Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 244


__ADS_3

Karena di rumah benar-benar tidak ada kegiatan dan sudah


digaris kerasi untuk beristirahat dan tidak capek-capek, Queen mengisi waktunya


dengan membaca buku di teras belakang.


“Beneran, ya kamu ingin memiliki anak dari suamiku?” ucap


Nayla tiba-tiba. Sepertinya ia baru saja pulang dari mengantar Bilqis ke


sekolahan.


Queen menoleh. Dengan santai ia menjawab.


“Apa kau lupa, kalau mas Al juga suamiku? Aku juga memiliki


hak yang sama denganmu, loh.”


“Oh, ya?”


“Tentu. kau memang iri denganku?”


“Untuk apa? Tidakkah kau berfikir kalau mas Al itu mandul?


Sudah berapa tahun dia nikah dengan ku? Bahkan aku juga tidak bisa hamil


dengannya. Percuma saja kau melakukan promil atau apalah, jika laki-lakinya


saja tak memiliki benih untuk di tanam.”


Queen diam, ia sedikit terpengaruh juga dengan omongan


Nayla. Memang benar, mereka sudah lama menikah, bahkan jauh lebih dulu dari dia


dan Alex. Kenapa tidak memiliki anak? Apa karena dia peminum dan perokok


berat? Sehingga jadi seperti ini?


“Kenapa? Percuma saja kau menyuburkan tanah jika tak ada


biji yang akan di tuai. Tak akan ada yang tumbuh, selain rumput liar.”


Queen hanya tersenyum mendengar perkatan Nayla. Dengan


santainya ia menjawab, “Jangan salah, siapa tahu, yang kau anggap rumput liar


itu justru pohon yang akan menimbulkan permata!”


Nayla pun sangat kesal dan pergi meninggalkan Queen yang


tengah asik dengan buku bacaannya di teras belakang. Sedangkan Queen, ia


berfikir untuk mengawasi Nayla saja. Mumpung dia sedang libur juga, kan? Kapan


lagi dia bisa menjadi seorang detektif?


Mengenai Al. Mungkin dia bisa menanyakannya secara langsung, dan berbicara, tinggal menunggu waktu yang tepat saja.


****


Usai mengadakan miting, Al kembali ke ruangannya. Baru saja


duduk di kursinya, bahkan ia sudah teringat Queen dan ingin segera menelfonnya.


Menanyakan apa yang tengah dilakukannya di rumah sendirian. Sedangkan dia


sendiri tahu, kalau kakek ada acara di luar.


Baru saja Al memegang ponselnya, pintu ruangannya sudah di


ketuk seseorang saja dari luar.


“Masuk!”


“Pak, mohon maaf, Kemarin ada salah satu pelamar yang tidak


turut masuk seleksi, bagaimana ini?” ucap seorang wanita dengan raut wajah


sedikit ketakutan.


Kebetulan, bosnya sedang dalam suasana hati yang baik. Jadi, tak ada makian yang keluar dari mulutnya. Dengan nada santai, ia meminta untuk


karyawati tersebut menyerahkan surat lamaran dalam map tersebut kepadanya.


“Coba, bawa sini, biar kulihat biodatanya!”


Dengan ragu-ragu wanita itu meletakkan map berwarna biru


tersebut di atas meja Al. Lalu, segera pergi setelahnya.


Dengan sedikit malas dan terpaksa, Al meraih map itu dan


membukanya. Al terkejut saat mendapati pas photo yang tertempel pada surat lamaran


tersebut. Ia hampir saja tidak mempercayai pandangannya sendiri. Berkali-kali


ia mengucek matanya dan melihat lagi pada dua lembar pas photo yang salah


satunya di tempel pada daftar riwayat hidup. Kemudian, Al segera membaca semua


biodatanya mulai dari nama, usia alamat dan pengalaman kerja.


“Kenapa bisa kebetulan sekali, ya? Apa jangan-jangan mereka


itu kembar yang terpisah?” gumam Al seorang diri.


Kemudian ia menelfon pihak HRD meminta agar orang yang


lamarannya tertinggal tadi, dihubungi intuk interview, dan yang akan


menginterviewnya juga dia sendiri.


Setelahnya, Al pun langsung menelfon Queen, untuk menanyakan


keadaanya.


“hallo Sayang, bagaimana dengan harimu sekarang?”


“Al, kamu matikan telfonnya dulu, ya? Aku masih ada sesuatu


yang harus kukerjakan. Nanti kalau semua sudah beres, aku kan menghubungimu,”


ucap Queen.


