
Hanifah dan Quen masih belum bisa tidur. Keduanya menatap langit-langit kamar sambil sesekali mengobrol. Entah kenapa, mereka belum tidur meski sudah hampir jam dua belas dini hari.
"Quen!" panggil Hanifah.
"Hembh," jawan Quen singkat.
"Kau tidak ngantuk, ya? Kok belum tidur!"
"Ya, biasa ngerjain tugas malam kadang sampai jam satu baru bisa tidur, la kamu?"
"Sama, Aku juga jelang subuh baru tidur, kan aku kuliah malam."
"Kau kan emang burung hantu, Nif, gadis kuntil anak, tau gak?"
"Dih, apaan? Masa di samain setan?" Dengan cepat Hanifah menoleh ke arah Quen.
"Ya iyalah. Di mana ada kunti dan burung hantu keliaran saat siang?" tanya Quen balik.
"Iya, sih. Habis pualng ngampus dugem ma temen-temen, trus ngantuk pas jelang subuh, tidur dah sampe jam sepuluh pagi.
"Jangan terus-terusin hidup kek gitu kalau pengen nikah sama lelaki Indo. Di siram air comberan kau ma mertua jam segitu baru bangun."
"Ya, pas lagi di rumah mertua bangun pagi, Quen."
Dan kembali dua gadis itu tertawa.
"Eh, by the way, kamu tidur di sini, Alex gapap, ya?" tanya Hanifah penasaran.
"Tidak apa-apa. Dia tidur sama kak Al."
"Lah, Kak Nayla?"
"Berantem, dan kayaknya agak parah, sih. Kakak badannya sampe gemetaran gitu saking nahannya amarah."
"Hah, berantem? Eh, tapi kalau lihat kak Nayla tuh kayaknya wajahnya ya judes sinis, gitu. Kak Al kok mau sih?"
"Mana ku tahuu tanya dia!"
"Ntr kamu marah aku deketin kakakmu lagi?"
"Ya manggilnya gak boleh kak Al kaya aku. Kamu harus panggil dia kakak sepupu," jwab Quen.
"Astaga! Quen kau tidak sedang sakit, kan?" Tangan Hanifah merambat meraba ke kening Quej di sampingnya.
Cukup lama Hanifah berbicara tapi tak ada respon dari Quen. Dia pin melihat apa yang terjadi ternyata gadis itu sudah pulas terlelap.
"Hih, dasar bocah kurang asem. Ngajak bicara malah enak-enakan ngorok, apa maunya, coba?" guman Hanifah seorang diri.
🍁 🍁 🍁 🍁
Jam setengah enam pagi, Quen sudah bangun. Karena tidur bersama Hanifah di kamar tamu, tanpa gosok gigi dan cuci muka dia langsung saja ke dapur untuk memasak sesuatu. Tapi, sepertinya dia masih mengantuk karena efek begadan semalaman dengan saudarinya yang super pula itu.
"Non, kalau masih ngantuk kenapa di paksa bangun?" tegur Lyli saat melihat mata Quen nampak mengantuk dan lelah.
"HOAM!" Quen menutup mulutnya dengan tangan kanan dengan bahasa kurang jelas ia menyahut, "Sejak menikah, aku belum membuatkan sarapan untuk suamiku. Kemarin, di apartemen dia yang masakin aku," jawab Quen apa adanya.
Lyli tertawa tertahan, karena memang jarang sekali ia melihat nona muda nya ini bangun pagi, kecuali ada permintaan tertentu pada seseorang untuk dimintai apa yang dia mau, yang paling sering ya Al. Kakak royal dan tak peritungan pada adiknya.
"Kita masak apa pagi ini, kak?" tanya Quen berlagak semangat. Padahal aslinya matanya masih nyala lima mega watt.
"Quen, jorok sekali masuk dapur tidak cuci muka dulu," tegur Clara saat masuk di dapur melihat mula kucel anak perempuannya.
"Yah, semalan tidur di kamar Hanifah, Ma."
"La terus Alex? Kau biarkan tidur sendirian?"
"Sama kak Al," Jawab Quen menganmbil panci kecil dan mengisinya dengan air kran.
"Kanapa Al tidur sama Alex?" tanya Clara heran.
