Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 PART 19


__ADS_3

“Hati-hati, Sayang. Segera kabari papa dan mama jika kalian


sudah tiba di Singapura,” ucap Clara pada kedua anak-anaknya.


“Pasti, Ma,” jawab Al, kemudian pria itu memeluk mama, papa


dan juga kakeknya, kemudian mulai ia mengajak anak dan juga istrinya ke tempat menunggu yang hanya boleh dimasuki oleh calon penumpang saja. Sementara Clara, Vano, dan kakek Andrean, mereka kembali ke rumah.


Ini pertama kalinya bagi Bilqis naik pesawat.  Bocah kecil itu tak dapat menyembunyikan rasa


suka citanya. Terlebih saat pesawat mulai meninggalkan landas, ia tak


henti-hentinya menunjuk ke bawah.


Seandanya dia tidak memiliki kekurangan, dan bisa berbicara,


pasti yang ia katakana pada papa dan juga mamanya adalah, “Mama, Papa,


lihatlah, rumah dan pohon-pohon serta bangunan itu semua terlihat sangat kecil saat kita melihat dari ketinggian.”


Namun, Namanya orang tua yang setiap hari selalu bersamanya,


mereka akan mengerti tanpa harus mendengar. Paham tanpa mendapatkan penjelasan


khusus untuk itu.


“Kau melihat Gedung, rumah dan pohon-pohon yang napak kecil


itu, Sayang?” ucap Queen sambil memandang wajah putrinya.


Gadis itu mengangguk sambil tertawa lebar, meski tak mengeluarkan suara.


“Karena kita berada di ketinngian yang letakknya jauh dari sana, Sayang. Makanya semua terlihat sangat kecil. Kau lihat di atas. Itu


adalah awan yang biasa disebut langit. Nanti, pesawat kita akan menembus awan,


dan atas dan bawah kita adalah langit, Sayang.


Kali ini Bilqis diam saat mendengarkan penjelasan mamanya.


Dia tidak memberi respon apapun selain diam dan terus memperthatkan. Sepertinya ia tengah mengingat sesuatu. Apa?


Al memperthatikan terus putri kecilnya.


Lalu kemudian, gadis kecil itu membuat gerakan dengan


tangannya datar, lalu mengacungkan telunjuk kanannya, kemudian tangan kirnya di


atasnya. Dan menunjuk ke atas, dan mengulanginya lagi gerakan tersebut.


Al tertawa lebar lalu merangkul putrinya dan mencium


pipinya. “Kau mengatakan kalau di atas langit masih ada langit, Sayang? Dari mana kau dengar peribahasa itu?” tanya Al.


Bilqis menunjuk sebuah buku, yang artinya, ia pernah


membacanya di sebuah buku.


Cukup lama keluarga kecil itu membahas tentang kesmobongan.


Berlyn memang semenjak bisa membaca dan menulis, ia nampak menunjol di bidang itu. Dia sangat gemar di bidang baca tulis, dan tak jarang pula Queen dan Al mendapat


sepucuk surat berisi puisi dari putrinya sendiri.


Tanpa terasa, dua jam sudah mereka melayang di atas burung


besi itu. Mereka pun akirnya landas dan tiba di Changi airline. Satu-satunya bandara yang ada di singapura. Di tempat penjemputan, seorang anak yang


mengenakan masker berteriak memanggil mereka bertiga.


“Papa, Mama, Berlian!”


Queen segera berlari menuju ke arah bocah itu, ia menitikan air mata kebahagiaan sambil memeluk salah satu putri kembarnya. Tanpa terasa lima tahun sudah ia


tidak bertemu dengan Clarissa. Sekalipun kembar, tetap saja berbeda, kecuali jika memang ia tidak tahu kalau ia memiliki anak kembar, mungkin akan lain lagi


ceritanya. Selama ini mereka hanya berkomunikasi melauli video call.


Sementara Jeslyn langsung menggendong Berlyn dan


menciuminya.


Al, hanya memandang Queen dan terpaku di belakang istrnya.


Menyaksikan pertemuan itu, yang juga merupakan pertemuan keduanya pula dengan salah satu putri kembarnya, setelah lahir. Tanpa terasa, ia pun juga menitikkan air mata harunya.


“Clarissa, kau pa kabar, Nak?” tanya Al lirih.


