Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 163


__ADS_3

Queen mengamati sekitar, setelah memastikan semua aman dan baik-baik saja, ia mengajak Bik Yul untuk membantunya memberikan air kepala hijau kepada sang kakak.


Karena sebentar lagi jam makan malam, ia khawatir kalau kakeknya mengetahui hal ini akan marah. Sebab, dari awal kakek Andrean tidak suka jika anak cucunya meminum minuman itu. Jangankan anak cucu sendiri, temannya saja yang membawa ke dalam rumah ini saja dia sudah akan murka.


"Bik, bantu aku dong!" seru Quen setengah berbisik, saat melihat bibi sudah nampak santai di dapur.


"Kenapa, Non harus ngajak bibi segala? Non aja deh, kasihkan aja," ucap Bik Yul merasa sungkan dan tidak enak.


"Kalau aku bisa gitu, Bik. Ayolah tolong, kakakku lagi ma.... "


Belum sempat Quen menyelesaikan kalimatnya, kakek Andrean sudah memanggil namanya dan menanyakan apa yang dipegangnya itu. Sebab, ia tadi sempat melihat Quen menerima buah kelapa hijau dari seorang tukang ojek online.


"Apa itu, Quen? Di mana kakakmu sekarang?"


'Duh, mampus sudah, kau Quen, ketahuan kakek,' umpatnya dalam hati sambil memejamkan mata erat-erat.


"Kak, mau makan malam sekarang?" ucap Quen mengalihkan pembicaraan.


"Nanti saja, kita urus dulu Al. Di mana dia sekarang?"


"Di kamar tamu, Kek. Dia lagi tidak enak badan kayaknya, Kek."


"Dia bukan tidak enak badan. Tapi, mabuk, berikan air itu pada kakek,biar kakek yang memberikan padanya," ucap Andrean dengan tegas.


Queen pun memberikan air kelapa itu kepada sang kakek, lalu mendorong kursi roda kakeknya ke kamar di mana Al berada.


Tiba di sana, Quen berusaha mendidikan Al dengan bantuan bibi dan meminumkan air itu ke Al. Beruntung Al tidak memberontak, asal menurut saja, tapi, kejadian tidak terduga terjadi.


Al memuntahkan seluruh miras yang diminumnya tadi tepat di depan Quen


mulai dari dada ke bawah Quen basahnoleh muntahan kakaknya. Bahkan saking baunya wanita itu pun juga ikut muntah-muntah dan berlari keluar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara di kamar, Andrean memarahi cucunya habis-habisan. Dan Al hanya bisa diam, menikmati sensasi pusing, dan sisa-sisa mual yang ada.


"Sudah berapa kali kakek bilang sama kamu, jangan lagi minum, jauhi itu miras. Apa sih masalahmu? Stres soal perusahaan? Biar kakek bantu kamu, jangan semua di handle sendiri dan ujung-ujungnya seperti ini."


"Maafin, Al kek. janji ga akan Al ulangi lagi, kakek cukup istirahat saja di rumah. Al beneran masih sanggup kok, Kek. Queen juga masih sering bantu juga," jawab Al dengan kepala tertunduk.


"Ya kali ini kakek maafkan. tapi tidak ada kesalahan yang sama lagi seperti ini kakek nggak mau lihat kamu mabuk lagi. kau ini sudah dewasa, sudah menikah dan sudah menjadi seorang ayah. sekalipun itu dari anak tiri. berilah dia contoh yang baik, bagaimana perasaannya jika mengetahui ayahnya yang dia kira ayah kandung suka mabuk seperti ini, pikirkan itu Al dan persiapan diri juga untuk anak kandung mu kelak jangan sampai kau seperti ini perbaiki diri kamu," omel Andrean panjang kali lebar.


Memang Andrean kalau sudah marah dan mengomel, lebih bawel dari emak-emak. tapi, itu semua semata-mata demi kebaikan anak cucunya sendiri. lagipula, siapa lagi yang akan menasehati mereka kalau bukan dia sendiri? sang istri sudah menghadap yang maha kuasa bersama sang kakak. sementara kedua orang tua dari cucunya juga masih koma.


