Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 92


__ADS_3

Ceklek."


Nayla tersentak menoleh ke arah kamar tamu dekat ruanf tengah saat mendengar suara pintu dibuka. Ia memaksa tersenyum meski masih melihat kemarahan di wajah suaminya yang nampak berdiri di ambang pintu dengan muka kucel dan rambut berantakan. Namunz tetap saja terlihat tampan dan menggemaskan.


"Kau sudah bangun, Mas?" tanya Nayla dengan harapan Al memjawabnya dengan lembut seperti yang sudah-sudah.


Sementara Lyli masih berlagak sibuk dengan kerjaannya. Padahal, dia hanya menguping. Dan ingin tahu kebenaran tentang hubungan mereka berdua setelah dari kemarin Nayla terlihat aneh.


Nayla melangkah mendekati Al. Wanita itu hendak memegang tangan suaminya, tapi, pria itu telah lebuh dulu menepisnya.


"Mas, Al... "


"Kak, rumah kok sepi banget. Pada kemana?" tanya Al tanpa menoleh ke arah Nayla yabg ada di depannya.


"Mereka keluar bersama setelah sarapan, Mas. Katanya mau ke panti-panti buat nyalurin bantuan dan sumbangan," jawab Lyli senang.


"Ooo." Al mengangguk pelan, ia hendak masuk ke dalam kamar lagi, mungkin melanjutkan tidurnya. Dari pada hanya diam di rumah sendiri mungkin begitu pikirnya.


Tapi, dengan sigap Nayla meraih pergelangannya. "Tunggu dulu, Mas. Kau kemana saja dari kemarin, nomor tidak aktif!" Seru wanita itu.


"Kemana pun aku kemarin, gak ada urusannya dengan kamu dan tidak pula alu selingkuh dengan wanita yang kau tuduh." Al menghempaskan tangan Nayla dengan masar dan kembali masuk ke dalam kamar.


Nayla semakin bersikukuh mengintrogasi suaminya. Ia mengejar dan ikut masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu itu dari dalam agar Lyli tidak tahu, atau minimal tidak mendengarkan apapun dengan jelas selama dia dan Al tidak berteriak berlebih.


"Kau bilang apa, Mas barusan?  Bukan urusanku? Aku ini istrimu, Mas. Aku berhak tahu kemana kau pergi dan kenapa nomor seharian tidak aktif, aku berhak."


Al malas, ia membuang mukanya ke samping menghindari kontak mata dari wanita di depannya. Yang ia lakukan kali ini adalah, berusaha keras agar kata talak tidak jatuh pada istrinya, atau rumah tangganya akan hancur saat itu juga.


"Nay, kau pergilah! Aku perlu istrirahat."


"Tidak! Kemana saja kau semalam? Bahkan saat ini kau bau miras, Mas."


"Memangnya kenapa?" Teriak Al. Emosinya kembali tersulut.


"Kau bahkan kutanya dengan baik-baik saja marah, aku bahas tentang Quen marah bahkan sampai menamparku dan menurunkan aku di tengah jalan. Jangan-jangan benar yang kukatakan. Bukankah laki-laki marah jika kebohongannya diketahui istri, dan semakin marah hingga tangannya melayang setelah dia merasa terpojok." cecar Nayla dengan emosi yang meledak ledak.


"Kau sudah gila, Nay. Kau tidak usah tanya macam-macam lagi, yang perlu kau lakukan datang temui psekeater. Priksakan kejiwaanmu karna sudah sangat-sangat bermasalah."


"Tapi benar, kan Mas kau dan Quen pernah tunangan? Alasan perjodohan dari orang tua padahal kalian juga sama-sama suka. Karena malu dengan omongan orang kalian memutuskan untuk putus dan kau menikah denganku lalu Quen dengan Aditya meski sebenarnya tidak cinta."


Lyli tersenyum mendengar dua insam itu benar-benar bertengkar hebat.  Menyadari tidak ada orang satu pun selain mereka berdua yang tengah panas-pansanya, ia pun berjalan mendekat dan menempelkan telinganya agar  dapat mendengar pertengkaran mereka lebih jelas.