“Aku selalu baik-baik saja, Papa. Kau apa, kabar?” jawab


gadis itu dan bertanya balik padanya.


Al tersenyum dan tertawa tertahan saat mendengar logat putrinya bicara, seperti orang dewasa saja. Padahal sebenarnya dia sendiri


masih bocah. Tapi, sikap dan prilakunya tak menunjukkan kalau dia masih anak-anak.


“Kami hanya merindukanmu. Apakah kau hanya mau digendong


mamamu saja? Tidak inginkah kau digendong papa?” tanya Al sambil mengulurkan tangannya.


Gadis itu tertawa, dan langsung mencondongkan badannya ke depan,


memeluk papanya dan tertawa lagi.


“Berlyn, kemarilah. Ayo, mama akan menggendongmu, Sayang,”


ujar Queen.


Ini adalah moment yang paling membahagiakan bagi mereka


berdua. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama mereka bisa berkumpul dengan kedua anak kembar mereka.


“Al, Queen. Ayo kita segera menuju ke mobil. Mama sudah


menyiapkan makan siang untuk kalian,” ucap Jeslyn mengigatkan anak dan juga menantunya.


Mereka pun akhrinya menuju ke mobil. Jeslyn tidak pernah


menggunakan jasa sopir. Jika ia engan mengemudikan sediri mobilnya, ia lebih


memilih untuk naik angkutan umum.


sekitar empat puluh menit, mereka tiba di apartemen Jeslyn,


ibu kandung Al. ini bukan pertama kali Queen ke luar negeri. Tapi, kali ini ia


mengatakan kepada Al kalau dirinya menyukai Singapura. Ingin selalu


menghabiskan waktu liburannya di negara ini dari pada negara lain yang


menawarkan berbagai wisata yang indah dan menakjbkan. Maldives misalnya.


Entah, ia menyukai Singapura karena keadaan alamnya,


atau karena salah satu putri kembarnya berada di sini? Ia memang susah di tebak. Entahlah, sepertinya semua wanita seperti ini.


“Mama tinggal di lantai berapa?” ucap Queen memecah keheningan di dalam lip.


“Kami tinggal di lantai duapuluh lima. Kenapa? Apakah kau takut


ketinggian?” tanya Jeslyn balik.


“Tentu saja tidak. Aku bertanya hanya sekedar ingin tahu,” timpal Queen, dan semuanya pun tertawa.


Tiba di kediaman Jeslyn dan Clarissa, mereka sudah disugui


satu meja besar penuh berisi makanan. Ada seorang wanita kira-kira  berusia duapuluh tiga tahun terlihat sibuk


menyiapkan mangkuk, sumpit, sendok, garpu dan juga alat penjepit.


“Mami, bikin steamboot? Wah tahu saja kalau aku pecinta


seafood,” ujar Queen saat matanya tertuju pada meja makan tersebut.


“Ya jelas tahu, dong. Ya sudah ayo kita makan dulu!’ ajak


Jeslyn.


Sepintas Queen melihat art mami mertuanya nampak melihat ke


arahnya dan juga suaminya secara bergantian. Namun, lebih sering ke suaminya. Saat dia melihat lagi ke arahnya, Queen menyapanya dengan senyuman dan basa-basi bertanya.


“Kakak sudah berapa lama bekerja di sini?”


“Baru tiga hari, Non,” jawab gadis itu, dari logat bicaranya sepertinya ia adalah orang jawa. Queen hanya tersenyum, dan tak tahu harus berkata apa lagi. Ia terlalu bahagia bisa melihat kedua buah hatinya berkumpul bersama, keduanya juga nampak kompak.


“Kalian mau berapa lama di sini? Masa Cuma satu minggu


saja?” tanya Jeslyn memulai percakapan sambil menunggu udang, sotong dan golden masroom yang baru ia masukkan dalam steamboot matang.


“Aku izin cuti cuma satu minggu, Mi. Mungkin tidak apa-apa,


ya aku balik dulu ke Indo. Kalau missal Al masih kangen dengan Mami dan


Clarissa bisa tinggal dulu di sini,’ jawab Queen sambil memandang ke arah Al.


Al tidak menjawab, pria itu hanya menghela napas panjang dan


memandang ke arah istri dan kedua anknya secara bergantian. Kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia memakan udang yang baru saja direbus oleh maminya.


