
Sepulang dari rumah kak Doni, Novita hanya menatap ke arah jendela saja. sedangkan Axel, dia sudah terlelap di belakang sana. sengaja Novita menyuruhnya untuk segera tidur dengan alasan agar tidak terlalu lelah. sebab, seharian dia tidak tidur sama sekali.
Sayang, kamu lagi badmood apa capek?" tanya Aditya pada Novi yang tidak memandangnya sekalipun, apalagi mengajak bicara.
"Agak capek sih, Dit. Tapi, sedikit," jawabnya sambil tersenyum.
"Sebentar lagi kita sampai rumah, kami istirahat, ya?"
Novita hanya diam, mengangguk dan kembali tersenyum.
Sementara Aditya, untuk menghilangkan rasa bosan, ia merangkul pundak istrinya, membawanya agar bersandar pada dadanya.
sepuluh menit kemudian, mobil mereka sudah memasuki halaman. Sementara Axel, masih tidur dan belum bangun jadi Aditya menggendongnya, membawa ke dalam kamarnya.
Usai menidurkan Axel, Aditya masuk ke dalam. kamar melihat istrinya yang tengah duduk di depan meja rias. dengan mesra Aditya memeluknya dari belakang. dan menyisipkan wajahnya di antra rahang dan pundaknya, dan berbisik pelan, "Ini baru jam delapan, Sayang, apakah kau sudah mengantuk?"
Wanita itu diam mematung memandang bayangan dirinya dan seorang pria yang akan ia tinggalkan di depan cermin.
Sebenarnya ia sudah jengah dan malas melayani pria berhati iblis itu. tapi, demi melancarkan rencananya, ia harus menuruti instruksi dari mama Livia, agar tetap bersikap manis pada Aditya, supaya dia tidak curiga.
"Agak, capek saja, sih." Novita tersenyum saat memandang ke arah cermin. sambil memegang tangan Aditya yang berada di pundaknya.
Aditya tidak menjawab, ia mulai memijat lembut kedua pundak Novi, memberikan kenyamanan dan rasa rileks untuk wanita di depannya.
setelah sepuluh menit memijat, Adit mulai melakukan pemanasan, sentuhannya tidak hanya ke area pundak,tapi juga di area sensitifnya sehingga wanita itu pun terpancing dan mulai melenguh.
Aditya pun menarik tangan Novi agar berdiri sejajar dengannya, tanpa menunggu lama, pria itu ******* bibir wanitanya sementara tangannya sibuk meraba punggung, hingga bawah serta bagian dadanya.
Akibat rangsangan yang diberikan Aditya, badan Novi terasa lunglai hingga tak mampu menahan berat badannya, tulang-tulangnya terasa lolos semua dari tubuhnya. Sehingga, ia pun mengalungkan kedua tangannya pada leher Adit agar dapat tetap berdiri.
Melihat Novita sudah sangat terangsang Adit pun mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya di ranjang dan mulai melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Sementara Novi, menutup matanya erat, ia sebenarnya tak ingin melakukan ini, tapi, sayang. tubuhnya berkata lain.
"Dit... oh...." hanya itu yang keluar dari mulutnya.
s
k
i
p
🍁🍁🍁🍁
"Kak, nungguin apa sih gak pulang-pulang? Sudah jam lima lewat nih," keluh Quen yang merasa bosan.
sedangkan Al masih berlaga sibuk dengan laptop dan juga berkas-berkas yang ada di mejanya. matanya terus fokus pikirannya seolah berkonsentrasi tak pedulikan Queen yang terus merengek meminta pulang.
Mesra kesal karena di abaykan, Quen pun menghampiri kakaknya, ia duduk di atas meja depan Al dan melepas kacamata sang kakak lalu menutup laptopnya.
"Dengerin aku, gak sih, kak?" Bahkan bibirnya pun sampai manyun beberapa cm.
Al pun langsung menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi yang di dudukinya, ia menatap adiknya yang sedari tadi rewel dan menjengkelkan. Tapi, bibir pria itu tersenyum, sorot matanya yang tajam menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Kau berani sekaliengacaukan kerja kerasku, sayang?"
"Habis, dari tadi aku minta pulang kakak ga ngrespon. malah berlagak sibuk sendirian." Queen cemberut, melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang muka ke samping.
