
Hanifah dan semua orang yang ada di ruangan itu tertegun mendengarkan penjelasan pria itu.
Queen jadi berfikir kalau selama ini Diaz memang tidak pernah dengan mudah memberikan pundaknya untuk dia bersandar. Selain dia mengistimewakan wanita, Queen juga sudah menikah.
"Aku adalah ratunya Alex. Meskipun dia sebagai rajaku tak lagi mengingatku. Tapi, dunia tidak akan juga tahu, kami adalah sepasang suami istri, aku berhak berjuang untuk hubunganku," gumam Queen dalam hati.
Sementara Hanifah ia masih bengong. Enatah apa yang ada dalam kepala gadis itu. Sementara kakek Andrean tersenyum seraya memandangi Diaz.
"Kalian banyak-banyak belajar saja pada dia, agar menjadi pribadi lebih baik. Hanifah. Kau putri seorang nahkoda. Ibumu pemilik klinik kecantikan dan kau kuliah di bagian bisnis dan merangkap sebagai bintang endros. Apakah kau merasa beruntung? Bahagia dan merasakan hati yang tenang?"
Hanifah masih saja bengong memandang Diaz yang duduk di sofa tunggal membelakangi pintu utama dengan malu-malu karena di perhatian oleh wanita cantik.
"Hanifah! Apa yang kau pikirkan? Bahkan kakek mengajakmu bicara kau tidak sadar?" ucap Queen sambil menggoyangkan tubuh soaudaranya itu.
"Ah, apa sih? Siapa yang bengong?" Kilah Hanifah.
Bersamaan dengan itu, Al pun tiba dari kantor dan langsung pandangannya tertuju pada Queen yang tengah berjajar dengan kakek juga Hanifah.
Sementara Nayla sudah dari tadi ia berada di dapur membantu bik Yul menyiapkan makan siang.
"Queen kau sudah kembali? Oh, ada Diaz juga? Kebetulan sekali. Kau menginaplan di sini, Diaz," tawar Al pada pria yang belum lama dikenalnya.
Sementara dari seberang meja, Hanifah menatap Al dengan tatapan penuh rasa jengkel. Bagaimana tidak? Queen dan Diaz tinggal dalam satu negara bahkan satu kota. Sementara dia, yang jauh-jauh dari Australia saja dikacangin saja.
"Kak Al! Apakah kau tidak melihat ku?" Protes Hanifah.
"Oh, iya. Kapan kau datang? Diam saja dari tadi," ucap Al sambil memberikan tas kerjanya pada Queen.
Seperti biasa, ia pun menerimanya dan menanyakan apakah ada tugas untuk dirinya atau tidak hari ini. Rupanya Queen tengah beruntung. Sebab, semua tugas sudah Al handle sendiri di bantu Juna dan Jevin.
Al pun duduk tepad di sebelah Queen dan menanyakan keadaan Alex.
"Bagaimana kondisi Alex, Queen?"
"Dia, ya?" Gadis itu tampak menunduk dan sedikit memalingkan wajahnya dari pria yang ada di depan nya. Kira-kira semeter dari tempat dia berdiri.
"Kenapa? Dia tidak apa-apa, kan?" Tanya Al sedit menunduk mengintip ke wajah Queen.
Seketika itu juga Queen menangis dan menjatuhkan kepalanya di dada bidang kakaknya dan kembali gadis yang baru saja mendapatkan keceriaannya itu terisak.
"Kak, dia melupakan ku. Dan semua yang baru kami lalui setahun terakhir. Yang dia ingat kami adalah mantan pacar dan dia masih pacar Helena. Bagaimana bisa begini, kak?"
Diaz melihat gadis itu kian terisak dan Lian menjadi saja tangisannya saat Al mengelus kepala gadis itu penuh dengan kasih sayang.
Di mana Queen yang barusan terlihat tegar di hadapan kakek dan juga Hanifah? Bukankah dia tadi juga rapih dan mulai kuat? Kini kenapa dia seperti ini lagi?
Dari situ Diaz dapat menilai kalau Queen terlalu di manja papa dan kakaknya. Dan saat dia bersama sosok yang memanjakannya. Dia malah menjadi cengeng. Beda saatnia tengah bersama mama dan kakeknya.