"Ya kakak brantem, lah. Dari pada tidur di sofa, kan gak lucu dia." jawab Quen lalu membalikan badannya dan mencuci piring kotor, karena dia benar-benar taknada ide selain hanya membuat nasi goreng dan omelet saja.
"Kita masak apa, Bu hari ini?" tanya Lyli pada Clara.
"Buat sarapan, ya? Kak Hans kemarin bilang pengen nasi pecel. Kita bikin itu saja, Quen ambil kacang tanah di dalam lemari, kamu goreng sebanyak dua gelas. Buat sambalnya, ya? Mama nyiapin yang buat rempeyeknya. Itu sudah mama cuci sebelumnya jadi tidak perlu dicuci lahi biar tidak meledak ledak saat digoreng." ucap Clara.
__ADS_1
Dengan cekatan dia mengambil tepung beras dan tapioka untuk membuat rempeyek dan menaruhnya dalam wadah.
"Kak Lyli, tolong siapkan blender untuk membuat bumbu, nya! Dan kamu, Quen, itu apinya yang kecil saja kamu kupas bawawang merah, bawang putih dan kencur. Tambah cabe merah dan rawit sama daun jeruk lima lembar, ya? Goreng sekalian nanti diblender jadi satu."
"Ok, Ma, beres," jawab Quen dan melaksanakan tugas yang diberikan mamanya dengan semangat.
"Bu, ini Blendernya," ucap Lyli sembari meketakan pada meja kitchen set tepar di sebelah colokan.
"Ok, makasih, kakak tolong beraihin sayurnya ya, pakai itu saja, tauge, kacang panjang sama sawi aja biar cepat lalu di rebus, tauge cukup diremdam dengan air panas saja 2 menit."
Mereka bekerja sama sling membantu, sementar Clara fokus dengan rempeyek kacang tanah yang ia buat. Urusan lauk, nasi dan sayur ia serahkan kepada Quen, Lyli dan Eren juga Jeslyn yang juga sudah bangun dan masuk ke dapur.
"Ih, Quen rajin juga, ya? Pinter masak dia," puji Eren.
"Ya, donk, anak siapa dulu!" ucap Clara sambil tertawa.
"Hahaha, ok aku percaya deh, dia nurun ke kamu sama tante Vivian. Oh, iyaz Hanifah belum bangun, ya?" tanya Eren pada semua yang ada di dapur.
"Dia sampai malam kemarin tidurnya. Oh, iya pipi Hanifah kenpa, Tan kok bengkak, katanya dia habis jatuh," tanya Quen.
"Kok kamu tahu, Quen?" tanya Eren, terkejut.
"Semalam mereka tidur bareng, Ren. Bukan kah dari kecil seperti itu, brantem damai brantem lagi dan damai begitu saja terus," sahut Clara.
Eren terbengong hampir tak percaya, bukan soal Hanifah yang sudah berdamai dengan sepupunya. Tapi, bagaimama bisa Quen yang pengantin baru meninggalkan suaminya sendirian?
"Lalu, Alex?"
"Dia sudah ada yang temanin, Te."
Bersamaan dengan itu Nayla datang ke dapur-untuk bantu-bantu. Kebetulan memasak sudah hampir selesai, dia hanya memimdah masakan ke meja makan dan mencuci beberapa perabot yang kotor sisa digunakan untuk memasak.
"Bilqis sudah bangun, Nay?" tanya Clara, berbasa basi. Sebab, kalau nanya soal Al, jelas dia pasti tidak tahu.
"Sudah, Ma. Baru saja mandi, dia ada di taman sama papa Andreas dan papa Andrean," jawab Nayla sambil tersenyum dan membawa masakan ke meja ruang tamu.
"Quen, kau mandi lah dulu, kan ini sudah selesai. Pngantin baru masa iya kumel kek gitu," ucap Jeslyn sambil tertawa dan diikuti oleh Lyli Eren dan juga Clara.
Tanpa menjawab Quen pun meninggalkan dapur, pergi ke atas. Menuju kamarnya. Ia sadar, kalau dari bawah kakak iparnya tengah mengamatinya. Ketika pintu di buka Quen melihat kakak dan suaminya sudah rapih.
