Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 44


__ADS_3

"Mas Al, pagi sekali, mau cari umi Fatiya, ya?" tanya Zahara.


"Tidak, aku mencari Nayla. Di mama dia, Za?" tanya Al sambil matanya di edarkan ke dalam ruangan.


"Nayla, ya? Sebentar, ya." Gadis itu berjalan ke dalam memanggil teman barunya.


Zahara mengira akhir-akhir ini dia kemari untuk mencaeinya setelah hampir tiap hari ia mengantarkan makanan pada Al di cafe tempat ia bekerja. Namun, kali ini pria itu secara terang-terangan mencari janda satu anak itu, kenapa?


"Nay, dicari tuh," ucap Zahara tanpa ekspresi.


Dia berjalan melewati Nayla tanpa senyuman di wajahnya.


"Siapa, Za?" tanya wanita bermata jeli itu.


Tapi, Zahara tidak menghiraukan dan tetap pergi meninggalkan Nayla.


Nayla diam sejenak mendapati sifat Zahara yang akhir-akhir ini berubah drastis. Tak lagi seramah dan sehagat dulu, dia cenderung cuek dan tak peduli, berusaha menghindar saat dalam kegiatan bersama.


Zahara pun meninggalkan pekerjaannya di dapur, pergi ke depan siapa yang kiranya mencarinya. Walau ia merasa tidak ada yang kenal dia selain Al, ia masih kurang yakin jika seperti itu ekspresi Zahara.


"Assalamualaikum."


Al tertegun mendapati Nayla yang merubah penampilannya dengan berhijab. Inner beautynya seolah kian terpancar jelas bagaikan bulan purnama.


"Mas, Al?" Wanita itu melambai-lambaikan tangannya dindepan muka Al.


"Eh, wa... Waalaikumssalam, Nay. Kamu cantik banget. Aku pangkling loh," ucap Al sambil tersenyum.


Mendengar pujian dari Al, Nayla tertunduk malu dan tersipu.


"Mas, jangan bilang gitu, deh, Nay kan jadi malu."


"Beneran kok kamu cantik banget."


"Ada apa pagi-pagi begini Mas Al mencari Nayla?" tanya wanita itu mengalihkan topik.


"Aku, sih. Kangen sama kamu, mau gak dikangengin?" ucap Al sambil senyum menggoda.


"Diminum, Mas. Tehnya!"


Tiba-tiba Zahara muncul dari balik selambu dan menyuguhkan secangkir teh pada Al, dengan tatapan tidak enak saat melirik Nayla di sebelahnya. Tanpa diminta, Zahara duduk di depan Al, enggan kembali masuk ke dalam.


Al sebenarnya merasa sedikit canggung dengan adanya Zahara. Tapi, pria bermata cokelat itu tidak mau ambil pusing. Dia berusaha mencarikan suasana dengan mengajak dua wanita cantik di depannya.


"Zahara, kuliah udah smester brpa?"


"Smester enam, Mas. Ambil jurusan akutansi."


Al mengangguk pelan, kemudian pandangan matanya teralihkan pada Nayla. Ia sedikit tersenyum melihat wanita yang nampak kalem dengan hijab berwarna coklat susu, membuat wajahnya nampak terlihat lebih cerah.


"Bilqis mana, Nay? Betah dia di sini? Tidak pernah rewel, kan?" tanya Al penuh perhatian.


Nayla tersenyum melihat ekspresi Al yang kian hari kian berubah, entah gr atau apa, ia merasa kalau Al makin perhatian saja dengannya dan putrinya.


"Alhamdulillah, Mas. Bilqis betah, di sini kan banyak teman bermain dia."


"Syukurlah. Kamu sibuk gak? Ayuk sekali-kali jalan-jalan, biar tahu dunia luar, masa iya cuma di dalam panti, saja?"


Seketika raut wajah Zahara berubah. Tanpa permisi gadis itu pergi masuk ke dalam sambil menghentakan kakinya.


Zahara merasa sedih bahkan air matanya sempat mengalir, ada rasa tidak suka ketika Al perhatian kepada Nayla dan anaknya, terlebih ketika pria pujaannya itu mengajak Nayla dan putrinya jalan-jalan. Hatinya seolah tertusuk ribuan duri hingga tak berbentuk.


"Zahara, Nak. Kau ada di sini?"


Dengan cepat gadis itu menyeka air mata di kedua pipinya. Dan menoleh pada sosok yang memanggilnya.


"Umi, ada apa?" tanya gadis itu gelagapan.


Wanita itu tersenyum melihat tingkah putrinya, lalu mengusap belakang kepala putri satu-satunya itu.


"Hidup itu sepenuhnya sudah Allah atur. Semua berjalan atas kehendaknya bukan kemauan kita, kau tahu kenapa?" Umi Fatiya menunjukan senyumnya yang penuh dengan kesabaran penuh.


"Kenapa, Umi? Bukannkah ada dalil kalau Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali mereka yang berusaha merubahnya?"


