
Pagi ini terasa begitu cerah, Novita dengan semangat mempersiapkan semua keperluan yang akan Livia bawa, yang sebenarnya itu adalah barang-barang miliknya dan Axel yang nantinya akan dibawa ke luar negeri. Agar, saat orang suruhan Al dan Alex datang menjemputnya besok tidak sibuk dengan banyak barang, yang malah membuat perhatikan para tetangga. Semua sudah di atur, Axel dan Novita keluar rumah hanya orang saja. Bahkan paspor pun juga masih ada di tangan Alex.
Setelah semua masuk ke dalam bagasi mobil, Novita mengajak sarapan Ibu mertua, suami dan juga putranya sebelum mereka melakukan perjalanan.
"Apakah semua sudah beres, Sayang?" tanya Aditya.
"Sudah beres, kita sarapan dulu yuk, Dit," ajak Novita.
Mereka pun semuanya sarapan bersama, penuh dengan canda tawa, seolah-olah tidak akan terjadi hal besar. soal hati dan perasaan, jelas rasa sedih itu ada di hati Novi, Axel dan juga Livia. tapi, apa boleh buat. semua juga demi kebaikan bersama. termasuk Axel. dari pada ia mengetahui siapa sang ayah sebenarnya.
Novita dan Livia tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Axel jika mengetahui kebenarannya. yang dia dan orang lain kenal Aditya adalah dokter yang baik, ramah dan juga sosok dosen yang cerdas. cara penyampaian materinya juga mudah diterima.
Usai sarapan, mereka pun masuk ke dalam mobil. Novita berada di depan menemani Aditya mengemudi, dan mungkin, hari ini adalah yang terakhir kalinya.
Novita menoleh memandang Aditya yang nampak lebih ceria dari pada hari-hari sebelumnya. rasa tidak tega untuk pergi memanglah ada, tapi, dia sudah mempertimbangkannya dengan matang, tidak boleh mundur atau menarik kembali keputusannya.
Aditya nampak mengamati spion tengah, ia memandang dengan mimik muka serius. kemudian tersenyum kecil dan bertanya kepada Novita.
"Sayang, Apakah akhir-akhir ini Alex tidak pernah ke kampus untuk mengajar?"
"Kurang tahu, aku, Dit. Memangnya kenapa? Apakah kalian tidak pernah bertemu?"
"Tidak, Apakah sekarang dia sedang tidak sibuk?"
"Aku tidak tahu. Kami jarang berkomunikasi jika tidak ada hal yang penting dan mendesak," jawab Novita, tidak sepenuhnya bohong. Toh kenyataannya juga begitu, Kan? dan pada pakaian Novita juga sudah dipasang pelacak, agar Alex tahu di mana keberadaanya dan apa saja yang diobrolkan bersama Aditya saat ini.
"Coba, kau hubungi Alex, dan tanyakan dia sedang sibuk atau, tidak. jika tidak ajak saja pergi ke Bandung sekalian. aku ingin mengajaknya mendaki gunung."
"Oh, oke." Dengan tenang Novita pun mengambil gadgetnya dan menelfon nomor Alex.
Panggilan Pertama, kedua tidak dijawab, Aditya menyeringai kecil dan meminta agar Novi memanggilnya lagi.
Novita pun berlagak patuh dan menurut saja kepada suaminya.
Kali ini, Alex mengangkat panggilannya.
"Halo, Lex, kenapa lama sekali angkat telfon kakak?" tanya Novita. dia membatin, pasti sudah akan menemukan jawaban agar Aditya puas dan menganggap dia dan adiknya memang tidak lah dekat dan benar-benar jarang berkomunikasi.
"Maaf, kak aku habis mandi. Ini aku lagi buru-buru mau ke kampus, maaf ya kak aku matikan dulu, dah!"
Tanpa menunggu persetujuan dari Novita Alex pun langsung mematikan panggilannya. Dan sekarang, adalah saatnya Novita memainkan perannya pura-pura percaya dan seolah tidak mengerti jika Alex mengikuti dirinya.
Walaupun sebenarnya, yang mengikuti mereka itu bukanlah, Alex. tapi salah satu anak buah Al yang kebetulan memiliki bodi dan gestur tubuh mirip adiknya, sedangkan Alex sendiri, entah, dia benar ke kampus, mengurus surat pindah Axel atau bahkan semua sudah beres dan tinggal urusan pasport aja, Novita sebenarnya tidak tahu. yang dia ketahui adalah, besok saat Aditya sudah pergi, dia dijemput oleh orang suruhan Al.