"Baiklah, kalau gitu ayo kita sibuk bareng, Sayang." Al berdiri, tangan kanannya meraih pinggang Quen dan mendekatkan tubuhnya hingga tidak ada jarak di antara, sementara tangannya Nyang lain mulai berani merana paha, hingga perutnya dan wajahnya pun kian dekat dan ******* bibir wanita di depannya
Queen terkejut mendapati perlakuan kakaknya seperti ini. Bagaimana bisa, kakak yang aku sayangi dan menganggap aku ini adik kandungnya berbuat demikian? pikirnya. kian tak keruan saat tangan Al mulai menyentuh daerah sensitifnya.
tubuh wanita itu bergetar hebat, dan bahkan untuk melakukan penolakan saja tak mampu, karena terasak kaku.
"Kak, apa yang kau lakukan?" tanyanya, dengan nada terbata-bata.
"Apa? Kan kamu tidak mau, kan jika kakak sibuk sendiri? maunya kita sibuk bareng, kan? Lagian, kenapa kau buru-buru? apa karena janjian dengan dokter itu?"
__ADS_1
Al tak peduli, ia menciumi dagu, rahang hingga leher Quen.
Sementara Quen, berusaha melawan nafsunya. ia tidak bisa begini, ini salah. sebentar lagi, ia akan jadi tunangan pria lain yang akan jadi kekasihnya.
sekuat tenaga Quen pun menampar keras pipi kiri Al hingga bekas jarinya mengecap di pipi mulus pria itu.
"Apa maksudmu, Kak? kenapa kau jadi kurang ajar begini?" teriak Quen sambil menangis lalu, pergi berlari meninggalkan ruangan itu.
Sedangkan Al begitu menyadari kelakuan gilanya itu hanya menyesal, tak berani mengejar Quen. la menjambak rambutnya sendiri dan mengerang kesal, menyesali kebodohannya.
"Aaaarrggh! kenapa kau jadi bodoh, Al? ingat, dia itu adikmu tak seharusnya kau melakukan perbuatan buruk kepadanya!" umpatnya seorang diri. Al pun terdiam lalu sesaat kemudian ia mulai frustasi mengacak-ngacak semua berkas dan dokumen yang ada di meja kerja, membuat semuanya berantakan.
Barulah, ia dapat kembali tenang dan mulai berpikir, kenapa aku jadi gila begini? Kenapa aku jadi sangat bernafsu melihat Quen? apa yang dikatakan Viko dan Juna itu benar, aku mencintainya? Ah, tidak. Mungkin ini efek karena aku lama tidak melakukan hal itu saja dengan Nayla. Lagian, mana mungkin aku bisa melakukan pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan intim dengan pria lain?" pikirnya.
Al pun berdiri berusaha berjalan meskipun sempoyongan karena emosinya belum stabil. Ia segera kenuju area parkir dan pulang ke rumah berharap adiknya sudah tiba agar ia bisa segera meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
Tapi, sayang. Queen bahkan belum tida di rumah meskipun sudah larut.
Diaz terus menelfon Quen, tapi tidak ada jawaban. bahkan wa nya terakhir di lihat juga sekitar pukul 18.14 silam. artinya, hampir satu jam an. karena merasa kawatir, Diaz pun bermaksut menjemput kekasihnya ke kantor.
Tapi, saat di perempatan, dan kebetulan saat itu juga lampu yang menyala warna merah, Diaz menangkap sorang gadis berjalan di atas trotoar sambil menunduk menembus gemercik gerimis yang turun. Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya. penampilannya sedikit berantakan. bahakn, saat ia melihat ke arah kakinya, ia tak menggunakan alas kaki.
"Astagfirullah... Queen?" Diaz pun segera turun dari mobil dan berlari menghampiri wanita itu.
"Queen!" serunya sambil menyentuh kedua pundak wanita itu.
bersama dengan itu, Quen nampak terkejut dan seperti hendak lari, sepertinya ia tengah mengalami trauma. Tapi, apa yang baru saja terjadi padanya? Bukankah harusnya ada kak Al uang mindunginya? pikir Diaz.
"Sayang, ini aku, sayang. Apa yang terjadi sama kamu?" ucapnya sambil memegang kedua lengan atas wanita itu.
sementara kekasihnya terus menunduk menghindari kontak mata dengannya sambil memejamkan matanya erat-erat.
Diaz memperharika area sekitar. Tidak dia temui kak Al. ia berfikir bahwa ada seseorang yang sengaja mengganggunya saat Al tidak sedang bersamanya.
"Sayang, buka mata kamu. ini aku, Diaz," ucapnya lagi dengan lembut.
