
Harinya Axel seperti telah terhancurkan dengan kejadian saat menjadi suporter dalam pertandingan yang diikuti oleh adiknya tadi. Ia masih tidak percaya dan menyangka, bagaimana bisa, adiknya diam-diam telah lebih dulu menyatakan cinta pada gadis yang selama ini dia kagumi.
"ya Tuhaaan! Kenapa hidup ini terasa tidak adil sekali?" keluh Axel seorang diri sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian pandangannya beralih ke jam weker yang berada di atas nakas tempat tidurnya. Waktu baru menunjukkan pukul 13,30. Sebentar lagi dia harus ke kampus untuk mengajar. Tapi, Axel merasa tidak memiliki semangat sekali. Kemudian, ia beranjak diambilnya sarung tinju lalu dia boxing untuk melupakan masalah hidupnya. Belum pernah jatuh cinta sekali jatuh cinta ditolak karena keduluan adiknya yang menyatakannnya lebih dulu.
"Aku pulang!" seru Adriel dari luar. Ia masih mengenakan pakaian basket dan wajahnya berminyak. Menatap kakaknya yang tiba-tiba saja sangat giat berlatih. Sampai-sampai ia tak sadar kalau adik kesayangannya sudah berada di belakangnya.
"Kakak!" seru pria itu lagi.
"Oh, kau sudah pulang, Driel?" sapa pria itu sambil melepas saring tinjunya dan menghapus peluh yang mengalir di pelipis dan membasahi keningnya.
"Iya, tadi kakak Antar Berlyn ke rumahnya?" tanya Adriel sambil menatap ke arah kakaknya.
"Tidak. Dia tidak mau. Katanya masih ada urusan dengan temannya. Jadi ya sudahlah!" jawab Axel kemudian pria itu beranjak pergi meinggalkan adiknya. Ia harus segera bersiap untuk ke kampus. Sebab, jam setengah tiga sore, dia sudah harus berada di sana.
Adriel berkerut kening. Ia berfikir keras siapa kira-kira teman yang ditemui oeh gadis tersebut. Sebab, selain ia memiliki keterbatasan, sejauh ini juga tidak terlihat dekat dengan orang luar.
__ADS_1
Usai mandi dan bersiap, Axel segera menuju ke kampus meskipun dia sebenarnya tidak memiliki semangat sama sekali. Namun, setidaknya, dengan dia keluar rumah dan memiliki kesibukan, ia bisa mengalihkan pikirannya tentang Berlyn.
Tapi, saat selesai mengajar dia yang sedikit bingung harus apa. Kemudian ia berfikir, kenapa tidak datang ke rumah dia saja? Bukankah ia sudah mengatakan pada gadis itu, kalau dirinya akan selalu dan terus berusaha memberinya rasa aman dan nyaman agar bisa menentukan siapa yang pantas bersamanya kelak? Bukankah banyak yang pacaran itu putus? Adriel dan Berlyn sama-sama masih muda dan labil. Mereka akan sulit menyelesaikan masalah yang ada diantara mereka. Axel mencoba mengulur waktu dulu, agar, saat ia datang di sana orang rumah sudah lengkap. Ia akan menunjukkan seperti apa gentlenya dia di hadapan papa Al dan juga mama Queen.
"Biar kulihat, gimana reaksi Berlyn setelah aku menggodanya di depan papa dan mama nanti, dan Adriel, apakah berani dia melakukan hal sama sepertiku? SMA saja dia bahkan juga belum lulus," gumam Axel dalam hati.
****
Berlyn menatap ke arah Clarissa kemudia dia bertanya dengan bahasa isyarat, "Memang kau mau berapa lama di Indonesi? kurasa kita masih ada banyak waktu untuk kuliner bersama. Aku akan menemanimu."
Sementara Berlyn hanya mengiyakan saja. Dia cukup heran juga. Ni bocah badannya kecil tapi ternyata makannya sangat banyak.
"Ya sudah. Kau mau ikut bersamaku lihat bagaimana aku bermain dengan Tiara, atau tidak? Jika tidak, kau pulang saja. Nanti papa sama mama cariin kamu. Bukankah kau pergi dijemput sama kak Axel?"
Gadis itu mengangguk. Tapi, ia memberi isyarat kalau ia ingin ikut ke hotel. Sepertinya Berlyn sangat penasaran dengan apa yang akan diperbuat pada Tiara.
__ADS_1
"Ya sudah jika kau mau ikut denganku. Tapi, jika kau pulang terlambat nanti bagaimana? Apakah mereka tidak akan menanyaimu? Lalu, akan kau jawab apa?"
Berlyn mengankat kedua pundaknya. Ia tidak mau banyak berfikir. Dia hanya ingin melihat apa yang ingin diketahui saja. Akhirnya dengan mengendarai taxi online Clarissa dan Berlyn menuju ke hotel di mana Tiara di bawa ke sana.
tiba di sebuah kamar dengan nomor pintu 205, Clarissa minta Berlyn agar menunggu di luar saja dulu. Ia akan masuk lebih dulu. Tapi, jika dia ingin melihat apa yang akan dia lakukan di luar, ia sudah membawa alat seperti yang polisi gunakan untuk mengintip kamar kos dan hotel saat mengadakan razia.
Berlyn pun menyetujui saran dari Clarissa, ia menintip di luar mengunakan alat yang diberikan oleh kembarannya. Di dalam sana, ia melihat kalau Tiara tengah bersantai sambil bermain gadget. Ktika menyadari kedatangan Ckarissa, gadis itu terkejut dan melepas kasar head phone yang ia kenakan.
"Berlyn? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya gadis itu langsung meloncat dari single sofa yang ia gunakan untuk bersantai sebelumnya.
Clarissa yang dikira Tiara adalah Berlyn hanya tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap dengan tatapan merendahkan pada Tiara yang mengenakan tengtop model crop dan hot pans, memamerkan lekuk tubuhnya yang lebih berbentuk dari pada saat SMA dulu, usia ABG badan emak-emak.
"Jangan bilang kau menjebakku, ya? Ah tapi rasanya tiak mungkin. Siapa kau, berbicara saja bahkan kau tidak bisa," ucap Tiara, balik mengindar.
"Ulangi sekali lagi," ucap Clarissa sambil meihat ke arah Tiara.
__ADS_1
Sementara Tiara sendiri terlihat terkejut, sampai gelagapan. Mulutya begerak seperti mengucapkan sesuatu. Sepertinya gadis itu bergumam, "Apa? Berlyn bisa bicara? Dia tidak bisu?" Tapi, itu sangat lirih. Bahkan Clarissa yang berhadapan saja tidak bisa mendengarkan suaranya.