
Di ruang resepsi Vano duduk di salah satu meja tamu bersama Hans, keponakan Vivian dari mendiang Ricky sang suami, yang ternyata dia adalah sahabat Vano semasa kuliah di FUI.
Tak lama kemudian, Andrean turun dari tangga menggandeng Clara.
Sebelum mata Clara menangkap Vano dan Hans, dia menjumpai dulu Amanda, bersalaman dengannya.
"Vano pinter, pilih istri, cantik sekali," puji Amanda, ibu kandung Vano.
"Ah, Mama bisa aja," jawab Clara malu-malu.
"Kan, benar kamu memang cantik, Ra. Semoga kalian berdua bahagia selamanya ya, Sayang," ucap Amanda sambil memeluk Clara.
Tak lama kemudian Vano menghampiri Clara dan mama kandungnya itu, dia menggandeng Clara mengajak duduk di atas pelaminan.
Keduanya duduk bersanding dengan malu-malu, terlebih Clara, karena semua mata tertuju padanya yang terlihat luar biasa cantik dengan balutan gaun pengantin warna maroon yang membuatnya bak bidadari.
"Uda jam sembilan," kata Vano tiba-tiba.
"Emang, kenapa?" tanya Clara, ga ngerti.
"Kamu, ga capek?"
"Gak."
"Tidur, yuk!"
"Masih banyak tamu."
"Kan, ada papa dan mama."
"Ga enak lah, kalau ninggalin mereka."
"Ini kan malam pertama kita, mereka pasti mengerti."
"Tunggu kalau sudah sepi saja."
"Ok, 30 menit lagi, kalau kamu masih nolak, aku gendong kamu kubawa ke dalam!" ancam Vano.
Clara hanya mendelik tak percaya dengan yang barusaja Vano ucapkan dengan suara sedikit lantang.
"Ra, sebaiknya kamu turuti suami kamu tuh kasian suamimu dah ga sabaran," ucap Eren sambil terkikik bersama Sely
Clara wajahnya memerah karena malu, melihat itu para sahabatnya tidak berhenti malah menjadi-jadi saja untuk menggoda Clara.
10 menit kemudian, Andrean berbisik pada Vano, untuk mengajak Clara istirhat dulu, "Van, ini uda malam, kamu sama Clara istirahat saja dulu!"
Vano merasa lega dengan ucapan sang ayah, batinya sih, kenapa gak dari tadi saja, cuma dia pura-pura berkata, "Tapi, pah, kan masih banyak tamu."
"Biar kami yang urus, kalian istirahat saja, gih," sahut Vivian.
Vano melihat ke arah Clara yang pura-pura tidak mendengar apa-apa dengan tatapan penuh kemenangan, "Ayuk!"
Clara tidak menjawab apapun selain bangkit dari duduknya dan perlahan berjalan dengan dituntun Vano.
Clara dan Vano menuju hotel, sengaja mereka tidak minta antar sopir, dengan alasan tidak mau merepotkan, karena pagi-pagi sekali mereka akan kembali ke rumah untuk sarapan bersama saudara yang menginap.
Vano memarkirkan mobilnya agak jauh dari pintu masuk hotel, sepanjang jalan dia menggandeng tangan kanan Clara, sungguh tak bisa dipungkiri, malam ini mereka benar-benar telah menjadi sepasang suami istri yang sah.
"Van, aku tadi kaget banget, loh mengetahui kamu sahabatnya kak Hans," kata Clara.
"Aku juga hampir ga percaya, sekarang dia jadi saudara sepupuku," jawab Vano sambil terus menggandeng tangan Clara melewati loby.
__ADS_1
"Kapan kalian terakhir ketemu?"
"Ya awal jadian sama Dela dulu," jawab Vano, merasa tidak enak dengan Clara karena bahas mantan, dengan cepat dia meminta maaf pada Clara. "maaf .... "
"Tidak apa-apa, aku juga uda lama ga ketemu dia, semenjak dia bertugas ke Kanada, dia jarang sekali pulang, terlebih 1 tahun terakhir ini kami loskontack."
"Ra, meski kalian tidak begitu dekat, sepertinya Hans sangat sayang dan peduli sama kamu, ya?"
"Oo pasti, dia memang kesayangan semua saudarinya, karena dia selalu melindungi kami, emang kenapa?"
"Tadi dia menitipkan kamu ke aku, dia memintaku untuk menjaga kamu baik-baik dan tidak boleh nyakitin kamu."
"Itulah, Van, meski dari kecil aku tidak memiliki ayah, tapi Hans bisa memberiku perlindungan seperti seorang ayah pada putrinya. Ya kakak laki-laki sih, usia kami cuma terpaut tujuh taun an saja."
Jarak kamar mereka sudah sekitar 20meter, dengan tidak sabaran, Vano mengangkat tubuh Clara dan membopongnya membawanya ke kamar mereka.
"Van, apa yang kamu lakukan, malu kalau kelihatan orang!" ucap Clara kaget.
"Ini sudah malam, kamu lihat! Sepi, para penghuni sudah pada tidur," ucap Vano terus berjalan.
Clara menjerit ketika dirinya dijatuhkan di atas ranjang dan Vano menindihnya, cukup lama keduanya saling bertatapan. Hingga akhirnya mulai mendekatkan wajah mereka.
Baru saja Vano mau mencium Clara, tapi handphone sialan milik Clara berbunyi, "Aku angkat dulu ya, Van. Jangan-jangan telfon penting dari rumah."
[Halo Clara, eh sory ya cyn eyke ga bisa hadiiiir, bener bukan inginnya eyke, tau sendirikan, eyke sibuk,] jawab penelfon itu begitu panggilannya di angkat.
[Ok, gapapa, Win. Makasih ya atas gaun dan mekapnya, luar biasa hebat!]ucap Clara.
