
Queen meringkuk memeluk guling. Ia enggan untuk bangun sekalipun ia tahu ini sudah pukul tujuh.
Tapi, untuk apa bangun? Hari ini dia tidak ada jadwal praktek dan ke kantor. Dia sudah izin cuti tiga hari jika hari ini dia masuk kerja, itu cuma akan membuat Al menjadi curiga.
Queen tetap bermalas-malasan di dalam kamarnya, bengong di bawah balutan selimut dan memeluk guling.
Iya, guling. Kalau Alex mungkin dipeluk Helena.
Quen menenggelamkan wajahnya pada guling sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba saat ia membalas pesan chat dari Gea, sebuah panggilan video dari Al masuk.
Saking gugupnya, ia yang mau merijek dan memberikan alasan kalau dirinya sibuk malah keangkat.
"Tuan, putri. Kau masih di kamar saja, Sayang?" tanya Al, begitu muncul wajah Queen yang sebagian besar ditutupi selimut.
"Semalam aku begadang, kak. Ini baru bangun," jawab Queen. tidak sepenuhnya berbohong.
Quen melihat kakaknya memakai jas berwarna Oren cerah dan jas hitam. Dari pemandangannya. Al sepertinya juga sudah ada di kantor.
Quen memlihat jam di pojok kiri atas layar sentuhnya. Ternyata sudah pukul delapan lebih tiga puluh menit.
Tak terasa sudah satu jam setengah Queen berada di atas kasur.
"Di mana Alex?"
"Apa? Alex, ya? Dia sudah ada di luar, kak," jawab Queen sekenanya. Padahal ada di mana Alex dia sendiri sebenarnya tidak tahu. Dan lebih baik dia memang tidak harus tahu saja biar hatinya aman.
"Ya sudah, cepat bangun cuci muka itu kucel banget, kakak mau lanjut kerja dulu. Nanti habis istirahat siang mau ke Bandung," ucap Al sebelum mengakhiri telfonnya.
"Ngapain, Kak?" tanya Queen pensaran.
"Urusan kerja, Sayang. Kalau berwisata besok aja kalau Alex sudah baikan kita kesana bersama-sama, ya?"
"Ok!" Quen mengangguk sambil tersenyum.
Setelah mematikan panggilan video dari kakaknya ia pun bergegas ke kamar mandi.
Seolah tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada, Quen mandi lulur dan berendam dengan aroma terapi. Setidaknya dengan begitu dia bisa sedikit rileks dan bisa meningkatkan suasana hatinya agar lebih tenang menghadapi tingkah Alex dan Helen yang kian tak karuan.
"Bahkan baru kemarin sore Helena tinggal di sini dan merebut hakku sebagai istri sah Alex. Tapi, rasanya kok sudah sangat lama sekali, ya?" umpat gadis itu dalam hati.
Pagi setengah siang ini Queen memilih Nini dres selutut dengan motif floral. Dan membiarkan rambutnya tergerai indah.
Dengan suasana hati yang lebih baik tentunya, Queen keluar kamar dan akan siap melihat apapun yang mungkin akan tidak mengenakan.
Ia melihat seluruh ruangan nampak bersih dan rapi namun sepi. Kemana Alex dan Helen? Ah, Bi Asih, mungkin tengah berbelanja. Aku bisa menyiapkan sarapanku sendiri. Pikir Queen sambil melangkah ke dapur.
Tiba di dekat dapur ia mendengar suara aneh dari dalam sana. Entah penasaran atau apa, ia pun berjalan mendekati ke sumber suara. Ternyata Alex tengah bercumbu dengan Helena yang tengah duduk di atas kitchen set.
Kedua tangan Helena dikalungkan pada leher Alex sementara Alex menenggelamkan wajahnya pada dada wanita itu yang kemejanya sudah lepas semua kancingnya bahkan melorot sampai pundak.
Queen sebenarnya tidak mampu melihat pemandangan itu. Tapi, sebagai calon dokter yang juga pernah mempelajari ilmu psikologi ia tetap berusaha tenang. Jika ia pergi sama halnya dengan yang Diaz katakan semalam. Kalau ia membiarkan maksiat di dalam rumahnya.
__ADS_1
Untuk berdehem pun rasanya tenggorokannya berat. Jadi, Quen langsung masuk dapur begitu saja dengan ekspresi tenang tanpa menegur dua mahkluk mesum itu. Dan parahnya, si pria itu suaminya. Sakit? Oh, jelas jangan tanyakan lagi. Tapi, apa tujuan mereka kalau bukan membuat Queen lari dan menangis? Kalau pun tidak ingin menyakiti mereka bisa melakukannya dengan. Sembunyi-sembunyi, kan? Tapi mereka juga terang-terangan melakukan ini.
