
Aditya pun dengan sengaja menghentikan mobilnya saat berada di "persimpangan jalan.
Alex pun juga menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Adit. Lalu dua pria itu pun sama-sama turun dan berhadapan. saling memberi tatapan sinis seolah menantang satu sama lain.
"Sepertinya kau memiliki hoby, baru. Dosen Alex," sindir Aditya, sambil menyeringai.
Begitupun Alex, dia hanya menyeringai. "Masalah bagimu jika aku terus mengikuti mu? rupanya dokter Aditya juga sangat jeli," sindir Alex. tapi, sebenarnya dia sudah sukses karena selama ia menguntit, yang seolah-olah dengan cara diam-diam dan aditya mengetahuinya.
Aditya tersenyum merendahkan Alex. Ia berfikir bahwa Alex belum mengerti strategis bagaimana cara membuntuti seseorang, setidaknya selain dia mengganti penampilan, harusnya kendaraan yang dipakai juga bukan miliknya sendiri. Agar tidak ketahuan tapi aletx justru dia sangat mencolok.
Aditya melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Ia berkata, "Sepertinya aku tidak ada waktu untuk main-main lagi denganmu. Aku masih harus menghadiri sebuah pertemuan. Mereka sudah menungguku."
Dengan santai, Alex menjawab, "Oke aku akan jadi salah satu peserta yang akan hadir kalau begitu."
"Hey, ada apa denganmu? Kau bahkan seperti tengah mendukungku. Bukannya selama ini kau sangat membenciku?" ucap Aditya, terheran. "atau ini hanyalah alasan saja, kau terlanjur basah ketahuan membuntuti ku. jadi, kau mau ikut dalam acaraku segala?"
"Terserah, apa anggapanmu padaku. Yang jelas, aku tidak berani ambil resiko tanpa mengawasi mu," jawab Alex.
"Apa yang kau kawatirkan? heh?"
"Apa yang aku khawatir kan? Jelas keselamatan Quen. Menjaganya sudah tak lagi mungkin. Jadi, cuma memantau mu saja yang dapat aku lakukan."
"Kau terlalu berlebihan, Alex. Aku mencintai Queen. Mana mungkin aku akan menyakitinya?" jawab Adit, sambil terkekeh. Lalu, tanpa buang waktu ia pun masuk kedalam mobil dan meneruskan perjalananya.
Begitupun Alex, ia mengikuti Aditya hanya semata-mata untuk menyamarkan kalau dia lah otak dibalik kepergian Novita. Agar Aditya tak mencurigainya. Dan sengaja mengantar Ibundanya ke Bandung bersama kakaknya agar ibunya tidak dicurigai karena telah membiarkan anak dan istrinya kabur.
🍁🍁🍁🍁
Tepat pukul 07.00 pagi. Novita dan Axel sudah siap dan berpakaian rapi. keduanya tinggal menunggu orang yang dimaksud Alex akan menjemputnya.
"Mama, apakah mama yakin kita akan aman, dan papa tidak akan mengetahui keberadaan kita?" tanya Axel. dengan sorot mata yang sudah di jelaskan.
Novita tidak berkata apa-apa. ia henya mendekap erat tubuh putranya. Ia pun sebenarnya juga sedih dan merasa hatinya teriris melihat ekspresi dan tatapan Axel uang seperti itu.
"Maafkan mama, Sayang. ini bukan sepenuhnya salah papamu. Tapi, Mama yang bersalah, Nak. Kau yang jadi korban."
Novita menyeka air matanya saat mendengar bel pintu rumahnya berbunyi.
"Sayang, kau di sini dulu, ya? Mama coba lihat dulu siapa yang datang."
Axel hanya mengangguk patuh. Sementara dia, berjalan menuju pintu utama dan membuka pintunya.
Begitu pintu terbuka lebar. Berdiri dua orang pria mengenakan jas hitam dan kacamata berwarna senada khas pakaian para mafia yang ada di film-film yang biasa ia lihat.
"Maaf, Anda siapa, ya?" tanya Novita merasa ragu jika Alex adiknya memiliki teman seperti itu. Sebab, setahu dia, adiknya tidak pernah ikut dalam organisasi gelap apalagi terlibat mafia.
"Benar anda ibu Novita? kami orang suruhan tuan Al. Kemari untuk menjemput anda," jawab salah satu dari mereka, dengan tegas.
