Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 37


__ADS_3

Dengan perasaan yang penuh emosional, Lyli kembali ke rumah


sakit jiwa tempat ia bekerja. Semenjak pertemuannya denga Queen tadi, ia merasa sudah tidak nyaman tinggal di sana lagi. Dia ingin sekalikeluar dari rumah


sakit tersebut, agar bisa dengan leluasa melakukan balas dendam pada Queen.


Meskipun Al yang telah menghabisi seluruh keluarganya, Lyli tetap saja dari


dulu hingga kini membenci Queen. Karena baginya, Al sudah dikendalikan


pikirannya oleh wanita ****** tersebut.


Setelah melakukan tugasnya, wanita itu mondar-mandir di


dalam kamarnya. Berusaha memutar otak mencari cara bagaimana agar hubungan


keluarga mereka hancur. Yang ingin dia lakukan saat ini adalah membuat Queen


gila dan merasakan apa yang dulu dia rasakan.


Beberapa detik kemudian ia menemukan ide untuk mencetak


beberapa foto mesra antara Al dan Queen yang telah dia jepret tadi. Ia


berencana mengirimkan foto tersebut pada Nayla, Alex, dan juga kedua orantua


mereka. Tuan Vano dan Nyonya Clara. Agar tahu apa yang sudah putrinya lakukan dengan


anak yang sudah dipungutnya itu siungguh tidak terpuji.


“Ah, sayang sekali, aku sudah lupa dengan alamat lengkapnya.


Tapi, jika aku harus datang sendiri ke sana, aku jelas masih sangat ingat


sekali jalannya,” ucapnya seorang diri.


Tak mau menyita pikiran banyak-banyak, wanita itu memutuskan untuk tidur lebih awal saja. Karena dadanya sudah sangat sesak dan sakit saja menyaksikan bagaimana Al, pria yang sejak lama dia cintai terlihat mesra dengan


wanita lain yang dia benci.


Tapi, sayang. Bayangan saat Al mencium, memeluk dan memperlakukan mesra Queen terus saja terbayang ddi pelupuk matanya. Membuat wanita itu sudah tidur dan hanya kebencian saja


yang muncul dari dalam hatinya.


“Sialan! Apa saja sih yang sudah mereka perbuat selama di


hotel tiga hari ini? Dan tadi bahkan mereka sudah berdamai. Sejak kapan Al menjadi bucin begitu?”


Lyli pun beranjak dan keluar meninggalkan kamarnya. Ia


berjalan-jala ke teras dan tanpa sadar ia sudah berada di halaman luar saja.


“Bunga! Apa yang kau lakukan di sini?”


Lyli pun menoleh ke belakang dengan cepat.


“Maaf, Dok. Saya tidak bisa tidur, jadi jalan-jalan mencari


angin saja. Dokter sendiri, kenapa di sini?” tanya Lyli balik.


Pria itu diam dan terbengong-bengong melihat Lyli yang bisa


berbicara lancar.


“Dok.” Lyli melambaikan tangannya di depan pria berbadan


kekar dan berkulit sawo matang itu. usianya kira-kira sudah empat puluh lima tahun. Tapi, masih terlihat sangat oke. “kok bengon,” ucap Lyli lagi.


“Eh, maaf, Bunga. Benar kata rekan dokter dan perawat


tentang kamu. Kamu ternyata bisa berbicara setelah bertemu dengan salah satu dokter dari Jakarta tadi. Siapa sih Namanya? Lupa saya,’' ucap Pria itu sambil meletakkan tangan kanannya yang mengepal di depan keningnya.


“Dokter Queen?”


“Iya, benar. Dia prestasinya sangat bagus. Selain cantik, dia cerdas dan luar biasa hebat dalam menangani apapun. Banyak fakultas kedokteran yang memintanya agar menjadi dosen di sana.”


Lyli mengepalkan tangannya erat. Jika saja dia tidak sadar siapa pria di depannya dan siapa dia, ingin sekali rasanya dia merobek mulutnya


agar behenti tak mengatakan Queen dan segala kelebihan yang dimilikinya.


Faktanya, dia telah berselingkuh dengan kakak angkatnya meskipun dia sendiri sudah bersuami dan Al juga beristri.


“Oh, mana saya tahu,” jawab Lyli sedikit ketus. Ia sudah berusaha bersikap sopan pada pria itu. tapi, kebenciannya membuat semuanya jadi terlihat.


Pria itu tertawa lebar. Dia bisa membaca pikiran Lyli. Wajar


saja, Namanya juga dokter kejiwaan. Membaca karatker orang dari Bahasa tubuh, perkataan dan juga dari raut wajahnya.


“Kau ini ada dendam sama dia? Kenapa? Apakah kau membencinya


karena pria yang kau cintai lebih memilih dia?”


