
Awalnya Queen masih ingin bermalas-malasan untuk bangun. Akibat begadang semalaman, ia jam enam masih merasa sangat ngantuk.
"Sayang. Kok ga bangun, sih? Katanya ngajak jalan-jalan Berlyn?"
Al sendiri juga masih belum mandi. Tapi, dia sudah bangun sejak tadi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Jadi, dia sudah terlihat fresh.
"Duh, ini baru jam berapa sih? Jam enam tidak ada mall yang bukak." Queen mengeliatkan tubuhnya dan kembali menarik selimutnya.
Al tersenyum dan mencium pipi wanitanya dengan lembut lalu berkata, "Apakah untuk bersiap cukup satu jam saja? Mumpung masih pagi, dan belum panas juga, aku ingin kita ajak Berlyn ke makam kakek dan nenek, sebelum jalan-jalan."
"Emmb... " Queen berusaha duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Ia mengucek kedua matanya. Wajahnya masih nampak kusut. Sesaat kemudian ia menguap.
"Bagaimana?"
"Iya, aku mau," jawab Queen lalu beranjak ke kamar mandi.
Al hanya tersenyum saja melihat wanitanya dari belakang hingga lenyap di balik pintu.
Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Al membuka leptopnya. Dia membuka lagi email masuk dan menunggu kabar kapan kiranya ia akan pergi ke Bandung. Ternyata, juga dalam waktu dekat ini. Karena pihak clien meminta Al sendiri yang menentukan kapan. Jadi, Al memutuskan tiga hari lagi juga, supaya bisa bareng dengan istrinya.
Setelah Queen keluar dari kamar mandi, Al langsung bergegas
tanpa menggoda istrinya terlebih dahulu. Mungkin dia benar-benar sudah ingin
segera berangkat. Jadi, tidak mengulur atau menunda waktu lagi.
Di meja makan, Al mengutarakan niatnya untuk ke makan kakek
dan neneknya pada papa dan mamnya, juga pada putrinya.
"Berlyn, sebelum jalan-jalan ke mall, bagaimana kalau kita kirim doa pada kakek buyut Andreas dan nenek buyut Vivian dulu?" tanya Al meminta persetujuan.
Dari raut wajah bocah itu, juga tak nampak keberatan sama sekali. Gdais itu menunjukkan suka cita dan kesediaannya. Malah Queen saja yang justru terlihat sedikit bagaimana gitu.
Keberatan tidak. Mungkin dia merasa tak enak hati dengan Al jika dia mampir ke makam anaknya dengan Alex dulu. Jika tidak mampir, dia kan ibunya anak itu, adalah hasil dari pernikahan sebelumnya dengan pria lain.
Queen jadi banyak diam saat makan bersama. Tidak seperti biasanya.
"Kamu kenapa, Queen? Kamu sakit?" tanya Clara.
"Tidak, Ma. Cuma sedikit ngantuk saja, kemarin banyak tugas di rumah sakit," kilah Queen.
Clara hanya diam, tak berani bertanya lagi. Sekilas ia melihat pada Al. Tak nampak kalau mereka ada masalah. Sepertinya baik-baik saja. Lalu, apa yang membuat Queen melamun.
Usai sarapan, mereka bertiga pun berpamitan pada mama
Clara, papa Vano dan juga kakek Andrean. Di mobil pun Queen juga lebih banyak diam.Tak mengajak putrinya yang duduk di belakang bercengkrama.
Tiba di pemakanman, Queen juga terlihat tidak tenang. Al
bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Queen. Dia merangkul pundaknya dari
samping dan berbisik lirih.
“Kita kirim bunga juga sekalian padanya. Aku tidak mepermasalahkan dia anak siapa. Tapi, saat itu, dia adalah keponakanku. Jika dia selamat, sekarang juga anakku, karena aku telah menikahi mamanya.”
Queen mendongak melihat ke arah suaminya. Ia masih merasa tidak
enak hati saja pada Al. ia takut, jika itu akan menyinggung perasaannya. Sebab, dengan adanya anak itu, mengingatkan kalau Queen pernah menikah dengan pria lain dan memiliki anak bersama mantan suaminya dulu, meskipun anak itu gugur saat mau lahir kurang lebih satu bulanan.
“Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Queen ragu-ragu sambil
menatap lekat mata suaminya.
