
Clarissa membereskan barang-barangnya. Dia sudah tidak bisa berlama-lama di Bandung lagi.
"Sudah akan ke Singapura, Sa?" tanya Jeslyn. Saat ia melihat cucunya yang nampak begitu sibuk mempersiapkan segalanya.
"Iya, Ama. Besok sudah mulai sekolah lagi." Clarissa mendengus kesal. Dia masih sangat rindu dengan sang nenek. Tapi, neneknya menolak untuk ikut bersamanya ke negeri singa putih.
di Jakarta ada orangtuanya yang masih sehat. Tapi, sang nenek juga tetap bersikukuh untuk tetap tinggal sendiri dan menghabiskan masa tua bersama alam.
Seketika Clarissa tertawa. Dia merasa konyol dengan dirinya saat tiba-tiba membayangkan sang nenek berpakaian seperti Tarzan karena selalu berkata ingin hidup damai dengan alam.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak ada. Aku hanya merasa bahwa nenek ini orangnya sangat keras kepala. Sama, seperti papa. Hahaha!"
"Apa kau ini juga penurut? Kau usil dan bandel, Sayang."
"Bandelku akan membawa kita tetap jaya di masa depan. Tapi, Alin.... " Dengan sengaja, Clarissa menghentikan Kalimatnya. Agar sang nenek penasaran.
"Alin kenapa, Sa?"
"Entahlah! Dia akan membuat peternakan anak di masa depan, munkin!"
Jeslyn berkerut kening. Berusaha berfikir sejenak. Kira-kira apa maksud dari perkataan cucunya ini."
Sementara Clarissa dia masih tetap sibuk mondar-mandir mempersiapkan barang-barangnya yang akan dia bawa terbang nanti siang.
"Ama! Kau jangan suka berkerut kening seperti itu lihatlah kerutan di wajahmu akan terlihat semakin banyak itu membuatmu hanya semakin menjadi lebih tua dari usiamu!" ujarnya, setengah bercanda.
"Clarissa Kamu ngomong apa sih mengatakan kalau saudara kembarmu akan berternak anak apakah dia ada cerita sama kamu, kelak di masa depan dia akan membuka panti asuhan?" tanya Jeslyn penasaran.
Clarissa diam sesaat ia baru sadar bahwa dirinya telah melupakan sesuatu. Bagaimana karakter kembarannya jelas neneknya tidak tahu sama sekali. Sebab sejak kecil yang diasuh hanyalah dirinya saja bukan Berlyn. Tapi, andai saja neneknya tahu betapa bucinnya kembarannya itu apakah kira-kira tidak syok dan kaget, karena perbandingan keduanya yang sangat jauh dan terbalik.
"Kalau Ama mau tahu, tinggalkan tempat ini! Pergi ke Jakarta hidup bersama papa mama dan satu cucumu lagi. Lupakan keinginan hidup masa tua bersama dengan alam. Ama manusia modern bukanlah Tarzan!"
"Clarissa!"
Tapi gadis itu tidak mempedulikan sang nenek dia masih saja terus mondar-mandir karena beberapa saat lagi Dia harus segera pergi ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat. Karena, dia juga ingin, sesekali merasakan berbaur dengan orang-orang biasa yang ke mana-mana naik pesawat umum, bukan private jet.
Dua hari setelah kepergian Clarissa kembali ke negara tempat dia dibesarkan, jesslyn masih saja tidak menemukan jawaban walau sudah berkali-kali menerka karena penasaran akhirnya ia pun menghubungi menantunya yang kebetulan berada di luar kota meminta agar membawa serta dirinya untuk pulang ke rumahnya.
Karena setelah dipertimbangkan, sepertinya apa yang dikatakan oleh cucunya juga benar kalau dia tidak bisa selamanya hidup sendiri di sini.
Walaupun kondisinya sangat asri dan tenang, kalau ada orang jahat masuk juga tidak lucu karena jauh dari keramaian.
Mungkin saja, apa yang Clarissa katakan juga ada benarnya, jika dirinya berada di sini itu sangat merepotkan Queen dan Al. Mereka berdua adalah orang yang sibuk. Tidak bisa sewaktu-waktu menjenguk dirinya.