Seketika Lyli pun terperanjat kaget dengan kalimat yang


dokter Darto ucapkan. “Ba… bagaimana anda tahu?” tanya Lyli tergagap.


“Hahaha, sekalipun kau berkata tidak kenal dengannya, mana mugkin kau tiba-tiba saja benci padanya? Walau mulutmu berkata tidak, tapi, matamu sudah memancarkan aura dendam yang kuat. Bahkan tadi, beberapa perawat dan dokter Andin mengatakan kalau kamu menyebutkan Namanya. Kalian salking kenal di masa lalu.”


“Ya. Benar. Dulu dia adalah anak mantan majikan saya. Tapi,


sekarang, dia adalah musuh terbesar saya,” jawab Lyli sambil memalingkan


wajahnya.


Dokter tersebut menyeringai dan menjilat bibirnya sendiri


saat menyaksikan lekuk tubuh Lyli di balik kain piyama yang transparan itu.


“Lalu, apa rencanamu? Mau balas dendam padanya? Apakah kau


bisa? Sedangka utangmu di rumah sakit ini saja juga masih belum terbayar setengahnya," ledek dokter itu sambil memandang liar dengan tatapan penuh napsu.


Lyli kian dongkol saja mendapati kenyataan ini. Dalam hati


dia mengutuk, kenapa pihak rumah sakit jiwa harus menolong dan menyembuhkan kegilaannya jika dia akhirnya saat sehat kembali bertemu dengan Queen. Melihat Queen sukses meraih cita-citanya ia hanya sakit hati saja. Jika saja dulu ia dibiarkan, dia pasti sudah mati dan tak lagi memikirkan dendamnya terhadap Queen.


Dokter Darto mengamati lingkungan sekitar. Yakin keadaan


sepi, ia pun mendekatkan wajahnya pada telinga Lyli dan berbisik lirih, “Apakah kau mau bernegoisasi denganku, agar kau bisa keluar dari rumah sakit ini? Aku akan membantumu mengurus dokter cantik itu.”


Lyli diam dengan muka jutek, seluruh pandangannya diedarkan


ke sekitar area rumah sakit. Yakin kalau tempat itu sepi, ia pun berjalan


menuju belakang gedung tempat registrasi dan administrasi. Kebetulan, di sana tidak terpantau oleh cctv. Dan kalaupun ada satpam jaga juga tidak akan ke sana. Meskipun letaknya di depan, tempat itu memberi kesan serem. Karena belum lama


ini ada dua pasien gila yang melakukan gantung diri secara bersamaan di sana.


Jadi, you know, lah. Pasti akan ada aura-aura mistik dan


suara-suara aneh. Kelebatan bayangan wanita juga katanya sering banyak muncul di sana. Banyak para perawat yang sering melihatnya. Jadi, banyak yang percaya.


Kecuali pasien yang melihat, barulah berita itu diragukan.


“Apa yang ingin anda bicarakan? Negoisasi yang seperti apa


yang anda mau?” tanya Lyli.


Dokter Darto menyeringai dan menatap Lyli dengan tatapan


haus, membuat wanita itu kian jijik saja. “Aku tahu, kau itu sudah tidak


perawan lagi. Kau jangan mengelak. Bahkan melihat kondisimu dulu, aku yakin, lebih dari dua orang yang mengeroyokmu rame-rame. Iya, kan?”


Lyli melangkah mundur perlahan saat pria tua itu mendekatkan wajahnya pada lehernya. Ia sampai bisa merasakan hembusan napas si tua bangka itu.


“Apa maumu?” bentak Lyli takut sambil melotot.


“Apa? Kurasa kau tahu apa mauku, bukan? Beri aku service yang bagus. Jika aku puas, kujadikan kau simpananku.”


“Jangan mimpi!” Lyli beranjak meninggalkan pria tua itu dan


melangkah menuju kamarnya. Dia sangat jijik dengan pria itu. sudah jadi rahasia umum kalau dia sudah banyak meniduri perawat dan juga beberapa pasien yang depresi berat dan gila. Dia memilih yang masih muda dan cantik tentunya. Bahkan Lyli sendiri dulu pernah hampir diperkosa juga. tapi, beruntung, dia segera dipanggil oleh dua orang perawat dan diantar menuju ke ruang kosultasi dengan pseketaer.


“Kamu pikirkan saja! Jadi simpananku, utangmu di rumah sakit


jiwa ini lunas, dan kau bisa bebas untuk membalas dendam. Tapi, terserah jika kau menolak tawaranku, aku tidak akan menawarkanmu kesempatan kedua lagi. Lupakan saja tentang dendammu itu, biarkan


dokter Queen yang cantik itu kian bahagia bersama anak dan suaminya.”