🍁🍁🍁🍁
"Hello... Selamat pagi," ucap Hanifah saat tiba di rumah Queen sambil membawa banyak oleh-oleh untuk mereka yang ada di rumah.
Seperti biasa, wanita itu selalu nampak ceria dan selalu bahagia tak pernah ada yang tahu bagaimana isi hatinya yang sebenarnya. Seperti saat ini meskipun iya tersenyum, tertawa, dan selalu melempar banyak candaan bersama cz jauh di dalam lubuk hatinya ia pun sebenarnya merasa sakit dan patah hati. Sebab, laki-laki yang dicintainya lebih memilih saudaranya sendiri. Lebih tragisnya, ini adalah yang pertama kalinya, dan dia tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini. Biasanya, dia yang selalu dikerumuni oleh banyak pria, dan dia sendiri yang sok jual mahal. Tapi, begitu bertemu Diaz segalanya seolah berubah. Jangankan berusaha mendekat, bahkan dia dengan sengaja menjatuhkan harga dirinya sendiri sebagai perempuan, dan itupun masih ditolak.
Hanya saja, hanifah tidak mau ambil pusing. Dia bisa menerima semua ini, sebab jauh sebelum dia mengenal Diaz, Diaz lebih dulu mengenal Queen. Bahkan sepertinya pria itu juga sudah jatuh cinta pada Queen pada pandangan pertama. Tepatnya pada saat Queen masih menjadi istrinya Alex.
Tapi, meskipun begitu Diaz tetap selalu ada untuk Quen. Terlebih saat rumah tangganya ada dalam.masalah dan tengah berada di ujung tanduk, Diaz selalu mensuportnya.
Hanifah juga pernah mendengar sendri sebelum Quen benar-benar menggugat cerai Alex, Diaz mengatakan akan siap menjadi pendamping hidupnya, menerima dia apa adanya sekalipun sudah janda, Diaz tidak peduli, karena yang dicintai adalah dirinya, bukan statusnya. Dan kini, Quen benar-benar jadi janda dan menjalin hubungan dengannya.
__ADS_1
'Ah, Quen. Kau memang selalu beruntung. Hampir semua kau miliki, kakak yang baik, sekalipun bukan kakak kandung. Pria sebaik Diaz. mungkin aku ini wanita club malam yang penuh tato. Jelas Diaz tidak akan mau padaku. Jika pun aku jadi seorang ibu, apa yang akan aku katakan pada anak-anakku kelak dengan tato-tato yang menghiasi tubuhku ini?' batin. Hanifah.
"Tante Hanifaaaah!" seru Bilqis sambil berlari dalam pelukannya.
"Hay, apakah kau libur hari ini? di mana seragam mu?" tanya Hanifah. sambil mencium pipi Bilqis dengan gemas.
"Iya, hari ini aku libur. Kan, hari Sabtu tante, apakah tante akan mengajakku jalan-jalan?" tanya Bilqis dengan polos serta sorot mata yang membinar penuh harap.
"Ya, kalau memang kamu libur... Kenapa tidak? Kau ingin ke mana? Ayo kita pergi bersama kakek Andrean juga," ajak Hanifah dengan semangat.
"Oh ya, di mana tante Queen? Kok tidak kelihatan?"
"Tante Quen sedang ikut Papa ke kantor hari ini. Dia tidak ada jadwal ke rumah sakit, jadi papa meminta untuk membantunya mengerjakan tugas kantor. Kasihan sekali dia, hampir tidak ada waktu libur. Padahal kemarin saat mau berangkat ke rumah sakit dia nampak masih ngantuk dan kelelahan," ujar Bilqis, penuh belas kasihan.
"Kau bisa mencontoh tantemu itu, selain cantik, doa baik dan juga cerdas. makanya selain merangkap sebagai dokter, dia juga masih bisa menjadi asisten CEO," ucap Hanifah sambil menepuk pundak Bilqis.
"CEO? Siapa itu CEO, Tan?"
