Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 131


__ADS_3

Al merebahkan tubuhnya di atas kasur secara perlahan, khawatir naykay bangun. Tapi, usianya sia-sia. wanita itu telah bangun dan menyapanya.


"Kau baru masuk kamar, Mas?"


Dalam hati Al mengumpat kesal. Tapi, ia berusaha menyembunyikan kekesalannya dan tetap tersenyum pada istrinya.


"Kau jadi terbangun. Tidurlah lagi! Ini masih malam, Nay!" seru Al dengan nada lembut.


Tapi, wanita itu menggeser tubuhnya mendekati dirinya lalu mendekapnya dalam pelukannya dan berkata, "Aku kangen sama kamu, Mas."'


Al tidak bereaksi apapun. Ia masih dalam posisi terlentang.


"Aku capek Nay, maafkan aku," jawab Al datar.


"Ya, aku ngerti. Tapi aku ini istrimu Mas. Tapi kau anggap apa? Guling saja masih dipeluk, sementara aku selalu kau abaikan. Aku tahu kamu sibuk. Tapi tidak adakah sedikit waktu luang untukku saja? Bertahun-tahun aku sudah cukup sabar menghadapi sifat dinginmu ini, mas. Harusnya kamu mengerti." Nayla pun menangis dan membelakangi Al.


Al memandang punggung Nayla yang nampak bergetar karena menangis. Awalnya dia ingin diam dan me cuekkannya. Tapi, benar apa yang Nayla katakan. Selama ini dia tidak banyak menuntut dan sangat mengerti.


Akhirnya pria itu pun menurunkan egonya mendekap Nayla dari belakang dan berbisik di dekat telinganya.


"Dudah jangan nangis lagi ya. Maafkan aku. Kita lakukan itu lain kali saja , untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa Nay."


Nayla masih saja diam tidak menjawab. Ia memejamkan matanya menikmati hangatnya tubuh Al di punggungnya yang sudah lama tak lagi ia rasakan.


Karena tak ada respon Al membalik tubuh Nayla diharapkan ke arahnya. Lalu memandang tajam ke dalam mata istrinya.


"Kau sekarang sangat menuntut, Nay. Apa aku yang keterlaluan?" lirih Al dengan nada suara yang seksi serta tatapan mata yang mematikan.


Saat Nayla membuka matanya, tau-tau wajah Al sudah sangat dekat dengannya. Bahkan hidung mereka sudah bersentuhan.


Awalnya Nayla masih ingin ngambek dan kembali membelakanginya. Tapi, mendapati tatapan yang seperti itu, ia malah nengalungkan tangannya di leher Al dan jemarinya membelai lembut rambut serta belakang kepala suaminya.


Melihat ekspresi Nayla Al tersenyum tipis dan mulai mengecup bibir istrinya  cukup lama tapi tidak melumatnya.


"Bagaimana hari-hari mu terakhir ini?" tanya Al.


"Aku merasa bosan jika kau terus seperti ini. Aku ini menikahimu, bukan hartamu. Jadi, jangan cuma memanjakanku dengan uang saja," umpat naykay sambil mencubit hidung Al.


"Oh, ya? Lalu mau dimanjakan yang seperti apa kamu?" Pria itu tertawa sambil menggigiti leher jenjang Nayla dan meninggalkan banyak berkas tanda merah di sana.


"Aku suka dengan caramu kali ini, mas," ucap Nayla dan kian memberi kode.


Keduanya pun saling bergumul tapi, belum juga Al mencapai pencapaiannya ia melihat sosok Queen saat menunduk menatap Nayla. Sehingga ia pun tak lagi melanjutkan permainannya.


"Arrgkk!" erang Al sambil menjambak rambutnya sendiri. Kepalanya terasa sakit seolah mau pecah saja. Ia pun mengenakan kausnya lalu pergi meninggalkan Nayla yang sudah nampak lemas tak berdaya.