"Udah, jangan nangis lagi, ya? Meskipun dia hilang ingatan tentang dirimu, tapi, dunia tahu kalau dia adalah suami,mu. Kan ada bukti surat nikah, sayang," bujuk Al sambil terus mengelus kepala Queen.
"Kak, antar aku ke sana! Aku akan tunjukan buku nikah kami padanya," ucap Queen sambil menghapus air mata di kedua pipinya.
"Queen, kau kan baru saja tiba di rumah. Makan saja dulu, ini juga setengah jam lagi waktu makan malam. Kakakmu juga pasti lelah, biarkan dia bebersih dan duduk dulu, ya?" sahut Andrean ikut menimpali.
Gadis itu pun tampak menuruti perintah kakeknya, dia sedikit menjauh dari kakaknya dan meminta Al untuk mandi dulu.
Begitu Al pergi ke kamarnya, Queen menyapa Diaz. Dan mempersilahkan dia untuk mandi di kamar tamu, sementara ia akan naik ke atas mengambilkan baju Alex untuk dipakai Diaz dulu.
π π π π
Sekitar pukul sembilan setengah tujuh malam Helena kembali datang ke rumah sakit dan membawakan buah-buahan untuk Alex. Sementara mama Rita dan papa Nicolas masih ada di sana.
Melihat kedatangan Helena, Alex nampak senang dan bahkan mengusir kedua orangtuanya yang memberi tatapan tidak suka pada gadis itu.
"Lex, ingat wanita itu bukan istrimu. Istrimu adalah Queen. Kau tidak seharusnya berprilaku seperti itu. Ada bunga indah di rumah kau malah sibuk dnegan bunga liar di jalanan," seru mama Rita dengan geram.
"Ma, Helena sudah baik pada kalian berdua, kenapa kalian masih saja membencinya? Lagipula yang anak kalian itu aku apa Queen, sih? Kalian sebagai orang tua harusnya mendukung apapun keputusan anak kalian, tidak begitu," ucap Alex.
"Tapi kami sebagai orang tua juga berkewajiban mengingatkanmu, Nak sebelum kau menyesal akhirnya," jawab mama Rita tegas.
"Ya sudah, ini sudah malam. Alex tidak mau menjadi anak yang durhaka karena berdebat terus. Sekarang sudah ada Helena yang menemanikua. Kalian istirahatlah di rumah! Seru Alex sambil membuang pandangan dari orang tuanya.
"Baik kalau kau ingin kami pulang dan di sini bersama ular betina ini, terserah!"
Karena merasa jengkel akhirnya mama Rita dan suamint pun keluar kamar rawat Alex dan membiarkan putranya begitu saja.
"Mama, jangan gitu, dong!" Bela Alex.
Begitu kedua orangtuanya meninggalkan tempat itu,Alex duduk bersandar dan memanggil Helena membujuk gadis itu yang tampak menanig.
"Sayang, kemarilah!" seru Alex.
Awalnya Helena masih bergeming di tempatnya. Ia tak beranjak. Meski hanya sejengkal saja dari tempatnya berdiri. Tapi, Alex terus merayunya dan memperlakukan gadis itu dengan lembut dan sangat baik.
"Ayo kemarilah! Jangan masukan hati perkataan mamaku, ya? Dia memang seperti itu. Aslinya dia itu baik kok orangnya," ucap Alex sambil menarik tangan Helena membuat gadis itu dekat dengan dirinya.
"Mama kamu tidak salah, Lex. Memang benar jika aku ini ular. Kau dan Queen memang benar-benar sudah menikah waktu itu. Tapi, kau menikahi dia karena menolong saja," ucap Helena sambil terisak.
"Menolong bagaimana? Kau tahu semuanya? Beri tahu padaku, Helena. Aku tidak dapat mengingat apapun."
"Dulu Queen menjalin hubungan dengan dokter Aditya.
