Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
BENTUK PEREMPUAN AL


__ADS_3

"Halo, Sayang! Apakah kau sudah lama menunggu telfon dari papa?" tanya Al, begitu putrinya mengangkat panggilannya.


"Lumayan, sih Pa. Tapi, tenang saja, dalam beberapa hal aku termasuk gadis yang sangat sabar dalam menanti sesuatu. Termasuk menunggumu selesai rapat."


Keduanya pun tertawa.


"karena kamu begitu sabar menunggu papa selesai rapat, pasti ini sangat penting," tebak Al. Dengan nada menggoda dan menahan tawa.


"Papa!"


"Hahaha! Ya sudah cepat katakan kamu mau ngomong apa apakah kau mengalami masalah di sana?"


"Tidak ada masalah aku hanya ingin membahas tentang saudara ku."


"Oh jadi kamu nelpon papa cuma mau balas dia? Tumben... Kamu tidak berencana menjadikan dia sebagai ratu mafia kan?" goda Al. Kemudian dia tertawa.


"Astagaaa! Tidak, Papa. Kemarin dia menelponku mau minta saran apakah benar dia sama Ariel udah mau nikah? Kalau emang iya benar-benar gila tuh bocah tidak waras. Sekolah juga masih belum lulus malah mikirin nikah. Dipikir, nikah itu enak apa?" omel Clarissa.


Al hanya tertawa getir. Dia memiliki dua anak perempuan yang terlahir dari rahim yang sama dan bersamaan. Wajah serupa. Tapi, pola pikir keduanya begitu berbanding terbalik.


"Emang nikah itu enak... Tapi, hanya hal-hal tertentu saja. Karena, pria dan wanita yang menjalin asmara, dapat melakukan apapun terhadap pasangannya dengan bebas,' batin Al. Jelas, hal itu tak mungkin dia ungkapkan pada putrinya.


"Oh, rupanya dia sudah curhat denganmu?"


"Tidak curhat. Cuma minta saran. Tapi, menurut papa sama mama bagaimana?" tanya Clarissa dengan cerewetnya.


"Kami sepemikiran denganmu, Sa."


"Kasih lah mereka berdua pengertian, Pa."


"Pengertian macam apa? Mereka sudah kekeh dalam pendiriannya masing-masing."


"Haaah! Walaupun Berlin itu anaknya kalem, tapi dia itu sangat keras kepala apapun yang udah jadi maunya Ya udah maunya nggak bisa dibilangin apalagi dilarang," keluh Clarissa, seperti tengah menyayangkan keadaan ini.


"Iya, dia tidak sama dengan Clarissa, ya?" goda Al sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Papa!"


"Loh, kenapa kamu ngegas gitu Sayang? Bukankah apa yang papa katakan barusan benar?"


"Ah, papa ngeselin!"


"Ya sudah, maaf!"


"Gak mau. Pokoknya, papa ngeselin banget, dah!"


"Oke, kita ke botanical garden, gimana?" ucap Al. Sungguh, hal itu sangat mengejutkan Clarissa.


"Pa, bukankah kau barusaja selesai rapat?" tanya gadis itu heran. Seolah, dia telah melupakan bahwa dirinya barusaja ngambek.


"Demi kamu, sayang," ujar Al. Kemudian, dia memasang sabuk pengaman. Ternyata, begitu selesai rapat, dia langsung mengatur mobil dan menuju bandara tempat dia meletakkan privat jetnya.


Sebab, kemungkinan putrinya ngambek, sudah bisa dia tebak. Al sangat mengerti wanita. Apalagi, Clarissa adalah bentuk dirinya dalam versi cewek.


Maksudnya, pelampiasannya saat kesal itu apa, jelas sama. Hanya saja, wanita, lebih mudah tersulut emosi daripada pria. Dan membujuknya juga lebih sulit dari masalah yang membuat dirinya ngambek.


Gadis itu hanya menghela napas lelah saat melihat mamanya tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


"Aku tidak begitu mood keluar hari ini, Ma. Besok saja, ya?" ujar Bilqis pada Nayla. Mamanya.


"Mama tahu kondisi mental kamu sekarang tidak baik-baik saja setelah kejadian itu. Tapi, kamu tidak bisa selamanya terus-menerus seperti ini, sayang!"


"Lalu, aku harus bagaimana lagi, Ma?" Bilqis terlihat lesu dan benar-benar patah semangat.