Lyli diam sesaat. Hatinya kembali sakit mendengar kata Queen


terlebih dengan embel-embel sangat cantik. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lalu, berbalik badan menatap doktr cabul itu. langkahnya terasa berat, namun ia


paksakan agar berjalan kembali mendekati pria itu dan berkata, “Ya. Anda benar. Bahkan sampai aku matipun, tak menjamin aku bisa bayar utang-utangku selama


dirawat di sini.”


“Baik, tunjukkan kemampuan terbaikmu, buat aku puas dan


tergila-gila padamu, oke?” Dengan ganas, namun lembut, pria tua itu langsung ******* bibir Lyli, tangannya bermain di area dada dan juga area paling


intimnya membuat Lyli mendesah dan mengelinjang bak cacing kepanasan.


Sebenarnya Lyli sangat jijik dan ingin mutah saat merasakan


lidah si tua itu masuk ke dalam rongga mulutnya. Tapi, demi dendamnya pada


Queen. Jadi, ia mengganggap pria yang tengah menjamahnya adalah Al. sering sekali, tanpa sadar ia meracau menyebut nama Al sambil menjambak rambut lelaki


itu, bahkan di akhir puncak pergumulannya. Saat ia mencapai klimaks, ia pun juga berteriak memanggil nama Al.


“Hahaha, pria yang kau cintai itu Namanya Al, ya? Terserah


kau anggap apa, dan siapa aku. Yang jelas, aku suka dengan caramu memuaskanku. Lain kali kita coba cek in ke hotel dan untuk permulaan, ini sangat oke.”


Rasa mual yang tadi hilang kini mulai timbul lagi, begitu


Lyli menyadari kalau yang melakukan dengannya barusan bukanlah Al.dengan cepat


ia merapihkan lagi celana dan juga baju babydollnya.


“Ini untukmu. Tinggu kabar baik lagi dariku selama satu


minggu. Tapi, ingat, kapanpun aku butuh kamu, kau harus siap. Dan aku benci penolakan dalam bentuk apapun!” seru dokter itu sambil menyelipkan lima lembar


uang seratus ribuan dalam dada Lyli, lalu pergi setelah merapihkan celananya.


Lyli mengambil uang itu dan mencoba menghitungnya ada berapa, setelah ia tahu, ia tersenyum sinis. “Mudah juga cari duit, Cuma begini saja aku bisa mendapatkan setengah juta. Dan mungkin satu minggu lagi juga aku


akan dia bebaskan dari sini. Dia pasti akan menebus utangku.”


Lyli berjalan pelan meninggalkan tempat itu dan menuju ke


kamarnya bersama para pelayan yang lain. Ia teringat bagaimana energicnya pria tua itu saat menggaulinya dengan berbagai posisi meskipun sama-sama berdiri.


Ia tersenyum seorang diri. sentuhan bendanya yang mengenai rahimnya seolah masih terasa sampai saat ini.


‘Dia yang sudah tua saja masih sangat hebat untuk urusan


seperti ini. Bagaiman dengan Al yang masih muda, ya?’ pikirnya.


“Bunga, kau dari mana saja? Kami takut kau hilang,’ ucap


salah satu temannya yang usianya sebaya dengannya. Tapi, dia bekerja di sini memang melamar kerja, bukan bekerja untuk menebus utang sepertinya.


“Eh, aku? Aku dari jalan-ajalan. Di kamar terasa gerah.


Jadi, cari angin dulu,” jawab Lyli dengan canggung dan sedikit gugup.


Wanita itu menatap dengan seksama dan penuh selidik pada wajah


Lyli. Kemudian bertanya, “ Itu, apa yang ada di dekat mulut kamu?” ingus bukan, ya? Kok mirip cairan lelaki?” tanya wanita itu penasaran.


Lyli juga terkejut. ‘Mati aku. Kenapa aku bisa seteledor ini, ya? Dia melepaskan ke mukaku, kenapa aku tidak mengelapnya, sih?’ umpatnya dalam hati.


“Emb, Na. anggap kau tak pernah melihat apapun di wajahku.


Aku juga tidak tahu, bagaimana bisa ada lendir di mukaku. Ini untuk kamu,” ucap Lyli sambil memberikan uang duaratus ribu pada Lina. Teman sekamarnya.


****


Sesampainya di Jakarta, ternyata Al tidak pulang ke rumah.


Ia membawa istrinya ke tempat di mana ia membawa dan menyekapnya di hari pertunangannya dengan Diaz dulu. Queen yang memang tidak tidur di sepanjang perjalanan, ia bertanya, “Kita mau ke mana, Sayang?”


“Ke tempat kenangan kita, dong.” Al terus fokus menegmudikan


kendaraan yang mulai menembus jalan sepi dan gelap itu.


“Kenangan?” tanya Queen sambil terus berusaha berpikir. Tak


lama kemudian, ia teringat jalan ini. Dia pun tahu, akan dibawa ke mana dia.


“Di sini kau pernah menamparku,” ujar Queen sambil cemberut.


