen asal nyeplos tanpa memperhatikan dengan siapa dia bicara.


Sementara Juna dia hanya diam tidak brani bicara lagi mendengar jawaban terakhir Quen yang dirasa terlalu Vulgar.


*****


Usai mengganti pakaian, Quen merasa ada getaran di saku rok seragamnya.


'Dengan prilakumu yang seperti itu, kau sama saja mencari masalah denganku, awas saja. Kubuat tidak tenang hidupmu.'


Tanpa menyelidiki pun Quen sudah dapat menebak, karena selama ini dia tidak memiliki satu pun musuh.


Tapi dia tidak memikir hal itu.


Ia pun berjalan menuju kelasnya. Meski sempat di introgasi dengan guru, namun beliau tetap mengizinkan ia ikut belajar. Sementara Helen, sepertinya ia tidak mengadukan pada guru BP. Karena, sampai jam pulang ia tidak dipanggil.


Di luar gerbang sekolah, ia melihat mobil papanya berhenti di sana. Dengan srgera ia menyebrangi jalan menghampirinya.


"Halo, Sayang," sapa Vano saat putrinya duduk di samping kemudi.


"Tumben Papa mau jemput Quen pulang." Gadis itu bersalaman mencium punggung tangan kanan Vano lalu berlanjut kedua pipinya.


"Mumpung Papa ada waktu luang, akhir-akhir ini kan, papa jarang ada waktu buat kalian," jawab Vano mulai menyalakan mesin.


"Pah, ke mini market dudu, ya. Quen haus banget, nih."


"Ok, kita berhenti di depan situ saja, ya?"

__ADS_1


Sekitar seratus meter Vano berhenti di sebuah minimarket kiri jalan. Jadi, Quen tidak perlu menyebrang jalan lagi.


Cukup lama Vano menunggu Quen tidak juga muncul, sudah lewat lima belas menit. Harusnya sudah kembali dari tadi jika hanya memebeli minuman dingin atau pun sama cemilan.


Merasa ada yang tidak beres, ia pun memutuskan keluar.


Ternyata benar saja, di samping mini market itu anak perempuannya seperti tengah berurusan dengan anak sebayanya.


Vano melihat ekspresi lima anak yang mengelilingi putrinya seperti tengah melakukan bulliying.


"Hey, ada apa, ini?" teriak Vano.


"Hehm... Ternyata simpanan om om kamu, ya?" ledek salah satu dari mereka sambil tertawa merendahkan Quen.


Beruntung Vano sudah dekat dengan mereka, jika saja tidak. Pasti Quen sudah meninju anak itu, Helen.


"Sayang, apakah kau ada keperluan dengan teman-temanmu?"


"Mereka orang sakit jiwa, bukan temanku, Pah." Quen berjalan melewati teman-temannya menuju ke papanya.


Begitu sampai di mobil Vano menanyakan prihal dirinya dikeroyok oleh lima anak perempuan tadi, yang juga merupakan anak SMA.


"Ada masalah apa kamu dengan mereka?"


"Tidak ada, Pah." Quen tidak berani menatap ke arah papanya.


"Kamu sejak kapan belajar berbohong?"


"Sebenarnya satu dari mereka yang cari masalah duluan. Tapi, karena dia ketua ganknya, ya gitu, bawa pasukan."


Vano diam mengamati putrinya, terlihat kalau dia tidak berbohong.


"Ya sudah, kamu jangan berulah duluan, ya?" ucap Vano sambil mengacak-acak rambuk Quen.


Di mata Vano putrinya adalah sosok gadis lembut dan feminim, tidak terbayang olehnya, dibalik keanggunan penampilannya ia justru lebih parah dari mamanya saat SMA dulu.


***


"Helen, kau sembarangan, tadi itu papanya, Quen. Loh!" ucap salah satu dari mereka.


"Menang, kau tahu dari mana?" tanya Helen pada Tika.


"Banyak yang bilang kok kalau papanya Quen itu ganteng dan macho," jawan Tika.


"Dan lagi, tadi Quen manggil dia papa. Emang kau gak dengar?" imbuh Tika lagi.


Helen diam sesaat, ia semakin bertambah benci saja mendengar nama Quen disebutkan.

__ADS_1


Selama ini Quen memang jarang pajang foto diri dan keluarganya di media sosial. Kalau pun mereka tengah berlibur hanya obyek yang di foto. Bisa tempat, makanan atau kakinya yang memakai sepatu atau sendal sekalipun. Dengan hastag dengan siapa dia jalan-jalan atau berlibur.


Mungkin jika dia mau pasang fotonya, bisa-bisa dia jadi selep gram. Selain cerdas cantik, juga sering traveling. Tapi, hal itu tidak diizinkan oleh mamanya.


__ADS_2