Adriel merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sudah tiga hari ini dia tidak bisa menghubungi kekasihnya sama sekali. Padahal, Dia sangat menunggu kabar baik dari Berlyn.
"Sayang, apakah kamu sudah ngomong sama orangtuamu?" tulis Adriel pada sebuah aplikasi berwarna hijau lalu mengirimkannya kepada Berlin.
"Maaf. Aku tidak memiliki kesempatan untuk berbicara pada mereka. Sebab beberapa hari ini aku lihat mereka juga sangat sibuk. Papa berangkat pagi, pulang juga sangat malam. Aku bukan tidak bisa menunggu hingga dia kembali, hanya saja melihat mukanya yang terlihat begitu lelah aku tidak tega membicarakan hal yang bagi mereka ini sangat berat tapi penting bagi kita."
__ADS_1
"Lalu mama Queen?" balas Adriel dengan sangat cepat.
"Sudah 4 hari ini dia berada di luar kota karena urusan kerja. Kabarnya sebelum kembali dia ke Bandung dulu menjemput nenekku. Beliau akan tinggal bersama di sini dengan kami."
"Oh, bagus. Ya sudah, aku tidak memaksamu untuk tergesa-gesa mengatakan hal ini. Kamu yang lebih tahu dan bisa membaca seperti apa situasi dan kondisinya di sana. Jadi, nanti apabila kamu sudah coba berbicara dan seperti apa hasilnya segera kasih tahu aku ya?"
"Iya, sayang!"
****
Clarissa hari ini bisa istirahat lebih awal. Karena, semua masalah industri bisa berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Soal sekolah.... Dia tidak pernah berfikir keras untuk semua mata pelajaran.
Memiliki IQ yang sangat tinggi, di atas rata-rata, adalah suatu berkah sangat besar yang dia akui. Bagaimana tidak ... Di usianya yang masih sangat muda, dia bahkan bisa menghandle perusahaan besar tanpa menampakan dirinya di depan karyawan. Hanya menggunakan surat perintah pada masing-masing orang yang memiliki peran dan jabatan tertentu.
Kalaupun terpaksa dia keluar dia juga menyembunyikan wajahnya, berdandan layaknya wanita dewasa dan khas mafia, serta mengenakan masker hitam. Sehingga, seperti apa dirinya, akan sangat jadi tanda tanya bagi semua stafnya.
Soal sekolah... Seperti sebuah mainan. Tidak banyak berjuang dan menguras pikiran tapi, selalu mendapatkan juara umum.
'Kira-kira papa ngapain, ya?' batinnya. Sambil melihat foto dirinya bersama dengan kedua orangtua dan kembarannya, ya g terletak di depan lemari kaca tempat dia menyimpan piala dan medali.
"Bagaimana, kamu bisa tahu bahwa papamu sedang sibuk atau tidak, jika kamu tidak mencoba menghubunginya?" gumamnya seorang diri. Kemudian, dengan senyuman yang merekah, gadis itu meraih ponselnya dan menghubungi nomor telepon papanya.
Al berjalan cepat menuju ke sebuah gedung di mana dia telah ditunggu oleh banyak orang untuk memulai rapat.
Bisnis di Indonesia, yang dia pegang setelah kembali ke Jepang kini makin pesat berkembang. Sebab, setelah dia memutuskan untuk meninggalkan dunia hitam mafia, beserta perusahaan pesawat itu, dia hanya fokus di sini saja. Tapi, soal kesibukan, dia tetap sama sibuknya.
Kurang beberapa meter lagi Dia tiba di ruangan tersebut, tiba-tiba saja ponsel di dalam sakunya telah berdering. Berpikir kira-kira siapa yang menelpon Al memutuskan untuk melihatnya karena dia merasa bahwa itu panggilan cukup penting daripada rapat kerja sama yang akan diadakan saat ini.
Seketika dia menghentikan langkah kakinya, lalu bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. "Clarissa," gumamnya, lirih.
"Papa! Sepertinya kau sedang dalam mood yang baik," sahut Clarissa semangat.
"Oh, lagipula... Kapan, mood papa bisa buruk saat kesayangan papa ini menelfon?"
"Hahaha, oh iya?"
Al hanya tersenyum tidak menimpali.