Al tersenyum malu dan menyentuh Pundak istrinya saat mobil


sudah melewati jalan yang lurus.


“Kali ini aku tidak akan menamparmu, Sayang. Maafin aku jika

__ADS_1


dulu aku khilaf, ya?”


Queen hanya tersenyum saja lalu menggeser tubuhnya lebih


dekat dengan Al dan menyandarkan kepalanya pada lengan pria di sebelahnya.


“Aku maafin, kok. Tapi, kamu mau apain aku?” tanya Queen.


Al tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan meraih punggung


tangan wanitanya dan menciuminya. Sepuluh menit kemudian, mobil sudah memasuki halaman rumah yang tidak begitu besar itu. lebih tepatnya sangat mirip dengan Vila. Terlebih di sini juga mirip pegunungan.


Sesampainya, Al menggendong Queen mulai dari mobil sampai


tiba di kamar utama yang memiliki luas 4x5 meter tersebut dengan kamar mandi di dalam.


“Kau bilang kita akan berbulan madu, tapi kau tidak membawaku ke tempat yang memiliki kenangan manis di dalamnya,” celetuk Queen


sambil mengalungkan kedua lengannya pada leher Al.


“Kau trauma dengan tempat ini karena aku memperlakukanmu


dengan kasar?” ucap Al sambil tersenyum tipis.


“Kau bahkan juga memaksaku.” Queen memperhatikan rahang


kokoh suaminya dari bawah. Keringat mulai membentuk titikan di pelipis dan dibagian kumis tipisnya yang malai tumbuh. Benar-benar maskulin sekali, dia.


“Aku akan memberimu kesan nyaman di sini. Menghapus kenangan


buruk di masa lalu. Karena aku ingin, kita menghabiskan masa tua kita kelak di sini, saat anak-anak kita sudah berbahagia bersama pasangan masing-masing.”


“Oh, ya? Bagaimana caranya?”


“Akan aku memeperlakukan kau layaknya Ratuku, Tuan putri.”


“Lalu, kau apa? Jika kau adalah bawahan dari ratu itu, maka


kau tidak sopan.”


Aku adalah rajamu,” ucap Al bersamaan dengan ia membaringkan


tubuh Queen di atas ranjang dan mulai mencumbunya dengan perlahan dan penuh kelembutan. Ia terus berusaha lembut dan tetap tenang, meskipun napasnya sudah mulai berat dan hasyratnya kian berontak untuk berbuat buas seperti biasa. Karena bagi pria itu, hanya sekedar desahan wanita saja tak cukup memuaskannya. Dia paling suka mendengar jeritan wanitanya saat sedang bercinta.Tapi, ia tetap akan terus menahan hingga akhir.


“Al… kau lama sekali?” ucap Queen di bawah tubuh Al sambil


membelai rambut suaminya dan menjambaknya perlahan.


“Mungkin karena aku main halus. Kau menyukainya, bukan?”


bisik Al, bercampur desahan kemudian mulai ******* dan menggigit halus bagian leher serta daun telinga Queen, membuat wanita dibawahnya kian mengelinjang saja.


Entah sudah berapa jam saja, mereka bercinta. Tanpa terasa


sudah terbit fajar saja, hingga keduanya tertidur karena kelelahan.


Tanpa terasa waktu sudah siang. Bahkan, terik sinar Mentari


mampu menembus kain korden yang tebal di kamar Al dan Queen.


Wanita itu berusaha mengeliat dan mengucek matanya. Tapi,


gerakannya ntertahan oleh pelukan tangan kekar pria di sampingnya.


“Al, sudah jam berapa ini?” gumamnya lirih. Sambil melihat


pria yang masih nampak pulas tertidur menempel di dadanya.


Sebenarnya leher dan semua persendiannya terasa pegal. Tapi,


untuk bergerak lebih banyak ia takut malah membangunkan suaminya. Wajahnya juga terlihat sangat lelah.


Ia pun melirik nakas, jam dinding di kamar tersebut. Ia


terkejut mendapati sudah pukul sebelas siang. Padahal dia mengira ini baru pukul tujuh saja. Bagaimana bisa ia tidur seperti orang pingsan?


“Ya ampun, Al! ini sudah jam sebelas siang!” teriak Queen


histeris. Mendorong tubuh Al yang terus saja menempel padanya.


“Uuuuuh, biasa saja Sayang. Ini kan hari libur,” jawab Al


dengan mengeliat malas di atas tempat tidur. Memandang Queen yang membalut tubuh telanjangnya dengan selimut nampak mencari-cari sesuatu di area kamar.


“Ya, aku tahu ini hari libur untukku. Tapi, kau bolos,” celetuk Queen. Masih mencari sesuatu.


“Kamu cari apa, sih?”


“Hp ku di mana?”


“kamu taruh di mana memang?”


“Ada di dalam tas. Lagian, dari kemarin aku gak nelfon


mama, apa dia tidak khawatir?”


