Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 75


__ADS_3

Setelah mengecek seluruh kebutuhan rumah yang habis dan


mencatatnya di note telefon genggamnya, mama Dian. Sebenarnya tidak ada


pertemuan bersama rekan-rekannya hari ini. Itu, tidak leboh dari sekedar alasan


saja. Sementara unutk berbelanja, sudah merupakan hobi dari wanita berusia


limapuluh tujuh tahun itu. makanya, walau usianya sudah dapat di kata tua, dia


masih terlihat segar dan muda. Karena selain mendapat perawatan extra, dia juga


selalu bahagia.


Usai melakukan urusannya melihat dan mengecek karyawan


perusahaannya yang bertempat dibagian produksi, barulah Dian berbelanja


kebutuhan sehari-hari yang dicatatnya tadi. Banyak yang ia beli. Sesuatu yang


tidak begitu perlu juga masuk ke dalam ranjangnya. Alhasil, bagasi mobilnya


tidak cukup dan terpaksa menghubungi putra semata wayangnya.


“Halo, ada apa, Ma?” jawab seorang pria dari dalam


ponselnya.


“Ndra. Kamu di mana sekarang?” tanya mama Dian.


“Ini baru saja nyampe rumah, Ma. Ada apa?”


“Kamu bisa susul mama di mall tidak? Ini mama belanja barang


kebanyakan. Bagasi mobil tiak cukup, tolong, ya? sekalian kamu ajak Novi dan


juga Adriel deh.”


“Baik, Ma,’ ucap Candra lalu mematikan panggilan dari


mamanya. Kemudian ia mendesah kesal dan membanting tubuhnya sendiri di atas


kasur. Nampaknya dia sangat lelah. Tapi, bagaimana lagi? Dia tidak terbiasa


membantah apa yang mamanya perintahkan. Sedongkol apapun itu isi hatinya saat


ini.


“Ada apa, Ndra?” tanya Novita dengan lembut setelah


menyiapkan handuk dan pakaian ganti suaminya.


“Itu, mama. Biasa dah, belanja dibanyak-banyakin akhirnya


bagasi tidak muat dan minta aku menjemputnya,” jawabnya dengan nada kesal.


“Ya sudah, jemput saja. Tidak jauh, kan?” ucap Novi sambil


menunjukkan senyumnya.


“Aku lelah, Sayang,” keluhnya.


“Biar nanti aku pijit kamu. Supaya tidak lelah, bagaimana?”


ucapnya sambil memijat Pundak suaminya yang sudah berganti posisi. Dari


berbaring menjadi duduk.


“Iya, aku akan tetap berangkat. Terimakasih, ya dah jadiin


aku anak yang berbakti pada mamaku yang rada bawel.”


“Hust! Tidak boleh begitu,” ucap Novi sambil memukul Pundak


Candra.


Sementara pria itu hanya terkekeh saja. Beranjak mengambil


handuk yang sudah diletakkan di atas ranjang.


“Kamu lelah tidak? Jika tidak, mama juga meminta agar aku


ajak kau dan juga Adriel.”


“Tidak sama sekali. Baik, aku akan persiapkan Adriel


sekarang.” Novita pun juga beranjak keluar mencari putranya yang tadi tengah


bermain bola di halaman belakang.


Setelah menggantikan pakaian Adriel dengan baju yang pantas,


barulah Novi masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Di dalam sana, ia


mendapati suaminya yang sudah siap dengan baju yang dia siapkan tadi. S]celana


jeans sepanjang lutut dan kaus oblong presbodi.


“Kamu sudah siap, Ndra? Aku ganti baju dulu, ya?” ucap


Novita. Karena ia juga baru saja selesai mandi.


Candra mengamati baju yang dipakai Novita. Rok berbahan


katun tebal berwarna mustart sepanjang lutut dan dipadukan dengan kaus oblong


berwarna putih tulang membuat wanita itu terlihat lebih muda saja. Terlebih,


pertunya juga masih dapat terbilang rata. Belum terlihat, karena kehamilannya


juga masih tiga bulanan.


“kenapa harus ganti? Itu saja juga sudah cantik, kok. Aku


suka kamu pakai itu,” timpal Candra. Berlagak tidak melihat. Karena, ia sendiri


juga memakai pakaian santai juga.


Sebenarnya, Novita sendiri juga menyukai pakaian yang santai


seperti itu. Tapi, semenjak ia tinggal du rumah ini, bersama mertuanya yang

__ADS_1


sedikit bawel soal pakaian, jadi sedikit heboh juga. bukan apa, dia menghormati


yang lebih tua dengan mematuhi aturan yang sudah dia tetapkan. Walaupun tidak


tertulis, dan tanpa tanda tangan. Misalnya kalau keluar harus pakai pakaian


yang bagus dan sedikit formal. Jadi, agak aneh juga baginya yang sudah biasa


kemana-mana pakai baju biasa.


