Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 46


__ADS_3

Dengan langkah perlahan namun pasti, Quen melangkah dan berdiri tepat di depan Alex, wajahnya kian memucat tertunduk dihadapan lelaki yang yang baru kemarin menjadi suaminya.


"Maafkan aku, bukan maksutku untuk menyembunyikan ini darimu, aku akan tetap menjelaskannya padamu, tapi...." Quen tidak meneruskan kalimatnya.


Sementara Alex, masih menggenggam erat kertas hasil lap itu dengan tatapan kecewa dan sakit.


"Apakah kau menilaiku terlalu rendah? Dan sekotor itukah aku, Quen di matamu?" ujar Alex tertahan.


Quen terkehenyak mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Alex. Dengan cepat ia mendongakkan wajahnya menatap dalam pada mata pria itu.


"Apa maksutmu, Lex?" tanya Quen heran.


"Kau melakukan pap semir, priksa rahim setelah malam pertama, apakah kau takut aku memiliki penyakit kelami karna aku dulu seorang play boy."


Quen bingung ekspresi apa yang harus dia tunjukan lada Alex, tertawa, menangis atau bagaimana. Ini murni kesalahan Quen. Tapi, justru Alexlah yang salah. Lalu, jika Quen menjelaskannya dengan tertawa apakah dia tidak akan menangis jika benar Alex akan meninggalkannya karna faktanya benar dia sisa orang.


"Alex, kamu salah paham. Biar aku jelaskan. Tapi, tolong jangan marah! Kau boleh kecewa dan pergi menceraikanku setelah ini tapi, jangan.pernah membenciku, Lex." Quen memegang erat kedua tangan suaminya. "Aku sebenarnya sudah tidak prawan lagi," lirinya sambil menunduk.


Alex merasa bingung dan tak habis pikir dengan pengakuan gadis di depannya ini.


"Kalau memang kau tidak prawan, semalam siapa yang aku prawani dan sampai mngeluarkan darah?"


"Justru itu, aku takut memiliki penyakit rahim. Makanya aku menemui dokter spog untuk cek up menyeluruh, tapi, katanya tidak terjadi masalah. Hanya... Hanya saja terlalu sempit dan kurang pemanasan," ucap Quen malu menunduk dan membuang muka.


Alex diam sesaat. Dia merasa semalam tidak ada yang aneh dengan diri Quen. Mungkin dia bercanda. Atau ia merasa kehilangan slaput darahnya karena dulu ia mengikuti seni bela diri, itu bisa saja terjadi.


"Kau pikir aku mempermasalahkan hal itu, hah? Aku menikahi dirimu bukan keperawananmu. Cukup kau mau menjadi milikku selamanya itu sudah cukup. Sejak dulu aku masih mencintaimu, susah payah aku melupakanmu, aku tetap tidak bisa, kau mencintaiku, kan?"


Alex meraih dagu Quen dan menghadapkan ke arahnya.


Buliran bening yang sedari tadi dia tahan akhirnya lolos juga dari netranya bahkan meloncat dengan derasnya saat tatapan matanya bertemu dengan mata Alex yang memberikan keteduhan.


"Iya, Alex. Aku juga mencintaimu, trimakasih kau tidak meninggalkanku." Quen menangis tersedu-sedu di dalam pelukan dada bidang pria itu.


Sementara Alex terus mengelus punggung istrinya dan terus berusaha menenagngkannya.


Alex mendorong sedikit tubuh Quen dari dada telanjangnya. Ia tidak bisa membiarkan terus-terusan wanita yang dia cintai menangis karena rasa bersalah.


"Lihatkah dirimu! Bahkan kau menangis juga menunggalkan ingus di pundakku, apakah kau tidak malu, Quen?"  Alex tertawa sambil membersihkan pundak dan dadanya yang basah oleh air mata dan ingus juga tentunya.


Quen terisak sambil tertawa mencubit perut Alex.


Sementara Alex langsung merangkulkan kedua tangannya dan memeluk erat tubuh Quen di depannya.


"Aku juga tidak sempurna, aku juga play boy, tapi kau tidak mempermasalahkan dan langsung mau menikah denganku dengan magar cincin perak, apakah wanita sepertimu pantas disia-siakan?"


"Kau sudah berkata begitu, awas saja jika dengan sadar kau meninggalkanku untuk wanita yang lebih muda dan cantik dariku, akan kubunuh kau!"