“Sudahlah, tasmu dan juga hpku berada di dalam mobil. Karena


sudah siang, kau pasti juga sudah lapar, kan?”


Queen berhenti mondar-madir dan merasakan perutnya memang


sudah keroncongan saja.


“Memang kita mau makan apa?” tanya Queen.


“Apa saja. Ini sudah jam makan siang. Di sini tidak ada apa-apa. Kita keluar saja sekalian pulang ke tempat mama. Brlyn pasti juga sudah kembali dari sekolahan.”


Mereka pun mandi


bersama dan kembali meninggalkan tempat tersebut dengan kondisi wajah yang fresh tentunya. Al melajukan kendarannya dengan perlahan dan santai. Dia mengabaikan pertunya dan perut Queen yang sudah keroncongan. Toh tadi di mobil


juga ada satu keping roti dan air mineral. Mereka memakannya berdua hanya untuk sekedar mengganjal perut saja. Al menikmati jalanan yang sepi dan tetap dingin itu meskipun di siang hari, sambil tangan sebelahnya menggenggam tangan


Queen dan menciuminya tak henti-henti.


“Mulai sekarang kalau mau ML kita ke sini saja, ya? Jangan di rumah,” ucap Al mendahului pembicaraan.


“Loh, kenapa?” tanya Queen sambil tertawa. Sebab, mendengar


ucapaan suaminya terasa geli saja.


“Kan aku tadi ngomong sama kamu. Kelak, saat kita tua, kita


akan tinggal berdua di sana menghabiskan masa tua kita.”


“Iya, aku dengar dan masih ingat, kok. Tapi, apa hubungannya, Al?”


“hubungannya? Ya setidaknya kita berusaha menumbuhkan cinta


Mendengar jawaban itu, dan dalam posisi tangannya dikucup


oleh Al, wajah Queen bersemu merah karena malu. Dia diam tidak menjawab. Sekedar memberinya senyuman saja.


“Dulu, Ketika aku merasa lelah dengan apa yang aku jalani, aku


selalu di sana. Termasuk tiga hari sebelum hari H kamu. Aku tidak pulang dan


tidak ditemukan di mana-mana, aku berada di tempat itu. aku berharap. Bersamamu


kita bisa sehidup semati. Kau tak akan dengan pria lain selain aku, dan aku


juga akan pastikan, kalau kau adalah wanita terakhir dalam hidupku.


Queen memalingkan wajahnya ke arah rah jendela guna menutupi air


matanya. Entah kenapa. Tiba-tiba saja dia tak bisa menahan air matanya saat Al


menagatakan harapan pada hubungan mereka. Dia berusaha menghela napas dan meniupkannya perlahan. Kemudian berkata, “Aku pun juga berharap demikian. Tak peduli seberapa besar ujian yang akan datang. Kita hadapi bersama, ya? aku juga sangat mencintaimu, Al.”


****


Karena usai ujian pra ebta, di sekolahan pun juga bebas. Sisawa siswi tidak menerima pelajaran. Yang


penting terlihat absen dan masuk. Namun, tak jarang juga para siswa-siswi SMA 1 yang pulang lebih awal meskipun masih jam Sembilan. Termasuk juga Axel.


Merasa bosan


di sekolahan, pria remaja itu meninggalkan sekolahan bersama teman-temannya, dan memilih ke taman kanak-kanak di mana adiknya bersekolah. Sayang sekali,


di sana ia tidak akan bisa bertemu dengan Berlyn. Karena dia anaknya istimewa, sekolahpun juga di sekolahan luar biasa.


Sebelum dia berangkat ke sekolahan adiknya, Axel menghubungi mamanya terlebih dahulu agar tidak repot-repot datang ke sekolahannya. Tapi, sayang. Ternyata mamanya sudah sampai duluan.


“Oh, Mama sudah berada di sekolahannya Adriel? Ya sudah kalau begitu. Axel tunggu di


rumah, ya?”


“Iya, Xel. Ini adik kamu juga sudah keluar kelas. Kamu tumben jam segini sudah pulang?” tanya Novita penasaran.


“Kan ebtanas sudah selesai, Ma. Tinggal fokus belajar saja buat hadapi ujian nasional, dong.


Daripada ga ada pelajaran Axel mending pulang saja. Yang penting setiap hari masuk dan absen.”


“Oh, ya sudah. Hati-hati, ya Sayang.” Panggilan pun dimatikan. Novita tersenyum simpul merasa bangga dengan anaknya yang sudah remaja. Tak seperti remaja pada umunya


yang pasti akan menjadikal hal seperti ini kesempatan agar bisa keluar dan


bersenang-senang dengan teman-temannya. Mungkin juga Sebagian besar dengan


teman wanitanya. Tapi, ia berharap, semoga Axel tidak demikian, dan Adriel bisa menurun kakaknya.


