
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya pun tiba juga. kini,
empat puluh hari sudah Novita dan Candra berada di Jogja demi mengikuti adat
jawa agar tidak keluar sampai empat puluh hari bagi pasangan pengantin untuk
tidak keluar ke mana-mana.
“Akhirnya, berakhir juga, ya? Bagaimana, Sayang? Apakah kau
senang?” tanya Candra pada istrinya.
“Iya, aku senang sekali, Ndra. Rasanya juga sudah tidak
sabar untuk segera bertemu dengan anak-anak.”
Kedua pasangan pengantin baru itu pun saling merebah. Keduanya sama-sama lelah setelah hajatan. Orang jawa nyebutnya
sepasarannya manten. Selametan untuk pengantin setelah berusia empat puluh hari. Dan setelah itu, barulah pasangan pengantin diizinkan untuk keluar jauh, atau ke luar kota.
“Ya sudah, kubantu
bersiap, oke?” ucap Candra menawarkan bantuan pada istrinya.
“Baiklah.” Keduanya pun mulai packing barang-barang yang
akan mereka bawa untuk kembali ke Jakarta dengan penuh semangat.
“Tok tok tok.”
Novita dan Candra menghentikan aktifitasnya dan sama-sama
menoleh ke arah pintu.
“Novi,” panggil mama Dian dari luar. Seketika wanita itu
beranjak dan membukakan pintu.
“Iya, Ma.”
“Ini, mama titip oleh-oleh untuk Axel dan juga Adriel, ya?
Kalau mereka saat liburan, ajak ke sini. Biarkan kami bisa lebih dekat lagi,”
ucap mama Dian seraya memebrikan dua tas karton pada Novita.
“Mama repot-repot banget, sih? Terimakasih banyak ya, Ma?”
jawab Novita dengan tulus dan sedikit dengan nada manja.
“Repot apanya? Untuk cucu sendiri masa iya repot? Yang bener
saja kamu ini,” ucap Mama Dian dan kemudian berlalu membiarkan anak dan
memantunya berkemas-kemas. Ia juga tahu, bagaimana berpisah dengan anak yang
masih kecil, berusia tujuh tahun, sekalipun sudah dirawat dengan baik oleh om
dan tantenya, tetap saja, itu tidak akan membuat seorang ibu merasa puas dan
tenang kalau sudah terbiasa setiap hari dijaga dan dirawat sendiri.
Satu jam kemudian, tepat pukul dua siang, Novi dan Candra
sudah siap untuk berangkat ke Jakarta. Mereka memutuskan untuk mengendarai
mobil pribadi saja. Kebetulan, mobil milik Candra juga ada di tempat orang
tuanya sekarang.
“Gimana? Sudah gak sabar pasti ya ketemu Axel dan Adriel?”
tanya Candra saat keduanya sudah berada di jalan.
“Tentu saja. Empat puluh hari terasa sangat lama sekali
bagiku,” jawab Novita apa adanya.
“Makanya, aku tidak langsung jawab tawaran mamaku kemarin
saat dia meminta agar aku urus perusahaannya dan kita pindah di sini. Mungkin
oke, gak masalah jika Adriel pindah bersama kita. Tapi, Axel? Dia mau kuliah di
Jakarta, apa di universitas Jogja?”
“Axel sudah besar, Ndra. Dia sudah dewasa. Aku tidak bisa terus-terusan
mengekang dia begini. Dia kelak juga akan menemukan hidupnya sendiri bersama
pasangannya kelak yang belum tentu mau ikut tinggal serumah denganku. Setelah
aku lihat bagaimana mama kamu, aku jadi berfikir. Kelak aku juga akan ada
di posisinya. Dua anak laki-laki yang susah payah aku besarkan akan memilih
jalan hidupnya sendiri.”
“Kamu jangan sedih gitu, ya? aku yakin, mereka itu anak-anak
baik. Pasti cari pasangan yang juga mau menerima mamanya. Tidak hanya menerima
mereka apa adanya saja. Lain halnya denganku,” ucap Candra yang kalimatnya
terdengar mengambang.
“Kamu juga jangan gitu. Tidak masalah jika kita harus pindah
kumpul bersama mama kamu, Ndra. Orang tuamu tinggal satu. Jaga dan bahagiakan
dia selagi masih ada, oke?” ucap Novita lagi, membuat hati pria itu seketika
meleleh.
“Makasih, ya? aku makin sayang sama kamu. Memang, pilihan
orangtua itu tidak pernah salah,” ucap Candra sambil mencium tangan Novita.
