Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 104


__ADS_3

Hampir tigapuluh menit Al menemani sang kakek yang masih duduk di atas kursi roda di samping pusara kakak kandung dan istrinya. Sekuat tenaga dia menahan agar air matanya tidak sampai jatuh. Ia harus kuat agar dapat menguatkan kakeknya yang tengah rapuh.


"Kek, kakek sudah terlalu lama keluar dari rumah sakit, biar Al temani Kakek, ya?" bujuk Al berjongkok di sebelah Andrean.


"Tunggu dulu, Al. Kakek masih ingin di sini dulu menemani nenek dan kakekmu." Andrean terus menunduk dan memegangi batu nisan Vivian.


Al pun diam sejenakm dipandanginua jam tangan yang melingkar di pergelangannya.


Kira-kira sepuluh menit kemudian ia melirik lagi jam tangannya dan menoleh ke arah infus yang tergantung pada tiang yang di bawa salah seorang susrter.


"Kek, ayo kita kembali. Langtinya sangat mendung, danย  cairan infus kakek sudah akan habis. Lain kali kita kesini lagi, ya kek?"


Andrean pun mengguk patuh. Ia berjalan di sebelah kursi roda kakeknua soerang suster mendorng kursi roda meninggalkan area pemakaman dan seorang lagi memegngi tiang tempat di mana infus itu digantung.


Di dalam mobil ambulance, Al nampak diam melamun tatapannya kosong. Andrean yang sedari tasi diam-diam mengamati paham betul bagaimana perasaan cucunya itu. Selama hidup bersama keluarganya pria di depannya ini hampir tidak pernah mengecewakan siapapun. Bahkan seberat apapun tugas yang diberikan padanya oleh mendiang sang kakak dengan penuh rasa tanggung jawab ia melaksakannya. Apapun resikonya.


"Laki-laki bukan berarti dia tak pernah menangis. Laki-laki juga manusia yang punya hati, bisa bahagia dan sedih juga. Kau pandai menenangkan orang lain, Al. Tapi, tidak pandai menyembunyikan kesedihanmu. Ikhlaskan kakek dan nenekmu, doakan agar papa dan mamamu segera sadar dan bisa berkumpul bersama kita seperti dulu."


Tanpa sadar, kata-kata Andrean ini benar-benar membuatnya lemah dan berjatuhan air mata. Tidak hanya itu dia bersujud di pada pangkuan Andrean dan menangis sejadi-jadinya.


Tiba di rumah sakit, Andrean sudah dipindah di ruang inap VIP yang hanya berisiย  satu orang.


Karena masih ada suster, Al Izin untuk melihat papa dan mamanya di ruang ICU.


Setelah mendapatkan izin dia pun masuk melihat dua sosok yang dulu memberinya cinta dan kasih sayang teegeletak tak berdaya dengan alat penopang kehidupan. Selang terpasang di mana-mana. Suasanya hening, sunyi hanya bunyi dua ventilator yang saling bersahut-sahutan yang membuat hatinya terasa sakit dan ngilu.


Dengan langkah gontai Al mendekati Clara, disentuhnya pipi wanita itu yang nampak putih seputih salju karena pucat dengan hati hancur dan tubuh bergetar.


"Clara, kalau pun aku bisa. Akan kugantikan posisimu saat ini. Cepatlah sadar, aku tidak akan sanggup melihatmu seperti inu terus. Ra. Maafkan aku, kau jangan marah jika aku mencintaimu bukan cintanya seorang anak kepada ibunya. Tapi, sebagai pria yang melihat sosok sempurna dan maaf jika selama ini aku masih terjebak dalam khayalan semu, berkhayal kita ini keluarga dan memiliki banyak anak. Aku akan memperlakukanmu dengan baik, maaf jika aku lancang jika memiliki perasaan seperti ini untukmu, Clara. Sesungguhnya lidah ini kelu jika harus memangilmu mama. Karna dalam hatiku sungguh sedikitpun tak lagi bisa menerima menganggapmu mama. Karena suamimu orang baik, dan juga sangat mencintaimu aku mengalah selama ini. Tapi, hati ini benar tak dapat di bohongi. Sesakit-sakitnya aku melihatmu bermanja pada papa, ternyata lebih sakit melihatmu seperti ini. Aku sunggu andai dengan mencincang tubuhku yang koror ini mampu membuat kalian kembali baik-baik saja, sungguh, Ra. Aku rela."


Dengan beruraian air mata, Al menciumi tangan Claea.ย  Dan terakir ia memberanikan mencium pipi dan kening wanita itu.


Sesaat kemudian, Al berbalik dan berjalan ke arah Vano. Ia merasa sangat bersalah pada papa angkatnya karena mencintai mama angkatnya.