Novita menghampiri Adriel sambil setengah berlari. Wanita itu langsung memeluk putranya dan menggedongnya.


“Mama. Adriel


ini sudah besar. Kenapa masih di gendong? Lihat, teman-temanku tidak ada yang digendong oleh ibunya,” ucap bocah yang akan menginjak usia tujuh tahun itu


dengan malu-malu.


“Oh, ya? mama


lupa kalau kau ini sudah besar, Sayang. Mama itu selalu merasa kalau kedua putra mama itu adalah anak kecil yang perlu digendong dan ditimang-timang


setiap waktu.”


Adriel mengedarkan pandangan ke halaman deoan, ia melihat mobil Pajero sport putih milik om Candra berada di pinggir jalan tidak jauh dari pintu gerbang sekolahannya.


“Mama apakah pkemari bersama om Candra?”


“Tidak. Kenapa?”


“Bukankah itu mobilnya om Candra, ya?” Bocah lelaki itu menunjuk ke mobil yang dimaksut.


“Mama lupa tidak kasih tahu kamu. Mobil kita sudah saatnya servise. Jadi, tadi pagi om Candra datang kerumah, tuker mobil, sambil sekalian dia mau nyervice in mobil kita Sayang.”


“Oh, baiklah.


Artinya pasti hari ini om Candra akan kemari,” ucap bocah itu sambil berlari


kegirangan menuju mobil tersebut.


“Adriel, hati-hati!” pekik Novita histeris.


Sebuah mobil honda mobilio berwarna hitam melesat cepat menyerempet tubuh kecil Adriel


hingga anak itu hatuh terpelanting sampai dua meter.


“Adriel!”


Novita berlari menghampiri putranya yang terkapar dan bersimbah darah itu. tapi, belum sempat ia menyentuh tubuh kecil yang sudah tak sadarkan itu di sudah jatuh pingsan.


Seketika, tempat itu pun ramai oleh para guru dan beberapa wali murid dan tak banyak juga


pengendara yang berhenti untuk melihat.


Saat ambulance datang, dan Adriel sudah di bawa menuju ke rumah sakit terdekat, Novita juga sudah sadar.


“Di mana putraku Adriel?” tanyanya lirih sambil melihat keadaan sekitar. Dia sudah berada di tengah kerumunan orang-orang banyak. Namun tak ditemuinya Adriel.


“Dia sudah di


bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, Bu,” ucap wali kelas Adriel


sambil memberikan segelas air putih pada Novita agar bisa sedikit tenang.


Setelah


meminum beberapa teguk yang diberikan oleh wali kelas anaknya, Novita segera menghubungi Alex.


“Halo,Lex. Kamu ada di mana? Sibuk gak?” tanya Novita sambil terisak-isak.


“ini aku sedang berada di rumah sama Zahara, Kak. Kakak ada di mana? Kenapa kakak menangis?”


Novita tidak


menjawab sepatah katapun. Tangisannya malah kian menghebat.


“Halo, Kak. Apakah ada masalah? Tanya Alex kian panik.


“Adriel, Lex… huhuhu.”

__ADS_1


“Adreil? Dia


kenapa, Kak? Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya? Kakak ada di mana?”


“Kamu ke rumah


dulu, ajak Axel ke sekolahan Adriel bersamamu. Satu kendaraan saja. Kakak di sini bawa mobilnya Candra. Adriel terserempet mobi, Lex.”


“Apa? Iya, kak.


Aku akan ke sana sekarang. Lalu, gimana dengan Adriel?”


"Kakak juga belum tahu. Dia sudah di bawa ke rumah sakit tadi, katanya."


Telefon dimatikan. Setelah berpamitan jepada


istrnya, Alex langsung menghubungi Axel untuk naik ojek online menuju ke


sekolahan adiknya. Dia juga tidak langsung mengatakan apa. Takut dia kalut dan tak bisa fokus di jalan raya.


Setelah Alex


mengambil kontak mobil, Zahara juga keluar dari dalam kamarnya dan sudah


bersiap mencangklong tas tangannya.


“Lex. Akun ikut denganmu, ya?”


“kamu kan lagi


hamil, Sayang. Tapi, kalau kamu mau ikut ya ayo, tidak apa-apa.” Meski tergesa, ia tetap berusaha berjalan pelan sambil menggandeng tangan Zahara menuju ke


dalam mobil.


 “Adriel di bawa ke rumah sakit mana, Lex?” tanya Zahara.


“Aku juga belum


tahu, Za. Aku belum sempat nanya ke kak Novi. Dia juga tidak tahu di mana


Adriel di bawa. Dia masih berada di sekolahan Adriel.”


Zahara hanya


diam. Tapi, dalam hati ia berdoa semoga keponakan dari suaminya tidak sampai di rawat di rumah sakit tempat Queen bekerja.


