
Queen terus berusaha mempertimbangkan pendapat suaminya membuka klinik untuk praktik sendiri di rumah
agar memiliki waktu lebih banyak di rumah bersama putrinya. Setelah ia
pikir-pikir, apa yang suaminya katakan beberapa bulan silam memang benar. Lagi pula, di mana ada seorang dokter yang tidak ingin memilikki tempat praktik sendiri, klinik, bahkan rumah sakit. Apalagi suaminya memegang perusahaan keluarga di bidang kontruksi. Jelas, untuk perancangan klinik bisa akan sangat bagus dan elegant tanpa perlu memikirkan biayanya.
Tapi, meskipun ia sudah memutuskan untuk menyetujui perintaan suaminya, ia tetap saja akan mencari moment yang tepat untuk mengutarakan niat dan keputusannya.
Sekalipun ini adalah hal yang sudah lama ia inginkan, tetap saja akan melantur kamana-mana jika dikatakan di saat yang tidak tepat. Terlebih, saat ini Al sering kelelahan karena banyaknya pekerjaan. Bahkan, tidak jarang pula ia pulang sampai larut malam.
Karena dia sedang libur dan tak ada jadwal praktik hari ini.
Ia berniat akan makan siang di kantor bersama suaminya. Tapi, sebelumnya ia ingin melakukan perawatan tubuh dulu dengan memanggil jasa pijat dan lulur ke rumahnya sambil menunggu bi Yul memasak untuk makan siang nanti.
Setelah hampir dua jam menghabiskan waktu untuk melakukan perawatan diri, Queen segera bersiap untuk pergi ke kantor suaminya. Di hampirinya
bibi yang tengah sibuk di dapur.
“Bi, apakah kau sudah mempersiapkan makan siang untukku dan
juga Al?" tanya Queen.
“Oh, sudah Non. Itu sudah saya masukkan ke dalam ranselnya.
Ada dua box makanan di dalamnya.” Queen mengecek lagi di dalamnya. Kemudian ia tersenyum puas dan menjinjing tas berwarna biru tersebut menuju garasi.
Kali ini Queen ingin ke kantor mengendarai mobilnya sendiri.
Tak seperti biasa yang hanya mengandalkan jasa taxi online saja. Entah kenapa, mungkin juga karena ada hal lain.
Setiba di perusahaan suaminya, Queen juga langsung menuju ke
ruangannya. Ia merasa risih juga saat banyak mata yang memperlihatkan dirinya. Mungkin karena roknya yang terlalu mini.
Tiba di depan ruangan Al, wanita itu langsung membuka pintu yang kebetulan tidak pernah terkunci. Memang sudah jadi ciri khasnya, kalau ia masuk ke ruangan pribadi
Al tak pernah menucap salam, atau mengetuk pintu terlebih dahulu. Jadi, jika tiba-tiba saja pintu terbuka, harusnya Al tahu, kalau yang masuk pasti istrinya. Sebab, dia yang menjabat posisi tertinggi di sini. Terlebih ia dikenal sebagai boss yang dingin dan tak memiliki kedekan dengan salah satu karyawannya.
Tapi, sepertinya Al terlalu sibuk hari ini. Terlihat sekali
dari raut wajahnya yang nampak serius Ketika melihat beberapa berkas yang ada di
tangannya. Bahkan, dari wajahnya juga memancarkan emosi, terlihat sangat jelas sekali Ketika ia membanting beberapa tumpuk berkas tersenut di atas meja, dan
tak menyadari kedatangan Queen.
Mendapati emosi suaminya sedang buruk, Queen segera menutup
pintu ruangan dan menyapa suaminya.
“Al. apakah ada masalah?”
Seketika Al diam, ia melihat ke arah pintu. Di depannya
berdiri seorang wanita mengenakan atasan blus lengan pendek berwarna merah maroon dan rok mini seatas lutut tengah memandangnnya.
“Queen? Sejak kapan kau tiba di sini?” raut wajahnya menunjukkan kalau ia terkejut atas kedatangannya.
Dengan cekatan Queen meminta suaminya duduk dan meraih
segelas air putih yang berada di meja tersbut. Meminta agar pria itu
menimnumnya supaya pikirannya bisa sedikit tenang. Setelahnya, barulah wanita itu mau berbicara.