“Tidak masalah. Aku dan kamu sama-sama memiliki masa lalu.
Tidak masalah. Yang penting sekarang kau hanyalah milikku seorang.” Al mencium
kepala Queen perlahan dan mengajak serta Berlyn ke makan kecil itu.
Berlyn diam tidak mengisyaratkan apapun Ketika mendapati
makam itu. Sekalipun ia tidak mendengar apa yang dibicarakan papa dan juga
mamanya, ia yakin, mamanya tak ingin dia dan siapapun tahu banyak mengenai
makan kecil itu. Jadi, dia hanya memilih diam dan ikut berdoa di sampingnya saja.
****
Tidak mau membuat Axel menunggu lama, Candra segera bangun
dan mandi setelah alaramnya berdering untuk yang pertama kali. Usai mandi, Candra langsung berganti pakaian mengenakan setelan celana jeans biru gelap serta kaus hitam polos pres body.
Setelahnya, diraihnya dompet serta kunci mobil dan beregas
ke garasi. Di jalan, Candra menerima pesan dari atasannya, kalau tiga hari
lagi, ia harus memperiapkan persentasi di depan clien di Bandung.
Karena fokus mengemudi, pria itu tidak membelasnya. Diletakkan kembali ponselnya di atas
dashboard mobil. Ia berencana akan membalasnya setelah tiba di tujuan.
Butuh setengah jam mengemudi, Candra sudah tiba di lokasi
tujuan. Ia mendapi halaman rumah yang basah dan bersih. Sepertinya baru saja disiram, sekalian menyiram bunga dan menyapunya.
Dengan hati sedikit bergetar karena sedikit nervous, Candra
mengetuk pintu rumah tersebut.
“Tok… tok… tok!”
“Sebentar! Sayang, ada tamu, tolong kamu bukakan pintunya,”
teriak seorang wanita dari dalam, yang jelas itu adalah suara Novita.
Pintu rumah pun terbuka, seorang lelaki remaja terlihat
setengah badannya dari sana.
“Om Candra? Mari, Om. Masuk!” ucap lelaki itu dengan ramah.
Dengan perasaan senang pria itu masuk ke dalam. Ia melihat
Novita tengah mondar-mandir dari dapur ke meja makan menyiapkan sarapan untuk kedua putranya dan juga dirinyan tentunya. Sebab, semalam Candra mengatakan
kalau Axel sendiri yang mengundangnya untuk makan malam. Ini adalah kesempatan
terakhir, mana mungkin ia akan melewatkannya?
“Duduk dulu, Om. Axel mau ganti baju dulu, ya?” lelaki
remaja blasteran itu pun beranjak masuk ke dalam kamarnya yang berada di kamar terdepan. Selang beberapa menit, Axel sudah kembali menegnakan kemeja hitam
lengan panjang dan juga celana jeans sewarna dengan yang dikenakan Candra.
“Mau kemana sih, kita sebenarnya?” tanya Candra sekali lagi.
Ia benar-benar penasaran, bahkan saat akan tidur semalam pun ia sempat kepikiran sampai pukul satu dini hari belum juga bisa terlelap.
“Ke suatu tempat pokoknya Om. Kuharap kau tidak kecewa,”
jawab Axel ringan sambil mengancingkan bagian lengan kemejanya.
“Sarapan sudah siap, ayuk kita makan dulu!” seru Novita dari
meja makan.
Axel, dan Candra pun dengan kompak eranjak menuju ke meja
makan.
__ADS_1
“Di mana Adriel?” tanya Candra. Karena merasa ada yang
kurang jika bocah berusia enam tahun itu tidak ikut hadir menyambutnya.
“Adriel masih tidur, Om. Semalam pulang dari jalan-jalan dia
masih begadang dulu,” jawab Axel.
“Oh, tumben sekali dia?”
“Karena hari minggu tidak ada acara, dia jadi malam
minggunya begadang, lalu pagi bisa jam Sembilan baru bangun dia.”
Candra hanya mengangguk saja. Namun, Novita hanya biasa saja
dan pasang muka datar.
Mereka pun sarapan bertiga saja, setelahnya, Axel mengajak
Candra untuk berangkat.
“Mau bawa mobilku apa mobil om Candra saja ini enaknya?” tanya Axel.