Wanita itu langsung mematikan panggilannya, bahkan Al


sendiri belum sempat berkata apa-apa. Kemana dia? Saking bingungnya Al dengan


dua hal itu, ia sampai tidak ingat kalau dia sudah memasang alat pelacak di


dompet Queen secara tersembunyi.


Sedangkan Queen sendiri terus menguntit Nayla, ia yakin dia


akan menemui Jevin. Karena, ini bukan jalan menuju ke sekolahan Bilqis. Tapi,


apakah pria itu berani keluar perusahaan di saat jam kerja begini? Ini masih


belum jam istirahat. Pikir Queen.


‘Kenapa aku tidak menanyakan kak Juna saja, ya?’ Dengan


tergesa-gesa Queen kembali mengambil ponselnya di dalam tas. Dan berpesan pada


pengemudi ojek online agar terus mengikuti mobil hitam di depannya itu, jangan


sampai lolos.


“duh, gimana ini Mbak? Mobil sudah melesat sementara ini lampu merah malah menyala?” ucap abang driver.


“Hah, gimana dong? Ya sudah, tunggu saja pak. Tenang saja,


saya akan membayar lebih dan memberi anda tips kok,” ucap Queen lagi, lalu


menunggu panggilannya tersambung.


“Halo, ada apa, Queen? Ini aku mau menyerahkan laporan yang


diminta papamu,” jawab seorang pria dari seberang sana.


“kak, aku kehilangan jejak Nayla. Dia keluar naik taxi

__ADS_1


online. Tapi, sepertinya ia tidak ke sekolahannya Bilqis. Apakah Jevin ada di


sana? Tolong bantu aku awasi dia, ya?”


“Oke, baik. Tadi memang kudengar dia sedang telfon dengan


wanita. Soalnya manggil sayang.”


“Baik. Tapi, jam istirahat masih kurang satu jam lagi,


Bukan?”


“Iya, sih. Kita lihat saja!”


Queen pun mematikan panggilannya. Dan setelah lampu hijau


menyala, Queen mengajak berhenti setelah melewati perempatan dengan lampu lalu


lintas yang nyala lampu merahnya bahkan jauh lebih lama dibandungnkan dengan


lampu lainnya.


Queen memberikan uang sebanyak lima ratus ribu kepada abang


ojol dan meminta agar mengantarkannya saja dulu, ia juga berjanji, akan


memberikan lebih pada abang ojol jika memakan waktu lebih lama.


Nayla, yang sadar kalau diikuti oleh Queen dan bisa lolos


hanya tertawa seorang diri, ia merasa senang. Bisa mengelabuhinya.


“Pasti kau akan menguntitku dan membongkar keburukanku agar


mas Al menceraikanku, kan? Jangan mimpi. Justru aku yang akan membuat


diceraikan olehnya,” gumamnya seorang diri.


Tiba di sebuah restoran, Taxi yang dinaiki Nayla berhenti


dan dia pun keluar. Ia sempat mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru


restoran. Harusnyanorang yang akan dia temui ada di sini. Karena dia sudah


bilang kalau sudah sampai.


Setelah melihat di sudut sebelah kiri, ia melihat seorang


wanita melambaikan tangannya dan tersenyum padanya. Nayla membalas senyuman


wanita itu dan berjalan ke arahnya kemudian duduk.


“Maaf kalau sudah membuatmu menunggu lama, bagaimana apakah


barang yang kuinginkan sudah ada?” ucap Nayla dengan raut wajah serius.


“Sesuai permintaan. Kamu mau yang dosis besar, kan? Ini


cukup satu kali saja diminum juga sudah akan bekerja dengan baik sesuai yang


kau harapkan.” Wanita mengeluarkan botol kecil berwarna putih bening berisi


cairan transparan di dalamnya.


Nayla memegang botol yang kira-kira sebesar ibu jarinya itu


dan tersenyum.


“Oke, aku akan ambil ini, lima juta, kan?” ucapnya.


“Ya, sesuai janji kita dari awal. Korban tidak akan


merasakan apa-apa, tahu-tahu rahimnya akan kering dan tak dapat dibuahi.”


Nayla mengeluarkan sejumblah uang dari dalam tasnya dan


menyerahkannya pada wanita di depannya kemudian pergi dengan perasaaan lega dan


sangat puas.


“Lihat saja Queen. Jika aku tidak bisa melahirkan anak dari


mas Al, maka kau juga tidak bisa melakukan itu. Biarkan saja mas Al dianggap


berfikir demikian.”