Queen membuka matanya, ia menatap lekat wajah pria itu dengan matanya yang memerah karena menangis, hanya saja tidak terlihat, karena air yang turun dari langit tadi hanya gerimis, kini menjadi deras.
Merasa tidak enak dilihat orang yang lalu lalang dan hujan kian deras, Diaz pun mengajak Quen masuk ke dalam mobil.
Di mobil ia melihat Quen yang seperti enggan berbicara. ia hanya diam, tidak berusaha mengajaknya berbicara.
"Aku antar kamu pulang, ya?"
Dengan cepat Queen mengeluhkan kepalanya dan berkata, "Gak. jangan antar aku pulang, Diaz. aku tidak mau orang rumah melihatku begini, bawa saja aku ke tempatmu."
Diaz melihat isakan Quen tidak biasa, ia benar-benar seperti orang yang tengah prustasi.
Pria itu menghentikan mobilnya ke tepi dan memeluk wanita di sebelahnya.
"Baiklah, aku tidak akan mengantar mu pulang dulu. sekarang kamu mau ke mana?" ucapnya dengan lembut.
"Terserah. Tapi, untuk saat ini aku tidak mau pulang dulu, Diaz."
Diaz melihat Queen yang sudah berangsur-angsur tenang. ia pun melepaskan pelukannya perlahan.
"Ke rumah kontrakan ku dulu, ya? ganti baju di sana biar tidak masuk angin."
Queen hanya mengangguk. Memang benanr jika Diaz memiliki daya pikat tersendiri. kelembutan dan kepribadian nya yang kalem, membuat wanita manapun yang berada di dekatnya merasa aman dan nyaman. begitu pun Quen.
Sekitar beberapa meter, Diaz baru ingat kalau tidak ada pakaian wanita satupun di dalam rumah kosnya. jadi, ia beriniat membelikan satu baju ganti untuk Quen. tapi, via online saja, sebab ia juga basah dan tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam sebuah toko pakaian.
Akhirjya Diaz pun menelfon salah satu teman wanitanya agar mengantarkan satu set pakaian wanita ke rumahnya.
"Halo, Rik, kamu sibuk tidak? bisa aku minta tolong?" ucap Diaz, berbicara lewat telfon.
"Iya, aku lagi santai aja kok. pakaian apa memang?"
"Gamis tidak apa-apa sekalian jilbabnya, Rik. aku tunggu, ya?" ucap Diaz lalu mematikan telepon dan meletakan ponselnya dinatas dasboard.
__ADS_1
"Siapa yang kau telfon barusan, Diaz?"
"Rika, teman dari ponpes dulu. dia baik anaknya. biar nanti kamu di rumah di temani sama dia, ya?"
Queen tersenyum sambil mengangguk. Entah memang dia merasa tidak nyaman atau memang suasana hatinya saja yang buruk ia tidak tahu, ia takut kalau gadis yang Diaz telfon tadi juga menyukainya. apakah aku cemburu? Lagian, siapa juga wanita yang jadi kekasihnya tidak cemburu? dia baik, tampan, cerdas dan sangat lembah lembut membuat wanita mana pun akan merasa nyaman bersamanya.
"Diaz, aku sudah satu bulan lebih lepas masa iddah, kapan kau akan menikahiku?"
Diaz sedikit gelagapan dengan pertanyaan yang Quen lemparkan, Bukannya dia tidak mau, atau melupakan apa yang ia ucapkan dulu. tapi, masih ada beberapa hal yang membuat ia tidak bisa segera menikahi Quen.
Diaz memegang tangan Quen dan menggenggamnya erat, saat mobilnya sudah berhenti di depan rumah kontrakannya, Diaz meletakan telapak tangan Quen di dadanya. tepat pada jantungnya.
"Apakah kau dapat merasakan degupan jantungku yang berdetak kencang?" Diaz menatap lekat ke dalam mata Quen.
Queen pun yang terbiasa selalu terlihat ceria juga nampak gugup merasakan detak jantungnya. ia hanya mengangguk saja dan berkata dengan terbata-bata. "I
.. Iya."
"Aku tidak berbohong atas apa yang aku ucapkan padamu dulu, aku benar-benar mencintai mu tulus dari hati. Bahkan, sekali pun kita sering bertemu, hatiku tetap berdebar saja. bahkan jantungku, kau juga dapat merasakannya sendiri kan? Kau mau bukti apa lagi?"
"Aku percaya sama kamu, Diaz."