“Pakai milik Om saja, Xel. Sekalian berada di luar.”
“Baiklah, bagaimana kalau aku yang menyupir mobilnya?”
“Oke tidak masalah.”
Dengan Gerakan yang cool dan maskulin pria remaja berkemeja
lengan panjang warna hitam itu masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin
lalu melajukan kendaraan dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Candra awalnya mengira kalau ia akan diajak ke tempat
fitness seperti yang Novita katakan semalam. Tapi, ternyata bukan. Karena sudah melewati tempat itu dan mobil juga terus melajau kencang saja. Sudah hampir
setengah jam perjalanan, tapi belum juga tiba di tujuaan. Kembali Candra
memberanikan diri untuk bertanya kembali.
“Xel, kita sebenarnya mau ke mana, sih? Sudah hampir
setengah jam loh ini. Masa belum sampai juga?”
“Aku janji lima menit lagi kita akan sampai. Jika tidak,
maka aku kan turun dan om bisa pergi ke mana saja om mau,” jawab Axel datar
tanpa menoleh ke arah Candra.
“Jika sudah sampai?”
“Ikuti terus permainanku terus sampai akhir jika memang benar mencintai mamaku.”
Candra tersenyum. ‘Benar apa yang Novita katakana semalam.
Dia sangat menguji dan mengetes dirinya untuk mengetahui seberapa pantas dan
layaknya dia untuk menjadi pndamping mamanya.’ Batin Candra.
Setelah dua menit an. Mobil yang mereka kendarai memasuki
area pemakaman elit yang brada di Jakarta. Candra kembali mengerutkan
keningnya. ‘Kenapa ke pemakaman? Apa yang ingin Axel lakukan memang?’
“Ayo turun, Om. Aku ajak kau ke makan papaku. Aku tahu papa
sudah tidak ada. Dia meninggal akibat kecerobohannya sendiri. Dia terlalu
pada kematian,” ucap Axel saat tiba di depan pusaran Aditya.
Candra diam, ia mengerti kalau Aditya sudah meninggal saat
Adriel masih berada dalam kandungan kurang lebih satu bulan. Tapi, apa penyebab kematiannya dia tidak tahu.
“Kau ingin aku mendoakan mendiang papamu dan mengatakan pada
arwahnya kalau aku akan menikahi mamamu?” tanya Candra. Ia melihat wajah pria remaja yang biasanya selalu memasang wajah datar dan dingin itu sedikit memancarkan kesedihan yang mendalam.
“Tidak! Kau cukup mendoakan saja tidak perlu meminta izin
padanya. Karena, mereka sudah bercerai sebelum papaku mati.”
“Apa?” Jelas Candra terkejut mendengar pertanyaan itu. Sebab, hubungan antara Novi dan mertuanya tetap baik, tak nampak kalau mereka sudah bercerai. Novita sendiri juga tidak mengatakan itu sebelumnya.
“Ya, mamaku tidak tahu kalau dia tengah mengandung anak
kedua dari mendiang papa. Saat perceraian dapat beberapa bulan, barulah mama tahu kalau dirinya tengah mengandung, bersamaan dengan kabar itu datang juga
kabar dari nenek dan om Alex mengatakan kalau papaku meninggal.”
Candra tak tahu harus berkata apa, ia hanya menepuk Pundak
Axel. “Kau yang sabar, ya? Om tahu kau bukan anak yang lemah dan tak butuh dikasihani. Om tidak kasihan sama kamu, cuma mengerti saja bagaimana rasanya jadi kamu. Papa om juga pergi saat om masih berusia sepuluh tahun.”
“Hanya jasat papa Axel saja yang terkubur di sana. Tapi,
nasehatnya tetap akan hidup dalam sanubariku, dan sekarang, dia hidup dalam dirimu.”
Tanpa Candra sangka-sangka Axel malah memeluknya.
Candra mendekap dan mengelus punggung Axel dan menepuk
punggungnya berapa kali. “Jika kau mau, kau dan Adriel boleh memanggil om dengan panggilan papa. Om tidak keberatan sama sekali.“
“terimakasih. Tapi, aku kan memanggilmu papa setelah kau
menikah dengan mamaku nanti.”
“Baiklah. Ya sudah, ayo kita kirim doa padanya.”
