
Mungkin ini adalah malam minggu yang paling sial di sepanjang sejarah selama Axel hidup. Baru kali ini dia benar-benar tinggal sendirian di rumah. Teman, sahabat, om dan adiknya malah bersenang-senang sendiri. Padahal, rencana awal ia ingin mengajak Berlyn jalan berdua saja. Ia sudah terlanjur membeli dua tiket untuk nonton berdua. Namun acara gagal gara-gara kedatangan Bilqis yang tak diundang dan tiba-tiba.
"Haaah! Terus mau di buat apa ini tiket? Di bakar? Sayang banget. Tapi, dia sudah jalan sendiri," umpatnya seorang diri.
"Pink!"
Axel menoleh ke arah meja di mana ia meletakkan ponsel miliknya. Terlihat sebuah pesan dari teman wanitanya di kampus. Sesama dosen. masih muda, cantik dan cerdas, usianya tiga tahun lebih muda darinya.
Axel tertawa miring kala membaca pesan dari Laudia. Gadis itu termasuk sosok yang populer di kampusnya. tidak hanya dari kalangan para dosen saja yang menykai wajah cantik dan body sexynya. Melainkan banyak para siswa yang juga menyukai dosen tersebut. Bahkan juga brlomba-lomba memikat hati wanita duapuluh tujuh tahun itu yang konon katanya adalah seorang janda tanpa anak.
"Selamat bermalam minggu pak Axel," tulis wanita itu pada pesan singkatnya.
"Ya. Selamat malam minggu juga, Bu Laudiya," tulis Axel. Tapi, ia tidak juga mengirimkannya. Ia nampak ragu-ragu. Takut ia dianggap merespon dan memberi harapan pada wanita yang sudah setahun ini terkesan mendekatinya. Ia tidak mau mepermainkan wanita. Andai saja bu dosen cantik itu hanya menganggap teman padanya dan tidak lebih, pasti Axel bisa lebih ramah. "Ya." Akhirnya Axel pun menghapus enam kata terakhir daei kalimatnya, dan hanya menyisakan satu kata saja lalu mengirimkan balasan pada wnaita itu.
"Singkat benget, Pak? Apakah saya sedang menganggu malam minggu anda bersama pacar?" Sepertinya wanita itu mulai menggoda Axel.
Axel diam nampak berfikir sejenak. Mau berkata iya, nyatanya ia hanya sendirian di rumah saja. Berkata jomblo, malu-maluin banget. Tapi, memang itu kenyataannya. Ia berencana kelak di hari ulang tahun Berlyn yang ke tujuh belas yang kurang satu bulan lagi ia ingin mengatakan perasaannya pada gadis yang sejak duabelas tahun membuatnya puasa dari banyak wanita cantik yang berusaha mendekati dirinya.
"Lagi ngoreksi jawaban anak-anak," jawab Axel.
"Kirain kencan, pak?"
Axel mengerang kesal. Dalam hati ia mengumpat, 'ini orang... cepat banget sih balasnya? Keyboard otomatis, atau gimana sih, dia itu?'
"Iya, Bu. Kencannya sama kertas dan tugas," tulis Axel dan kemudian mengirimkannya pada bu dosen cantik tersebut.
"Ye, sekali-kali, keluar, dong Pak. Jangan hanya diam di rumah saja. Sama seperti saya, dong. Hehehe."
Axel membaca tulisan itu dan diam sesaat. Pandangannya berubah ke dua lembar tiket yang akan jadi sia-sianya itu. Kemudian, bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Ayo nonton!" tulis Axel lalu mengirimnkan pesan itu pada teaman sesama dosennya itu. Axel memang tidak memiliki niat lain selain hanya agar dua tiket itu tidak sia-sia saja. Tapi, entah, bagaimana dengan temannya itu. Pasti sudah jingkrak-jingkrak ke-GR an dan mungkin saja berfikir kalau Axel mengajaknya karena ada sesuatu. Awal dari pendekatan mungkin.
"Serius, Pak?" tulisnya. Sepertinya gadis itu tidak percaya dengan ajakkan gunung es dari kampusnya itu. Dosen terganteng dengan paras bule yang memilii sepasang mata biru keabu-abuan. Mampu menaklukkan wanita mana pun yang melihatnya. Namun sayang. Dia tidak pernah terlihat dekat dengan satu wanita pun.
"Ya. Aku punya dua tiket masuk bioskop unutk menonton film terbaru. Daripada hangus dan sia-sia. Mungkin Bu Laudia mau menggunakan yang satunya."