Novita semakin bingung, setahu dia yang akan menjemputnya nanti adalah teman Alex. tapi, kenapa malah orang suruhan Al yang datang?
"Ya, saya Novita."
"Begini, tuan Alex meminta bantuan bos saya untuk mengatur penerbangan anda dan putra anda ke Australia. dan bos Al sudah menyiapkan private jet agar kepergian anda tidak dapat dilacak oleh dokter Aditya."
Setelah mendengar penjelasan itu, Barulah Novi mengerti. Tapi, bagaimana bisa Alex meminta bantuan pada kakak mantan istrinya itu? Dan murah hati sekali dia bisa membantunya dengan cuma-cuma. Tapi, Novita sadar. ini bukan saatnya memikirkan tentang hal itu. yang paling penting saat ini adalah dia segera meninggalkan rumah ini bersama Axel.
"Baik, bentar ya Mas. saya akan bersiap-siap dulu," ucap Novita masuk ke dalam rumah seraya memanggil Axel. dia memastikan ponselnya ke dalam tasnya.
"Nyonya.Tinggalkan hp anda di sini agar tidak dapat dilacak keberadaannya melalui alamat email smartphone anda. Bos Al sudah menyiapkan ini untuk anda. di dalamnya sudah ada nomor tuan Alex, nona Quen dan juga mertua Anda."
Novita kembali tercengang dengan kebaikan Al yang sudah memikirkan semua yang terbaik untuknya. Lebih terkejut lagi saat melihat ponsel yang diberikan padanya adalah smartphone merk ternama dan keluaran terbaru yang harganya mencapai 10jt.
Dia tidak lagi berfikir tentang kemurahan hati Al. melainkan, pengorbanan apa yang sudah Alex lakukan demi dirinya?
"Nyonya Novi," panggil salah satu pria itu, membuyarkan lamunan wanita itu.
"Oh, iya mas, ya sudah mari, saya sudah siap."
__ADS_1
Mereka berempat pun akhirnya masuk ke dalam mobil menuju ke bandara. Saat di jalan, Novita membuka layar ponselnya mengecek nomor-nomor kontak yang ada di dalamnya. ternyata benar, di sana sudah ada kontak orang-orang terdekatnya. terutama kedua orangtuanya.
Novita hendak menelfon nomor Al yang berada di urutan teratas karena berdasarkan abjad. Tapi, berkali-kali dia menelfonnya tak juga mendapat jawaban. Apakah dia tidak menerima panggilan dari nomor asing? Tapi,ini ponsel darinya. mana mungkin ia tidak menyimpan nomor telfonnya? pikir Novita.
padahal, dia bermaksud untuk mengucapkan terimakasih atas apa yang sudah Al berikan kepadanya. Tapi, karena belum di angkat, jadi Novita pun mengurungkannya.
"Nyonya. ini paspor dan juga surat pindah sekolahnya tuan Axel. barang-barang Anda yang kemarin adadi Bandung, semuanya sudah ada di dalam bagasi."
"Iya, mas terimakasih." Sambil menyeka air matanya Novita berjalan menuju kabin sambil menggandeng tangan Axel. Rasa sedih dan lega berkecamuk jadi satu dalam hatinya.Sesungguhnya ia pimerasa berat melakukan semua ini. tapi, jika tidak. Ini tidak hanya beresiko pada dirinya saja, melainkan juga pada Axel.
Sudahlah, Nov. Untuk saat ini wajar jika kau merasa sedih dan sakit. Tapi, kelak seiring berjalannya waktu, kau akan baik-baik saja. Bahkan lebih itu. Kelak kau dan Axel akan menemukan bahagia mu.
Dalam hati Novita terus menyemangati dirinya sendiri. agar tidak patah arang. Sebelum terbang pun ia juga sudah berusaha menelfon Quen. tapi, hasilnya sama tidak diangkat. Novita berfikir kalau dia sibuk. sebagai dokter umum, Minggu pasti juga tetap kerja.
Novita tidak tahu kalau ponsel Quen berada di tangan Al sejak semalam. sementara Al, dia masih tidur efek kebanyakan begadang dan kepalanya sakit karena hasratnya tidak tersalurkan.
🍁🍁🍁🍁
Pagi itu Queen terjaga mendapati Rika sudah tidak ada di sebelahnya. Ia pun Bangun, melipat selimut lalu bergegas keluar.
Diaz pun juga sepertinya sudah bangun. Tapi, kemana mereka semua pergi?