Mereka berdua pun duduk di sebelahan di samping makan Aditya dan mmebacakan doa untuknya. Setelahnya, Axel masih enggan beranjak. Ia teringat
dengan omnya. Selama ini dia selalu jadi kesayangan om Alex, dan dia juga
punya sepupu dari omnya itu yang juga sudah lebih dulu menghadap pada sang maha kuasa sebelum dia terlahir ke dunia.
“Sudah, Xel?” Candra menatap Axel yang masih diam dan
sedikit melamun.
“Belum. Masih ada satu makam lagi yang ingin aku kunjungi.
Om juga, ya?”
“Baiklah, ayo!” Candra pun beranjak dan mengekor di belakan Axel.
Setelah beberapa kali melewati area pemakan, Axel berhenti
di sebuah makam kecil tanpa nama. Ia yakin itu adalah makan sepupunyanya yang gugur itu. Karena sudah berusia delapan tahun dan wujudnya sudah sempurna seerti bayi, jadi dimakamkan layaknya bayi yang meninggal.
“Makam siapa ini, Xel?”
“Ini adalah makam sepupuku. Dulu, om Alex pernah menikah dengan
wanita lain sebelum dengan tante Zahara. Istrinya sempat hamil tapi sayang. Di usia kandungannya yang ke delapan bulan, bayinya malah meninggal.”
Candra diam dan berfikir, apakah wanita yang di maksut Axel
__ADS_1
adalah bu Queen yang kini jadi istri big bossnya di kantor? Tapi, ia hanya diam
tak mau berkata apapun. Ia hanya teringat dengan apa yang pernah novita katakan padanya dulu.
Baru saja dua lelaki itu duduk, dan mungkin masih lafalt
bismillah yang diucapkan, serang wanita dari belakang menyapanya.
“Axel!”
Seketika dua lelaki itu menoleh.
Axel sempat tertegun saat melihat tante Queen berdiri di belakangnya. Ia berdiri dan menghadap pada wanita itu. Sungguh sedikitpun Axel
tidak menyangka kalau ia akan bertemu dengangnya di sini, di makan sepupunnya yang juga anak kandung dari Queen. Padahal, sudah beberapa bulan ini dia merasa rindu pada wanita itu. Rindu akan kasih sayang keibuannya dan juga
nasehat-nasehatnya.
Dulu, Ketika Alex belum bercerai dengan Queen, sebelum
Helena mengacaukan segalanya, Axel merasa memiliki dua ibu. Entah, saking pintarnya Queen mengerti dirinya sebagai tante. Atau, dulu ia hampir jadi ibu tirinya?
“Tante, Queen!” sekeitka Axel meraih tangan Queen dan
menciumnya berkali-kali. “Tante apa kabar? Apakah kau baik-baik saja?”
“Iya, Xel. Seperti yang kau lihat. Tante dalam keadaan baik, kau mama dan adikmu bagaimana?” tanya Queen balik dengan nada lembut.
Seketika Candra hanya tercengang melihat kedekatan calon
anak tirinya dengan istri atasannya.
“Mereka baik-baik saja." Kemudian Axel memandang ke arah Al yang berdiri di samping Queen dan menyapa, "Om Al.” Mulanya Axel ingin berjabat tangan dan mencium tangan Al juga. tapi, Al justru malah memeluk erat Axel dan menepuk punggungnya beberapa kali. Ia masih saja merasa bersalah dengan terbunuhnya Aditya Ketika melihat Axel. Dia tumbuh dewasa sendiri tanpa adanya
seorang ayah. Gara-gara keteledorannya.
“Kau apa kabar, Xel? Jika ada waktu, datanglah ke tempat
kami, ajak juga mama dan adikkmu, oke? pintu rumah kami terbuka lebar untuk kalian,” ucap Al.
“Terimakasih, Om. Insyaallah kalau ada waktu.”
“Candra!” seru Al.
Candra hanya tersenyum dan membungkukkan tubuhnya memberi
penghormatan.
Al menghampiri pria itu dan merangkulnya seraya berkata,
“Aku tahu apa hubungan kalian berdua, Axel adalah keponakanku juga. jadi, kau jangan bersikap seolah aku ini boss mu saat di luar perusahaan begini.”
“Terimakasih, Pak Al.”
“Kau masih memanggilku pak? Apakah aku seusia dengan
bapakmu?” canda Al, lalu semuanya tertawa.
