Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 188


__ADS_3

Andrean duduk di kursi rodanya sambil menatap teras yang luas. Karena hanya ada kakek yang lumpuh dan seorang pembantu saja selain Nala dan Bilqis, Al sengaja meminta lima orang anak buahnya untuk menjaga rumah. Ia khawatir akan ada hal buruk terjadi.


Raut wajahnya memang menunjukan ketenangan.Tapi jauh dalam pikirannya melayang ke mana-mana, mengkhawatirkan Diaz yang katanya terluka parah, sekalipun sudah ada kabar kalau sudah ditangani dan mendapat perawatan intensif, namun pria itu belum juga sadar. Kini ia tak henti-hentinya memikirkan kedua cucunya, Queen dikabarkan kembali hilang saat Al tiba di lokasi. Ia khawatir jika terjadi sesuatu kepada adiknya ia akan hilang kendali dan down. Jika sampai seperti itu, bagaimana jika Clara dan Vano sadar dan menanyakan kedua anak-anaknya?


“Tuan besar, apakah anda inginkan sesuatu?” tanya salah satu dari mereka saat melihat pria tua itu tatapannya kosong.


“Tidak, aku akan menunggu kabar dari cucuku saja. Apakah ada tanda-tanda kalua Queen sudah ditemukan?”


“Mereka belum memberi kabar, Tuan. Di dalam hutan jaringan sulit dan sering hilang.”


“Ya sudah, aku akan menunggu di sini.”


“Ini sudah larut, Tuan. Sudah pukul sebelas malam, apa perlu saya antar ke kamar anda?”


“Tidak usah, biarkan saja aku di sini. Di dalam kamar aku pasti juga tidak akan dapat tidur, itu hanya akan membuatku merasa bosan. Jika di sini kan ada kalian.


“Kakek apakah tidak mau istirahat dulu?” Tiba-tiba saja Nayla muncul dari balik pintu, dan ia pun juga sudah mengenakan baju piyama lengan pendek.


Andrean sebenarnya enggan menjawab, ia sudah terlalu benci dengan wanita yang ada di sebelahnya itu. Hanya saja Al masih mempertahankan dia, jadi ia pun juga menghargai keputusan cucunya. Ia percaya kalau dia adalah anak cerdas, pasti tidak akan menyia-nyiakan suatu kejadian jika tidak menguntungkan, sekecil apapun itu. Hanya saja, Al masih memilih untuk bungkam saja.


“Bagaimana aku bisa tidur sementara kedua cucuku di dalam hutan sana tengah bertaruh nyawa. Demi menyelamatkan Queen Diaz juga terluka parah di bagian kepala sampai mendapat transfusi tiga kantong darah, serta jahitan di kepalanya juga sangat banyak. Sedangkan ini apa lagi kesulitan yang akan dilewati Al juga kau tidak tahu.’


Nayla diam tak bisa menjawab kakek mertuanya itu. Bagaimana pun tadi siang juga dia melihat sendiri seperti apa Al memarahinya habi-habisan.


“Maafkan aku, Kek. Ini semua salahku, Aku menyesal,” ucap Nayya sambil tertunduk. Namun mempertontonkan air mta buayanya.


“Kau tidak ada gunanya menangis, intropeksi diri apa yang membuat Al jadi dingin dan malas sama kamu. Selama menjadi istri, kau sudah merasa benar tidak melayani dia, menjaga kepercayaan dan kesetiaan padanya?”


Mendengar kakek mertuanya mengucapkan kata kesetiaan rasanya Nayla seperti tersambar petir tepat di mukanya saja. Sebab, selama ini ia juga merasa kalau ada main dengan laki-laki lain saat Al tidak ada di rumah. ‘apa jangan-jangan kakek tahu? Ah, tahu dari mana dia? Dia tidak pernah keluar jika tidak dengan Hanifah. Klau pun ketahuan kenapa tidak langsung menhampirinya, saja? Atau melapor pada mas Al? Tidak mungkin dong mas Al diam saja jika tahu akan hal ini. Tapi ia selama ini juga normal-normal saja sama Jevin di kantor.’