Menyadari Queen ada di dapur membuka lemari es dan mengeluarkannya beberapa buah dan sayur mereka malah kelabakan sendiri.
Helena dengan terburu-buru membenarkan kemejanya menutupi kedua pundak dan memasang kancingnya asal. Sementara Alex ia memilih untk pergi.
"Quen, kau sudah bangun?" sapa Helen, dengan ekspresi wajah yang canggung dan serba salah.
"Ya, aku juga sudah mandi, ini mau nyiapin sarapan. Kau sudah sarapan belum?" tanya Queen balik.
"Sudah, tadi. Perlu aku bantuin?"
"Tidak perlu, aku sudah biasa mengerjakan apa-apa sendiri. Termasuk memandikan Alex saat ia belum mengalami lupa ingatan," jawab Queen sambil tersenyum.
Helena diam sesaat terpaku dengan perkataan Quen atau kelincahan Queen saat memegang alat-alat dapur entah yang mana.
"Apakah Alex semanja itu?"
"Kami setiap hari kalau ada kesempatan selalu mandi bersama dan sekalian melakukan aktivitas lainnya. Apa itu kurasa sebagai wanita yang sudah dewasa kau juga tahu. Atau, jika kau ingin tahu tunggu Alex pulih kembali ingatannya maka, kau akan mengerti betapa so sweetnya dia. Seperti apapun yang dia lakukan padamu, tidak akan melebihi yang sudah dilakukan kepadaku."
Usai mengatakan hal itu Queen tersenyum sini lalu keluar sambil membawa sarapannya. Sengaja ia makan di dalam kamar dalam keadaan terkunci karena ia tak ingin keterpurukannya dilihat Helena.
Pagi ini Queen benar-benar tidak berselera untuk makan. Ia terus memikirkan perbuatan Helena. Dan bacaan islami yang ia baca semalaman untuk mengalihkan kegalauannya.
Yang masih terngiang di kepalanya adalah kalimat, "Menikah itu hukumnya adalah sunah. Tapi, sunah yang bisa menjadi wajib bagi dua insan yang sedang dimabuk cinta. Dari pada mereka dibiarkan berlaku maksiat, maka nikahkan saja keduanya. Jika kau membiarkan dan menghalang-halangi keduanya menikah maka kau sama halnya memelihara kebatilan."
Ya Allah... Mereka memang ingin menikah, tapi, aku apa sanggup membiarkan suamiku menikah lagi dengan wanita lain? Tapi jika tidak, sama aja, aku yang me
Sungguh ini pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Queen mengusap air matanya yang kembali mengalir di kedua pipinya.
Sudah, cukup aku mengalah. Mungkin lebih baik aku bercerai saja dengan Alex agar dia bebas. Bukankah cinta tak harus memiliki?
Aku bisa saja egois, memaksakan Alex tetap bersamaku dan tak menemui lagi Helena dengan bantuan kakakku. Tapi, bukankah sama aja menyakitkan hanya memiliki fisik tapi tidak dengan hatinya?
Quen pun menyeka air matanya. Ia keluar kamar dan menemui Helena yang kebetulan tengah mengedit video untuk dia upload.
"Helena, bisa minta wakunya sebentar?" ucap Queen masih berdiri.
"Oh, tentu saja boleh. Duduklah!" Seru Helena mempersilahkan Queen duduk di kursi tepat berada di depannya.
Dengan muka datar Queen duduk dan langsung memulai pembicaraan langsung ke inti.
"Demi apa kau mencintai suamiku?" tanya Queen langsung dengan suara sedikit tersendat di leher.
"Maafkan aku, Queen. Jika kau bertanya demikian aku tidak tahu, tapi hati ini sungguh benar-benar mencintai Alex. Selama kami break aku bawa enjoy kurasa dia juga masih akan fokus dengan kuliahnya. Tapi, dia malah menikah denganmu kau boleh saja membunuhku sekarang. Tapi, jangan pisahkan aku dengan Alex," jawab Helena dengan menangis.
Queen mengamati dengan seksama raut wajah gestur tubuh serta mata gadis itu. Apa yang dia katakan memanglah tidak bohong. Helena benar-benar mencintai Alex. Tapi, kenapa harus sekarang dia datang? Andai saat di pelaminan itu dia langsung mengacau, paling tidak ia hanya gagal menikah tapi tidak merasakan sakit yang sedalam ini.
"Helena." Queen pun ikut menangis. Dua wanita itu pun sama-sama menangis karena hati dan perasaan masing-masing.