"Iya, kakek, Al ngaku salah. nanti gak akan mabuk lagi," ucap Al.


"Ya sudah, ayo kita makan malam dulu, jangan bilang gak enak makan. itu akibat ulah mu sendiri." Andrean pun bergegas keluar kamar sambil melajukan kursi rodanya dengan kedua tangannya.


Sementara Al dia juga keluar kamar. tapi tidak langsung menuju meja makan, melainkan naik ke atas menuju kamarnya untuk membersihkan badan dan berganti pakaian.


Di dalan kamar mandi, ia tiba-tiba saja kepikiran Quen.doa ingat bagaimana tadi ia memeluk dan mencium adiknya, bahkan berkali-kali dia mengusap pipi mulus Quen dengan kumis tipisnya, Al tersenyum seorang diri. tapi, senyaman itu pudar ketika ia kembali teringat bagaimana dia memutahkan isi perutnya di dada Quen. bahkan wanita itu saking jijik dan baunya miras juga ikut mutah-mutah dan langsung berlari.


"Kasian juga, Quen. bagaimana keadaan dia, ya? jangan-jangan nanti jijik terus ga doyan makan lagi, tu bocah. malah makin kurus aja nanti," gumam Al seorang diri.

__ADS_1


Dengan cepat Al pun menyudahi mandinya, dan bergegas mengenakan pakaian santai lalu keluar kamar, mengetuk pintu kamar adiknya.


"Queen, apakah kau ada di dalam, Sayang?"


"Iya, Kak. aku masih ganti baju, ada apa?" teriak Queen dari dalam kamar.


"Sudah belum? kakak masuk, ya?" ucap Al.


Ya, masuk saja," sahut Quen lagi.


Karena sudah ada jawban, Al pun membuka pintu kamar adiknya dan masuk ke dalam di sana ia melihat adiknya tengah duduk di meja rias dan akan memasang colokan hair dryer.


pria itu mendekat ke arah adiknya, meraih sisir dan hair dryer dari tangan Quen dan berkata, "Sini biar kakak bantu keringkan, ini juga karena kakak, kan? maaf ya udah repotin kamu."


"Lain kali ya jangan kek gini lagi, Kak. Aku dah berusaha diam-diam tapi masih ketahuan kakek, mana dimuntahin lagi,". ucap Quen sambil berlagak marah. padahal sama sekali tidak.


"Iya... Kakak ngaku salah, makanya ini kakak bantu keringin rambut kamu," ujarnya sambil mengetingkan rambut dan menyisir nya sedikit demi sedikit hingga rapi dan kering.


Setelah beres, mereka pun keluar untuk makan siang bersama.


Di sana, kakek Andrean sudah duduk bersama Nayla dan juga Bilqis telah menunggu mereka berdua.


"Hanifah mana, Kek? Katanya tadi kalian keluar bersama?" tanya Quen.


"Dia sudah pulang, tadi buru-buru jadi tidak bisa ikut makan malam bersama," jawab kakek Andrean.


mereka pun akhirnya malam bersama tanpa ada suara, sebab, Al masih marah dengan Nayla, dan Nayla pun juga marah serta mendiamkan Quen yang bahkan tidak tahu apa-apa.


Setelah semua sudah urusan Axel dan Novita sudah diatur matang-matang, Livia bebricara pada Aditya, kalau ia ingin tinggal di Bandung bersama kakaknya Adit, awalnya Aditya enggan menyetujuinya, tapi karena Livia terus memaksa dan dapat meyaki kan, Aditya pun akhirnya menyetujuinya.


"Lagipula, Dit. kan kau sudah berkumpul dengan anak istrimu, kalian berbahagialah bersama, biarkan mama dan papa tinggal bersama kakakmu, mereka sudah tidak terbebani anak-anak lagi, jika kalian rindu kami, ya kesanalah," ucap Livia.


"Baiklah kalau itu mau, Mama. mama ingin kapan kita ke sana?" jawab Aditya yang memang tidak bisa menolak keinginan ibunya itu.


"Bagaimana kalau besok saja? Kau, Novita dan juga Axel antar mama ke sana, ke tempat kakakmu?" usul Livia.