“Aku baru saja tiba, aku ingin kita makan siang bersama.
Tapi, sepertinya, suasana hatimu sedang tidak baik. Apakah ada masalah?”
“Iya, sedikit. Tapi, tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya,
kok,” jawab Al tanpa mau memandang ke wajah istrinya.
Queen melirik ke arah jam yang berada di meja suaminya, lima
menit lagi sudah menunjukkan pukul duabelas siang. Ia pun memutuskan utnuk membuka makan siang yang dia bawa sekarang.
“Nanti coba dipikirkan lagi jalan keluarnya, ya? Sekarang
bagaimana kalau kita makan siang dulu? Bibi masak cumi asam pedas manis, loh.” Kini, wanita itu sibuk membuka bekal yang ia bawa. Sementara Al sendiri juga
tidak hanya diam.
Setelah Queen menciptakan suasana nyaman di hati suaminya,
barulah ia mengajak pria itu mengobrol ia memancingnya dengan hal-hal yang ringan agar Al mau berbicara. Setelah beberapa menit berbasa-sbasi, barulah, Al
mau menceritakan masalah yang menimpa perusahaan beberapa pekan ini.
“Dalam waktu dekat ini, akan di bangun beberapa vila di
daerah Lembang Bandung. Perusahaan kita di mintai beberapa contoh rancangan
desain. Tapi, saat kulihat hasil rancangan arsitek di sini, seperti tidak ada yang cocok sama sekali. Aku takut, mereka menolak dan perusahaan ini akan kalah
dengan perusahaan baru.”
Setelah mendengarkan keluh kesah suaminya, barulah Queen
bisa membaca, apa yang membuatnya tidak tenang dan mudah emosi. Memang apa yang tengah suaminya pikikrkan juga sangat berat.
“Perusahaan baru, ya? Apakah sudah terbukti di sana lebih
baik dengan perusahaan ini? Perusahaan ini sudah tiga puluh tahun lebih berdiri, dan selama ini selalu menjadi yang terbaik.”
“Aku tahu, itu. Tapi… “ Al tidak melanjutkan kalimatnya.
Jika dia teringat, sepertinya langsung naik pitam saja. Ia mengusap wajahnya kasar, dan menjambak rambut bagian depannya.
“Aku tidak ada jadwal praktik hari ini. Aku akan menemanimu
sehari ini di perusahaan. Aku akan bantu cari solusi, tapi, kamu cerita jangan setengah-setengah agar aku bisa pikirkan jalan keluarnya.” Queen memegang tangan Al yang terasa dingin oleh keringat.
“Beberapa bulan ini perusahaan mengalami masalah. Dua kali
ikut seleksi desain, selalu gagal. Karena, pihak lawan, atau perusahaan lain juga mengeluarkan desain
yang sama. Memang tidak sama persis. Tapi, tingkat kemiripan sampai 95%. Jadi,
perusahaan kita dianggap telah menjiplak mereka.”
“Boleh aku lihat seperti apa desain rancangan yang diajukan
oleh persahaan kita, dan yang diajukan oleh perusahaan lain?”
“Seketika, Al langsung sibuk membuka beberapa file dan
dokumen peribadinya. Selang beberapa menit, barulah Al menunjukkan pada Queen.
Queen memang tidak mengerti dengan hal-hal seperti ini.
Tapi, beberapa tahun pernah ikut terjun membantu keluarganya Ketika papanya belum sadar, dan saat ia belum resmi menjadi dokter. Tentu, ia dengan mudah bisa cepat mengerti dan menguasai itu.
“Selain candra, siapa yang kau percaya merancang desain
untuk rancangan klinik ini?” tanya Queen ketika Al menunjukkan salah satu rancangan klikin untuk clien yang dianggap perusahaannya telah menjiplak.
“Ada tiga arsitek terbaik di perusahaan ini, Candra, Rio dan
Wildan.”
“Kalaau tidak salah, mereka adalah karyawan lama semua,
benar? Dan hanya Candra yang termasuk baru. Karena semua sudah bekerja di sini
lebih dari enam tahun. Apakah mereka
memiliki asisten masing-masing?”
“Iya, ada.”