Ia melihat jam sudah jam satu dini hari tapi, ia tak dapat menahan dirinya untuk menelfon Queen. Entah sopan atau tidak yang ada di benak Al adalah, besok adalah hari pernikahan Alex dan Helena, yang jelas malam ini Alex tidak akan satu kamar dengan adiknya dan bisa jadi sejak kecelakaan itu Queen tak pernah lagi di sentuh.


"Halo, kak. Ada apa malam-malam begini telfon?" sahut suara wanita dari dalam gawainya.


"Maaf, apakah kakak mengganggumu, sayang?" jawab Al sambil mengaduh sembari memegangi kepalanya.


"Kak, kau kenapa? Apakah kau sedang sakit?" tanya gadis itu dengan panik.


"Tidak apa-apa. Cuma sedikit sakit kepala saja. Kau kenapa belum tidur? Tidurlah ini sudah jam satu," ucap Al dengan nada lembut.


"Iya, kau juga tidurlah kak," jawab Quen lalu mematikan panggilannya dan mulai memejamkan mata memaksakan diri untuk tidur.


****

__ADS_1


Pagi ini akan menjadi awal yang melelahkan untuk Queen. Pasalnya, ia harus mengatur semua persiapan pernikahan Alex dan Helen sendirian, sebab dari orang tua belah pihak tidak ada yang menyetujuinya.


Kalau orang tua Alex jelas ini karena sebuah ketidak normalan Alex. Mereka bahkan membenci Helena karena telah memanfaatkan situasi. Dan keluarga Helen sendiri sudah memperingatkan putrinya sejak awal untuk tidak mencari masalah dengan putri dari big bos papanya bekerja. Tapi,  yang diingatkan sudah benar-benar dimabukan oleh cinta. Jadi, apapun itu dia tidak menghiraukannya. Dia lebih pilih mati asal bukan bunuh diri daripada tidak bisa memiliki Alex sebagi suaminya.


Dengan sedikit malas dan memijat leher serta pundaknya, Queen mulai menampakan kakikinya menuruni tangga. Sudah sebulan ini dia pindah kamar di lantai atas menempati kamar yang tidak digunakan dengan alasan tidak mau tidurnya terusik oleh suara dua rakun yang berisik itu.


"Neng, Queen. Ada yang mengirimkan ini untuk Eneng," ucap bibi yang kebetulan baru saja menerima pizza.


"Apa itu bi, dari siapa? Aku ga merasa pesan makanan online Lo," ujar Queen sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Bibi juga gak tahu dari siapa neng. Masih anget bisa lah buat sarapan," ucap bibi sambil memberikan bungkusan berisi bubur ayam kepada Queen.


Dengan perasaan senang dan sekaligus penasaran Queen menerima bugnkusan itu dan membukanya di meja makan. Ada secarik kertas dengan tulisan tangan bertuliskan, "Selamat pagi tuan putri. Selamat menikmati. Jangan lupa baca doa ya :)"


Queen tersenyum setelah membaca surat kaleng itu, dia tahu betul ada tiga orang yang suka memanggilnya dengan panggilan itu, Al, Diaz dan Alex, tapi dulu. Sekarang gak.


Dari kalimat dan tulisannya pun Queen sudah bisa menebak.


Ia mengambil gawainya memfoto bubur serta ucapan itu kepada Diaz dengan caption "Terimakasih pangeran 🤴" lalu memakannya.


Diaz yang menerima chat dari Quen hanya senyum-senyum seorang diri lalu membalasnya.


"Enak tidak?"


Dengan cepat Queen membalasnya


"Enak banget. Bukan kamu yang bikin, kan?"


"Iya😅." Balas Diaz.


"Tumben sepagi ini kau sudah sarapan?" ucap Helena begitu keluar dari kamarnya.


Helena menarik kursi duduk di depan Queen lalu mengambil secarik kertas yang ada di sebelah hpnya.


"Selamat sarapan tuan putri.... " Belum sempat Helen membaca habis kalimat itu, Queen sudah menariknya dan memainkannya ke dalam saku.


