Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 14


__ADS_3

Tiga hari kemudian Al sudah bisa pulang dari rumah sakit. Seperti dulu saat keduanya masih kecil, jika salah satu dari mereka ada yang sakit satunya akan selalu menemani dan membantu mengambilkan keperluannya. Sungguh saudara yang sempurna.


"Bagaimana hasil ujian kamu, Quen? Ada yang mengulang tidak?"


"Tidak, Kak. Nilai rata-rata kemarin sih, delapan koma lima," jawab Quen sambil tersenyum bangga.


"oh, ya? Bagus dong. Asal masuk juara tiga besar, kakak akan mentraktirmu," ucap Al.


"Apa, ya Kak? Jadi ke Jepang gak kita?"


"Kakak bisa urus bisnis di Jepang dari sini. Tapi sepertinya papa kuwalahan dengan usahanya di sini. Dan lagi, tangan kakak juga akan lama normalnya," jawab Al sedih.


Quen menggeser duduknya di sebelah Al, "Jangan sedih gitu, Kak. Gapapa kalau memang tidak jadi ke Jepang, juga. Kan indonesia masih punya pulau Bali atau Karimun." Gadis itu tersenyum sambil menunjukan binar matanya.


"Kau mau je salah satu tempat itu?" baiklah. Asal kau dapat peringkat saja, ya?"


"Iya, Kakak. Kakak tidak bosan di kamar terus? Ayuk keluar!" Seru Quen.


"Baiklah, ayo kita ke taman belakang," ucap Al sambil bangkit dari posisi nyamannya dibantu oleh Quen.


Dengan telaten Quen menggandeng Al yang masih sedikit pincang dan membawanya ke taman belakang. Duduk di bawah pohon akasia.


"Quen, boleh minta tolong lagi, gak?"


"Minta tolong apa, Kak?"


"Ambilin laptop kakak di ruang kerja kakak, ya."


"Baiklah!" Seru Quen, langsung berlari ke dalam.


"Kok, tuan ditinggal di belakang sendiri, Non?" tanya Lyli saat keduanya berpapasan di ruang tengah.


"Cuma ambilin laptoonya saja."


Saat di ruang kerja Al tiba-tiba ponsel Quen berdering, dengan antusias gadis itu mengangkat panggilannya.


"Apa, sekarang?"


"...."


"Gila, kau gak kira-kira, dulu. Ok bentar habis ini aku otw." Quen segera memasukan kembali hp nya di saku celana dan menbil laptop herwarna silver itu beserta chargernya.


"Kak Lyli! Tolong ini berikan pada kakak, ya. Jaga dia selagi aku keluar, karena gak ada orang di rumah. Jangan sampai dia kesulitan," ucap Quen, dan langsung pergi berhambur begitu memberikan laptopnya kepasa Lyli.


Tak lama kemudian, dengan membawa laptop lengkap dengan chargernya Lyli menghampiri Al yabg tengah melipat kedua tangannya di atas meja.


"Ini laptopnya, Tuan."

__ADS_1


"Lah, Quen mana, Kak?"


"Tadi dia seperti buru-buru, dan memberikan ini pada saya, Tuan," jawab Lyli menutupi kegugupannya.


"Oh, ya sudah tidak apa-apa."


"Tuan mau minum sesuatu atau makan apa gitu? Biar saya ambil kan," tawar Lyli sambil menunjukan senyuman terbaiknya.


"Ambilkan saya buah saja kak, sama air putih saja," jawan Al tanpa mengalihkan pandangannya dari arah monitornya.


"Baik, Tuan. Akan saya ambilkan." Gadis itu berjalan menuju dapur sambil tetap memandang ke arah Al yang tampak lebih menawan saat tengah serius.


Diam-diam dia tersenyum seorang diri lalu masuk ke dalam melalui pintu belakang.


Tak lama kemudian Lyli kembali menghampiri Al dengan kedua tangan berisi sepiring buah pir dan kiwi serta satu botol penuh berisi air.


"Saya letakan di sini ya, Tuan?" ucap Lyli sambil menaruh di atas meja samping laptop Al.


"Iya, Kak. Makasih, ya? Maaf merepotkan."


"Sudah tugas saya, Tuan." Gadis itu menunduk tak mampu menatap Al dari jarak dekat, lalu tanpa sengaja ia melihat kaki sebelah Al nampak bengkak.


"Apakah kaki Tuan, sakit?"


"Iya, yang sebelah kanan masih sakit, kak. Susah digerakan."


"Oh, ya? Lalu, apakah bisah sembuh, Kak?" tanya Al, memalingkan pandangannya dari pekerjaannya.


"Walau tidak langsung, asal telaten dan sering-sering memijat juga akan memberi perkembangan yang pesat. Apakah Tuan mau mencobanya?"


