Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 91


__ADS_3

Dengan malas Nayla bangun segera pergi ke kamar mandi, lalu membangun kan Bilqis dan memandikannya.


Saat ia memakaikan baju kepada Bilqis, gadis itu bertanya pada mamanya, "Ma, apakah benar tante Quen hamil? Bilqis akan punya adik bayi darinya, dong!" Dengan wajah semringah dan ceria bocah itu berkata.


"Iya sayang, benar. Apakah kau suka?" tanya Nayla datar. Tapi, tetap menunjukan rasa kasih sayang yang besar sorang ibu terhadap anaknya.


"Ya, tentu saja aku suka. Habis ini mama akan ke dapur bersama nenek dan bibi Lyli, kan? Aku akan temani tante Quen kali ini. Tidak ikut kakek dulu," ucap gadis itu sambil tertawa.


"Ok, baiklah. Jangan nakal kalau sama tante Quen, ya? Dia harus banyak-banyak istirahat dan tidak boleh stres, ok!"


Gadis kecil itu pun melompat dari kasur dan berhambur keluar mengetuk pintu kamar Quen.


"Tante, apakah tante sudah bangun?" teriak gadis kecil itu.


Tak lama kemudian Quen keluar kamar lalu berjongkok melihat keponakannya ada di depan pintu kamar.


"Hay, cantik. Pagi sekali." Quen mencium ujung kepala Bilqis setelah mengeluanya. "Hmmm wangi sekali. Kau sudah mandi, sayang?"


"Sudah, donk!"


Quen berdiri dan hendak menggendong Bilqis. Mungkin ia lupa kalau tengah hamil muda. Beruntung Nayla melihat dan meneriakin iparnya.


"Quen, kau jangan angkat-angkat berat dulu, ingat kandunganmu sedikit lemah, lo," ucap Nayla mengingatkan.


"Iya, kak. Lupaz hehe." jawab Quen dan mengajak Bilqis masuk dengan hanya menggandeng tangannya saja. Kau boleh duduk atau baringan di sini, tapi, jangan bertingkah, ya? Tante mau mandi dulu sebentar," ucap Quen mengingatkan Bilqis.


"Ya, baik, Tante."


Usai mandi Quen mengajak Bilqis jalan-jalan di halaman belakang samping dan depan rumah, saat keduanya duduk di ayunan tiba-tiba ponsel Quen berbunyi. Dilihatnya nomor Alex yang memanggilnya. Dengan sangat antusias wanita itu mengangkat panggilan dari suaminya.

__ADS_1


"Hallo, Lex, kapan kau akan kembali?" tanya Quen.


"Ini lagi di jalan, kau baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja. Ini aku sedang bersama Bilqis naik ayunan. Kau hati-hati, ya?"


Quen pun menyimpan lagi gawainya dan kembali mengajak Bilqis mengobrol. Tak lama kemudian Vivian memanggil mereka untuk sarapan. Biasa, hari minggu semua berada di rumah untuk bersantai. Jadi, sarapannya pun juga lebih siang dari biasanya.


Bersamaan dengan itu, mobil lamborghini kuning masuk ke dalam halaman rumah itu. Quen tersenyum, buru-buri iya turun dari ayunan menyambut suaminya, Alex.


Begitu mobil itu terparkir di belakang mobil Al, pria berwajah bule dengan pawakan tinggi itu keluar dan langsung menebar senyumnya saat melihat sang istri menyambutnya.


Sejak saat otu Quen menyadari kalau mobil kakaknya ada di halamam. Ia sempat berfikir, bagaimana bisa ditaruh di situ? Jika baru datang mobil itu juga sudah berembun.


"Ayuk masuk, mereka sudah menunggu kita untuk sarapan."


"Mereka baik, Pa. Katanya nanti kalau gak besok mereka akan menyempatkan untuk berkunjung kemari," jawab Alex.


Sarapan sudah di mulai, bahkan makanan Quen dan semuanya juga hampir habis. Tapi, ia tidak melihat kakaknya sama sekali. Ia mengira kalau kakaknya berada dalam kamarnya, ia pun bertanya kepada Nayla.


"Kak, Nay. Di mana kak Al? Kok tidak ikut sarapan bareng kita?" tanya Quen.


