Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 34


__ADS_3

"Kau sudah makan belum?"


Quen merebahkan badannya di atas sofa, melepaskan penat dari aktifitas seharian. Sementara lelaki itu masih berbicara di telfon genggamnya. Tatapannya memindai pada tiap inci kertas tugas kampusnya.


"Belum, aku malas keluar dan kayaknya ga nafsu makan deh."


"Kamu ada di apartemen? Tunggu aku sepuluh menit lagi sampai."


Begitu saja pria itu mematikan telfonnya dan bergegas pergi ke sebuah food courd. Kebetulan dia berada do dalam mall.


Suara bell berbunyi.


Dengan segera Quen membuka pintu itu dan bediri seorang pira yang lama dikenalnha dengan dua wadah tas dari kertas berisi makanan.


"Maukah kau menemaniku makan malam?" ucap Pria itu sambil tersenyum.


Gadis itu menunjukan senyuman manjanya. Meski ia sadar bahwa proa dihadapannya hanyalah bagian di masa lalunya yang bahkan tiada kesan. Namun, akhir-akhir ini dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bermanja-manja padanya.


"Masuk!" Seru gadis itu menggeser tubuhnya memberi akses jalan untuk pria itu lewat.


Pria itu langsung menuju dapur sementara Quen mengunci pintu apartemennya. Alex meletakan dua kantong keresek yang dibawanya di atas meja makan dan mengambil sendok dan piring yang tertata rapi di dalam almari kitchen seat.


"Aku membawakanmu Piza dan marabak manis, ayuk makan!" Seru pria itu sambil menunjukan senyuman hangatnya.


tanpa berkata gadis itu duduk di sebelah pria itu, ia melirik martabak manis isi coklat keju denga itu, sepertinya ia menunjukan ketertarikannya untuk mencobanya.


"Kau makan nasi dulu, ini kubawakan nasi dan udang asam manis," ucap Alex sambil sibuk membuka penutup plastik itu dan menyodorkan kepada Quen.


Quen berusaha menolah dengan tatapannya yang dimelasin, "Aku makan martabaknya saja."


"Ayolah god girl, makan sedikit saja!" Serunya sambil menyodorkan sesendok nasi dan udang.


dengan wajah cemberut Quen membuka mulutnya menyantap suapan demi suapan sampai suapan yang ke lina dia menolak untuk lagi.


"Alex, sudah cukup. jika kau ingin aku memakan habis nasinya, gimana aku bisa mencicipi martabak dan piza yang kau bawakan untukku?" Protes gadis itu.


alex tersenyum mendapati sifat Quen yang masih belum banyak berubah.


"Ok, aku akan menghabiskan nasinya untukmu," ucap Alex dan mulai memakan.


Quen memperhatikan Alex yang tengah memakan habis sisa nasi yang disuapkan padanya tadi, diam-diam dia tersenyum. Entah mengapa seperti ada rasa rindu terhadap pria di depannya.


"Sebentar lagi ujian, kau jangan hanya belajar saja, ingatlah kondisi badan, istirahat cukup, jaga pula pola makan mu."


"Sejak kapan kau jadi bawel begini?" ucap Quen menimpali perkataan Alex sambil tertawa dengan mulut penuh dengan martabak.


"Quen!" Seru Alex. pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Quen lalu mengulurkan tangannya dan membersihkan pinggiran mulutnya yang blepotan dengan coklat.

__ADS_1


"Bahkan di usiamu yang dewasa kau masih seperti anak kecil," ucap Alex seraya tergelak tawa di antara ke duanya.


"Ya sudah, kamu cepat istirahat ini uda malam. aku pulang dulu," ucap Alex, lalu beranjak.


Mulanya Quen membiarkan lelaki itu berjalan menuju pintu utama, tapi, begitu tangannya memutar anak kunci yang menempel Quen bergegas menyusulnya dan memanggil namanya.


"Alex!"


"Iya."