Setelah mengatakan itu, Andrean pun masuk ke dalam, membiarkan Nayla yang masih bermain dengan air mata buayanya di sana. Bahkan orang-orang Al pun juga begitu, mereka buyar, empat orang pergi ke pos satpam, sedang salah satu dari mereka dengan cekatan mendorong kursi roda sang Tuan besar ke kamarnya.


Andrean melihat ponsel yang ia letakan di atas nakas kamarnya berkedip bebrapa kali. Ia meminta pria yang mengantarnya masuk tadi untuk mengmbilkannya. Lalu mengizinkan kembali Bersama teman-temannya.


“Halo, Hanifah, ada apa?” jawab kakek Andrean begitu mengankat panggilan itu, entah sudah yang keberapa kali.


“Kek, aku tadi lihat story Gea di IG Diaz kenapa, Kek? Apakah aku perlu kembali saja ke Indo sekarang?”


“Kau mau klembali, bagaimana dengan tato di tubuhmu? Apakah kau siap bertemu dengan orang tua Diaz dalam keadaan seperti itu? Diaz sudah mendapat penanganan. Tapi, Queen belum ketemu. Orang-orangnya Al kecolongan tadi.’


“Ya Allah, Kek… Kenapa bisa seperti ini? Kenapa tidak lapor polisi saja?’’


Andrean diam, ketika mendengar tangis Hanifah pecah. Kemarin saat Queen menghilang ia ada cerita pada Hanifah, sampai kabar Kalau orangnya Al menemukan Diaz tengah mengejar Aditya yang membawa Queen juga. Tapi yang disesalkan Andrean kenapa mereka diam saja saat tahu kepala pria itu terluka parah. Terlebih saat ini Diaz juga masih belum sadar.


“Hanifah, jika memang kau mencintai Diaz, doakan saja dia. Urus dulu tato-tatomu itu sampai semuanya terhapus barulah kembali ke Indo, kita lanjutkan rencana kita.

__ADS_1


“Baik, kek,” jawab gadis itu sambil terisak. “kakek, cepatlah istirahat,” imbuh Hanifah mengingatkan sang kakek.


Andrean tersenyum lalu berkata, “Iya. Ya sudah, kakek akan istirahat dulu, kamu baik-baik di sana ya?”


Ia pun rebahan di ranjangnya sambil tak henti-hentinya mendoakan Al dan Queen dengan harapan mereka berdua segera kembali dengan selamat.


🍀🍀🍀


Queen duduk di bawah pohon menunggu Diaz yang telah di rawat sambil menikmati roti yang diberikan oleh orang-orang suruhan Al.


“Apakah kakakku nanti juga akan kemari?”


“Iya, dia tadi sudah kami kabari, awalnya ingin ikut bersama kami tapi tuan tua melarangnya, sebab dari kemarin dia sma sekali tidak tidur dan selama semalam dia juga melakukan perjalanan pulang pergi ke Jakarta Bandung.”


‘’Kak Al ke Bndung, ngapain?” tanya Queen sambil bengong.


“Mencari anda, Non, ia mengira kalau anda ikut Bersama tuan Diaz. Tapi ternyata tidak ada.”


Queen diam tidak memberi jawaban.


“Saya perban dulu lukanya, Nona. Ini cukup parah.”


“Tidak usah, saya bisa lakukan saya sendiri, bantu saja pacar saya.”


Setelah itu, para tim medis tak lagi fokus dengan Queen. Mereka membiarkan Queen merawat lukanya sendiri.


Tiba-tiba saja sepasang tangan kekar membekap mulut Queen dari belakang dan menyeretnya jauh. Setelah beberapa meter Queen berhasil menggigit tangan itu dan berteriak minta tolong.


Aditya tak mau ambil resiko wanitanya kabur untuk kesekian kalinya, ia pun mengangkat tubuh itu dan terus berjalan melewati semak-semak yang rimbun.