__ADS_1
"Kenapa kau sejahat ini? Kau sudah pernah merebut Alex dariku. Dan dia dengan sendirinya kembali padaku, dan kau malah datang lagi menjadi pelakor. Kau ini juga wanita. Tidakkah kau berfikir bagaimana jika kau jadi aku? Sakit tidak hatimu?" teriak Queen.
"Tapi jika kau menjadi aku bagaimana, Queen? Aku menyerahkan keperwananku pada Alex. Bahkan saat dia ajak aku break aku ternyata mengandung anaknya. Aku kembali hanya membutuhkan dia sebagai ayah untuk anakku yang sudah tenang di alam sana. Saat itu aku juga prustasi. Kandunganku sudah tiga bulan, tapi Alex entah kemana aku tidak tahu. Aku down Queen. Sampai harus menegak banyak minuman keras dan kecelakaan, mobil ku menabrak tiang listrik lalu aku keguguran. Setelah anak itu hilang kurasa akan beres dan baik-baik saja. Tapi, ternyata tidak. Aku tetap mengharapkan dia. Dan saat aku baru saja menemukan kembali kontaknya belum sempat kubahas tentang hubungan kami tau-tau dia jadi pengantin di pernikahan mu."
"Cukup Helena!" Bentak Queen semakin terisak. Dia tidak menyangka kalau bahkan Helen juga sama seperti dirinya. Sama-sama pernah mengandung anak Alex meski akhirnya sama-sama mengalami keguguran.
"Sekarang apa mau kamu?"
"Aku tidak memint Alex menjadi milikku sepenuhnya, Queen. Tapi, jangan pisahkan aku dengan dia. Plis. Aku bisa gila jika dia jauh dariku, Queen."
"Ayo, ikut aku!"
Queen bangkit dari duduknya menarik lengan Helena dan mengajaknya pergi.
"Kau mengajakku kemana, Queen? Apa kau benar akan membunuhku?" Isak Helena. Tapi, tidak melakukan perlawanan.
Quen berhenti di halaman belakang di mana Alex tengah melatih otot-ototnya, melakukan olahraga ringan.
"Alex, kau mencintai Helena, bukan? Kalian bahkan sudah tinggal sekamar. Cepat datang ke pengadilan agama. Urus pernikahanmu dengan Helena. Jangan hanya kumpul kebo. Kita ini manusia dan memiliki adab."
Mendengar perkataan Queen Helena tercengang hampir tak mempercayai semua ini. Bagaimana bisa dengan mudahnya wanita ini mau berbagi suami dengannya?
"Queen, kau?" Helena sejenak menatap wajah Queen lalu memeluknya.
"Aku hanya ingin jadi wanita yang baik. Aku sudah memikirkan semua ini. Selama kalian menguru, aku akan ke Bandung bersama kakakku. Jaga Alex baik-baik, ya?"
Meski matanya sembab, Quen masih memaksa diri untuk tersenyum. Ia pun langsung pergi dan berkemas dan hendak ke kantor. Mumpung masih jam sebelas. Satu jam lagi istirahat dan jam satu Al akan berangkat ke Bandung.
****
Meski sangat kesiangan, Queen tetap pede saja pergi ke kantor kakaknya. Bahkan ia memakai pakaian kerja dan juga membawa semua yang ia butuhkan selama berkerja.
tatapan aneh dari para staf jelas saja tertuju padanya. tapi, pihak HRD dan Al juga tahu kalau hari ini sebenarnya ia tengah cuti.
"Selamat, siang, Pak." Begitu sapa Queen setelah membuai pintu ruangan Al.
pria itu terkejut mendapati Queen berada di sini. sebab, ia kemarin mengajukan cuti selama tiga hari.
"Queen, kau di sini, sayang. ada apa?" tanya Al lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri adik semata wayangnya.
"Tentu saja karena ingin ikut kakak ke Bandung," jawab Quen dengan senyum seperti biasanya.
kedua tangan Al diletakan di kedua pundak Queen. matanya menatap dalam mata gadis di depannya. ia merasakan ada sesuatu yang ditutupi adiknya. dia kemari bukan untuk ikut ke Bandung. tapi, lebih cenderung mencari ketenangan dari masalah yang dihadapinya.
"kamu habis nangis. apakah Alex berulah lagi?" tanya Al dengan sorot mata tajam.
"Nanti aku akan janji akan ceritakan semua pada kakak setelah rapat. jangan di sini, ya. Ayo, berikan aku tugas, Pak."
Queen membalikan tubuhnya dan duduk di kursi yang memang Al sediakan untuk dirinya.
"tidak ada tiga, apapun. ya sudah. kita ke Bandung sekarang. kita urus semua agar beres dan segeralah katakan apa yang akan kau katakan, Ok," ucap Al tidak sabar.
__ADS_1