Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 52


__ADS_3

Tanpa terasa sudah satu bulan Lyli menempati rumah barunya


yang ada di Jakarta. Dia tinggal bersama dua orang pembantu dan satu orang yang kini jadi bodyguardnya. Yaitu Bondan.


Semenjak berada di Jakarta, Pak tua itu datang selalau


pasti, setiap malam minggu, dan malam senin dia kembali ke Bandung. Tidak seperti dulu, datang kapan tak tentu, dan suka-suka dia sampai-sampai lupa. Tapi, Lyli tidak peduli itu, yang penting dia bisa bersenang-senang dan hidup


mewah tanpa lelah bekerja selain siap ngangkang saja jika dibutuhkan.


Hanya saja, karena sering melakukan hubungan badan, ia


merasa kadang kala ingin tapi, si tua itu tidak kunjung datang. Jadi, tak ada


yang bisa ia lakukan selain menahan hasratnya saja.


Siang itu Lyli merasa bosan berada di rumah, ia ingin


keluar. Lagi pula, si tua itu juga sudah mengizinkan jalan-jalan ke mana saja


ia mau. Asal, tidak jelalatan di depan pria saja. Tidak sulit, selama pria yang


dia temui bukanlah Al. tapi, jika bertemu dengan Al, bagaimana? Tahan dulu,


kalau sudah jelas Al tertarik dengan dirinya yang sekarang, ia bisa bekerja


sama untuk membuh si Darto agar dia terbebas dari ikatan kontrak itu.


“Mau ke mana, Non?” tanya Bondan yang sedang bersantai di


ruang televisi lantai bawah.


“Aku mau keluar dulu, Bondan. Tidak lama, kok. Sekedar mau


jalan-jalan saja,” jawab Lyli. Itung-itung ia bisa mengumpulkan informasi


mengenai Queen dan juga Al. sebenarnya sudah lama ia ingin keluar rumah dan


menemui salah satu dari mereka. Tapi, si tua itu masih terus melarangnya


kecuali pergi bersama Bondan.


Bondan yang kebetulan lagi malas gerak, kali ini membiarkan Lyli pergi sendiri. Terlebih, bossnya juga bilang, tidak masalah kalau sesekali ia ingin pergi sendiri ke suatu tempat. Para pembantu pun juga


sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Bahkan, salah satu dari dua pembantunya


juga pergi berbelanja bulanan untuk keperluan sehari-hari selain sayur dan


buah. Untuk sayur dan buah, dia membelinya tidak pasti, kadang seminggu sekali,


kadang juga empat kali sehari, tergntung isi kulkas. Belinya pun juga di pasar


tradisional dan pagi-pagi sekali.


Berdasarkan pengetahuam yang Lyli ketahui dari mantan


majikannya dulu buah dan sayur dari pasar tradisional selain segar, bagus dan tanpa pengawet, harganya jauh lebih murah. Karena petani langsung membawa hasil


panen mereka ke pasar tradisional, bukan ke mall atau supermarket.


Lyli yang memang bukanlah seorang sosialita dan tak biasa keluar untuk jalan-jalan, tidak tahu


harus pergi ke mana, ia bingung. Akhirnya ia pun pergi ke mall untuk sekedar cuci mata dan jalan-jalan. Bagaikan pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat ia asal


berjalan tak tahu mau ke mana, tiba-tiba saja kakinya sudah membawanya ke


sebuah time zone yang ada di mall tersebut. Di mana letak time zone tidak jauh dari foodcourd.


“Aduh, sudah, capek aku, Bilqis, ayo kita makan dulu. Mama


capek, Sayang,” keluh seorang wanita yang tak lagi asing bagi Lyli.


Lyli berbalik badan, kemudian maju beberapa Langkah untuk


meyakinklan apakah benar wanita itu adalah sosok yang ia kenal di masa lalu? Merasa tebakkannya tidak meleset, wanita itu tersenyum miring.


