
Nyapa pembaca dulu yang kemarin mumet dengan misteri Al anak siapa.
Jadi gini, Rika kan menceritakan pada Clara dengan mengingat tanda lahir di leher dia yakin kalau Al anak kandungnya dengan Bram yang dia buang duapuluh enam tahun silam, ya?
Sementara di sesion satu saat Al kecil dimanfaatkan Dela karena mirip Vano untuk bisa kembali dengan mantan pacarnya yang baru dia tahu kalau ternyata dia itu anak orang kaya.
Jadi, dengan pura-pura mengadopsi Al, Al kecil diubah nama menjadi Revan dan dididik keras dari model fashion, cara berjalan, selera makan, hobi bermusik harus seperti Vano. Agar, Vano percaya kalau dia anak Dela dengan dia dulu. Karena Dela tahu kalau Vano sudah menikah dengan Clara. Hanya saja, tidak tahu kalau Clara adalah adik tirinya, yang ternyata sepupu tiri.
Dulu kan Dela selingkuh dengan om om tajir karena ngira Vano kere. Tanpa sengaja saat menjemput Clata sekolah Vano mengetahui dan memutuskan Dela padahal mereka dah tunangan.
Sementara si Om itu pindah ke luar negero Dela hamil dari si om. Cuma dia menggugurkannya. Dan beberqpa tahun setelahnya Dela mendengar informasi kalau Vano itu pewaris utama perusaan terbesar di Jakarta yang bergerak di bidang pembangunam proyek-proyek besar atau gedung. Dela mencari cara untuk bisa balikan dengan Vano dengan memanfaatkan Al.
Begitu kedok terbuka, Al atau Revan bukanlah anak Dela, tapi anak panti yang umi Fatiya temukan sendiri di depan gerbang panti asuhan.
Ok gitu ya kembali ingat kan? Yuk balik ke next part.
Usai sarapan Al sengaja mengajak Quen ke panti Kasih Sayang Bunda untuk bertemu umi Fatiya dan memberi sumbangan kepada anak-anak panti.
"Kak, kita tidak beli apa gitu buat anak-anak?" tanya Quen memberi saran.
"Kasih uang saja, lebih bermanfaat. Berapa anaknya kan kita belum tahu, Quen."
"Di panti kan pasti ada bayi, Kak? Selain uang, kita bisa beli pempers dam susu buat mereka. Bisukuit bayi dan makanan untuk para balita. Untuk anak-anak kita bawakan kue dan mainan saja, gimana? Ini aku sudah siapakan baju-bajuku yang kecil dulu, biar bekas masih layak pakai kok buat anak-anak panti," ucap Quen sambil membawa satu kardus besar berisi pakaian.
Al menatap kagum kepada adiknya. Meski dia masih berusia belia dan belum ada pengalaman tapi pemikirannya sangat maju dan dewasa.
"Kamu pinter banget, sih Sayang?" Puji Al sambil merangkul pundak Quen yang lebih rendah dari tinggi badannya.
Al dan Quen pun segera berangkat dan tidak lupa mampir ke toko pelengkapan Bayi membeli susu untuk segala usia dari nol bulan sampai usia enam tahun, serta pemprs berbagai ukuran dalam jumblah banyak.
Mata Quen terpaku pada mainan pazel huruf dengan bentuk unik dan beraneka warna, dia tersenyum teringat dengan Axel, dan bergumam lain kali aku akan membelikan untuknya sekarang untuk anak panti saja dulu.
Cukup lama Al menunggu Quen di depan kasir, karena dia masih diam di tempat, Al pun memanggil adiknya agar tudak kesiangan ke Panti.
Sekitar tiga puluh menit Al dan Quen telah sampai. Banyak anak-anak yang bermain di halaman panti berlarian ke arah mobil mereka. Begitu Al dan Quen keluar, mereka mendapat sambutan dari adik-adik di panto dengan sangat luar biasa.
Quen terlihat sangat bahagia, dia memandang ke arah Al, seolah memberi isyarat untuk meminta izin bermain dengan mereka, Al pun mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Assalamualaikum!" Seru Al di depam rumah panti.
"Waalaikumssalam." Seorang wanita tua dengan wajah bersih dan bersinar mengenakan pakaian syar'i berwarna ungu tua keluar, sesaat wanita itu mengamati Al dengan seksama. Dan melihat ke arah Quen yang bermain-main dengan anak kecil di halaman.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu.
__ADS_1
"Benar ini Umi Fatiya?" ucap Al, bertanya balik.
"Iya, saya sendiri. Mari, silahkan masuk!" Seru Wanita itu mempersilahkan.
"Umi, saya Fatih, Al Fatih." Langsung Al meraih tangan kanan umi Fatiya dan menciumnya hingga tiga kali.
"Masyaallah anakku, Fatih? Kau sudah besar sekarang, Nak? Ayo masuk!" Ucap umi Fatia mempersilahkan.
Keduanya saling mengobrol melepas rindu. Kurang lebih enam tahun Al tidak pernah lagi datang ke marim dulu, sebelum ia kuliah di Jepang, dia bersama kedua orang tua angkatnya dan juga kadang dengan Vivian masih sering kemari. Minimal satu minggu sekali.
"Di mana teman, mu? Kenapa tidak kau ajak masuk?" tanya umi Fatiya sambil meletakan dua cangkir teh di atas meja untuk Al dan Quen.
"Biarkan dia bermain, Umi. Dia suka anak-anak." Mata Al melihak ke luar melalui jendela yang tebuka lebar.
"Kau sudah menikah?" tanya umi Fatiya dengan penuh selidik namun bibirnya membentuk senyuman.
Al tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia calon istrimu?"