Saat dia belum rujuk dengan kakakmu, kak Novi. Tapi, saat mereka akan menikah kak Novi kembali ingin rujuk dengan alasan demi memberi keluarga yang utuh untuk Axel. Awalnya Aditya merasa bimbang. Tapi, saat acara ijab qobul dia malah membatalkan pernikahannya sendiri. Sementara Queen, sebagai mempelai wanita jelas malu, bukan? Dan kau yang kebetulan juga datang merasa iba melihatnta seperti itu. Jadi, kau ya g menjadi pengantin prianya kau menikahi wanita yang sudah jadi mantanmu karena tak ingin dia dipermalukan. Tapi, karena itu hanya menolong, jadi, selama ini kita masih tetap berhubungan baik layaknya sepasang kekasih, Alex," ucap Helena panjang lebar.
__ADS_1
Alex mengelus belakang kepala Helena yang kini tengah bersandar di dada bidangnya. "Lalu, apa lagi setelah itu yang terjadi, Helena?"
"Ya,kita tetap bahagia dengan hubungan gelap kita, Lex. Tapi, sebelum kau kecelakaan kemarin kau bilang kita akan menikah dan aku tak menyangka kau melupakan segalanya. Sekarang jika aku sudah memberi tahu semuanya padamu, kau mau menikahimu, kan?" ucap Helena menatap dalam ke mata Alex.
"Ya, kita akan menikah, sayang. Tunggu aku sembuh dulu, ya? Maafkan aku, pasti selama ini kau sangat menderita akibat ulahku." Alex memeluk erat tubuh Helena dan mencium ujung kepala gadis itu.
Sementara gadis itu tidak hanya diam, ia mendongakkan wajahnya dan mulai berani mencium bibir Alex.
'Maafkan aku Quen. Aku hanya inginkan Alex saja. Tidak ada niat menghancurkan hubungan kalian. Aku hanya mau kau berbagi suami denganku. Tidak apa-apa aku jadi istri keduanya. Tapi, jika hubungan kalian hancur, jangan salahkan aku, tapi, Aditya yang masih begitu tergila-gila padamu,' gumam Helena dalam hati.
***
Usai makan malam, bersama Al dan Queen kembali ke rumah sakit dengan membawa dua buku nikah berwarna hijau lumut dan merah hati itu.
Sementara Diaz, dia tinggal di rumah menemani kakek Nayla dan juga Hanifah.
Tidak seperti biasa, sepanjang perjalanan Queen hanya diam samja sesekali memandangi dua buku itu yang mencatat sejarah penting dalam hidupnya sambil sesekali jemari lentiknya merembas halus buku itu.
"Kau sudah siap andai dia masih tidak dapat mengingatmu nanti?" tanya Al memecah keheningan.
"Dia kan suamiku, dia hanya bisa mentalakku saat ia dalam kondisi sadar, jika tidak tetap saja aku istrinya dan sebagai seorang istri aku bukan hanya berhak mempertahankan hubungan kami, tapi, sudah merupakan tanggung jawabku, kan?"
"Apa kau marah sama Helena?"
"Entahlah. Untuk saat ini sepertinya tidak. Bahkan dia juga tak menyangka dengan apa yang terjadi tadi. Dia nampak shok banget, walau aku menangkap ada sedikit binar di matanya. Aku mengerti pasti ada kebahagiaan bagi mantan yang gagal move on."
Al menoleh ke arah Queen tersenyum tipis lalu mengelus belakang kepala Queen.
Setelah menembus jalanan macet yang panjang mereka pun tiba di rumah sakit. Queen segera menuju tempat di mana suaminya di rawat. Sementara Al ia mengekor di belakang adiknya.
Queen tidak mendengar apapun di dalam kamar itu. Ia berfikir kalau suaminya tengah tidur karena sudah di kasih obat. Terlebih ini juga sudah ok pukul sembilan malam lewat.
Awalnya Queen ragu. tapi, hatinya merasa terdorong untuk masuk ke dalam ia memegang gagang pintu kamar itu lalu menoleh ke belakang sedikit mendongak ke arah kakaknya seperti tengah meminta persetujuan darinya.
Al mengangguk pelan dan, pintu pun terbuka. Queen selangkah maju ke depan hingga pintu itu kian lebar dan mereka berdua bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.
