
Begitu jam kerja sudah berakhir, Candra segera meninggalkan
kantor dan mengemudikan kendaraannya dengan cepat menuju ke rumah sakit.
Sebelumnya, ia menyempatkan diri mampir ke restoran yang letaknya tidak jauh
dari kantor. Ia bermaksut membelikan makan malam untuk Novi, Adriel dan juga
Axel. Ia paling mengerti kesukaan Adriel. Anak itu paling suka dengan udang
crispy dan cumi-cumi ring. Ia yakin, di rumah sakit anak itu tidak akan
mendapatkan makanan seperti itu. jadi, apa salahnya, kan membelikan ini
untuknya?
Sekitar pukul setengah enam sore, Candra sudah tiba di sana.
Tapi, ia hanya mendapati Novita seorang diri yang menjaga putranya. Lalu, ke
mana Axel? Apakah ia pulang dulu dan baru akan kembali setelah mandi dan
berganti pakaian sambil membawakan pakaian ganti untuk mama dan juga adiknya?
“Novi, sejak kapan Adriel tertidur?” tanya Candra lirih.
Karena ia khawatir anak yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri nanti
malah terbangun.
“Sudah sejak setengah jam yang lalu. Kau dari kantor
langsung ke sini, Ndra? Apa tidak capek”
“Iya. Kenapa harus capek? Aku di sini tidak untuk lari
marathon, bukan? Ini, aku bawakan makanan untuk kita. Di mana Axel?”
“Dia masih pulang untuk mandi dan sekalian membawakan
pakaian ganti untukku dan juga adiknya.” Novita segera meraih gawanya yang
tergelatak di atas nakas, dan menscrol
nama kontak pada benda pipih tersebut.
“Mau menelfon siapa?” tanya Candra penasaran.
“Axel. Biar kuberi tahu dia agar tidak membeli makanan
karena kau sudah membawakannya.”
Candra hanya mengangguk pelan dan duduk di dekat Adriel lagi
sambil menyentuh tangan bocah itu dan membelai lebut ubun-ubun Adriel.
“Halo, Xel. Kau masih di mana, Sayang?” tanya Novita.
Memulai obrolan lewat telefon saat panggilannya sudah dijawab oleh putra
sulungnya.
“ …. “
“Ya sudah, kamu langsung ke rumah sakit saja. Om Candra baru
saja sampai, dia sudah membelikan makanan untuk kita. Jadi, kau tidak perlu
repot-repot membelinya.”
“ …. “
“Ya, sudah. Hati-hati, ya Sayang.” Panggilan dimatikan.
Novita mendekati Candra dan menyentuh Pundak pria itu. baru kali ini ia
melupakan siapa Candra. Baru kali ini juga ia melupakan kalau dia seperti
jelmaan mendiang mantan suaminya. Karena, meskipun rupa mereka sama, Candra
memiliki sifat yang super duper konyol yang tidak dimiliki Aditya yang selalu
serius dan formal. Meskipun dia itu tergolong pria romantis. Tapi, diam-diam
dia adalah seorang prikopat.
Candra menyentuh tangan Novita yang ada di atas pundak
kanannya, dan menoleh ke belakang serta sedikit mendongak melihat ke arahnya.
“Kau baru saja dari kantor, apakah tidak lelah langsung ke
sini? Apalagi besok juga kau harus bekerja, kan?”
“Tidak masalah. Aku akan kembali nanti sekitar jam Sembilan.
Tidak masalah, bukan? Besok saat jam istirahat aku juga akan ke mari dan
sepulang kerja akan menemanimu menginap di sini. Berdua kita jaga Adriel
bersama,” ucap Candra. Sebenarnya dia ingin mala mini menemaninya. Tapi, ia
tidak bawa baju ganti. Mungkin bisa saja besok, kan bisa mempersiapkan segalanya.
“Trimakasih, ya?” dua insan tersebut saling menatap dan
bibirnya sama-sama membentuk sebuah senyuman.
“Ehem. Maaf, jika aku menganggu.”
Tiba-tiba saja Axel sudah muncul di ambang pintu dengan raut
wajah yang memerah menyaksikan mamanya sedang saling tatap bersama pria yang
dicintainya.