Aditya diam, tak langsung memberikan jawaban. tapi, lagi-lagi Livia sangat pandai membujuk putranya, jadi, mau tak mau, Aditya pun mengiyakan saja.


"Baiklah, ya sudah, mama berkemas saja, Ya. Biar di bantu Novi. Adit mau ke rumah sakit dulu," ujar pria itu, berpamitan untuk bekerja kepada mamanya.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya, Nak." Seperti biasa, Livia memeluk dan mencium kedua pipi putranya setelah dia mencium punggung tangannya.


Lalu, Aditya pun berpamitan kepada Istri dan putra. Setelah mobil Aditya meninggalkan halaman dan tak lagi terlihat oleh pandangan mereka, merek bernapas lega. Tidak ada yang perlu dibereskan, sebab, Livia dan Novita sudah atur semuanya. barang-barangnya sudah di paketkan, yang akan dibawa besok adalah barang milik Axel dan Novita yang akan dibawa keluar negeri keesokan harinya. Sengaja Livia ke Bandung agar tidak ketahuan kalau ia telah membantu menantu dan cucunya kabur.


"Mama, terimakasih ya, Ma." Novita memeluk Livia sambil menangis, ia merasa terharu dan juga berat meninggalkan mertuanya yang sudah berusia lanjut ini sebenarnya. tapi, ia sadar, bersama hanya akan membahayakan diri mereka bertiga. dam itu tidak akan baik.


"Sudah janganlah menangis, sudah kewajiban mama sebagai orang tua membantu kalian. semoga semua rencana kita berjalan lancar. kalian baik-baik di sana, Ya? Mama titip Axel sama kamu, dan jangan pernah putus komunikasi dengan mama juga papa, Ya?" ucap Livia balas memeluk menantunya.


Livia melepaskan pelukannya dari Novita, ia giliran memandang cucunya dan berpesan pada bocah laki-laki yang hampir menginjak remaja ini, "Axel, belajar yang giat di sana, Ya? meskipun kita berjauhan, nenek dan juga kakek akan terus mendoakan mu dan mama. kelak jika Axel sudah besar, datanglah ke Indonesia, temui kakek dan nenek, ya sayang?"


Axel tidak menjawab apapun, ia hanya memeluk erat sang Nenek saja. bahkan bocah itu pun sudah tidak dapat lagi menangis.

__ADS_1


dari belakang, Novita mengelus kepala putranya dan berbisik lirih, "Maafkan mama, ya Sayang. tidak bisa memberikan dirimu keluarga yang utuh."


Rencana demi rencana sudah diatur dengan baik dan matang. benar kata orang, jika tempat yang paling aman untuk bersembunyi adalah tempat yang paling berbahaya itu sendiri. sebab, musuh dari jauh akan mudah di deteksi keberadaannya dan bisa berantisipasi sebelumnya, beda halnya dengan musuh di dalam selimut. tak nampak tapi mematikan.


Aditya tersenyum ketika melihat sebuah mobil yang sepertinya menguntitnya dari spion tengah. Dia sengaja tidak menghindari mobil itu, karena hari ini dia benar-benar akan ke rumah sakit untuk bekerja. ia berfikir, setelah mengantarkan mamanya ke rumah sang kakak yang ada di Bandung sana semua akan terasa mudah untuk melakukan apapun.


"Apa maunya bocah itu sebenarnya ke apa selalu mengikutiku? sayang sekali, aku tidak satu rumah sakit dengan Quen," gumam Aditya seorang diri.


Tapi, siapa sangka kalau dugaan Aditya kali ini sebenarnya adalah salah. Mobil yang mengikutinya sejak keluar dari halaman rumahnya memang benar milik Alex. tapi, yang berada di dalamnya bukanlah pemilik aslinya. Alex saat ini tengah berada di rumahnya mengatur strategi untuk kakak dan keponakannya untuk kabur esok lusa tanpa meninggalkan jejak. soal mobil itu, sebenarnya hanya untuk mengelabuhi dirinya saja, agar dia berfikir bukan dirinya yang sudah membantu Novita dan juga Axel pergi.