Queen merasa terkejut ia sampai tak dapat berkata apapun. Bahkan kutunya juga terasa lemas hingga untuk menopang berat tubuhnya sendiri ia tak mampu. Ia menumpukan tangannya pada pintu dan menyaksikan Alex dan Helenaseperti dua sejoli yang dimabuk asmara.
Helena tampak bercumbu dengan suaminya yang masih sakit dengan posisi duduk bersandar di ranjang rumah tempat tidur.
"Helena!" teriak Al kesal saat melihat kejadian utu.
Sementara gadis itu buru-buru mengambil jarak dari pria yang baru saja dicumbunya.
Mata Queen tidak lepas dari memandang dan memperhatikan Helena. Di raut wajah gadis itu selain terkejut ada perasaan kecewa karena aktifitasnya di ganggu.
"Kak Al, Queen. Kalian datang semalam ini?" ucap Helena dengan keadaan canggung malu, kecewa benci bercampur aduk saat sesuatu di luar dugaan ini terjadi.
Dengan langkah sedikit limbung dan diikuti oleh Al dari belakang Queen berjalan ke arah mereka berdua. Lalu mata yang penuh kesedihan itu menatao tajam ke arah Alex.
"Lek, aku kemari membawa buku nikah kita berdua, kau bisa melihat kalau ini asli, kan?" ucap Quen seraya menyerahkan dua buku itu pada Alex.
Alex menerima buku itu dan berkata, "ya, aku menikahimu karena kau gagal menikah dengan dokter Aditya, kan? Dia memilih rujuk dengan mantan istrinya daripada kamu. Saat itu aku cuma kasian. Jadi, tugasku sudah selesai. Kalau pun saat ini aku menceraikanmu, itu bukan lah masalah sebab, kau sudah terbebas dari rasa malu."
Mendengar ucapan itu Helena memalingkan wajahnya sedikit tersenyum. Sementara Al yang tengah naik pitam berjalan ke arah Alex tak peduli bagaimana kondisi pria itu. Ia meberinya sebuah pukulan di kepalanya.
"Bagaimana kau bisa berkata ngawur gitu, Alex? Rupanya ada yang salah dengan otakmu. Otakmu rusak." Al memberikan dua tujuan kepada Alex.
Sementara Queen berteriak menghentikan kakaknya yang tengah emosi itu, "Kakak, sudah hentikan kak! Stop Alex tengah sakit kau jangan memukulinya."
Bahkan Al tidak mendengarkan teriakan dan permohonan adiknya, sehingga Queen mengambil alih berdiri di depan Alex menjadi tamengnya. Tanpa sengaja tinjuan Al yang paling keras jatuh mendapatkan nengenai wajah Queen sehingga ia pun jatuh pindang.
"Queen!"
Seru Al tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dengan cepat Al menggendong Quen dan membaringkannya di sofa kamar rawat Alex. Sementara Helena terkejut sampi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dan Alex. Ia hanya diam memperhatikan Quen yang masih tidak sadarkan diri. Alex bisa merasakan.
Al saat itu benar-benar bingung ingin menghubungi dokter, ia takut malah masalah jadi runyam dia diam sejenak berusaha berfikir jernih agar dapat segera mendapatkan pertolongan untuk adiknya jika sembarang dokter dipanggil jelas ia akan mendapatkan masalah sebab ini rumah sakit dan dia telah membuat ribut.
Akhirnya Al memiliki ide. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Tante Lusi. Memintanta untuk masuk ke dalam kamar rawat Alex segera tanpa memberi tahukan apa alasannya.
"Halo, Tante. tolong cepat kemari ke kamar Alex," ucap Al begitu Tante Lusi menjawab panggioannya.
"Ada apa, Al? apakah terjadi sesuatu dengan Alex?" tanya wanita itu dari seberang khawatir.
"Ya, cepatlah Tante. sudah tidak ada waktu lagi."
"Al, ada dengan Alex?" tanya dokter Lusi begitu tiba di ruang rawat Alex.
Wanita seusia mamanya itu pun nampak bingung melihat kondisi dala. Kamar inap tersebut. Sebab yang pasien nampak tidak mengalami situasi darurat. Tapi, malah Queen napak tak tak sadarkan diri. Terlihat dari usaha Helena yang membangunkannya.