Wajar saja dia malu. Ia merasa kalau dirinya menjadi seorang
pengacau. Dan jelas sangat memalukan sekali bagi pria remaja yang sekalipun
tiak pernah dekat dengan wanita. Apalagi pacaran.
“Axel, kau bawakan baju ganti untuk mama dan juga adikmu,
Sayang?” tanya Novita, berusaha ngilangin rasa canggungnya.
“Iya, Axel bawakan.” Pria remaja itu menyerahkan tas karton
berisi baju pada mamanya dan langsung menuju sofa.
“Ndra, aku mandi dulu, ya?” ucap Novita lirih. Lalu masuk ke
dalam toilet yang berada di dalam kamar tersebut.
Awalnya candra bingung, harus mendekati Axel, untuk
mentralkan keadaan apa terus menunggu Adriel agar saat bocah berusia enam tahun
itu saat terjaga dialah orang pertama yang dilihatnya, dan berdiri di dekatnya.
Karena melihat Adriel yang masih sangat pulas, ia pun
memutuskan duduk di dekat Axel sambil mengobrol.
“Bagaimana sekolahmu? Kapan ujian nasionalnya?” tanya Candra
berbasa-basi.
“Semua masih aman dan terkendali, Om. Semoga saja sampai
ujian nasional nanti tidak terdapat kendala apapun, aku berharap bisa lulus
dengan nilai yang bagus.”
“Om yakin, kau bisa. Bukannya selama ini kamu selalu
mendapatkan jura satu? Kau sejak SMP hingga SMA, juga mendapatkan beasiswa
karena kau cerdas, bukan?”
“Itu tidak menjadi jaminan aku bisa juga saat ujian nasional
nanti, Om,” jawab Axel merendah.
Candra tertawa dan menepuk sisi bahu remaja di sampingnya
dan berkata, “Om selalu mendoakan kau dan adikmu yang terbaik.”
“terimakasih, Om.”
Candra langsung beranjak mendekat ke hospitalbad saat
mendapati Adriel mulai banyak bergerak. Ia langsung ambil posisi santai duduk pada
stul di dekanya sambil mengelus keningnya dengan lembut.
“Om Candra, kau ada di sini? Di mana mama?” tanya bocah itu
sambil mengucek matanya, da mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
“Mama masih mandi, Sayang. Mungkin sebentar lagi juga dia
akan segera selesai,” jawab Candra dengan lembut.
“Om, apakah kau sudah tanyakan pada dokter, kapan aku bisa
pulang?” tanya bocah itu. sepertinya Adriel benar-benar tidak berat tinggal di
rumah sakit.
“Pokoknya, Adriel makan yang banyak, istirahat cukup, dan
jangan banyak gerak. Agar cepat sembuh, dan segera pulang, oke?” ucap Candra,
pada bocah laki-laki yang masih berbaring di atas hospitalbad .
Usai mandi dan keluar dari dalam toilet, Novita mendapati
putra bungsunya sudah terjaga. Ia pun segera menyeka badan Adriel dan
menggantinya dengan pakaian yang baru saja Axel bawakan.
Usai menggantikan pakaian, barulah mereka makan makanan yang
Candra bawakan. Kebetulan, makan malam untuk Adriel jatah dari rumah sakit juga
sudah datang. Jadi, Adriel yang memang hanya dibelikan cumi dan udang cryspi
saja bisa memakan nasi dari rumah sakit dan juga sayurannya.
Usai makan malam, ponsel Axel berdering. Ternyata ada salah
satu temannya yang mengalami musibah dan membutuhkan pertolongan darinya.
Dengan berat hati, remaja yang sebentar lagi akan menginjak usia Sembilan belas
tahun itu berpamitan pada mama dan juga om Candra. Pria yang akan jadi calon
ayah tirinya.
“Ma, barusan Ricky telon katanya ada masalah. Aku ke sana
dulu, ya? Jika masalah sudah selesai, aku akan segera kemari,” ucap anak itu
__ADS_1
dengan rasa yang tidak enak. Bagaimana pun di sini yang sakit adalah adiknya sendiri.