"Kamu harus move on. Semua itu hanyalah musibah. Pasti, akan ada pria yang akan tulus mencintai kamu dan terima kamu apa adanya, Sayang."


Bilqis menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian, dia menutup kepalanya dengan bantal. Memberi isyarat bahwa dirinya sedang tidak ingin bicara dengan mamanya. Itu, juga bisa saja menjadi kode untuk Nayla agar meninggalkan dirinya sendiri di kamar.


"Ya sudah, kamu tenangkan saja diri kamu. Mama berharap, hal ini tidak berlarut-larut," ujar Nayla kemudian pergi meninggalkan putrinya.


'Saat dalam kondisi seperti ini, hanya Queen yang bisa menenangkan dan ajak ngobrol Bilqis. Tapi, kulihat akhir-akhir ini dia juga sibuk. Mas Al... " Nayla sangat malu jika harus menelfon mantan suaminya dan meminta bantuan agar membujuk Bilqis agar tidak terlalu lama dalam kondisi seperti ini.

__ADS_1


Tapi, mau bagaimana lagi, Bilqis telah membuat kesalahan yang sangat fatal berusaha menggoda mantan papa tirinya agar meniduri dirinya.


Sungguh sebenarnya dia sangat malu dan merasa tidak lagi memiliki muka di hadapan pasangan suami istri itu. Hanya saja, Queen terlalu baik dan bermurah hati padanya. Masih mau memaafkan Bilqis, walau dia sendiri sadar, kesalahan putrinya tak pantas dimaafkan.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, mohon tunggu, sesaat lagi!" tuuuuut tuuut tuuuut!


"Ah, sial! Kenapa di saat aku butuh ngobrol sama papa Al dia selalu tidak pernah ada nomornya selalu tidak pernah aktif, ke mana dia sebenarnya?" umpat Bilqis sambil melempar ponselnya di atas kasur.


Gadis itu tidak tahu, bahwa sekarang, Al sedang asik bermain dan jalan-jalan bersama salah satu putri kembarnya yang jelas, dia tidak tahu, bahwa Berlyn memiliki kembaran yang sangat cerdas. IQ nya saja, di atas rata-rata.


Sementara Queen dan Jeslyn, telah tiba di rumah. Dia mendapati rumah yang begitu sunyi.


Tapi, sengaja, dia tidak memanggil Berlyn dan menunjukkan, siapa yang telah datang bersama dengannya. Masih sulit dipercaya, bahwa gadis kemarin sore itu sudah memaksa dan minta nikah.


Apapun alasannya, dan sekeras apa mereka menjelaskan, tetap saja, itu cuma cinta monyet dan akan pupus oleh masa yang singkat.


"Al tidak di rumah?" tanya Jeslyn. Sengaja dia tidak menanyakan Berlyn, karena tidak ingin merusak mood menantunya itu.


"Mungkin nanti malam dia baru pulang, Ma. Mama mau nakan atau minum sesuatu?" tanya Queen setelah menjawab pertanyaan Mama mertuanya tersebut.


"Tidak, mama cuma ingin segera mandi air hangat dan istirahat dulu. Sangat capek sekali rasanya perjalanan ini. Mungkin karena faktor U."


Queen hanya tersenyum dan mengangguk saja.


Usai mandi dan mengeringkan rambut, Queen mengambil smartphone nya. Baru saja ia hendak menelfon Al. Ternyata, dia sudah menerima pesan gambar. Foto keasyikan Al bersama dengan Clarissa di negeri singa putih sana.


"Oh, dasar. Pergi diam-diam," batin Queen.


Dia sudah mulai tertawa dan terhibur dengan foto ini. Namun, tiba-tiba, dari depan pintu kamar, terdengar suara ketukan pintu.


Dengan semangat wanita itu beranjak kehendak membuka pintu tersebut sebab Dia mengira ketukan pintu itu adalah mama mertuanya. Tapi ternyata dia salah, seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah bule berdiri di sana dengan raut wajah datar.


"Axel!"


Pria itu tersenyum. Mama Queen baru tiba, kan? Maaf. Mungkin aku akan sedikit menganggu istirahat mu."

__ADS_1


"Ayo, kita duduk di sana!" ujar Queen dengan senyum yang elegant dan duduk di ruang keluarga yang terletak di depan kamarnya.


__ADS_2