“Apa? Pilihan orangtua? Maksut kamu apa, Ndra? Kita bertemu secara tidak sengaja, bukan?” tanya
Novita terkejut. Seketika ia mengangkat kepalanya yang mulanya tengah bersandar
pada sandaran mobil. Dan menatap peia di sebelahnya dengan tatapan penuh selidik.
“Ya, setiap aku suka sama seorang wanita itu mamaku selalu
tahu. Selama ini, dia selalu mengatkan wanita yang aku sukai tidak baik,
awalnya aku berontak. Bodo amat. Ternyata di tengah jalan, dan tak sampai pada
pernikahan hubungan kami kandas. Tapi, lain halnya dengan kamu. Mama bilang
boleh, saat aku katakana kau tidak memiliki ketertarikan sama sekali pada pria
brondong, dia terus beri aku support.”
__ADS_1
“Ya ampun, Ndra. Kenapa kamu selama ini tidak pernah cerita
sama aku?” tanya Noviyta terharu mendengar cerita dari suaminya.
“Ya, kupikir biarkan cukup aku, mama dan Tuhan saja yang
tahu. Tapi, karena tanpa sadar aku keceplosan, ya sudah. Kau tahu segalanya sekarang.”
"Aku tahu, sekarang. Kenapa mamamu terlihat sangat peduli dan bisa tahu semua tentang aku dan anak-anak. Karena emang dah perhatian dari awal ya?"
"Hahaha. Kamu benar, Sayang. Aku bahagia bisa memiliki kamu," ucap Candra sambil mencium pipi Novita singkat.
Sementara wanita itu melotot dan meminta agar suaminya tetap fokus pada setir mobil.
Setelah menempuh perjalanan jauh, Novi dan Candra segera
menurunkan barang dan hanya membawa yang akan dijadikan oleh-oleh untuk Alex
dan Zahara saja. Sebenarnya mereka berdua lelah, dan ingin beristirahat dulu. Tapi, rasa rindunya pada kedua putranya, seolah hilang semua kepenatannya. Terlebih ini juga sudah petang. Nanti usai magrib Candra juga akan ikut acara
tahlil di rumah Queen dan Al.
“Mama!” sambut seorang bocah berusia tujuh tahun seraya
berlari dan memeluk wanita yang baru saja tiba dan masih berdiri di ambang
pintu ruang tamu bersama seorang pria di sampingnya.
“Anak mama sudah besar, ya?” sambut Novita sambil memeluk
Adriel. Padahal juga satu bulan setengahan mereka tidak bertemu. Tapi, kata-kata
yang terucap seolah mereka sudah empat tahun saja tidak bertemu.
“Tentu saja. Kan aku juga rajin gym dan main basket sama
kak Axel dan om Alex,” jawab bocah itu sambil tersenyum memamerkan deretan gigi susu yang putih dan terawat.
“Benarkah?” jawab Novita.
“Kak Novi, kak Candra, kalian sudah datang? Mari masuk,”
sambut Zahara.
“Di mana Alex?” tanya Candra pada istri dari adik iparnya.
“Dia masih bersiap untuk ke tempat Al dan Queen, Kak. Apakah
kakak juga akan ke sana?”
“Iya, dia akan tahlil. Dan aku juga akan takziah. Memang
tante Clara meninggal karena apa, Za? Kasian sekali, ya? dalam waktu seminggu papa dan mamanya meninggal bersamaan tanpa sakit pula,” ucap Novita.
“Entahlah. Manusia punya ujiannya sendiri-sendiri. Tapi,
yang aku tahu, Queen itu sangat luar biasa. Dari sejak papa mamanya kecelakaan hebat, kehilangan calon anak, suami dan sekarang…. “
Novita mengelus punggung Zahara. Entah, ia tak tahu apa yang
ada pada pikiran adik iparnya itu. ia merasa kasian dengan wanita yang suaminya mendadak berubah karena hipnotis dan dikendalikan orang lain. Namun, pria itu kini menjadi suaminya sekarang.
“Benar apa yang kau katakana baru saja, Za. Setiap manusia
itu memiliki ujiannya sendiri-sendiri.
“Mama,” sapa Axel, anaknya yang kini sudah menjelma sebagai
remaja tampan dan sangat berkahrisma.
“Axel, kau perpakaian seperti ini apakah juga mau ikut ke
baju koko warna maroon dan juga sarung. Dengan pakaiannya seperti ini, ia terlihat kian gagah saja.
“Selama ini aku dan om Alex selalu ikut acara tahlil tanpa absen,
Ma,” jawab remaja itu sambil bersalaman mencium punggung tangan mama dan papa tirinya.
“Terimakasih, ya sayang.” Kemudian Novita melihat ke arah
Zahara yang telah menggendong Lutfy. Kemudian bertanya, “Za, apakah kau juga akan ikut?”