Tapi, di sisi lain sahabatnya membutuhkan dirinya dan lagi sang adik sudah ada
dua orang dewasa yang menjaganya.
“Baiklah, hati-hari, ya Xel,” jawab Novita.
Axel mengangguk dan beranjak. Tak lupa pula dia juga
berpamitan pada om Candra yang kehadirannya sudah dia terima entah sejak kapan.
Yang jelas, ia pertama kali mau mengajaknya berbicara langsung ia ajak pergi ke
makam mendiang papanya.
“Ya sudah kamu hati-hati. Kalau sudah tidak perlu
tergesa-gesa di jalan. Om akan menemani mamamu dulu selama kau pergi, oke.”
“Makasih, Om.”
Kini di dalam ruangan itu hanya ada Novita dan Candra saja
yang menemani Adriel. Selang beberapa menit, seorang dokter dan perawat di
belakangnya masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memeriksa pasien. Karena
Adriel yang susah minum obat, mereka hanya memberikan obat injek yang
dimasukkan pada lubang infusnya saja.
Karena obat yang diberikan di rumah sakit ini sangat paten
dan dosisnya bisa dikatakan lumayan tinggi. Tidak berselang lama seetelah diinjek
Adriel pun kembali terlelap.
Candra dan Novita duduk di single sofa yang ada di dalam
ruangan itu. Mereka bersandar melepaskan rasa penat di tubuhnya. Karena sejak
Candra datang tadi ia juga belum menyandarkan tubuhnya sama sekali. Apalagi dia
juga baru pulang dari bekerja. Pasti sangat lelah.
“Fiuuuh! Nikmat
sekali kalau sudah bersandar gini,” ucap Candra setelah meletakkan tubuh
lelahnya bersandar sambil setengah merebah di sana.
Sementara Novita, ia menawari agar Candra berbaring di sofa
tersebut, ia akan duduk di stul dekat hospitalbad Adriel. Tapi, dengan cepat
pria itu menolak.
Keduanya sama-sama membisu karena tidak tahu apa yang akan
mereka bicarakan. Pria itu melirik wanita di sebelahnya yang mulai
terkantuk-kantuk. Kemudian, ia menggenggam tangan novita yang diletakkan di atas sofa, berada diantara
keduanya duduk.
“Kamu ngantuk? Sini bersandarlah!” tawar Candra sambil
menepuk Pundak kanannya dengan tangan kiri.
Dengan patuh, Novita pun langsung menuruti perintah pria
yang ada di sebelahnya. Keduanya sama-sama diam dan membisu. Melihat rasa
kantuk Novi sepertinya hilang entah ke mana, Candra memulai obrolan, ia
menayakan kapan Zahara dan Alex tadi meninggalkan rumah sakit. Karena, saat ia
berpamitan untuk kembali ke kantor tadi mereka masih berada di sini.
“Jam berapa Alex dan istrinya tadi pulang?”
“Setengah jam setelah kau pergi. Mulanya Zahara menolak.
Tapi, aku berhasil membujuknya.”
“Aku salut dengan bu Queen. Ketika sapaan ramahnya tidak
disambut baik oleh Zahara, dia bisa dengan cepat menemukan pengalihan agar
suasana mencair dan tidak membeku. Pantas saja, pak Al sangat mencintainya.
Apakah kau berfikir kalau Alex masih belum bisa move in sepernuhnya dengan
wanita itu?”
“Kurasa iya. Tapi, dia bisa banget menghargai dan menjaga perasaan
istrinya. Hanya istrinya saja yang entahlah. Aku yakin, jika saja Zahara bisa
berlaku baik seperti dulu, pasti Alex tidak akan mengingat kembali masa lalunya
bersama Queen.”
Candra mengeryitkan dahinya. Ia berfikir keras, lalu
bertanya, “Apakah Zahara dulu tidak begitu?”
“Benar. Dia sejak awal tahu dan kenal dengan Queen. Ia juga
tahu awal Queen dan Alex bertunangan dan
menikah. Hingga pada akhirnya mereka bercerai. Malah, sebenarnya dulu Zahara
sangat menjaga hati dan perasaan orang lain. Tutur katanya lembut dan enak
didengar.”