“Apakah papa akan tinggal?” tanya Clarissa, yang sebenarnya mewakili pertanyaan dari Berlyn.


“Mungkin, lain kali, saat mama kalian ada waktu libur, bisa


lah ke sini lagi. Iya kan, Ma?” ujar Al pada Queen.


Queen menjawabnya sedikit tergagap. Sepertinya wanita itu


tak sadar kalau Al memanggilnya mama.


‘Astaga, apakah aku harus memanggilnya papa juga? Aku tidak


bisa, Tuhaaan!’ keluh Queen dalam hati.


“Iya, Sayang, apa yang dikatakan papa kalian benar.”


“Lagi pula kau memiliki privat jet sendiri, kan? Mungkin

__ADS_1


tidak masalah setiap malam minggu ke Singapura. Kan tidak jauh Cuma butuh waktu perjalanan udara dua jam saja, Sayang,” timpal Jeslyn pada putrnya.


“Iya, Ma. Benar. Tapi, apakah kalian tidak ingin main ke sana?”


“Mama dan Clarissa itu sebenarnya juga sangat kepengen


sekali, Al main ke sana. Tapi, apakah tidak apa-apa? Bagaimana kalau ada yang lihat?”


“Repot juga, sih? Mau tukeran anak mungkin di sana aman,


Clarisa bisa berlagak bisu. Tapi, Berlyn?”


“Sudahlah, kalian sabar dulu, mami ngerti bagaimana perasaan


kalian, ini mungkin berat. Tapi, harus bagaimana lagi?”


Al dan maminya tengah mengobrol ngalur ngidul membahas


apapun yang bisa mereka bahas. Sedangkan Queen, diam-diam ia terus mengawasi setiap gerak-gerik asisten rumah tangga maminya. Memang ini bukan hal asing bagi Queen. Di mana pun dan kapanpun Al, suaminya selalu jadi pusat perhatian para kaum hawa. Bahkan dulu, Lily asisten rumah tangganya juga malah sempat hampir menikah dengan Al.


Usai makan, mereka semua bercengkrama di ruang tamu yang


juga memiliki fungsi ruang bermain. Apartemen Jeslyn terdiri dari tujuh ruangan. Tiga kamar yang hanya berukuran 3,75x3,5m. Tapi ada satu kamar yang ukurannya lebih sempit, dan itu dijadikan kamar asistennya. 1 g1udang berukuran 1,5x2m kamar mandi dapur yang digandeng dengan tempat makan dan ruang tamu. Jadi, Al dan Queen kamar sendiri. Sementara  Clarissa, ia biasa tidur bersama amanya.


“ini sudah jam satu, ayo tidur siang dulu Clarissa dan


Berlyn. Kalian mau tidur sama ama, apa berdua saja?”


“Bertiga sama oma, dong!” jawab Clarissa dengan semangat.


“Lalu sama kami, kapan?” tanya Queen pada putri kecilnya yang sangat lincah itu.


“Nanti malam saja, kita tidur berempat. Papa dan mama pasti


capek.”


Jeslin hanya tertsenyum mendengar perkataan Clarissa. Lalu


menggendong Berlyn dan menggandeng tangan Clarissa dan membawanya masuk ke


dalam kamar.


Sementara Al membantu Queen merapikan mainan anak-anaknya


yang berantakan.


“Non, biarkan saya saja yang bereskan,” ucap wanita muda


itu, buru-buru membereskan mainan yang berserakan di atas lantai.


“Tidak apa-apa. Aku di rumah juga sudah terbiasa melakukan


hal seperti ini. pembantu itu tugasnya hanya membantu. Bukan mengerjakan


semuanya. Kau beristirahatlah,” ujar Queen pada wanita yang belum ia ketahui siapa namanya, dan dari mana asalnya. Ia hanya yakin kalau dia dalah orang Indonesia dari pulau jawa.


“Tidak apa-apa. Saya tidak terbiasa tidur siang. Kalau tidur siang nanti malam akan begadang,” jawabnya lagi.


Sepertinya Jeslyn sangat memanjakan cucunya. Terlihat dari


berapa jumblah mainan Clarissa, sangat penuh dan banyak sekali. Sampai-sampai


berserakan berantakkan memenunuhi semua ruang tamu.