"Papa... Maafkan Al, Pah. Bunuh saja Al jika kau sadar nanti. Al tak layak hidup, Pah. Maaf," ucap Al tertunduk di sebelah Vano merasa bersalah. Tapi, dia juga manusia biasa yang tak akan mampu dan sanggup jila terus memendap perasaan yang sudah berumpuk bertahun-tahun di dalam hatinya itu.


๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ


Tiba di rumah mertuanya, Alex mendapati halaman masih di penuhi oleh para pelayat.


Ia tidak begitu peduli, dia memiliki firasat tidak enak tentanf Quen. Ia berusaha mencari di kamar dan di halaman belakang tapi ia tidak menemukan keberadaan Quen.


Kebetulan ia melihat bik Yul, Alex pun bertanya padanya. "Bik, di mana Quen sekarang?"


"Ada di kamarnya nyonya dan tuan, Den. Sedari tadi nangis terus dia. Bahkan sampai pingsan, lo."


Mendengar penjelasan itu Alex menyimpulkan kalau Quen tidam dalam keadaan baik-baik saja. Di rumah sakit dia sudah pingsan sebanyak tiga kali jadi artinya sudah empat kali dia pingsan


Di dalam kamar kedua mertuanya terlihat Quen berbaring dengan kakaknya Novita. Ia pun masuk dan menghampiri istrinya.

__ADS_1


"Papa dan mama mungkin besol malam baru tiba kemari," bisik Novita pada sang adik. Sementara Alex hanya mengangguk dan memegang tangan Quen.


Tak lama kemudian Nayla datang dengan segelas besar air hangat di tangannya lalu diberikan kepada Quen.


"Minumlah dulu." Nayla menyodorkan gelas itu dan dengan cepat Quen pun menerimanya. Meminum beberapaย  teguk dan memberikannya pada Alex.


Alex hanya diam memperhatikan mimik istrinya yang terlihat panik dan berkeringat di area dahi, ujung hidung dan kumis. Kenapa? Awalnya ia mengartikan kepanikan Novi dan Nayla hanyalah hal wajar, tapi, Napas Quen rersengar kian berat saja. Sering kali gadis itu menarik napas dalam-dalam dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut secara kasar. Seperti orang yang menahan sakit.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Alex, lirih.


Quen tidak menjawab, ka hanya nampak meremas perutnya sendiri bahian bawah. Bahkan ia menekannya hingga badannya melengkung kedepan.


"Alex, tolong aku!" serunya seperti tengah menahan sakit yang teramat luar biasa.


Alex pun bingung harus menolong yang bagaimana.


"Kak, kenapa Quen sebenarnya?" tanyanya sambil melihat dua wanita yang usianya lebih dewasa darinya itu.


"Alex, kami takut Quen nanti..." Novita terkejut tak lagi menjutkan kalimatnya ia menutup rapat-rapat bibirnya dengan kedua tangan saat melihat darah mermbas dari rahim Quen ketika posisinya terbaring miring dan masih memegangi tangannya.


Hal itu pun juga sukses membuat Alex panik. Tanpa banyak bicara lagi, Alex menggendong tubuh istrinya dan membawanya kekuar. Sementara Novita merasa lemas. Kauda kakinya seolah tak mampu menopang berat badannya dia tersungkur di atas lantai tak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Nayla selain takut dengan Al, tak ada lagi yang dia pikirkan. Dia hafal betul sifat suaminya itu. Dan tadi dia sudah memintanya utntuk menjaga Quen. Tapi yang terjadi malah....


Alex tidak peduli dengan banyaknya tamu undangan, ia tetap lewat melintas meski darah terus mengalir mengenai kemeja putihnya bahkan sebagianย  banyak yang jatuh menetes di atas lantaim dsm Quen terus menlenguh menahan sakitnya.


"Aleeex, sakit banget," ucapnya dengan mata terpejam.


Bik Yul yang kebetulan melihat hal itu mulai dari Alex tergopoh keluar dan noda tetesan darah yang jatuh darib Quen.


Bik Yul pun nampak menagis ikut merasakan kesedihan yabg ada di dalam rumah ini. Pagi orang tua, beserta kakek neneknya. Dan sorenya putri rumah ini mengalami pendarahan.


"Kenapa, Bik?" sapa dr.Lusi mendapati bik Yul sesenggukan sambil mengelus-elus dadanya sendiri.


"Saya memang baru pagi ini, Non masuk ke rumah ini dan sempat bertemu pula dengan Nyonya, nyonya muda dan juga Tuan semua, saya merasa mereka sangat baaaaik sekali, tapi, kenapa allah menurunkan ujian yang sedemikan beratnya."


Lusi pun kembali menangis tak sanggup membayangkan jika dia berada dalam posisi Quen, atau bahkan Clara jika sadar nangi bagai mana.


"Kita doakan akan ada hikmah dan kebahagiaan stelah musibah ini, ya Bik," ucap Lusi. Ia pun hendak menyusul Alex. Tapi, di sini masih kekurangan orang untuk mengurusi para pelayat yang kian banyak.