"Tante, tolong Queen, Tan, bagaimana ini," ucap Al ketakutan.
"Queen bagaiman bisa sampai pingsan, Al?" tanya Tante Lusi panik.
Al yang ditanyai hanya diam meremas rambutnya denga kedua tangannya antara jengkel dengan Alex dan merasa bersalah.
"Kau punya mata tidak? Lihat dia sampai seperti ini karena melindunhimu, Alex," ujar Al.
Sementara dengan enteng Alex tidak terima disalahkan begitu saja oleh Al.
"Kenapa aku? Aku tidak pernah minta dia sekalipun untuk dilindungi."
"Eh, otak kamu sebenarnya terbuat dari apa, sih? Tidak bisakah kamu berfikir kalau dia sangat mencintaimu? Dia mengorbankan dirinya demi melindungi kamu, Lex," geram Al sambil menyerang lagi pria itu.
__ADS_1
"Al... Al sudah! Kalian jangan pada berisik. Bagaimana ini dengan Queen dia awalnya kenapa?" teriak Lusi antara emosi dan juga Panik.
"Helena juga mencintaiku, Al. Bahkan dia mau jadi yang kedua demi aku," jawab Alex, masih keras kepala.
"Tapi siapa yang rela mempertaruhkan keselamatannya demi kamu? Helena? Dia hanya menonton saja dari tadi. Mencegah kau dipukuli saja tidak. Tapi adikku? Demi kamu tidak hanya melawanku tapi menjadikan dirinya tameng," ucap Al sambil melihat jijik ke arah Helena.
"Dia kena pukulan kamu, Al?" tanya Lusi terkejut.
Al tidak menjawab. Sekalipun ia diam pasti Tante Lusi juga akan tahu jawabannya.
Dengan cekatan ia berlari keluar ruangan tak lama kemudian ia kembali dengan baskom berisi handuk kecil dan es batu untuk mengompres pelipis Queen yang kini mulai membiru.
Sedangkan Alex nampak diam dan mulai berfikir tentang dua wanita yang kini ada di hidupnya. Dan Helena, dia hanya mematung tak berkutik setelah melihat bagaimana Al marah.
Lima menit kemudian setelah mendapat perawatan Quen pun kembali sadar.
Dengan cepat Al menghampiri adik ya ia terus meminta maaf karena merasa bersalah. "Queen, maafkan kakak, Queen. Apakah masih sakit? Mana yang sakit?" tanya Al panik.
"Aku tidak apa-apa, kak."
Queen pun berusaha bangun dan melihat kondisi Alex yang juga nampak lebam di are wajahnya pipi, pelipis dan dekat bibirnya.
Dengan kangkah yang masih agak limbung Queen berjalan ke arah Alex.
"Kau tidak apa-apa, Lex?" tanyanya dengan raut wajah penuh khawatir.
"Tidak," jawab Alex singkat.
Queen pun tersenyum duduk di sebelah Alex sambil menyentuh lembut pipi pria itu dan berkata, "Sekalipun kau tak mengingat tentang hubungan kita, cuma aku satu-satunya wanita yang berhak menyentuhmu selai ibumu, Lex. Bukan yang lain. Karena, cuma aku istrimu."
Merasa tidak enak dengan ucapan Queen Helana pun hendak beranjak pergi, namun dengan cepat Alex mencegahnya.
"Helena jangan pergi! Kamu tetap di sini saja," tegas pria itu.
"Tapi Lex. benar apa yang Queen katakan barusan. Dia lah yang lebih berhak daripada aku," jawab Helena.
"Tapi wanita yang aku cintai adalah kamu, Helena,"Β bantah Alex.
Mendengar Alex yang sangat keras kepala, Al pun hampir tersulut emosi lagi, tapi, dokter Lusi berhasil menenangkannya. Karena merasa ada yang tidak beres dengan pasiennya ini ia pun mendekat dan memberikan beberapa pertanyaan pada Alex.
"Alex, kau tahu siapa wanita yang duduk di sebelahmu ini?" tanya dokter Lusi tegas.