Tiba-tiba ponsel Al berdering. Ia memandang Queen lalu pamit


untuk mengangkat panggilan dulu.


“Sayang, ada telfon dari Vico. Aku angkat dulu, ya?”


Queen hanya mengangguk dan memberi senyuman kecil saja


suaminya. Sementara Al, ia menuju ke dapur. Pria itu berdiri di depan jendela


sambil menyalakan sebatang rokok yang selalu ada di dalam saku celanya, selain hp.


Usai memberekan mainan anak-anaknya, Queen meminta asisten


maminya yang baru ia ketahui Namanya Titin untuk menyiman mainan-mainan


tersebut. Kemudian ia menyusul suaminya yang berdiri di depan jendela melihan


beberapa blok apartemen yang biasa di sebut rumah flat di sini.


“Al, sudah telfonnya?” tanya Queen pelan. Ia masih berfikir


kalau suaminya masih marah padanya. Dan yang tadi ia tunjukkan di depan mama,


papa di rumah serta mami dan anak-anak di sini hanyalah untuk menutupi masalah


mereka saja.


“Oh, sudah. Barusan papa juga sempat telfon. Menanyakan


bagaimana Berlyn saat beertemu dengan kembarannya. Aku berikan foto yang kujepret diam-diam,” jawab pria itu dengan hangat. Bahkan ia juga sambil tersenyum. Artinya Al sudah tidak mempermasalahkan kejadian kemarin .


Queen hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari suaminya.


Al mematikan punting rokok yang tinggal setengah pada asbak, lalu


menghampiri Queen dan meletakkan tangannya di atas pundak wanita itu kemudian memijat lembut seraya bertaya, “Apakah kamu tidak capek? Kemarin kamu seharian belerja keras menyiapkan semua keperluan kita. Istirahat, yuk!”


Baru beberapa menit mereka berdua masuk ke dalam kamar,


Jeslyn keluar dari kamar. Sepertinya kedua cucunya sudah sama-sama terlelap.


“Tin, di mana nona Queen sama tuan Al?” tanya Jeslyn pada Titin


yang terlihat tengah menata peralatan makan yang sudah mulai kering, sambil mengelapnya.


“Mereka ke kamar tadi, Nyonya. Mungkin tidur.” Gadis itu terus sibuk memberekan pekerjaannya.


“Oh, mungkin mereka capek. Biarkan saja mereka beristirahat


dulu,” jawab Jelyn.


“Orang tua Clarissa ya, Nyah?”


“Iya. Mamanya Clarissa itu seorang dokter. Dan papanya


meneruskan perusahaan milik keluarga mamanya. Mereka ke sini naik privat jet. Kakeknya nona Queen memiliki perusahaan pesawat dijepang, dan mempercayakan


semuanya pada Al.”


“Wow, hebat sekali, ya Nyah?” Gadis muda itu menunjukkan ekspresinya yang takjub mendengar penjelasan majikannya.


“Ya, Al disuruh menjalankan perusahaan oleh orang tua Queen,


lalu mencintai putri satu-satunya mereka dan menikah,” jawab Jeslyn sambil memainkan game di layar sentuhnya.


“Pantas saja Clarissa dan Berlyn sangat cantik. Papa dan


mamanya juga cakep,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Diam-diam dia sangat mengagumi Queen. Tidak nampak sekali kalau dia adalah seorang putri konglomerat. Bahkan kalau ia seorang dokter pun juga baru tahu dari majikannya. Ia datang kemari tampil seperti wanita biasa. Termasuk juga Al. tidak ada yang


menonjol, selain bawaannya yang memang sudah ganteng dan cantik.


Malah sebelumnya, Titin mengira, yang kaya adalah Al. Karena melihat usaha Jeslyn yang sangat maju dam royal pada dirinya.


Sementara Al di dalam kamar, ia memijati pundak Queen sambil


ngobrol membicarakan kegiatan masing-masih Selama satu minggu. Karena sejak Queen menolak untuk berhubungan suami istri dia tidak pulang keruma selain hari jum’at. Dan sabtunya ketika hendak bekerja Queen mengantarkannya ke kantor.


“Bagaimana hari-harimu selama sepekan kemarin? Nyaman tidak


mantanku?” tanya Al memulai pembicaraan.


