
Pagi-pagi sekali Al sudah tiba di Jepang. Awalnya ia ingin
langsung ke kantor dan memberi kejutan putrinya di sana. Dengan merekayasa kalau kantor kebobolan. Tapi, ia juga rindu
pada mama kandungnya yang kini sudah kian menua saja. Jadi, ia memutuskan untuk
langsung ke rumah yang ditempati putri dan juga maminya.
“Ting tong!”
“Ck, ama tidak ada… tamu gak tahu diri banget, sih? Datang
kok pagi-pagi buta begini,” umpat Clarissa sambil terus melanjutkan menggosok gigi.
“Ting tong ting tog!”
“Ck. Iya, sebentar!” teriak gadis kecil itu dengan kesal.
Dengan jengkel diletakannya sikat gigi yang baru ia gunakan itu pada tempatnya.
Lalu, ia beranjak keluar kamar mandi dan membuka pintu ruang tamu.
Begitu pintu terbuka, ia mendapati seorang pria dengan warna
rambut abu-abu di bagian atasnya, sementara di bagian bawah, potongannya lebih
tipis masih berwarna hitam. Dia berdiri membelakangi pintu menunjukkan punggung yang nampak lebar di balik balutan
jaket jemper warna merah yang dikenakannya.
“Siapa, kau?” tanya Clarissa jengkel.
Seketika laki-laki itu membalikkan padannya dan berhadapan
dengannya sambil berkata, “Apakah seperti itu cara Clarissa menyambut papany?”
“Papa!” teriak Clarissa benar-benar merasa surprise dan
langsung melompat memeluk Al dengan erat.
Sedangkan Al hanya tertawa saja sambil menggendong putrinya
dan memeluknya.
“Kok papa tidak bilang jika mau ke sini? Di mana Berlyn sama
mama?” tanya gadis kecil itu sambil mengedarkan pandangannya ke belakang papanya.
“Mereka tetap tinggal di rumah, Sayang. Kau dapat salam dari
saudarimu,” jawab Al.
“Oh, iya kah? Salam balik untuknya. Kukira mereka juga ikut,”
jawab Clarissa sedikit kecewa.
“Lain kali mereka juga akan ikut serta, Sayang. Kamu yang
sabar, ya?”
“Iya, Pa. aku ngerti posisi kalian. Bagaimana kabar, Adriel?”
“Dia sudah bisa di kata normal dan baik-baik saja. Dan sudah
satu bulan ini ia juga sudah mau tinggal bersama om dan tantenya. Walau hanya
kadang-kadang saja.”
“Kau pasti lelah, Pa. mau tiduran dulu? Kubuatkan kau
minuman panas dulu. Mau teh, kopi atau susu panas?” tawar Clarissa. Cara bicaranya pun juga sudah seperti orang dewasa saja.
“Papa akan menyukai apapun yang dibuatkan putri papa. Emb,
di mana ama kamu, Sayang?” tanya Al begitu mendapati rumah sepi, semenjak kedatangannya, ia juga tidak melihat maminya menampakkan batang hidungnya.
“Ama ke pasar katanya, Pa. belanja beberapa bahan makanan.”
“Kenapa kau tidak menemaninya, Sayang?”
“Mana mau dia ditemani, Pa? Katanya, hanya wanita tua dan jompo saja, yang ke mana-mana diantar oleh cucu. Dia masih merasa kalau dirinya
masih lah muda. Kurang terima juga sih diajak pindah ke mari. Katanya sayang dengan bisnis sea foodnya di Singapura.”
Al hanya tersenyum tipis saja mendengarkan celoteh putrinya.
“Kau yang ngertiin dia, Sayang. Ama mu itu memulai bisbis seafood dari enaol. Wajar saja dia merasa menyayangkan itu,” timpal Al.
Mendengar pernyataannya, seketika mimik wajah Clarissa
sedikit berbeda. Ada sedikit rasa bersalah di sana. Ia melambatkan tangannya mengaduk kopi, seperti orang yang tengah berfikir. Lalu menoleh ke papanya. Kembali ia mempercepat adukannya, dan
membawa kopi tersebut pada papanya lalu duduk dekat dengan Al.