"Kata Helen dia adalah istriku. Tapi, aku tidak ingat kapan kami menikah. Dan bagaimana bisa? Yang ku ingat dia adalah mantan pacarku dulu, itu pun juga sudah lama, saat SMA dulu."
"Papa dan mamamu?"
"Mereka tinggal di Mew York, tapi aku heran kenapa bisa dia kemari tadi, ada apa, dok?"
"Apa yang Helena katakan tentang pernikahanmu dengan Queen?"
Mata Lusi terus menatap tajam ke arah mata Alex melihat setiap gerak gerik pria itu. Dan benar saja dari grlagatnya memang seperti ada ya tak beres.
"Kami menikah tanpa cinta. Dia awalnya akan menikah dengan Aditya. Tapi,saat acara pernikahan kak Adit membatalkan dengan alasan lebih memilik kakakku Novi yabg sudah kembali dan mengajaknya rujuk. Karena aku kasian padanya, aku pun menikahinya, benar begitu, Helena?"
Helena nampak gugup tak berani menjawab. Ia nampak panik, memainkan kukunya duduknya tak tenang. Memandang ke segala penjuru tak tentu mana yang ia lihat. Terlebih saat Quen dan Al memandang ke arah gadis itu.
"Kau bagaimana bisa mengarang cerita seperti itu, Helena?" tanya Quen tak percaya.
Lagi-lagi Helena hanya menghindari Kontak mata dengan Queen.
"Sudah, Queen. Ayo ikut ke ruangan Tante saja!" ajak dokter Lusi.
"Al, Queen. Kalian merasa tidak kalau kasus Alex ini sangat aneh. Seperti bukan lupa ingatan saja, kan?" ucap Tante Lusi memulai pembicaraan.
"Iya, aku sangat tahu dan kenal Alex, Tante. Dia itu tipe orang setia. Dan tidak pernah mau memberi kesempatan untuk wanita lain masuk ke dalam hidupnya. Tapi, karena dia melupakanku dan hanya Helena yang dia ingat, maka dia selalu menolakku dan hanya Helena saja yang ada di pikirannya saat ini," jawab Queen sedih dan tertunduk.
"Apakah kalian tidak merasa itu sangat aneh? Banyak terjadi kasus lupa ingatan tapi tidak seperti ini, loh. Dan area kepala Alex juga sepertinya tidak mengalami benturan kepala ya g serius."
"Apa jangan-jangan ini ulah Helena, ya tente? Dia itu masih belum bisa menerima Alex nikah sama aku."
"Bisa jadi, kita awasi saja gerak-gerik Helena. Semoga kita segera menemukan jawaban di balik semua ini."
"Quen, kita pulang saja, ya? Besok kamu ikut kakak ke kantor, ok?" Ajak Al, dan hanya dibalas oleh anggukan saja sama Queen.
akhirnya malam itu pun Al dan adiknya pulang. keduanya banyak diam tak ada sedikit pun obrolan yang terlontar mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kak, pernah gak sih liat di medsos sebuah challenge tentang hipnotis?" ujar Queen membuka bercakapan.
"Hipnotis? pernah. seperti Uya Kuya begitu?" timpal Al sambil menyetir.
"Ya. tapi, levelnya lebih tinggi. kan pernah tu aku lihat di YouTube. seorang ojok dihipnotis agar tidak suka lagi dengan rokok. katanya rokok yg mulanya enak jadi kaya kotoran, tapi mereka masih tetap normal hanya saja tidak mau ke rokok itu. dan tidak akan hilang jika bukang dia yg membuang pengaruh hipnotis itu. apa jangan-jangan Alex begitu?"
"Tapi dia kecelakaan, sayang. jangan mudah ambil kesimpulan."
"Ya, sih. tapi siapa yang tahan kak melihat suami sendiri seperti ini?" protes Queen sambil menangis.
"sudah, sudah... jangan nangis lagi. kakak akan bantu kamu, ya?"
Al menarik kepala Queen membawanya dalam pelukannya sambil menyetir mobil.
cocok ya jadi cast Clara dan Quenπππ
__ADS_1