Lelaki itu menoleh ke arah Quen bediri di tempat yang tak jauh darinya. mengamati dengan seksama dari atas dan bawah yang menurutnya tetap cantik dengan babydoll panjang berbahan katun motif keropi hijau, rambutnya diikat asal hingga banyak anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan masuk ke dalam kacamata berbingkai putih yang dikenakannya.


"Kau mau pulang?"


"Apakah kau mau kutemani tidur? tidak kan?" ucap Alex tertawa.


"Terimakasih ya makan malamnya," ucap Quen dan mengantarkan Alex sampai dari depan pintu apartemen melihatnya masuk ke dalam lift sampai pintunya tertutup dan turun.


🌸 🌸 🌸


Sesuai permintaan Umi Fatiya, Al mengajak Clara dan Vano turut serta ke panti, hari ini bukan beliau sendiri yang menyambut mereka, melainkan wanita berkulit putih dengan sorot mata tajam bermata coklat keemasan yang Al lihat saat berkunjung minggu kalu bersama Quen.


"Silahkan," ucap wanita itu dengan logat khas bule berbicara dengan bahasa Indonesia, sangat kaku.


Al menunjukan senyumnya pada wanita itu, bahkan cukup lama ia terpaku manatap manik mata yang sama dengan matanya itu.


"Kemarin Al bersama adiknya datang kemari, Pak, Bu. Dia menanyakan tentang identitasnya, dan semalam saya juga sudaj ngobrol banyak dengan Bu Clara mengenai hal ini melalui telfon. Saya mengerti sekali apa yang Ibu rasakan. tapi, semua kita kemabalikan pada Nak Al andai ketemu orang tua kandungnya, dan ingin bersama, Bu Clara dan Pak Vano tidak bisa memaksa, karena dia sudah dewasa pasti sudah bisa menentukan pilihannya mana kiranya yang baik, bukan begitu, Nak, Al? ucap Bu Fatiya memulai percakapan.


kalau soal orang yang mengaku Al adalah putranya saya yakin 100% dia salah mengenali orang. tidak cuma ada satu dua anak yang memiliki tahi lalat di lehet di dunia ini. Tiga tahun silam panti kami kedatangan seorang warga negara asing. dia mengaku kebangsaan Singapura. orang Ibunya orang Indonesia, dan ayahnya orang Australia, hanya saja dia sejak kecil tinggal di Singapura karena orang tuanya menetap di sana.


🌸 🌸 🌸


"Umiiii Umiiiii ada Buleee!" teriak anak-anak panti berhamburan ke dalam melapor pada staf panti.


Kebetulan saat itu Umi Fatiya ada di tempat jadi, beliau sendirir yang keluar melihatnya.


Di depan gerbang panti berdiri seorangnwanita berbadan tinggi langsing, dengan kulit putih dan rambut pirang diigelung asal menunggu pintu gerbang dibuka dengan secarik kertas di tangannya.


Dengan tenang Umi Fatiya menghampiri wanita yang hanya mengenalam hot pant dan tengtop abu-abu gelap itu dan bertanya.


"*E*xcuse me, can I help you?"


Tanpa Umi Fatoya duga, ternyata wanita bule itu dapat berbahasa indonesia meski dengaj logat yang kaku, kebarat-baratan.


"Benar ini Panti Asuhan kasih sayang bunda?"


"Iya, benar. mari Miss," umi fatiya mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam dan ngobrol bersama.

__ADS_1


Tanpa basa basi wanita itu mengeluarkam sebuah kertas dari dalam tas nya, yang ternyata adalah selembar foto bayi yang wajahnya masih melekat dalam benak Umi Fatiya.


"Duapuluhtiga tahun silam saya meletakan bayi laki-laki saya di depan gerbang ini, apakah anda masih mengingatnya? ada sosol bayi tampan seperti di foto ini tergeletak di dalam sebuah kranjang." Wanita menyodorkan selembar foto bayi itu kepada Umi Fatiya.


Umi Fatiya menerima foto itu dengan tangannyang bergrtar hebat karena mulai menebak-nebak apa yang akan terjadi dan siapa wanita di hadapannya ini.


"I... Iya, saya yang menemukannya sendiri waktu itu."