“Pakai ini? Ntra, kalau diseprot sama mama, gimana?”


“Sudah, tidak akan. Biar itu jadi urusanku,” ucap Candra.


Dia emang sengaja membuat mamanya kesal. Jadi, memalarang istrinya untuk


berganti pakaian. Cukup memakai yang dikenakan saja.


“Ya sudah, ayo berangkat!” seru Novita sambil mencangklong


tas tangannya.


Setelah setengah jam menempuh perjalanan, Candra Novi dan


Adriel sudah hampir tiba di tempat di mana mamanya menunggu.


“Ma, aku sudah masuk area, Mall. Mama parkir di mana?” tanya


Candra, melalui  panggilan celulernya.


“Mama berada di parkiran belakang mall lantai dua.”


“Baik, Ma, tunggu kami, ya?” Candra pun mematikan


panggilanya dan melajukan kendaraannya.


Tiba di lokasi parkir, Candra dan Novita terkejut melihat


barang belanjaan mamanya sampai ada tiga troli besar. Itu pun sisa dari yang


sudah masuk ke dalam mobil dan bagasi. Masih sebanyak itu.


“Ma, belanja kok sampai sebanyak ini, sih?” tanya Candra


sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Sudahlah, kamu jangan bawel. Oh, ya. karena ini sebagian


besar adalah daging, ikan dan juga ayam. Kamu segera masukkan ke dalam mobil


kamu, gih! Bawa pulang bersamamu dan kembalilah. Dari pada busuk, oke? Semuanya


saja. Kusus daging, kamu masukkan segera ke freezer,” ucap mama Dian, dan malah


memasukkan semua belanjaan yang tersisa ke dalam mobil putranya.


“Baik, Ma,” ucap Candra, berlagak patuh. Tapi, di dalam


hatinya… entah, sudah mengumpat seperti apa saja, dia.


“Kamu hati-hati di jalan, ya Sayang. Mama ajak menanti dan


cucu mama jalan-jalan dulu, oke? Atau biar kamunya bisa kembali dengan cepat,


seru mama Dian, lalu mengajak Novi menuju lip.


“Ma, tumben belanja banyak banget?” tanya Novita, kebetulan


di dalam lip hanya ada dia, mertua dan putranya saja.


“Iya, dua minggu lagi adalah peringatan mendiang adiknya


Candra, Leivi yang ke sembilan tahun, Nov. makanya, mama belanja banyak banget.


Nyicil lah, buat acara Selametan.”


Novita hanya diam. Ia tidak tahu, harus berkomentar apa.


Sementara wanita berusia lima puluh tujuh itu terus mengamati menantunya.


Kemudian tersenyum dan berkata, “Kenapa? Kamu juga ikut sedih, ya? besok sore,


kamu mau ikut mama kirim bunga ke makamnya?”


“Boleh, Ma. Dengan senang hati jika diberi izin  mendoakan mendiang adik Leivi di makamnya


secara langsung,’ jawab Novita dengan santun.


“Iya, tentu saja. Doakan dia yang banyak, ya? semoga kelak


ia bisa berkumpul di surga bersama.”


“Ting!” lip yang mereka naiki pun berhenti dan pintu terbuka


di lantai tiga. Tempat fashion, baju, aseseris tas dll unutk dewasa, anak-anak


pria dan juga wanita.


“Kita belanja dulu, ya? beli baju yang Nyman untuk wanita


hamil. Karena, sebentar lagi, pasti perut kamu juga besar, dan baju kamu juga


tidak akan muat.”


“Mama, selalu saja repot banget. Makasih banyak, ya Ma,” ujar


Novi sambil memeluk lengan mama mertuanya, sementara tangan sebelahnya,


menggandeng tangan Adriel.


“Repot apanya, sih? Tidak, kok. Bukannya ini sudah jadi


keharusan, mama ikut memperhatikan kamu dan cucu-cucu mama?” timpal mama Dian.


“Mama memang yang terbaik, pokoknya,” ujar Novita. Karena,


ia sudah tidak bisa berkata apa-apa.


“Nov, coba kamu lihat setelan itu? bagus, ya? untuk Adriel


itu pas tidak, ya?” ucap mama Dian tiba-tiba. Ketika tanpa sengaja ia melihat

__ADS_1


setelan anak cowok berusia kira-kira enam sapai delapan tahunan.


“Kurang tahu, Ma. Mana bisa ngerti kita kalau tidak kita


lihat sendiri,” jawab Novi dengan canggung.