Al terdiam sejenak nampak berfikir panjang. Antara tidak enak dan tak tahan dengan rasa nyut-nyutan di kakinya.


"Jika Kal Lyli tidak keberatan, ya boleh, lah dicoba," ujar Al.


"Saya buatkan dulu ramuannya, Tuan."


Al hanya menjawab dengan anggukan lembut dan senyuman yang baginya biasa, tapi, luar biasa bagi Lyli.


Lyli kembali dengan membawa parutan beras kencur dengan beras yang sudah dihaluskan, lalu dengan telaten mulai mengoles rata ke kaki Al yang bengkak dan mengurutnya.


Al meringis merasakan sakit di kakinya, hanya saja, dia tidak berani mengekspresikan lebih apalagi sampai mengeluarkan suara, karena di Jepang dia adalah pimpinan mafia nomor satu.


Tanpa Al sadari, Lyli juga memperhatikan mimik Al, lalu berlata, "Sakit, ya Tuan? Ditahan sebentar ya? Tidak apa-apa. Rutin tiga hari saja pasti sudah sembuh."


"Tidak apa-apa, Kak. Teruskan saja!" Seru Al memasang wajah sok tidak peduli.


Lyli semakin menunduk menyembunyikan senyumannya. Dia merasa geli dengan apa yang Al lakukan.

__ADS_1


'Lagian kalau sakit ya bilanh sakit saja,' batinnya.


"Sudah, Tuan. Besok bisa dipijit lagi, saya akan ke dalam beberes rumah, apa tuan mau saya antar ke kamar dulu?"


"Iya, Kak. Antar saya ke kamar, ya. Tidak apa-apa, kan?"


"Iya, tidak apa-apa," ucap Lyli bersemangat.


Gadis itu dengan semangat yang menggebu-nggebu lansung memapah Al dari sebelah kanan seperti yang Quen tadi lakukan.


Saking senangnya ia tidak sadar, kalau badannya limbung antara senang, deg-degan karena nevous... dan mereka pun terjaruh.


"Aku berat banget, ya Kak?" ucap Al tidak enak karena badannya menimpa Lyli.


"Aduh, maaf Tuan." Badan Lyli semakin tak kontrol, jangankan memapah, berdiri saja rasanya dia tidak kuat karena gemetaran.


Satu minggu kemudian, bersamaan dengan datangnya liburan smester Quen, Al sudah bisa berjalan normal berkat terapi pijatan yang diberikan oleh Lyli.


"Kak, kamu tahu tidak kalau kak Lyli itu diam-diam naksir Kakak, loh," ucap Quen saat keduanya berada dalam satu ruangan.


"Emang iya? Tahu dari mana kamu?" tanya Al sambil tertawa.


"Dari mana... Ya dari dia kalau merhatiin, Kakak lah."


"Begitu, ya?" Al menatap Quen tampa berkedip sambil tersenyum.


"Ah, jangan menatapku seperti itu, aku malu," ucap Quen sambil memukul wajah Al dengan buku yang dipegangnya.


"Idih malu cuma dipandang, tapi kalau dicium kakaknya seperti ini tidak, ya?" tanya Al sambil menempelkan wajahnya pada pipi Quen.


"Ah, Kakak dibilangin juga gak percaya, dia diam-diam jepretin kakak dan memandangi foto kakak diam-diam lo, pas santai."


"Kalau rame-rame dia malu, Sayangku Quen!"


"Ah, gak tau dah, sebel aku ngomong sama Kakak." Dengan rasa jengkel Quen berdiri meninggalkan Al yang tengah terkekeh-kekeh berhasil menjaili adiknya.


"Al, ada tamu yang membesuk mu," ucap Clara tiba-tiba.


"Tamu? Siapa, Ma?" tanya Al berusaha mengingat kawannya di Indonesia sambil mengerutkan dahi.


"Turunlah, di bawah papamu sudah menemuinya, ayo!" ucap Clara sambil menggandeng Al menuruni tangga.


Di bawah nampak seorang pria oaruh baya dengan seorang gadis kira-kira seusia dengan Quen.


Terlihat keduanya nampak akrab. Tapi, kalau dilihat-lihat dari gaya bicara keduanya nampak orang itu sangat menghormari Vano meski pun usianya jauh dia atas papanya.


"Maaf, Pak Vano saya baru mendengar berita kecelakaan putra bapak baru kemarin. Dan baru sekarang saya sempat menjenguknya," ucap pria itu dengan santun.

__ADS_1


"Oh, tidak apa-apa, Pak Erik. Putra saya juga sudah sembuh tinggal pemulihan pada lengan kirinya saja yang retak," jawab Vano santai.


__ADS_2