Tiba-tiba saja, mata Axel tertuju pada gadis kecil yang berada dalam gandengan tangan Queen.
Gadis itu kira-kira berusia lima tahunan, dia cantik putih,
bibinya cubi bibirya merah mereka, dipadu dengan bola matanya yang lebar dan
bulat, bulu mata lentik serta alis tebal dan lurus, sungguh ia seperti
boneka hidup yang memiliki nyawa.
“Hay,” sapa Axel. Ia sedikit membungkuk untuk melihat wajah bocah itu lebih dekat lagi.
Tak ada jawaban dari bibir gadis itu, Ia hanya tersenyum dan
mengangguk saja.
“Dia putri tante, Namanya Berlyn, Xel. Tapi, dia bisu.”
Jawab Queen tanpa beban dan raut wajah sedih. Dari nada bicaranya saat
mengatakan kalau ia bisu, yang ditunjukkan olehnya seolah di situ ada rasa bangga dengan
putri kecilnya dan merasa seolah bisu adalah kelebihan yang patut sekali
disukuri.
“Oh, ya? Maaf Tante. Axel tidak tahu.”
“Tidak masalah. Selama kau mengerti Bahasa isyarat, kau bisa
mengajaknya ngobrol. Jika tidak, siapkan secarik kertas dan bulfoin,” jawab Queen.
Akhirnya yang berdoa di makam janin dari Queen dan Alex yang
gugur di kandungan saat berusia delapan bulan itu pun ada lima orang.
Setelahnya, mereka keluar dari area permakaman, Candra
mengobrol dengan Al mengenai hal-hal pribadi mereka, sesekali menggoda kapan
akan resmi menjadi ayah, masa om saja terus? Sementra Queen mengobrol dengan
Axel membahas seputar Pendidikan yang di tempuh dan universitas mana yang ingin ia masukki untuk melanjutkan pendidikan sambil Axel menggendong Berlyn.
Baginya, Berlyn cantiknya melambangkan sebuah ketulusan, dia merasa suka dan jatuh cinta saja rasaya dengan Berlyn. Melihat Berlyn, sama halnya seperti melihat Adriel. Rasa sayang di hatinya pada Berlyn seperti ia menyayangi Adriel.
“Apakah kau ada acara, Xel?”
“Tidak ada, Te. Ada apa?”
“Kami mau main ke mall, kamu mau ikut?” tawar Queen.
“Boleh, Tante. Sayang sekali, aku tidak mengajak serta
Adriel tadi, pasti ia akan sangat senang karena memilikki teman yang sebaya dengannya. Walaupun selisih satu tahum juga kan tidak masalah seharunya,” ucap Axel.
“Ya sudah, ayo, kita bilang pada om Al dan juga om Candra, kau ikut kami, oke?”
“Al, keburu siang, nih. Bagaimana kalau ajak Candra juga
bersama kita? Axel juga mau ikut dengan kita, loh,” ucap Queen lirih.
Al hanya tersenyum dan mengangguk pelan pada istrinya.
Kemudian ia langsung mengalihkan topik obrolannya dengan Candra yang sedari tadi membahas tentang hubungan Candra, Novi dan kedua anaknya.
“Ndra, aku mau ke mall ajak anak jalan-jalan. Kamu mau
ikut?” tawar Al.
“Aku harus mengantar Axel, Pak.’’
“Aku akan ikut bermain dengan Berlyn Om,” tukas Axel yang
masih menggendong Berlyn.
Candra tertawa canggung atas jawaban yang Axel berikan. Ia sedikit tahu bagaimana karakter Axel. Yang dia ketahui dia selalu risih dengan teman wanitanya. Terlebih pada Bilqis yang cenderung sedikit agresif. Tapi, siapa sangka, dia menyukai balita.
Awalnya berfikir hanya mau menjaga Adriel karena dia adalah adiknya, sebab, setiap kali disuruh menemani Bilqis ke suatu tempat selalu menggerutu dia dijadikan baby sister bocah itu.
"Lalu gimana ini, Xel?" tanya Candra.
"Jika Om mau, boleh lah kembali ke rumah, ajak Adriel dan mama ikut serta."
"Kau minta kami menyusulmu?" tanya Candra meyakinkan.
__ADS_1
"Itupun jika Om Candra tidak keberatan."