Queen diam. Di dalam kepalanya sudah terbesit sesuatu. Tapi,
ia tidak berani mengatakan itu apa. Selain ia orang luar, ia juga tida
memilikki bukti kusus. Bahkan untuk mengatakan apa yang ada di kepalanya saja
ia juga takut. Takut, kalau tiba-tiba emosi Al meledak, dan malah mengacaukan semuanya.
“Kita tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan perusahaan
__ADS_1
kita. Bagaimana, kalau secara diam-diam, kita pasang camera tersembunyi di
masing-masing susdut ruanga, bahkan taman atau tempat yang sepi sekalipun agar
kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita tidak bisa hanya mengandalkan cctv yang tak memilikki suara, Al.”
“Al diam. Lalu, kita akan pasang kapan? Perusahaan ini cukup
besar, Sayang.”
“Aku tahu, kenapa kita tidak gunakan jasa mekanis dari luar
saja? Saat semua sudah pulang. Apalagi ini hari Jumat. Mereka pulang lebih awal, kan? Buat saja mereka segera Kembali, dan jangan adakan lembur. Setelah
semua karyawan pulang, kita bisa memperkerjakan lebih dari satu mekanis yang
kiranya bisa menyelesaikan pekerjaan dalam semalam saja. Bagaimana?”
“Baik.”
Al yang pikiranya sudah penuh tidak bisa mencerna dengan baik
apa yang sudah diusulkan oleh istrinya. Karena, kepalanya sudah dikuasai oleh emosi. Tapi, baiknya diam au begitu saja menuruti permintaan Queen. Karena, dia jug tahu seperti apa karakter istrinya. Dia sangat keras kepala. Tapi, akhirnya semuanya pun elesai
dengan sempurna.
Setelah memastikan kalau semua karyawan perusahaannya sudah
meningalkan kantor, dan tempat tersebut sepi, barulah, Al meminta lima orang
mekanis yang ia undang itu memasang rekaman kamera tersembunyi di seluruh penjuru perusahaan. Termasuk juga luar
toilet pria dan wanita, tak luput dari jangkauannya.
Sampai jelang pagi, jam setengah empat, barulah, semua
pekerjaan tersebut selesai dengan sempurna. Al yang merasa kelelahan, ia memutuskan untuk tidak ke kantor. Ia bisa mengawasi semua tentang perusahaan di rumah dengan bantuan camera tersembunyi itu.
Saatu dua hari, tidak ada petunjuk apapun, semua urusan
perusahaan masih berjalan normal. Tapi, satu Minggu setelahnya, saat waktu mendekati
penyerahan rancangan bangunan untuk membuat Vila di Lembang yang di bahas oleh Al dengan Queen kemarin. Ada salah satu staff yang masih berdiam di kantor. Begitu ia
memastikan semuanya aman, barulah pria tersebut masuk ke dalam ruangan tiga arsitek, atau pembuat rancangan terbaik perusahaan tersebut. Salah satunya Candra.
Pria itu mulai menyalakan computer dan melakukan sesuatu. Di
sana. Queen yang merasa kalau tindakan orang tersebut aneh, langsung memanggil
suaminya.
“Al, coba kemari dan lihat ini!” seru wanita itu.
Dengan cepat, Al langsung menghampiri wanita itu dan melihat
apa yang terjadi di layar monitor tersebut.
Dengan Gerakan burur-burur, dan terus melihat sekitar, pria
itu mengeluarkan benda kecil berwarna putih dari dalam saku kemejanya.
Sepertinya itu flasdish. Dengan tergesa-gesa pula, ia mencolokkan benda itu
pada cpu dan melakukan sesiatu pada papan keyboard. Selang beberapa menit, pria
itu tersenyum puas, segera mencabut benda kecil itu dan membawanya keluar.
Bersamaan dengan itu, Queen langsung menghubungi dua intel yang
memang sudah ia ajak bekerja sama untuk mengawasi seluk beluk perusahaan agar
segera ke kantor suaminya untuk menangkap pria dengan ciri-ciri yang sudah ia sebutkan dan memeriksanya ke kantor polisi.
Pria itu tertawa puas dan sesekali berseru, “Aku akan segera
kaya raya!” dia berjalan sambil memainkan benda kecil putih itu,
dilemparnya ke
udara lalu kemudian menangkapnya. Di tengah-tengah koridor kantor, ponsel pria
itu berdering. Dengan cepat, pria itu mengangkat panggilannya.
bibirnya, yang lebih tepatnya adalah menyeringai.