“Aku hanya menyayangkan bisnis ini, Pa. aku suka berhubungan
denga orang-orang besar dari berbagai Negara. Aku benar-benar tidak tahu kalau
begitu. Maafkan aku,” ucap Clarissa merasa bersalah.
“Kau ini bersalah pada ama, mu Sayang. Minta maaflah
dengannya. Tebus kesalhanmu, kembalikan lagi senyumnya yang kau hilangkan.”
“Aku akan berusaha untuk itu, Pa. kau minumanlah ini dulu. Aku
akan membuat sarapan untuk kita. Bertiga. Sebentar lagi mungkin ama juga sudah
akan kembali.” Segera Clarissa bergegas ke dapur.
“Al, kau kapan datang? Kenapa tidak mengabari mami?” ucap
mami Jeslyn yang juga tak kalah terkejut melihat putranya sudah duduk manis di
ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi.
“Mami, kau sudah kembali? Aku baru saja tiba. Sekitar duapuluh
lima menit yang lalu, Mam,” jawab Al sambil mencium punggung tangan kanan mami
Jeslyn.
“Di mana Brlyn dan istrimu? Apakah mereka tidak ikut?” tanya
wanita tua itu saat melihat barang di dekat putranya hanya ada satu koper kecil
saja.
“Mereka belum bisa ikut dulu, Mam. Mungkin lain kali,” jawab
Al dengan rasa yang tidak nyaman saat mendapati ekspresi kecewa maminya. Sekalipun
bibir wanita tua itu tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Namun, lain dengan hatinya yang
berkata lain. Sekalipun Al tidak bisa mendengarkan melalui telinganya. Bukankah
dia juga memiliki hati dan rasa? Bisa menilai hanya dengan melihat wajah dan gestrunya
saja.
“Clarissa, apa yang kau lakukan di dapur, Nak?” tanya mami
Jeslyn Ketika mendengar suara berisik di dapur.
“Mau nyiapin sarapan, Ama.”
“Tidak perlu, kemarilah. Ama bawa sarapan dari pasar,” ucap
wanita tersebut sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas belanjanya.
“Al tidak masalah, kan makan makanan seperti ini? Bukankah
dulu juga pernah lama tinggal di Jepang?” ucap Jeslyn sambil melirik ke arah putranya.
“Tentu saja,” jawab pria itu. kemudian mereka bertiga
menikmati menu sarapan berupa nasi putih, yang memang sudah ada di rumah. Sebelum
Jeslyn pergi ke pasar dia sudah memasaknya terlebih dahulu. Dari pasar, ia
membawa sup miso, olahan ikan makarel dan salmon serta sereal.
Usai sarapan, Al berniat mengajak maminya untuk jalan-jalan
bersama Clarissa juga. tapi, wanita yang sudah berusia hampir lanjut itu menolaknya.
Ia sekarang lebih suka menghabiskan waktunya tetap di rumah sambil membuat
sulaman saja.
Akhirnya, Al hanya pergi berdua saja dengan putrinya,
jalan-jalan menikmati awal musim semi di Jepang.
“Clarissa, kau tahu, ada hal yang ingin mamamu lihat di
sini,” ucap Al mengawali percakapan.
“Apa itu, Pa?” Seketika Clarissa langsung melihat wajah papanya. Ia begitu antusias dan terlihat sekali, kalau ia sangat peduli pada mamanya.
“Mamamu ingin melihat mekarnya bunga sakura. Lucu juga dia,
putri tunggal dari seorang konglo merat tapi jarang ke luar negeri,” ucap Al sambil
tertawa miring. Merasa lucu dan payah saja Queen itu.
“Kau bilang kemarin dalam bulan ini akan ke mari bersama
Berlyn dan mama. Beneran?”
“Iya, Sayang. Pasti, papa sudah mengatur semuanya, Kok.”
