
Ujian smester Quen sudah usai sejak tiga hari yang lalu. Mungkin efek terlalu keras berfikir dan pola makan buruk, istirahat kurang, Badannya menjadi drop. sudah tiga hari dia hanya tiduran di apartemennya tanpa memberi kabar orang rumah kalau dia sedang sakit.
PINK
Terdengar suara pesan chat masuk di ponselnya. dengan sisa tenaga dikuat-kuatkan, Quen berusaha menaraih benda pipih yang tergeletak di atas nakas.
[Apakah kau ada waktu? Aku membuat cup cake brownies bersama Axel untukmu, lo]
isi pesan tersebut, di nawah gambar tiga cup kue brownies coklat yang menggoda hati Quen.
dengan lemas Quen berusaha mengetik balasan pesan dari dosennya, Aditya.
[Maaf Pak, bukannya saya menolak undangan Bapak, tapi, saya benar-benar tidak enak badan]
Setelah itu Quen menggeletakan gawainya di atas kasur asal, tidak lagi mempedulikan beberapa kali pesan masuk di ponselnya. dia memejamkan matanya, karena dengan begitu dia merasa sakit di kepalanya terasa lebih baik.
Entah berapa jam dia tidur sedikit pulas, sakit di kepalanya sudah terasa sedikit ringan. Ia dibangunkam dengan suara dering panggilan dari selulernya.
"Halo," jawab Quen dengan mata terpejam. sementara tangan kirinya mengurut lemput pelipisnya.
"Aku ada di depan apartemenmu, bukakan pintunya," sahut suara itu yang terdengar akrab di telinga Quen.
Secara perlahan Quen berusaha duduk, beberapa memit memudian setelah kunang-kunang di kepalanua lenyap, ia berisaha berdiri dan berjalan perlahan merayap di tembok seperti spider man. spider girl kali ya? Quen kan wanita.
Sampai di depan pintu utama, dia memutar anak kunci dan membukanya lebar-lebar, berdiri di sana seorang pria yang barusaja menelfonya.
Aditya tertegun melihat kondisi Quen yang terlihat pucat kemas dan lingkar hitam di kedua kantung matanya, menandakan dia kalau akhir akhir ini bajang begadang.
"Silahkan masuk, Pak." Badan Quen amburk kerena lemas, beruntung, dengan sigap Aditya menangkapnya dan menggandeng mendudukannya di sofa panjang.
"Tenanglah, kau bisa istirahat dulu, Aku mebawakan dua cup brownies untukmu, Quen."
Quen tersenyum, matanya semakin meredup dan terpejam, "Maksih, Pak. Maaf merepotkan karna bapak harus mengantarnya kemari, dan maaf Pak jika saya baringan, kurang sopan. kepala saya benar-benae pusing."
"Tidak apa-apa, kau itirahat saja dulu jangan banyak bergerak, Aku menbawakan Susu jahe madu untukmu, minumlah agar badanmu sedikit ringan, kau ini kelelahan," ucap Aditya sambil membantu Quen duduk dan meminum susu jahe madu yang sengaja dia siapkan di rumah untuk Quen.
"Terimakasih, Pak." Kembali Quen rebahan di atas sofa, matanya terpejam. tapi, ia merasa setelah mengbabiskan setengah botol susu dari Aditya tadi kepala Quem sedikit ringan.
Aditya duduk berjongkok di depan Quen menyodorkan satu suapan cake yang dibawanya dari rumah kepada Quen.
Gadis itu tertawa, dia memang biasa disuapi orang tuanya, bahkan juga Al sang kakak, jika pun ada tangan pria lain menyuapi, ya cuma Alex. Tapi, kali Aditya, sang dosen. Astagaaa apakah aku ditakdirkan selalu disayangi oleh seluruh penghuni jagat raya ini? Umpat Quen dalam hati.
"Pak, aku bisa makan sendiri," ucap Quen berusaha meraih cup cake dari tangan Aditya.
"Satu suat saja," ucap Aditya setengah memaksa.
Quen pun membuka mulutnya menerima suapan dari Aditya, lalu, mengunyahnya perlahan.
"Quen sebenarnya aku kemari butuh bantuanmu, bisakah kau menolongku?" Terlihat
"Minta tolong apa, Pak? katakan saja, jika saya bisa, saya bantu." jawab Quen.
"Emmm begini, aku menyukai seorang gadis, tapi, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.
"Lalu?" Dahi Quen mengisut seolah berfikir, apa hubungannya ini dengan dirinya?