“Lalu kok bisa berubah seperti itu, ya? aku tidak percaya
kalau dia dulu adalah wanita yang seperti itu, Nov.”
“Ya, karena kau tidak tahu sendiri. Kalau aku tidak percaya
dengan Zahara yang sekarang. Bagaimana bisa sifat dan kepribadiannya bertolak
belakang dengan yang dulu.”
“Semoga adikmu diberi yang terbaik oleh Tuhan, ya?”
“Aamin. Terimkasih Ndra.”
Novita masih bersandar di Pundak Candra. Mungkin juga karena
kelelahan seharian tak sempat meletakkan badannya sama sekali. Jelas, pinggang
dan punggunya pasti terasa kaku karena seharian duduk terus di dekat Adriel
dengan kursi tanpa sandaran.
Waktu baru menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit.
Tapi, Novita sudah terlelap. Mengetahui wanita yang dicintainya tertidur di
pundaknya, Candra hanya diam saja tak banyak bergerak. Sehingga, mereka berdua
pun sama-sama terlelap dalam keadaan duduk bersandar di atas sofa tersebut.
Selang beberapa saat, Novita mulai terjaga. Ia mengeliat
panjang dan bergumam lirih, “Aduh, kok aku bisa ketiduran gini, sih? Jam berapa
ini?” Hal itu membuat Candra pun juga itu terbangun.
Mereka segera mengatur jarak aman saat begitu membuka mata
Axel sudah berbaring dengan santainya sambil bermain gadget di atas lantai yang
sudah digelari kasur lipat. Rupanya anak itu kembali sambil membawa kasur lipat
yangkira-kira memiliki lebar enampuluh cm an.
“Axel, kau sudah kembali, Nak?” tanya Novita terkejut. Malu?
Jangan ditanya lagi. Yang jelas dia sangat malu sekali. Jika pun bisa, ingin ia
menyembunyikan wajahnya di tempat yang aman. Tau, ia memutar waktu kembali,
agar tidak tertidur dalam keadaan bersandar di dada Candra.
“Sekitar setengah jam yang lalu,” jawab pria remaja itu
singkat.
Dilirknya jam dinding yang tergantug di atas dinding lurus
di depan hospitalbad pasien, waktu menunjukkan pukul Sembilan lewat tiga puluh.
Artinya, dia suda tidur selama kurang lebih satu jam.
‘Tidak masalah. Nanti kan aku juga mungkin akan begadang,’
guman Novita di dalam hati.
Tak mau larut dalam situasi canggung dan bercampur malu,
Candra pun berpamitan untuk pulang. Tadi ia berkata pada Novita untuk menemani
sampai pukul Sembilan. Tapi, ini sudah lewat tiga puluh menitan karena
sama-sama ketiduran.
“Ya sudah, Novita, Axel. Aku pulang dulu, besok pagi om akan
mempir ke sini membawakan sarapan untuk kalian sebelum ke kantor,” ucap Candra.
“Hati-hati, Ndra.”
“Kamu juga jaga diri dan Kesehatan ya, Nov? kalau Adriel
tidur, kau juga tidurlah,” ucap Candra. Terdengar romantis saja membuat Axel
merasa malu sekali berada di antara dua orang dewasa yang sedang dilanda cinta.
“Axel, jaga diri baik-baik. Om titip mama dan juga adik
kamu, ya? Om Candra balik dulu, besok malam insyaallah om yang akan temani mama kamu jaga di sini.” Candra
menepuk Pundak Axel beberapa kali, lalu, ia pun pergi.
Kini tinggal Novita dan Axel saja yang berada di dalam
ruangan itu. ia merasa masih malu dan canggung saja jika harus berhadapan
dengan Axel putra sulungnya. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia sama sekali tidak
memiliki pilihan. Mau tidak mau, ya harus di hadapi. Ia juga tidak bisa
terus-terusan menutup diri dan mendiamkan putranya terus-menerus.
Novita beranjak dari sofa tersebut dan ikut duduk di atas
kasur yang digelar putranya yang tidak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
“Memang ada masalah
apa tadi dengan Ricky?”