Seorang gadis kecil berusia kira-kira tiga belas tahun


berjalan mendekati wanita itu dan berjalan bersama menuju foodcourd.


“Bilqis juga lapar, Ma. Ayuk kita makan siang, lelah sekali


bermain basket dan dance. Tapi, asik sih. Itung-itung mama juga sambil diet, kan? Senang. Hahaha.”


“Iya, kau benar. Mama terlalu banyak duduk dan hanya makan


sementara kau, selalu sibuk dengan papa Al dan adik mu itu,” sahut wanita itu pada putrinya.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Lyli segera berlari


mengejar wanita yang dia duga kuat adalah Nayla istri dari Al. ia akan


menujukkan apa yang dilakukan suami tercintanya bersama adik iparnya itu di


belakangnya.


“Nayla!” teriak Lyli. Berharap wanita itu bisa mendengar


suaranya. Karena tempat ini memang full music dan dengan suara yang tidak pelan


tentunya. Belum lagi dengan suara-suara dari permainan dan fasilitas yang ada


di time zone itu. sungguh bising sekali bagi Lyli yang memang menyukai


ketenangan. Sebenarnya tidak juga. mungkin karena terlalu lama tinggal di rumah sakit jiwa.


Mendengar lebih dari satu kali ada yang memangggil Namanya,


Nayla berhenti dan menoleh ke belakang. Dari arah berlawanan, berlari seorang


wanita berambut panjang hanya mengenakan tangtop dan rok mini yang bahkan unutk


membungkuk saja sudah akan terlihat celana dalamnya.


Nayla mengerutkan kening, merasa wajah itu sangat familiar.


Tapi, siapa? Apalagi dia juga tahu dan kenal dengan dirinya, buktinya,


berkali-kali berteriak meneriaki Namanya.


“Siapa, ya? apakah kita kenal sebelumnya?” tanya Nayla


dengan sopan pada wanita itu.


Lyli tersenyum tipis kala wanita di hadapannya tak lagi


mengenalinya. Mungkin karena dari segi penampilan dia juga sudah sangat jauh


berbeda dari dulu saat menjadi pembantu din rumah mertuanya.


“Kau benar-benar melupakanku, Nay?” tanya wanita itu sekali


lagi.

__ADS_1


“mungkin kalau


diingat-imgat lagi bisa. Cuma kapan ingatnya aku tidak tahu, sepertinya kenal,


hanya kau siapa aku benar-benar tidak inget,” ucap Nayla sekali lagi.


Lyli merogoh isi


dalam tasnya, di keluarkannya sebuah iphone keluaran terbaru yang memiliki tiga camera itu sambil memeperkenalkan dirinya sekali lagi pada mantan majikannya itu.


“Baik, karena kau


tidak bisa mengenalku, aku Lyli. Apakah kau ingat? Aku Lyli yang dulu bekerja sebagai pembantu di rumah mertuamu,” ucap wanita itu dengan nada angkuh dan sombong.


“Oh, iya aku ingat. Habis, kamu makin cantik, makanya aku pangkling. Kamu apa kabar, Lyli? Bekerja di mana sekarang?” sapa Nayla dengan ramah, dan tak menunjukkan


kekagumannya sedikitpun.


Merasa kesal dengan tingkah Nayla yang tifdak terlihat terkejut sama sekali, Lyli akhirnya


to the point dengan harapan keluarganya hancur berantakan. Dengan begitu dia


bisa ambil kesempatan mengambil alih Al untuk menjadi miliknya. “Aku punya sesuatu unutk kau lihat. Coba kau lihat ini,” ucap Lyli sambil menunjukkan foto


pertama saat Al mencium Queen di cafe.


Dengan santai dan


elegant Nayla mengambil alih ponsel mahal tersebut dari tangan Lyli yang sudah berubah drastis itu, dilihatnya foto itu dengahn seksama. Bahkan untuk meyakinkan pandangannya, ia juga sempat mengezoomnya.


