
“Bisakah anda menjelaskan apa maksut anda, Pak?” tanya
Aditya dengan santun, sekali lagi.
“Begini, apakah kau tidak lelah di tolak terus oleh dia?
Mungkin jika dia dalam bahaya, dan kau yang menyelamatkannya, ia bisa jadi
sedikit terkesan.” Jevin menatap Aditya dengan pandangan penuh harap.
Aditya pun Nampak memikirkan sesuatu, lalu bibirnya
membentuk sebuah senyuman. “Kurasa boleh juga. Jadi maksut kamu, kau akan
melakukan sesuatu padanya dan aku yang menyelamatkan dia? Hah, seperti drama
saja, terserah, aku serahkan padamu, tapi awas saja jika sampai ada satu rambut
yang gugur, kau pasti tahu konsekwensinya.” Aditya pun menurunkan tangannya yang sedari tadi bersendekap, membuka mobil lalu pergi
Jevin memandang mobil
Aditya yang sudah meninggalkan area parkir, diam-diam ia penasaran siapa pria
itu sebenarnya, bagaimana bisa ada laki-laki yang segila itu mencintai Queen.
Bahkan ia memberi peringatan keras agar tidak menyakiti wanita itu.
Karena masih baru beristirahat dan masih ada banyak waku, Jevin
pun berusaha menghubungi Nayla. Ia membutuhkan informasi tentang pria itu, dia
sosok yang berbahaya atau bukan. Tandingannya atau bukan.
Keduanya pun bertemu di restoran dekat kantor di mana Jevin
bekerja. Mungkin ini termasuk nekat, tapi, bukankah tempat yang berbahaya itu
sendiri adalah persembunyian yang aman?
“Maksut kamu Aditya? Dia adalah seorang dokter spesialis di rumah
sakit Medica Sehat. Ia terkenal karena pelayanan dan juga prestasinya, selain
menjadi dokter, dia juga seorang dosen. Kenapa tiba-tiba menanyakan dirinya?”
tanya Nayla penasan.
“Tadi dia ke kantor, menyatakan cintanya pada adik iparmu,
rupanya pria itu sering ditolak terus.”
“aku tidak begitu tahu, dulu emang mereka mau menikah, dan
apa yang ia sampaikan itu benar, tapi, suami iparku, Alex, itu adalah adik
kandung istrinya. Mungkin saat mereka jadi keluarga ada masalah.”
“Aku akan membuat kesepakatan dengannya, kukira bisa lah
untuk memberi pelajaran Queen. Tapi, ia melarang keras aku menyakitinya.”
“Itu mudah saja Jev. Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan
padanya?”
“Apapun terserah kamu saja,” jawab Jevin memasrahkan pada
kekasihnya itu.
“Begini saja, kita culik Queen seolah-olah dia lolos dari
kita, Jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada wanita itu, berarti sudah diluar
tanggung jawab kita, dong.”
“Boleh juga, baiklah. Kapan kita akan memulainya?” tanya Jevin.
"Bukankah lebih cepat lebih baik, mumpung hubungan kakak beradik itu belum terlalu membaik?" usul Nayla sambil menyeringai.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sore itu, sepulang dari makam, Diaz melepaskan songkok
hitamnya dan meletakan di paku yang tertanam di dinding kamarnya. Lalu ia
merebah sebentar meraih ponselnya dan menunggunya menyala. Dugaanya benar, ada
banyak pesan chat masuk dari Queen. Tapi ia merasa janggal, bagaimana bisa
tidak ada satupun pesan dari Hanifah? Lalu, dari mana gadis itu tahu kalau dia
ada rumah sakit dan tepat sekali dengan jam pulang dia?
Belum juga ia lanjut memikirkan tentang Hanifah yang pergi
ke Amerika secara mendadak, ponselnya sudah bergetar. Sebuah panggilan dari
Queen langsung masuk. Spontan pria iyu pun langsung mengangkat panggilanya.
Mungkin ia merasa rindu juga sejak kemarin malam menahan diri untuk tidak
berkomunikasi dengannya.
‘’Halo, Queen.’’
“Halo, Diaz? Kamu di mana sekarang? Apakah kau baik-baik
saja? Berulang kali aku mencoba menghubungimu tapi nomoe selalu tidak aktif?