"Alex, apakah kau sudah memesan tiket untuk kakak dan keponakanmu?" tanya Livia, sedikit cemas.


"Tidak, Tante. Itu akan memudahkan kak Adit untuk melacak keberadaan kak Novi dan Axel tinggal di negara mana, Alex akan berbicara sama kak Al agar membantu, dia kan memiliki banyak privat jet, jadi bisalah meminta bantuan darinya agar kalian aman di negara tujuan."


"Kau sudah bicara sama dia?" tanya Novita.


"Belum, rencana hari ini aku akan menemuinya di kantornya secara pribadi dan mengutarakanya langsung."


"Semoga semua berjalan baik-baik saja, ya Nak. mama hanya bisa bantu doa saja," ucap Livia sambil mengelus Novi dan Axel.


Alex pun mengeluarkan gawainya saat merasakan getaran dari dalam sakunya. ternyata sebuah panggilan dari orang yang telah mengawasi Aditya.


"Halo, gimana?" jawab Alex.


"Dia sudah masuk ke dalam rumah sakit itu, Lex. sepertinya dia benar-benar bekerja hari ini."


"Ok. bagus, tetap di sana jangan pergi awasi dan ikuti saja terus, aku masih ada urusan. jangan namoakan dirimu agar dia mengira kau adalah aku, Ok."


Alex pun mematikan telfonnya dan menscrol kontak, mencari nomor Al dan menghubunginya. Alex yakin, Al tidak akan keberatan membantunya, seklaipun dia sudah bercerai dengan adiknya, tapi, Al juga tahu kalau itu bukanlah kesalahan Alex. sebab, ia tidak dalam keadaan sadar saat menyakiti Quen dulu.


"Halo, Kak Al. bisa kita bertemu dan berbicara sebentar? Aku perlu bantuanmu," ucap Alex begitu panggilannya sudah di angkat.


"Ada apa, Lex? hari ini aku ada di kantor, dan bisa keluar saat jam istirahat nanti, apakah mensesai?"


"Sepertinya begitu, mungkin aku bisa datang ke kantormu saat ini, Kak? bagaimana?"


"Baik, datanglah kemari, aku tunggu di ruangan ku," jawab Al lalu mengakhiri panggilannya.


Tidak menunggu lama, Al menerima panggilan kalau ada seseorang ingin bertemu dengannya. Yakin dia adalah Alex, ia pun meminta agar tamunya diantar ke ruangan pribadinya.


"Duduk, lah! Ada apa?" tanya Al, sambi membenarkan posisi duduknya.


"Aku perlu bantuan kak Al saat ini," ucap Alex to the point.


"Bantuan, apa? Katakan saja, jika aku bisa, akan kubantu, jika tidak... maafkan aku," ucap Al.


Belum sempat Alex mengutarakan maksutnya, seorang cleaning servis mengetuk pintu, membawakan dua cup kopi untuk Al dan juga Alex.


"Begini, aku minta bantuan kak Al untuk menyiapkan private jet untuk kakakku dan Axel. aku ingin mengirim mereka ke Australia. Mungkin kita bisa ikut penerbangan maskapai biasa atau sewa prifat jet sendiri, tapi, kami kawatir Aditya dapat melacak keberadaannya. aku hanya ingin melindungi kakak dan keponakanku saja, bisakah kak Al membantuku?" ucap Alex, penuh permohonan.


Al diam sesaat tidak langsung menjawab, dia nampak sedang memikirkan sesuatu. Tapi, bukan berarti dia keberatan membantu Alex. bukan Al namanya jika tidak mengambil keuntungan dari sebuah kesempatan.

__ADS_1


Al pun menghela napas panjang sebelum mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, "Baik, aku bisa membantumu. Tapi, dengan satu syarat. jika kau setuju, kita deal. kapan kau butuh pesawat itu, katakan saja, aku akan hubungi anak buahku, dan membuat informasi kalaunyang dindalam sana adalah orang lain, bukan kakak dan keponakanmu tapi, jika kau tidak bersedia.... kurasa kau tahu jawabanku."


__ADS_2