“Terimakasih, Pa. kau memang yang terbaik,” ucap Clarissa
sambil memeluk lengan papanya.
Hari ini, kebetulan hari minggu.puas mereka jalan-jalan ke berbagai
__ADS_1
tempat wisata popular di negeri sakura tersebut. Rencana awal Al, memang di sini selama tiga hari, jadi, Selasa malam, ia akan kembali ke Indonesia dan memulai
aktifitas baru di sana.
***
“Kau mau ke mana sepagi ini, Xel?” tanya Queen ketika ia
melihat Axel sudah rapi saat menghampirinya di dapur, sambil mencangklongkan
tas ransel warna hitam miliknya di bahu kanannya.
“Mau ke GYM dulu, Tante. Om Alex memintaku agar segera
membukanya pagi ini.”
“Oh, ya sudah, kau tidak menunggu sarapan dulu?” tanya Queen
dengan penuh perhatian, seperti layaknya seorang ibu pada putranya sendiri. Lagi
pula, Axel dari kecil juga sudah menyukainya, dan selalu memperlakukan dirinya
seperti ibunya sendiri. Meskipun pada akhirnya ia gagal menjadi ibu tirinya,melainkan menjadi tantenya. SampaPagi-pagi sekali Al sudah tiba di Jepang. Awalnya ia ingin
langsung ke kantor dan memberi kejutan putrinya di sana. Tapi, ia juga rindu
pada mama kandungnya yang kini sudah kian menua saja. Jadi, ia memutuskan untuk
langsung ke rumah yang ditempati putri dan juga maminya.
“Ting tong!”
“Ck, ama tidak ada… tamu gak tahu diri banget, sih? Datang
kok pagi-pagi buta begini,” gumam Clarissa sambil terus melanjutkan menggosok
gigi.
“Ting tong ting tog!”
“Ck. Iya, sebentar!” teriak gadis kecil itu dengan kesal.
Dengan jengkel diletakannya sikat gigi yang beru ia gunakan itu pada tempatnya.
Lalu, ia beranjak keluar kamar mandi dan membuka pintu ruang tamu.
Begitu pintu terbuka, ia mendapati seorang pria dengan warna
rambut abu-abu di bagian atasnya, sementara di bagian bawah, potongannya lebih
tipis masih berwarna hitam. Dia berdiri membelakangi pintu menunjukkan punggung yang nampak lebar di balik balutan
jaket jemper warna merah yang dikenakannya.
“Siapa, kau?” tanya Clarissa jengkel.
Seketika laki-laki itu mmebalikkan padannya dan berhadapan
dengannya sambil berkata, “Apakah seperti itu cara Clarissa menjambut papany?”
“Papa!” teriak Clarissa benar-benar merasa surprise dan
langsung melompat memeluk Al dengan erat.
Sedangkan Al hanya tertawa saja sambil menggendong putrinya
dan memeluknya.
“Kok papa tidak bilang jika mau ke sini? Di mana Berlyn sama
mama?” tanya gadis kecil itu sambil mengedarkan pandangannya ke belakang
papanya.
“Mereka tetap tinggal di rumah, Sayang. Kau dapat salam dari
saudarimu,” jawab Al.
“Oh, iya kah? Salam balik untuknya. Kukira mereka juga ikut,”
jawab Clarissa sedikit kecewa.
“Lain kali mereka juga akan ikut serta, Sayang. Kamu yang
sabar, ya?”
“Iya, Pa. aku ngerti posisi kalian. Bagaimana kabar Adriel?”
“Dia sudah bisa di kata norman dan baik-baik saja. Dan sudah
satu bulan ini ia juga sudah mau tinggal bersama om dan tantenya. Walau hanya
kadang-kadang saja.”
“Kau pasti lelah, Pa. mau tiduran dulu? Kubuatkan kau
minuman panas dulu. Mau the, kopi atau susu panas?” tawar Clarissa. Cara bicaranya
pun juga sudah seperti orang dewasa saja.
