Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 101


__ADS_3

"Halo, iya kak. Ada apa?" Quen mencatat laporan hasil praktik hari ini sambil menggapit ponsel di antara bahu dan telinga kirinya.


"Kau di mana sekarang?" sahut suara itu.


"Aku masih di rumah sakit. Sebentar lagi setelah mengumpulkan laporan juga pulang, memang ada apa kak?"


"Ada yang menjemputmu, tidak?"


"Iya, Alex sudah berada di depan rumah sakit. Kakak mau jemput aku?"


"Ya sudah. Kalian berdua kemarilah. Besok papa mama dan semuanya akan pergi berlibur ke paris. Temani kak Nay dan Bilqis, ya kalau kamu tidak sedang kuliah."


"Ok, beres. Ya sudah kak, aku kumpulkan tugasku dulu, ya?"


Panggilan pun berakhir. Dengan langkah pelan dan tak tergesa-gesa Quen menuju ruangan. Begitu keluar dari ruangan dr.Lusi. Qeun tiba-tiba saja ingin me USG kandungannya, ingin tahu cowok apa cewek anaknya nanti, jadi, ia pun menelfon Alex memintanya masuk ke poli kandungan.


"Alex, kau kemarilah! Aku tiba-tiba ingin usg," ucap Quen ketika suamibya sudah menjawab panggilan selulernya.


"Usg? Katanya apapun jenis kelaminnya biar jadi kejutan saja saat ia lahir sayang?" jawab Alex.


"Aku berubah pikiran, kemari, ya?" dengan nada manja Quen berkata membuat pria itu hanya tersenyum dan menuruti.


Sekitar lima menit Alex menghampiri Quen yang ikut antri dengan bumil lainnya. Semua mata tertuju pada pasangan muda itu. Sangat terlihat kalau sang suami begitu menyayangi istrinya.


Sesaat, Diaz tampak melitas. Melihat Quen duduk antri bersama pasien lain membuat pri itu menghampirinya. Sebab, Alex kebetulan tidak di samping Quen. Dia masih ke tempat yang sepi untuk mengankat panggilan.


"Mau Usg?" tanya Diaz.


"Iya, awalnya aku gak ingin usg, tapi, tiba-tiba aku berubah pikiran Diaz."


"Oh." Mulanya pria itu hendak duduk di sebelah Quen. Tapi, belum juga mengambil langkah Alex sudah menghampiri.


"Sudah ambil nomor Antrian, Sayang?"


Diaz menoleh tepat di sampingnya persis ia berdiri seorang pria berdarah Ingria dengan tubuh tinggi besar, mengenakan kaus hitam pres body seolah memamerkan otot-otot lengan dan perut six packnya.


Quen pun berdiri menyambut pria itu dengan senyuman dan berkata, "Kurang tiga antrian lagi, baru kita. Lex, kenalkan ini Diaz temanku. Diaz, dia Alex, suamiku."


Diaz tersenyum canggung dan saling berjabatan tangan. Keduanya bahkan terlihat akrab dalam beberapa menit saja. Dalam hati, Alex memang type orang yang asik dan tidak terlalu posesiv. Tapi, untuk mendekati Quen, ia semakin minder saja. Kalau pun bisa memilih, rasanya saat ini Diaz ingin pindah tempat praktik saja.


Dia tidak sanggup melihat Quen dengan orang lain, tapi, andai pun Quen belum menikah, pasti dia juga tak ada keberanian untuk memingangnya. Sebab dia cukup tahu diri.


"Kalian lanjut saja, ya? Aku harus segera balik, nih," ucap Diaz kepada Alex.


Dengan langkah gontai pria itu berjalan menuju area parkir. Hari ini sangat melelahkan baginya, tidak hanya fisik dan pikiran melainkan hati.


Tiba di parkiran, pria itu memasang sarung tangan yang disimpannya di dalam jok, motor, masker, helmet dan siap melajukan kendaraan maticnya menuju kos-kosan sebelum akhirnya nanti malam ia melakukan kerjaan sampingan sebagai pelayan restoran.


Tiba di kosan, diletakannya asal tas ransel dari pundaknya. Ia duduk meluruskan kaki di atas lantai sambil menyandarkan punggung pada ranjang tempat tidur.


Dipejamkannya mata sementara tangan kirinya memijati keningnya. Sesat mata itu terbuka dan menatap ke arah meja belajar dekat dengan ranjangnya.