"Ya sudah, ayo kita turun masuk ke dalam. kamu mandi dulu, ya? sambil nunggu Rika bawain baju ganti untuk kamu. Karena aku tidak ada baju cewek di sini," jawab Diaz sambil mengelus pipi dan rambut wanita di sampingnya itu.
Sekitarnya lima menit tiba di rumah, bahkan Queen juga belum keluar dari kamar mandi, Rika pun sudah tiba di rumah kontrakan Diaz dengan tas kertas di tangannya berisi gamis pink motif floral dan satu jilbab polos berwarna pink pula.
"Assalamualaikum, Kak Diaz," teriak gadis itu dari luar rumah.
"Waalaikumssalam, Rika. masuklah. kak Quen ada di dalam kamar mandi, coba kamu ketuk pintunya," jawab Diaz dari dalam dapur.
Usai Diaz mandi dan Quen memakai baju yang Rika bawakan, mereka berkumpul bersama dan bercerita.
Diaz merasa lega saat melihat Quen sudah terlihat membaik. Tapi, untuk menanyakannya, tidak mungkin. selain baru saja membaik, juga masih ada Rika.
"Rik, Kamu menginap di sini ya temani kak Quen, kak Diaz akan tidur di ruang tamu."
"Oh, iya kak. dengan senang hati. Tapi, besok pagi aku ada kegiatan. " jawab Rika dengan ceria.
"Iya terserah kamu, lah. yang penting malam ini kau di sini, ya?" jawab Diaz.
🍁🍁🍁🍁🍁
Al mulai bingung saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh. beberapa kali ia menelfonnya juga tidak di angkat.
Dia terus mondar mandir ke sana kemari sampai kakek Andrean pun bertanya padanya, "Kau ini kenapa, sih Al?"
"Queen tidak bisa Al hubungi, Kek. sudah jam segini bahkan dia juga belum pulang," jawab Al tidak dapat menyembunyikan kepanikannya.
"Memang kemana dia? Bukankah nseharian kalian bersama tadi? Bagaimana bisa pulang sendiri-sendiri, Al?"
"Emmmm, tadi dia pulang sendiri sih, Kek. dia pulang lebih dulu, sekitar sepuluh menitan lah. baru Al keluar kantor menyusul."
Andrean mengamati Al dengan seksama. Dari sorot matanya, ia dapat membaca kalau Al dan Queen sedang ada masalah. akeduanya seperti sedang bertengkar. Tapi, kira-kira apa masalahnya? Mengapa harus bertengkar? Bukankah mereka dari dulu sudah hidup bersama sejak kecil? Bahkan dari bayi Quen mengetahui Al adalah kakaknya dan mereka tidak pernah sekalipun ada masalah lalu apa masalahnya saat ini? kenapa Al sangat panik dan merasa bersalah sekali?
"Coba, kamu lacak dulu melalui gps ponselnya, dia ada di mana?" usul Andrean
All menepuk keningnya sendiri, dia mengumpat dalam hati, 'Kenapa dari tadi aku tidak berfikir demikian ya? Harusnya aku bisa mengetahui keberadaannya setelah mengecek melalui sinyal gps ponselnya.'
Al pun mulai mengecek dan mengetahui kalau ponselnya berada di kantor. Tapi, mana mungkin Queen masih berada di sana? sedangkan security tadi bilang kalau adiknya tadi pergi berlari keluar kantor.
Al menoleh ke arah kakeknya dan mengatakan pada kakeknya "Ponsel Quen masih ada di kantor kek, mungkin ketinggalan di ruangan Al. sebab, tadi dia langsung lari begitu saja bahkan saat Al keluar dari parkiran security juga bilang kalau Queen berlari keluar kantor," ucapnya
"Coba kita cari dulu ke kantor dulu, Al. Siapa tahu dia kembali. jika tidak ada cek aja aja dalam ruangan mu, siapa tahu memang hp nya ketinggalan." usul Andrean.
"Tapi, Kek, jika tidak ada?"
"Ya kita cek aja ke apartemen, Al. Siapa tahu saja ada di sana. Sebenarnya ada masalah apa di antara kalian? Kenapa sampai bertengkar seperti itu?" tanya Andrean penasaran.
Al hanya diam menunduk malu, takut dan merasa bersalah bercampur aduk jadi satu. kemudian ia sedikit melihat ke arah kakeknya. Tapi, masih belum berani berterus terang.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo, Al. Jangan mengulur waktu!" seru Andrean.
"I..iya,Kek." Dengan gugup Al pun bangkit dan bergegas pergi sambil mendorong kursi roda kakek Andrean menuju mobil.