Ada sedikit kecewa di dalam hati wanita itu. 'Jadi, hanya karena sebuah tiket yang dia sendiri mau keluar tak ada teman? Ah, bodo amat yang penting bisa bersamanya. Kalau sudah mengajak, pasti dia tidak akan sekaku itu. Mengajakku juga mungkin karena aku ada dipikirannya, kan? Jika saja tidak, mana mungkin, dia pasti sudah ajak wanita lain.'
"Baik, Pak Axel. Saya bersedia. Tapi, ngomong-ngomong itu tiket, gratis tidak? Hehehe," tulisnya lagi. Sepertinya wanita itu memang benar-benar ingin mendekati Axel. Memanfaatkan situasi sebaik mungkin untuk berusaha memberi rasa nyaman pada pria itu. Tapi, selalu saja gagal.
"Gratis. Dalam waktu lima belas menit saya sudah tiba di depan rumah bu Laudia," tulis Axel kemudian ia mengambi kemeja lengan panjang dan masih mengenakan jaket lagi meski sebelumnya ia sudah memakai kaus warna hitam press body. Karena, ia berencana naik motor malam ini.
tidak sampai lima belas menit, Axel sudah berada di depan rumah bu Laudia. ternyata, wanita itu cukup cepat juga. Setidaknya, begitu pria yang mengajaknya jalan tiba dan menyalakan clakson motor, dia sudah keluar dari dalam rumahnya.
Wanita itu mengenakan celana pensil hitam dan atasan crop hitam dengan kerut dibagian aras dan bawahnya yang mengekspose seluruh pundak dan setengah dari dadanya, serta memamerkan bentuk tubuhnya yang sexi serta perutnya yang rata dengan spatu hak tinggi warna senada dari bahan yang mengkilat.
__ADS_1
"Pak, Al. Anda cepat sekali?" sapa wanita itu sambil tersenyum, memamerkat bibirnya yang sensual dan menggoda pada pria yang mengendarai motor sport keluaran terbaru warna merah dan hitam.
"Anda tidak salah kostum? Saya naik motor, lo!" timpal Axel saat sekilat melihat bagian perut wanita di hadannya sedikit tersexpose.
"Tidak masalah. Mau motor, atau apapun, memang kenapa? selama bersama pak Axel juga pasti aman-aman saja, kan? goda wanita itu sambil mencondongkan bagian dadanya ke depan. Lebih dekat dengan Axel. Bisa dijamin, Axel yang kepalanya lebih tinggi diatas dadanya, pasti jika sudah menunduk bisa lihat isinya tuh.
"Kalau anda masuk angin, saya tidak menerima jasa kerokan, loh," ucapnya kesal. Tapi, masih berlagak rilex.
"Lalu, bagaimana, Pak?"
"Masuk ke dalam, ganti baju atau pakai jaket yan tebal. Ini indonesia, bukan India. tidak baik memamerkat area pusar. Kecuali kalau bu Laudia ingin menari perut di sana. Tidak masalah."
Seketika wajah wanita itu berubah menjadi memerah dan buru-buru masuk ke dalam. Tidak lama kemudian wanita itu sudah keluar mengenakan jaket kulit warna hitam dengan bulu-bulu di sekitar leher warna coklat. Membuat mereka terlihat serasi saja. Sebab, sekilas orang lain yang melihat pasti menyangka kalau mereka pasangan kekasih. Karena, Axel juga memakai jaket kulit warna hitam pula. Tapi, sayang. Hubunan di antara mereka tidak ada yang sepesial selain rekan kerja saja. Mengajak kencan juga sayang dengan dua tiket yang sudah terlanjur dia beli.
"Berlyn?" gumam Axel lirih saat mereka sudah tiba di depan gedung bioskop. Pria itu beberapa kali mengucek matanya. kawatir dia salah lihat. Ia melihat remaja tujuh belas tahun itu berdiri seorang diri di depan loket dan keluar dari barisan orang-orang yang sedang mengantri.
"Pak Axel! ini saya beli dua botol minuman dan satu cup jumbo pop corn untuk nonton," ucap bu Laudia dari belakan Axel.
Axel hanya diam mengabaikan wanita yang tengah bersamanya. Ia juga tidak bertanya bagaimana bisa dia mendapatkan itu pdahal tadi pamitnya pergi ke toilet. Matanya masih saja terfokus pada gadis yang menenakan mini dress merah hati sepanjang lutut dangan lengan sepanjang tiga perempat.
"Pak, anda melihat apa?" tanya Laudia lagi. Wanita itu mencoba menelusuri arah yang dilihat oleh Axel. Namun, rupanya Berlyn luput dari perhatiannya.