“ …. “
“Oh, beres! Anda tenang saja, semua yang anda pinta, sudah
berada di tangan saya. Anda tinggal merubah sedikit rancangan tersebut. Semua
sudh mulus dan 100% rancangannya sempurna,” jawab Pria itu dengan bangga. Ia seolah tak sadar kalau sudah mencuri kringat teman, menclaim dan menikmati hasilnnya sendiri.
“ …. “
“Oh, ini kebetulan saya masih berada di kantor. Jika anda
mau semua rancangan vila itu malam ini juga, saya bisa memberikannya sekarang. Saya yakin, anda akan suka,” tukasnya.
“ … ‘’
“Baiklah. Saya akan keluar sekarang. Anda mengenakan jaket
jemper warna merah, ya?”
Seketika, rekaman di bagian itu pun hanya menunjukkan seuah
Lorong yang kosong dan sepi saja.
Queen Kembali mendekati Al setelah menelfon dua petugas
tersebut dan menanyakan apa yang terjadi setelahnya.
“Bagaimana, Al?”
“Jadi, selama ini ada penghianat yang masuk di perusahaan
kita menyamar jadi karyawan biasa. Dia mencuri semua gambar rancangan arsitek
terbaik kita, dan menjualnya pada orang lain. Kalau seperti ini terus,
yang ada perusahaan ini akan hancur, Queen!” seru Al nampak stress. Wajahnya juga sedikit memerah karena emosi.
Sementara Queen hanya diam, tenang tak mengeluarkan sepatah
kata pun. Sementara tangannya terus mengelus punggung suaminya.
“Besok pagi, kita harus melaporkan ini pada polisi sayang,” ucap Al, nampak tidak tenang.
Sayang sekali, Queen tidak memasang di bagian luar
perusahaan. Jika pun ada, pasti saat itu juga ia bisa menunjukkan pada suaminya
kalau pria yang ada dalam kamera pengawas tersebut sudah berhasil diringkus oleh
intelegen suruhannya.
“Kau tenangkan saja dulu pikiranmu, Al. kalau pun kau tidak
bisa meringkusnya sekarang. Kau bisa, kan menyerahkan bukti rekaman ini dan memeriksa ponselnya, bagaimana?”
“Tapi, aku tidak tenang, Queen.”
“Kenapa harus tidak tenang? Bukti sudah ada, Sayang. Karena
ini sudah larut, ayo sekarang juga kita tidur!” seru Queeen sabil menarik
lengan Al.
Tapi, tetap saja pria itu masih terlihat tidak bisa tenang
saja. Wajahnya nampak terlihat kalau berfikir berat. Lagi pula mana mungkin
Queen akan membiarkan perusahaan yang didirikan oleh kakeknya dari enol akan hancur begitu saja dengan satu orang penyusup atau penghianat, kan? Jelas, ia akan bertindak.
Wanita itu merasa kalau suaminya masih terlihat gelisah.
Padahal ini sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Queen pun mengirimkan pesan agar pihak kepolisian menghubungi suaminya saja. Agar dia tahu, dan bisa
__ADS_1
tenang pikirannya.
“Al, ini sudah larut. Ini kita urus saja besok,” ucap wanita
itu.
“bagaiaman bisa aku bisa tenang Queen? Papa dan kakek sudah
mempercayakan ini padaku. Tapi, kenapa aku masih saja kecolongan. Dia sangat cerdik sekali. Ia bisa tahu bagaimana menghilangkan bukti dengan menghapus cctv
yang mengawani di saat ia melakukan kejahatan itu,” ucap Al sambil memegangi kepalanya.
“Kan kita sudah ada bukti rekaman tersembunyi itu, Al?”
Bunyi ponsel Al berdering. Setelah ia lihat, nomor tidak
dikenal yang masuk. Dengan ragu-ragu Al mengangkat panggilan ini.
“Halo, selamat malam. Dengan siapa ini?”
“Kami dari kepolisian. apakah benar ini bapak Al?”
“Benar, saya sendiri. Ada apa, ya Pak?” Al nampak mengerutkan keningnya. Mungkin ia berfikir keras, untuk apa polisi malam-malam
begini menghubunginya. Sementara dia sendiri tidak merasa berurusan dengan polisi sama sekali.