Queen pun masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. baru saja dia keluar, Ia sudah mendapati Diaz pulang dengan membawa dua kantong tas kresek berwarna putih.
"Diaz. Kau dari mana?" tanya Quen sambil menghampiri pria itu.
"Tadi, aku anter Rika ke stasiun. dia akan pulang kampung hari ini. dan ini, sekalian aku beli sarapan untuk kita berdua."
Sebenarnya Quen ingin ngambeg pada Diaz, karena tidak membangunkan dirinya lebih dulu dan asal ninggalin Sajam tapi, melihat kelembutan dan ketulusan senyuman pria itu, Hati Quen pun menjadi luluh dan tidak bisa lagi marah.
Tapi, karena masih ada maunya, ia pun masih berlagak manyun dan membuang muka saja. "Suapin aku, pokoknya!"
"Kemari lah!" Diaz tersenyum membuka bungkus makanan itu dan mulai menyuapi Quen duduk di depannya.
"Nanti kamu mau pulang jam berapa?" tanya Diaz, usai keduanya sarapan.
"Kau tidak bawa ponsel, tidak kah kau takut,kakek dan kakakmu khawatir? apa perlu aku telfon orang rumah kamu dan bilang kalau kamu ada di kontrakan ku?"
"Eh, jangan! Baiklah. Kau boleh antar aku sekarang juga."
"Kamu siap-siap, ya?"
Queen hanya diam, ia nampak begitu enggan untuk pulang. Diaz sendiri tidak tahu apa masalah dia dengan kakaknya. dia juga tidak mau menanyakan hal yang sama lagi untuk yang kedua kalinya. Hanya menunggu Queen mau menceritakan semua dengan sendirinya.
usai mandi dan berganti pakaian yang dibelikan Diaz, Quen pun sudah siap menunggu Diaz di ruang tamu. tak lama kemudian pria itu muncul dengan kaus berwana putih polos dan stelan kelana Jean panjang. serta rambutnya yang basah sedikit berantakan membuat Quen terpana melihat pesonanya.
Selama perjalanan pun, Quen juga lebih banyak memperhatikan wajah pria di sampingnya yang mengemudikan mobil. Membuat Diaz menjadi agak grogi saja.
"Kenapa liatin aku kek gitu?" tanyanya, berusaha mencairkan suasana.
Queen cuma tersenyum, sekalipun Diaz berlagak santai, Tapi, ia bisa membaca mimik wajahnya yang nervous.
"Ayo, turun! Kita sudah sampai," ucap Diaz lagi.
Tapi, lagi-lagi wanita itu tampak enggan menginjakan kaki ke halaman rumahnya. Jika pun ia bisa memilih, ia tidak ingin pulang.
"Queen... ayo aku antar, kakek dan kak Al pasti sangat khawatir."
Queen mengumpat dalam hati, 'Biarin dan kak Al khawatir. aku tidak peduli, Baklah, aku akan pulang demi kakek. jika saja tidak? aku juga tidak mau kbali ke sini.'
"Baiklah!" Dengan berat hati Quen pun keluar mobil dan memaksakan diri untuk melangkah ke rumah besar itu.
"Assalamualaikum!" teriak Diaz sedikit kencang, saat mereka tiba di depan pintu ruang utama.
"Waalaikumssalam!" Terdengar suar seorang wanita menjawab salam Diaz dari dalam, tak lama kemudian, Bik Yul pun membuka pintu dan berteriak senang dan lega melihat siapa yang datang.
"Alhamdulillah... Nona, Quen. Akhirnya anda pulang juga. Semalam tuan Andrean dan tuan Al sangat menghawatirkan Non. Bahkan mereka sampai kembali ke kantor untuk mencari sampai jam satu lebih, Non."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Bik. Di mana kakek?"
"Tuan, Andrean ada di ruang tengah, mari, Tuan Diaz, masuk!" ucap Bik Yul mempersilahkan mereka dengan ramah.
Rupanya teriakan Bibi tadi lumayan keras hingga terdengar dari kamar tamu yang ditiduri Al.
Al yang masih tidur pun terbangun dan memaksakan untuk keluar meski kepalanya masih terasa sangat berat. Ia ingin tahu, bagaima keadaan adiknya. Apakah dia pulang dalam keadaan baik-baik saja dan dengan siapa adiknya pulang. Dengan begitu, dia tahu, berada di mana Quen semalam.