Mendengar terjadi sesuatu pada adiknya dan mendapatkan perintah untuk naik ojek online


untuk mengemudikan mobil yang mamanya bawa, Axel pun langsung menghubungi ojek


onlie. Tapi, motor baru berjalan sekitar limaratus meter, Axel meminta sopir ojek online yang kebetulan seorang perempuan untuk berhenti.


“Mbak, mbak. Stop berhenti!” seru Axel.


“kenapa, Mas?” tanya gadis itu, tapi kendaraan masih terus melaju. Meskipun kecepatannyan


sudah berkurang.


“Saya minta


berhenti atau tidak saya bayar,” ancam Axel.


Takut dengan


ancaman cowo ganteng dan galak yang jadi penumpangnya, gadis itu pun berhenti.


“kamu, bawa


motor lama banget!’’ cetus Axel. Turun dari motor, dan memegang setir motor scoopy merah itu.


“Heh, kamu mau


apa?” tanya gadis itu sambil melotot.


“Cepat turun!”


Gadis itu pun


langsung ambil kuda-kuda dan menendang perut Axel.


“Awh! Kau ini


sakit jiwa, ya? kenapa tiba-tiba menendang keras perutku?”


“Kau pikir aku ini cewek lemah apa? Jangan berfikir begitu, ya? aku punya keahlian bela diri,” jawab gadis itu.


“Terserah. Aku


tidak mau tahu. Kau bawa motornya terlalu lelet. Naik biar kubonceng.”


“Heh, itu sudah


kecepatan maximal untuk kaum ojol seperti kami. Kalau saja tidak, aku ini anak racing, lo. Tahu, kan betapa ngebutnya mereka naik motor. Aku saja sering menang lomba balapan liar,” celetuk gadis itu.


“Bodo amat!” tukas Axel. Tak mau tahu.


Begitu gadis itu sudah naik ke atas motor dan ke boncengan Axel. Pria remaja itu pun langsung melajukan morot tersebut hingga kecepatan 100. Entah apa yang dikatakan oleh gadis di belakang itu. saking kencangnya, dan tak ingin kosentrasinya buyar, Axel tidak memperdulikan.


Bahkan, saat tiba di sekolahan adiknya pun ia juga ngerem mendadak.


“Heh. Kau ini gila apa? Kau mau bikin aku mati?” omel gadis itu. kira-kira dia juga selisih


beberapa tahu lebih tua dadi Axel. Hanya saja, karena Axel lebih kental dengan tampang bulenya. Jadi tidak aka nada yang menyangka kalau usianya baru delapan


belas.


Tanpa menjawab,


Axel menyodorkan selembar uang seratus ribuan pada gadis itu.


“Aduh, Mas. Kamu ini penumpang pertama. Aku tidak ada kembalian. Uang pas tidak ada apa?


Cuma duapuluh ribu saja, kok.”


“Ambil kembaliannya untukmu.” Axel pun langsung beranjak pergi meninggalkan gadis itu


dan langsung menuju sekolahan Adiknya.


Karena penasaran, gadis itu masih berada di pinggir jalan menunggu apa yang penumpangnya itu lakukan di taman kanak-kanak tersebut. Ia juga berharap, kali aja dia mau pulang dan membutuhkan jasa ojek lagi.


Tak lama kemudian, axel keluar sambil menuntun mamanya. Tak berselang lama, mobil Lamborghini warna kuning juga parkir di dekat sekolahan, tidak jauh dari tempat gadis itu berhenti.


“Kak, di bawa ke rumah sakit mana Adriel?” tanya Alex.


“Wih, siapanya


tu cowok itu? cantik dan ganteng. Kakaknya kah yang dituntun itu?” gumam gadis ojol itu.


“Katanya di rumah sakit umum terdekat, Om. Ya sudah. Om sama tante Zahara saja. Biar mama


sama aku naik mobil om Candra.”


“Sayang, kamu naik mobil sama mereka saja, ya? temani kak Novi.”


“Dasar cewek kepo,” umpat Axel, dalam hati saat melihat gadis ojol itu masih berada di sana dan mengamati ke arahnya.


Gadis ojol itu pun terheran-heran saat mendengar kalau wanita yang seperti habis menangis itu adalah mamanya. Dan cowo ganteng bersama wanita berjilbab itu adalah omnya.


Novita masih terlihat


lemas. Setelah menuntun mamanya masuk ke kursi belakang, Axel langsung menuju


ke kursi kemudi untuk mengemudikan mobilnya.


“Yang sabar, ya kak. Semoga tidak terjadi hal buruk untuk Adriel,” ucap Zahara sambil


menenangkan kakak iparnya.


Novita yangnmelihat sendiri bagaimana anaknya terpelanting dan bersimbah darah, masih saja


menangis bahkan malah kian menghebat.