“Kami menangkap salah satu orang yang mencurigakan di depan
perusahaan bapak. Di tangannya, kami menemukan barang bukti berupa flashdis yang berisi banyak rancangan bagunan, Vila, hotel, klinik pengobatan, dan juga tempat wisata.”
“Di kantor polisi mana ini, Pak? Saya akan segera ke sana.”
Setelah posisi tersebut menunjukkan alamat kantornya yang
tidak jauh dari tempat perusahaannya, Al pun bergegas mengambil jaket dan
mengenakannya.
“Sayang, sepertinya orang tersebut sudah menangkap orang
itu, apakah kau mau ikut?”
“Boleh.” Queen juga masih tenang. Sementara Al sangat tidak
sabar melihat pelaku. Bekerja di bagian mana dia itu sebenarnya. Atau, memang sengaja bekerja di sana hanya untuk mencuri dan menjadi mata-mata saja? Entahlah.
“Al, menyupirnya pelan da hati-hati saja,” ucap Queen
mengingatkan.
“Iya, sayang. Maaf.”
Queen hanya tersenyum tipis. Ia tahu betul bagaiana karakter
suaminya. Dia adalah tipe pria yang tidak bisa sabaran untuk melakukan
tindakan. Apalagi yang berhubungan dengan penghianat seperti ini. Tapi, sejak putri kembarnya Clarissa dan Berlyn lahir, ia berusaha keras untuk tidak berkecimpung lagi
dengan cara gelap. Memang, usaha untuk membuat suaminya berubah membutuhkan waktu yang lama, setidaknya, ini sudah terlihat hasilnya.
Sampai di kantor polisi, bahkan Al juga sempat tersulut emosi memberikan satu tinjuan pada pria itu Al sangat ingat sekali kalau pria
itu baru enam bukan bekerja sebagai karyawan biasa. Ia tidak memiliki jabatan kusus. Tugasnya hanya sekedar dimintai tolong oleh para pekerja lain untuk mengantar dan memfoto copy dokumen.
Mungkin dari tugas sebagai pesuruh itu, ia bisa menguasai situasi perusahaan dengan cepat.
“Sabar, Al. kau jangan main fisik. Serahkan saja semuanya
pada polisi, oke?" bisik Queen sambil menahan suaminya.
“Pak, saya mau kasus ini dibawa ke meja hijau. Dan tangkap
semua orang yang juga berhubungan degan orang tersebut. Jatuhi mereka dengan hukuman yang seberat-beratnya, karena ini sudah masuk penculikkan besar, karena
dapat menghancurkan perusahaan yang dipegang suami saya,’ ucap Queen.
Setelah semua beres, barulah Al nampak tenag. Tinggal
menunggu waktu saja. Setelah di rumah, barulah pria itu sadar akan sesuatu yang sempat ia lupakan.
“Sayang, siapa yang kira-kira menghubungi polisi untuk meringkusnya?
Yang tahu persoalan ini Cuma kamu, loh. Pada papa dan kakek aku tidak berani cerita,” ucap Al.
Queen hanya tertawa saja dan berkata, “Kau pikir sebagai
nyonya Al aku hanyan kan diam tanpa melakukan tindakan setelah tahu suamiku menghadapi masalah yang cukup rumit, begitu? Aku akan bergerak lebih cepat. Sebab, aku paling hafal dengan karakter suamiku yang tidak suka berurusan dengn polisi dan juga hukum. Dari
pada suamiku Kembali berkecimpung ke dunia hitam lagi… “ Queen tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tertawa dengan lirikan mata yang menggoda pada suaminya.
“Kau yang melakukannya, Sayang?”
“Hahaha.” Queen hanya tertawa saja.
Al merasa gemas dan langsung menggendong wanita itu saking
gemasnya, “Terimakasih sayang. Kau benar-benar yang terbaik.”
***
Setekah satu penyusup tertangkap, perusahaan telah
berjalan normal hanya sesekali saja Al datang di acara persidangan sebagai
korban dan yang kenggugat.
Atas usul Queen juga, camera tersebut tetap terpasang. Dan Al lebih mengawasi di sana dari pada melihat hasil cctv. Karena keberadaanya yang tidak diketahui, ia bisa melihat sifat natural masing-masing orang yang bekerja di sana.