Karena melihat Quen masuk kamar, Al pun keluar. "Sudah bangun, kak?" tanya Quen pada Al yang tengah bersimpangan di depan pintu.
"Selamat pagi, sayang!" Seru Alex begitu Quen masuk. Dan langsung saja pria itu menyerbu Quen dan memeluknya erat.
"Lex, aku bau dapur, belum cuci muka juga," ucap Quen merasa tidak enak sambil memalingkan wajahnya.
"Kau pikit aku peduli? Tetap saja kau Quen, ratu di hatiku," bisik Alex dengan suaranya yang sexy dan menggoda.
Quen tersipu malu, menunduk dan membuang mukanya ke sebelah kanan. Sementara Alex mendekatkan badannya semakin erat hingga menempel dengan Quen. Kedua lengannya meraih pinggang wanita di depannya dan memeluknya erat sekali.
"Alex, aku belum mandi, mereka menunggu kita untuk sarapan,"
"Cium aku dulu," rayu Alex.
"Tidak mau, nanti saja kalau sudah mandi," ucap Quen, kehilangan rasa percaya diri.
"Atau, aku tidak akan melepaskanmu?"
"Apakah kau tahan lapar?" Aku, kan tidak," jawab Qeun sambil terkikik.
"Ayolah, sayang! Sekali saja plis. Semalam kau tidak tidur denganku," mohon Alex merengek seperti balita yang minta di beliin permen, es krim atau balon.
Quen mengalungkan kedua lengannya pada leher Alex, lalu berjinjit hendak memberikan kecupan, tapi urung karena pintu kamar mereka ada yang membuka.
"Damn it, siapa pagi-pagi gini buka pintu tanpa permisi, apakah Hanifah?" gumam Quen emosi. Dia tidak malu ketahuan mencium suaminya, tapi, merasa tidak punya muka ketahuan bercumbu saat suaminya sudah fresh dan ganteng, sementara dia, bau air saja mukanya belum.
Dengan cepat keduanya saling melepas dan mengambil jarak, betapa Quen terkejut, yang ada di ambang pintu bukanlah Hanifah si ular betina itu, tapi, justri kakak iparnya, Nayla.
"Kak, Nayla ada apa?" ucap Quen berlagak santai, padahal aslinya dia sangat tidak suka dengan orang yang berani masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu atau permisi.
Tapi, ia pilih mengalah dari pada ribut, sebab dia istri kakaknya. Lalu, kenapa istri kakaknya tiba-tiba saja berubah begini?"
"Oh, maaf, kukira kau sendiri di kamar, Quen. Semalam mas Al tidur di sini, ya?" tanya Nayla canggung.
"Iya, Kak. Ada apa? Bukanyua kak Al sudah keluar bersamaan aku masuk tadi?" tanya Quen heran.
__ADS_1
"Oh, iya. Aku tahu, kalian semalam bertiga tidur di sini?"
"Aku tidur dengan Hanifah, dan Kakak tidur sama Alex," jawab Quen. Tak paham dengan maksut pertanyaan Nayla.
"Oh, ya sudah, kau mandilah dulu, Quen. Kami tunggu di meja makan." Nayla menutup kembali pintu kamar Quen dan masuk ke dalam kamarnya.
Quen saling menatap dengan Alex. Quen nampak enggan membahas. Tapi, ia mulai merasa kalau dialah penyebab bertengkarnya Al dan Nayla, tapi apa?
"Apakah kau ada masalah dengan kakak iparmu, Sayang?"
"Harusnya tidak, selama ini hubunga. Kami baik-baik saja," jawab Quen sambil berhambuf ke kamar mandi.
Sekitar dua menit, Quen meneriaki Alex, beruntung Alex belum keluar kamar.
"Alex, apakah kau sudah pergi?"
"Tidak, aku ada di sini. Kita turun bersama saja, kenapa?"
"bisa kah kau menolongku?" ucap Quen dari balik pintu sambil membuka sedikit untuk menginti Alex yang duduk di meja belajar Quen sambil memainkan gadget-nya.
"Apa'an?" Alex meletakan smart phonenya dan menatap ke arah pintu. Bukan pintu, tentunya pria itu tahu kalau Quen tengah mengintipnya untuk sebuah bantuan.