“Ini mas Al dan Queen bukan?” tanya Nayla meyakinkan.


“Ya, kau benar.


Kau bisa scroll gambar selanjutnya apa saja yag sudah mereka lakukan. Mereka


masuk hotel dan meninap selama tiga hari tiga malam di sana, apa kau yakin


mereka tidak melakukan apa-apa jika tidur dalam satu kamar satu ranjang?”


Nayla tersenyum


miring dan membatin, ‘Rupanya wanita ini masih mengira aku adalah istrinya mas Al, dan sengaja menemuiku untuk mengatakan kalau dia melihat mas Al selingkuh


dengan Queen, begitu, ya? Lalu, ke mana saja dia selama ini? Muncul-muncul sudah berubah drastis gitu. Apakah dia jadi simpanan?’


“Bagaimana menurutmu? Apakah kau hanya diam saja? Malam itu mereka sempat terjadi salah


paham dan berantem, aku tahu, di dalam mobil pasti ada yang tidak beres, karena


aku melihat banyak tanda merah di sekitar dada dan leher Queen.


“Terimakasih, ya Lyli. Tapi, sepertinya kau tidak perlu menunjukkan ini kepadaku. Karena, apapun


yang mereka lakukan, semua sah-sah saja, mereka adalah suami istri, dan dari pernikahannya, mereka sudah memiliki seorang putri yang sangat cantik. Benarkan, Bilqis? Papa Al sudah memiliki anaknya sendiri dengan mama Queen,


kan?” jawab Nayla sambil melibatkan putrinya.


Mendengar jawaban


itu, Lyli merasa bagaikan di sambar petir di siang bolong. Bagaimana bisa


mereka sudah menikah dan memiliki anak? lalu, yang aneh, bagaimana bisa dengan


sesantai itu Nayla memberitahukan kepadanya tentang kebenarannya? Bukankah


selama ini dia sangat mencintai Al dan sangat cemburu pada Queen.


Lyli yang awalnya ingin


keadaan dengan cepat. Lyli yang benar-benar setengah mati dibuat kaget dengan


apa yang baru saja Nayla katakan.


“Bagaimana bisa


mereka sudah menikah? Lalu, kau?” tanya Lyli dengan mata terbelalak.


“Aku sudah lama


bercerai dengan mas Al. tapi, hubunganku dengan keluarganya juga baik.  Ya sudah, mungkin cuma ini saja keperluanmu


denganku, bukan? Ya sudah, aku masih sibuk dan banyak hal yang harus ku


kerjakan. Mari, Lyli. Kami permisi dulu,” ucap Nayla sambil tertawa penuh


kemenangan dan menggandeng tangan putrinya keluar area mall.


Awalnya memang


Nayla ingin mengajak putrinya makan di situ. Tapi, setelah bertemu dengan


wanita yang memiliki niat jahat itu, ia akhirnya pergi dan urung. Nayla tak


ingin pkirannya kembali teracuni seperti dulu. Tapi, seberapa keras Lyli


mencoba, kali ini juga mungkin tidak akan berhasil. Sebab, sudah lima tahun dia


berusaha mengenal Queen secara pribadi, dan benar, wanita itu memang


benar-benar baik. Awal dia membenci Queen juga karena komporan dari Lyli.


Merasa kesal dengan apa yang baru saja terjadi, Lyli segera


berbalik arah dan kembali pulang. Di dalam mobil ia seperti tidak terima saja


dengan kenyataan kalau Al dan Queen ternyata sudah menikah dan memiliki anak.


sempat ia berhenti di pinggir jalan yang agak sepi dan menangis sambil menjerit


sepuasnya untuk meluapkan rasa kecewa di hatinya.


“Pantas saja, Al, kau sampai segitunya saat mengejar Queen kala


itu. ternyata kalian sudah menikah? Bagaimana bisa kau menikahi wanita ****** itu, Al? aku tidak terima, aku benar-benar tidak terima. Awas saja. Aku akan


merebutmu darinya. Akan kubikin dia gila agar tahu, bagaimana rasanya tinggal


di rumah sakit jiwa,” teriak Lyli penuh tekat.