"Kau tahu bukan kalau kak Al sangat sayang sama aku? Dari aku kecil sampai dewasa, dia masih suka memanggilku sayang dan tuan putri," ucap Queen dengan santai.


"Kenapa kau tiba-tiba menarik kertas itu jika itu hanya dari kak Al? Kau tidak punya pria lain, kan?"


"Helena, kau yang tahu diri, ya. Jangan pernah mengusik dan memojokanku.  Kau bisa tetap tinggal di sini karena kesabaranmu, dan atas kebaikan ku pula kau besok bisa menikah dengan Alex. Jadi jangan ikut campur dengan privasi ku. Kalaupun aku ada lelaki lain dan cerai dengan Alex, siapa pihak yang diuntungkan? Kamu kan?" bentak Queen sambil menggebrak meja lalu pergi.


Semakin hari ia merasa kalau Helen kian tak tahu diri saja.  Bisanya dia mengatur. Ah, sudahlah. Queen pun pergi meninggalkan rumah meskipun ia tahi ini terlalu pagi untuk melihat hasil tempat yang akan dijadikan ijab qobul sekaligus resepsi besok.


Meskipun dalam hati Queen merasa tidak akan ada banyak tamu yang hadir, dari pihak keluarga saja itu terpaksa, tapi, ia tetap melakukan demi kesengan Alex agar dia sadar kalau ia rela berkorban apapun demi memberikan kebahagiaan padanya. Tapi, itu sia-sia saja.


Karena telalu pagi, Queen memutuskan pergi ke rumah mertuanya dulu. Selain ingin mengetahui kabar mereka sekaligus mengingatkan untuk hadir di acara besok.


***


"Queen, pagi sekali kau sayang? Ayo masuk, kamu udah sarapan?" sambut mama Rita dengan hangat ketika menantunya datang.


"Oh, aku sudah sarapan tadi, Ma sebelum pergi kemari," jawab Queen sambil masuk ke dalam.


"Tante Queen!" Seru Axel tiba-tiba keluar dari kamar berhambur memeluknya.


"Axel, kau ada di sini?" tanya Quen sambil mengusal kepala anak itu.


"Kan hari ini libur Tante, semalam aku papa dan mama menginap di sini. Ayo kita minum teh bersama. Di mana om Alex kok tidak ikut, te?" ucap bocah itu dengan polos sambil menarik tangan Queen membawanya kepada kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Papa mama, lihat siapa yang datang?" Teriak Axel dengan riangnya sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi dan kecil-kecil.


"Queen, dengan siapa kau kemari?" tanya Novita sambil bangkit dari duduknya.


"Sendiri, Kak. Tadinya mau survei gedung yang akan digunakan acara besok, tapi karena terlalu pagi, jadi aku mampir sini dulu, eh, ternyata ada kalian juga," jawab Quen sedikit merasa canggung dengan tatapan Aditya.


Wajah Novita tiba-tiba saja berubah masam saat Quen mengatakan mengenai gedung dan acara untuk besok. Dia beserta orangutannya sama-sama menolak dengan keras kalau Alex menikah lagi, tapi, Queen berhasil membujuknya dengan berbagai alasan yang dia bisa dan dirasa masuk akal.


"Kau sudah sarapan apa belum?" tanya Novita dengan datar.


"Sudak kok kak." Queen pun duduk di sebelah Novita menggeser kursinya agar lebih dekat.


"Kakak, lihat deh, aku punya dua jam tangan dari mommy Jeslyn kemarin, ia memaketkan padaku saat ia sedang ada di Amerika. bagus gak? Kak Novi mau satu?" tawar Queen mencoba mengalihkan topik pembicaraan dulu lalu setelah rilex barulah dia mulai merayu.


Novita berdecak kesal sambil memandang ke arah Queen yang masih saja senyum-senyum padanya.


