Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 55


__ADS_3

“Sayang, jam istirahatnya papa masih kurang satu jam setengah lagi. Kamu tidur dulu di sini, ya?” ucap Queen pada putrinya yang memang sudah terlihat sangat mengantuk sekali.


Gadis kecil itu diam dan mengangguk. Tak lama kemudian ia pun sudah terlelap. Setelah memastikan kalau anaknya sudah benar-benar tertidur, barulah dia keluar ikut menemani suaminya yang terlihat serius menatap pada layar pc-nya.


Awalnya Queen ingin menyapanya. Tapi, urung. Wanita itu lebih memilih langsung memeluknya dari belakang daripada harus menyapa.


Merasa tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, Al hanya memegang kedua tangan Queen yang saling bertemu di depan dadanya.


“Aku masih kerja, Sayang,” ucap Al sambil sedikit mendongakkan kepalanya dan menggesek pipinya dengan pipi Queen yang selalu bertingkah manja saat bersama dengannya. Kapanpun, meskipun usia pernikahan mereka sudah terbilang lama.


“Masa ada aku di sini tetap berat dengan kerjaan, sih?” protes Queen, dan masih terus bertingkah manja.


“Beri aku waktu satu jam saja untuk mengerjakan ini. Sisanya, waktuku untuk kalian. Bagaimana?”


Queen diam seolah masih berfikir dan mempertimbangkan tawaran suaminya.


“Sisanya? Apakah setelah jam istirahat kau tidak akan bekerja lagi?”


“Iya, Sayang. Akan aku temani kemana pun kau pergi, bagaimana?”


“Emb… percuma, setelahnya kamu bakalan lembur di rumah sampai pagi,” ucap Queen berlagak merajuk sambil memanyunkan bibirnya.


“Aku berani janji, Sayang. Sampai malam setelah putri kita tidur, waktuku untuk kamu, ya? Sekarang izinkan aku kerjakan ini biar cepat selesai, oke?” ucap Al memohon, dan mengecup pipi Queen kilat.


“Kalau kamu bohong, apa konsekwensinya?” tantang Queen.


“Terserah kamu, deh mau diapain juga boleh, asal, jangan diqurbanin saja,” jawab Al sambil tertawa.


Sementara Queen yang sedikit kesal karena gagal menggoda suaminya langsung mencubit perut Al dengan Gerakan gesitnya, sehingga pria itu mengaduh sambil menggosok bekas cubitan tersebut.


Akhirnya Queen pun memilih untuk rebahan di atas single sofa yang berada dalam ruangan tersebut. Sofa yang biasa digunakan Al menemui tamu, atau teman dekatnya di saat jam kerjanya. Meskipun sebenarnya sah-sah saja kalaupun ia ingin keluar. Tapi, sebagai atasan dia juga perlu mengajari bawahannya untuk tetap disiplin.


Entah lelah, atau kenapa, belum ada lima belas menit Queen baringan di sana, tiba-tiba saja ia sudah terlelap. Al menyadari itu setelah setengah jam kemudian. Saat ia melihat untuk memastikan kenapa Queen anteng-anteng saja.


Dari jarak beberapa meterpun AL juga sudah mengira kalau dia tertidur, ia bisa menbaknya dari gerakan dadanya yang naik turun dengan teratur. Tapi, untuk lebih meyakinkan lagi, pria itu mendekati istrinya dan melihat wajahnya dengan dekat.


Al tersenyum seorang diri, lalu mendekatkan wajahnya mencium kening Queen. Seketika wanita itu menggerakkan tubuhnya dan sedikit menampik wajahnya. Al kembali tersenyum seorang diri. mungkin saja Queen merasa geli terkena kumis dan bulu jenggotnya yang belum ia cukur. Toh mau cukur atau gak, Queen juga tidak pernah protes selama ini.


“Ya sudah, kau tidurlah yang pulas, aku tidak akan bangunin kamu, biar tenang aku kerjanya,” ucap Al seorang diri setelah puas memandang wajah Queen saat pulas tertidur.