"CEO nya adalah kakekmu, kakek Vanom dan papamu, dia wakil CEO dan sementara menduduki jabatannya. Tantemu bertugas membantu mengerjakan dan menyiapkan apapun yang dibutuhkan oleh papamu. Bukankah itu Hebat?"
"Iya, Semuanya hebat, Tante Hanifah juga seorang model, kan? Semua tanteku adalah wanita cantik baik dan Hebat. Ok aku akan menemui mama sekaligus meminta izin padanya." Bilqis pun berlari menuju anak tangga dan menaikinya untuk pergi ke kamar mamanya. kebetulan mamanya masih berada di dalam kamar.
''Semua tentangmu hebat ya, Bilqis? Dan kau bilang aku cantik, baik juga pintar? Kamu salah aku tidak sebaik Queen. Dan masih kalah dengan dirinya. Buktinya, Diaz lebih memilih Queen daripada aku," gumam Hanifah seorang diri.
Hanifah pun berjalan menuju halaman belakang mencari kakek Andrean, ia yakin dia berada di sana jika pagi hari dan setelah sarapan. ternyata dugaannya tidaklah salah. Ia melihat kakeknya tengah menikmati hangatnya sinar mata hari pagi.
Hanifah pun menyapa sang kakek dan mengutarakan niatnya untuk mengajaknya jalan-jalan. Terlebih ia juga sudah bilang pada Bilqis. Semenjak Quen dan Al menjadi super sibuk, Hanifah lah uang selalu menemaninya terus. Quen hanya ada waktu sedikit, itu pun malam hari, menemaninya mengobrol sambil memberikan pijatan kecil pada kedua pundaknya. jika dulu saat ia masih kuliah dan belum ikut terjun ke kantor, dialah yang paling banyak ada waktu untuk dirinya.
Andrean pun mengiyakan ajakan cucu keponakan dari mendiang istrinya ini. yang sudah ia anggap seperti cucu kandung sendiri.
Akhirnya, Andrean dan Bilqis pun keluar bersama Hanifah. Dan hanya ada Nayla dan Bik Yul di rumah.
Karena tidak ada kerjaan dan Bilqis juga tidak ada, Nayla pun menghubungi Jevin melalui pesan chat, dalam pesannya dia mengatakan, kalau dia sedang berada di rumah sendirian, anak dan kakek mertuanya pergi bersama sepupunya sejak setengah jam yang lalu.
Tidak menunggu lama, pria itu pun membalas pesan chat nya.
"Lalu bagaimana? Saat ini aku masih kerja, apakah aku perlu izin karena ada urusan keluarga? Queen juga ada di sini sekarang,"
"Apakah bosmu tidak marah?" balas Nayla dengan cepat.
"Harusnya tidak. Sebab adik kesayangannya ada bersamanya kalaupun dia marah pada stafnya, Quen biasanya yang meredam emosinya. terlebih sekarang mereka bertiga tengah berkumpul."
Nayla mengerutkan keningnya, jika bertiga itu siapa rupanya dia tidak tahu siapa saja yang dekat dengan suaminya dan mampu mengembalikan mood Al.
"Bertiga? Lalu siapa yang satunya?" tanya Nayla, penasaran. Lebih tepatnya dia malah merasa was-was kalau saja Al ada wanita lain di luar sana selain dirinya. Sebab, kebanyakan pria tajir juga seperti itu, terlebih Al masih muda dan juga tampan. Wanita mana yang mampu menolak pesosnya itu? jadi yang kesepuluh pun nampaknya juga tidak akan keberatan.
"Apakah kau tidak tahu? Ya Juna, lah. Siapa lagi?" balas Jevin dengan emot tertawa.
Nayla pun bernapas lega saat membaca jawabnya adalah Juna. sebenarnya selama ini dia kawatir dan taku kalau wanita yang menjadi mood booster suaminya adalah Iren.
Lagipula siapa yang tidak memiliki asumsi bahwa wanita bernama Iren itu tidak naksir suaminya? Toh dia juga sangat mencolok di depan Al. cara berbicaranya pun juga sudah sangat terlihat.
"Ya sudah, jika kau memang mau izin, silahkan saja, kau mau kita bertemu di mana aku akan siap-siap. Tapi, jika tidak boleh, nanti saat jam istirahat juga tidak apa-apa," balas Nayla.