“Sepertinya tidak, kak. Lagi pula besok Adriel masuknya lebih
pagi karena ada kegiatan. Kakak, kau ikutlah, temui Queen dulu, baru setelah
itu kalaian istirahatlah. Untuk besok, biarkan Adriel jadi tanggung jawabku
dulu tidak apa-apa,” jawab Zahara dengan tulus.
“Aku terlalu banyak merepotkanmu dari awal, Za. Terimakasih,
ya?”
“Tidak, kok. Ya sudah, kalian berangkatlah. Hati-hati, ya?” ucap
Zahara dan mengantar mereka semua sampai depan pintu rumah. Sementara ia, bibi,
Lutfy dan Adriel tinggal di rumah. Menemani Adriel mengerjakan PR-nya dan menyiapkan keperluan untuk besok. Setelah menidurkan bayinya.
***
Ketika rombongan Novi dan Axel tiba di rumah mendiang
orangtua Queen. Suasana rumah sudah dipadati oleh orang-orang yang datang untuk
tahlilan. Tujuh harinya om Vano, sekaligus empat harinya tante Clara. Dia dekat
pintu Al duduk bersama tamu yang lain, sekaligus menyambut tamu-tamu yang baru saja datang.
“kak Novi? Kalian sudah kembali dari Jogja? Masuklah lewat
pintu samping, Kak. Queen ada di dalam,” ucap pria itu, seraya menunjuk ke samping rumah. Kemudian ia bersalaman dan memeluk Candra, karyawan yang kini menjadi saudara. Walaupun tidak sedarah.
Begitu berhasil masuk dari pintu samping, Novita kini berada
di ruang tengah. Ia melihat wanita mengenakan gamis putih dengan motif bunga-bunga warna soft pink itu terlihat tegar, seolah tidak ada kejadian apa-apa yang menimpanya. Dia juga terlihat sibuk menyiapkan hidangan untuk para tamu yang ikut acara tahlil. Tapi, jika dilihat lagi lebih dekat dan menatap ke
dalam matanya. Mungkin Sebagian orang bisa tahu apa yang sudah dirasakan oleh
hatinya.
“Queen. Aku turut berduka cita, ya? maaf, jika aku terlambat,” ucap Novita.
Queen menoleh ke belakang. Mendapati wanita yang sudah
hampir dua bulan tidak ia lihat batang hidungnya setelah ia menikah. Dia tahu, dia baru saja kembali dari Jogja. Wajahnya juga terlihat letih. Tapi, dia masih bela-belain datang ke mari demi yang namanya persaudaraan.
“Kak, Novi. Kapan datang?” tanya Queen dengan sangat
antusias dan menghampiri wanita yang memakai atasan tunik warna putih yang dipadukan dengan legging senada, setra phasmina yang menutup sebagian kepalanya.
“Aku tiba tadi habis ashar, dan langsung ke rumah Alex untuk
lihat Adriel dan Axel. Lalu, ke sini bareng-bareng,” jawab Novita setelah
__ADS_1
memeluk Queen.
Queen hanya diam. Dalam benaknya ia berfikir, pasti kak Novi
masih sangat lelah.
“kamu yang sabar, ya? Semoga almarhum da almarhumah diampuni
dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya sama Tuhan,” ucap Novita lagi.
“Inysaallah, aku sudah ikhlas melepaskan kepergian papa dan
mama, Kak. Mereka memang cinta sejati. Di usia muda mungkin mereka dulu juga pernah berjanji kalau akan sehidup semati. Jika papa lebih dulu pergi, maka tidak akan
lama setelahnya mama akan menyusul. Katanya percuma hidup di dunia sendiri
tanpa papa. Dia akan tetap merasa sedih dan sepi, dan Tuhan telah mengabulkannya
meski dengan cara yang sungguh tak pernah kami harapkan,” ucap Queen dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kamu yakin? Apakah tante pernah bercerita?”
Queen menggelengkan kepalanya sambil tertunduk dan berkata, “Aku menemukan sepucuk kertas yang bertuliskan demikian di
balik foto almarhum papa. Aku yakin, itu adalah tulisan mama, Kak.”
“Ya sudah. Yang ikhlas, ya? memang om dan tante semasa
hidupnya selain baik pada semua orang, mereka juga selalu harmonis, tidak pernah terlihat ada masalah apalagi
berantem. Mereka sama-sama saling setia. Kita perlu banyak belajar dari
mereka,” ucap Novita yang juga ikut terharu dan mentitikkan air mata sambil memeluk Queen.
“Insyaallah, aku ikhlas dan sabar,” jawab Queen.