"Dasar kau ini, pantas sekali di panggil rubah," ucapnya sambil mencubit pipi Queen.


"Loh, kak aku serius loh kak Novi pilih yang mana?" ucapnya sambil sedikit bergeser membelakangi Aditya.


Kedua wanita itupun akhirnya terlibat dalam obrolan yang hangat dan sangat akrab.  Dan benar saja, apa tebakan Novi, sama sekali tidak meleset. Tepatnya saat papa dan mamanya juga sudah berkumpul di halaman belakang.


"Pa, ma dan kakak, besok jangan lupa datang di acara nikahan Alex, ya? Kasian dia kalau salah satu dari kalian tidak hadir," rayu Quen penuh permohonan.


"Queen, kami akan hadir hanya sebgai tamu, kau tahu kan bagaimana tamu Hadir dalam sebuah pernikahan? Itupun jika kau tidak memohon seperti ini, kami juga tidak akan Sudi datang," jawab mama Rita dengan ketus.


"Ma, jangan gitu dong. Walau bagaimanapun Alex itu putramu sendiri," ujar Quen masih dengan senyuman yang sama.


"Quen, apa kau melakukan ini tidak sakit hati?" tanya Aditya tiba-tiba. Rupanya laki-laki itu sudah tak kuat menahan rasa penasarannya. Sampai-sampai ia bertanya seperti itu. Meskipun itu sah-sah saja. Tapi, dalang di balik semua ini juga dia dan Helena. Hanya saja mereka belum ketahuan.


"Sakit? Kurasa lebih sakit jika aku memaksa kehendakku memiliki Alex sepenuhnya dalam ikatan resmi. Tapi, hati dia sedikitpun tidak ada untukku. Jadi, kalau soal ini selama Alex bisa Adil kurasa akan baik-baik saja. Lagi pula hubunganku dengan Helen juga tidak pernah ada masalah."


Semua bibir terbungkam mendengar jawaban Queen. Termasuk juga Aditya. Yang semula ingin mengompori agar cerai karena ada Diaz padahal dia sendiri yang mengincar, kini dia malah tak bisa berkata apapun selain menunjukan senyuam palsu nya saja.


Quen merasakan ada getaran dari dalam tasnya setelah ia buka dan cek isinya, ternyata dari Al.


"Sebentar, aku angkat telfon dari kak Al dulu," ucapnya kepada Novi dan memang ke arah kedua mertuanya mencari tempat yang sepi.


"Halo, ada apa kak?"


"Kau ada di mana?" tanya Al.


"Aku ada di rumah mertua, kak. Sebentar lagi mau coba cek gedung. Memlhat kesiapannya sudah berapa persen, ada apa kak?"


"Ok, kakak temani. Kau disitu saja dulu biar kakak jemput bagaimana?" tawar Al.


"Ok, boleh lah. Aku tunggu jangan siang-siang pokoknya,"


"Ya sudah, bye...!"


Quen pun kembali berkumpul bersama keluarga dari suaminya itu dan emngatakan kalau kakakbya Al akan menjemputnya setelah ini.


"Jaga dirimu baik-baik, ya Nak. Perhatikan pola makan dan istirahat mu. Lihat, bahkan kau bertambah kurus sekarang. Tidak seperti pertama melihatmu di New York dulu." Mama Rita mengelus rambut Queen dan memeluknya.


Lalu wanita paruh baya itu teringat kalau memiliki sesuatu di dalam kulkas, lalu ia pun berjalan ke dapur tak lama kemudian ia kembali dengan kue coklat bertabur keju di tangannya dan memberikannya kepada Queen.


"Ini, kamu makan ini sambil menunggu kakakmu, biar badanmu tidak begitu kurus!" Serunya sambil menyuapkan sesendok kue coklat kepada Queen.


"Meski Alex sekarang seperti ini. Tapi, kondisiku tidaklah menyedihkan, sebab kedua mertua dan iparku sangat baik dan sayang banget sama aku," gumam Queen dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2