Satu jam kemudian, Berlyn lebih dulu terjaga, dia bangun dan keluar dari tempat tersebut. Pertama ia mengedarkan padangannya pada papanya yang masih asik dengan pekerjaannya yang seolah tidak pernah habis, dan akan ada ada dan ada bertumpukkan di atas mejanya. Lalu, kemudian, ia memandang sofa yang ada di depannya. Ia melihat mamanya tengah tertidur. Gadis kecil itu hanya tersenyum, kemudian berjalan lewat depan tempat mamanya tidur dan mendekati papanya.


Al menoleh cepat ke samping Ketika dia merasa ada yang memegang lengannya. “Sayang, kau sudah bangun?” sapa Al saat mendapati putri kecilnya sudah berdiri di sebelahnya.


“Apakah kau lapar? Makan dulu, ya? Papa suapin, biarkan saja dulu mamamu tidur. Mungkin dia capek.”


Berlyn hanya diam dan mengangguk saja. Sebelum tersenggol dan membuat data-datanya hangus, Al menyimpannya terlebih dahulu dan kemudian mendudukkan putrinya di atas meja kerjanya, sementara ia, membuka box berwarna pink. Yang isinya telur dadar dengan potongan sayur yang diiris tipis-tipis, dan tumis udang untuk makanan Berlyn. Dengam sangat telaten Al menyuapi putrinya.


Sementara Queen yang sudah merasa tidur lama, ia mengeliatkan badannya untuk mengendurkan otot-ototnya yang terasa tegang. Ia melihat jam, sudah hampir jam satu siang. Artinya, dia sudah lebih dari satu jam ketiduran, dan waktu istirahat suaminya sebentar lagi sudah akan berakhir.

__ADS_1


Dengan cepat Queen bengun tapi, ia urung mengeluarkan suara. Ia melihat pemandangan di meja kerja suaminya. Seorang ayah yang dikenal dunia sebagai sosok yang kejam dan tak memiliki rasa belas kasihan, tega membunuh tanpa rasa bersalah sama sekali, kini malah dengan telaten menyuapi putrinya. Anak kecil itu pun juga sangat lahap makannya, di selingi dengan cerita, dan sedikit tawa di dua wajah itu.


“Al, aku tidak menyesal jika pada akhirnya aku benar-benar mencintaimu. Tak peduli siapa kau di masa lalu. Yang kutahu saat ini, kau adalah suami yang baik untukku dan juga ayah yang baik untuk anak-anakmu. Lihatlah! Pria yang tidak sekriminal kau saja belum tentu memiliki hati yang lembut terhadap anak-anak mereka seperti hatimu,” gumam Queen seorang diri. ia sampai terbuai melihat pemandangan di depannya.


Sampai pada akhirnya, Berlyn menoleh ke arahnya dan tersenyum mengekspresikan terkejut sambil kedua tangannya di letakkan pada kedua pipinya. Kemudian di susul Al yang juga menoleh ka arah sofa.


“Mama sudah bangun rupanya,” ucap Al yang ditujukan pada Brlyn yang tersenyum sambil mengulum nasi di dalam mulutnya.


“Lahap sekali anak mama? Pinter deh makannya. Apakah kau setiap hari juga seperti itu saat di rumah nenek, Sayang?” ucap Queen sambil berjalan menuju ke arah anak dan juga suaminya.


“Gimana tidurmu, Sayang? Nyenyak?” tanya Al sambil merangkul pinggang Queen yang berdiri di sebelahnya. Queen hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah putrinya. Sementara tangan Al berpindah ke leher istrinya dan menarik pelan menuju dirinya dan mengecup pipinya. Lalu, di balas oleh lirikan dan senyuman dari Queen.


“Kamu lapar juga? Mau disupain? Ini Berlyn makannya juga sudah habis.” Al menunjukkan kotak makan milik Berlyn di tangannya yang sudah kosong.


“Boleh, lah kalau emang kamunya mau nyuapin,” jawab Queen dengan manja. Dan selalu itulah yang membuat Al merasa kian sayang pada istrinya.


“Tok tok tok!”


Seketika semua menoleh ke arah pintu, dan Al pun langsung meminta orang yang berada di balik pintu ruangannya untuk masuk.