Queen menghentikan langkahnya saat melihat sang kakek duduk di ruang tengah membaca koran.
ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang memandang ke arah Diaz.
Pria itu memberi isyarat anggukan kepala ringan dan mengarahkan tangannya ke depan agar Quen menyapa dan menghampiri kakeknya, supaya tidak khawatir lagi.
Wanita itu pun hanya menurut dan mengeluarkan suaranya pelan, "Kakek, aku pulang."
Sontak Andrean pun menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
"Queen, kau sudah pulang, Nak? Kemana saja, kau semalam? Semalam kakek dan kak Al mencari mu tapi kau tidak ada.
"Diaz melihatku di jalan saat hujan deras kemarin, dan dia menghampiriku."
"Lalu, kau mengajaknya bermalam ke tempatmu berdua saja?" sahut Al dari belakang.
Pria yang masih sangat kucel itu pun menghampiri Diaz dan tanpa basa-basi begitu saja memberikan tinjuan di mukanya.
"Bagaimana bisa kau seorang pria mengajak wanita hanya berduaan di tempatmu?" hardik Al, tiba-tiba saja emosinya tersulut saat mendengar kalau adiknya semalam bermalam di tempat pria lain.
"Kak, Al! Apa yang kau lakukan?" teriak Quen terkejut saat melihat tiba-tiba kakaknya memukul Diaz.
Dengan cepat Quen berlari ke arah mereka berdua dan memisahkan.
"Apa alasanmu tiba-tiba memukulnya?" bentak Quen. Dia memeluk Diaz, agar tidak terkena pukulan dari kakaknya lagi.
"Heh, apa yang dia lakukan padamu semalam? Bahkan kau membelanya. Pria seperti dia pantas dikasih pelajaran."
"Sudah, kak. Hentikan! Semalam dia melihatku kehujanan, dia membawaku ke tempatnya."
"Apakah kau tidak punya rumah? kenapa dia tidak mengantarmu pulang saja? Dan ngapain kalian berduaan di rumah kontrakannya semalam?"
"Kak, ucapan mu mencerminkan kepribadian mu. Kau jangan samakan Diaz dengan dirimu, dia tidak pernah ambil kesempatan. Bahkan semalam dia juga memanggil teman perempuannya untuk menemaniku."
Queen pun menarik tangan Diaz dan membawanya ke halaman belakang. Di sana dia membersihkan darah yang mengalir dari hidung dan ujung bibirnya, serta mengompres bekas memar dari pukulan.
"Maafin aku ya, gara-gara aku kamu yang gak tahu apa-apa jadi..." Kalimat Quen terputus saat jari telunjuk Diaz ditempelkan di depan bibirnya.
"Tidak apa-apa. Ini cuma luka ringan," ucap Diaz dengan lembut membuat Quen menangis.
"Hey, kenapa kau menangis? Sudahlah, jangan gitu. nanti jelek loh."
"Kamu kek gini gara-gara aku."
"Tidak apa-apa. nanti juga sembuh, kok."
Sementara kakek Andrean berusaha menenangkan emosi Al. Dia juga merasa heran dengan cucunya, kenapa tiba-tiba berubah seperti ini. Apakah benar, mereka akan mengikuti jejak papa dan mamanya? pikir Andrean.
"Apa sih masalah kamu sama Quen, Al?"
Al diam, tidak menjawab.
"Dan kau kenapa tiba-tiba saja langsung menyerang Diaz? meskipun dia mencintai Quen. tidak mungkin dia akan melakukan hal di luar batas. dia itu orang baik, kau tidak perlu cemas."
"Maafin Al, kek. Al terlalu takut." Al hanya menunduk tak berani memandang ke arah sang kakek.
"Kau jangan minta maaf sama kakek. kamu itu salah sama Diaz. minta maaflah sama dia. Kau ini sudah dewasa pasti tahu lah, bagaimana jika dua orang saling mencintai bersama dalam satu ruangan. kalaupun terjadi sesuatu yang terlarang mereka lakukan. itu keinginan mereka berdua, bukan kemauan sepihak."
"Al tidak mau Quen melakukan hal itu, mereka belum menikah, Kek," kilah Al.
__ADS_1
"Ya, sudah. masa Iddah adikmu juga sudah berakhir kita jikahkan saja mereka segera," jawab Andrean sengaja memancing emosi cucu laki-lakinya.