“Aamiin aamiin. Doakan saja terus, Za. Aku tidak kuat melihatnya.”


“Tenang mama. Benar kata tante, kita berdoa saja agar Adriel tidak kenapa-napa. Semoga hanya


luka ringan saja.” Sahut Axel, ia juga panik dan bingung mendengar mamanya terus menangis. Ingin menenangkan. Tapi, posisi dia mengemudi. Dan mamanya pun


juga berada di jog belakang.


“Iya, Xel. Mama juga berusaha tenang dan tetap berdoa agar adikmu hanya mengalami luka ringan


saja.” Jawab Novita.


Tiba di rumah sakit, ternyata Adriel masih berada di IGD. Sementara Alex langsung menuju ke ruang administrasi menyelesaikan pembiayaan keponakannya.


Tak berapa lama, seorang perawat keluar dari IGD dan mencari keluarga dari pasien yang


bernama Adriel.


Sampai di sana,


Novita merasa lega mendapati putranya dalam keadaan sadar meskipun bagian kepala juga mendapatkan beberapa jahitan.


“Driel, apa yang kau rasakan sekarang, Nak? Apanya yang sakit?” tanya Novita dengan panik.


“Aku kan anak kuat, Ma. Om Candra mana? Aku ingin berteu dengannya,” jawab bocah itu sambil tertawa.


Novita saja yang melihat kejadian itu masih belum bisa tenang. Ini bocah yang mengalami malah dengan santainya ketawa ketiwi.


“Om Candra masih bekerja Sayang.” Jawab Novita.


“Sebetar saja. Ini sudah jam dubelas. Harusnya dia juga sudah beristirahat, kan Ma.”


“Baiklah.” Akhirnya Novita pun menyerah. Ia memilih menuruti permintaan putra kecilnya


yang memang sudah lengket dengan Candra sejak pertama kali bertemu.


Mendengar kabar kalau Adriel mengalami kecelakaan dan masuk ke ruang IGD. Candra buru-buru


meninggalkan kantor. Kebetulan, saat jam istrirahat pula.


Sesampainya di


rumah sakit yang ditunjukkan Novita. Ternyata, Adriel sudah berada di kamar rawat. Di dalam sana juga ada Axel, Novita adik dan juga iparnya.


“Adriel. Apa yang terjadi padamu, Sayang?”


“Kecelakaan kecil saja, Om. Tidak masalah. Aku akan segera sembuh.”


Secara reflek Candra langsung mengelus ujung kepala Adriel dan menciumi keningnya beberapa


kali. Padahal, ibu, om, tante dan kakak dari anak itu belum dia sapa. Belum apa-apa, Candra sudah menunjukkan rasa sayangnya pada Adriel layaknya anak sendiri.


Suara lagu dj berbunyi kencang. Semua mata tertuju pada Axel yang tengah duduk di sofa


seorang diri. ternyata sebuah panggilan masuk.


“Halo, Tante.”


“ … “


“Iya, itu Adriel terserempet mobil tadi saat di sekolahan. Ini sudah berada di kamar rawat.”


“ … “


“iya, dia tidak apa-apa, kok.”


“ … “


“Iya, Tante, kemarilah. Aku lupa ini ada di bangsal berapa. Kalau sudah tiba di depan bilang saja, biar kau jemput.”


“ … “


“Iya, tante. Hati-hati.”


“Siapa, Xel?’ tanya Novita setelah panggilan dimatikan.


“Tante Queen. Dia bersama om Al dan juga Brlyn sedang ada di dekat sini. Kebetulan liat story wa


Axel yang memfoto ruang IGD tadi mungkin. Tiba-tiba telfon dan menayakan.”


“Oh, apakah dia akan ke sini?”


“iya, kan tidak jauh dari sini.”


“Tumben, mereka tidak bekerja,” gumam Novita.


“Pak Al sudah empat hari ini tidak ada di kantor. Mungkin juga mereka baru kembali dari Bandung. Menemani istrinya,” sahut Candra.


Mendengar kalau


Queen akan datang, Zahara merasa mulai tidak nyaman. Alex yang sudah bisa mengerti, ia menawari  istrinya untuk kembali lebih awal. meskipun sebenarnya dia masih ingin menemani keponakannya. tapi, dari pada ujung-ujungnya malah berantem saat di rumah.


“mau pulang sekarang? Kan sudah banyak orang di sini,” bisik Alex.


“Nanti saja dulu. Kita baru sampai,” jawab Zahara.


“Baiklah.” Alex


pun duduk di dekat Axel mengamati kaka dan keponakannya yang terlihat akur dengan Candra. Mereka sangat akrab seperti keluarga yang sangat berbahagia.

__ADS_1


“Om sebentar,


ya? aku jemput tante Queen dulu. Mereka sudah ada di depan,” pamit Axel lalu keluar meninggalkan kamar di mana adiknya dirawat.


__ADS_2