Lyli tersenyum puas ketika berkali-kali mendengar nama Quen di sebut-sebut oleh Nayla. Dan penjelasan Al sedari tadi tak dipercayai.


"Bagus, tsrus saja ribut dan bercerai. Lagi pula, pernikahan dibangun agar bahagia kalau sudah begini bukannya pisahan lebih baik?" gumam Lyli dalam hati.

__ADS_1


"Nay, kau kenapa bisa mengatakan aku pernah bertungan dengan Quen? Kau tau dari siapa?" tanya Al lirih. Karena mulai merasa ada yang tidak beres.


'Jadi selama ini dia cemburu dengan Quen habis-habisan bukan karna tanpa alasan tapi, memang ada provokator di balik semua ini. Tapi, siapa? Dan, ya... Nayla sedikitpun tidak terlihat benci kepada Quen. Dia hanya akan marah bahkan meledak-ledak jika mendapatinya bersama aduk angkat yang super manja itu,' pikir Al.


Dia baru sadar, marah tidak ada gunanya. Saat ini yang perlu ia lakukan adalah membuat Nayla mengakui dan mengatakan dari siapa ia mendapatkan berita gak jelas ini. Lantas, apakah Al harus mengatakan kalau wanita yang pernah hampir bertunangan dengannya dulu adalah Lyli asisten rumah tangga ini bukan Quen agar Nayla tak lagi menarug curiga. Tapi, bagaimana kalau ia meminta agar Lyli di pecat? Bukannya Lyli sudah lama bekerja si sini dan...


Ah, sepertinya tidak masalah. Al bisa bantu Lyli mencari pekerjaan yang lebih baik dari ini.


Al menghirup napas dalam-dalam. Lalu menghembuakannya perlahan dari mulutnya. Ia melihat ke arah Nayla menatap mata yang penuh dengan amarah kecewa dan juga cemburu. Ia sadar wanita tidak akan begitu jika tidak benar-benar cinta dan takut kehilangan. Terlebih selama ini Nayla juga tidak pernah hidup berlebihan, melakukan shoping dan sebagainya seperti wanita yang dinikahi orang tajir seperti kebanyakan. Meski ia tahu kalau uang Al tak akan ada habisnya untuk itu. Yang dilakukannya selama ini tak labih dari hanya mencari kenyamanan dan perhatian darinya saja.


Al berjalan mendekati Nayla. Ia meraih kedua pergelangan tangan wanita itu dan membawanya dalam peluakannya. Dan benar saja wanita itu tidak menolak meskipun terlihat marah dan benci.


"Masalah ini tidak akan ada habisnya jika tidak diusut dari akarnya. Hay, wanita manja. Kau tau dari mana kalau aku pernah tunangan dengan adikku sendiri dan bagaimana kau tidak mengatakan itu dari awal padaku dan mencari kebenarannya benar atau salah, hah?" ucap Al lirih dengan nada sok marah tapi dari nada dan eskpresinya menujukan tak ada emosi sedikitpun.


"Lalu, benar tidam semua itu?" tanya nayla balik.


"Kalau aku bilang tidak benar, kau percaya tidak?"


"Tapi, kau pernah kan berhubungan dengan wanita sebelum denganku? Lalu kalau bukan Quen, terus siapa dong?" ucap Nayla dengan suara yang kian melemah.


"Aku beri tahu yang sebenarnya. Tapi, kau harus berjanji menjawab semua pertanyaanku dengan jujur, gimana?"


"Baiklah. Katakan siapa?"


"Dulu, setelah aku lulus kuliah dari Jepang aku kembali ke rumah inu pembantu lama sudah tidak bekerja lagi, melainkan sudah diganti dengan Lyli. Katanya sih dia sudah dua tahun lebih bekerja di sini. Jadi, dia sudah dekat dengan siapapun termasuk Quen. Kau tau, kan bagaimana Quen dia memiliki kepekaan diatas rata-rata dan mudah menyadari sesuatu yang mungkin orang lain belum menyadari dia sudah lebih dulu sadar, kan?