"Aku perlu bantuanmu untuk berlatih."
Quen mendadak melompat duduk tegak seperti yang tidak sedang sakit saja.
"Maaf pak, bukannya Bapak sudah pernah menikah, ya?"
"Iya, tapi itu sudah lama sekali, Quen. aku lupa dan agak nervous, bisakah kau membantuku untuk berlatih?" Sekali lagi, Aditya memohon.
"Ya tinggal katakan saja, Pak apa yang ingin anda sampaikan pada wanita itu."
Aditya memberika cake itu kepasa Quen, lalu, ia menggesser tubuhnya menjauh dari gadis itu dan duduk berhadapan di sofa tempatnya semula.
"Aku tahu, mungkin ini terlalu cepat, tapi, sejak pertama aku melihatmu aku merasa ada rasa yang berbeda. Dan kerika kumendengar suaramu, tawa dan ceriamu, seolah ada rasa mengukir di sudut relung hatiku. Maukah kau menikah denganku?"
Quen diam sesaat merasakan getaran yang sudah lama tak lagi dirasakannya. Namun, kemudian dia segera sadar kalau ini hanyalah moment berlatih bagi Pak Aditya. Mau tak mau, dia harus keluar dari getaran itu.
"Quen."
Gadis itu berkedip cepat, kembali menatap Aditya dan menjawab, "Baiklah, aku akan menikah denganmu. Wajahnya memucat bukan karena sakit di kepalanya, melainkan, ia benar-benar baper dengan apa yang dikatakan Aditya barusan. Seolah itu nyata bukan sekedar latihan.
__ADS_1
Aditya tersenyum mendapati gelagat Quen yang nampak nervous, yang ia artikan sebuah harapan.
"Mudah bukan, Pak? Cepat katakan padanha sebelum dia bosan menunggu dan pergi dengan lelaki lain." Quen meraih membali cup cake dan sendok dan menakannya lagi.
Aditya kembali mendekat dari Quen. "Kau yakin, dia akan menerimaku?"
"Aku rasa iya, bukannya kau hot dady idapan para gadis dan janda muda? Memang kalau boleh tahu, siapa gadis itu, Pak?" tanya Quen seraya menyuapkan sesendok cake ke dalam mulutnya.
"Kau."
Terkejut. Quen memasukan sesendok cake ke dalam mulutnya dengan cepat. Benda itu tertahan di pangkal lidah, meluncur lalu sesaat kemudian Quen mesa ada benda yang mengganjal di kerongkongannya lalu kemudian terbatuk-batuk.
"Quen, apakah kau baik-baik, saja?" Panik Aditya sambil menepuk pelan punggung Quen berkali-kali, menyadari bahwa Quen tertelan cincin yang ia letakan ke dalam cup cake buatannya. Astaga Aditya, kejutan macam apa ini yang kau berikan kepada Quen.
Kini Aditya berada dalam kepanikan yang luar biasa hingga membuatnya beku tak mampu berfikir dengan jerni, "Quen, iam so sorry." Lirih Aditya.
Sementara wajah pucat Quen berubah merah. Sekuat tenaga gadis itu berusaha mendorong kuat benda itu keluar. Bersama susu jahe yang bulum tercerna, sebuah cincin meluncur ke lantai hingga menimbulkan suara dentingan kecil.
Aditya berlari ke dapur mengambil segelas air putih, namun saat ia kembali langkahnya terhenti saat melihat Quen memegang cincin itu.
"Bisa dijelaskan, Pak. Apa maksut semua ini?"
"Quen, maafkan aku, sunguh, aku..."
"Apa kau barusaja berniat melamarku?" potong Quen sambil menatap tajam ke arah Aditya, sementara napas gadis itu masih belum normal.
"Sepertinya begitu."
"Dengan nyaris membuatku kehilangan nyawa?"
"Sungguh, Quen. Aku tidak bermaksut begitu, tapi, aku tidak tahu bagaimana cara memberimu kejutan."
"Pak, kurasa kau ini sudah berpengalaman. Tidak adakah cara yang lebih romantis dadi ini?" Protes Quen.
Aditya berjalan mendekat dan memberikan gelas berisi air putih yang hampir penuh kepada gadis itu
"Aku tidak setiap hari melamar wanita, Quen."
Quen melihat rasa bersalah tersirat di wajah Aditya. Jelas saja, kejadian barusan sangat konyol, bahkan bisa berakibat fatal baginya.