Apakah kamu sakit atau terlalu sibuk dengan jadwal praktekmu? Setidaknya aku
lega bisa mendengar suaramu, kau di kontrakan apa sedang di rumah sakit ini?’’
Lelaki itu diam tak menjawab. Ia merasa bersalah dan
menyesal atas apa yang ia lakukan, Queen begitu terdengar cemas dan
menghawatirkannya.
Sebenarnya ia sengaja mematikan ponselnya demi menghindari Hanifah. Tapi, justru orang yang dihindari malah sama sekali tidak menghubunginya. Yang ada Queen yang tak tahu apa-apa lah yang kena imbasnya.
“Diaz… Apakah kamu sakit? Aku langsung ke kontrakanmu saja,
gimana?” ucap Quen dengan nada di pelankan.
“Maaf, Queen, Aku ada di Bandung, gak kok aku tidak sakit,
mungkin cuma kelelahan saja, tadi aku piket pagi dan siangnya aku ke Bandung.”
“Oh, bagaimana kabar umik dan Fatimah? Apakah mereka
baik-baik saja?” ucap Queen lirih, seperti ada sedikit kekecewaan yang ia
__ADS_1
rasakan dari cara Diaz menjawab semua pertanyaannya. Entah Diaz yang hambar,
atau ia yang merasa sensitive aja dia sendiri juga tidak tahu.
“Alhamdulillah semua sehat,” jawab pria itu, singkat.
“Titip salam buat mereka, ya?’’
“Waalaikumssalam, iya nanti aku sampaikan.”
“Ya sudah, mungkin kau perlu istirahat dulu, kapan besok kau
kembali?”
“Mungkin jam dua siang berangkat dari sini. Sebab, besok aku
ada jadwal jaga sore.”
“Ya sudah, assalamualikum.” Belum sempat Diaz menjawab
salamnya Queen sudah langsung mematikan panggilannya, ia merasa kecewa dengan
Diaz yang cenderung menghindarinya. Seharian gak kasih kabar, tau-tau sudah ada
di Bandung. Kembalipun juga mepet dengan jadwal praktek, tidakkah ia ingin
menemuiku dulu? Batin Queen. Lalu wanita itu pun bergegas menyusul kakanya yang
sudah lebih dulu di mobil.
“Waalaikumssalam.” Diaz tahu Queen pasti kecewa dengan
dirinya, tapi ia pun juga sedang dalam suasana hati yang kalut. Ia mencintai
Queen tapi juga tak tega dengan Hanifah yang serapuh itu.
“Tok… Toook!”
Diaz segera bangkit saat mendengar pintu kamarnya diketuk
dengan pelan. Dari cara mengetuknya saja ia sudah bisa menebak kalau itu adalah
umiknya. Ternyata benar, wanita paruh baya dengan hijab lebar berwarna coklat
susu berdiri di depan pintunya sambil menujukan senyuman yang membuat Diaz
merasa damai dan tenang. Terlebih saat suasana hati yang begini.
“Umik, masuk Mik. Sinii!’’
Wanita itu pun duduk di tepi ranjang putranya yang tertata
rapi dan bersih, lalu mulai membuka percakapan. “Ada masalah apa, Le?”
“Tidak ada, sih Mik. Ini sebenarnya bukan masalah,tapi Diaz
aja yang terlalu ambil pusing dengan masalah ini ini.”
“Katanya bukan masalah, kok jadi masalah?”
“Diaz juga bingung, Umik.” Diaz pun menceritakan semua kejadian
dari awal dan yang terjadi kemarin malam tentang Hanifah. Siapa dia, dan type
gadis yang seperti apa dirinya itu kepada umiknya.
Sementara Umik Hlim
kesahnya. Kemarin saat baru resmi menjadi dokter ia curhat minder dan tidak
percaya diri dengan apa yang dimiliki Queen dan juga keluarganya, sekarang baru
saja hubungan berjalan sudah ada saudari Queen yang hampir tiap hari datang ke
rumahnya untuk menemani kakeknya juga menyukai putranya. Menanggapi hal itu
Umik Halimah hanyantersenyum dan membatin. “Ya Robb. Kau telah mengajarkan
anakku bijak sana dalam menentukan pilihan, jaga dia jangan biarkan dia salah
dalam menjatuhkan pilihannya.”