Setelah menunggu cukup lama, Queen pun akhirnya mendapatkan


kabar kalau Jevin keluar dari perusahaan.


“Apa? Dia sudah keluar? Aku sudah ada di rumah ini, kak.


Baik begini saja, kau ikuti dia, kasih tahu aku dimana dia perginya. Aku akan


membawa mobil sendiri,” jawab Queen, sambil buru-buru mengambil kuci mobil.


“Ya, ini aku masih terus mengikutinya. Kau yang tenang saja.


Akan kurekam nanti untukmu. Jangan buru-buru, utamakan saja keselamatannmu,”


jawab Juna.


“baik Kak. Tenang saja.”


Juna berfikir kalau Jevin akan menemui Nayla, dan Nayla


sudah menunggunya lebih dulu. Hanya saja ia sempat berfikir, kok ini bukan


tempat biasa mereka berkencan? Apakah mereka sadar kalau Queen menyadari dan


diam-diam mengintainya?


 Ternyata dugaannya


salah. Jevin tidak bertemu dengan Nayla. Melainkan dengan seorang gadis muda.


Beruntung dia membawa kamera perusahaan dan merekamnya diam-diam. Jika


mengandalkan kamera ponsel, akan terganggu jika nanti Queen menelfonnya.


Setelah cukup merekam dan membuktikan kalau yang ditemui


Jevin tidak bisa di sebut teman atau saudara, barulah Juna menghentikan


aktifitasnya dan kembali menghubungi Queen.


“Kau di mana Queen. Aku ada di jalan melati. Kamu kemarilah.


Kusharelok dan ikutilah.”


“Baik kak.”


Queen pun membuka wa nya dan mengikuti petunjuk arah yang


dikirimkan Juna padanya baru saja.


Begitu tiba di sana, Queen langsung turun dan menghampiri Juna,


dan langsung to the point dengan pertanyaannya.


“Apakah benar dia bertemu dengan Nayla, Kak?”


“Kamu lihat saja ini!” dengan rasa kecewa Juna memberikan


kamera yang barusaja ia pergunakan untuk merekam kepada Queen.


Tanpa ragu-ragu, Queen pun menerima kamera itu dan langsung


membuka rekaman tersebut. Di rekaman video tersebut, ia melihat bagaimana Jevin


masuk ke sebuah Restoran. Ia menemui seorang gadis muda cantik berambut Panjang


sepinggang dan langsung memeluk dan menciumnya. Saat keduanya makan, bahkan


sering pria itu menyuapi makanan pada wanitanya, keduanya nampak mesra. Tidak


hanya itu, usai makan, keduanya sempat berciumman dan beradu bibir cukup lama,


yang membuktikan kalau hubungan mereka lebih dari teman. Karena teman atau


saudara tidak akan melakukan hal seperti itu.

__ADS_1


Melihat adegan terakhir, wajah Queen tiba-tiba memerah. Juna


yang menyadari itu, hanya tertawa dan bertanya, “Kenapa kau?”


“Gak, tahu. Mereka berdua yang berciuman di depan umum.


Tapi, aku yang malu,” timpalnya.


“Wanita itu bukan Nayla,” jawab Jevin lagi.


“Ya. Aku tahu. Apa jangan-jangan Jevin mendekati Nayla hanya


untuk diporotin saja. Sementara wanita yang benar-benar dia cintai adalah gadis


dalam video ini?”


“Bisa jadi. Jevin itu masih muda, seusiaku lah. Sedangkan aku


dan Nayla juga tuaan dia.”


“Oke, aku mau rekaman ini. Jangan berfikir ini tidak guna.


Tetap ada gunanya. Aku pinjam dulu kameranya. Jika kau takut. Aku yang akan


katakana pada papa.”


“Ya sudah, baiklah!”


Akhirnya mereka pun berpisah. Juna kembali ke perusahaan,


sambil memberi laporan pada Al apa saja yang ia dapatkan untuk Queen. Sementara


Queen sendiri juka kembali ke rumah. Tiba di sana, ia terus mengawasi gerak


gerik Nayla. Seperti ada yang tidak beres saja dengan wanita ini. Bagaimana


tidak, ia yang biasanya selalu cuek malah menyapa dan berlaku sok baik saja.


“Dari mana sajau kau Queen. Bukankah kakek sudah memintamu


untuk tinggal di rumah saja?” ucap Andrean yang tengah bersantai di ruang


keluarga.


“Kakek, kau sudah pulang? Aku tadi ke kantornya papa. Tapi,


tidak sempat bertemu dengannya. Kak Juna bilang setelah jam kerja papa


buru-buru ke rumah sakit untuk menjenguk mama,” jawab Queen bohong.