Tak lama kemudian ia melihat salah satu sahabatnya, Eren bersama anak dan suaminya pula.


"Eren kau sudah datang?" sapa Lusi.


"Iya, aku benar-brnar shock. Saat kecelakaan itu dia masih sempat chat sama aku, lo. Terus Clara bagai mana?"


"Dia, dan Vano masih kritis. Om Andrean sudah sadar bahkan tadi siang ikut dalam saat pemakaman tante Vivian dan om Andreas. Tapi, Quen saat ini..."


"Quen di mana tante? Dia katanya hamil, ya?" tanya Hanifah yang sedari tadi berdiri di belakang mamanya. Sementara Hans berkumpul dengan Reza dan Aditya di depan langsung ikut mengurusi oara pelayat.


"Quen barusaja dibawa Alex ke rumah sakit. Dia mengalami pendarahan," jawab Lusi.

__ADS_1


"Ya allah... Kasian sekali dia... Semoga janinnya terselamatkan. Mungkin kara tekanan batin dan sangat stres hingga mengalami kontraksi," ucap Eren.


"Di bawa ke rumah sakit mana dia, tante sama Alex?" sahut Hanifah turut cemas.


"Tidak tahu. Ini Alex juga belum bisa dihubungi."


Bersamaan dengan itu Novi dan Nayla keluar dari kamar Clara membawa sprei bekas darah Quen.


"Tante, duduk dulu, kapan tiba?" sapa Nayla.


Eren menatap mata menantu sahabat dan juga sepupunya itu. Dia terlihat bingung.


"Kami baru saja tiba. Al di mana, Nay?"


"Tadi dia ke pemakaman, Te. Harusnya sudah kembali bersama Alex. Atau mungkin dia ke rumah sakit menemani kakek, Nay tidak tahu."


Eren nampak bingung tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas belum dia selesai dari syocknya mendengar kecelakaan yang meninmpa Clara dan Vano, kini baru saja datang sudah mendengar Quen mengalami pendarahan hebat. Bahkan bercak darah yang menetes di sepanjang lantai yang dilalui Alex juga belum selesai dibersihkan Bik Yul.


๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ


Alex semakin panik saat macet kian parah memadati jalan raya. Sementara melihat Quen yang sakitnya seolah makin bertambah ia juga tidak tega. Serta darah yang kian banyak di jog mobil semakin membuatnya panik.


Alex pun menghubungi Al meminta kakak iparnya mengambil mobilnya di lokasi yang sudah dia kirim.


"Kak, tolong ambil mobilku di sini. Aku ada di RSUD terdekat, Quen tiba-tiba mengalami pendarahan hebat tadi."


Setelelah mengirimkan pesan itu, Alex keluar menggendong Quen dan membawanya berlari. Kebetulan jaraknya kurang duaratus meteran lagi. Jika menunggu sampai bebas dari macet...


"Sayang, tahan bentar, ya? Sebentar lagi kita sampai. Di rumah sakit terdekat."


"Iya, Lex... Aduh sakit banget banget aku rasanya..." keluh Quen sambil memejamkan kedua matanya dengan rapat.


Tiba di halaman rumah sakit Alex lansung berlari ke IGD tanpa permisi saking paniknya dia asal menerobos. Sementara darah sudah sangat banyak.


Mulanya Alex di minta keluar. Tapi, Quen terus menangis dan tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari tangan Alex.


"Dok, saya takut biarkan suami saya di sini, dok," rengek Quen. Akhirnya mereka pun mengizinkan Alex tetap di dalam.


๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ


Saat Al meminta maaf dan mengunkapkan semua rasa bersalahnya kepada Vano yang tak berdaya, ia merasa ada getaran dari saku ponselnya.


Khawatir itu penting, Al mencium tangan papa Vano berpamitan dan mendoakan agar cepat sadar dan sehat lalu keluar.


Belum sempat memakai penutup kepala dan pakaian kusus. Al susah melihat gawainya karna dia merasakan perasaan tidak enak dengan suatu hal. Dan benar saja, saat ia melihat isi pesan dari Alex, dengan cepat dia melepas pakaian hijau itu dan melemparnya asal lalu berlari. Beruntung banyak tukan ojel pengkolan di depan rumah sakit. Dia meminta mngantarkannya di jalan melati menggambil mobil Alex terlebih dahulu lalu pergi ke RSUD yang dia maksut.


Benar saja, ada banyak darah di jog samping kemudi. Jelas ia sudah bisa menebak darah siapa itu.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi, Tuhaaan!" Keluh Al dalam hati sambil memukul setir berkali-kali. Sebagai kakak dia merasa gagal tidak bisa memberi rasa aman kepada adiknya.

__ADS_1


Melihat darah yang begitu banyak, Al Tidak berani menebak-nebak kondisi bayi Quen. Yang ada dalam benaknya hanya semoga Quen selamat itu saja. Tak berani berharap lebih karna takut kecewa.


__ADS_2