
Karena di rumah benar-benar tidak ada kegiatan dan sudah
digaris kerasi untuk beristirahat dan tidak capek-capek, Queen mengisi waktunya
dengan membaca buku di teras belakang.
“Beneran, ya kamu ingin memiliki anak dari suamiku?” ucap
Nayla tiba-tiba. Sepertinya ia baru saja pulang dari mengantar Bilqis ke
sekolahan.
Queen menoleh. Dengan santai ia menjawab.
“Apa kau lupa, kalau mas Al juga suamiku? Aku juga memiliki
hak yang sama denganmu, loh.”
“Oh, ya?”
“Tentu. kau memang iri denganku?”
“Untuk apa? Tidakkah kau berfikir kalau mas Al itu mandul?
Sudah berapa tahun dia nikah dengan ku? Bahkan aku juga tidak bisa hamil
dengannya. Percuma saja kau melakukan promil atau apalah, jika laki-lakinya
saja tak memiliki benih untuk di tanam.”
Queen diam, ia sedikit terpengaruh juga dengan omongan
Nayla. Memang benar, mereka sudah lama menikah, bahkan jauh lebih dulu dari dia
dan Alex. Kenapa tidak memiliki anak? Apa karena dia peminum dan perokok
berat? Sehingga jadi seperti ini?
“Kenapa? Percuma saja kau menyuburkan tanah jika tak ada
biji yang akan di tuai. Tak akan ada yang tumbuh, selain rumput liar.”
Queen hanya tersenyum mendengar perkatan Nayla. Dengan
santainya ia menjawab, “Jangan salah, siapa tahu, yang kau anggap rumput liar
itu justru pohon yang akan menimbulkan permata!”
Nayla pun sangat kesal dan pergi meninggalkan Queen yang
tengah asik dengan buku bacaannya di teras belakang. Sedangkan Queen, ia
berfikir untuk mengawasi Nayla saja. Mumpung dia sedang libur juga, kan? Kapan
lagi dia bisa menjadi seorang detektif?
Mengenai Al. Mungkin dia bisa menanyakannya secara langsung, dan berbicara, tinggal menunggu waktu yang tepat saja.
****
Usai mengadakan miting, Al kembali ke ruangannya. Baru saja
duduk di kursinya, bahkan ia sudah teringat Queen dan ingin segera menelfonnya.
Menanyakan apa yang tengah dilakukannya di rumah sendirian. Sedangkan dia
sendiri tahu, kalau kakek ada acara di luar.
Baru saja Al memegang ponselnya, pintu ruangannya sudah di
ketuk seseorang saja dari luar.
“Masuk!”
“Pak, mohon maaf, Kemarin ada salah satu pelamar yang tidak
turut masuk seleksi, bagaimana ini?” ucap seorang wanita dengan raut wajah
sedikit ketakutan.
Kebetulan, bosnya sedang dalam suasana hati yang baik. Jadi, tak ada makian yang keluar dari mulutnya. Dengan nada santai, ia meminta untuk
karyawati tersebut menyerahkan surat lamaran dalam map tersebut kepadanya.
“Coba, bawa sini, biar kulihat biodatanya!”
Dengan ragu-ragu wanita itu meletakkan map berwarna biru
tersebut di atas meja Al. Lalu, segera pergi setelahnya.
Dengan sedikit malas dan terpaksa, Al meraih map itu dan
membukanya. Al terkejut saat mendapati pas photo yang tertempel pada surat lamaran
tersebut. Ia hampir saja tidak mempercayai pandangannya sendiri. Berkali-kali
ia mengucek matanya dan melihat lagi pada dua lembar pas photo yang salah
satunya di tempel pada daftar riwayat hidup. Kemudian, Al segera membaca semua
biodatanya mulai dari nama, usia alamat dan pengalaman kerja.
“Kenapa bisa kebetulan sekali, ya? Apa jangan-jangan mereka
itu kembar yang terpisah?” gumam Al seorang diri.
Kemudian ia menelfon pihak HRD meminta agar orang yang
lamarannya tertinggal tadi, dihubungi intuk interview, dan yang akan
menginterviewnya juga dia sendiri.
Setelahnya, Al pun langsung menelfon Queen, untuk menanyakan
keadaanya.
“hallo Sayang, bagaimana dengan harimu sekarang?”
“Al, kamu matikan telfonnya dulu, ya? Aku masih ada sesuatu
yang harus kukerjakan. Nanti kalau semua sudah beres, aku kan menghubungimu,”
ucap Queen.