"Lalu apa hubungannya denganmu yang baru pulang dari Jepang?" tanya Nayla tanpa melepaskan pelulan dari Al.


"Ya itu, diansering curi-curi pandang dan curi fotoku. Lalu mengamatinya sambil senyum-senyum saat kerjaannya selesai. Ketika itu dua tertangkap basah oleh Quen memandang fotoku dan mencium di hpnya. Jadi, dia menjomblangkan aku dengan Lyli. Awalnya aku menolak karna tidak suka dengannya tapi, melihat Quen sudah sangat akrab dan dia sudah lama bekerja di sini. Apa salahnya, kan? Aku menerima walau terpaksa. Dalam benakku saat itu hanyalah mencari istri yang bisa baik dengan orang tua dan adikku. Jadi, jika kau membenci Quen, aku akannsangat sakit."


Dengan cepat Nayla melepaskan diri dari pelukan Al. Ia nampak merasa ada yang salah dan ganjal dengan apa yang diketahuinya selama ini dan bertanya kepada Al yang hampir membuka semua sebab dari kesalah pahaman di antara keduanya selama tiga tahun belakangan ini.


"Jadi wanita yang sebenarnya memiliki hubungan dengan mu itu adalah Lyli, bukan Quen?"


"Ya, dan bagaimana kau bisa malah mengira kalau itu Quen, Nay?" jawan Al sambil mengangguk dengan santai dan tenang.


"Ya ampuuun... Selama ini aku dibohongi olehnya. Dan bodohnya lagi aku percaya, Mas," ucap Nayla sambil menempelkan kedua tangannya dengan sedikit menjabak rambut.


"Siapa yang membohongi mu?"


"Begini, Mas. Dulu, aku ingat Quen sangat bahagia dengan pernikahan kita, kan? Dia sangat mudah akrab denganku. Sebelum ke Jepang dia pernah bilang katanya aku wanita pertama yang kau cintai dan yang kau pilih sendiri. Lalu, aku bertanya memang pernah ada perjodohan gitu, Quen? Dia mengelengkan kepalanyam dan berkata. Pernah menjalin hubungan dengan wanita tapi, dipaksa karena wanitanya suka duluan. Habis sudah tua gak juga nikah. Ya cuma dari situ, Mas. Setelahnya dia berlari karna momy Jeslyn memanggilnya." Terang Nayla.


"Ya, memang kenyataannya seperti itu. Lalu, kenapa kau punya asumsi kalau wanita itu adalah Quen? Apa kau pikir Quen sebodoh itu mengatakan hal itu jika benar Quen yang akan jadi tunanganku?" tanya Al.


Nayla diam sejenak dan membenarkan apa yang suaminya tuturkan barusan. Bukan Quen. Tapi dialah yang bodoh karna mudah percaya dengan omongan orag.

__ADS_1


Saat itu Lyli mendengar dia menghampirikubdan berkata kalau ia sudah mendengar semuanya.


Flash back***


"Saudari ipar yang akrab. Saya udah dengar semua yang kalian bicarakan lo, mbak Nay," sahut Lyli sambio tersenyum dan mendekati Nayla yang duduk di sofa ruang tengah.


Sementara Nayla hanya tersenyum dan menggeser duduknya sedikit ke samping, memberi isyarat untuk gadis itu duduk di sebelahnya.


Lyli pun duduk di samping Nayla lalu tersenyum dan berkata, "Aku sudah lama di sini jauh sebelum mas Al kembali dari Jepang. Jadi, aku tahu banyak tentang mereka berdua selama ini."


"Iyakah? Jadi, Kak Lyli tahu siapa yang dulu pernah manjalin hubungan dan hampir tunangan dengan Mas Al?" tanya Nayla penasaran. Awalnya dia merasa bangga dan beruntung dari gadis itu. Sebab, Al lebih memilihnya dari dia sekalipun Nayla janda dengan satu anak dan tak punya apa-apa, pula.