“Umik, kok malah tersenyum, bagaimana ini?” protes Diaz
setengah merengek seperti anak kecil.
Wanita paruh baya itu mengelus kepala putranya dengan lembut
menasehati. “Kau punya tuhan dan bisa menemukan jawabannya di sepertiga malam.
Jadi, mantapkan saja hatimu, harus memilih Hnifah dan melepaskan Queen atau
tetap pada pendirianmu, mempertahankan cintamu.”
“Aku inginnya mempertahankan, tapi apakah bisa bahagia
dibawah penderitaan orang?” tiba-tiba saja Diaz terlintas byangan masa lalu di
mana dengan terang-terangan Alex menantang dirinya. Pria itu ingin kembali
dengan Queen dan juga sikap kak Al yang sepertinya tak menyukai dirinya.
“Jika jawabannya Hanifah gimana ya Umik? Aku tidak ada rasa
sama dia.”
“Diaz, jodoh itu ajaib, nak sekeras apapun menolak jika memang dia yang sudah
ditakdirkan sebagai takdirmu juga akan ada saja hal yang membuat kalian
bersatu. Begitupun sebaliknya, sekuat apapun kalian berusaha jika dia bukanlah
takdirmu juga akan berpisah juga. Tuham memberimkita segalanya bukan berartii
selalu mengabulkan apapun yang jadi doa dan keinginan kita. Melainkan apa yang
kita butuhkan, bukan yang kita mau.”
“Sepertinya Queen yang diaz butuhkan Mik, dia baik, lemah
lembut pandai menyesuaikan diri dan hormat sama Umik, sayang sama Fatimah.”
“Kamu yakin?”
“Iya,’’ dengan mantap pria itu menjawab pertanyaan Umiknya.
“Ya sudah, ayo kita siap-siap melaksanakan sholat magrib,”
ujar Umik Halimah, mengingatkan putranya.
🍁🍁🍁
Queen membuang pandangannya ke luar jendela. Ia melihat
__ADS_1
jalanan yang basah karena baru terguyur hujan. Pikirannya terasa kalut dan tidak
mood melakukan apapun, yang ada di kepalanya saat ini adalah segera pulang dan
tidur. Tapi, keinginannya itu harus ia usir jauh, mengingat ia harus segra ke
rumah sakit karena ini jadwalnya jaga malam.
“Mukanya muram banget sih?” ucap Al setelah melirik adiknya.
“Gak apa-apa, Kak. Aku Cuma pusing aja.”
“Yakin mau ke rumah sakit?” tanya Al tiba-tiba meragukan
kesehatan Queen.
“Ya tentu saja yakin, masa mau balik kapan aku bisa jadi
orang disiplinnya kak?” ucap Quen, namun sangat bertentangan dengan hatinya.
Menjadi seorang dokter saja sudah cukup melehkan baginya, kenpa ia masih harus
di minta terjun ke kantor? Kenapa tidak meminta kak Juna atau Jevin yang sudah
lama jadi orang kepercayaan kakak dan juga papanya menempati posisi Quen saja?
Tanpa terasa, mobil sudah berhenti di depan rumah sakit,
Queen pun melepaskan sabuk pengamannya dan keluar.
“Nanti pulang jam berapa biar kakak jemput kamu?’’ ucap Al
dari dalam mobil.
Sebenarnya Queen tidak ingin dijemput kakaknya, entah malas
atau tak ingin mengganggu istirahatnya, dia merasa tidak enak saja. Tapi,
selain cukup larut ia pulang, ia pun juga tak ingin dikira masih marah saja,
akhirnya ia mengatakan tigapuluh menit lebih lambat dari jam pulangnya agar
kakaknya tidak lama menunggu. Sebab, terkadang setelah pulang juga masih ada
urusan yang perlu ia kerjakan sehingga waktunya molor.
Tapi, siapa sangka, hal itu malah menjadikan petaka bagi
dirinya.