Saat Al tengah berdiskusi mengenai program selanjutnya, Ponsel Al berdering, sebuah panggilan dari Hanifah masuk.
__ADS_1
Al tersenyum,ia tahu apa yang akan dikatakannya, memang apa lagi selain izin membawa kakek dan Bilqis jalan-jalan.
Kehadiran Hanifah memang sangat membantu dia dan Quen untuk menemani kakek di rumah. dengan begitu, setidaknya kakek masih ada teman ngobrol dan yang mengajak jalan-jalan.
"Halo, Hani... apakah kau mau ajak pergi kakek dan Bilqis?" jawab Al dengan santai, karena yang ada di dalam ruangan adalah Quen dan Juna.
"Hay, Kak. Harusnya kau jadi perak saja, ramalan mu sangat jitu."
"Hahaha, jadi benar, kau akan ajak mereka pergi jalan? Apakah kak Nay akan ikut serta?"
"Tidak, dia menolak aku ajak, katanya kasian bibi tidak ada temannya di rumah."
"Oh, kenapa kau tidak katakan padanya kalau bibi bukanlah balita, berani lah tinggal di rumah sendiri," ucap Al sambil tertawa penuh arti.
"Ah, lagipula aku juga tidak suka memaksa orang, Kak. Biarkan saja lah,ini kami hampir tiba di tujuan, dada kak Al. Salam buat Quen, ya. katanya dia ikut bersamamu."
"Ok, akan aku sampaikan, ya sudah hati-hati, selamat bersenang-senang."
Al pun mematikan panggilannya dan memandang ke arah Quen lalu berkata, "Dapat salam dari Hanifah, Sayang."
"Waalaikumssalam, hahaha salam gitu aja?" jawab Quen, sambil tertawa.
"Ya, apalagi? Hanifah udah baik nggak berantem terus sama kamu," jawab Al menimpa adiknya.
Tak lama kemudian pintu ruangan Al di ketuk dari luar.
"Tok...tok..took!"
"Masuk!" jawab, Al dengan suara dingin.
Bersamaan dengan pintu yang terbuka, masuk seorang pria dengan tinggi badan standar berambut cepak, mengenakan kemeja biru muda.
"Pak, saya minta izin untuk pulang, karena ibu saya waktunya cek up me rumah sakit," ucap pria itu.
Juna hanya bungkam, tapi, sebenarnya ia telah menahan tawanya. Entah apa yang ditertawakan, karena dia tahu, Jevin tidak akan mengantar ibunya. Melainkan menemui istri bosnya.
"Ya sudah, tidak apa-apa. setelah ibumu cek up kau kembali ke kantor atau tidak?" tanya Al balik, berlagak beuraj hati.
'Belum tahu, Pak. karena saya belum ambil nomor antrian, saya kelupaan, tadi." Pria itu menunduk, tidak berani memandang ke arah Al dan siapapun yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Baiklah, utamakan ibumu dulu, baru pekerjaan," jawab Al mengizinkan.
Begitu pria itu pergi, Juna kelepasan tertawa terbahak. "Hahahaha! Emak jadi alasan padahal.... " kembali Juna terdiam menahan tawanya dan tak meneruskan apa yang ingin dia katakan setelah kaki Al menginjak kakinya dan memberikan isyarat mata, yang mengatakan untuk tidak membiarkan Quen tahu masalah ini.
"Padahal apa kak, Jun?" tanya Quen penasaran.
"Padahal dia mau momong anak janda, hehehe," jawab Juna. sambil balas
menginjak kaki Al.
"Oh, ya sudah, itu tidak penting, kita la Kitakan saja tadi diskusinya sampai mana?"
"Sampai pada progam kerjasama dengan perusahaan xxx," jawab Al.
Dan mereka bertiga pun kembali serius dengan apa yang dibahas tadi. Semua usul dan masukan Quen diterima oleh Al dan juga Juna.
__ADS_1
Meskipun dia seorang dokter, tapi, darah pembisnis dari papa dan kakeknya mengalir pada dirinya, tidak hanya itu, dia juga dianugerahi otak yang cerdas, itu yang utama, Quen bisa melakukan apapun selama dia mau, dan bisa dengan cepat paham serta menguasai jika dia mau mempelajarinya. itulah istimewanya Queen bagi Al, dan siapapun yang sudah mengenal dirinya.