"Coba anda pikir, apakah hubungan mereka sebagai kakak beradik itu wajar? Mereka cuka saudara akngat, yang sodara kandung aja pasti ada berantemnya ada irinya sekalipun beda yang sejenis, apalagi ini benda jenis. Dan lihat saja apakah nona Quen ada rasa iri ketika mas Al mendapatkan bagian terbesar dan dipercaya sebagai penerus tuan tua Andreas dalam urusan perdagangan pesawat jet itu? Pasti ada apa-apa, kan? Kalau mereka menikah ya sama ja harta orang tua tetap milik mereka. Dan setelah menikah denganmu baru Quen meminta semua dibagi rata. Apakah tidak mencurigakan?"


"Maksut kak Lyli mas Al dulu ada hubungan dengan Quen?" tanya Nayla serius.


"Aku tidak meng iyakan. Cari dan temukan sendiri jawabannya. Mereka baik-baik saja. Quen paling demen memeluk Al dari belakang dan meminta gendong kakaknya. Kalau pun terjadi perjodohan di antara mereka dulu, kurasa bukan terpaksa. Tapi, kebanyakan orang tak tahu kalau mas Al anak angkat tuan Vano dan Nyonya muda Clara." Lyli pun berdiri dan pergi meninggalkan Nayla seorang diri.


Setelah Lyli pergi Nayla berfikir keras mengenai hubungan Al dan Quen. Terlebih saat itu juga dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Al mencium pipi Quen. Dan Quen juga tidak malu-malu meminta kakaknya mencium lagi pipi sebelahnya.


Dugaan kalau Wanita yang di maksut Quen adalah dirnya sendiri akibat provokator dari Lyli pun kian kuat.


Come back***


"Hah, Lyli berkata seperti itu padamu, Nay?" tanya Al kaget. Seolah dia tidak percaya kalau gadis itu bisa berbuat sehina itu.


"Ya, apa kau pikir aku mengada-ngada? Aku tidak bencu Quen. Aku hanya tak bisa melihat dia akrah denganmu jika masa lalu kalian pernah ada yang spesial lebih dari kakak beradik gitu."


"Kau tak mau tahu siapa wanita yang pernah ada hubungan denganku sebelum ini?" tanya Al.


"Siapa, Mas?" tanya Nayla kian penasaran.


"Ya Lyli sendiri."


"Hah?" Nayla terkejut mendapati jawaban dari suaminya. Bahkan kalau di pikir-pikir wanita ular itu sengaja menghancurkan hubungan baik mereka bertiga demi sebuah dendam. Munkin.


"Apa jangan-jangan dia tidak terima digagalkan pertunangannya olehmu ya Mas? Makanya dia melakukan ini pada kita agar kau cerai sama aku. Ah, mungkin wanita ular itu masih menyukaimu, Mas." Keluh Nayla dengan wajah melas.


"Ya, bisa jadi. Tapi kan aku tetap pilih kamu, Nay. biarkan saja dia sekarangkan semua sudah jelas. jadi, apakah kau masih cemburu jika aku memberi perhatian pada adikku yang tengah mengandung keponakanku itu?" tanya Al dengan lembut.


"Mungkin tidak. tapi, apa yang membuatmu tiba-tiba membatalkan pertunangan itu dengan Lyli?" tanya Nayla penasaran.


Al nampak diam sesaat dia tampak berfikir mempertimbangkan sesuatu. tapi, kalau soal dirinya anak yang di buang di panti asuhan, besar di panti karna di buang Jeslyn dengan alasan melindunginya, itu sepertinya tak perlu ditutupi lagi. Nayla mungkin sudah tahu. dan lagi, sebelum menikah dia juga sempat beberapa bulan tinggal di panti. Pasti Umi Fatiya sudah bercerita sedikit banyaj mengenainya.


Al kembali menarik napas dalam-dalam dan memandang ke arah Nayla.

__ADS_1


"Kamu mau tau alasannya kenapa, ya?" tanya nya.


"Iya, kenapa, Mas?" jawab Nayla penasaran.


__ADS_2