“Dit, lepaskan aku, mau mu apa sih?’’


“Apa mauku? Kenapa kau harus tanya?” Dengan kasar Aditya menjatuhkan tubuh wanita itu ke atas tanah. Kali ini ia benar-benar marah. Tapi, untuk melakukan hal yang lebih juga tidak bisa, karena tendangan yang dia dapatkan dari Queen tadi sore juga masih terasa sakit.


“Aku tahu kamu suka sama aku. Tapi hubungan antra kita sudah selesai, Dit. Kau kan yang dulu bilang ingin kembali dengan mamanya Axel?”


“Ya, tapi sekarang dia sudah pergi ninggalin aku dan membawa serta putraku, kenapa kau masih saja tidak bisa menerimaku?”


“Mana mungkin, Dit… “ Queen tidak meneruskan kalimatnya, ia terus mundur perlahan, ia menyadari tatapan pria di depannya itu sangatlah ngeri, ia hanya berusaha agar tidak menyinggungnya saja.


“Apa? Kau lebih memilih Diaz dari pada aku? Apa baiknya dia sama aku, Queen katakana cepat!” teriak Adit sambil memegang kedua pundak Queen.


Aditya tidak sadar saat ia menyentuh pundak itu dan mengguncangnya dengan keras, membuat wanita itu terdorong ke belakang. Krena suasana malam yang gelap, serta medan yang licin hal itu membuat Queen jatuh terpeleset ke dalam jurang.


“AAAAAAA…….. Tolong aku, Diiiittttt!” teriak Queen dengan keras.

__ADS_1


Aditya terbelalak kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan, ia tidak berani berteriak, karena yakin orang-orang itu pasti tengah mencarinya. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya lalu menyalakan senter, mencoba melihat sebarapa curamnya jurang itu.


“Queen… Queen, kamu jangan mati. Maafkan aku, Queen, Maafkan aku.’’ Pria itu meratap sambil bersujud di tepi jurang menangisi wanitanya. Ia ketakukan dengan hal buruk yang terjadi, ia tidak bisa menerima kenyataan seandainya esok atau lusa wanita itu ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi, karena ia yakin kalua jurang itu sangat dalam.


Puas menangis dan meratap, Aditya kembali teringat dengan sosok pertama yang membuat Queen membatalkan pernikahan dengannya dulu.


“Ini gara-gara Novita. Iya, wanita itu pantas mendapatkan pelajaran, awas saja!” Aditya pun bangkit dan meninggalkan tempat itu, kembali ke tempat rahasianya sebelum Al dan anak buahnya menemukan dirinya. Tiba di sana, ia membuka pintu di salah satu pintu ruangan yang terdapat di sana. Seorang wanita dengan ciri-ciri mirip dengan mantan istrinya langsung beranjak dan meminta agar Aditya melepaskan dirinya.


“Dit, aku bakal janji sama kamu, tidak bakal mengatakan pada siapaun atas apa yang aku ketahui tentang dirimu yang sebenarnya dan juga tempat ini, aku mohon, Dit. Keluargaku pasti sangat mencemaskanku,’’ ucap wanita itu terus memohon.


Aditya tak menjawab, ia terus membisu menatap wajah wanita yang mengharap belas kasihan terhadap dirinya dengan ekspresi datar.


“Dit, aku janji sama kamu, aku mohon percayalah.”


“Kamu minta aku percaya sama kamu, ya? Hemb.” Pria itu menyeringai sambil membuang muka, lalu melangkah menjauhi wanita itu.


Sedangkan wanita itu berjalan mengekor di belakang Aditya sambil terus memohon tanpa henti-hentinya.


“Nindi, apa sebenarnya yang kau pikirkan sekarang, hah? Kau sudah mengetahui semua rahasiaku dan kau ingin pergi begitu saja? Kau pikir aku bisa percaya dengan mudah denganmu begitu saja?” ucap Aditya sambil menarik kaki boneka sex-nya yang ia simpan di dalam sebuah lemari Bersama toples-toples kaca berisi organ tubuh korbannya yang sudah ia awetkan.


