
Queen hanya mengangguk saja. Tapi, di wajahnya terlihat jelas sekali, kalau wanita itu kebersamaan bersama sang suami. Namun, dia setiju saja dengan apa yang Al perintahkan, Karena jam sepuluh nanti, mereka sudah harus berada di pelabuhan.
Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Al keluar dulu. Ia yakin, putrinya sudah bangun jam segini. Ternyata benar. Ketika Al hendak ke meja makan, ia mendengar suara bi Yul berbicara, Jelas itu dengan Berlyn. Siapa lagi?
"Itu, Non. Papa sudah bangun," ucap bi Yul yang kebetulan melihat Al.
Clrissa langsung melempar senyum pada papanya. Kemudian, gadis itu beranjak dan memeluk erat papanya. Ia tidak tahu dengan kondisi papanya. Ia berfikir, kalau papanya sehat dan baik-baik saja.
"Clarissa sekarang sudah berada di rumah ama," ucap gadis itu dengan bahasa isyarat. Hanya Jeslyn lah yang tahu, kalau yang berada di rumah putranya adalah Clarissa.
"Oh, iyakah? Apakah dia sudah bersiap-siap? Kau bertanya tidak padanya padanya, ama mau ikut serta apa tidak? tanya Al penuh perhatian.
"Gadis itu hanya mengeleng dan terus memeluk papanya. Ia hanya merasa rindu. Semalaam, sebenarnya ia ingin tidur bertiga dengan papa dan mamanya seperti dulu. Tapi,kondisi yang tak memungkinkan.
***
Setelah mendapatkan balasan dari Berlyn, Barulah Adriel keluar kamar. Di dapatinya kakaknya sudah duduk di meja makanan dengan makanan yang sudah terhidang diatas meja.
"Selamat pagi, Kak? Kau pulang jam berapa semalam?" sapa Adriel dengan wajah ceria. Meskipun kucel karena belum cuci muka.
"Kenapa kau langsung duduk di sini? Apakah kau akan langsung makan dengan keadaan muka seperti itu? Cuci mukalah dulu, dan gosok gigi baru makan. Kakak mau bicara sama kamu," ucap Axel dengan tegas.
__ADS_1
"Kau semalam pulang jam berapa, Kak?" tanya Adriel lagi karena merasa pertanyaannya tadi tidak dijawab oleh kakaknya.
Axel diam. Ia memang enggan menjawab. Makanya, ia mengalihkan dengan akan mengajak bicara adiknya.
Karena diabaikan oleh sang kakak, Adriel pun beranjak ke westafel yang terketak diantara meja makan dan dapur. Remaja itu mulai gosok gigi dan mencuci muka. Kemudian, kembali duduk di di kursi meja makan berhadapan dengan sang kakak.
"Katanya kakak mau bicara sama aku. Apa, kak?" tanya Adriel. Sudah bersiap menyimak apa yang akan kakanya katakan.
"Sarapan saja dulu, keburu dingin," jawab Axel. Tanpa mau memandang ke arah adiknya.
Usai sarapan barulah Axel mengutarakan maksutnya.
"Kamu jawab dengan jujur. Kamu serius tidak sama Berlyn? Usia kalian itu masih terlalu anak-anak."
"Kakak bukan melaranmu. Tapi, kau tahu bukan, apa hubungan kita dengan kedua orangtua Berlyn? mereka anggap kita anak. Mungkin tidak masalah jika putrinya menjalin hubungan dengan kamu. Tapi, jika sampai terjadi hal yang tak diinginkan, sampai kau menyakiti dia, mau taruh mana muka kita? Saran kakak, pikirkan baik-baik. Jangan buru-buru. Kau laki-laki masa depanmu masih panjang. Setiap hubungan itu tidak ada yang sempurna, beda pendapat dan pertengkaran itu ada." Axel beranjak hendak meninggalkan meja makan. "Yang putus di tengah jalan, juga banyak," ucapnya lagi, sambil menepuk bahu kiri Adriel.
Sementara Adriel hanya diam terpaku saja mencoba memikirkan kata-kata kakaknya. Yang diucapkan memang tidak salah, Tapi, ia sudah jatuh cinta pada gadis itu sejak kecil. Mana mungkin ia akan menyakitinya. Terlebih mengingat kebaikan papa Al dan juga mama Queen. Nyawanya pun diberikan pada Berlyn juga seolah tak akan mampu untuk menebusnya.
"Karena aku yang lebih dulu mencintainya, dan berkali-kali menyatakan cinta padanya. Maka, aku harus siap sakit demi dia. Aku akan terus mengalah demi nama kita dan mendiang mama kita, kak Axel," tekad Adriel dalam hati.
****
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Karena ini hari libu, Bilqis hanya berdiam diri saja di kamar. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Dia bahkan juga sejak pai belum kemasukan apa-apa.
"Bilqis!" Terdengar suara mamanya dari luar pintu kamar tengah memanggilnya, Mungkin juga Nayla khawatir.
"Iya, Ma. Masuklah. Pintu tidak dikunci," jawab Bilqis dengan malas.
Nayla pun mebuka pintu perlahan dan masuk ke dalam dengan membawa makanan kesukaan putrinya. "Kau sejak pagi belum makan dan minum apa-apa. Makan lah sedikit saja. Jangan sampai kau sakit karena telat makan," ucap Nayla lagi.
Bilqis diam sesaat. Ia memandang mamanya yang nampak panik dan sangat mengkhawatirkan dirinya. 'Aku terlalu lama diabaykan olehnya karena pekerjaan. Untuk siapa wanita tanpa suami ini bekerja bukan untuk dirinya? Lantas, apakah salah jika aku lebih dekat dengan mantan suaminya dan istri barunya? Ia juga memanggilnya mama pada wanita itu dan lebih mendengarkan wanita itu. Apakah pantas? Tiba-tiba hati gadis itu merasa trenyuh dan air matanya pun mulai mengalir dari dua sudut matanya.
"Mama, maafkan aku jika selama ini aku terlalu banyak menyakitimu. Yang menimpa padaku ini mungkin teguran dan karma dari Tuhan. Jika saja aku dari dulu nurut sama mama, ini tidak akan terjadi. Maaf, jika selama ini aku terlalu mengabaikanmu dan lebih mendengarkan papa Al dan mama Queen," ucap Bilqis di sela-sela isakannya.
"Bilqis?" hanya itu yang terucap dari bibir Nayla. Ia memeluk putrinya dan berkata, "Mama juga mkinta maaf sama kamu, ya Nak! Kau lebih dekat dengan mama Queen dan papa Al juga ada alasannya. Bukan sepenuhnya salahmu. Kau memang inginkan orang tua yang selalu ada untuk mendengarkanmu. Mama tidak begitu, dan mama Queen lah yang bisa demikian."
"Terimakasih, Ma.
"Iya, Sayang. Kita saling memaafkan saja, ya? ucap Nayla.
TAMAt.
Mungkin akan saya lanjutkan kisah anak-anak Al dan Queen di cerita baru. Tapi kapan, saya mssih belum tahu. saya perlu berpikir dan istirahat sejenak mungkin. Terimakasih atas kesetiaan kalian dengan cerita saya.
__ADS_1
Buat yang mau mencari sisi lain suamiku, atau my gay husban ada di watpat dengan judul suamiku mantan gay. terimakasih sekali lagi saya ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya karena sudah mendukung saya sampai sejauh ini