Tapi, lagi-lagi Axel mengabaikan wanita tersenbut. ia melangkah hendak mendekati Berlyn. Tapi, kemudian langkahnya kemali terhenti ketika seorang pria remaja datang menghampirinya dan memberinya sebuah cup pop corn ukuran tangung.
'Mereka tidak mungkin pacaran, kan?' gumam Axel dalam hati.
"Mari, Pak kita masuk ke dalam. Lima menit lagi filmnya akan di mulai," ajak bu Laudia.
Axel sendiri tidak menyangka kalau mereka akan bertemu di sini dan menonton film yang sama pula. Sebanrnya, mereka tidak hanya datang berdua saja. Tapi, ada om Dedi, om Alex, tante Zahar dan juga om Al yang sudah berada di dalam gedung. Beruntung, tempat mereka duduk jauh dan tidak terjangkau dengan tempat rombongan Adriel dan Berlyn. terlebih, saat film di mulai lampu tempat para penonton juga dimatikan.
☘️☘️🍀🍀
Queen melihat suasan rumah Nayla. terlihat sepi dan berbeda sekali, memskipun setiap kali ia datang juga selalu begini dari dulu. Tapi, tetap saja ada yan berbeda. Wanita itu mengulurkan tangannya ke dalam pagar. Rupanya, kuncinya hanya di slotkan saja dan tidak digembok. Dengan langkah perlahan Queen melangkah menuju pintu utama.ternyata sampai sana pun jua tidak di kunci. Didapatinya Nayla si pemilik rumah duduk dengan raut wajah yang suram dan kedua mata yang sembab. Sepertinya wanita itu juga baru menangis.
"Assalamualaikum, Kak Nay," sapa Queen.
"Waalaikumssalam, Queen. kemarilah!" jawab Nayla dan mempersilahkan tamunya masuk.
Wanita itu beranjak setelah menutup kembali pintu runah, kemudian duduk di dekat Nayla dan memiringkan posisi duduknya menatap pada wajah wanita yang ada di depannya. "Ada masalah apa, sebenarnya antara kau dan Bilqis, Kak?" tanyanya penuh dengan rasa simpati.
Nayla nampak menyeka air matanya dengan tisu yang ada di depannya. Kemudian, wanita itu mulai bercerita.
"Beberapa minggu silam, aku mendapat laporan dari Axel, Queen. Dia tidak suka kalau Bilqis terlalu dekat denan Tiara. Awalnya aku tanya kenapa, dia tidak mau menjawab.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Aku diam-diam menyelidiki Tiara siapa dia dan bagaimana kepribadian gadis itu demi untuk mendapatkan alasan kenapa Axel tidak menyukai kalau Bilqis berteman terlalu dekat dengannya. Padahal mereka kan bersahabat sejak dari SMP dan selama ini juga baik-baik saja. Ku kira tidak ada masalah tapi aku terkejut ketika tahu siapa Tiara yang sebenarnya makanya aku mengambil sikap tegas kepada Bilqis," ucap Nayla panjang lebar.
__ADS_1
Queen terus diam menyimak kata demi kata yang diucapkan oleh Nayla ia berharap kalau tebakannya selama ini terkait Tiara, salah. Karena menilai dari gaya pakaian Tiara, dia seperti wanita nakal tapi ia berharap semoga saja itu hanya kelihatannya saja. Sebab selama ini Bilqis juga baik-baik saja tidak pernah terlibat dalam hal buruk. Pacaran pun tidak pernah. Karena sejak dulu dia hanya menyukai Axel, dan mungkin sampai saat ini juga. Walaupun kelihatannya mereka biasa-biasa saja. Tapi, buktinya, Biqlis kuat menjomblo saja.
"Kau tahu siapa Tiara sebenarnya, Queen? Aku terkejut... dia ternyata adalah seorang mucikari. Sejak SMA dia sudah dipanggil mami dan mendapatkan uang dari anak buahnya serta, menjadi simpanan pria kaya kelas kakap. Wajar saja Axel begitu bencinya pada Tiara, dan melarang keras agar Bilqis jaga jarak pada anak itu. Aku salah, Queen. Sebagai ibu aku hanya sibuk sendiri. Tidak memperhatikan dan mengawasi bagaimana pergaulan putriku satu-satunya. Kukira sebelum terlambat aku bermaksud untuk menjodohkannya. Tapi, Bilqis menolak."
"Memang mau dijodohin sama siapa Kak? Lalu, dimana Bilqis sekarang?" tanya Queen.
Kembali air mata Nayla jatuh bercucuran. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya yang selama ini terlalu percaya dan membiarkan tanpa mengawasi putrinya dalam pergaulan.