[Ya uda, sory mengganggu, selamat berkembang biak, ya daaaa,]ucapnya lalu Erwin menatikan telfonya.
Clara menaruh ponselnya lalu kembali ke ranjang menghampiri Vano.
"Siapa yang telfon?"
"Aku tidak mau bahas apa dan siapa malam ini," Tegas Vano begitu terasa menuntut.
Clara tersenyum dan berkata pelan, "Baiklah. pangeran. aku ngerti."
Tokkk tokkkt tokkk...
Vano mengerang prustasi dan merobohkan tubuhnya di samping Clara manakala mendengar pintu kamarnya di ketuk orang.
"Argh... Siapa, sih malam-malam begini ketuk-ketuk pintu? Mengganggu saja!" umpatnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Dengan cepat Clara menarik slimut untuk menutupi tubuhnya, sedangkan suara ketukan itu terus berbunyi.
"Van, kamu buka gih, siapa tau penting," bujuk Clara.
Tidak ada alasan untuk Vano bisa menolak, karena melihat keadaan Clara dia tidak mungkin membuka pintu, hanya dia saja, meski uda ga pake baju, setidaknya celana panjang masih ia kenakan.
"Maaf, pak mengganggu, ini ada titipan buat bu Clara," ucap pelayan hotel itu yang merasa tidak enak karena dia tau, yang menginap di kamar B496 adalah pasangan pengantin baru yang akan berbulan madu.
"Ok. Makasih, ya," ucap Vano lalu kembali mengunci pintunya.
"Siapa, Van?" tanya Clara.
"Ini ada titipan kado buat kamu," ucap Vano malas.
Clara menerima kado itu, tanpa membuka apa isinya dia meletakannya di atas meja, kembali dia mendekati Vano, menempelkan kepalanya pada dada bidang Vano, namun tak ada respon.
Clara masih bergeming di dada Vano, sekitar 5 menit masih saja Vano diam, malah yang ada dia memalingkan muka.
__ADS_1
"Aku mandi dulu, ya."
Baru beberapa langkah Vano menarik lengan Clara, "Tunggu!" ucap Vano sambil tersenyum.
Dengan mengenakan kimono tipis, Clara duduk berhadapan dengan Vano di ujung kasur, kembali keudanya saling bercumbu, tangan Vano mulai bergerilya menjajahi seluruh lekuk tubuh Clara, "Aduh!" pekik Clara tiba-tiba ketika Vano mulai meloloskan satu lengan kimono dari pundaknya.
Melihat Clara meringis kesakitan dan memegangi perutnya, Vano nampak cemas, "Kamu kenapa, Ra?"
Tanpa menjawab Clara masih merintih kesakitan, dia mencoba bergeser dari posisinya, ada bercak merah yang menodai kain sprei berwarna putih.
"Darah? Ra, aku belum memerawani kamu, tapi kamu uda .... "
"Aku hait, Van. Cepat deh kamu keluar, pergi sana ke ****mart terdekat yang buka 24jam!" pinta Clara sambil memegangi perutnya yang serasa dipelintir.
"Ngapain?" tanya Vano dalam kepanikannya.
"Beliin aku pembalut dan jamu penghilang nyeri datang bulan. Cepat!" ucap Clara hampir menangis menahan sakit.
"I... iya, Ra. Kamu gapapa, kan sendiri?"
"Iya, gapapa, aduh! Sakit banget cepetan, Van!"
Dengan segera Vano memakai asal kemeja putihnya hanya mengancingkan beberapa kancing terbawahnya saja, disambarnya kunci mobil, lalu pergi meninggalkan kamar.
Sementara Clara masih menunggu dengan menahan sakit di perutnya yang sangat luar biasa.
15 menit kemudian Vano datang dengan membawa kantong kresek penuh berisi bermacam-macam pembalut berbagai merk, lalu memberikannya kepada Clara.
"Aku ga tau kamu biasa pake yang mana, di sana banyak macamnya jadi ku ambil semua aja, dan ini, kan, jamunya, benar?"
"Iya benar," ucap Clara sambil menyambar sebotol kirani yang disodorkan Vano. Dan langsung meminum habis jamunya.
10 menit kemudian Clara keluar dari kamar mandi, dia menghampiri Vano yang terlihat masih santai duduk di ujung kursi sambil menghisab sebatang rokok.
"Vano?"
Vano menoleh ke arah, Clara dan meletakkan puntung rokok pada asbak, "Apakah perut kamu masih sakit, Ra?"
"Uda baikan, emmm Maaf ya, Van. Malam ini aku ga bisa ...,"
"Uda, gapapa, kan masih ada besok,"
"Memang, kamu bisa nunggu sampai satu minggu lagi?"
Vano memeluk Clara, "tidak apa-apa, Sayang."
Padahal batin Vano mengumpat, Hulf sialan, malam pertama gagal. Gara-gara telfon dari Erwin, lalu petugas hotel yang malem-malem ketuk-ketuk pintu, arkh.
"Van."
"Iya."
"Tadi di loby ada petugas ceweknya gak?"
"Memang kenapa?"
"Aku was-was aja, habis kamu tidak memasang 3 kancing kemeja teratasmu, lihat dadamu! Jadi terekpos."
"Maaf, biarin saja mereka melihat, kan cuma kamu yang bisa bermanja-manja di sini," ucap Vano sambil mengecup ujung kepala Clara.
"Ya sudah, ayo kita tidur saja, Ra," ajak Vano.
__ADS_1
"Iya!"
Keduanyapun terlelap dengan Clara menyandarkan kepala di dada bidang Vano, dan mulai saat itu pula, Clara menyukai tempat itu, baginya tidak ada bantal yang paling nyaman selain dada sang suami.