Queen kini pun juga sudah Kembali normal menjalani rutinitasnya di rumah sakit.
Suatu hari, ketika ia hendak menuju ke laboratorium, tanpa sengaja ia
bertemu dengan Alex dan Zahara. Sepertinya mereka akan memeriksa kandungan Zahara. Kjarena Ia duduk di antrian poli kandungan.
Awalnya Queen malas untuk bertegur sapa dengan mereka,
karena ia sadar kalau Zahara sangat membencinya. Tapi, karena terlanjur terlihat dan tak sengaja saling pandang, Queen pun menghampirir mereka berdua dan menyapa Zahara.
“Apakah kalian mau cek kehamilan? Dapat antrian nomor
berapa?” tanya Queen dengan ramah.
“Iya, masih kurang tiga nomor lagi,” jawab Zahara datar.
“Oh, ya sudah, ngomong-ngomong sudah berapa bulan usia kandunganmu, Za?”
“Sudah lima bulan, Queen. Kau di bertugas di bagian apa?" Mungkin ini kali pertama wanita itu mau bertanya balik pada Queen.
“Aku hany adokter umum. Jadi, apapun yang kiranya ringan, kau bis mengerjakannya. Semoga ibu dan anak sehat. Ya sudah, aku masih ada
pekerjaan dulu,” ucap wanita itu sambil berlalu meninggalkan pasangan tersebut.
“Queen! Kau minggu depan akan ditugaskan mengikuti dokter
Irwan ke Bandung!” seru Diaz.
“Hah, kenapa harus aku?” Ada rasa terkejut dan tak percaya ketika Queen mendengar hal itu. Tapi, senang dan bangga juga ada. Karena, ia bisa belajar banyak hal baru nanti. Serta, pengalaman juga akan bertambah pastinya.
“iya, ada beberapa dokter umum yang juga akan diikutsertakan. Kalau tidak salah satu dokter spesialis kejiwaan, satu psikolog
dan tiga dokter umum. Kau segra siap-siap saja,” ucap pria itu sambil
memberikan lembaran kertas.
"Terimakasih, ya?” Wanita itu menerima selembar kertas
tersebut dan membacanya. Dalam hati ia bersukur, karena di sana tidak lama. Hanya tiga hari saja. Tapi, ia akan serus menerima materi apapun. Jika sudah berhubungan dengan psikolog dan dokter jiwa. Pasti yang dihadapi juga
orang-orang yang memiliki masalah dengan kejiwaannya.
Dengan begitu, ia bisa belajar menguasai emosi setiap orang, membaca bahasa tubuh, dan cara menyampaikan nasehat pada orang yang memiliki karakter yang berbeda pula.
Tak sabar ia menunggu jam istirahat agar bisa memberi tahu mama, papa dan juga suaminya mengenai hal ini. jelas, mereka juga pasti akan sangat senang sekali.
Dalam bekerja pun, juga terlihat lebih bersemangat hari ini. memang, sesuatu yang berhubungan dengan psikologi wanita berusia tiga puluh satu tahun itu sangat menyukainya.
Lalu, kenapa dulu dia menjadi seorang psikolog saja? mungkin dia bisa buka praktik dengan biaya yang lebih miring, atau bahkan menggratiskan bagi para pasien yang benar-benar tidak mampu.
Karena, semua juga tahu, kalua tarif seorang psikolog itu mahal, dan cukup tinggi. Banyak masyarakat Indonesia yang sebenarnya perlu berkonsultasi dengan psekeater untuk mengatasi beban hidupnya. Terutama para ibu-ibu muda yang belum siap dengan masalah rumah tangga. perubahan suami yg awalnya baik, tapi, setelah satu tahun pernikahan tiba-tiba berubah.
__ADS_1
Namun, sayang sekali. Tidak semua orang mampu membayar biay akonsultasi tersebut. jika pun mampu membayar, sampi rumah ia akan menangis karena bingung apa yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. lain halnya dengan si kaya.
Sebab, yang terkena masalah tidak hanya orang kaya saja, yang butuh berkonsultasi dengan psikolog juga bukan kalangan berada saja. Banyak orang tak mampu yang butuh pencerahan tapi, karena kenala biaya... angka kejahatan akibat stres dari masalahnya kian meningkat saja.