Wanita itu langsung mematikan panggilannya, bahkan Al
sendiri belum sempat berkata apa-apa. Kemana dia? Saking bingungnya Al dengan
dua hal itu, ia sampai tidak ingat kalau dia sudah memasang alat pelacak di
dompet Queen secara tersembunyi.
Sedangkan Queen sendiri terus menguntit Nayla, ia yakin dia
akan menemui Jevin. Karena, ini bukan jalan menuju ke sekolahan Bilqis. Tapi,
apakah pria itu berani keluar perusahaan di saat jam kerja begini? Ini masih
belum jam istirahat. Pikir Queen.
‘Kenapa aku tidak menanyakan kak Juna saja, ya?’ Dengan
tergesa-gesa Queen kembali mengambil ponselnya di dalam tas. Dan berpesan pada
pengemudi ojek online agar terus mengikuti mobil hitam di depannya itu, jangan
sampai lolos.
“duh, gimana ini Mbak? Mobil sudah melesat sementara ini lampu merah malah menyala?” ucap abang driver.
“Hah, gimana dong? Ya sudah, tunggu saja pak. Tenang saja,
saya akan membayar lebih dan memberi anda tips kok,” ucap Queen lagi, lalu
menunggu panggilannya tersambung.
“Halo, ada apa, Queen? Ini aku mau menyerahkan laporan yang
diminta papamu,” jawab seorang pria dari seberang sana.
“kak, aku kehilangan jejak Nayla. Dia keluar naik taxi
__ADS_1
online. Tapi, sepertinya ia tidak ke sekolahannya Bilqis. Apakah Jevin ada di
sana? Tolong bantu aku awasi dia, ya?”
“Oke, baik. Tadi memang kudengar dia sedang telfon dengan
wanita. Soalnya manggil sayang.”
“Baik. Tapi, jam istirahat masih kurang satu jam lagi,
Bukan?”
“Iya, sih. Kita lihat saja!”
Queen pun mematikan panggilannya. Dan setelah lampu hijau
menyala, Queen mengajak berhenti setelah melewati perempatan dengan lampu lalu
lintas yang nyala lampu merahnya bahkan jauh lebih lama dibandungnkan dengan
lampu lainnya.
Queen memberikan uang sebanyak lima ratus ribu kepada abang
ojol dan meminta agar mengantarkannya saja dulu, ia juga berjanji, akan
memberikan lebih pada abang ojol jika memakan waktu lebih lama.
Nayla, yang sadar kalau diikuti oleh Queen dan bisa lolos
hanya tertawa seorang diri, ia merasa senang. Bisa mengelabuhinya.
“Pasti kau akan menguntitku dan membongkar keburukanku agar
mas Al menceraikanku, kan? Jangan mimpi. Justru aku yang akan membuat
diceraikan olehnya,” gumamnya seorang diri.
Tiba di sebuah restoran, Taxi yang dinaiki Nayla berhenti
dan dia pun keluar. Ia sempat mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru
restoran. Harusnyanorang yang akan dia temui ada di sini. Karena dia sudah
bilang kalau sudah sampai.
Setelah melihat di sudut sebelah kiri, ia melihat seorang
wanita melambaikan tangannya dan tersenyum padanya. Nayla membalas senyuman
wanita itu dan berjalan ke arahnya kemudian duduk.
“Maaf kalau sudah membuatmu menunggu lama, bagaimana apakah
barang yang kuinginkan sudah ada?” ucap Nayla dengan raut wajah serius.
“Sesuai permintaan. Kamu mau yang dosis besar, kan? Ini
cukup satu kali saja diminum juga sudah akan bekerja dengan baik sesuai yang
kau harapkan.” Wanita mengeluarkan botol kecil berwarna putih bening berisi
cairan transparan di dalamnya.
Nayla memegang botol yang kira-kira sebesar ibu jarinya itu
dan tersenyum.
“Oke, aku akan ambil ini, lima juta, kan?” ucapnya.
“Ya, sesuai janji kita dari awal. Korban tidak akan
merasakan apa-apa, tahu-tahu rahimnya akan kering dan tak dapat dibuahi.”
Nayla mengeluarkan sejumblah uang dari dalam tasnya dan
menyerahkannya pada wanita di depannya kemudian pergi dengan perasaaan lega dan
sangat puas.
“Lihat saja Queen. Jika aku tidak bisa melahirkan anak dari
mas Al, maka kau juga tidak bisa melakukan itu. Biarkan saja mas Al dianggap
berfikir demikian.”