“Biasa saja, enak sih. Selalu jalan-jalan, makan di luar,


dan aku memiliki banyak barang tanpa mengurangi uangku,” jawab Queen sambil terkikik.


“Dasar, kau memang nakal, ya?” Al menerkam Queen dan


menggigit daun telinganya.


“Al, aku lagi dapet, apakah kau lupa?” ucap Queen sambil mengelinjang menahan geli. Karena, tangan Al juga mulai meraba kemana-kemana.


“Bagaimana mungkin? Tentu saja ingat. Yang penting tidak berhubungan badan kan tidak masalah.”


“Sudah, aku sangat ngantuk, aku mau tidur saja,” balas Queen. Berbaring dan membelakangi Al.


Kali ini giliran dia yang terangsang oleh tindakkan Al, dan kali ini pula giliran dia yang menahan diri dari godaan karena tidak bisa melakukan.


Al yang tahu itu, hanya tertawa saja. Sebenarnya kasian. Tapi, tidak afdol saja jika tidak memberikan sedikit pelajaran. Terlebih ia tahu kalau malam itu memang Queen sengaja memberikan sedikit obat perangsang.


Meskipun dosisnya hanya setengah. Tapi, cukup membuatnya tersiksa selama semalam karena tidak mendapatkan pelampiasan.


“Ya sudah. Ayo kita tidur saja!” ujar Al kemudian memeluk istrinya dari belakang, dan keduanya sama-sama terlelap.


****


Sorang pria menerobos hujan yang mulai deras. Ia turun dari mobil


dan berlari ke sebuah rumah yang tidak begitu luas. Namun tak bisa dikatakan


sempit juga. Dan paling penting di rumah itu seprti menyimpan sebuah ketenangan


dan kedamaian di dalamnya.


Dengan sedikit tergesa-gesa, pria itu mengetuk pintu rumah.


Tak lama kemudian pintu terbuka, seorang wanita berusia kira-kira empat puluh tahunan. Namun dari segi penampilan dan wajah, ia masih terlihat cantik dan modis. Tidak aka nada yang menyangka usianya sudah segitu.


“Hey, aku bawakan makan siang untukmu. Apakah Axel sudah


kembali dari sekolah?” ucap pria itu sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.


“Belum. Kukira barusan dia yang datang. Ternyata kamu,”


jawab Novita datar.


“Apakah aku tidak diizinkan untuk masuk?” tanya Candra


sambil tertawa canggung.


“Dirumah tidak ada siapa-sapa. Tidak baik jka kau masuk ke


dalam. Adriel saat ini berada di rumah omnya. Mama ku juga belum kembali dari Bandung.”

__ADS_1


“Tapi aku kedinginan, lihat, anginnya sangat kencang. Air


hujan sampai ke sini. Bagaimana jika aku nanti masuk angin? Apakah kau tidak takut jika aku mati di sini karena angina duduk?”


Mendengar kata mati dari salah satu kalimat Candra, Novita


seperti terkehenyak dari hal buruk. Ia akhirnya meminta pria itu untuk masuk dan mengambilkan baju mendiang suaminya untuk candra kenakan.


“Kau mandilah! Lalu, pakai ini, bajumu basah, kan?” ucap Novita dengan nada datar.


Candra tersenyum dan terus menatap wajah wanita yang sudah


enam tahun ini ia kejar. Namun belum juga mendapatkan hasil. Bahkan saat


mengambil baju dan handuk dari tangan Novita, dengan segaja ia menyentuh tangan wanita itu.


“Kamu sebenarnya sayang, kan sama aku? Itu, buktinya kamu


peduli.”


“Aku Cuma tidak mau ada banyak orang, polisi dan wartawan


saja di rumahku jika kau benar-benar mati karena angina duduk.” Novita segera menarik tangannya dan memalingkan pandangannya. “segeralah mandi dan ganti


pakaianmu, aku akan membuatkan mu teh jahe,’ imbuhnya, lalu menuju dapur dan mulai merebus air. Sementara Candra, ia segera ke kamar mandi.


Bersamaan dengan Novita menyelesaikan pekerjaannya


membuatkan teh jahe panas untuk Candra, bersamaan itu pula Candra keluar dari kamar mandi. Bahkan, yang tidak terduga, Axel juga muncul di hadapan mereka berdua.