“Masuk!” jawabnya dengan tegas dan dingin.


Pintu terbuka, seorang wanita muda berdiri di sana sambil membawa map dalam pangkuannya.


Permisi, Pak. Selamat siang. saya diminta untuk mengantarkan berkas ini oleh bu Lisa yang dari devisi pemasaran,” ucapnya dengan pelan. Dilihat dari gelagatnya sepertinya dia staf baru, atau malah justru anak yang magang.


“Permisi, Pak. Bu,” ucap gadis itu dengan santun dan sedikit malu-malu.


“Staf baru, Al?” tanya Queen.


“Iya, termasuk masih magang sih. Dia masih kuliah jurusan multimedia, jadi magangnya ya ke bidang pemasaran. Cantik, ya?” goda Al sambil melirik istrinya.


“Iya, aku suka. Dia juga sepertinya sangat santun.”


“Aku juga juga suka,’’ jawab Al lagi. Namun dengan suara yang sedikit lirih.


“Suka yang bagaimana?” seketika Queen langsung  memelototi suaminya, membuat pria itu hanya tertawa sambil menjadikan kedua tapak tangannya sebagai tameng di depan dadanya.


“Hahaha, ampun Tuan Putri, ampun. Kinerja dia bagus, dia selalu serius, sudah itu saja, kok. Gak lebih, kalau suka yang berkaitan dengan hati ya cuma kamu.”


Queen masih saja merajuk, memanyunkan bibirnya, kemudian memukul lengan Al yang meraih pinggangnya. “Katanya mau nyuapin aku?” tanyanya.


“Baiklah.” Kemudian Al memandang pada putrinya, ia membiarkan si kecil Berlyn bermain game pada pc-nya. Sementara dia dan Queen berpindah pada single sofa untuk makan siang.


Usai makan, Al menepati janjinya. Ia mengajak anak dan istrinya jalan-jalan ke mana pun yang mereka mau dan inginkan. Tapi, baru saja mereka tiba di pertengahan jalan, ponsel Al berdering. Ternyata sebuah panggilan dari kantor.


“Halo, ada apa?” jawab pria itu dengan suara khasnya. Dingin, namun tak mengurangi kewibawaanya.


“Pak, ada kabar dari perusahaan papa anda,” jawab seorang wanita dari seberang sana yang kedengarannya dia juga sangat bingun harus berkata apa.

__ADS_1


“Cepat ngomong!” bentak Al mulai tidak sabar, sampai ia lupa, kalau di dalam mobil juga ada putrinya. Sebab, selama ini, dia tidak pernah menunjukkan sisi lain pada Berlyn, selain kelembutan sebagai seorang ayah. Karena dia tidak ingin ditakuti oleh anak. Sebab, takut dsn paruh itu berbeda.


“Pak Vano dilarikan ke rumah sakit Medica.”


Merasa staf yang menelfonnya tak bisa diandalkan dan ngomongnya setengah-setengah, itu hanya mengulur waktu saja. Tanpa pikir panjang Al langsung menambah kecepatan laju mobilnya menuju rumah sakit di mana istrinya bekerja sebelumnya.


“Al, ada apa ini?” tanya Queen yang memang tidak tahu apa-apa.


“Telfon mama. Tanyakan bagaimana kondisi papa saat ini!” jawab Al singkat.


Tanpa banyak berbicara lagi, Queen langsung mengeluarkan gawainya dari dalam tas. Ia melihat raut wajah suaminya juga nampak tegang dan penuh dengan emosi. Tapi, ia juga takut, kira-kira apa yang terjadi pada papanya?


“Ma, Mama di mana? Bagaimana keadaan papa?” tanya Queen langsung to the point begitu seorang wanita dari seberang sana menjawab panggilannya sambil terisak.


“Mama belum tahu pasti, Sayang. Kau di mana sekarang?”


“Aku menuju ke rumah sakit, Ma. Sebentar lagi juga tiba.”


Tiba di rumah sakit, Al langsung berlari menuju IGD dan diikuti Queen yang berlarinya tidak bisa sekencang dirinya karena ia sambil menggendong Berlyn.