"Aku lupa bawa handuk, tolong ambilka, ya? Pliis." Bahkan gadis itu memohon dengan tatapan dimelas-melasin, hingga urung Alex untuk menjailinya.
"Ok, sebentar, ya?" Alex pun beranjak mengambil handuk biasa berukuran agak besar berwarna merah muda. Dia harusnya tahu kalau Quen suka yang berbentuk baju kimono, tapi, sengaja dia ingin melihat istrinya tampil sexy di hadapannya.
"Ini!" seru Alex sambil memberikan tampa melihat ke arah pintu.
"Ok, makasih, Sayang," ucap Quen tersenyum tapi mendengus kesal saat sadar kalau Alex tidak mengambilkan yang biasa dia pakai.
Tapi, tidak masalah, not to bad. Dari pada harus keluar mengambil handul tidak lucu, kan sedangkan dia sudah polos di dalam, dah siap mandi saja.
Selesai mandi Quen segera mengambil pakaian santai, ia memilih celana jens pendek seatas lutut. sebab, dia tidak mau ditegur Al di depan suaminya. dengan kaus pres body warna putih bergambar tikus.
ia juga sempatkan menyisir rambut dan menguncirnya ekor kuda, dan menngenakan hand body lalu menghampiri Alex yang sedari tadi sibuk memperhatikan dirinya di depan cermin.
"Apakah aku terlalu lama berdandan?" tanya Quen pada Alex karena sedari tadi hampir saja dia tidak berkedip sekalipun.
"Tidak juga, kau tidak pakai bedak?" tanya Alex.
"Cukup memakai cream wajah saja buat skin care, kenapa? apakah kau suka aku bermekap?" tanya Quen penuh perhatian.
"Tidak juga, aku suka dirimu yang begini, tetap natural tapi cantiknya luar biasa," ucap Alex sambil mencium pipi istrinya.
"Hidih, kau gombal sekali, Lex, belajar sama siapa kamu?" ucap Quen sambil tertawa.
Saat Alex dan Quen tiba, semua keluarga besar sudah berkumpul di sana, termasuk Erwin. Rupanya makhluk jadi-jadian itu semalam menginap di sini, lalu, tidur di mana dia? dengan siapa? tidak dengan dua priauda yang ada di rumah ini, kan?
"Apakah semalam kau tidur hanya berdua dengan kakakku saja?" bisik Quen kepada Alex.
"Ya, memang kenapa?"
"Aku kawatir, dia tidur di tengah-tengah kalian semalam,"
"Dih, amit-amit. Ya gak lah," jawab Alex ikut bergidik.
"Om, nginep di sini, ya semalam?" sapa Quen kepada Erwin.
"Iya, semalam main kartu kemalaman, kan horor anak gadis kelayapan sendirian. Kawatir takut diperkosa, jadi ya nginep di sini sajah," jawab Erwin dengan logat dan gaya inces Syahrini dengan luwes dan 99% mirip.
Jeslyn tidak mampu menahan tawanya, dia ngakak begitu dengar jawaban dari Erwin.
"Astaga, Ra. kau bagaimana punya teman seperti itu?" tanya Jeslyn yang duduk tepat di sebelah Clara.
"Itu Roh Clarq dan Erwin ketukar saat berada dalam alam kandungan, Jeng!" cetus Eren. yang membuat Jeslyn ibu kandung dari Al semakin terpingkal-pingkal saja.
"Ketuker gimana mbak Eren?"
"Ya, kau lihat saja, Erwin Feminimnya kelewat sampai sekarang. dulu, Clara tomboy banget, beruntung Vano bisa merubahnya."
"Oh, kalian dulu teman SMA, ya? asik ya teman jadi saudara."
"Tante Eren, kata Nenek, Om Erwin itu mantannya mamaku, loh," sahut Quen.
"Aduh. ni bocah ngelantur saja deh, Van anaknmu." Vano hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Amit-mait jabang orok, cuih sama Lala, mending pilih Al saja atau Alex jadi madunya pun aku rela," jawab Erwin sewot.
"Alex, kau mau cari istri lagi, kah? boleh aja asal madam Erwin yang jadi maduku," Jawab Quen sambil menbambil dan mengisinya dengan nasi dan sayuran serta sambal pecel yang dia bikin tadi.a