Tadi ia bilang kepada Al kalau praktek selesai jam sebelas
malam, padahal sebenarnya jam sepuluh lewat tigapuluh menit. Ia hanya tidak ingin
kakaknya menunggunya. Jadi, lebih baik ia saja yang menunggu kakaknya, itu pun
ia juga berharap kakaknya ketiduran, agar tidak mengganggu istirahatnya.
Usai membereskan barang-barang dan juga absen, Queen pun
meninggalkan tempat kerjanya, ia juga sempat menyapa security yang menjaga
tempat parkir, karena masih kurang duapuluh lima menit lagi kakaknya datang, wanita
itu berniat menunggu sambil menikmati kopi di café depan rumah sakit. Namun,
belum juga ia sempat menyebrang jalan, ada seseorang yang membekapnya dari
belakang sampai ia tidak sadarkan diri.
Sementara di rumah, Al Nampak mondar mandir tidak keruan, ia
merasa tidak tenang dan terus kepikiran dengan Queen yang tengah piket malam.
Dilihatnya jam yang ada pada layar ponselnya, baru menujukan pukul sepuluh
kurang lima menit. Karena merasa khawatir, ia pun mengambil kunci mobil dan
menuju garasi menyalakan mobil dan dengan cepat mengacukan ferarry merahnya
menuju ke rumah sakit tempat adiknya bekerja.
Lima belas menit Al menempuh perjalanan dari rumah menuju
rumah sakit, artinya masih sekitar duapuluh menit lagi Queen akan keluar.
Menit demi menit berlalu tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat
limapuluh menit. Harusnya Queen sudah keluar sejak duapuluh menit lagi. Tapi,
masih belum ada tanda-tanda adiknya akan keluar, ia pun meraih ponselnya di
atas dashboard, mencoba menelfonnya. Namun nomor tidak aktif, Akhirnya Al pun
memutuskan turun menemui security dan menanyakan adiknya
“Permisi, Pak, numpang tanya. Dr.Queen kok belum pulang,
ya?” tanya Al dengan santun kepada pria berseragam putih celana berwarna navi
yang tengah berjaga bersama petugas parkir di pos keluar rumah sakit.
Security itu pun Nampak bingun, sebab setahunya dr.Queen
sudah meninggalkan rumah sakit sejak hampir sejam yang lalu. Tapi, kok masih
ada yang mencarinya.
“Maaf, anda ini siapanya, ya?’ tanya security itu dengan
tatapan penuh selidik.
“Saya Al, Pak, kakaknya Queen. Tadi soalnya bilang jam
setengah sebelas dia baru selesai, sedangkan saya tiba di sini sejak jam
sepuluh lewat lima belas menit yang lalu. Apa mungkin masih ada yang ia
kerjakan di sana, sebab saya telfon nomornya juga tidak aktif ini.”
“Mas, dr.Queen sudah keluar sejak jam sepuluh tadi, dia juga
menyapa kami, kok.”
“Apa? Dari jam sepuluh, Pak? Sudah keluar sejak jam sepuluh?'' Al nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh security itu, ia juga melihat sorot mata dan ekspresi wajah bapak itu juga nampak tidak sedan berbohong.
Al mengusap wajahnya menggunakan tangan kanannya dengan kasar dan mengumpat dalam hati, 'Kamu hilang kemana lagi, sih Queen?'
"Ya sudah pak, ya, terimakasih," ucap Al memohon diri, ia berusaha menyusuri jalan dengan melajukan kendaraannya dengan pelan berharap ia menemukan adiknya di jalan atau di apartemen. namun, sampai jam satu dini hari, Al bahkan tidak dapat menemukan adiknya entah ada di mana dia sekarang.
Sekali lagi ia mencoba menghubungi nomor telfonnya, namun tidak juga aktif. Tiba-tiba saja saat dalam keadaan panik Al pun teringat pada Diaz, ia berfikir Queen melakukan hal yang sama. sengaja melakukan agar dapat bermalam lagi di rumah kontrakan pria itu. Al pun melajukan kendaraannya dengan cepat menuju ke kediaman Diaz.
Tapi, sayang. Rumah Diaz kosong. Dengan kesal Al menendang pintu rumah itu, lalu mencoba berfikir, kemana kira-kira pria itu membawa adiknya pergi? Jika ke hotel atau penginapan sepertinya tidak mungkin. di apartemen tidak ada juga.
__ADS_1