"Pfffff!" Al tersedak dengan pertanyaan umi Fatiya, jelas saja saat teh itu mau masuk kerongkongannya dia ingin berbicara memberi penjelasan, jadi, dia malah tersedak.
"Umi, dia itu Quen. Adik bayiku dulu," ucap Al, sambil masih sedikit terbatuk wajahnya memerah karena tersedak, bukan malu.
"Umi, sebenarnya Al kemari ada keperluan dengan Umi, apa benar dulu Umi menemukan Al di depan pagar panti ini?" tanya Al dengan wajah serius.
"Iya, Al. Kenapa?"
"Tidak apa-apa, Umi," jawan Al sedikiy gusar.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita berkebangsaan Indonesia-Australi. Dengan tinggi kira-kira 170cm an. Dia memberikan makanan ringan kepada Al dan tersenyum. Tatapan matanya menyorot begitu lembut dam dalam.
Al sempat terpaku memandangi manik mata wanita itu yang berwarna coklat keemasan, seperti manik matanya.
Begiu wanita itu kembali masuk, Umi Fatiya kembali melemparkan pertanyaan kepada Al.
"Ada apa, Nak Fatih kau menanyakan hal itu? Katakan saja, barangkali umi bisa membantumu menemukan jawaban.
"Umi, jika aku perlu bantuan Umi untuk mencari orangtuaku, apakah umi bisa bantu?" jawan Al putus asa.
Terlihat Umi Fatiya tersenyum lebar memandang ke arah Bayi yang dia rawat hingga berusia hampir enam tahun itu.
"Kenapa kau mencari orang tuamu, Fatih? Apakah orang tua angkatmu tidak baik?"
__ADS_1
"Bukan, Umi. Kemarin ada wanita yang mengakuiku bahwa aku ini adalah putranya. Hanya saja, aku kurang yakin. Melihat fisikku yang seperti ini pasti ada faktor genetik kalau aku adalah turunan orang luar, bukan resmi orang Indonesia, kan?"
"Lalu,?" tanya Umi Fatiya dengan penuh perhatian.
"Aku menelusuri, barangkali benar dia ibuku dan pernah menjalin dengan Bule, tapi, nyatanya nihil. Orang yang di duga ayah biologisku berwajah indonesia banget."
"Selain itu ada hal yang membuatmu yakin kau bukan anak dia bukan?"
"Ada, Umi. Makanya Fatih kemari menemui Umi Fatiya. Wanita itu bilang pada mama menaruhku ke depan rumah warga, dia mengetuk pintu rumah itu dan berlari begitu mendengar sahutan dari dalam. Dia meyakini karena aku memiliki tanda lahir di leher," ucap Al sambil membuka salah satu kancing kemejanya dan menunjukan tahi lalat hidup di sebelah Kanan.
"Apa tujuanmu menelusuri itu? Apakah kau akan kembali padanya jika benar dia ibu kandungmu?"
Al menunduk dan mengeleng, "Mama dan adikku akan sedih jika aku lebih memilih ibu kandungku."
Umi Fatiya tersenyum, dan meminta Al untuk mengajak Quen masuk. Karena sudah waktunya anak-anak persiapan sholat dzuhur.
๐ธ ๐ธ ๐ธ ๐ธ
Usai anak-anak berjamaah mereka makan siang bersama, lalu berkumpul di dalam aula mendengarkan salah satu staf panti bercerita tentang nabi, dan yang jadi tema hari ini adalah Nabi Musa yang memiliki mukzizat dapat membelah lautan yang di sebut laut merah.
Tidak hanya anak-anak panti, Quen pun juga turut terhanyut dalam suasanya yang di ceritakan oleh Bu Diana. Selama hidupnya dia tidak banyak mengetahui agama, hidupnya bebas asal sopan dan tidak nakal. Berpakaian pun, Quen juga sering terbuka.
"Kakak!" Seru seorang anak sambil memberikan selembar kain tipis lebar dan panjang berwarna hitam ke pada Quen.
Gadis itu menerimanya dengan tatapan bingung. Mau di apakan kain ini? kira-kira begitu pikirnya.
Gadis kecil itu tersenyum manis menunjukan deretan giginya yang rapi dan kecil-kecil sambil memberi isyarat dengan tanyannya diletakan di atas kepala.
Tapi, Rupanya Quen masih belum sadar juga. Lalu anak berusia sepuluh tahunan itu mengambil kembali kain itu dan menutupkan di kepala Quen dan membentuk hijab asal tanpa peniti, dan gadis itu mengacungkan ibu jarinya kepada Quen dan berkata, "Wanita kecantikannya akan nampak sempurna dengan jijab."
Quen terpaku, tak mempercayai dia di tegur oleh anak kecil. Beruntung dia memakai jens panjang dengan hanya sobek di bagian lututnya saja dan kemeja yang lengannya dia lipat hingga lengan hampir se siku. Jadi, masih bisa ditolelir lah, hijab yang iankenakan.
Setelah anak-anak tidur suang Al dan Quenย mohob diri untuk pulang. Umi Fatiya juga sempat berpesan kepada Al agat mengajak kedua orang tuanya jika minggu depan mereka kembali dan Al pun menyetujuinya.
"Kau pulang ke rumah, apa ke apartemen, Quen?" Tiga kali Al mengucap kalimatnya tapi Quen masih saja bengong tidak menjahut. Rupanya dia tengah melamun.
"Hey!" Seru Al sambil menjawil lengan adiknya.
"Eh, apa, Kak?" tanya Quen kaget.
"Ngelamun saja, awas kesambet." Canda Al menggodai adiknya. "kqu ikut ke rumah apa diantar ke apartemen?" tanya Al sekali lagi.
"Ke rumah saja, Kak." jawab Quen singkat.
__ADS_1
๐ธ ๐ธ ๐ธ ๐ธ