“Papa akan menyukai apapun yang dibuatkan putri papa. Emb,
kedatangannya.
“Ama ke pasar katanya, Pa. belanja beberapa bahan makanan.”
“Kenapa kau tidak menemaninya, Sayang?”
“Mana mau dia ditemani, Pa? Dia masih merasa kalau dirinya
masih lah muda. Kurang terima juga sih diajak pindah ke mari. Katanya sayang
dengan bisnis sea foodnya.”
Al hanya tersenyum tipis saja mendengarkan celoteh putrinya.
“Kau yang ngertiin dia, Sayang. Ama mu itu memulai bisbis seafood dari enaol. Wajar
saja dia merasa menyayangkan itu,” timpal Al.
Mendengar pernyataannya, seketika mimic wajah Clarissa
sedikit berbeda. Ada sedikit ras bersalah di sana. Ia melambatkan mengaduk
kopi. Lalu menoleh ke papanya. Kembali ia mempercepat mengaduk kopi, dan
membawa pada papanya lalu duduk dekat dengan Al.
“Aku hanya menyayangkan bisnis ini, Pa. aku suka berhubingan
denga orang-orang besar dari berbagai Negara. Aku benar-benar tidak tahu kalau
begitu. Maafkan aku,” ucap Clarissa merasa bersalah.
“Kau ini bersalah pada ama, mu Sayang. Minta maaflah
dengannya. Tebus kesalhanmu, kembalikan lagi senyumnya yang dulu hilang.”
“Aku akan berusaha untuk itu, Pa. kau minumanlah ini dulu. Aku
akan membuat sarapan untuk kita. Bertiga. Sebentar lagi mungkin ama juga sudah
akan kembali.” Segera Clarissa bergegas ke dapur.
“Al, kau kapan datang? Kenapa tidak mengabari mami?” ucap
mami Jeslyn yang juga tak kalah terkejut melihat putranya sudah duduk manis di
ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi.
“Mami, kau sudah kembali? Aku baru saja tiba. Sekitar duapuluh
lima menit yang laly, Mam,” jawab Al sambil mencium punggung tangan kanan mami
Jeslyn.
“Di mana Brlyn dan istrimu? Apakah mereka tidak ikut?” tanya
wanita tua itu saat melihat barang di dekat putranya hanya ada satu koper kecil
saja.
“Mereka belum bisa ikut dulu, Mam. Mungkin lain kali,” jawab
Al dengan rasa yang tidak nyaman saat mendapati ekspresi kecewa maminya. Sekalipun
bibir wanita tua itu berkata tidak apa-apa. Namun, lain dengan hatinya yang
berkata lain. Sekalipun Al tidak bisa mendengarkan melalui telinganya. Bukankah
dia juga memiliki hati dan rasa? Bisa menilai hanya dengan melihat wajah dan gestrunya
saja.
“Clarissa, apa yang kau lakukan di dapur, Nak?” tanya mami
Jeslyn Ketika mendengar suara berisik di dapur.
“Mau nyiapin sarapan, Ama.”
“Tidak perlu, kemarilah. Ama bawa sarapan dari pasar,” ucap
wanita tersebut sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas belanjanya.
“Al tidak masalah, kan makan makanan seperti ini? Bukankah
dulu juga pernah lama tinggal di Jepang?” ucap Jeslyn sambil melirik ke arah putranya.
“Tentu saja,” jawab pria itu. kemudian mereka bertiga
menikmati menu sarapan berupa nasi putih, yang memang sudah ada di rumah. Sebelum
Jeslyn pergi ke pasar dia sudah memasaknya terlebih dahulu. Dari pasar, ia
membawa sup miso, olahan ikan makarel dan salmon serta sereal.
Usai sarapan, Al berniat mengajak maminya untuk jalan-jalan
__ADS_1
bersama Clarissa juga. tapi, wanita yang sudah berusia hampir lanjut itu menolaknya.
Ia sekarang lebih suka menghabiskan waktunya tetap di rumah sambil membuat
sulaman saja.