__ADS_1


"Bunuh saja aku jika aku melukaimu, ya? Jangan ninggalin aku!" ucapan Alex terdengar gombal, tapi, apakah kalian tahu kalau dia mengatakan dengan nada dan ekspresi yang benar-benar natural keluar dari hatinya. Ya dia memang serius karna benar mencintai Quen dari dalam hatinya.


"Baru keramas, ya?" bisik Alex di dekat telinga Quen.


"Ya, bukannya aku bau dapur?"


"Kau akan selamanya tetap harum bagiku," ucap Alex sambil menatap tajam ke arah Quen.


Quen hanya tersenyum malu-malu mendengar ucapan dari Alex barusan. Tapi, mendadak ekspresinya berubah, antara terkejut, malu bercampur jadi satau.


Sebab, diam-diam tangan Alex merayap membuka tali simpul kimono handuk yang Quen kenakan sehabis mandi tadi. Tau-tau handuk itu sudah lolos dari tubuhnya menjadi gundukan tak berharga di bawah kaki jenjangnya.


Sementara Alex hanya diam mengamati tubuh polos itrinya untuk yang kedua kali.


"Alex..." Quen tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat pria di hadapannya meloloskan boxer yang di kenakannya ikut jatuh ke lantai.


Ingin rasanya Quen mematikan lampu agar dia mampu menyembunyikan rona merah pada kedua pipinya, tapi, percuma. Saat ini bahkan lampu kamarnya tidak satu pun menyala, tapi, tetap saja terang benderang karena ini siang hari.


Reflex Quen mendekatkan tubuhnya oada Alex hingga kedua dada mereka saling menempel.


Alex meraih pinggang Quen, lansmgsung menyerbu bibir Quen dan lidahnya masuk ke dalam bibir gadis itu kembali saling bertautan. Tangan kanan Alex sudah bergerilya di seluruh tubuh Quen dan tangan kirinya digunakan untuk menekan belakang kepala wanitanya.


Kedua napas mereka saling beradu dan mnggebu-gebu. Quen merasa napasnya kian sesak kepalanya pun seolah mau pecah karena dikuasai oleh napsu.


"Stop!" ucap ucap gadis itu sambil menggenggam erat pergelangan tangan Alex yang tengah bermain-main dibawah tubuhnya.


"Heemb?" Mata Alex menatap Quen dengan lembut dan penuh nafsu.


Alex tersenyum lembut dan menatap tajam pada mata Quen. Lalu mengangkat gadis itu dan membawanya kembali ke atas ranjang.


🍁 🍁 🍁 🍁


Helena merasa seolah tubuhnya di bakar hidup-hidup begitu membayangkan Alex bercinta dengan Quen. Memang benar, selama tiga tahun terakhir ia tahu kalau Alex tidak ada komunikasi dan selalu menghindari Quen dalam situasi dan pertemuan apapun. Bahkan, diajak membahas Quen saja dengan cepat pria itu mencari pengalihan.


Selama ini dia mengira kalau Alex sudah move on dan membenci gadis itu, tapi, ternyata ia salah. Alex melakukan itu terpaksa agar move on tapi tidak bisa. Jelas Helena merasa yakin, seban dari sortan mata itu tidak bisa bohong kalau malam itu Alex benar-benar terlihat bahagia dan jatuh cinta pada Quen sejatuh-jatuhnya.


Lalu, apa yang membuat gadis itu tiba-tiba menikah dengan Alex dan urung dengan Doktet Aditya Mahendra?


Apakah ada perselisihan? Tidak mungkin. Sebab Helena melihat kehangatan antra Dokter Aditya bersama Alex juga Quen.


Helena merasa kesal, sakit dan bersusah payah menahan kecemburuannya. Tapi, berusaha merebut Alex dan Quen itu adalah mustahil baginya. Mengingat jabatan papanya yang hanya bendahara di perusahaan milik papanya Quen sungguh akan mustahil apalagi Al. Pria dingin dengan tatapan tajam setajam burung elang yang siap hendak menerkam mangsanya dan mencabik-cabiknya. Sunggu Helena gentar dan tidak memiliki keberanian sedikitpun.


Dengan kesal dan kasar Helena menarik paksa koper dari lemari penyimpanan. Dikeluarkan beberwpa helai baju dan perlengkapan lainnya termasuk tas mekap, toiletis juga paspor. Rupanya gadis itu ingin kembali berlibur lagi ke luar negeri lagi.