“Ya sudah kau jangan capek-capek pokoknya. Kakek rasa papa


dan suamimu juga sudah mampu mengerjakannya sendiri.”


“Iya, kakek. Kakek dari mana sih tadi?”


“Lihat gladi bersih untuk acara reuni SMA seangkatan kakek


dulu, Queen. Kamu mau ikut?”


“Gak, ah. Yang hadir juga pasti tua-tua,” jawab wanita itu


sekenanya. Membuat kakek Andrean tertawa terbahak dibuatnya.


“Memang kalau ada yang muda seumuranmu kau mau? Mereka pasti


akan membawa anak dan juga cucunya, biasanya begitu.” Andrean mengelus punggung


cucunya dengan penuh kasih sayang.


“Ya, pasti anak-anak dan cucu mereka yang menjadi bujang lapuk


dan perawan tua, atau jomblo akut yang gak laku-laku karena terlalu pemilih. Di


bawa ke acara reoni dengan harapan, siapa tahu menemukan sosok yang cocok untuk


dijadikan besan.”


“Hahaha, kau ini ada-ada saja. Kebanyakan baca novel kamu ya?”


“Ya tidak juga kek. Krena kebanyakan kalangan orang elit


emang begitu. Tapi, kisah cintaku juga lebih seru dari sebuah Novel, lo kek.”


“Tidak apa-apa. Tapi, kau sekarang sudah mencintai suamimun


kan?”


Queen tidak mau menjawab ia memeluk pria tua di sebelahnya


sambil berkata, “Terimakasih kakek.” Lalu wanita itu pun ergi beranjak menuju


kamarnya.


Sedangkan Andrean yang nampak curiga dengan gelagat Nayla ia


diam-diam terus mengawasi. Lagaknya memang terlihat seperti tak peduli. Tapi,


apapun yang ia kerjakan di dapur, ia melihatnya denhgan jelas.


“Bibi membuatkan susu untuk siapa?” tanya Nayla.


“Ini, susu untuk nona Queen.”


"E… Bibi, tolong ambilkan baju gantinya Bilqis saja, ya? Biar


susunya Queen saya yang membuatkannya,” ujar Nayla.


Begitu bibi sudah pergi Nayla membuat susu itu cengan cara


normal. Lalu, setelah susu jadi, langkah selanjutanya, ia mengamati kakek


mertuanya. Setelah semua aman dan pria tua itu tidak seperti tengah meilhatnya,


kerena asik dengan bhuku di tangannya, barulah Nayla mengeluarkan sesuatu yang


dia dapatkan dari pedangan online yang baru saja cod tadi, sebelum menjemput


Bilqis.


‘Apa yang dia letakkan pada minumannya Queen?’ batin


Andrean. Akhirnya, Andrean pun menyobek sampul plastik yang terpasang di


bukunya dan membuangnya di lantai, yang kiranya Nayla lewati.


Setelah membuatkan susu, Nayla berniat mengantarkannya


sendiri kepada Queen. Sedangkan Andrean masih saja cuek dan pura-pura tidak


tahu menahu dengan apa yang Nayla letakkan di  dalam susu tersebut.


Begitu Nayla melewati ruang keluarga, sampul plastik yang


dibuang Andrean. Tapi, tanpa sengaja terinjak oleh kaki Nayla. Krena lantainya


yang mengkilap dan licin, jekas terjadi selip jika plasti itu terinjak. Nayla


pun tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, ia terjatuh dan ssegelas susu yang


dibawanya pun terjatuh. Walaupun tidak sampai gelasnya pecah. Kalau sudah


seperti itu kan juga tidak mungkin dapat diminum.


“Nayla, ada apa? Kenapa bisa jatuh? Hati-hati,” ucap


Andrean. Ia pun bangkit dan membantu Nayla berdiri.


“Aduh, gimana dengan susu ini, Kek? Jadi berantakan?” tanya


Nayla, berlagak memasang wajah bersalah. Tapi, dalam hatinya ia sangat jengkel.


Bagaimana bisa ada plastic di sini?


“Ya sudah tidak apa-apa. Biar bibi saja yang membereskan


ini. Kau cepat ganti baju saja.”


Setelah Nayla pergi, Andrean segera menuju dapur mencari


botol kecil yang Nayla buang di tempat sampah, lalu menyimpannya, untuk dilihat

__ADS_1


ke laboratorium untuk di cek. Apa isi dari cairan tersebut.


__ADS_2