Akhirnya, Al hanya pergi berdua saja dengan putrinya,
jalan-jalan menikmati awal musim semi di Jepang.
“Clarissa, kau tahu, ada hal yang ingin mamamu lihat di
sini,” ucap Al mengawali percakapan.
“Ap aitu, Pa?”
“Mamamu ingin melihat mekarnya bunga mawar. Lucu juga dia,
putri tunggal seorang konglo merat tapi jarang ke luar negeri,” ucap Al sambil
tertawa miring. Merasa lucu dan payah saja Queen itu.
“Kau bilang kemarin dalam bulan ini akan ke mari bersama
Clarissa dan mama. Beneran?”
“Iya, Sayang. Pasti, papa sudah mengatur semuanya, Kok.”
“Terimakasih, Pa. kau memang yang terbaik,” ucap Clarissa
sambil memeluk papanya.
Hari ini, kebetulan hari minggu.puas mereka jalan-jalan ke berbagai
tempat wisata popular di negeri sakura tersebut. Rencana awal Al, memang di
sini selama tiga hari, jadi, Selasa malam, ia akan kembali ke Indonesia dan memulai
aktifitas baru di sana.
***
“Kau mau ke mana sepagi ini, Xel?” tanya Queen ketika mencangklongkan
tas ransel warna hitam miliknya di bahu kanannya.
“Mau ke GYM dulu, Tante. Om Alex memintaku agar segera
membukanya pagi ini.”
“Oh, ya sudah, kau tidak menunggu sarapan dulu?” tanya Queen
dengan penuh perhatian, seperti layaknya seorang ibu pada putranya sendiri. Lagi
pula, Axel dari kecil juga sudah menyukainya, dan selalu memperlakukan dirinya
seperti ibunya sendiri. Meskipun pada akhirnya ia gagal menjadi ibu tirinya,
melainkan menjadi tantenya. Sampai sekarang, meskipun sudah bercerai dengan
omnya.
“Axel takut kesiangan, Tante. Nanti saja, Axel akan makan siang
di sini bersama adik-adik,” jawab pria itu.
“Oh, baiklah. Tunggu sebentar, ya?” ucap Queen dengan
cekatan ia mengeluakan box makanan dari dalam laci mengisinya dengan omelet
keju dan satu kotak susu uht dan sebotol minuman isotonic.
“Pokoknya, jangan sampai telat makan, oke?” ucap Queen sambil
memberikan box makanan dan botol minuman pada Axel.
“Terimakasih, Tante,” ucap Axel merasa terharu. Sebenarnya ia
sudah dari dulu, sejak tiga bulan setelah Chandra dan Novita meninggal ingin
sekali memanggil Al dan Queen papa dan mama seperti yang Adriel lakukan. Tapi,
karena ia sudah besar mungkin, ia pun jadi malu.
“Iya, sama-sama,” jawab Queen sambil tersenyum.
Axel hanya mencium punggung tangan wanita di depannya tanpa
mengucapkan kata lain setelah salam. Setelahnya, ia sesegera mungkin pergi. Bukan
ia takut terlambat datang. Tapi, ia salah tingkah dengan kebaikan yang
diberikan Queen padanya. Dengan mamanya sendiri saja dullu dia tidak sedekat ini.
“Hm… sayang sekali, Berlyn masih sangat kecil. Kalau saja sudah
sama-sama dewasa, aku tidak sungkan lagi memanggilnya mama,” gumamnya seorang
diri Ketika ia sudah berada di dalam mobil.
Tiba di GYM di sana masih sepi. Jadi, Axel memutuskan untuk
sarapan dulu. Baru saja ia menghabiskan makanan yang Queen bawakan untuknya ponsel
di dalam ranselnya berdering. Takut itu telfon penting dari omnya. Tapi,
sepertinya dugaanya salah. Bukan omnya yang menelfonya. Sebab, dari raut wajah
pria itu juga sudah berubah menjadi sangat jengah melihat nama kontak yang
mucul di dalam layar ponselnya.
