
"kamu kenapa terlihat kesal begitu?"
"hih! dasar kamu, tidak peka!" ucap queen lalu menjitak kening al.
"emangnya aku tidak peka dalam hal apa? aku tidak merasa telah melakukan kesalahan," jawab al.
"ya sudahlah tidak perlu dibahas." queen pun beranjak pergi meninggalkan suaminya.
"sayang kamu tuh kalau mau ngomong sesuatu jangan setengah-setengah!"
"tidak ada setengah-setengah. aku cuma ingin memancing kebakaran mu saja. ya sudah ini udah waktunya aku kerja kamu juga sebentar lagi jam kerja kan? mau balik ke tempat kerja apa akan tetap di sini nemenin pasien yang periksa?" tanya queen pada suaminya.
"oke, aku kembali kerj. tapi, itu buah kurma, delima dan pirny di makan sampai habis, ya?" ujar al. mengambil jas yang ia letakan di atas sofa memakainya menghampiri sang istri mengucapkan yang lalu bergegas pergi.
queen melambaikan tangan pada suaminya kemudian dia kembali duduk santai memikirkan tentang sikap bilqis yang semakin terlihat mencolok hanya saja untuk mengatakan pada suaminya atau siapapun dia tidak memiliki bukti terang bahwa ia beranggapan kalau anak tiri al, seperti memiliki rasa cinta terhadap suaminya.
"hhhmmm haaah! sudah lakuin kamu positif thinking saja dia anak dari nayla al pernah menikahi ibunya tidak mungkin dia akan jatuh cinta pada anaknya dan menikahinya. sekarang, kamu cukup fokus aja dengan keluargamu dan bayi yang ada di dalam rahimmu rahimnu," ujar wanita itu sendiri.
"drrrt drrrt!"
mataku yang diedarkan di ujung meja di mana ia mendengar suara getaran seperti sebuah panggilan telepon yang disenyapkan mode deringnya.
ternyata benar hp suaminya telah ketinggalan. dengan perasaan ragu gadis itu meraih indah pipih tersebut yang berkedip dan bergetar lalu kemudian bibirnya menyungging membentuk sebuah senyuman saat melihat nama kontak yang tertera pada layar smartphone-nya.
__ADS_1
awalnya wanita itu ingin mengabaikan panggilan tersebut tapi karena penasaran dan ingin tahu apa yang hendak dikatakan oleh gadis belia tersebut queen pun mengangkat panggilan dan segera mengaktifkan rekaman recorder dari fitur ponsel tersebut.
"pah, sebenarnya aku sangat suntuk di rumah. aku capek jika harus menghadapi mama yang terus seperti itu apakah kau tidak ada sedikit waktu untuk menemaniku sekedar bicara aku butuh teman ngomong?"
queen diam terpaku dia bingung harus menjawab apa. haruskah dia bersuara menunjukkan bahwa yang mengangkat panggilan tersebut adalah dirinya agar bilqis tidak berusaha macam-macam mendekati suaminya yang tak lain adalah mantan ayah tirinya.
tapi di sisi lain apabila queen melakukan hal tersebut ia takut bilqis akan merasa malu. tapi, bagaimana lagi? dia tak itung rumah tangganya hancur untuk yang kedua kali. cukuplah alex saja yang telah kandas membina rumah tangga dengan dirinya. queen menganggap bahwa ini hanyalah takdir dan kebetulan jodohnya dengan alel hanyalah sampai situ.
toh sekarang dia menjalin hubungan dengan zahara istri dari alex dengan sangat baik seperti layaknya saudara.
"papa kenapa romantis banget sama mama Queen, tadi? Tidakkah papa sadar ada aku di ruangan itu?" ucap Bilqis lagi. gadis belia itu telah berani protes dan menunjukkan sifat atau ekspresi cemburunya kepada Al.
"Papa Al sudah pergi meninggalkan ruangan Mama Queen. Sayangnya dia lupa tidak membawa ponselnya," jawab pun pada akhirnya dia juga tidak tahan untuk terus diam dan membiarkan anak tirinya bertingkah semaunya.