“Iya, kau benar, Nov. Kalai begitu, ayo kita lihat dan coba


ke Adriel, kalau pas kita ambil,” ucap mama Dian dengan semangat.


Setelah membeli beberapa baju untuk Adriel, Novi dan juga untuk


dirinya sendiri, mama Dian nampak diam dan memikirkan sesuatu. Sementara matanya


menangkap peralatan bayi. Mulai dari box, stroller, pakaian dan lain-lain.


‘’Usia kandunganmu masih berapa, Nov?” tanya mama Dian tanpa


mengalihkan pandangannya dari peralatan bayi yang sangat menggemaskan itu. “kata


orang-orang dulu, kebutuhan bayi itu tidak boleh dibeli dulu jika usia


kandungan belum ada enam bulan,” imbuhnya lagi.


“Kandungan Novi baru tiga bulan, Ma. Kenapa?” tanya Novi


bingung.


“Coba deh, lihat itu! Bagus, gak sih?” ujar mama Dian,


menunjuk ke suatu arah dengan tatapan wajah mupeng.


“Iya, bagus. Tapi, karena usia kandungan Novi baru tiga


bulan, ya sudah. Tahan saja dulu.”


“Iya, kau benar, dan satu-satunya bisar tidak tergoda, ayo kita


tinggalkan tempat ini,” ajak mama Dian.


“Ini sudah lama sekali. Candramana, ya Nov? Dia kok belum


datang juga?” tanya mama dian Ketika mereka bertiga berjalan dan hendak


meninggalkan area fashion.


“Iya, ya Ma. Coba aku telfon dia.” Dengan segera, wanita itu


mengeluarkan ponsel dari dalam tas cangklongnya. Begitu ia melihat pada layar


sentuhnya, ia terkejut sekaligus merasa bersalah pada suaminya.


“Kenapa, Nov? Apakah dia sudah menghubungi kita, dan kita


tidak dengar?” tebak mama Dian.


“Benar, Ma. Sudah ada duapuluh panggilan tidak terjawab. Entah,


tidak dengar karena suara bising musik dalam mall ini, atau mereka yang terlalu


asik memilih? Mungkin dua-duanya.


Novi membuka pesan dari suaminya yang terkirim sejak satu


jam yang lalu. “Di mana kalian? Aku menunggu di parkiran ini.”


 Duapuluh menit kemudian


Ia menuliskan pesan, kalau dirinya menunggu di time zone.  Itu adalah pilihan yang tepat. Karena di sana


ia tidak akan merasa bosan. Ada banyak hal yang bisa dia lakukan sambil


menunggu. Lain halnya jika dia menunggu di tempat parkir. Duapuluh menit saja


serasa sudah seperti setahun saja pasti.


“Dia ada di time Zone, Ma,” ujar Novita. Ya sudah, karena


ini sudah mendekati jam makan malam, sekalian kita ke foodcourd saja makan. Sampai


rumah tinggal ganti baju dan istirahat saja.”


Mereka bertiga pun berjalan ke time zone mencari Candra


setelah menitipkan barang belanjaan mereka ke tempat penitipan barang. Kali ini,


giliran Candra yang tidak bisa dihubungi. Mungkin karena efek suara music di


area permainan dan terlalu asik. Jadi, ia tidak begitu mendengar suara dering ponselnya.


Padahal faktanya, Candra mendengar kalai istrinya menelfon. Kala


itu ia tengah bermain leper bola basket ke ranjang. Ketika ponsel yang ia


letakkan di saku celananya berdering ia mengambilnya. Tahu istrinya yang


menelfon ia hanya tersenyum jail dan membiarkan. Malah memelankan suara dering


ponsel itu. kembali memasukkan ke dalam saku dan asik bermain. Tapi, sepertinya


dia tida sedang beruntung. Baru saja melempar satu bola lagi ke dalam ranjang,  telinganya ada yang menjewernya dari


belakang.


“Bagus, ya? begitu ditelfon tidak mengangkat malah memode


silent. Apakah mama ajrin kamu begitu?”


“Aduh, aduh. Eh kalian, sudah ada di sini. Sudah ya belanjanya?


Di mana barang kalian?” tanya Candra dengan kikuk dan cengir-cengir tidak jelas


karena sudah tertangkap basah.


“Habis kalian berdua ditelfon tidak adasatu pun yang


mengangkat. Aku sempat curiga kalau ponsel juga masuk ke tempat penitipan,” jawab


Candra sambil memegangi daun telinga bekas jeweran mamanya.


“Maaf, ya? Kami benar-benar tidak sengaja,” sahut Novi. Tidak

__ADS_1


ingin memperpanjang masalah. atau, jika tidak, suami dan mama mertuanya akan terus berdebat.


__ADS_2