“Halo,” jawabnya singkat dan sangat jutek.
“Xel, giaman tawaranku kemarin? Apakah kau menerimanya?”
ucap seorang gadis dari balik telefon genggamnya.
“Maaf,” jawab Axel.
“Cuma maaf saja? Kamu kasih aku jawaban yang jelas kenapa,
sih? Kamu mau ambil, apa tidak?” ucap gadis dari seberang itu dengan nada yang
sangat gemas dengan Axel.
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa? Kami semua sudah tahu seperti apa kemampuanmu, apanya
yang tidak bisa? Kau tidak mau? Apa karena mama dan papa asuhmu melarangmu pergi
meninggalkan Jakarta?”
“Cukup! Siapa kau berani mengaturku?” ucap Axel kesal.
“Xel, kita ini saudara, kau adalah putra dari omku, kau juga
berhak mengambil jabatan sebagai meneger di perusahaan nenek kita, Xel,” ucap
Sherly. Dengan cepat berusaha menjelaskan.
“Kau salah. Jangan jadikan ini sebagai alibimu saja.” Tak mau
banyak berdebat, Axel langsung mematikan panggilannya.
“Xel, kau sudah tiba?”
Pria itu menoleh, dilihatnya pria berbadan tinggi besar proposional.
Ia hanya mengenakan kaus singlet warna hitam saja.
“Om Alex.” sapa pria itu sambil tersenyum tipis yang tidak
bertahan lama senyuman itu langsung memudar.
“Kok murung begitu? Kenapa? Ada masalah?” tanya Alex sambil
meletakkan lengannya di atas bahu keponakannya.
“Iya, Om.”
“Pasti soal cwek, ya?” tebak Alex, sambil tertawa. Tawa yang
lebih menjurus ke menggoda.
“Iya, benar.”
“Bilqis?”
“Bukan.”
“Lalu, siapa?” tanya Alex. karena sejauh ini, Axel tidak pernah
bercerita pada siapapun mengenai Sherly. Bagaimana dia, semenyebalkan apa dia,
tidak ada yang tahu. Tentang Bilqis ia juga sebenarnya tidak pernah bercerita. Hanya
saja, karena hidupnya dulu berkumpul dengan mamanya, dan Bilqis over banget,
jadi semua orang juga tahu kalau gadis kecil itu suka dan tergila-gila padanya.
Parahnya lagi, sampai sekarang, semua orang selalu menggoda dan menjomblangkan
dia dengan Bilqis meskipun Bilqis sudah tidak seover dulu.
Lain halnya dengan Berlyn. Ia memang tidak pernah bercerita mengenai apapun tentang gadis itu. Sebab, jika dia jujur dengan perasaannya, ia kawatir, jika orang-orang akan menganggap dirinya adalah seorang pedofil. Tapi, semakin ke sini, sepertinya sudah banyak yang mengira kalau Axel menaruh hati pada bocah berusia sepuluh tahun itu. Dan di usianya uang sudah menginjak duapuluh tiga tahun, ia masih menyendiri saja juga banyak yang berfikir apakah dia menunggu Berlyn dewasa? Tidak hanya Bilqis. Tapi, Al, Queen, Zahara dan Alex juga sebenarnya berfikir demikian. Hanya saja demi kebaikan keponakannya, mereka tetap diam diam mengalihkan dengan Bilqis saja.
“Kapan-kapan saja Axel cerita sama Om jika ada waktu, ayo kita
mulai,” ajak Axel dengan semangat
Sementara di Jogja, Sherly kebakaran jenggot sendiri menghadapi
tingkah Axel yang sudah lama dia kenal masih saja acuh tak acuh. Ia berusa
keras untuk bisa dekat dan akrab padanya. Tapi, selalu saja gagal. Tapi, gadis itu masih akan tetap berusaha
__ADS_1
mencari cara agar ia bisa dekat dengan Axel dan tidak akan menyerah untuk itu.