"Menurut Bapak?" Quen menyesap air putih yang diambilkan Aditya, rada dingin mulai membasai kerongkongannya, membuatnya merasa lebih baik.
"Aku tahu, Quen. Ini begitu konyol, tapi, sungguh aku tidak sengaja melakukannya, dan untuk kata-kataku tadi, aku tulus dan serius melamarmu."
"Pak, tidakkah kau berfikir yang tadi itu bukan hanya konyol? Jika saja cincin itu membuatku mati, apakah dunia pemberitaan tidak akan geger dengan ini? Mereka akan berlomba-lomba memuat berita ini dengan judul, MELAKUKAN HAL ROMANTIS LAMAR GADIS IMPIANNYA MALAH MENGANTARKAN KE GERBONG MAUT, atau UNGKAPAN CINTA YANG BERTUKAR NYAWA. Tidakah kau berfikir jika itu terjadi para netizen akan menertaimu, bahkan yang lebih parah saat mengetahui kau dosen di unive besar sekaligus seorang dokter apakah tidak berkomentar betapa bodohnya anda, Pak?"
"Iya, aku mengerti salah, tapi, sungguh aku serius melamarmu, Quen. Apakaj kau mau menikah denganku, membangun rumah tangga bersama menjalani kehjdupan berdua dengan mimpi serta tujuan yang serupa?"
Quen menundik menatap Aditya ya g tengah berjongkok dengan menyodorkan cincin yang barusaja diraih dari tangannya kepadany.
"Kenapa Bapak datang kemari dan yakin aku akan menerima lamaran Bapak?"
"Aku tidak yakin mau menerimanya, Quen. Aku hanya menyampaikan perasaanku padamu saja. Tapi, jika kau menolaknya, yang penting aku sudah mengutarakan kemauan dan maksut hatiku padamu.
"Siapa yang bisa menolak lelaki sepertimu, Pak? Hanya saja...."
Aditya menunduk, dia merasa kalau Quen akan menolak, selain jarak jsia yang terlampau jauh, ia juga duda dengan satu anak. Sementara Quen seorang gadis yang usianya belum genap duapuluh tahun, yang biasanya hanya tahu pacaran dan bersenang-senang saja.
"Hanya saja apa?" tanya Aditya seolah tak sabar.
"Berikan aku waktu untuk berfikir sejenak. Bagaimanapun ini terlalu cepat."
"Baiklah, kau jaga diri, ya. Istirahatlah. Aku akan pulang." Aditya menepuk kedua pundak Quen menatap matanya dengan intens lalu beranjak dan pergi.
Setelah Aditya pergi, Quen kembali merengungi insiden barusan. Bukan soal ia hampir tertelan cincin. Melainkan, ia dilanar Aditya, dosennya sendiri. Dosen yang selalu disambut antusian dibsetiap kelas, karena ketampanannya selalu jadi idola banyak mahasiswi.
Sejurus kemudian pandangan mata Quen tertuju pada cangkan kerang besar yang di dalamnya ada sebuah kalung mutiara asli pemberian Alex dua tahun silam saat ia masih menjalin hubungan bersama.
Tangan Quen meraih benda itu, membukanya mengambil kalung di dalamnya. Lex, dengan perubahanmu selama ini aku berharap kau mengajakku untuk bersama seperti dulu. Tapi, malah orang lain yang lebih dulu melamarki, tidak hanya berpacaran saja yang kebanyakan putus akhirnya.
Semalaman penuh Quen merasa dilema, ia tidak bisa tidur sama sekali pikirannya tidak tenang.
Ia melihat waktu telah menunjukan pukul duapuluh tiga. Ia mencoba melihat aplikasi ojek online kali aja masih ada yang mau, mengingat ibu kota tidak pernah tidur, semakin malam maka semakin ramai.
Dengan hanya mengenakan piyama dan sandal tidur Quen kembali ke rumah Andrean. Sekitar lima menit menunggu di depan pintu, pintu terbuka dan Al nampak di hadapannya.
__ADS_1
"Quen? Masuk!" Serunya kaget melihat semalam ini adiknya datang, terlebih di apartemennya dia tidak ada kendaraan.
Al mengajak duduk di meja makan membuatkan teh hangat untuk adiknya yang nampak pucat, wajah dan telapak tangannya sangat dingin.
"Kau naik apa barusan? Kenapa tidak memintaku menjemputmu jika ingin pulang?" Al menyodorkan teh hangat kepada Quen.
