Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 4


__ADS_3

Tidak menyangka kalau putra Tuan dan Nyonya setampan ini. Dan lagi, beruntung Nona Quen. Selain cantik dan terlahir dari keluarga kaya raya, ia memiliki kakak sebaik dan sesayang Tuan muda Al," batinnya.


Ketika gadis itu hanyut dalam lamunannya, dia dikejutkan dengan setuhan lembut di pundaknya.


"Kakak, Lyli," ucap suara itu menyebut namanya.


Lyli mendongak ke atas, karena gugup dan terkejut bercampur aduk melihat siapa yang memanggilnya, dengan cepat ia berdiri. Hingga kepalanya berbenturan dengan kepala orang yang berdiri di sebelahnya  yang kebetulan sedikit membungkuk.


"Aduh," ucap mereka bersamaan, sambil memegangi kening masing-masing.


"I iya... Aduh, maaf Tuan. Ada apa, ya?" tanya Lyli gelagapan.


"Kak, tolong buatkan saya jahe hangat, ya. Sepertinya sedikit masuk angin," ucap Al lembut dan penuh kharisma.


"Ba... Baik, Tuan." dengan segera Lyli melangkah ke dapur dan mulai merebus air dan membersihkan jahe, lalu menggepreknya.


Lyli merasakan detakan jantungnya tidak normal, ia tidak habis berlari tapi deg-degan, badannya gemetaran serta tangannya berkeringat.


"Ya Tuhaaaan! Kenapa aku merasa aneh begini saat melihat Tuan, Al. Apalagi jarak dekat seperti tadi... Duh, kuat gak ya aku memberikan  ini padanya?"


Lyli bergumam seorang diri sambil berjalan perlahan dengan segelas wedang jahe panas di tangannya.


"Awas Lyli, jangan sampai tumpah, fokus, kosentrasi!"


Begitu terus dia komat-kamit diucapkan berulang-ulang seperti seorang yang tengah merapalkan mantera.


Benar saja, tiba di depan Al, gadis berusia sembilan belas tahun itu semakin gemetaran dibuatnya. Dengan segera ia meletakan segelas air jahe pesanan tuan mudanya.


"Ini, Tuan," ucapnya lalu bergegas pergi.


Malam ini udara terasa sejuk, tidak panas seperti biaaa.


Lyli melihat jam weker di atas nakaanya sudah menunjukan pukul 21.30WIB, tidak seperti biasa, ia masih belum bisa tidur karena tidak mengantuk.


Ia tetap berdiri di depan jendela kamarnya sembari memandangi halaman depan rumah tempat ia bekerja.


Tak lama kemudian, datang sebuah mobil, ternyata Al dan Quen.

__ADS_1


Malam ini usai magrib Al mengajak adiknya membeli seragam SMU baru, sekalian makan malam di luar.


"Kalian baru pulang?" tanya Clara yang kebetulan menunggu kedua anak ya di ruang tamu.


"Iya nih, Ma." jawab Quen sambil senyun-senyum menenteng beberapa tas belanjaan.


"Sama kakak sudah dibeliin seragam baru, jadi jangan di kecililin lagi pakai ukuran anak TK, ya?" Clara pun pergi beranjak menuju kamarnya.


Sementara Al berkerut kening mendengar perkataan mamanya barusan.


"Quen, jawab kakak dengan jujur, selama ini kamu sengaja ngecilin baju seragam kamu?" tanya Al dengan raut muka serius.


Sementara Quen serba salah tingkah, nyengir tanpa sebab sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kau ini sudah dewasa, tidak seharusnya mengekspos tubuh kamu seperti itu, kamu sekolah tujuannya cari perhatian apa cari ilmu?"


Melihat reaksi Al yang semakin serius Quen tidak berani berkutik ia menunduk. Dari dulu Al memang sayang padanya, tapi, dengan begitu tidak menghilangkan jiwa tegas dalam mendidik sang adik. Kini ia merasa sang kakak jauh lebih tegas dari dulu setelah tinggal lima tahun di Jepang.


"Maafin aku, Kak. Mulai sekarang Quen ga akan gitu lagi," ucap nya sambil menunduk.


Melihat adiknya sudah merasa bersalah serta minta maaf, Al menyentuh kedua pundak Quen dan memintanya segera istirahat.