"Apakah saya bisa melihatnya?" ucap Wanita itu wajahnya berbinar bahagia.


"Maaf, Miss. Bayi ini sudah diadopsi orang saat ia berusia lima tahun. dan kabar terakhir yang saya tahu, dia kuliah di Jepang. dan saya tidak tahu alamatnya, maaf. sebelumnua dia masih sering bermaij kemari bersama keluarga angkatnya."


Wanita itu nampak kecewa, tapi, tidak membuatnya bersedih sepenuhnya.


"Siapa nama anak itu?" tanya nya ramah dan berusaha tersenyum.


"Kala itu saya memberinya nama Al Fatih, memanggilnya Fatih, tapi, saat diadopsi ia hanya berubah panggilan saja Al. Maaf, ada apa anda menanyakan ini? bukannya ini sudah sangt lama?" tanya Umi Fatinya.


"Dia... dia adalah putraku, dan aku sendiri yang meltakannya di sini setelah persalinanku dapat tiga hari," jawabnya seperti menyesalkan sesuatu.


Umi Fatiya nampak terkejut, selama dua belas tahun lebih mengurus panti asuhan, baru kali ini ada seorang wanita yang datang untuk mencari anakknya yang bisa disebut dibuang. karena jika menitupkan dia pasti menenui salah satu petugas panti. Namun, walau begitu ini lebih baik dari pada di buang di tempat sampah, sungai, jurang bahkan dikibur hidup-hidup.


"Tenang dulu, Ukhty," ucap wanita itu memanggil Umi Fatiya dengan sebutan itu. "Tolong dengarkan cerita saya dulu, Percayalah saat itu saya terpaksa karena tidak menemukan jalan lain, dan karna waktu terbatas saya meketakan bayi itu begitu saja di gerbang panti ini berharap dia segera ditemukan dalam keadaan hidup."


"Dan aku senang mendengar dia diadopsi keluarga yang baik dan mau menyekolahkak bahkan sampai ke Jepang."


"Kenapa anda melakukan ini, Miss? apakah ada masalah?" tanya Umi Fatiya mulai bersimpati.


"Ya, suamiku ingin menggunkan tulang sum-sum bayiku untul menyelamatkan anak pertama kami yang menderita sebuah penyakit. ia sudah menyumbangkan banyak sum-sum tulang belakangnya, Tapi, beberapa tahun kambuh lagi penyakit itu. Jadi, dengaj terpaksa aku ke Indonesia ke rumah nenek dari ibuku dan membuat pernyataan palsu bahwa aku keguran. Lagi pula, ibu mana yang akan tega mengorbankak satu anak untuk satu anak lainnya, jika pun bisa, lebih baik ditukar dengan nyawanya sendiri saja," ucap wanita itu panjang lebar sambil tersenyum getir.


Umi Fatiya menarik napas panjang dan menhembuskannya perlahan dan bertanya kepada wanita di depannya bahkan ia lupa menanyakan nama wanita itu.


"Maaf, nama anda siapa, Nyonya? saya Fatiya. anak-anak dan para staff biasa memanggil saya Umi."


"Oh, maaf. terlalu semangat jadi lupa. nama saya Jeslyn."


"Baiklah, Nyonya Jeslyn. Seandainya anda bisa bertemu dengan Fatih, apakah anada memintanya kembali bersama anda?"


"Itu pasti, tapi, jika orang tua angkatnya sangat menyanginya dan dia lebih memilih tinggal bersama mereka, cukup dengan dia memgetahui sayalah wanita yang melahirkannya saja sudah cukup. saya tidak berharap lebih sekalipun dibenci saya terima karena memang saya salah sebagai ibu menelantarkannya di sini.


🌸 🌸 🌸 🌸


Al, Vano dan Clara tercengang mendengarkan cerita Umi Fatiya.


"Assalamualikum!"


Semua mata tertuju pada seorang gadis muda di depan pintu yang mengenakan setelan celana putih, baju tunik berwarna navy dan phasmina abu-abu muda. membuatnya terlihat cantik dan anggun.

__ADS_1


__ADS_2