'Pak Al nampak mesra. Tapi, kemesraan ini sangat berbeda. sepertinya wanita yang menelpon bukanlah nyonya Queen. Apakah pak Al punya simpanan di luar sana?' pikir asistennya. Karena, walaupun Al mengatakan bahwa dirinya papa, tidak mungkin putrinya yang menelfon. Sebab sudah menjadi rahasia umum bahwa bosnya itu hanya memiliki satu anak perempuan dan bisu.
"Pa, padahal serius yang mau aku omongin. Papa lagi sibuk, nggak?" tanya Clarissa. Nada bicaranya juga sudah menunjuk bahwa dirinya sedang dalam mode serius dan tidak bisa bercanda lagi.
"Papa mau memimpin rapat dulu, Sayang. Bagaimana kalau nanti papa yang akan telfon?"
"Baiklah. Aku tunggu, Pa!"
Wanita itu menghela napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan. Bersamaan dengan napas yang keluar, saat itu juga, buliran bening telah lolos dari kedua mata indahnya yang lebar dan dihiasi sepasang bulu mata yang begitu lentik.
"Marcell... tega sekali kamu. Kau telah menghancurkan mimpiku!" keluhnya dengan suara lemah.
"Queen, kamu kelihatan lebih kurus. Kenapa? Kamu, sakit?" tanya Jeslyn setelah beberapa saat memperhatikan kondisi tubuh menantunya.
__ADS_1
Queen hanya diam dan tersenyum tipis tanpa menimpali pertanyaan dari mertuanya.
"Atau... mungkin kamu terlalu capek. Wajahmu kelihatan sangat pucat sekali, Queen. Sudah ada suamimu yang bekerja keras tanpa kau lelah bekerja dan juga kehidupan kalian itu baik-baik saja jadi lebih baik kamu jangan terlalu memforsir tenagamu untuk bekerja."
"Ma... Aku tidak apa-apa, kok. Aku sehat," jawab Queen dengan lemah lembut sambil menyentuh tangan mamanya.
Jeslyn hanya tersenyum tipis. Dia terlihat cemas dan panik. Seperti, ada hal penting yang ingin dia sampaikan tapi untuk berbicara juga tidak leluasa sebab di dalam mobil itu mereka tidak hanya berdua ada Pak sopir di depan yang jelas mau tidak mau pasti akan tetap mendengar apa obrolan mereka.
"Ma, kenapa?" tanya Queen yang seolah dia telah menerima sinyal dari mertuanya.
"Tidak ada apa-apa. Di depan sana ada rumah makan yang tempatnya nyaman dan masakannya juga enak. Alangkah baiknya jika kita beristirahat dulu di sana. Sopir kamu pasti juga lelah dan butuh istirahat. Jangan terlalu memaksa nyetir. Jalan tol walau searah. Itu beresiko besar dan sangat bahaya."
"Baik, Ma. Pak Dedi. Berhenti di rumah makan depan sana, ya? Kita istirahat dulu," ujar Queen pada supirnya.
"Pak Dedi, jika Pak Dedi merasa lelah nggak papa ambil gazebo lain saja baringan dulu kita nggak buru-buru pulang kok. Istirahat sejenak barangkali setengah jam sudah bisa melepaskan lelah dan menghilangkan rasa kantuk itu lebih baik daripada memaksa pulang sekarang lalu kita menemui sesuatu hal yang tidak diinginkan di jalan nanti malah bahaya," ucapkan kepada sopirnya. Sebab sopirnya juga sudah lama bekerja bersama dengan dirinya, jadi tahu apa yang harus dilakukan ketika sang majikan memilih untuk berhenti di sebuah rumah makan lesehan seperti ini.
Mereka pasti akan selalu mengajak sopirnya untuk di meja yang sama makan bersama dan bebas memilih menu apapun.
"Oh, baik nyonya. Terimakasih," jawab pria berusia tiga puluh lima tahun tersebut. Dari antusias jawabannya terlihat sekali bahwa pria itu memang benar-benar mengantuk dan juga ada rasa takut pula untuk mengambil resiko tetap nekat melintasi jalan tol namun untuk menolak atau menunda perjalanan Tuhannya juga tidak berani.