***
Lyli mengeliat saat ia merasa silau oleh sinar Mentari yang
menembus korden tipis di kamarnya. Tak terasa, ini sudah pukul sembilan lewat
tiga puluh. Dan dia baru bangun. Entah karena terlalu lelah bermain, begadang
sampai lewat tengah malam, atau terlalu mabuk? Mungkin juga semua alasan di
atas benar. Sampai pukul satu dia masih terjaga. Sedangkan, seharian juga tidak
tidur siang, malah habis renang terjadi membunuh orang dan kabur ke Bandung.
Lyli meraba-raba tempat tidur di sebelahnya. Tapi, tak ia temukan sosok yang seharusnya
ada di sana. Dengan berat dan masih sangat sipit, ia paksa membuka mata untuk melihat.
Benar-benar kosong. “Di mana pak Darto? Apakah dia sudah pergi lagi?” gumamnya,
kemudian melirik ke arah jam yang terletak di dinding. Ternyata sudah pukul
09.30.
Dengan badan yang terasa pegal dan berat, wanita itu
memaksakan diri untuk bangun. Ia beranjak ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya
dengan air hangat. Setelahnya, ia keluar karena perutnya terasa lapar. Jelas
saja. Ini sudah jam sepuluh lewat.
‘Hm… enak banget hidup kek gini. Gak perlu capek kerja, duit
dah pegang banyak. Gak usah sibuk masak, makanan juga dah siap. Siapa sekarang yang lebih Makmur, Queen? Aku, atau kamu? Kau saja yang sudah kaya sejak lahir
juga masih bekerja, kan? Ngurusi orang sakit, semoga aja penyakitan kau, dan
mati sebelum anak buah sugar dadyku memperlakukanmu dengan buruuk,” batin Lyli
sambil menyeringai saat ia duduk di meja makan sambil menatap hidangan
sarapannya yang super mewah.
Baru saja ia mulai mengambil makanan dan memasukkan ke dalam
mulut, Bondan yang sudah satu bulan lebih ini menememaninya ke mana-mana tiba.
Entah, dari mana saja pria itu.
“Bondan, dari mana, kau?” tanya Lyli.
“Saya baru saja kembali dari mengantar boss Darton Nyonya.
Dia akan ke luar negeri selama kurang lkebih lima hari,” jawab pria berbadan
tinggi besar itu dengan sopan.
“Oh, ada apa memangnya? Apakah urusan kerja?”
“Benar, Nyonya.”
Seketika Lyli tersenyum miring. Mungkin dia juga
merencanakan sesuatu untuk lima hari ke depan. “Bodan, tunggu dulu!” seru Lyli, mencegah pria itu untuk pergi.
Dengan gerakan yang cukup cool, pria itu menghentikan
langkahnya dan menoleh ke belakang menghadap Lyli. “Iya, Nyonya?”
“Kemarilah! Aku perlu bantuanmu. Tenang saja, aku sudah izin
pada pak tua itu mengenai misiku kali ini mengenai Al. Jadi, kau tidak perlu khawatir lagi,” ucap Lyli. Yang hanya dijawab oleh anggukan saja dengan Bondan.
“Kau pergilah ke Jakarta. Cari informasi di mana keberadaan
Al. jika sudah, cepat kabari aku, oke?” ucap Lyli yang langsung disetujui
begitu saja oleh Bondan.
“Baik, Nyonya. Saya akan pergi ke Jakarta sekarang. Sekalian
melihat bagaimana Queen. Apakah dia memperpanjang kasus itu, atau tidak. Agar anda juga bisa kembali menempati rumah yang ada di Jakarta.”
“Kerja bagus, Bondan. Terimakasih, semoga sukses,” ucap Lyli
sambil tersenyum genit pada Bondan.
Tak jadi tidur dan beristirahat setidaknya ikan yang akan dipancing sudah masuk perangkap. Dengan perasaan senang, walau mungkin juga
lelah karena kurang tidur, dan sekarang harus ke Jakarta buat cari info
mengenai bigg boss Mr. Akhira yang menggunakan nama Al di Indonesia. Entah, Al siapa dia juga tidak tahu, Al Gazali, apa Al Fajri, apa Al imron mungkin akan lebih mudah
jika mencari data diri istrinya pasti akan mudah, karena di sana nanti akan
tercantum siapa nama suaminya.
Sementara Lyli, kini ia merasa benar-benar senang karena
__ADS_1
sebentar lagi mimpinya akan segera menjadi nyata. Ia akan bisa segera menyentuh
tubuh Al dan mendapatkan hatinya. Ia sungguh benar-benar tidak sabar untuk itu.