Dengan perasaan kecewa, wanita itu pun kembali pulang ke


rumahnya dengan kondisi yang berantakan.  Sesampainya di rumah, ia segera masuk ke dalam kamarnya dan mengguyur


kepalanya dengan air sampai beberapa gayung. Setelahnya ia menangi sambil


meringkuk di sudut ruangan. Setelah merasa puas menumpahkan air matanya, wanita


itu keluar. Ia mengambil pakaian dari bahan sifoon yang tipis dan menerawang.


Awalnya Lyli berfikir kalau Bondan tidak ada di rumah karena rumah masih sangat


sepei. Jadi ia santai saja mengenakan pakaian seperti itu tanpa menggunakan

__ADS_1


dalaman. Bahkan, bagian pundaknya juga telah jatuh, sehingga dapat


mempertontontonkan bahu serta payudaranya yang mulus.


Sesampai di dapur, diambilnya sebotol miras yang biasa ia


minum bersama si tua itu sebelum melakukan hibungan badan. Lyli minum sendirian


tanpa kendali. Bahkan, sudah satu botol setengah ia menghabiskan wine itu sampai ia kini menjadi benar-benar mabuk. Sampa-sampai mengangkat kepalnya saja


dia tidak kuat, rasanya.


Kabar pernikahan


antara Al dan Queen rupanya sungguh membuatnya benar-benar prustasi sampai


harus minum begitu banyak. Hanya saja Lyli tidak tahu, kalau dalam setiap botol itu sudah memiliki campuran obat perangsang. Siapapun yang meminumnya, pasti akan memiliki hasrat untuk bercinta. Tapi, karena tidak menemukan pelampiasan,


dan si tua itu di telfon tidak bisa datang karena berada di luar kota, paling cepat juga mungkin besok, terpaksa ia pun harus menahannya, atau mencoba mencari pelampiasan sendiri.


“Al, kau kemari, Sayang?’’ lirih Lyli saat matanya mendapati


sekelibat tubuh pria melintas di hadapannya.


Tak lama kemudian, pria yang tak lain adalah Bondan yang


menjadi penjaganya datang sambil membawakan selembar selimut dari kamarnya.


Kemudian pria itu menutup tubuh Lyli yang sudah setengah telanjang karena tak sadar akibat pengaruh alkohol dan juga Viagra obat perangsang.


“Bagaiamana anda bisa melakukan ini tanpa tuan, Nyonya?”


tanya pria itu dengan hati-hati mengangkat tubuh Lyli dan membawanya masuk ke


dalam kamar wanita itu.


“Hahaha, sudah kuduga, kau pasti datang untuk menemuiku kan,


Al? kau sadar, si ****** itu bukanlah yang terbaik untukmu. Aku dan hanya aku


lah yang mau mencintaimu apa adanya. Tinggalah di sini bersamaku, tinggalkan


kedua wanita ****** yang kini jadi istrimu itu. Oh, aku lupa, kau sudah


bercerai dengan Nayla, kan?”


Bondan hanya geleng-geleng kepala. Selama kurang lebih satu


bulan tinggal di sini bersama Lyli baru kali ini pria itu melihat bagaimana


wanita itu jika sudah lepas kendali dan juga tubuhnya. Biasanya juga selalu


berpakaian dengan benar, walaupun sexi, tapi tidak juga sampai seperti ini.


‘Rupanya dia mengira aku ini adalah pria yang ia sukai


selama ini, hemb,’ batin Bondan sambil tersenyum geli.


Dengan perlahan, dibaringkannya tubuh Lyli di atas ranjang


dengan perlahan. Tapi, siapa sangka. Lyli justri malah memegangi leher Bondan


dengan kencang dan menempelkan wajah pria itu pada dadanya seolah tak inginkan


dia pergi darinya.