__ADS_1


Pria itu nampak tersenyum seolah dengan hanya memandang foto dari album yang berdiri di mejanya sudah terbayar lelahnya.


Dengan merambat, ia berusaha menggapai album foto itu dilihatnya foto pakaian putih ala dokter dirinya bersama dua gadis cantik. Quen dan Gea. Jemari lentiknya membelai foto gadis berambut panjang serta bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.


"Jadi wanita yang kukira gadis kemarin ternyata sudah menjadi nyonya. Bahkan, sebentar lagi juga bersetatus ibu," gumam Diaz, seorang diri.


Selang beberapa saat, Diaz melihat ke arah kalender dan jadwal praktiknya. Ia memiliki waktu untuk berlibur selama dua hari. Jadi ia bermaksut untuk pulang ke Bandung malam ini setelah jam kerja usai.


Akhirnya, ia mengemas barang yang perlu dibawa lalu, segera mandi dan tidur sejenak menghindari kelelahan serta mengantuk saat berkendara.


🍁 🍁 🍁


Usai melakukan USG, Quen dan Alex berjalan menuju tempat parkir. Seperti biasa, mereka selalu saja menjadi pusat perhatian. Mulak dari para pasien, sesama koas bahkan suster yang kebetulan berpapasan pun, pandangannua selalu tertuju pada mereka. Bahkan, tidak sedikit yang kasak kusuk di belakangnya.


"Eh, itu kan koas yang biasa deket dengan kak Diaz, kan? Lihat, memang gitu ya kalau cewek cantik dan blateran, seleranya yang kakap, jika ga paus,"


"Iya, kasian kak Diaz, wanita yang dia cintai tak menganggapnya sama sekali. Dia lebih suka bule."


"Iya, tuh. Eh, tapi ngomong-ngomong bulenya ganteng juga, ya?"


"Gua lebih pilih kak Diaz meskipun dapat yang kayak itu sepuluh gua ogah," sahut fans berat Diaz dengan ketus.


"Serius gak mau yang kaya itu? Siapa nama cewek itu? Wen... Wen... Siapa?"


"Wen apa, sih? Quen!"


"Iya. Tidak mau sama cowok bule kaya milik Quen?"


Tapi sayangnya Quen tidak mendengarkan itu semua, dan satu pun dari mereka juga tidak ada ya g tahu kalau pria yang bersama Quen adalah suaminya.


"Mereka ke Prancis berapa hari, Sayang?" tanya Alex, bersamaan denhan menyalakan mesin mobilnya.


"Berapa ya? Gak tahu, mungkin satu minggu, Yang." Quen pun bersandar begitu sabuk pengaman terpasang.


Alex memperhatikan wajah lelah istrnya. Ia tersenyum tipis, begitu mobil sudah keluar dari area parkir, sebelah tangan Alex menggapai bahu kanan Quen, memijatnya lembut.


Sementara Quen sangat menikmati pijatan itu sampai-samapai matanya terpeja. Kembali Alex tersenyum kian lebar melihat hal itu.


"Kenapa? Enak, ya?"


"Iya nih. Capek banget hari ini. Gini ya kalau berbadan dua gampang capek," ucap Quen sambil tertawa.


"Ya sudah, tiba di rumah aku pijitin kamu nanti."


Selang beberapa menit mobil Alex sudah parkir di halaman rumah keluarga Quen.


"Sayang, ayo turun!" seru Alex.


Hening. Tak ada jawaban.


"Quen!"

__ADS_1


Karena tak ada respon Alex menoleh ke arah Quen. Ternyata wanita itu telah tertidur. Sepanjang perjalanan diam saja ternyata dia ngantuk banget, ya? Gumam Alex dalam hati.


Diperhatikannya wajah Quen lekat-lekat. Semakin dekat dan dekat. Terdengar dengusan napas teraturnya membuat Alex tidak tega membangungkannya. Tapi, ia juga tidak akan mungkin meninggalkan wanitanya di dalam mobil juga, kan?


Alex mencium bibir itu dengan hati-hati. Begitu bibirnya menempel, mata wanita itu terbuka. Kaget. Tapi, tidak langsung memberi respon. Ia terawa dalam hati mengetahui bagaimana tingkah suamunya.


Alex menyudahi ciumannya saat merasa perubahan pada napas Quen.


"Udah, gitu aja nyiumnya? Gak lagi?" goda Quen pasa suaminya.


Alex tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, nanti saja kalau mau lagi atau lebih. Ayo, kita turun dulu," ajak Alex.