"Nak, memang ada sebagian di dunia ini yang dapat dirubah, dan ada pula yang tidak. Seperti orang miski dengan giat bekerja dan berdoa maka Allah akan merubah hidupnya. Tapi jika kodrat, contoh kau terlahir seperti wanita, bolehkah kau merubah diri menjadi laki-laki?"

__ADS_1


Zahara mengeleng lembut. Ia memahami betul apa yang telah disampaikan Uminya.


"Jangan pernah berharap dan berusaha keras menyenangkan manusia, sebab. Itu akan membuatmu kecewa. Biarlah semua mengalir seperti air. Kau ini wanita, Zahara. Jangan sampai mahkotamu jatuh karena sibuk berlarian mengejar sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu."


"Apakah mas Al bukan takdir Zahara, Umi?"


"Tidak ada yang tahu, Nak. Tuhan itu maha mengetahui apa yang terbaik bagi umatnya. Apa yang menurutmu baik, belum tentu baik untuk tuhan."


Zahara kembali terdiam, ia tidak mau banyak berdebat dengan Uminya.


"Zahara mau siap-siap dulu, ke kampus, Umi."


"Iya, hati-hati."


Di sisi lain Al mengajak Nayla dan Bilqis ke mall ketiganya menghabiskam waktu lama bermaim di Time Zone.


Bilqis sangat bahagia terlebih Al mampu mendapatkan banyak boneka lucu untuknya di bawa pulang.


"Mas, Al. Apakah ini tidak berlebihan? Kau bekerka keras di cafe siang malam hanya untuk seperti ini? Tidakkah kau berfikir ingin menabung untuk masa depanmu?" ucap Nayla merasa tidak enak.


"Kenapa? Ini kan kudapatkan dengan gratis dari game yang kumainkan," jawab Al sekenanya. "kamu lapar gak? Makan dulu, yuk! Habis itu kita pulang."


Nayla bingung menentukan untuk memilih menu untuk dimakan, dia tidak terbiasa makan makanan mahal seperti ini. Ia melongo ketika mendapati harga nasi goreng perporsi saja Rp.32.000.


"Cuma nasgor aja segini, di kaki lima paling juga cuma sepuluh ribu, sudah ada telur ayam dan lalapan timun.


"Nay, kamu mau makan apa?" tanya Al sambil menggendong Bilqis.


"Mas, Nay tidak lapar. Kita pulang saja yuk!" ajak Nayla.


"Ok, aku pilihin, ya? Harus dimakan pokoknya!" Seru Al sambil berjalan membawa nomor antrian menuju meja koslng.


Sekitar lima menit datang dua pelayan membawakan pesanan mereka.


Al memesan nasi bakar daging, sedangkan Bilqis di pesankan nasi udang bakar dan tumis brokoli. Untuk Nayla dia memesankan kepiting pedas manis.


Dengan telaten Al membukakan kulit udang untuk Bilqis lalu menyuapi bocah itu.


Setelah di rasa cukup, Al mengantarkan Nayla dan putrinya kembali ke panti.


"Nay, aku balik dulu, ya? Daaa," ucap Al. Ia pun berpamitan pula dengan Bilqis dan mencium kedua pipi balita itu dengan penuh kasih sayang.


🌸 🌸 🌸 🌸


"Duh, hari ini panas banget, ya?" Quen mengatur suhu ac kamarnya menjadi lebih dingin. Sambil mengipasi lehernya dengan buku yang dipegangnya.


Ia pun mengambil posisi baringan dan mulai memejamkan matanya, tapi, selang beberapa saat sebuah panggilan video masuk dari gawai di dalam tasnya.


Ia tersenyum begitu mendapati nama yang tertera di layar monitornya.


Sambil baringan Quen mengangkat panggilan dan mengarahkan layar ponselnya ke depan wajahnya.


"Ada apa siang-siang menelfonku?" ucap Quen.


"Kau tahu, apa yang sedang aku lakukan? Lihat aku membuat puding buah," ucap pria itu sambil menunjukan puding berwarna pink di bagian bawahnya dan putih bening di atas dengan taburan selasih di permukaan sementara di dalamnya ada anggur, kelengkeng stowberry juga kiwi.


"Cantik banget, kau yang membikinnya?" tanya Quen sambil tertawa.


"Tentu saja. Lihat! aku bahkan masih masih memakai celemekku. Kau tahu Quen ini untuk siapa?"


"Untung kau makan sendiri, lah? Hahaha." Quen menutupi mulut dengan tangan kanannya.


"Bukan, aku akan memberikannya pada seorang gadis yang spesial," ucap pria itu. Seraya melepaskan celemek, melipatnya, lalu masukan ke dalam salah satu laci kitchen set di dapurnya.


"Siapa? Kau sudah ada gadis spesial, ya?"


"Kepo kamu. Nanti dua puluh menkt lagi kau akan tahu, aku akan menyuapi gadis itu, byee!" Seru Alex dan mematikan video callnya.