Melihat senyuman sang kakak, wajah Quen kembali ceria seperti semula, seperti biasa, dia yang selalu aktif melonpat memeluk Al dan mencium pipinya, "Terimakasih, kakak." Ia pun langsung berlari ke lantai atas menuju kamarnya.


Melihat sifat sang adik yang masih seperti dulu, Al hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum sendiri.


Perlahan ia pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar sang adik.


Setahun setelah keberangkatan Al ke Jepang, sengaja Vivian mengajak anak cucunya tinggal bersama. Selain rumahnya besar, dan banyak kamar, mereka ingin selalu berkumpul bersama di usia senjanya.


Andrean juga sudah jarang pergi ke kantor kalau tidak ada yang benar-benar penting dan mendesak, sementata Vivian, ia sudah berhenti total semenjak Quen berusia dua tahun.


Jadi, kamar yang ditempati Al dan Quen dulunya adalah kamar papa dan mama mereka.


Hanya saja, mereka sepertinya belum faham kalau kedua orang tua mereka dulunya adalah saudara tiri. Yang Al dan Quen ketahui adalah mamanya anak dari kakek Andrean dan nenek Vivian, sementara Vano putra dari kakek Andreas dan Nenek Amanda yang telah bercerai.


Ya, kepahaman mereka Clara dan Vano menikah antar saudara sepupu, padahal ya gak ada hubungan darah sama sekali. Cuma kebetulan saja.

__ADS_1


Sejauh ini, Quen sangat menyangi sang kakak dan cenderung manja dan patuh pada kakaknya, ia juga tidak tahu kalau Al adalah anak yang sengaja di adopasi oleh kedua orang tuanya.


Surat adopasi itu memang disimpan baik-baik oleh Clara dan Vano agar Quen serta orang lain yang tidak tahu menahu, jadi tahu dan menyebar.


Bahkan, sejauh ini Al juga tidak pernah mengecewakan keluarga angkatnya, dalam pergaulan maupun prestasi, benar-benar sangat patut dibanggakan.


Al merebahkan diri di atas kasur sambil melipat kedua lengannya di bawah kepalanya. Ia merenung sesaat seolah ia tengah berfikir keras sampaai keningnya berkerut.


Ia nampak gelisah, berkali-kali ia mengusap wajahnya dekan tapak tangan.


Karena merasa bosan, ia bangkit keluar kamar menuju dapur mengambil air mineral dari dalam lemari es.


Begitu ia menaiki tangga, ia baru sadar kalau pintu kamar Quen sedikit terbuka, mendengar suara seseorang memancing rasa ingin tahu Al untuk melihat isi kamar.


Di dalam Al melihat adiknya tengah ngobrol menggunakan head phone.


Lima menit Al berdiri di depan pintu menunggu sampai Quen mematikan panggilannya, ia pun mengetuk pintu.


Mendengar suara pintu di ketuk, Quen segera berlari melihat siapa di luar.


Dilihatnya Al dengan sebotol air mineral dingin di tangan kanannya dan tangan kirinya dimasukan kedalam saku celana boxernya, dan kaos putih berdiri tepat di depan pintu.


"Kakak, ada apa di sini?" tanya Quen.


"Sudah hampir jam dua belas kamu kok belum tidur?" tanya Al, dingin.


"Ini mau tidur, kak. Barusan ada teman yang nelfon nanya tugas."


"Ya sudah, cepatlah istirahat. Jangan sampai besok telat!" Seru Al lalu beranjak menuju kamarnya.


Quen memperhatikan gelagat sang kakak, ia merasa kakak yang dulu begitu hangat padanya kini mulai berubah, meski ia tidak merasa kasih sayangnya berkurang, tapi ia merasa jauh semenjak kepulangannya dari Jepang, tidak seperti dulu, lima tahun silam.


Dengan malas Quen masuk kamar dan mengunci pintu.


Quen berbaring di kamar sambil mengingat masa kecilnya bersama sang kakak, di mana keduanya selalu bermain bersama. Dan jika ia di ganggu oleh anak-anak lain, maka Al lah yang melindunginya.


Serta saat ia terjatuh dan terluka, dengan telaten Al membasuh lukanya dan menggendong sepanjang jalan, dari taman kompleks perumahan sampai tiba di rumah.

__ADS_1


Quen tersenyum seorang diri seraya bergumam, "Jika aku tahu akan begini jadinya, aku akan melarangmu ke Jepang, Kak."


Sampai akhirnya ia pun terlelap dalam tidurnya.


__ADS_2