Begitu masuk ke dalam rumah, Quen mendapati suasana rumah itu sepi meski penghuni masih lengkap. Kalau pun tak ada salah satu dari mereka, paling ya Al. Urusan kerja di luar atau sekedar nongkrong. Di cafe bersama teman-temannya. Sementara yang lain sudah dapat di tebak kalau pada sibuk dengan persiapan liburannya.


"Quen, Alex. Kalian sudah tiba, sayang? Sini duduk. Kita semua kan mau liburan, ya? Dan bersmaan dengan itu Al juga ke Jepang. Dia sudah berangkat. Hanya saja tidak lama. Mama titip kalian temani Kak Nay, nya sama jaga rumah, ya?" ucap Clara.


"Iya, tenang saja, Ma. Nikmati saja nostalgianya. Kakak emang udah berangkat?" tanya Quen.


"Iya sudah, karena mendadak, mungkin tiga hari juga sudah sampai rumah kembali dia."


Alex membatin beberapa jam sebelumnya dia masih menerima panggilan dari Al, mungkin saat itu dia sudah bersiap untuk berangkat.


Tiba-tiba Alex merasakan kalau rumah ini penuh dengan kasih sayang. Bagaimana tidak, ibu mertuanya saja memanggil dia dan putrinya saja dengan sebuyan sayang. Karena rasa kasih sayang sudah tertanam dan di ajarkan sejak Al dan Quen dari kecil, wajar saja keduanya tumbuh saling menyangi. Bahkan ia tak jarang mendengar Al memanggil adiknya dengan panggilan sayang seperti orang tuanya. Tapi, sebagai yang lebih muda, Quen tidak pernah memanggil Al sayang.


"Mama rencana berapa lama di sana?" tanya Alex.


"Pengennya dua minggu tapi, kedua kakek kalian bilang seminggu saja cukup katanya.


"Oo, selamat berlibur, ya Ma? Aduh, badanku sakit semua. Aku mandi dulu, aja deh," ucap wanita itu lalu berjalan menuju tangga.


Saat ia melihat jajaran kamar tamu, ia menyadari betapa besarnya rumah ini. Semua akan pergi yang artunya hanya ada dia dan Nayla. Terus, siapa yang akan mebersihkan rumah jika pembantu tidak ada? Jika hanya mereka yang bersih-bersih Quen kayaknya tak mampu. Tapi, ia mekesampingkan dulu pertanyaan pertanyaan itu. Yang dia inginkan hanyalah mandi dulu baru istirahat sejenak sambil mengobrolkan hal ini. Kan, orang tuanya baru besok pagi berangat. Dan lagi juga pakai jet pribadi dari perusahaan yang dikelola sang kakak. So, tidak kawatir akan terlambat.


🍁 🍁 🍁 🍁 🍁


Quen sengaja bangun lebih awal sebelum semuanya terjaga. Ia memberikan sedikit kejutan pada yang akan liburan dengan menyiapkan sarapan. Meski hanya roti bakar sanwich tuna dan susu segar hangat untuk sarapan, setidaknya, ia menyiapkannya sendiri tanpa bantuan siapapun termasuk kakak iparnya yang rajin bangun pagi.


Saat ia baru akan memasukan roti dan sanwich ke dalam microwive, terdengar suara pak Makmur memanggil.


"Nyonya.... Tuan, ada yang datang!"


Karena penasaran, Quen pun keluar melihat siapa sebenarnya yang datang pagi-pagi begini.


"Siapa sih, sepagi ini," batin Quen sambil melihat jam dinding yang menempel di sebelah kiri foto pernikahan papa mamanya di ruang tamu. "Haahh... Bahkan ini baru jam lima lima belas menit," umpatnya lagi dalam hati.


Wanita itu pun terus berjalan ke depan memastikan siapa yang datang tanpa menyahut. Sementara Pak Makmur terus berteriak memanggil Nyonya dan Tuan tiada henti. Sampai akhirnya terdiam saat Quen tiba-tiba berdiri di depannya.


"Eh, Nona Quen, hehehe," ucap pria paruh baya itu sambil cengiran.


"Ada apa?"


"Anu, itu Non ada yang mencari Tuan Vano dan Nyonya Clara," jawab pak Makmur merasa tidak enak. Sebenarnya sih lebih ke serba bingung dan serba salah.

__ADS_1


Mau di abaykan sepertinya mendesak. Jika tidak... Ini masih sangat terlalu pagi.


__ADS_2