“Kukira kau di mana tadi, Ma. Ternayata kau di… “ pria


remaja itu tidak melanjutkan kalimatnya ketika matanya memandang ke arah candra


yang baru keluar dari kamar mandi dan menegnakan kaus milik mendiang papanya.


“Axel, kebetulan sekali kau datang. Kau pasti belum makan


siang, kan? Mari kita makan siang bersama!” seru Candra sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ia kalungkan di kedua pundaknya.


“Kalian makan saja dulu. Aku tidak merasa lapar. Aku Cuma lelah dan butuh istirahat saja.” pria remaja itu berbalik arah, dan menuju ke dalam kamarnya.


Novi meletakkan teh itu di atas meja dan meminta agar Candra


meminumnya. Kemudian ia mengejar putranya ke kamarnya.


“Axel, Sayang. Mungkin ini salah paham. Mama bisa


menjelaskannya, Nak,” ucap Novita, berdiri di belakang putranya.


“Sudah berapa lama dia di sini? Dan apa saja kalian lakukan


saat rumah kosong?” Axel bahka tidak mau memandang ke arah mamanya sekalipun.


Ia berfikir macam-macam. Karena melihat rambut mamnya juga


sedikit basah seperti orang baru keramas, dan Candra sendiri juga baru keluar dari kamar mandi.


Padahal nyatanya, memang Novita habis mandi tadi, saat Candra datang, ia buru-buru keluar tidak meneruskan meng hair dryer rambutnya saat mendengar ketukan pintu karena menyangka yang datang adalah Axel.


“Apa yang kau pikirkan tentang mama, Nak? Om candra baru


saja tiba, dia kedinginan dan bajunya basah. Awalnya mama tidak ingin


mempersilahkan dia masuk. Tapi, karena di luar hujan angin, mama takut akan terjadi hal buruk padanya.”


“Ya sudah, aku lelah tadi ada mata pelajaran olahraga. Axel Cuma


butuh tidur saja, Ma. Temani tamumu.” Bahkan Axel tidak mau mendengar


penjelasan mamanya.


Merasa anaknya masih emosi dan butuh waktu untuk sendiri,


Novita pun akhirnya mengalah, ia keluar menemui Candra yang mungkin kini tengah menunggunya di tempat makan.


Ternyata benar. Pria itu tengah menikmati teh buatannya, sambil menggenggam dengan kedua tanggannya agar merasa hangat mungkin. Tanpa sepatah kata pun. Novita duduk di kursi depan Candra.


“Di mana Axel?” tanya pria itu sambil mengedarkan pandangannya ke ruang depan.


“Dia katanya lelah. tadi ada pelajaran olahraga.”


Candra diam, ingin rasanya ia membujuk dan menjelaskan


semuanya. Tapi, ia sadar, bagaimanapun juga ia masih orang luar. Tidak berhak untuk ikut campur.


“Kamu pasti belum makan, kan? Ya sudah, ayo kita makan dulu,


keburu dingin nasinya.”


“Kamu apakah tidak balik kerja? Bukannya sebentar lagi sudah


jam satu?”


“Tenang saja. Aku sudah menyelesaikan tugas yang diberikan


sama bosku. Dia bilang, jika semua sudah kelar bukan hanya boleh pulang lebih awal. Tapi, aku bisa berlibur sampai dia kembali dari luar negeri.”


“Al, ke luar negeri? Ke Jepang, kah?” tanya Novita secara reflek.


“Tidak tahu juga ya soalnya, dia berangkat bersama anak dan


juga istrinya,” Jawab pria itu sambil mulai membuka makanan yang dia bawa tadi.


Novita hanya mengangguk pelan saja, dan mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


“Eh, sepertinya hubunganmu dengan keluarga bosku sangat baik


sekali. Apakah benar?”


“Istri bosmu itu, adalah mantan istri Alex.”


Candra hanya tertegun mendengar jawaban itu. Bagaimana bisa?


Lalu, ia tertawa seorang diri.


“Kenapa?”


“Emang janda itu lebih menggoda dan mempesona. Jangan salahkan


aku yang hanya karyawan bisa tergila-gila pada janda dua anak sepertimu, Nov. Bossku saja yang seorang pewaris tunggal dari orang tuanya juga cinta sama mati sama


janda. Kukira bu Queen itu menikah dengan pak Al ya masih perawan.”