"Bukannya tadi kamu pergi ke kantor papa Al dan datang ke sini bersama kenapa kamu tidak mengatakannya saja dari awal kenapa harus menunggu bicara lewat telepon? Sekarang ini dia waktunya bekerja jadi kamu jangan minta yang aneh-aneh deh!" ujar Queen sudah mulai habis rasa sabarnya.
"Ma... Maaf, Ma. Ak... Aku cuma... "
"Iya dimaafkan. Tapi permintaan maaf yang kau pinta ini tidak untuk diulangi lagi jika sudah meminta maaf ke depannya kamu jangan macam-macam deh lebih sadar diri saja!" ujar Queen yang sudah mulai geram. Kemudian mematikan panggilan.
Queen tidak tahu harus bagaimana. Tapi, dia harus tetap tenang. Awalnya dia berniat untuk mengirim suara recorder tersebut kepada suaminya pada nomor pribadi yang hanya diketahui oleh dirinya dan kedua Putri kembarnya saja. Tapi setelah dipertimbangkan ia berpikir rasanya tidak perlu.
To lagi pula nanti suaminya juga akan pulang, ingin mengumpulkan Adriel, Alex, Zahara dan juga Berlyn, untuk dijadikan saksi bahwa ia telah setuju menandatangani surat perjanjian yang dibuat oleh dua bocil tersebut agar diizinkan menikah.
__ADS_1
Sementara di sana, Bilqis mulai panas dingin. Iya takut hal buruk akan terjadi sebab apabila Queen melaporkan hal ini kepada Nayla atau memakan dunia, maka dia akan tamat.
"Duh! Gimana, sih aku kok bisanya ceroboh banget?" gumam gadis itu. Kemudian, Bilqis masuk ke dalam taxi online yang sudah dia pesan setelah melihat mobil Al meninggalkan parkiran area rumah sakit tempat Queen bekerja.
"Pak, saya ganti rute saja ke jalan Banjar, ya?" ujar Bilqis pada sang Driver.
"Baik, Mbak."
Sepanjang perjalanan, Bilqis terus melamun memikirkan kecerobohannya tersebut. Dia takut akan banyak hal terjadi. Tapi, mau bagaimana lagi? Nasi telah menjadi bubur.
Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa tanpa terasa dia sudah tiba di depan rumahnya. Bahkan driver taksi online yang dia pesan pun sampai tiga kali memanggil dirinya, barulah dia tersentak sadar kemudian memberikan selembar uang rp100.000-an pada sopir lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan pria berkemeja hitam lengan pendek tersebut meneriaki dirinya karena uang kembalian yang belum diberikan.
"Untuk anda saja," jawab Bilqis, saat ia tersadar."
Di ruang keluarga rumah Al dan Queen, kini telah berkumpul semua keluarga.
Al, mengatakan di depan istri ibu Putri kedua anak asuhnya dan juga Alex, serta Zahara, bahwa dia dan Queen telah ambil keputusan untuk memilih menyetujui permintaan Adriel dan Berlyn. Tentu, keputusan ini, sudah disepakati pula dengan Clarissa tentunya.
Mendengar keputusan tersebut, Berlyn langsung berlari pada kedua orangtuanya, memeluk dan bersujud sebagai bukti baktinya sebagai anak, serta ungakpan terimakasih yang tak bisa diucapkan oleh kata-kata.
Apalagi, k lahir dia terlahir menjadi seorang yang bisu lalu bisa berbicara setelah usia beberapa tahun. Namun, atas saran dari Clarissa dia harus tetap pura-pura bisu di depan semua orang hanya Clarissa saja yang tahu bahwa dirinya bisa berbicara.
Melihat, apa yang dilakukan oleh Berlin, Adriel pun merasa sangat terjangkau bercampur bahagia. akhirnya, dia juga melakukan hal yang sama, dan berkata, "Mama, Papa. terimakasih sudah mengizinkan kami untuk bersama. Aku, Adriel, berjanji, akan menjaga Berlyn dan melanjutkan tanggung jawab kalian terhadapnya."
__ADS_1