Wanita itu sedikit memalingkan pandangannya dari dalam lemari itu. Meski tidak berbau menyengat, tapi darah yang mulai mengering yang berserakan di sana cukup membuatnya merasa mual, belum lagi di tambah dengan bebrapa organ tubuh seperti sepasang bola mata manusia, hati, otak jantung juga paru-paru yang disimpan pria itu di dalam sebauh wadah kaca yang tembus pandang.


‘’Kau lihat! Masih ada bebrapa wadah yang kosong di sana, kau tahu, aku akan menghentikan setelah semuanya cukup. Dan sepertinya aku butuh satu lagi, itu pun jika aku tidak berubah pikiran,” ucap Aditya sambil memainkan sebuah pisau tajam yang ada di tangannya.


Nindi si gadis malang itu menutup bibirnya dengan tangan kirinya sambil melangkah mundur menghindari Aditya. Ia menangis menyesali nasibnya. Kenapa dulu ia bisa jatuh cinta dengan pria macam itu? Sedikit pun ia tidak pernah menyangka kalau di balik kecerdasan kesantunan, serta juga kelembutannya ada jiwa iblis bersemayam di hatinya, dan semua itu adalah topeng saja.


“Aku mohon Dit, jangan sakiti aku, aku janji akan jaga rahasia ini sendiri, percayalah sama aku,” ucap Nindi yang merupakan seorang prawat baru yang bekerja di rumah sakit Medika Sehat. Gadis itu tidak sadar kenapa dr.Aditya mendekatinya. Yang dia tahu hanyalah dr.Aditya adalah sosok tampan, baik dan sangat hangat, maka dari itu banyak para wanita yang tertarik dengannya sekalipun ia seorang duda.


“Oh, benarkah kau bisa dipercaya?”


“Tentu saja, Dit. Kau harus percaya sama aku.” Gadis itu menangis kian menjadi saat punggungnya sudah bersentuhan dengan dinding, dan Aditya yang memainkan pisau di depannya juga kian dekat nyaris tak berjarak.


“Sayang sekali, aku hanya percaya dengan orang mati saja. Bagaimana, dong?” ucap pria itu sambil menyeringai dan menempelkan ujung pisau pada pipi mulus itu.


“Untuk apa kau mendekatiku jika kau hanya ingin membunuhku, Dit? Salah apa aku sama kamu? Jika tanpa sengaja aku perna menyinggungmu, maafkan aku.” Gadis itu memejamkan mata dengan erat, ia merasa ngeri dengan pisau yang terasa tajam menempel di pipi kirinya.


“Mau tahu apa salahmu? Salahmu adalah, kenapa kau mirip sama wanita keparat itu? Kau mirip Novita, Nindi, aku benci wanita itu, dua kali mengancurkan hati dan hidupku, itulah kenapa aku muak melihat kamu.’’


Nindi badannya merosot tersungkur di atas lantai, tangisnya kian tersedu-sedu karena ketakutan.


“Memang selama ini kau pikir apa? Kau pikir dengan mendekatimu itu berarti aku tertarik sama kamu? Kau pikir aku mengencanimu setiap malam aku benar-benar cinta sama kamu? Kau salah, salah Nindi, kau salah besar. Hahahaha.”


"Lalu apa hubungannya antara aku dan dia? Apa kah mirip bisa dijadikan alasan? Itu tidak Etis, Dit. Yang menyakitimu dia bukan aku."


"Ya, tapi melihatmu dan orang-orang sepertimu aku sakit. korbanku itu semuanya persis kamu. gara-gara Novita pula wanitaku pergi meninggalkan aku, jika bukan karena dia, sampai detik ini dia akan baik-baik saja, kau tahu apa? dia sampai jatuh jurang berawal dari Novita."

__ADS_1


Tak mau buang-buang waktu lagi, Aditya langsung menusuk bakian perut gadi malang itu. Matanya terbelalak melotot, disusul dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.


__ADS_2