Novita hanya diam saja. Ia hanya. Dia tahu banyak hal, tentang mereka. Al bukan pewaris tunggal keluarga itu. Karena yang anak kangung adalah istrinya.


Setelah mereka berdua selesai makan,


wanita segera meminta pria itu untuk segera pergi. Ia tak pedulikan apapun,


meskipun nanti dikata tega dan tak berprikemanusiaan.


“Nov, ada yang mau aku bicarakan padamu, tolong dengarkan


aku,” ucap Candra sambil memegang kedua lengan Novita.


“Apa yang ingin kau bicarakan, Ndra. Kau jangan begini,”


ucap Novita sambil menoleh ke dalam. Bagaimana pun, ia merasa khawatir dan


tidak enak kalau sampai Axel melihatnya seperti ini.


“Kau tenang, agar aku juga bisa bicara dengan mudah dan nyaman.”


Novita menarik tangannya dan duduk di kursi teras lalu di


ikuti oleh Candra.


“Apa yang ingin kau katakana? Cepat!”


“Sebenarnya sudah sejak tiga bulan silam pak Al mau menaikan


jabatanku sebagai manager. Aku tidak memberi jawaban pada beliau. Dan beliau memberi waktu sampai minggu depan saat bliau sudah kembali nanti.”


“Memang kenapa kamu tidak memberi jawaban segera? Bukankah semua


orang menginginkan posisi itu?”


“Ya kau benar. Tapi, tidakkah kau tahu semua itu selalu ada resikonya? Untuk menginginkan hal baru, kita harus siap mengorbankan yang lama untuk hilang.”


"Apa maksudmu?" Novita benar-benar tidak mengerti.


"Prsktinsnya begini. Kau bekerja keras memeras tenaga dan pikiran untuk uang. Dan kau butuh makan, kau mengorbankan uangmu untuk mendapatkan makanan."


“Lalu, apa yang harus hilang darimu, jika kau ambil posisi itu?" Novita mengerutkan dahinya, lalu memandang serius.


“Kau."


"Aku?"


"Pak Al membuka anak perusahaan di luar pulau. Dan mempercayakan aku sebagai pemimpin di sana. Jika aku sampai ke sana, aku akan kehilangan dirimu, Nov. Dan jika aku menolak... "


"Apakah aku akan dipecat?"


"Entahlah. Tapi, aku akan memilih pulang saja ke Jogja. Aku masih memiliki ibu di sana. Satu-satunya orangtua yang kumilikki.


“Aku bertahan di sini karena kamu. Tapi, kurasa kau juga tidak akan pernah tahu dengan perasaanku. Kau sepertinya belum bisa move on dari mendiang suamimu. Jadi, kurasa aku memang harus pergi dari hidupmu sekarang."


Novi masih diam. Tiba-tiba hatinya terasa sesak saja. Bahkan


untuk memandang ke arah candra saja ia tidak berani.


"Tapi, apakah kau tahu Nov? Aku ini sangat keras kepala. Aku masih tidak bisa menyerah begitu saja dengan keadaan. Aku masih berharap kau mau jadi pelengkap hidupku. Maka, aku akan pertahankan posisiku di sini. Walau bukan menejer. Aku akan bahagia jika bisa memilikimu."


Novita memandang ke halaman, menyaksikan sisa-sisa air hujan yang membasahi semua yang ada di bumi.


"Ya sudah. Aku akan kembali. Beri aku jawaban atas hatimu. Usahakan jangan sampai hari Senin, agar aku tidak menyesal dengan jawban yang akan kuberikan pada bosku."


Novita tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya terdiam di tempatnya


sambil memandang punggung Candra sampai lenyap dari pandangan.


Setelahnya, wanita itu masuk kedalam dan mengunci pintu.


"Dia sudah pulang?"


Novita berbalik dan mendapati putra nya sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Axel. Mama ingin bicara denganmu. Kapan kau ada waktu?"


"Sekarang saja." Pria remaja itu duduk di sofa ruang tamu. Dan bersiap mendengarkan kata-kata dari mamanya. Tapi, tak ada tanda-tanda kalau mamanya akan berbicara.


__ADS_2