Saat Queen tiba di depan pintu IGD, ia sudah mendapati mamanya menagis histeris, smentara Al, suaminya, ia tidak bisa berkata-apa, ia roboh berjongkok dengan tatapan kosong membuat perasaan ibu dari anak kembar itu kian tidak keruan saja. Tak lama kemudian, dari dalam IGD dua orang perawat mendorong blangkar, dengan sosok berbaring di atas sana yang ditutupi dengan kain putih dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Dengan tubuh bergetar hebat, Queen meletakkan putrinya dari gendongannya dan mencegah dua perawat tersebut dan menyingkap kain putih dibagian kepala untuk melihat wajah dari pasien.


“Papa!” teriak Queen histeris, seketika tangisannya pun pecah. Ia tak kalah syok, sebab, papanya terlihat tidak kenapa-napa sebelumnya. Lalu, kenapa tiba-tiba saja pergi begitu cepat.


“Ma, kenapa papa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia pergi begitu cepat dan mendadak?” tanya Queen yang tidak terima dengan kepergian papanya secara mendadak.


Sementara Clara hanya menangis tak bisa menjawab apa-apa. Sepertinya ia juga tidak tahu apa-apa akan hal ini.


“Maaaaa! Jawab aku, Ma. Jangan Cuma diem,” rengek Queen seperti anak kecil. sambil menggoyangkan lengan mamanya.


“Mama juga kaget, Sayang. Mama tidak tahu pasti kenapa. Pihak kantor tiba-tiba juga mengabari mama. Mama langsung menuju rumah sakit. Tadi sempat melihat papamu kritis, tapi, sampai depan pintu ruangan ini, pihak medis melarang mama untuk ikut masuk.” Clara melihat Berlyn yang diam dengan tatapan kosong dibelakang putrinya, kemudian ia berjalan meuju gadis kecil itu dan memeluknya.


Tangisan Clara kian menghemat saat ia terbayang wajah Vano menatap dirinya dengan tatapan sayu. tangannya yang kian lemah terus berusaha erat menggenggam tangannya. Tapi, genggaman itu terlepas kala ia sudah memasukki ruang IGD. Lalu, kini dia keluar hanya tinggal raganya saja. Padahal pagi tadi mereka masih bercanda bersama cucu mereka. Lalu, kenapa secepat ini? Bahkan Vano pergi juga tanpa pamit. Kenapa, Van?


Seolah mendengar cucunya bertanya, Clara berucap seperti memberi jawaban, “Kakek Vano sudah pergi menghadap yang maha kuasa, Sayang. Kamu doakan dia yang banyak, ya biar kakekmu masuk ke Surga,” ucap Clara, berusaha tegar.


Clara dan cucunya sudah pergi duluan sambil mengurus pemakaman suaminya. Sementara Queen dan Al kembali mencari dokter yang menangani papanya tadi untuk menanyakan leih detil lagi.


“Apa sebenarnya yang menimpa papaku, Dok?” tanya Queen masih terisak. Ia berharap ini adalah mimpi. Tapi, kenapa ia tidak juga kunjung terjaga jika memang ini adalah sebuah mimpi buruk.


“Pak Vano mengalami serangan jantung dadakan. Mungkin terkejut dan disertai pikiran yang keras sepertinya, juga dipicu dengan pikiran yang keras, sebab, di sini tadi tensinya juga dari 120 menjadi 200, sehingga pasien tidak tertolong. Karena penanganan bisa dikatakan terlambat.


“Terimakasih, Dok,” ucap Al lalu mengajak Queen untuk segera kembali, karena bagaimana pun ia juga ingin memandikan dan mengantar papanya sampai ke liang lahatnya sebagai penghormatan yang terakhir karena telah merawat dan menyayanginya sepenuh hati seperti putra kandungnya sendiri.


"Dokter Han tadi bilang, papa telat penanganan. Bagaimana bisa? Aku mau tahu rekaman cctv. Kenapa mereka bergeraknya lambat sekali," ucap Queen sambil terisak.


"Iya, Sayang. Aku juga berfikir demikian. Tapi, kita pulang dulu, ya?" ucap Al berusaha menenangkan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2