“Tidak ada, Ma. Dia saja yang sepertinya merasa kesepian.
Jadi, mencari cara agar aku datang ke tempatnya.”
“Oh, ya sudah. Kau segeralah tidur, Xel. Bukannya besok kau
juga masih harus ke sekolah?”
“Iy, Ma. Tapi, tenang saja. Aku membawa pakaian ganti dan
beberapa buku di dalam tas sekolahku itu. jadi, aku tidak akan menyita banyak
waktu untuk pulang dulu.”
Novita tersenyum sambil mengelus ujung kepala Axel. Pria itu
pun langsung mematikan gawainya dan bersiap untuk tidur.
Sementara Novita, ia melihat Adriel. Ia masih belum merasa
ngantuk karena tidurnya barusan juga lumayan lama. Jadi, jika pun mala mini
membuatnya harus begadang, sepertinya juga tidak masalah.
*****
Sudah tiga hari semenjak Lyli melayani napsu bejat dokter
Darto, ia tidak melihat sama sekali batang hidung si tua mesum itu. entah, di
mana dia. Apakah libur? Memang dia tidak setiap hari berada di rumah sakit ini.
Namun, kedatangannya termasuk sering.
“Bunga!”
Lyli menoleh saat mendengar seorang wanita memanggilnya.
Ternyata dia adalah salah satu dokter yang berada di sini.
“Iya, Bu. Apakah ada yang perlu saya bantu?”
“Tolong buatkan lima gelas kopi dan siapakan makanan kecil
lima porsi di ruang dokter, ya? akan ada rapat soalnya.”
“Baik, dok.” Wanita itu pun beranjak langsung ke dapur. Ini
sudah selesai jam makan siang. Kondisi dapur juga sudah bersih dan sepi.
Mungkin para pelayan juga pada masuk ke kamar masing-masing. Dan akan kembali
lagi ke dapur nanti jam setengah tiga untuk mempersiapkan makan malam.
Setelah menyipakan permintaan dokter Regina, Lyli kembali ke
dapur untuk meletakkan nampan yang ia gunakan untuk membawa kopi serta
hidangan. Semua sepi hanya beberapa pasien saja yang terlihat duduk di teras
depan bangsal mereka, ada juga yang Sebagian bermain tanah di taman. Sebagian
besar mungkin juga tidur.
Beberapa meter setelah wanita itu menyusuri Lorong, dia
merasa kalau ada yang mengintitnya di belakang. Dia coba tajamkan indra
pendengarannya dengan melangkah perlahan, suara Langkah kaki itu juga perlahan.
Lalu, ia coba berjalan dengan kecepatan normal, suara Langkah kaki itu juga
berubah kencang sekalipun kedengarannya sangat hati-hati sekali. Kemudia, Lyli
berhenti, suara Langkah kaki itu juga berhenti. Kemudian, dengan cepat dia
menoleh ke belakang. Suasana sepi. Tak ada seorang pun di sana. Tiba-tiba saja
ia merinding dan takut, kalau saja ada pasien pria yang gila dan melakukan
tindak kejahatan padanya. Bagaimana pun, Namanya manusia, entah itu normal atau
sedang gila, napsu pastilah ada. Apalagi di bagian ini mayoritas pasien yang
menghuninya sudah lama. Apa tidak karatan, tuh?
Lyli pun mempercepat langkahnya berlari dan masuk dapur. Begitu
ia tiba di sana, ia bernapas lega dambil memegangi dadanya. Setidaknya ia sudah
merasa aman di sini.
“Grak!”
Gadis itu terkejut dan menoleh cepat ke belakang Ketika ia
mendengar suara pintu dapur ditutup dengan keras.
“Dokter, Darto! Saya kaget sekali,” ucap gadis berambut
lurus yang selalu diikat ekor kuda itu. Walau wajahnya tadi menunjukkan
ketegangan dan terkejut yang luar biasa. Tapi, setelah melihat siapa yang
mengikutinya ia jadi sedikit lega. Tapi, ia juga was-was, karena ini siang
hari. Sebab, ia ingat kata si tua itu, kalau dia tidak menerima penolakan dalam
bentuk apapun.