Quen menggenggam erat mug dari Al merasakan hangat pada kedua tapak tangannya, lalu meminumnya sedikit demi sedikit.
"Aku takut menganggu, ini sudah larut kurasa kalian sudah pada tidur," ucap Quen.
Al berdecak kecil, lalu jika semua dah tidur bagaimana kau bisa masuk? Bahkan kau tidak membawa kinci serep."
"Aku bisa tidur diteras, lagian, selama ada di dalam pagar, tak mungkin kam aku diangkut satpol pp?" ucap Quen dengan tatapan kosong.
"Kau sakit?" tanya Al mendekatkan wajah pada adiknya.
Quen mengangguk, "Cuma sakit kepala saja, tensiku sedikit rendah."
"Pergi ke kamarmu, jangan begadang. Jika ada yang ingin kau sampaikan pada kakak, besok kita bisa ngobrol berdua saja." Al menintun Quen menaiki tangga.
Tiba di kamar Quen Al membetulkan posisi bantal untuk adiknya, dia berjongkok di sebelah tempat tidur memijat lembut kelapa Quen sampai akhirnya gadis itu terlelap dan Al pun kembali ke kamarnya.
🌸 🌸 🌸 🌸
Rupanya semalam Quen tidur sangat nyenyak, sampai jam enam lebih dia bahkan belum bangun.
Ia mengetahui karna di dalam kamar adiknya tidak ada suara apapun, dan bahkan di meja makan Quen tidak ada di sana.
"Ma, semalam Quen pulang sekitar jam setengah dua belas," ucap Al duduk di sebelah Andreas.
"Sama siapa? Tumben dia pulang malam-malam. Apakah dia ada masalah?" tanya Clara panik.
"Tidak tahu, sepertinya dia sedang sakit. Mungkin dia masih ada dikamarnya dan malas bangung," sahut Al sambil menyesap secangkir kopi yang tersedia di depannya.
"Aku ada di rumah orangtuaku, kau kemari saja."
Saat Clara tiba di depan pintu kamar putrinya, ia mendengar putrinya berbicara. Mungkin dengan temannya lewat telfon. Jadi, ia mengurungkan mengetuk pintu dan menunggu sampai tidak tersengar lagi suara orang berbicara.
"Quen, kau sakit, Sayang?" Clara langsung masuk ke dalam kamar Quen yang tidak terkunci itu.
Gadis itu langsung menoleh ke belakang setelah meletakan gawainya.
"Mama, sejak kapan di sini?"
"Barusaja, mama baru tahu kaunpulang semalam kakakmu yang bilang. Kenapa tidak membangungkan kami?" ucap Clara sambil mengusap usap kepala Quen beberapa kali.
"Quen gapapa kok, Ma. Uda baikan cuma kecapekan habis ujian."
"Ya sudah, ayo sarapan bersama!" Ajak Clara.
"Quen mau mandi dulu deh, Ma," ucap Quen segera beranjak mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi.
Clara hanya tersenyum melihat tingkah putrinya itu, "Baiklah mama tunggu kau di bawah."
Usai mandi Quen mengikat kuda rambutnya dengan rapi. Ia mengenakan rok selutut berwarna maroon dan atasan singlet belang merah putih lalu turun ke bawah. Tepat dia tiba di anak tangga terbawah ia mendengar suara bel berbunyi. Dengan segera ia berlari untuk membukanya.
Ternyata Lyli lebih dulu membuka pintu ruang utama, karena kebetulan ia menyapu di dekat area pintu.
"Mencari saiapa, Tuan?" tanya gadis itu kepada pria berbadan tinggi dan atletis itu.
"Saya mencari Quen. Dia ada?"
"Masuklah!" Teriak Quen dari belakang Lyli.
Quen sudah menduga ia akan bingung, sebab. Dia tidak tahu kalau semalam dirinya pulang.
Alex tersenyum tipis pada Lyli sambil menunduk dan lewat menghampiri Quen.
"Aku tadi datang ke apartemenmu membawakan bubur ayam favoritmu lo," ucap pria itu sambil memberikan kresek putih transparan berisi box berwarna pink.
"Kau repot-repot aja, sih? Siapa yang menasaknya?" tanya Quen dengan nada yang manja.
"Kakakku, aku mana bisa?" ucap Alex sambil terkikik sendiri.
"Ayo sarapan bareng, sekalian temui keluargaku!" Ajak Quen.
__ADS_1