Setelah menunggu cukup lama, Queen pun akhirnya mendapatkan
kabar kalau Jevin keluar dari perusahaan.
“Apa? Dia sudah keluar? Aku sudah ada di rumah ini, kak.
Baik begini saja, kau ikuti dia, kasih tahu aku dimana dia perginya. Aku akan
membawa mobil sendiri,” jawab Queen, sambil buru-buru mengambil kuci mobil.
“Ya, ini aku masih terus mengikutinya. Kau yang tenang saja.
Akan kurekam nanti untukmu. Jangan buru-buru, utamakan saja keselamatannmu,”
jawab Juna.
“baik Kak. Tenang saja.”
Juna berfikir kalau Jevin akan menemui Nayla, dan Nayla
sudah menunggunya lebih dulu. Hanya saja ia sempat berfikir, kok ini bukan
tempat biasa mereka berkencan? Apakah mereka sadar kalau Queen menyadari dan
diam-diam mengintainya?
Ternyata dugaannya
salah. Jevin tidak bertemu dengan Nayla. Melainkan dengan seorang gadis muda.
Beruntung dia membawa kamera perusahaan dan merekamnya diam-diam. Jika
mengandalkan kamera ponsel, akan terganggu jika nanti Queen menelfonnya.
Setelah cukup merekam dan membuktikan kalau yang ditemui
Jevin tidak bisa di sebut teman atau saudara, barulah Juna menghentikan
aktifitasnya dan kembali menghubungi Queen.
“Kau di mana Queen. Aku ada di jalan melati. Kamu kemarilah.
Kusharelok dan ikutilah.”
“Baik kak.”
Queen pun membuka wa nya dan mengikuti petunjuk arah yang
dikirimkan Juna padanya baru saja.
Begitu tiba di sana, Queen langsung turun dan menghampiri Juna,
dan langsung to the point dengan pertanyaannya.
“Apakah benar dia bertemu dengan Nayla, Kak?”
“Kamu lihat saja ini!” dengan rasa kecewa Juna memberikan
kamera yang barusaja ia pergunakan untuk merekam kepada Queen.
Tanpa ragu-ragu, Queen pun menerima kamera itu dan langsung
membuka rekaman tersebut. Di rekaman video tersebut, ia melihat bagaimana Jevin
masuk ke sebuah Restoran. Ia menemui seorang gadis muda cantik berambut Panjang
sepinggang dan langsung memeluk dan menciumnya. Saat keduanya makan, bahkan
sering pria itu menyuapi makanan pada wanitanya, keduanya nampak mesra. Tidak
hanya itu, usai makan, keduanya sempat berciumman dan beradu bibir cukup lama,
yang membuktikan kalau hubungan mereka lebih dari teman. Karena teman atau
saudara tidak akan melakukan hal seperti itu.
__ADS_1
Melihat adegan terakhir, wajah Queen tiba-tiba memerah. Juna
yang menyadari itu, hanya tertawa dan bertanya, “Kenapa kau?”
“Gak, tahu. Mereka berdua yang berciuman di depan umum.
Tapi, aku yang malu,” timpalnya.
“Wanita itu bukan Nayla,” jawab Jevin lagi.
“Ya. Aku tahu. Apa jangan-jangan Jevin mendekati Nayla hanya
untuk diporotin saja. Sementara wanita yang benar-benar dia cintai adalah gadis
dalam video ini?”
“Bisa jadi. Jevin itu masih muda, seusiaku lah. Sedangkan aku
dan Nayla juga tuaan dia.”
“Oke, aku mau rekaman ini. Jangan berfikir ini tidak guna.
Tetap ada gunanya. Aku pinjam dulu kameranya. Jika kau takut. Aku yang akan
katakana pada papa.”
“Ya sudah, baiklah!”
Akhirnya mereka pun berpisah. Juna kembali ke perusahaan,
sambil memberi laporan pada Al apa saja yang ia dapatkan untuk Queen. Sementara
Queen sendiri juka kembali ke rumah. Tiba di sana, ia terus mengawasi gerak
gerik Nayla. Seperti ada yang tidak beres saja dengan wanita ini. Bagaimana
tidak, ia yang biasanya selalu cuek malah menyapa dan berlaku sok baik saja.
“Dari mana sajau kau Queen. Bukankah kakek sudah memintamu
untuk tinggal di rumah saja?” ucap Andrean yang tengah bersantai di ruang
keluarga.
“Kakek, kau sudah pulang? Aku tadi ke kantornya papa. Tapi,
tidak sempat bertemu dengannya. Kak Juna bilang setelah jam kerja papa
buru-buru ke rumah sakit untuk menjenguk mama,” jawab Queen bohong.