“Al, aku inginkan kamu hari ini, ayo lakukan denganku saat


ini juga, si tua itu tidak akan datang, dia tidak bisa memberiku kepuasan batin


hari ini, dan aku sangat ingin, Al. aku mohon.” Lyli melepaskan pakaiannya


sendiri hinga tubuhnya benar-benar polos tanpa selembar benang pun, di hadapan


Bondan yang dia sangka itu adalah Al.


Bondan yang adalah pria normal rasanya juga sudah seperti


ada di ubun-ubun saja sekarang. Terlebih setelah wajahnya sempat tenggelam dia antara kedua bukit kembar Lyli dan di tambah lagi dengan pemandangan indah yang


biasa ia dapatkan jika liburan dan chak in dengan wanita panggilan. Sungguh, ia tidak bisa menyebut kejadian ini sebagai kebetuntungan, atau awal dari sebuah


mala petaka.


Lyli mengerjapkan matanya memandang lebih seksama pada pria


yang kini berada di tepi ranjangnya. Pandangannya sedikit kabur, yang ia lihat antara Al dan Bondan. “Siapa kau? Al, atau Bondan?” tanya wanita itu dengan suara yang sudah tidak jelas lagi.


“Saya Bondan, Nyonya. Jangan sampai ini terjadi, jika sampai


terjadi nanti maka ini tidak akan baik,’' ucap Bodan terbata-bata sambil kedua


tangannya ia gunakan untuk menggenggam selengkangannya. Mungkin dia sudah konak


dan tegang. Jadi, senggaja menggengamnya agar tidak sampai kebablasan. Bukannya


meminta agar pria itu segera pergi, Lyli justru malah melakukan Gerakan erotis yang membuat birahi pria mana pun kian memuncak, ditambah dengan tubuhnya yang


sudah benar-benar polos.


“Bondan, kemarilah, aku tahu kau ingin. Tidak apa-apa. Aku


rahasiakan ini dari bos, oke?” ucap Lyli sambil menarik lengan pria itu.


Dengan ganas Lyli langsung mebuka kancing dan resliting


celana jeans pria itu dan memainkan apa yang bisa ia mainkan. Kemudian langsung


melakukan apa yang sudah dari tadi ia inginkan dari seorang pria, karena ia


sudah tidak tahan, kepalanya terasa pusing dan seolah mau pecah saja rasanya.


Satu jam lebih keduanya bergulat sampai bermandikan


keringat. Lyli pun juga antara sadar dan tidak dengan siapa ia bercinta. Mungkin


ia sadar, pria yang tengah menyetubuhinya adalah Bondan. Tapi, bisa jadi, dia membayangkan yang bersamanya itu adalah Al. jadi, sejak awal permainan hingga


akhir ia terus meracau tidak jelas. Entah, nama siapa saja yang ia sebutkan tadi.


Setelah puas, Bondan segera mengenakan cd dan celan jeannya.


Dengan keadaan telanjangan dada, pria itu meninggalkan kamar Lyli. Beruntung


tidak ada yang melihat. Ia segera masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk beristirahat sejenak karena lelah telah bermain selama kurang lebih satu jam setengah.


Setelah membaringkan tubuhnya, kembali pria itu mengingat


kejadian yang baru saja ia alami. Selama ini ia hanya mimpi membawangkan bisa


menyentuh bagian tubuh wanita itu yang menonjol. Tapi, tidak ia duga sama sekali kalau hari ini dia bisa menjamah seluruh tubuhnya dan berkeringat bersama sungguh, inilah yang di danamakan dream is come true. Mimpi yang menjadi nyata.


‘Lyli, Lyli. Pantas saja boss sangat memanjakanmu, kau

__ADS_1


sangat lihai membuat pria ketagihan karena gerakanmu itu,’ batin Bondan lalu akhirnya ia pun terlelap juga karena lelah.


__ADS_2