Quen tersenyum geli dengan tingkah Alex akhir-akhir ini yang nampak lucu baginya.


Kembali ia melihat ke arah kerang berisikan kalung mutiara itu lagi. Quen memejamkan matanya mengingat kembali kenangan saat SMA. Memang itu tidaklah spesial, tapi, cukup membuat gadis itu tersenyum.


Quen berjalan keluar kamar dengan malas saat mendengar suara bel berbunyi, diintipnya dari lubang yang ada di pintunya ternyata Al yang datang.


"Tumben siang-siang kakak ke sini," ucap Quen begitu pintu terbuka lebar.

__ADS_1


"Kakak bawakan kamu makan siang, nih."


"Makasih, tau aja kalau aku lagi lapar." Quen menerima bungkusan itu dan berjalan ke dapur mengambil sendok serta dua botol minuman untuknya sendiri dan kakakknya.


"Kau sibuk tidak?" tanya Al duduk di hadapan adiknya.


"Sepertinya sih tidak. Kenapa?" tanya Quen sambil menyuapkan nasi dan baby cumi masak saus tiram ke dalam mulutnya.


"Tidak ada, pengen curhat aja, sih." Al tersenyum malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Quen menatap tajam ke arah kakaknya. Tidak seperti biasa dia sangat aneh bahkan sedikit lebay kali ini. "Ada apa? Kau jatuh cinta pada wanita?" tebak Quen.


"Kau peka sekali, Quen."


"Melihat gelagat anehmu, dan lagi kau sudah tahu bagaimana nikmatnya bercinta, pasti juga mau setiap hari, kan? Dan kakak juga cukup tua untuk menjadi lajang."


"Ok baiklah, aku suka sama seseorang. Dia sekarang tinggal di panti bersama Umi Fatiya..."


Kalimat Al tak teselesaikan karena Quen buru-buru lari ke depan membukakan pintu untuk yang datang.


"Alex, kenapa kau kemari? Ayo masuk! Aku lagi makan, di sini juga ada kakakku lo." Quen meggandeng tangan Alex mengajaknya masuk ke dalam.


"Halo, Kak!" sapa Alex ramah kepada Al sambil meletakan box di atas meja makan.


"Hay." Sapa Al kembali keduanya bersalaman layaknya seorang pria.


Quen melihat dua pria dihadapannya sambil menghabiskan makan siangnya. Mereka nampak semakin akrab saja.


"Apa yang kau bawa, Al?" tanya Quen sambil melirik pada box dalam wadah itu.


"Kau mau tahu?" ucap Alex sambil menunjukan senyuman manisnya bagaikan Steeven wiliam.


"Apa, sih?" tanya Quen semakin penasaran.


Dia tersenyum saat melihat puding kaca di dalamnya. "Ini yang tadi?" tanya Quen meyakinkan.


"Iya, kau sudah selesai makan, kan? Sini buka mulutmu!" Alex menyuapkan sepotong puding berisi kiwi pada Quen. "bagimana rasanya? Enak?"


Quen mengangguk sambil tersenyum menutup mulut yang penuh dengam puding dengan tangan kanannya.


"Jadi gadis spesialnya aku, nih? Hebat deh kamu, Lex. Bikin apapun selalu enak." Puji Quen.


Al berdeham pelan dan berkata, "Bahkan kalian melupakan kalau aku masih ada di sini, ya?"


"Maaf, Kak. Kakak mau?" tawar Alex sambil menyodorkan puding pada Al.


"Makasih, Kakak pulang dulu, ya Quen. Nanti kau pulanglah makan malam di sana," ucap Alex berpamitan sambil mencium kedua pipi adiknya.


"Ok, kak. Daaa hati-hati, ya?"


"Alex, aku titip adikku, ya!" Seru Al sambil menjabat tangan Alex dan menpuk punggungnya.


Setelah Al pergi, Alex menatap ke arah Quen. "Kau dekat banget dengan kakakmu ya? Sampai harus cium pipi kiri dan kanan saja."


"Papa dan mama juga begini pada kami, jadi kami menirukan," jawab Quen.


"Aku juga mau donk, dicium kamu, Quen," goda Alex sambil tersenyum jail.


"Kan uda pernah." Protes Quen sambil melotot.


"Dulu, sekarang lagi, Donk!"


Quen semakin bersungut-sungut melihat Alex yang tiada bosannya.


"Aku mau ke gym, kau mau ikut?"


"Boleh, kapan?"


"Sekarang, masih kurang dua puluh menit lagi." Alex melihat ke arah jam tangan di pergelangannya.


"Yadah, aku siap-siap dulu, ya?" Dengan semangat Quen berhambur ke dalam kamar mengganti pakaiannya dengan pakaian senam dan menutupinya dengan jaket.


"Aku sudah siap, Lex!" Seru Quen.


"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang!" Seru pria itu setelah membereskan bekas makan siang Quen.

__ADS_1


__ADS_2