"Aku tidak tahu di mana dia, Queen. Tadi saat aku minta dia pulang dari rumah kalian, aku menasehati dia lalu aku memintanya untuk berganti pakaian dan saat di jalan Aku mengatakan kalau dia akan aku ajak bertemu dengan pria yang akan jadi calon suaminya. Tapi dia malah marah berontak membuka pintu dan lompat dari mobil dalam keadaan berjalan."
Queen nampak terkejut. Ia sampai menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Apa? Lalu bagaimana keadaannya gimana Dia tadi? Mobilnya kencang tidak? Apakah kak Nay tidak turun dan menyusulnya? Kira-kira, dia baik-baik saja tidak? cecar Queen.
"Aku tidak tahu dimana dia. Sebab dia langsung berlari, dan aku tidak sempat mengikutinya Aku menyesal sekarang di mana dia. Aku juga tidak tahu Queen nomornya juga tidak bisa dihubungi Aku harus bagaimana?" keluh Nayla sambil menangis.
"Jika dia bisa berlari, harusnya dia tidak kenapa-kenapa."
Kemudian Queen diam sesaat mencoba mencari solusi. memikirkan sesuatu dan mencari jalan keluar. Tapi, tidak ada hasil. Pikirannya masih terlalu buntu banyak hal yang ada di kepalanya.
"Kita tidak bisa mencari solusi. Yang perlu kita lakukan dulu, hanyalah kita harus mencari tahu dimana keberadaan Bilqis sekarang."
"Iya. Tapi dia ke mana, aku tidak tahu Queen. Aku sudah mencoba menghubungi semua rekan kerjanya, tapi juga tidak ketemu. Tidak ada satupun dari mereka yang tahu." keluh Nayla frustasi
"Dia marah karena menolak perjodohan. Dan lagi, dia dilarsng untuk terlaku dekat dengan sahabatnya sendiri. siapa tahu, dia justru pergi ke tempat Tiara. Bukankah mereka sudah lama bersahabat? Jadi, Bilqis merasa kenal dan tahu seperti apa Tiara. Makanya gak trima saat diminta untuk menjauhinya."
"Iya, Kau benar. Kebetulan aku tahu di mana tempat tinggal Tiara. Kita harus coba cari dia di sana," ucap Nayla.
Tapi, kini Queen tiba-tiba saja merasa tidak yakin kalau Bilqis bersama dengan Tiara. sebab, sebelum ia menelpon Nayla ia menelpon Bilqis terlebih dahulu, dan dari cara bicaranya dia juga tampak terlihat frustasi dan putus asa seperti sudah tak lagi memiliki siapa-siapa saja. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi padanya? Apakah ada masalah besar yang menimpanya selain perjodohan sampai dia merasa diasingkan oleh semuanya? Padahal yang di rumah sangat mengkhawatirkan dan bingung mencarinya.
"Sekarang yang perlu kakak lakukan tenangin diri dulu. Jangan terlalu banyak pikiran. Aku akan berusaha mencari dimana keberadaan Bilqis." Queen menepuk pundak kanan Nayla sambil berusaha menenangkan wanita itu yang benar-benar terpuruk dan sedih karena hilang komunikasi dengan putrinya.
"Selama Bilqis membawa ponselnya, kemungkinan masih bisa dilacak di mana keberadaannya, asekalipun nomornya sudah tidak aktif," ucapnya lagi, menunjukkan kalau masih ada harapan.
Naila mendongak melihat kau wajah Queen dengan penuh harap. Kemudian wanita itu bertanya, "Apakah kau yakin?" tanyanya dengan raut wajah yang masih ragu-ragu.
"Iya, Kakak tenang saja. Aku yakin," jawabnya sambil mengangguk pelan. dan terus meyakinkan.
"Bagaimana caranya, Queen? Nomor saja dia tidak aktif." ucap nayla kembali prestasi
"Kita bisa melacak nya melalui alamat email ponsel yang di bawah oleh Biqlis. Kebetulan aku memiliki email dia, jadi sekalipun dia tidak aktifkan ponsel. Kita bisa cek lokasi terakhir di mana ia terakhir menyalakan ponselnya. Kita lacak, dan dari sana semoga kita menemukan petunjuk tentang keberadaannya."
"Apakah kau bisa melakukannya?" Atanga Nayla, penuh harap.
"Tentu saja. Jadi jangan tenang kita masih punya banyak harapan."
"Ini sudah larut. kau tidak pulang? maaf bukan maksud ku untuk mengusir," ucap Nayla.
__ADS_1