Mendengar suara gaduh dari dalam kamar putrinya segera Intan berlari untuk mengeceknya. Dia tahu pasti bagaimana suasan hati anak semata wayangnya itu saat ini.


"Helen, ada apa, sayang?" seketika mama Intan langsung membuka pintu kamar anaknya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Helen mau ke luar negeri lagi, Ma. Ada sesepantai di philipina yang bagus buat ngevlog, Ma?" ucap Helema tersenyum menyembunyikan hatinya yang menangis.


"Apakah kau tidak capek?ya sudah kalau itu maumu, hati-hati, ya?"


"Youtubers kan harus gini ma, strong," jawab Helena menghibur mamanya.


Mama intan tersenyum sambil mengelus kepala putrinya.


🍁 🍁 🍁


Clara dan Jeslyn tergopoh-gopoh keduanya seolah berlomba untuk sampai pada pintu duluan saat mendengar suara bel berbunyi.


Mereka mengira pasangan pengantin baru yang datang tapi, ternyata zonk. Malah sosok berbadan macho tinggi dengan pakaian yang menunjukan kejantanannya sebagai pria. Jeans biru gelap dan kemeja hitam lembgan panjang.


Sekilas sangat manly sekali pria itu, tapi, setelah berjalan... Amit-amit deh, berlenggak lenggok lebih feminim dadi seorang cewek yang paling feminim. Yah.. Kalau dibandingin mungkin 11 12 dengan inces syahrini.


"Hay, kenapa kalian terbengong-bengong gitu melihatku? Aku lagi cari belahan BH-ku yang hilang di sini, mana si Al?" tanya Erwin dengan percaya diri berjalan ke arah meja makan.


"Bukannya Reza belahan jiwa mu?" ucap Clara kesal. Sambil menutup pintu ruang tamu kembali dan sama-sama melangkah ke dapur bersama Jeslyn.


"Ah, Reza dah tuwir, sekarang mah berondong yang makin ke depan. Mana sih, Si Al. Kok gak keliatan La?" ucap Erwin.


Padahal, mereka dulu sekelas, tapi kenapa Erwin mengatakan kalau Reza tuwir? Oh, mungkin dia adalah makhluk yang dapat mengelupas seperti ular, makanya, selalu muda hanya berubah ukuran.


"Untuk apa kau mencari putraku?" jawab Clara dari dapur.


"Ah, kamu galak banget, sih calon mertua... Jangan dzolimi mantumu ini, aku sungguh mencintai anakmu apa adanya, loh."


"Oh, ya? Tapi anankku sudah menikah, Win."


"Aku rela jadi madunya," jawab Erwin penuh drama.


Seketika itu juga Jeslyn, Lyli dan Nayla tertawa geli tak tertahankan lagi, mungkin seperti ini kali, ya kalau bencong sudah jatuh cinta. Mereka tak lagi peduli apa, harga diri pun di tanggalkannya.


Kemudian, pintu ruanga utama terbuka, datang Quen bersama Alex yang sampai di ruang makan tangan keduanya masih bergandengan erat.


"Mama, Papa, kakak kakek dan nenek di mana?" tanya Quen. begitu tiba.


"Nenek ada di kamarnya sayang yang lainnya ada di ruang baca. Mungkin tengah berembuk." Ujar Clara.


Quen langsung melepaskan gandengan tangannya dari Alex dan berhambur ke ruang baca. Begitu tiba di sana gadis itu langsung memeluk papanya, padahal baru sehari tidak bertemu, tapi sudah seperti lama tak jumpa saja, mungkin karena dia sudah berganti status.


Vano membalas pelukan putrinya dengan erat sambil mengelus punggung Quen. "Kau baik-baik saja kan, sayang?" tanya Vano. Dijawab dengan anggukan oleh Quen.


"Di mana Alex? Apakah kalian baru saja tiba?"


"Iya pa, kami baru saja tiba, dia sedang menemui madam Erwin tuh di meja makan, apakah mama mengundangnya?"

__ADS_1


"Mana papa tau sayang. Yasudah, kau keluarlah dulu, sebentar kami juga akan selesai." ucap Vano


Quen pun segera keluar mematuhi papanya setelah mencium tangan kedua kakek dan juga Al kakaknya.


__ADS_2