Setelah memilih tempat yang sunyi, dan dekat dengan persawahan, Queen langsung melempar pertanyaan pada mertuanya. "Ma, sepanjang perjalanan seperti kelihatan banget ada yang mau disampaikan. Ada apa, Ma? Apakah selama seminggu Clarissa di tempat mama membikin ulah?"
"Mama memang ingin menyampaikan sesuatu yang ada kaitannya dengan Clarissa. Tapi ini bukan soal dia membikin ulah atau tidak. Kemarin sebelum dia berangkat ke Singapura mengatakan bahwa Alin akan membuat peternakan anak maksudnya apa sih anak itu ngomongnya ngawur sekali?"
"Astaga!" Queen ingin tertawa dan menangis bersamaan saat itu juga. Tapi, tidak mungkin juga kan?
Bagaimana tidak? Dia dibuat geli oleh putrinya Clarissa. Tapi, putrinya yang lain sukses membuat dirinya pening dengan meminta izin menikah dini.
"apakah Alin memiliki inisiatif atau keinginan membangun sebuah panti asuhan? Kalau memang iya dukung saja kamu tidak perlu mendengarkan pendapat Clarissa. Kita semua juga tahu seperti apa karakter bocah itu, kan?"
"Tidak mah alim sama sekali tidak ada pikiran untuk membuat panti asuhan."
"Lantas?"
"Mungkin alien menelpon Clarissa dan Minta pendapat tentang rencana dia dengan adriel. Mereka berdua memaksa untuk melakukan pernikahan sedangkan usia mereka itu terlalu muda terlalu dini untuk ini mana mungkin aku sama Al membiarkan begitu saja? Ini bukan soal harta atau keuangan bagi mereka peninggalan kami pun untuk tujuh turunan juga pasti tidak akan habis tapi masalahnya.... " Queen tidak tahu harus ngomong apa.
"Kenapa ya mereka bisa berpikir untuk menikah cinta ya cinta cukup komitmen saja dikira menikah itu gampang apa?" ujar Jeslyn. Dia mendadak juga merasa sakit kepala.
"Takutnya tidak lama setelah pernikahan mereka dikaruniai seorang anak usia masih terlalu dini terlalu berbahaya resikonya terlalu besar. Terlebih lagi, jadi orang tua itu tidak mudah. soal asuh memang bisa kita bayar baby sister tapi untuk pendidikan membentuk karakter dan kepribadian anak itu yang sulit, Ma... Tapi, entahlah. Mengatakan ini pada mereka juga percuma. Jadi, aku sama Al sepakat diemin mereka saja lah!"
"Haduh padahal mereka kembar ya satu ayah satu ibu tinggal dan lahir di rahim yang sama tapi kenapa karakternya begitu jauh berbeda yang satunya kayak gitu yang satunya kayak gini."
"Awalnya, Queen sangat mengkhawatirkan Clarissa yang terlalu tomboy dan berani meretas akun perusahaan besar dan juga sistem paramafia besar dunia. Tapi, setelah kejadian ini yang kukawatirkan malah ke Alin, Ma."
"Sudah, kamu jangan terlalu pikirkan ini, ya? Pantas saja badanmu kurus dan nampak pucat."
Queen lagi-lagi hanya bisa tersenyum, dan dalam hati bergumam, 'Kondisiku saat ini mungkin membuatmu khawatir, Ma. Tapi, nangi ini akan menjadi sebuah kebahagiaan untuk kita semua. Kau akan memiliki cucu lagi.'
Sengaja, Queen tidak mengatakan hal ini kepada mertuanya sebab Dia tidak rela apabila orang yang pertama kali mengetahui bahwa dirinya kini tengah hamil bukan Al, suaminya.
"Sudah makannya, Queen?"
__ADS_1
"Santai dulu saja, Ma. Pak Dedi masih tidur. Biarkan dia istirahat sejenak. Kalau kita, gampang, kan bisa tidur di dalam mobil," jawab Queen dengan santai dan masuk akal.
"Oh, iya. Kamu benar," jawab Jeslyn sambil tertawa seorang diri. Mau buru-buru segera pulang paling putranya juga tidak ada di rumah. Lagipula, yang memberi saran agar sopirnya istirahat sejenak demi keselamatan tadi juga dirinya bukan menantunya.