Sementara Nayla nampak bingung. Sebab, sejak semalam Al menang tiada masuk ke dalam kamarnya,


Tapi, siapa tau kalau dia memang sudah pulang dan tidur di kamar tamu. Sebab, kemarin siang saat terakhir bertemu ia nampak benae-benar marah. Bahkan ia sampai ditampar oleh suaminya, tidak hanya itu, Nayla juga di dorong keluar mobil.


Melihat ekspresi bingung Nayla, Clara segera menyahut, "Semalam Al memang pulang. Tapi, dia memilih tidur di kamar tamu katanya. Mungkin, kawatir ganggu Nayla atau Bilqis tidur.


"Memang dia pulang jam brp, Ma?" tanya Quen.

__ADS_1


"Hampir jam tiga. Makanya, dia masih tidur karna mengantuk," jawab Clara.


Dalam hati Quen sedikit berfikir, bagaimana bisa kakaknya jadi pulang semalam itu sekarang, apakah bertengkar lagi dengan Kak Nay?


"Quen, bagaimana dengan praktik doktermu kemarin? Di tempatkan di rumah sakit mana?" tanya Alex, yang mampu membuyarkan lamunan Quen.


"Di rumah sakit medica sehat, aku bagian anak-anak kata dokter pembimbingnya, dan kau tahu siapa yang akan membingku, Alex?" tanya Quen dengan mata berbinar.


Alex merasa tidak nyaman. Dia kjawatir kakak iparnya lah yang akan jadi dokter pembimbing untuk Quen. Dia tidak menjawan apapun. Tapi, ekspresi mukanya jelas akan kecewa jika dugaannya benar.


Quen rupanya tidak peka, ia tetap meksa Alex untuk menjawab, beruntung Vano menyadari hal itu. Dengan segera dia membertakan kepada Alex.


"Dokter pembimbing Quen Dr. Lusi sendiri, Lex. Dia anak dari pemilik rumah sakit Medica Sehat itu sendiri," ucap Vano. Dan ternyata dugaan Vano benar. Terlihat Alex menguembuskan napas lega. Bahkan wajah tegannya sudah kembali rilex.


Rupanya pria itu tidak tahu hubungan dokter Lusi dan keluarga mertunya. Memang bukan sodara. Tapi, kedekayannya lebih dari seorang saudara.


Usai sarapan, Vivian berusul mengajak jalan-jalan mumpung ada Alex. Tapi, Andreas ingin memberi sumbangan ke yayasan panti asuhan kasih sayang bunda, tempat di mana Al di rawat dulu.


Tapi, Andrean memiliki ide agar sumbangan dibagi rata tidak hanya pada satu panti saja. Cukup lama.kakak beradik itu berdebat. Akhirnya, usul Andrean lah yang di terima. Mereka sangat antusias untuk berangkat. Tapi, Nayla tidak ikut dengan alasan menunggu Al sampai bangun.


Mereka keluar dengan membawa dua mobil. Vano bersama Clara, Andran dan vivian. Tapi, tiba-tiba ia ingin satu mobil dengan adiknya. Akhirnya, mereka bersepakan hanya dengan satu mobil saja, cukuplah jika memakai fortuner untuk tujuh orang. Delapan, sih. Bilqis juga ikut. dia duduk di depan dipangku oleh neneknya.


Cukup Lama Nayla menunggu Al bangun. dia mulai merasa bosan. ia coba untuk membaca majalah di ruang tengah sambil bersantai. sedangkan, Lyli nampak sibuk lalu lalang membersihkan tempat itu. mulai dari mngelap meja, prabot, menyapu dan mengepel. Entah kenapa, tiba-tiba saja Nayla merasa jengah dengan gadis itu. meski sebenarnya ada yang perlu dia tanyakan. hanya saja hati kecilnya berkata bertanya saja langsung pada suaminya. berusaha percaya denhan apa yang suaminya katakan seperti yang beberapa waktu lalu mama Clara jelaskan agar hubungan mereka awet dan langgeng.


"Ceklek."


Nayla tersentak menoleh ke arah kamar tamu dekat ruanf tengah saat mendengar suara pintu dibuka. Ia memaksa tersenyum meski masih melihat kemarahan di wajah suaminya yang nampak berdiri di ambang pintu dengan muka kucel dan rambut berantakan. Namunz tetap saja terlihat tampan dan menggemaskan.


"Kau sudah bangun, Mas?" tanya Nayla dengan harapan Al memjawabnya dengan lembut seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


__ADS_2