“Ya sudah kau jangan capek-capek pokoknya. Kakek rasa papa
dan suamimu juga sudah mampu mengerjakannya sendiri.”
“Iya, kakek. Kakek dari mana sih tadi?”
“Lihat gladi bersih untuk acara reuni SMA seangkatan kakek
dulu, Queen. Kamu mau ikut?”
“Gak, ah. Yang hadir juga pasti tua-tua,” jawab wanita itu
sekenanya. Membuat kakek Andrean tertawa terbahak dibuatnya.
“Memang kalau ada yang muda seumuranmu kau mau? Mereka pasti
akan membawa anak dan juga cucunya, biasanya begitu.” Andrean mengelus punggung
cucunya dengan penuh kasih sayang.
“Ya, pasti anak-anak dan cucu mereka yang menjadi bujang lapuk
dan perawan tua, atau jomblo akut yang gak laku-laku karena terlalu pemilih. Di
bawa ke acara reoni dengan harapan, siapa tahu menemukan sosok yang cocok untuk
dijadikan besan.”
“Hahaha, kau ini ada-ada saja. Kebanyakan baca novel kamu ya?”
“Ya tidak juga kek. Krena kebanyakan kalangan orang elit
emang begitu. Tapi, kisah cintaku juga lebih seru dari sebuah Novel, lo kek.”
“Tidak apa-apa. Tapi, kau sekarang sudah mencintai suamimun
kan?”
Queen tidak mau menjawab ia memeluk pria tua di sebelahnya
sambil berkata, “Terimakasih kakek.” Lalu wanita itu pun ergi beranjak menuju
kamarnya.
Sedangkan Andrean yang nampak curiga dengan gelagat Nayla ia
diam-diam terus mengawasi. Lagaknya memang terlihat seperti tak peduli. Tapi,
apapun yang ia kerjakan di dapur, ia melihatnya denhgan jelas.
“Bibi membuatkan susu untuk siapa?” tanya Nayla.
“Ini, susu untuk nona Queen.”
"E… Bibi, tolong ambilkan baju gantinya Bilqis saja, ya? Biar
susunya Queen saya yang membuatkannya,” ujar Nayla.
Begitu bibi sudah pergi Nayla membuat susu itu cengan cara
normal. Lalu, setelah susu jadi, langkah selanjutanya, ia mengamati kakek
mertuanya. Setelah semua aman dan pria tua itu tidak seperti tengah meilhatnya,
kerena asik dengan bhuku di tangannya, barulah Nayla mengeluarkan sesuatu yang
dia dapatkan dari pedangan online yang baru saja cod tadi, sebelum menjemput
Bilqis.
‘Apa yang dia letakkan pada minumannya Queen?’ batin
Andrean. Akhirnya, Andrean pun menyobek sampul plastik yang terpasang di
bukunya dan membuangnya di lantai, yang kiranya Nayla lewati.
Setelah membuatkan susu, Nayla berniat mengantarkannya
sendiri kepada Queen. Sedangkan Andrean masih saja cuek dan pura-pura tidak
tahu menahu dengan apa yang Nayla letakkan di dalam susu tersebut.
Begitu Nayla melewati ruang keluarga, sampul plastik yang
dibuang Andrean. Tapi, tanpa sengaja terinjak oleh kaki Nayla. Krena lantainya
yang mengkilap dan licin, jekas terjadi selip jika plasti itu terinjak. Nayla
pun tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, ia terjatuh dan ssegelas susu yang
dibawanya pun terjatuh. Walaupun tidak sampai gelasnya pecah. Kalau sudah
seperti itu kan juga tidak mungkin dapat diminum.
“Nayla, ada apa? Kenapa bisa jatuh? Hati-hati,” ucap
Andrean. Ia pun bangkit dan membantu Nayla berdiri.
“Aduh, gimana dengan susu ini, Kek? Jadi berantakan?” tanya
Nayla, berlagak memasang wajah bersalah. Tapi, dalam hatinya ia sangat jengkel.
Bagaimana bisa ada plastic di sini?
“Ya sudah tidak apa-apa. Biar bibi saja yang membereskan
ini. Kau cepat ganti baju saja.”
Setelah Nayla pergi, Andrean segera menuju dapur mencari
botol kecil yang Nayla buang di tempat sampah, lalu menyimpannya, untuk dilihat
__ADS_1
ke laboratorium untuk di cek. Apa isi dari cairan tersebut.