Pria itu tersenyum genit dan menatap wanita di depannya
dengan tatapan lapar. Kemudian ia mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.
“Kau masih ingat, apa tugasmu, bukan?”
“Tentu saja, saya sangat ingat. Lalu, apakah anda juga ingat
dengan janji anda untuk segera menebus utang saya di sini agar saya bisa
meninggalkan tempat ini?” tanya Lyli balik.
Pria tua berkepala botak itu tertawa lebar dan terbahak. “Santai,
Bunga. Baru berapa hari, sih kamu menyerviceku?” tanya pria tua itu sambil
menyentuh dagu Lyli.
“Anda bilang saya hanya perlu menunggu satu mingguan saja,
bukan? Ini sudah tiga hari. Harusnya empat hari lagi anda sudah melunasi
utang-utang saya seperti yang anda katakana dulu.” Lyli memalingkan wajahnya ke
samping . ia merasa risih dengan tangan yang mulai keripur itu.
“Kamu tahu, tidak? Dalam satu minggu itu ada berapa hari?”
tanya pria tua itu sambil maju lagi beberapa Langkah, sehingga Lyli bisa merasakan
hembusan napas yang baginya bau jengkol itu.
“Tujuh hari, bukan?”
“Itu kamu tahu. Lalu, kau berapa kali melayaniku?”
“Satu kali.”
“Artinya ya satu hari, Bunga. Yang dua hari tidak masuk
itungan. Aku bilang sama kamu jika satu minggu memberikan layanan padaku. Jika
kamu mampu tujuh kalinya selama satu bulan, ya satu bulan aku akan menebusmu
dan meresmikan hitam diatas putih kalau kau adalah budak napsuku. Maka, aku kan
membantumu dalam menjalankan dendammu dengan catatan, aku tidak mau menerima penolakan
dalam bentuk apapun. Kapanpun aku inginkan kamu, kau juga harus siap.”
“Ya sudah. Ini masih siang dan tidak aman. Saya juga perlu
istrirahat,” ucap Lyli lalu berlalu melewati pria botak itu.
“Hahaha, baik-baik mungkin untuk hari ini aku masih belum
bisa bersamamu, karena aku sudah bersama wanitaku yang lain,” ucap pria itu
lagi sebelum Lyli keluar dari area dapur yang cukup luas itu. karena, di dapur
ini sepuluh pelayan memasak untuk para pasien yang jumblahkan tidak sedikit.
“Dasar tua bangka, dah bau tanah masih saja mesum. Licik
pula, semoga saja kau mati setelah menebus utang-utangku di sini,” ucap Lyli
seorang diri karena kesal.
Sesampainya di kamar, ia berfikir untuk segera tidu. Tapi,
ternyata bayangan Al tetap menghantui pikirannya kian kuat. Ia terus terbayang
wajah Al saat keluar dari hotel mengejar Queen dengan keadaan rambut yang basah
dan mukanya yang fresh khas pria habis mandi itu. dia benar-benar terlihat
lebih tampan dari tujuh tahun silam. Andai saja yang dikejar Al adalah dia, bukan
Queen.
“Hah, kenapa sih semuanya harus Queen? Kenapa selalu dia
saja yang beruntung dalam segala hal, dan bukan aku?” celetuknya kesal sambil
merobrekselimut ditangannya. Tapi, gagal. Karena kain selimut itu terlalu kuat.
Kecuali jiga dia pegang gunting. Pasti bisa.
“Bunga, kau kenapa? Sepertinya kesal sekali?” tanya Leni,
teman sesama pelayan.
“Aku tidak kenapa-napa, kok. Kamu dari mana?” tanya Lyli
balik.
“Itu, habis membereskan gelas dan piring sisa para dokter
yang rapat tadi.’’
‘’Ya sudah, aku masih ingin sendiri,” tukas Lyli, lalu
berbaring dan bersembunyi di balik selimut.
Sementara temannya
juga berbaring di sana. Pelayan lain ada yang masih tidur dan ada juga yang
memainkan gawainya.
__ADS_1